Claim Missing Document
Check
Articles

Found 6 Documents
Search

PEMAKNAAN BATIK SEBAGAI WARISAN BUDAYA TAKBENDA Zahir Widadi
Pena Jurnal Ilmu Pengetahuan Dan Teknologi Vol 33, No 2 (2019): PENA SEPTEMBER 2019
Publisher : LPPM Universitas Pekalongan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31941/jurnalpena.v33i2.897

Abstract

This research aims to improve the knowledge and understanding of the intangible culture heritage because many people do not understand the meaning of the confirmation of Indonesian batik as a intangible cultural heritage by UNESCO. This research uses qualitative research methods with descriptive format. The intangible cultural heritage means the practices, representations, expressions, knowledge, skills – as well as the instruments, objects, artefacts and cultural spaces associated therewith – that communities, groups and, in some cases, individuals recognize as part of their cultural heritage. The intangible culture heritage comprises of domains oral traditions and expressions, including language as a vehicle of the Intangible cultural heritage, performing arts, social practices, rituals and festive events, knowledge and practices concerning Nature and the universe, and traditional craftsmanship.  Domains of the intangible cultural heritage in accordance with Indonesian batik consist of the domain oral traditions and expressions, including language as a vehicle of the intangible Cultural heritage, social practices, rituals and festive events, and traditional craftsmanship.
PELATIHAN MANAJEMEN SENI SEBAGAI UPAYA MENGEMBANGKAN ESTETIKA BATIK DI KAMPUNG BATIK KAUMAN Aditya Dimas Wahyu Sasongko; Zahir Widadi; Daru Anggara Murty; Maghfiroh Maghfiroh; Rizki Lestari; Ryan Asani
SWARNA: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. 2 No. 5 (2023): SWARNA: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat, Mei 2023
Publisher : LPPM Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi 45 Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55681/swarna.v2i5.528

Abstract

Kampung batik Kauman merupakan salah satu kampung industri batik produktif di kota Pekalongan. Kampung Batik Kauman juga memiliki 50 showroom yang menawarkan berbagai jenis kain dan motif batik khas Indonesia dan berbagai daerah di Provinsi Jawa Tengah. Estetika hanyalah ilmu yang membahas kecantikan. Sementara itu, keindahan, atau keindahan, adalah sifat dari sesuatu yang memberi kita kesenangan ketika kita melihatnya. Estetika memiliki peran penting dalam sebuah karya yang mencerminkan kreativitas seniman, pengrajin, desainer, status sosial, selera konsumen, dan berbagai aspek lainnya. Dalam proses pembuatan batik, estetika tidak bisa dianggap remeh karena akan mempengaruhi keunikan batik, karakteristik daerah, target konsumen, dan tingkat hasil penjualan di pasaran. Batik Kauman sebagai salah satu industri tertua di Kota Pekalongan diharapkan mampu mempertahankan eksistensinya dengan memperhatikan nilai estetika dari batik yang dihasilkannya. Art management sangat dibutuhkan dalam setiap proses pembuatan karya, baik itu lukisan, batik, desain, dan berbagai karya seni lainnya. Setelah melaksanakan kegiatan pelatihan manajemen seni sebagai upaya pengembangan estetika batik di Kampung Batik Kauman, ada beberapa hasil yang dapat disimpulkan. Proses pembuatan karya batik tidak lepas dari pengetahuan dan keterampilan. Pengrajin hanya fokus pada keterampilan otodidak dan tidak menggabungkannya dengan pengetahuan yang terus berkembang. Pengrajin tidak menyadari bahwa setiap kali mereka membuat batik mereka perlu memiliki keterampilan untuk menciptakan motif berupa dekorasi, mengolah warna, hingga proses makna yang diciptakan. Proses makna dapat dilakukan dengan memahami konsep komunikasi visual. Pemahaman tentang budaya dan sejarah akan membantu dalam proses menafsirkan dan menjadikan motif sebagai hiasan. Pemahaman tentang manajemen seni dalam hal Nirmana Batik untuk menata atau menata elemen visual seperti titik, garis, warna, ruang dan tekstur menjadi satu kesatuan yang harmonis masih kurang.
PELATIHAN MANAJEMEN SENI SEBAGAI UPAYA MENGEMBANGKAN ESTETIKA BATIK DI KAMPUNG BATIK KAUMAN Aditya Dimas Wahyu Sasongko; Zahir Widadi; Daru Anggara Murty; Maghfiroh Maghfiroh; Rizki Lestari; Ryan Asani
SWARNA: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. 2 No. 5 (2023): SWARNA: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat, Mei 2023
Publisher : LPPM Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi 45 Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55681/swarna.v2i5.528

