Claim Missing Document
Check
Articles

Found 28 Documents
Search

PERANCANGAN BUKU MENGGAMBAR DAN MEWARNAI BERTEMA BATIK SEBAGAI MEDIA PEMBELAJARAN BATIK UNTUK ANAK USIA 4-6 TAHUN Daru Anggara Murty; Sri Puji Astuti
Pena Jurnal Ilmu Pengetahuan Dan Teknologi Vol 36 (2022): EDISI KHUSUS PENELITIAN LPPM UNIKAL
Publisher : LPPM Universitas Pekalongan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31941/jurnalpena.v36i0.1955

Abstract

Identity of Cultural heritage closely nations is batik. The impact of UNESCO is growth imitation technique, then decreasing batik producer in Pekalongan. To maintain and preserve batik is by inviting next generation. The design of book for children aged 4-6 years is expected to increase interest in batik as a learning medium. This research was conducted by observing analyzing previous drawing and coloring books. Conducted structured interviews with the Chairperson of the Indonesian Batik Craftsmen and Entrepreneurs Association (APPBI) and the Head of the Pekalongan service. and conduct unstructured interviews with children in kindergarten schools in Pekalongan and study the literature. The result of the concept of designing a drawing and coloring book refers to the learning media for children aged 4-6 years by lifting the classic solo-yogya batik motif. The discussion of the book is in the form of basic batik knowledge
Pelatihan Digital Marketing melalui Aplikasi Shopee bagi Pemuda Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Kelurahan Tirto Kota Pekalongan Ari Muhardono; Daru Anggara Murty; Milla Imadiya; Yovita Christi
Jurnal Pustaka Mitra (Pusat Akses Kajian Mengabdi Terhadap Masyarakat) Vol 3 No 2 (2023): Jurnal Pustaka Mitra (Pusat Akses Kajian Mengabdi Terhadap Masyarakat)
Publisher : Pustaka Galeri Mandiri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55382/jurnalpustakamitra.v3i2.417

Abstract

Kelurahan Tirto adalah salah satu desa yang terletak di Kecamatan Pekalongan Barang dengan wilayah sebesar 141.739 km2, Kelurahan Tirto terdiri dari 9 RW dan 44 RT. Menurut data statistik pada tahun 2022, jumlah penduduknya sebesar 11.114 jiwa; terdiri dari 5.605 laki-laki dan 5.509 perempuan. Sedangkan mata pencaharian penduduk cukup beragam meliputi PNS/TNI/POLRI sebesar 3%, karyawan swasta sebesar 37%, Wiraswasta/Pedagang sebesar 19%, Jasa sebesar 28%, Guru/Dosen sebesar 4%, Buruh Tani sebesar 1%, dan belum mendapat pekerjaan sebesar 4%. Di Kelurahan Tirto memiliki Lembaga Pemberdayaan Masyarakat (LPM), Badan Keswadayaan Masyarakat (BKM), Karangtaruna, dan Kelompok Usaha Peningkatan Pendapatan Keluarga (UP2K) namun program-program pemberdayaan masyarakat khususnya masyarakat usia produktif belum berjalan dengan maksimal, diperlukan upaya peningkatan pengetahuan terutama di bidang pemasaran digital. Berdasarkan permasalahan mitra diatas, maka perlu diadakan kegiatan pelatihan dan pendampingan mengenai digital marketing yang meliputi fundamental digital marketing dan strategi pemasaran produk melalui aplikasi Shopee kepada masyarakat di Kelurahan Tirto Kecamatan Pekalongan Barat. Tujuan dari pengabdian ini yaitu meningkatkan ketrampilan pemasaran pada masyarakat di Kelurahan Tirto agar mampu meningkat omset penjualan usahanya.
PELATIHAN MANAJEMEN SENI SEBAGAI UPAYA MENGEMBANGKAN ESTETIKA BATIK DI KAMPUNG BATIK KAUMAN Aditya Dimas Wahyu Sasongko; Zahir Widadi; Daru Anggara Murty; Maghfiroh Maghfiroh; Rizki Lestari; Ryan Asani
SWARNA: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. 2 No. 5 (2023): SWARNA: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat, Mei 2023
Publisher : LPPM Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi 45 Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55681/swarna.v2i5.528

