Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

PENGEMBANGAN DESAIN MOTIF KERANG PADA BATIK DI DESA PELEYAN KABUPATEN SITUBONDO DIMAS WAHYU SASONGKO, ADITYA
Jurnal Seni Rupa Vol 2, No 3 (2014): Volume 2 Edisi Yudisium 2014
Publisher : Jurnal Seni Rupa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Motif kerang merupakan motif utama batik Situbondo. Salah tempat produksinya adalah Pondok Pesantren Nurul Huda Desa Peleyan Kecamatan Kapongan Kabupaten Situbondo. Melihat motif yang digunakan pada batik masih sangat terbatas dan tidak berkembang maka penulis terinspirasi untuk mengembangakannya. Pengembangan yang dilakukan adalah mengembangkan motif utama yakni motif kerang itu sendiri. Untuk itu peneliti perlu mengetahui bentuk kerang yang ada di Kabupaten Situbondo, mengetahui penggambaran bentuk kerang pada motif batik Situbondo saat ini kemudian  melakukan pengembangan bentuk kerang sebagai motif khas batik Situbondo. Penelitian ini menggunakan metode penelitian dan pengembangan (R&D) dan disajikan secara deskriptif. Proses pengumpulan data melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Setelah dilakukan pengamatan diketahui bentuk kerang yang ada di Kabupaten Situbondo beragam. Diantaranya berbentuk menyerupai kipas, berbentuk mengerucut, kerang menyerupai cincin yang berlapis, berbentuk seperti duri, dan kerang yang bentuknya menyerupai mahkota. Bentuk kerang yang sudah digunakan sebagai motif batik Situbondo adalah bentuk kerang Dara dan kerang Mahkota. Pengembangan dilakukan dengan memberi variatif bentuk dan warna dari kerang Dara dan Mahkota  serta ditambah dengan desain baru dari bentuk Kerang Cincin, kerang Duri, dan kerang Congcong. Motif yang dihasilkan dari pengembangan ini dapat digunakan sebagai alternatif  baru dan menjadikan batik Kabupaten Situbondo lebih bervariasi. Kata Kunci: Pengembangan, Kerang, Batik, Situbondo Shell-shaped motive is the main Batik motive in District of Situbondo, one of them which is made in Pondok Pesantren Nurul Huda, Peleyan village. See the used of motive on the batik is still very limited and not develop then the writer inspired to develop it. The development contains a main motive, a motive in the shape of shells. The purposes of this research are to know the shape of shell in Situbondo, and to develop shell-shaped motive of Situbondo. I use research and development method on my research and I also present the result descriptively. The process of gathering data conducted through observation, interview, and documentation. After doing the observation, it is known that Situbondo has various shape of shell. Some of them are like vane, and the others are like plated ring. There is shell like thorn, and also like crown. Dara-shaped motive and crown-shaped motive have been used in Situbondo. The development is conducted to the shape and color of dara-shaped motive and crown-shaped motive, and also couple with a new form of shells like Cincin, Duri, and congcong.  The motives can be used as the new alternative and it can make Batik of Situbondo more varied. Key words: Deelopment, Motive, Batik,Situbondo
PELATIHAN MANAJEMEN SENI SEBAGAI UPAYA MENGEMBANGKAN ESTETIKA BATIK DI KAMPUNG BATIK KAUMAN Aditya Dimas Wahyu Sasongko; Zahir Widadi; Daru Anggara Murty; Maghfiroh Maghfiroh; Rizki Lestari; Ryan Asani
SWARNA: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. 2 No. 5 (2023): SWARNA: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat, Mei 2023
Publisher : LPPM Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi 45 Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55681/swarna.v2i5.528

Abstract

Kampung batik Kauman merupakan salah satu kampung industri batik produktif di kota Pekalongan. Kampung Batik Kauman juga memiliki 50 showroom yang menawarkan berbagai jenis kain dan motif batik khas Indonesia dan berbagai daerah di Provinsi Jawa Tengah. Estetika hanyalah ilmu yang membahas kecantikan. Sementara itu, keindahan, atau keindahan, adalah sifat dari sesuatu yang memberi kita kesenangan ketika kita melihatnya. Estetika memiliki peran penting dalam sebuah karya yang mencerminkan kreativitas seniman, pengrajin, desainer, status sosial, selera konsumen, dan berbagai aspek lainnya. Dalam proses pembuatan batik, estetika tidak bisa dianggap remeh karena akan mempengaruhi keunikan batik, karakteristik daerah, target konsumen, dan tingkat hasil penjualan di pasaran. Batik Kauman sebagai salah satu industri tertua di Kota Pekalongan diharapkan mampu mempertahankan eksistensinya dengan memperhatikan nilai estetika dari batik yang dihasilkannya. Art management sangat dibutuhkan dalam setiap proses pembuatan karya, baik itu lukisan, batik, desain, dan berbagai karya seni lainnya. Setelah melaksanakan kegiatan pelatihan manajemen seni sebagai upaya pengembangan estetika batik di Kampung Batik Kauman, ada beberapa hasil yang dapat disimpulkan. Proses pembuatan karya batik tidak lepas dari pengetahuan dan keterampilan. Pengrajin hanya fokus pada keterampilan otodidak dan tidak menggabungkannya dengan pengetahuan yang terus berkembang. Pengrajin tidak menyadari bahwa setiap kali mereka membuat batik mereka perlu memiliki keterampilan untuk menciptakan motif berupa dekorasi, mengolah warna, hingga proses makna yang diciptakan. Proses makna dapat dilakukan dengan memahami konsep komunikasi visual. Pemahaman tentang budaya dan sejarah akan membantu dalam proses menafsirkan dan menjadikan motif sebagai hiasan. Pemahaman tentang manajemen seni dalam hal Nirmana Batik untuk menata atau menata elemen visual seperti titik, garis, warna, ruang dan tekstur menjadi satu kesatuan yang harmonis masih kurang.
PELATIHAN MANAJEMEN SENI SEBAGAI UPAYA MENGEMBANGKAN ESTETIKA BATIK DI KAMPUNG BATIK KAUMAN Aditya Dimas Wahyu Sasongko; Zahir Widadi; Daru Anggara Murty; Maghfiroh Maghfiroh; Rizki Lestari; Ryan Asani
SWARNA: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. 2 No. 5 (2023): SWARNA: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat, Mei 2023
Publisher : LPPM Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi 45 Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55681/swarna.v2i5.528