Abstract

Kampung batik Kauman merupakan salah satu kampung industri batik produktif di kota Pekalongan. Kampung Batik Kauman juga memiliki 50 showroom yang menawarkan berbagai jenis kain dan motif batik khas Indonesia dan berbagai daerah di Provinsi Jawa Tengah. Estetika hanyalah ilmu yang membahas kecantikan. Sementara itu, keindahan, atau keindahan, adalah sifat dari sesuatu yang memberi kita kesenangan ketika kita melihatnya. Estetika memiliki peran penting dalam sebuah karya yang mencerminkan kreativitas seniman, pengrajin, desainer, status sosial, selera konsumen, dan berbagai aspek lainnya. Dalam proses pembuatan batik, estetika tidak bisa dianggap remeh karena akan mempengaruhi keunikan batik, karakteristik daerah, target konsumen, dan tingkat hasil penjualan di pasaran. Batik Kauman sebagai salah satu industri tertua di Kota Pekalongan diharapkan mampu mempertahankan eksistensinya dengan memperhatikan nilai estetika dari batik yang dihasilkannya. Art management sangat dibutuhkan dalam setiap proses pembuatan karya, baik itu lukisan, batik, desain, dan berbagai karya seni lainnya. Setelah melaksanakan kegiatan pelatihan manajemen seni sebagai upaya pengembangan estetika batik di Kampung Batik Kauman, ada beberapa hasil yang dapat disimpulkan. Proses pembuatan karya batik tidak lepas dari pengetahuan dan keterampilan. Pengrajin hanya fokus pada keterampilan otodidak dan tidak menggabungkannya dengan pengetahuan yang terus berkembang. Pengrajin tidak menyadari bahwa setiap kali mereka membuat batik mereka perlu memiliki keterampilan untuk menciptakan motif berupa dekorasi, mengolah warna, hingga proses makna yang diciptakan. Proses makna dapat dilakukan dengan memahami konsep komunikasi visual. Pemahaman tentang budaya dan sejarah akan membantu dalam proses menafsirkan dan menjadikan motif sebagai hiasan. Pemahaman tentang manajemen seni dalam hal Nirmana Batik untuk menata atau menata elemen visual seperti titik, garis, warna, ruang dan tekstur menjadi satu kesatuan yang harmonis masih kurang.
Representasi Budaya dan Makna Simbolik Motif Kapal Kandas Kudus: Pendekatan Semiotika Roland Barthes Yuli Astuti; Aditya Dimas Wahyu Sasongko; Muhammad Naoval Haris; Rizki Lestari; Zahir Widadi
Journal of Innovative and Creativity Vol. 5 No. 3 (2025)
Publisher : Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/joecy.v5i3.4025

Abstract

Traditional batik is one of Indonesia’s cultural heritages that carries not only aesthetic value but also rich symbolism and philosophy. This study focuses on the Kapal Kandas Kudus motif, a coastal batik design rooted in the story of Admiral Cheng Ho’s shipwreck on Mount Muria. The motif contains symbolic elements that reflect the worldview of Kudus society, such as hope, life’s trials, balance, protection, and gratitude for natural abundance. The research employed a qualitative method through observation, interviews, documentation, and literature review, conducted at the Muria Batik Gallery, Kudus, which serves as a center for the development of Kudus batik. Roland Barthes’ semiotic approach was applied to reveal the denotative, connotative, and mythical meanings of various decorative elements, including ships, fish, seaweed, and coral reefs. The findings indicate that the Kapal Kandas motif was historically used in traditional ceremonies such as circumcisions and communal celebrations but has now become more flexible, being worn on diverse occasions. This shift illustrates cultural adaptability while maintaining symbolic values inherited from ancestors. The study emphasizes the importance of understanding the symbolic meanings of batik motifs as a means of cultural preservation and as a reinforcement of national identity.  
Pembuatan Pewarna Alam Dari Kulit Bawang Bombay (Allium Cepa L) Pada Kain Sutra Dan Katun Rizki Lestari; Aditya Dimas Wahyu Sasongko; Maghfiroh Maghfiroh; Zahir Widadi; Yovita Christy; Tryas Intan Pandini
KOLONI Vol. 5 No. 2 (2026): JUNI 2026
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/koloni.v5i2.945