Abstract

Kampung batik Kauman merupakan salah satu kampung industri batik produktif di kota Pekalongan. Kampung Batik Kauman juga memiliki 50 showroom yang menawarkan berbagai jenis kain dan motif batik khas Indonesia dan berbagai daerah di Provinsi Jawa Tengah. Estetika hanyalah ilmu yang membahas kecantikan. Sementara itu, keindahan, atau keindahan, adalah sifat dari sesuatu yang memberi kita kesenangan ketika kita melihatnya. Estetika memiliki peran penting dalam sebuah karya yang mencerminkan kreativitas seniman, pengrajin, desainer, status sosial, selera konsumen, dan berbagai aspek lainnya. Dalam proses pembuatan batik, estetika tidak bisa dianggap remeh karena akan mempengaruhi keunikan batik, karakteristik daerah, target konsumen, dan tingkat hasil penjualan di pasaran. Batik Kauman sebagai salah satu industri tertua di Kota Pekalongan diharapkan mampu mempertahankan eksistensinya dengan memperhatikan nilai estetika dari batik yang dihasilkannya. Art management sangat dibutuhkan dalam setiap proses pembuatan karya, baik itu lukisan, batik, desain, dan berbagai karya seni lainnya. Setelah melaksanakan kegiatan pelatihan manajemen seni sebagai upaya pengembangan estetika batik di Kampung Batik Kauman, ada beberapa hasil yang dapat disimpulkan. Proses pembuatan karya batik tidak lepas dari pengetahuan dan keterampilan. Pengrajin hanya fokus pada keterampilan otodidak dan tidak menggabungkannya dengan pengetahuan yang terus berkembang. Pengrajin tidak menyadari bahwa setiap kali mereka membuat batik mereka perlu memiliki keterampilan untuk menciptakan motif berupa dekorasi, mengolah warna, hingga proses makna yang diciptakan. Proses makna dapat dilakukan dengan memahami konsep komunikasi visual. Pemahaman tentang budaya dan sejarah akan membantu dalam proses menafsirkan dan menjadikan motif sebagai hiasan. Pemahaman tentang manajemen seni dalam hal Nirmana Batik untuk menata atau menata elemen visual seperti titik, garis, warna, ruang dan tekstur menjadi satu kesatuan yang harmonis masih kurang.
Optimalisasi Digital Marketing Dalam Mendukung Komunitas Toko Bahasa Didha Putri Citradika; Daru Anggara Murty; Danang Satrio
Jurnal Pengabdian Masyarakat Akademisi Vol. 2 No. 1 (2023)
Publisher : Jurnal Pengabdian Masyarakat Akademisi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54099/jpma.v2i1.498

Abstract

Desa Kedungmalang adalah desa dengan penduduk terpadat di Kabupaten Batang. Desa ini memiliki komunitas Toko Bahasa yang mempunyai keahlian bermacam-macam bahasa dan bertujuan untuk mengelola UMKM dengan memproduksi kerajinan dan makanan. Masalah yang dihadapi Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM), khususnya pada UMKM Desa Kedungmalang adalah kesulitan pemasaran, keterbatasan inovasi dan teknologi, khususnya keterbatasan memanfaatkan market place. Pengabdian masyarakat ini bertujuan agar masyarakat Kedungmalang mendapat pembekalan dalam melakukan penjualan secara digital sehingga mendapat pasar yang lebih luas. Pelaksanaan kegiatan pemberdayaan masyarakat dalam pelatihan UMKM ini menggunakan metode PAR (Participatory Action Research). Pelatihan ini dihadiri oleh 11 orang, menyampaikan materi, selanjutnya dilanjutkan dengan sesi tanya jawab oleh peserta. Selama pemaparan materi, semua peserta begitu antusias untuk memulai berwirausaha sesuai yang diketrampilannyaDampak pelatihan digital marketing yang dilaksanakan melalui media pemasaran online mampu meningkatkan pendapatan pelaku UMKM.
Recovery of Indantren from Batik Liquid Waste after Fabric Dying and its Application Maghfiroh Maghfiroh; Daru Anggara Murty; Hutami Puji Lestari
Indonesian Journal of Chemical Science Vol 12 No 3 (2023)
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/ijcs.v12i3.75552

Abstract

The remaining dyes have been reused, namely indantren which were wasted after the batik coloring process was finished. This study aims to determine the quality of the color test results, fastness to soap washing, dry rubbing and perspiration (acid and base) of the dyes indantren on fabrics after recovery process using the sedimentation method. The process of recovering indantren dyes is carried out by the method of sedimentation of indantren dyes in the residual waste of the dyeing process. The sediment obtained was dried at 80ºC using an oven to obtain the recovered indantren dye powder and then applied to dye cotton fabrics. The fabric color evaluation stage is carried out to test the aging and fastness of recovered indantren dyes if the dyes are reused in the batik process. The color intensity test was carried out using a UV-PC spectrophotometer, the color fastness test to washing soap and perspiration (acid and base) with the gray scale, and the color fastness test to dry rubbing using the staining scale. The results showed that the three types of recovered indantren dyes used in this study had good quality for reuse in the coloring process. Remaining indantren dyes that can be reused are 32,8% of the mass of indantren used in the initial coloring process. The color fastness test to soap washing, dry rubbing and perspiration of the indantren dyes yielded good scores.
PELATIHAN MANAJEMEN SENI SEBAGAI UPAYA MENGEMBANGKAN ESTETIKA BATIK DI KAMPUNG BATIK KAUMAN Aditya Dimas Wahyu Sasongko; Zahir Widadi; Daru Anggara Murty; Maghfiroh Maghfiroh; Rizki Lestari; Ryan Asani
SWARNA: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. 2 No. 5 (2023): SWARNA: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat, Mei 2023
Publisher : LPPM Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi 45 Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55681/swarna.v2i5.528

