Claim Missing Document
Check
Articles

Found 24 Documents
Search

Komparasi Biaya Antara Baja Ringan Dan Kayu Sebagai Konstruksi Rangka Atap Maskur, Atep; Wibowo, Agung; Winarno, Setya
SEMINAR TEKNOLOGI MAJALENGKA (STIMA) Vol 7 (2023): STIMA 7.0 "Transformasi Peradaban Akademik Menyongsong Revolusi Industri 5.0"
Publisher : Universitas Majalengka

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31949/stima.v7i0.921

Abstract

Pemilihan bahan struktur rangka atap sangat diperlukan Untuk mendapatkan rangka struktur atap yang dapat menahan beban penutup atap yang akan dibawanya Dan mudah dalam perawatannya, belakangan ini banyak bermunculan bahan bangunan yang sangat bervariasi. Diantara material bangunan tersebut termasuk untuk rangka struktur atap karena bahan rangka atap dari kayu saat ini untuk mendapatkan kayu berkualitas sangat jarang, banyak material bangunan baru yang lebih hemat menggunakan baja ringan saja. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui perbandingan dan perbedaan biaya yang dibutuhkan untuk pekerjaan pembuatan rangka atap menggunakan bahan kayu dan baja ringan.Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode analisis harga satuan pekerjaan berpedoman pada AHSP Permen PUPR Nomor 1 Tahun 2022 yaitu dengan melakukan bantuan dengan menganalisis gambar teknik untuk mendapatkan volume pekerjaan, dan menganalisis biaya satuan untuk setiap item pekerjaan, dan membuat rencana anggaran biaya , untuk mendapatkan biaya yang diperlukan. Berdasarkan hasil penelitian yang diperoleh harga tiap rangka atap antara rangka atap baja ringan dan kayu memiliki harga yang berbeda diantaranya : Biaya rangka atap rangka konstruksi dengan baja ringan sebesar Rp. 148.529.768,- dan biaya pembuatan rangka atap dengan kayu sebesar Rp. 113.775.328,-. Perhitungan biaya pemesanan atap ini tidak memperhitungkan biaya penutupan atap.Sedangkan selisih biaya dari kedua bahan tersebut dibandingkan biaya konstruksi rangka atap dengan baja ringan lebih tinggi dibandingkan dengan biaya konstruksi rangka atap dengan kayu sebesar Rp. 34.754.440,-. - dan biaya pembuatan rangka atap dengan kayu sebesar Rp. 113.775.328,-. Perhitungan biaya pemesanan atap ini tidak memperhitungkan biaya penutupan atap. Sedangkan selisih biaya dari kedua bahan tersebut dibandingkan biaya konstruksi rangka atap dengan baja ringan lebih tinggi dibandingkan dengan biaya konstruksi rangka atap dengan kayu sebesar Rp. 34.754.440,-. - dan biaya pembuatan rangka atap dengan kayu sebesar Rp. 113.775.328,-. Perhitungan biaya pemesanan atap ini tidak memperhitungkan biaya penutupan atap.Sedangkan selisih biaya dari kedua bahan tersebut dibandingkan biaya konstruksi rangka atap dengan baja ringan lebih tinggi dibandingkan dengan biaya konstruksi rangka atap dengan kayu sebesar Rp. 34.754.440,-.
Identification of Factors Influencing the Seismic Vulnerability Assessment of Non-Engineered Buildings Catur Singgih; Setya Winarno; Sri Kusumadewi; Albani Musyafa
G-Tech: Jurnal Teknologi Terapan Vol 10 No 2 (2026): G-Tech, Vol. 10 No. 2 April 2026
Publisher : Universitas Islam Raden Rahmat, Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70609/g-tech.v10i2.9316

