Claim Missing Document
Check
Articles

Found 13 Documents
Search

Standarisasi Parameter Spesifik Non Spesifik Ekstrak Etanol Daun Kersen (Muntingia calabura L) Asal Daerah Blitar Jawa Timur Jihan Arini; Ratna Wijayatri; Eka Sakti Wahyuningtyas; Estrin Handayani; Herma Fanani Agusta
CERATA Jurnal Ilmu Farmasi Vol 16 No 2 (2025): Cerata Jurnal Ilmu Farmasi
Publisher : Universitas Muhammadiyah Klaten

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61902/cerata.v16i2.1642

Abstract

Muntingia calabura L, atau yang biasa disebut kersen banyak ditemukan di wilayah beriklim tropis Indonesia seperti daerah Blitar Jawa Timur. Tanaman kersen (Muntingia calabura L) banyak ditemukan pada wilayah beriklim tropis, serta temasuk dalam jenis tanaman perennial yang mampu tumbuh tinggi hingga 10 meter, dengan batang tegak yang berbentuk bulat, berkayu, dan memiliki sistem percabangan sympodial. Standarisasi tanaman kersen (Muntingia calabura L) memiliki tujuan sebagai upaya memperoleh produk herbal yang terjamin keamanan, khasiat, dan mutunya. Ekstrak tanaman ini distandarisasi berdasarkan dua parameter, yaitu parameter spesifik dan parameter non-spesifik. Parameter spesifik, tanaman yang digunakan adalah (Muntingia calabura L), dengan bagian yang dimanfaatkan yaitu daun (folium). Hasil uji organoleptik memperlihatkan bahwa ekstrak yang diperoleh memiliki konsistensi yang kental berwarna hijau tua kehitam-hitaman, beraroma khas pahit, serta memiliki rasa pahit. Pengujian kandungan kimia mengungkap bahwa ekstrak etanol daun kersen (Muntingia calabura L) memiliki kandungan alkaloid, flavonoid, saponin, tannin, dan terpenoid. Pada parameter non-spesifik, hasil uji kadar air menunjukkan bahwa ekstrak etanol daun kersen (Muntingia calabura L) memiliki kadar air 0%, dengan bobot jenis sebesar 1,0443 g/ml. Selain itu, hasil analisis juga menunjukkan bahwa ekstrak ini bebas dari cemaran logam berat, baik kadmium (Cd) maupun timbal (Pb).
Uji Aktivitas Tonikum Ekstrak Etanol Daun Alpukat (Persea Americana Mill.) pada Mencit Jantan (Mus Musculus) Dengan Metode Natatory Exhaustion Shyfa Anindya Padirja; Imron Wahyu Hidayat; Herma Fanani Agusta
Ulul Albab: Majalah Universitas Muhammadiyah Mataram Vol 29, No 2 (2025): Juli
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jua.v29i2.34025

