Devi Setya Putri
ITEKES Cendekia Utama Kudus

Published : 6 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 6 Documents
Search

Penerapan APD (Alat Pelindung Diri) Lengkap Untuk Menunjang Kesehatan Dan Keselamatan Kerja di Pabrik Tahu “Rukun” Desa Dadirejo Kecamatan Margorejo Kabupaten Pati Gardha Rias Arsy; Anita Dyah Listyarini; Emma Setyo Wulan; Devi Setya Putri; Nila Putri Purwandari; Vera Fitriana; Serla Lidya; Eva Isyeh Wulandari
Jurnal Pengabdian Kesehatan Vol 5, No 2 (2022): Jurnal Pengabdian Kesehatan
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) STIKES Cendekia Utama Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31596/jpk.v5i2.224

Abstract

Kesehatan kerja adalah spesialisasi dalam ilmu kesehatan atau kedokteran beserta prakteknya yang bertujuan, agar pekerja atau masyarakat pekerja beserta memperoleh derajat kesehatan yang setinggi-tingginya, baik fisik, atau mental, maupun sosial, dengan usaha-usaha preventif dan kuratif, terhadap penyakit atau gangguan kesehatan yang diakibatkan faktor-faktor pekerjaan dan lingkungan kerja, serta terhadap penyakit-penyakit umum. Yang meliputi sasarannya yaitu manusia dan medisnya. Keselamatan kerja adalah keselamatan yang bertalian dengan mesin, pesawat, alat kerja, bahan, dan proses pengolahannya, landasan tempat kerja dan lingkungannya serta cara-cara melakukan pekerjaan. Keselamatan kerja menyangkut segenap proses produksi distribusi baik barang maupun jasa.  Penerapan penggunaan APD (Alat pelindung diri) penting dilakukan sebagai tanggung jawab pabrik untuk melindungi tenaga kerja dari bahaya keselamatan kerja dan kesehatan. APD tidak hanya digunakan pada petugas rumah sakit atau petugas kesehatan saja, namun setiap karyawan yang bekerja di area pabrik harus menggunaka APD juga. Pengggunaan alat perlindungan diri ini bertujuan untuk melindungi kulit atau badan dari kontak langsung dengan karyawan lain. Alat pelindung diri meliputi sarung tangan, masker, perlindungan mata, topi, gaun dan apron. Salah satu alat perlindungan diri yang digunakan untuk mencegah kontaminasi dengan yang lain adalah minimal penggunaan sarung tangan dan masker.
KORELASI LAMA HEMODIALISIS DENGAN PENINGKATAN INTERDIALYTIC WEIGHT GAIN (IDWG) PADA PASIEN GAGAL GINJAL KRONIK YANG MENJALANI HEMODIALISIS DI RSUD dr. LOEKMONOHADI KUDUS Devi Setya Putri; Luluk Cahyanti; Eka Vira
Journal Keperawatan Vol. 2 No. 1 (2023): February 2023
Publisher : Poltekkes Kemenkes Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58774/jourkep.v2i1.37

Abstract

Hemodialysis is a procedure that can improve the quality of life for patients with chronic kidney disease. The longer undergoing hemodialysis it will be increasingly exposed to complications from hemodialysis. The complication that often occurs is an increase in Interdialytic Weight Gain (IDWG). The purpose of this study is to correlation longer undergoing hemodialysis and increase in Interdialytic Weight Gain (IDWG). This type of research is descriptive correlation. The sample in this study were 51 respondents who underwent hemodialysis in RSUD dr. Loekmono Hadi Kudus. This study uses a purposive sampling technique. Bivariate analysis uses rank spearmen. The average respondent underwent hemodialysis for 19.92 months and the average IDWG increase in respondents was 1.995 kg. Bivariate results show that p value is 0.004 (α = 0.05). There is a relationship between long-term in hemodialysis and the increase in IDWG in patients with chronic kidney disease on hemodialysis patients at dr. Loekmono Hadi Hospital Kudus.
Hubungan Pengetahuan Dengan Peran Diri Pasien Diabetes Mellitus Di RS Mardirahayu Kudus Devi Setya Putri
PROFESSIONAL HEALTH JOURNAL Vol 4 No 2 (2023): Juni
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (PPPM) STIKES Banyuwangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54832/phj.v4i2.867