Abstract

Kampung batik Kauman merupakan salah satu kampung industri batik produktif di kota Pekalongan. Kampung Batik Kauman juga memiliki 50 showroom yang menawarkan berbagai jenis kain dan motif batik khas Indonesia dan berbagai daerah di Provinsi Jawa Tengah. Estetika hanyalah ilmu yang membahas kecantikan. Sementara itu, keindahan, atau keindahan, adalah sifat dari sesuatu yang memberi kita kesenangan ketika kita melihatnya. Estetika memiliki peran penting dalam sebuah karya yang mencerminkan kreativitas seniman, pengrajin, desainer, status sosial, selera konsumen, dan berbagai aspek lainnya. Dalam proses pembuatan batik, estetika tidak bisa dianggap remeh karena akan mempengaruhi keunikan batik, karakteristik daerah, target konsumen, dan tingkat hasil penjualan di pasaran. Batik Kauman sebagai salah satu industri tertua di Kota Pekalongan diharapkan mampu mempertahankan eksistensinya dengan memperhatikan nilai estetika dari batik yang dihasilkannya. Art management sangat dibutuhkan dalam setiap proses pembuatan karya, baik itu lukisan, batik, desain, dan berbagai karya seni lainnya. Setelah melaksanakan kegiatan pelatihan manajemen seni sebagai upaya pengembangan estetika batik di Kampung Batik Kauman, ada beberapa hasil yang dapat disimpulkan. Proses pembuatan karya batik tidak lepas dari pengetahuan dan keterampilan. Pengrajin hanya fokus pada keterampilan otodidak dan tidak menggabungkannya dengan pengetahuan yang terus berkembang. Pengrajin tidak menyadari bahwa setiap kali mereka membuat batik mereka perlu memiliki keterampilan untuk menciptakan motif berupa dekorasi, mengolah warna, hingga proses makna yang diciptakan. Proses makna dapat dilakukan dengan memahami konsep komunikasi visual. Pemahaman tentang budaya dan sejarah akan membantu dalam proses menafsirkan dan menjadikan motif sebagai hiasan. Pemahaman tentang manajemen seni dalam hal Nirmana Batik untuk menata atau menata elemen visual seperti titik, garis, warna, ruang dan tekstur menjadi satu kesatuan yang harmonis masih kurang.
Pengaruh Tingkat Pengetahuan Industri Batik Menuju Industri Hijau sebagai Bentuk Tanggung Jawab Sosial pada Keberlanjutan Lingkungan Maghfiroh Maghfiroh; Wenti Ayu Sunarjo; Aditya Dimas Wahyu Sasongko; Nila Oktaviani; Ristiawati Ristiawati; Faiz Tyas Hanifah; Wafa Khanza Fadhilah
Pena: Jurnal Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Vol 37, No 2 (2023): PENA SEPTEMBER 2023
Publisher : LPPM Universitas Pekalongan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31941/jurnalpena.v37i2.3649

Abstract

One of the impacts following the inauguration of Indonesian Batik as an intangible cultural heritage by UNESCO in 2009 was that many batik businesses emerged in various regions. This increase can increase the amount of production and at the same time have an impact on the environment. The presence of government regulations regarding the green industry for the batik industry has allegedly not been a concern for batik entrepreneurs, especially in Pekalongan City. Most of the batik industry still implements production processes without paying attention to SMK3 and environmental aspects, so the aim of this research is to measure the level of knowledge of the Pekalongan City batik industry regarding the existence of government regulations relating to green industry standards for the batik industry. The method used is a survey method using a quantitative approach. Furthermore, the impact of this research can be a reference for the government to provide stimulus and treatment for batik SMEs in increasing knowledge about Permenperin No. 10 of 2023 for the batik industry towards a more focused green industry through green industry certification for batik SMEs.