Abstract

Kampung batik Kauman merupakan salah satu kampung industri batik produktif di kota Pekalongan. Kampung Batik Kauman juga memiliki 50 showroom yang menawarkan berbagai jenis kain dan motif batik khas Indonesia dan berbagai daerah di Provinsi Jawa Tengah. Estetika hanyalah ilmu yang membahas kecantikan. Sementara itu, keindahan, atau keindahan, adalah sifat dari sesuatu yang memberi kita kesenangan ketika kita melihatnya. Estetika memiliki peran penting dalam sebuah karya yang mencerminkan kreativitas seniman, pengrajin, desainer, status sosial, selera konsumen, dan berbagai aspek lainnya. Dalam proses pembuatan batik, estetika tidak bisa dianggap remeh karena akan mempengaruhi keunikan batik, karakteristik daerah, target konsumen, dan tingkat hasil penjualan di pasaran. Batik Kauman sebagai salah satu industri tertua di Kota Pekalongan diharapkan mampu mempertahankan eksistensinya dengan memperhatikan nilai estetika dari batik yang dihasilkannya. Art management sangat dibutuhkan dalam setiap proses pembuatan karya, baik itu lukisan, batik, desain, dan berbagai karya seni lainnya. Setelah melaksanakan kegiatan pelatihan manajemen seni sebagai upaya pengembangan estetika batik di Kampung Batik Kauman, ada beberapa hasil yang dapat disimpulkan. Proses pembuatan karya batik tidak lepas dari pengetahuan dan keterampilan. Pengrajin hanya fokus pada keterampilan otodidak dan tidak menggabungkannya dengan pengetahuan yang terus berkembang. Pengrajin tidak menyadari bahwa setiap kali mereka membuat batik mereka perlu memiliki keterampilan untuk menciptakan motif berupa dekorasi, mengolah warna, hingga proses makna yang diciptakan. Proses makna dapat dilakukan dengan memahami konsep komunikasi visual. Pemahaman tentang budaya dan sejarah akan membantu dalam proses menafsirkan dan menjadikan motif sebagai hiasan. Pemahaman tentang manajemen seni dalam hal Nirmana Batik untuk menata atau menata elemen visual seperti titik, garis, warna, ruang dan tekstur menjadi satu kesatuan yang harmonis masih kurang.
Proyek P5 Kearifan Lokal : Pelatihan Pembuatan Batik Interior Pada Siswa MAN 1 Pekalongan Lestari, Rizki; Sasongko, Aditya Dimas Wahyu; Maghfiroh, Maghfiroh; Murty, Daru Anggara; Widadi, Zahir; Agama, Dimas Pandu Setia
PENA ABDIMAS : Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol 5, No 1 (2024): Januari 2024
Publisher : LPPM Universitas Pekalongan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31941/abdms.v5i1.4005

Abstract

Batik merupakan identitas bangsa Indonesia yang perlu dilestarikan, dilindungi dan dikembangkan. Pekalongan sebagai Kota Batik Dunia, memiliki ekosistem batik yang lengkap. Batik sudah menjadi keseharian masyarakat Pekalongan. Dalam upaya internalisasi nilai-nilai budaya sekaligus memberikan pengetahuan dan keterampilan peserta didik dalam menciptakan produk yang mempunyai nilai ekonomi dilakukan pelatihan pembuatan batik interior pada peserta didik kelas X MAN 1 Kota Pekalongan. Program ini sekaligus sebagai upaya implementasi Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5) dari kurikulum merdeka dengan tema kearifan lokal. Dalam program, dilakukan proses sosialisasi tentang definisi, jenis, aspek penggunaan dan teknik pembuatan batik pada peserta didik. Berdasarkan hasil evaluasi program, tercapai rat-rata peningkatan sebesar 56,67% tingkat pengetahuan maupun keterampilan peserta didik dalam mengimplementasikan Proyek P5 dengan tema kearifan lokal, dalam hal ini adalah batik.
The Use of Metals in the Voltaic Series and Its Implications on How Natural Batik Dye is Fixed Maghfiroh, Maghfiroh; Nugraheni, DIan; Widadi, Zahir; Murty, Daru Anggara; Fahria, Mila; Pratiwi, Novida
Walisongo Journal of Chemistry Vol 6, No 2 (2023): Walisongo Journal of Chemistry
Publisher : Department of Chemistry Faculty of Science and Technology Walisongo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/wjc.v6i2.18110