Abstract

Abstract The number of Diabetes Mellitus (DM) sufferers is increasing. The high prevalence of diabetes mellitus sufferers is caused by several risk factors, one of which is self-knowledge and role. Role self refers to healthy eating, physical activity, blood sugar monitoring, medication adherence, positive problem solving, coping skills and risk reduction behaviors. The role of self is determined from the patient's knowledge. This study aims to determine the relationship between knowledge and the role of diabetes mellitus patients at Mardi Rahayu Kudus Hospital. Analytical correlational research type with cross sectional design. The population is diabetes mellitus sufferers at Mardi Rahayu Kudus Hospital. The sampling technique is purposive sampling. The sample size was 65 people. Statistical data analysis using the Spearman Rank test. The result got knowledge was in the medium category 32 (49.2%), role self was the most in the role satisfaction category 44 (67.7%). Spearman Rank analysis obtained a p value of 0.000 and a rho value of (0.605). There is a strong relationship between knowledge and the role of diabetes mellitus patients at Mardi Rahayu Kudus Hospital because the p value (0.000) is <0.05 at the 5% significance level. Keywords: Knowledge, Self Role, Diabetes Mellitus.
GAMBARAN KECEMASAN PENYINTAS CORONA VIRUS DISEASE 19 DI RUMAH SAKIT MARDI RAHAYU Dwi Ratnaningsih; Devi Setya Putri
Jurnal Profesi Keperawatan Vol 10, No 1 (2023): Jurnal Profesi Keperawatan (JPK)
Publisher : Institut Teknologi Kesehatan Cendekia Utama Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31596/jprokep.v10i1.145

Abstract

ABSTRAKLatar Belakang: Adanya stigma sosial yang diberikan oleh masyarakat kepada penyintas COVID-19 akan cenderung bersikap menjauh dan tidak mau terlibat kontak dengan mereka. Dampak kecemasan apabila tidak ditangani, dapat berpengaruh untuk sistem kardiovaskular dan kesehatan jantung. Kecemasan meningkatkan risiko penyakit jantung pada orang yang sehat. Gangguan kecemasan bisa berdampak pada sistem kekebalan. Kecemasan pada penyintas covid 19 sangat menarik diteliti karena reaksi kecemasan akan berbeda pada setiap individu. Metode: Jenis penelitian yang digunakan adalah metode penelitian kualitatif yaitu melihat fenomena yang ada secara mendalam. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan cross sectional. Populasi pada penelitian ini adalah semua perawat yang bekerja di RS Mardi Rahayu Kudus sekaligus penyintas covid Juni-Agustus 2021 sebanyak 83 orang. Sampel yang digunakan dalam penelitian ini sebanyak 69 orang. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuesioner. Analisa yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisa univariat. Hasil Penelitian: mayoritas responden memiliki kecemasan sedang yaitu sebanyak 33 orang (47,8%), yang memiliki kecemasan ringan sebanyak 29 orang (42%), yang memiliki kecemasan berat sebanyak 4 orang (5,8%) dan yang memiliki kecemasan normal yaitu sebanyak 3 orang (4,3%). Kesimpulan: mayoritas responden memiliki kecemasan sedang yaitu sebanyak 33 orang (47,8%). Kata Kunci: Kecemasan, Penyintas, Covid 19
TERAPI RELAKSASI BENSON TERHADAP PENURUNAN TINGKAT KECEMASAN DIMASA PANDEMI COVID-19 Luluk Cahyanti; Devi Setya Putri; Vera Fitriana; Alvi Ratna Yuliana
Jurnal Profesi Keperawatan Vol 10, No 2 (2023): Jurnal Profesi Keperawatan (JPK)
Publisher : Institut Teknologi Kesehatan Cendekia Utama Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31596/jprokep.v10i2.160