Abstract

Abstrak: Penggunaan tonikum semakin populer karena meningkatnya aktivitas masyarakat dalam memenuhi kebutuhan ekonomi. Salah satu tanaman yang berpotensi sebagai tonikum adalah daun alpukat (Persea americana Mill.) karena mengandung senyawa bioaktif seperti flavonoid, alkaloid, polifenol, dan saponin yang dapat memberikan efek tonik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kandungan kimia ekstrak etanol daun alpukat dan efek tonikum yang dihasilkan ekstrak etanol daun alpukat. Penelitian termasuk dalam penelitian eksperimental. Identifikasi kandungan kimia menggunakan analisis fitokimia yang ditandai adanya perubahan warna, identifikasi flavonoid dengan kromatografi lapis tipis, dan penetapan kadar flavonoid total dengan spektrofotometri Uv-Vis. Uji tonikum menggunakan metode natatory exhaustion pada 25 ekor mencit yang terbagi menjadi 5 kelompok perlakuan. Kelompok perlakuan terdiri dari Na-CMC 0,5% (kontrol negatif), kafein 100 mg/kgBB (kontrol positif), kelompok seri ekstrak etanol daun alpukat dosis 100, 200, dan 400 mg/kgBB. Data dianalisis menggunakan uji one way ANOVA dan uji lanjut Least Significant Difference (LSD). Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak etanol daun alpukat mengandung senyawa flavonoid, alkaloid, tanin, saponin, dan steroid. Ekstrak etanol daun alpukat diketahui mengandung flavonoid dengan rata-rata kadar total sebesar 6,91%. Analisis statistik one way ANOVA (p<0,05) menunjukkan perbedaan signifikan antar kelompok perlakuan dengan nilai 0,001 < 0,05. Uji LSD menunjukkan bahwa kontrol positif tidak berbeda signifikan (p>0,05) dengan kelompok pemberian ekstrak etanol daun alpukat dosis 400 mg/kgBB. Hal ini menunjukkan bahwa pemberian ekstrak dosis 400 mg/kgBB meningkatkan efek tonikum yang sebanding dengan kafein dosis 100 mg/kgBB. Ekstrak etanol daun alpukat mengandung senyawa flavonoid, alkaloid, tanin, saponin, dan steroid dengan rata-rata kandungan flavonoid total sebesar 6,91%. Ekstrak etanol daun alpukat dosis 400 mg/kgBB memberikan efek tonikum terbaik dan sebanding dengan kafein dosis 100 mg/kgBB.Abstract: The use of tonics is becoming increasingly popular due to the rise in societal activities aimed at meeting economic needs. One plant with potential as a tonic is avocado leaves (Persea americana Mill.) because it contains bioactive compounds such as flavonoids, alkaloids, polyphenols, and saponins, which can provide a tonic effect. This study aims to identify the chemical content of avocado leaves ethanol extract and the tonic effect produced by avocado leaves ethanol extract. This study is included in experimental research. Identification of chemical content was conducted using phytochemical analysis indicated by color changes, identification of flavonoids with thinlayer chromatography, and determination of total flavonoid content with UV-Vis spectrophotometry. The tonic test used the natatory exhaustion method on 25 mice divided into 5 treatment groups. The treatment groups consisted of 0.5% Na-CMC (negative control), 100 mg/kgBB caffeine (positive control), and a series of ethanol extract doses from avocado leaves at 100, 200, and 400 mg/kgBB. Data were analyzed using one-way ANOVA and further Least Significant Difference (LSD) tests. The results showed that the ethanol extract of avocado leaves contained flavonoids, alkaloids, tannins, saponins, and steroids. The ethanol extract of avocado leaves is found to contain flavonoids with an average total content of 6.91%. Statistical analysis of one way ANOVA (p<0.05) showed significant differences between treatment groups with a value of 0.001 <0.05. LSD test showed that the positive control was not significantly different (p>0.05) with the group giving the avocado leaf ethanol extract dose of 400 mg/kgBB. This indicates that the administration of the extract at a dose of 400 mg/kgBB enhances the tonic effect to a level comparable with 100 mg/kgBB of caffeine.The ethanol extract of avocado leaves contains flavonoid, alkaloid, tannin, saponin, and steroid compounds with an average total flavonoid content of 6.91%. The ethanol extract of avocado leaves dose 400 mg/kgBB offers the best tonic effect and comparable to caffeine dose 100 mg/kgBB.
Analisis Kualitatif dan Kuantitatif Bahan Kimia Obat Parasetamol, Natrium Diklofenak, dan Prednison Dalam Jamu di Wilayah Magelang Fadillah Sinka; Perdana Priya Haresmita; Alfian Syarifuddin; Imron Wahyu Hidayat; Herma Fanani Agusta
Jurnal Sains Kesehatan Vol 33, No 1 (2026)
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Tri Mandiri Sakti Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37638/jsk.33.1.55-67

Abstract

Jamu adalah obat tradisional yang banyak dikonsumsi masyarakat Indonesia karena khasiatnya. Namun penambahan Bahan Kimia Obat (BKO) pada jamu sering dilakukan untuk meningkatkan khasiat jamu yang justru berdampak negatif pada kesehatn. Tujuan penelitian ini untuk mengidentifikasi BKO secara kualitatif dan kuantitatif pada jamu yang beredar di Kabupaten Magelang. Terdapat 5 sampel jamu yang dianalisis dengan kode A, B, C, D, dan E. Metode yang dilakukan terdiri dari uji organoleptis, uji kualitatif dengan Kromatografi Lapis Tipis (KLT) dan uji kuantitatif menggunakan spektrofotometri UV-Vis. Uji organoleptis dilakukan dengan mengamati warna, bau, rasa, dan bentuk sediaan. Analisis kualitatif KLT menggunakan 3 standar yakni prednison, parasetamol, dan natrium diklofenak. Hasil analisis metode KLT menunjukkan sampel jamu kode A diduga mengandung BKO prednison ditandai dengan nilai Rf dan warna yang sama dengan standar prednison. Sampel yang diduga positif dianalisis lebih lanjut secara kuantitatif pada panjang gelombang 238 nm dan persamaan regresi linier y = 0,0462x + 0,2672 dengan nilai r = 0,9987. Hasil perhitungan standar deviasi diperoleh nilai 0,0071 sedangkan nilai LOD 5,1363 serta LOQ 17,1212 sementara kadar rata-rata prednison pada sampel jamu A menunjukkan konsentrasi sebesar 1,284% ± 0,0791. Oleh karena itu dapat dilakukan analisis lebih lanjut terhadap sampel jamu yang beredar di masyarakat dengan menggunakan standar BKO lain atau memilih lokasi sampel yang berbeda, serta melakukan validasi metode analisis.  Kata Kunci: bahan kimia obat, jamu, natrium diklofenak, parasetamol, prednisone