Abstract

Natural dyes for fabrics are often derived from plants; however, it is important to consider the sustainability of the plant ecosystem when using natural dyes. We must ensure that the use of natural dyes to reduce environmental pollution does not end up damaging the plant ecosystem. One alternative for using natural dyes in batik that utilizes local natural resources is the production of natural dyes from onion skins. Onions can serve as an alternative natural dye for batik fabric. In addition to being an alternative for natural dyes in batik, this method can also function as a strategy for household waste management, offering varied and environmentally friendly batik dyeing. Using an experimental method with quantitative analysis, three mordanting stages—pre-mordantting, simultaneous mordanting, and post-mordanting—were applied, along with the nglorod process, consistent with traditional batik production methods. Onion skins were processed to serve as a dye for silk and cotton fabrics, with tests conducted for colorfastness to washing, perspiration, and rubbing. The research results showed that the color extracted from onion skins was reddish-yellow; on silk fabric, the color was darker compared to cotton fabric. After the nglorod process, the colorfastness of cotton fabric tended to be higher than that of silk, while silk was more stable and even more intense. Further testing was conducted on colorfastness to washing, rubbing, and perspiration. Laboratory test results showed that silk fabric performed better.
Pelatihan Transfer Printing Menggunakan Kertas Minyak bagi Peserta Didik di SMK Negeri 3 Pekalongan : Transfer Printing Training Using Oil Paper for Students at SMK Negeri 3 Pekalongan Muhammad Naoval Haris; Dwi Kumalasari; Aditya Dimas Wahyu Sasongko; Maghfiroh Maghfiroh; Daru Anggara Murty; Rizki Lestari; Zahir Widadi; Lailatul Maghfiroh; Auril Flora Amelia; Ririn Suryani; Saghira Nurul Adhifa; Fainuzha Farhan Basyaib
JPPM (Jurnal Pengabdian dan Pemberdayaan Masyarakat) VOL. 10 NOMOR 2 JULI 2026 JPPM (Jurnal Pengabdian dan Pemberdayaan Masyarakat)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Purwokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30595/jppm.v10i2.28296

Abstract

Kota Pekalongan merupakan salah satu sentra industri batik nasional dengan ratusan unit usaha batik yang membutuhkan sumber daya manusia terampil dan adaptif terhadap perkembangan teknologi tekstil. Salah satu teknologi yang relevan dengan kebutuhan industri adalah transfer printing menggunakan kertas minyak yang lebih praktis, efisien, dan minim limbah cair dibandingkan teknik konvensional. Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) ini bertujuan mendeskripsikan pelaksanaan pelatihan transfer printing menggunakan pendekatan Participatory Action Research (PAR) serta menganalisis peningkatan pengetahuan dan keterampilan siswa. Pelatihan diikuti oleh 36 siswa Program Keahlian Teknologi Tekstil SMK Negeri 3 Pekalongan melalui tahapan identifikasi masalah, perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi. Metode pelatihan meliputi penyampaian materi, praktik pembuatan media cetak dari kertas minyak, aplikasi desain, dan proses heat press. Hasil pre-test dan post-test menunjukkan peningkatan pemahaman tentang transfer printing dari 88,9% menjadi 100%, perbedaan transfer printing dengan pencapan batik dari 55,6% menjadi 94,4%, penggunaan kain dari 83,3% menjadi 100%, serta pentingnya mesin heat press dari 83,3% menjadi 100%. Hasil tersebut menunjukkan bahwa pelatihan efektif dalam meningkatkan pengetahuan, keterampilan teknis, kreativitas, serta kesiapan siswa menghadapi kebutuhan industri tekstil modern.