Abstract

The presence of natural colorants in the batch industry supports efforts to create sustainable products. However, the disadvantage of natural coloring substance is that tissue fibers generally have a low affinity to the pigment components, so the natural colorant is easily flourishing. This fact is based on exploring natural coloring substances and the type of fixator of the corresponding natural coloring substance. In addition to strengthening the absorption of color substances into the fiber, the fixator also serves to know the direction of color produced by the natural coloring substance. In testing, fixers are used that contain metals present in voltaic series. The object of the study is to described the color characteristics produced by natural dyeing substances (secang and tegeran woods) on various types of fixers that are included in the voltaic series. Color quality is assessed from 3 aspects i.e. color intensity parameters visually, color resistance with grey scale and color direction with website coolors.co. In general, the secang wood produces the pink color (warm category) while the tegeran wood color is yellow (vintage category). There is a regular sequence of the color concentration of the fabric achieved by each voltaic series metal used as a fixer. If the metal is applied as a fixer to the natural coloring material, the stronger oxidative properties of a metal on the voltaic series, the older the resulting color will be. 
Persepsi Masyarakat tentang Pengembangan Standar Industri Hijau pada Usaha Batik untuk Mengurangi Dampak Pencemaran Limbah Maghfiroh, Maghfiroh; Murty, Daru Anggara; Sasongko, Aditya Dimas Wahyu; Ariadi, Heri
JURNAL LITBANG KOTA PEKALONGAN Vol. 21 No. 2 (2023)
Publisher : Badan Perencanaan Pembangunan, Penelitian dan Pengembangan Daerah (Bappeda) Kota Pekalongan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54911/litbang.v21i2.293

Abstract

The green batik concept of is very important to be developed in Pekalongan City. The aim of this research is to determine the level of public perception regarding efforts to develop batik green industry standards in Pekalongan City as an implementation step to reduce the impact of batik waste pollution. The method used is descriptive qualitative with data collection using purposive sampling. The results of the research show that the level of public perception regarding the meaning of green batik products and government policy regarding green products for batik is 68% and 65% of them understand. Responses to public perceptions of the green batik industry standard concept and its implementation showed a percentage of 63% and 62% who knew. The perception of public knowledge regarding green industry branding and its health risk impacts shows that 57% and 72% of batik producers know about it. 73% of the public's perception is that they know about procedures for managing batik materials and 65% also know about waste management. The conclusion from the research results shows that the level of public perception of efforts to develop green industry standards in Pekalongan City is very good. The level of public perception towards efforts to develop green industrial standards in the batik industry in Pekalongan City is good. Keywords: Industry, environment, batik maker, pollutant, respondents
Pelatihan Optimalisasi Konten Marketing menggunakan Aplikasi Artificial Intellegence (AI) bagi UMKM Kampoeng Batik Kauman Pekalongan Ari Muhardono; Wenti Ayu Sunarjo; Daru Anggara Murty; Supajar Bayu Aji; Tri Lidia Sari
I-Com: Indonesian Community Journal Vol 4 No 3 (2024): I-Com: Indonesian Community Journal (September 2024)
Publisher : Fakultas Sains Dan Teknologi, Universitas Raden Rahmat Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33379/icom.v4i3.5108

Abstract

Kampoeng Batik Kauman Pekalongan, a destination for shopping, cultural, and educational batik tourism in Pekalongan City, Central Java, faces significant challenges in promotion and competition with imitation products. This community service activity aims to enhance the promotional skills of batik SMEs through training in the use of artificial intelligence (AI) applications for marketing content creation. The training involved 18 participants from Kampoeng Batik Kauman SMEs and covered the use of AI applications such as ChatGPT, Gemini AI, Bing Image Creator, Canva AI, Photoroom AI, and Gamma AI to assist SMEs in generating ideas and creating engaging marketing content. Participant satisfaction data showed that 72.2% rated the training as very satisfactory, 24.5% as satisfactory, and 3.2% as moderately satisfactory. These findings demonstrate that AI-based marketing content training is highly beneficial for supporting the business promotion of Kampoeng Batik Kauman Pekalongan SMEs, particularly in marketing content creation.