Abstract

ABSTRAK           Coronavirus Disease 2019  (COVID-19) adalah sebuah penyakit menular yang disebabkan oleh SARS CoV-2, yang dapat menyebar antar orang melalui percikan air liur (droplet) dari orang yang terinfeksi. Prevalensi kasus positif covid-19 pada tahun 2021 di dunia sebanyak 254.256.432 kasus, sedangkan di Indonesia sekitar  4.254.443 kasus positif. Penyebaran kasus ini sangat berdampak bagi kehidupan remaja yaitu menyebabkan kecemasan. Cemas merupakan suatu perasaan yang muncul saat seseorang berada dalam keadaan yang dapat mengancam keadaan jiwa dan dapat menjadi sinyal untuk mempersiapkan diri dalam menghadapi suatu keadaan. Terapi nonfarmakologi yang dapat dilakukan untuk menurunkan kecemasan pada remaja dimasa pandemi COVID-19  yaitu terapi relaksasi benson. Terapi relaksasi benson adalah relaksasi yang menggabungkan teknik pernapasan dalam dan kata-kata atau ungkapan yang diyakini seseorang dapat menenangkan dan menurunkan beban perasaan yang dirasakan oleh seseorang dan dapat mempengaruhi kesehatannya. Tujuan dari studi kasus ini menggambarkan penerapan terapi relaksasi benson terhadap penurunan tingkat kecemasan pada remaja dimasa pandemi COVID-19. Metode penulisan menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan proses asuhan keperawatan, sampel yang diambil yaitu 2 responden. Studi kasus ini dilakukan pada tanggal 31 Januari – 5 Februari 2022, tindakan dilakukan selama 2 kali seminggu dengan durasi 10-15 menit pada setiap pertemuan. Hasil studi kasus pada responden 1 dari cemas sedang (27) menjadi cemas ringan (14), sedangkan pada responden 2 dari cemas sedang (25) menjadi cemas ringan (13). Kesimpulannya terapi relaksasi benson efektif untuk mengatasi kecemasan selama pandemi COVID-19 karena terapi relaksasi benson dapat memberikan efek mententraman hati, mengurangi rasa khawatir, cemas dan gelisah.Kata kunci: Kecemasan, COVID-19, Remaja, Terapi Relaksasi Benson
TERAPI RELAKSASI OTOT PROGESIF TERHADAP STRES PSIKOSOSIAL KELUARGA PASIEN COVID-19 Luluk Cahyanti; Vera Fitriana; Devi Setya Putri; Siska Putri Lusianti
Jurnal Profesi Keperawatan Vol 10, No 1 (2023): Jurnal Profesi Keperawatan (JPK)
Publisher : Institut Teknologi Kesehatan Cendekia Utama Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31596/jprokep.v10i1.139

Abstract

ABSTRAKCorona virus-19 (COVID-19) yaitu penyakit menular yang disebabkan oleh corona virus baru yang dialami oleh individu yang terinfeksi virus COVID-19. Penyakit yang disebabkan virus corona atau dikenal COVID-19 adalah suatu jenis yang baru dan ditemukan diakhir tahun 2019 dan sebelum tidak pernah teridentifikasi menyerang manusia merupakan penyakit yang menginfeksi saluran pernafasan akut. Covid-19 mengakibatkan munculnya permasalahan secara fisik maupun psikologis, dampak secara psikologis salah satunya yang muncul adalah stress psikososial. stres psikososial dapat menimbulkan banyak keluhan, dalam keadaan akut dapat berupa bentuk kegelisahan, dalam bentuk kronis dapat berupa gangguan fisik maupun mental seperti depresi, kebosanan, kelelahan dan dapat menimbulkan kematian. Dalam menangani stress psikososial diperlukan terapi secara farmakologis dan non farmakologis.Terapi farmakologis yang diberikan berupa obat anti cemas axiolytic golongan benzodiazepine seperti diazepam, lorezepam, alprazolam dan anti depresi seperti fluoxetine, sertraline (Zoloft). Terapi non farmakologis yang dapat digunakan dalam menurunkan kecemasan adalah relaksasi nafas dalam, hipnosis lima jari dan relaksasi otot progresif. Salah satu terapi non farmakologis yang digunakan dalam menurunkan stress psikososial keluarga pasien covid-19 adalah terapi relaksasi otot progesif. Relaksasi otot progresif  adalah suatu keterampilan yang dapat dipelajari dan digunakan untuk mengurangi atau menghilangkan ketegangan dan mengalami rasa nyaman tanpa tergantung pada hal/subjek diluar dirinya. Relaksasi otot progresif ini digunakan untuk melawan rasa cemas, stres, atau tegang. Tujuan pokok teknik relaksasi adalah untuk menahan terbentuknya respon stress psikososial terutama dalam sistem saraf dan hormon. Metode yang digunakan dalam studi kasus ini adalah metode deskriptif. Pada akhirnya teknik relaksasi dapat membantu  mencegah atau  meringankan gejala fisik akibat stres ketika tubuh bekerja berlebihan dalam menyelesaikan masalah sehari-hari.Kata kunci: Covid-19, Stres Psikososial, Relaksasi Otot Progesif