Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search
Journal : Al-Fath

OTENTISITAS HADITS TERAWIH MENURUT ALI MUSTAFA YAQUB Endad Musaddad; Ali Mastur
Al-Fath Vol 7 No 2 (2013): Desember 2013
Publisher : Department of Ilmu al-Qur'an dan Tafsir, Faculty of Ushuluddin and Adab, State Islamic University of Sultan Maulana Hasanuddin Banten, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32678/alfath.v7i2.3138

Abstract

Ali Mustafa Yaqub menilai semua hadits yang menyebutkan bilangan rakaat dalam salat tarawih adalah palsu atausekurang-kurangnya matruk, jadi tidak ada batasan dalam pelaksanaanya. Meskipun begitu Ali Mustafa Yaqub lebihmenyukai variasi 20 rakaat karena dinilai sebagai konsensus sahabat. Analisis dari pemikiran Ali Mustafa Yaqub ini menyokong pendapat-pendapat ulama’ klasik.
Metode Muhādisin dalam Penyusunan Hadis pada Abad Pertama Hijriah Endad Musaddad
Al-Fath Vol 2 No 2 (2008): Desember 2008
Publisher : Department of Ilmu al-Qur'an dan Tafsir, Faculty of Ushuluddin and Adab, State Islamic University of Sultan Maulana Hasanuddin Banten, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32678/alfath.v2i2.3276

Abstract

Hadis-hadis dikumpulkan selama masa hidup rasulullah, para istri dan sahabat Nabi yang memiliki keistimewaan mendapat pelajaran langsung dari beliau’ memperaktekan sunnah dan menyampaikan pengetahuan tentang hadis-hadis pada generasi sesudah mereka. Mereka menggunakan semua cara yang mungkin termasuk catatan-catatan tertulis. Pengingatan dan pengamalan untuk menyimpan dan menyampaikan hadis Nabi. Terdapat bukti bahwa sebagian dari sahabat menuliskan hadis-hadis itu dan mebuat catatan-catatan yang sangat teliti atas ucapan-ucapon dan tindakan-tindakan Nabi. Oleh karenanya periwayatan hadis telah dimulai sejak masa Nabi, namun pertumbuhannya sangat pesat pada dua ratus tahun pertama setelah hijrah, meski ada beberapa pemalsuan hadis yang tak terpisahkan yang dilakukan oleh orang-orang tertentu untuk tujuan-tujuan politis yang dangkal yang di dorong oleh pengaruh sectarian. Tulisan ini lebih jauh akan membahas tentang perkembangan hadis yang terjadi pada abad pertama hijriah, berikut beberapa metode yangditempuh oleh orang-orang yang hidup pada masa itu guna melestarikan Sunnah Nabi sebagai pedoman bagi kehidupan komunitas muslim. Hal inimenarik untuk dibicarakan mengingat selama ini pembahasan mengenai pentadwinan hadis, para pembahas langsung tertuju pada abad ke dua Hijriah, dimana hadis sudah mulai di tadwinkan.
Manhaj Muhadisin dalam Menetapkan Kedhabitan Perawi Hadis Endad Musaddad
Al-Fath Vol 2 No 1 (2008): Juni 2008
Publisher : Department of Ilmu al-Qur'an dan Tafsir, Faculty of Ushuluddin and Adab, State Islamic University of Sultan Maulana Hasanuddin Banten, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32678/alfath.v2i1.3271

Abstract

Ulama Hadis telah’ menetapkan kriteria sahihnya sebuah hadis harus memenuhi lima persyaratan: Bersambung sanadnya, Diriwayatkan oleh perawi yang ‘adil, lagi Dhabit, tidak mengandung syadz dan bebas dari‘illat. Dari empat syarat tadi salah satunya terkaitan dengan masalah intelektualitas dalam menyatakan berita, juga amat berpengaruh dalam penilaian materi berita tersebut. Sebab itulah sejak awal dalam penelitian hadis unsur dhabit terlebih dulu di analisa baru kemudian meneliti keadaan materi berita tersebut. Perawi adalah masalah dhabt. Terkait dengan unsur dhabt dalam periwayatan, ia tidak hanya menentukan diterimanya kepribadian perawi.Penelitian terhadap kedhabitan para perawi hadis dilakukan oleh para muhadisin melalui cara-cara tertentu, baik berkaitan langsung dengan pribadi mereka, maupun terhadap materi beritanya melalui kajian komparatif dengan berita lainnya. Dalam tulisan ini penulis akan coba menguraikan informasi tentang manhaj muhadisin dalam masalah kedhabitan perawi hadis dengan meliputi: pengertian dhabit, macam-macamnya, dhabt dalam riwayat, kriteria penetapannya serta kitab-kitab yang membahas seputar masalah ini.
Metode Tafsir Mahmud Yunus Endad Musaddad
Al-Fath Vol 1 No 1 (2007): Juni 2007
Publisher : Department of Ilmu al-Qur'an dan Tafsir, Faculty of Ushuluddin and Adab, State Islamic University of Sultan Maulana Hasanuddin Banten, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32678/alfath.v1i1.3267

Abstract

Tujuan diturunkannya al-Qur'an adalah sebagai petunjukbagi manusia. Agar ia menjadi petunjuk, maka al-Qur'an mesti dibaca, di tela'ah, diteliti dan kemudian di ambil Hukum danhikmahnya. Namun karena keterbatasan pengetahuan khususnyabahasa Al-Qur'an tidak semua umat Islam mampu memahamipetunjuk yang tertuang dalam teks kitab suci tersebut. Karena itu dibutuhkanlah tafsir untuk memahami petunjuk tersebut. Namun tafsiral-Qur'an yang beredar ketika itu kebanyakan di tulis dalam bahasaArab yang tidak semua masyarakat Indonesia (kaum Muslimin) bisamembacanya. Untuk itu mahmud Yunus tampil sebagai peloporpenafsir al-Qur'an ke dalam bahasa Indonesia generasi pertama,mengatasi kesulitan tersebut Dalam tulisan ini penulis inginmengetengahkan beberapa aspek seputar penafsiran yang di gunakanMahmud Yunus, mulai dari sisi: Ltar belakang penulisan Tafsir,rujukan tafsir, dan metode yang di gunakan.