Abstract

Non-engineered buildings are still prevalent in many developing countries and consistently with the highest levels of associated with earthquakes damage and fatalities. Nevertheless, there are still few comprehensive vulnerability assessment frameworks that concurrently take consideration technical, socio-economic, and environmental factors. The aim of this study is to identify and prioritize the main contributing factors of seismic vulnerability in non-engineered buildings using a systematic, expert-based evaluation technique. A total of 30 decision-makers participated in a questionnaire survey, ranking the importance of 16 factors across the technical, socio-economic, and environmental using a consensus-based method that includes mean aggregation, normalization to determining weights, and ratio test 0.1 threshold to identify significant factors. The technical has the highest weight (0.407), followed by the socio-economic (0.372) and environmental (0.222) domains. At the factors level, building structural condition (T2) had the greatest significance, followed by construction techniques (T5), material quality (T1), environmental conditions and site location (E1), and socio-economic status (SE2). The generated framework and factor weights provide an objective basis to establish vulnerability assessment and can be extended into fuzzy models to support mitigation and retrofitting strategies.
Identification of Influential Attribute for Prioritizing Wall Material Selection in Low-Cost Housing Wahyu Ari Pramono; Setya Winarno; Sri Kusumadewi; Fitri Nugraheni
G-Tech: Jurnal Teknologi Terapan Vol 10 No 2 (2026): G-Tech, Vol. 10 No. 2 April 2026
Publisher : Universitas Islam Raden Rahmat, Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70609/g-tech.v10i2.9317

Abstract

Selecting appropriate wall materials for low-cost housing is a complex decision-making process involving multiple technical, economic, social, and environmental considerations. This study aims to identify and prioritize the most influential attributes affecting wall material selection for affordable housing. A total of twenty-two attributes were derived from a comprehensive literature review and evaluated through a structured questionnaire survey involving 30 respondents, consisting of academics, decision-makers, and technical practitioners. A consensus-based weighting approach was applied using the mean value (μᵢ), normalized weight (wᵢ), and relative ratio (r) to establish the priority structure of attributes. The results indicate that all attributes are considered relevant (r > 0.1), with the highest priorities assigned to structural strength and stability (T1, w = 0.060), initial wall cost (E1, w = 0.058), life-cycle cost (E2, w = 0.057), durability and weather resistance (T3, w = 0.056), occupant safety and perceived security (S4, w = 0.056), and embodied carbon and energy (L1, w = 0.053). At the aspect level, technical factors contributed 34% of the total weight, followed by economic (26%), social (21%), and environmental aspects (19%). These findings provide a quantitative attribute-weighting framework that can support the development of Multi-Attribute Decision Making (MADM) models for context-sensitive wall material selection in low-cost housing.
Efisiensi Penggunaan Material Blok Beton terhadap Batu Belah pada Pekerjaan Fondasi Dangkal Winarno, Setya; Nuryanto, Hari; Teguh, Mochamad
MEDIA KOMUNIKASI TEKNIK SIPIL Volume 28, Nomor 1 (2022)
Publisher : Department of Civil Engineering, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (648.748 KB) | DOI: 10.14710/mkts.v28i1.37541

Abstract

Pekerjaan fondasi dangkal yang menggunakan material batu belah memiliki kelemahan-kelemahan, misalnya, bentuk permukaan dan ukuran yang tidak beraturan, serta ketersediaannya yang langka di daerah-daerah tertentu. Kelemahan-kelemahan tersebut dapat dihindari dengan penggunaan material blok beton. Artikel ini menguraikan efisiensi penggunaan material blok beton terhadap batu belah pada pekerjaan fondasi dangkal, dengan membandingkan nilai produktivitas pekerjaan dengan biaya total pekerjaannya pada kedua material tersebut. Data penelitian diambil pada pekerjaan pemasangan fondasi pagar yang menggunakan kedua material tersebut pada sebuah lahan di Grogolan, Umbulmartani, Kecamatan Ngemplak, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Hasil yang diperoleh adalah bahwa produktivitas rerata pekerjaan fondasi dangkal dengan material blok beton adalah sebesar 0,799 m3/jam, dan pada material batu belah adalah sebesar 0,590 m3/jam, atau terdapat efisiensi waktu yang lebih cepat sebesar 35,44%. Biaya pekerjaan total dengan material blok beton pada volume pekerjaan yang kecil adalah lebih mahal dari pada material batu belah, namun akan mengalami titik impas pada volume pekerjaan 11 m3, sehingga efisiensi biaya terjadi jika volume pekerjaannya lebih dari 11 m3. Selain kontribusi positif berupa efisiensi biaya yang lebih murah dan waktu pengerjaan yang lebih cepat, penggunaan material blok beton juga akan memiliki 4 manfaat yang tidak berwujud (intangible benefits), yaitu penghematan lahan penumpukan, material sisa sedikit, kemudahan pekerjaan, dan hasil pekerjaan yang lebih presisi.