Claim Missing Document
Check
Articles

Found 12 Documents
Search

BENTUK PENYAJIAN TARI RAPAI GELENG INONG DI KABUPATEN ACEH SELATAN Nadra Akbar Manalu; Abdul Rozak; Haria Nanda Pratama
DESKOVI : Art and Design Journal Vol. 7 No. 1 (2024): JUNI 2024
Publisher : Universitas Maarif Hasyim Latif

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51804/deskovi.v7i1.16573

Abstract

ABSTRACT Tari Rapai Geleng Inong adalah sebuah tarian etnis yang cukup populer dikalangan masyarakat Aceh pesisir.  Dulunya masyarakat Aceh hanya mengenal tari Rapai Geleng yang hanya ditarikan oleh penari laki-laki, namun di Aceh Selatan tari Rapai Geleng tidak hanya ditarikan oleh laki-laki, tarian ini juga ditarikan oleh perempuan yang kemudia dinamakan tari Rapai Geleng Inong, dimana penambahan kata Inong sendiri memiliki arti perempuan. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan tentang bagaimana bentuk penyajian tari Rapai Geleng Inong di Kabupaten Aceh Selatan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Pengumpulan data dilakukan dengan metode observasi, wawancara, dan dokumentasi. Teknik analisis data yang digunakan ialah: a) reduksi data, b) display data, dan c) pengambilan keputusan. Hasil penelitian Tari Rapai Geleng Inong dalam penyajiannya memiliki 7 babak yaitu: pembukaan, aleum (salam), tahlil ( Laa ilaha illahllah), ie la’ot (air laut), peuraho dayong (perahu dayung), kisah (baik kisah Rasul, Nabi, raja dan ajaran agama), dan lani (penutup). Dalam penyajiannya juga menggunakan rias panggung, busana dengan warna khas Aceh. Pola lantai yang digunakan dalam tari Rapai Geleng Inong adalah desain dan pola lurus, segitiga (piramit), melingkar (elips) dan seroang kanan depan. Alat musik yang digunakan adalah Rapai, dan tempat pertunjukkan  dilakukakan di tempat terbuka dan tertutup. This research aims to describe how the Rapai Geleng Inong dance is presented in South Aceh Regency. The Rapai Geleng Inong dance has 7 rounds, namely: opening, aleum (greeting), tahlil (Laa ilaha illahllah), ie la'ot (sea water), peuraho dayong (rowing boat), story (both the story of the Apostle, Prophet, king and teachings). religion), and lani (covering), the make-up used is make-up that is not too thick or excessive, the clothes used are always covered and do not reveal the private parts as recommended in the Islamic religion, and the color of the clothes is not specifically recommended but must refer to on typical Acehnese color elements. The floor patterns used in the Rapai Geleng Inong dance are straight, triangular (pyramit), circular (ellipse) and right-front designs and patterns. The musical instrument used is the Rapai, and the performances are held in open and closed places. This research uses a qualitative approach. The population of this research is the Rapai Geleng Inong dance artist in Samadua District. The subjects of this research were Rapai dance artist Geleng Inong, the community, and the South Aceh district government. Data collection was carried out using observation, interviews and documentation methods. The data analysis techniques used are: a) data reduction, b) data display, and c) decision making.  
TRAUMA HEALING MELALUI PERMAINAN TRADISIONAL BERBASIS BUDAYA LOKAL BAGI SISWA TERDAMPAK BENCANA ALAM DI SMK NEGERI 1 IDI RAYEUK Syahri Ramadhan; Ahmad Fajri; Nadra Akbar Manalu; Melly Tria Utari; Rika Wirandi; Wita Dwi Payana; Melda Munawarah; Ine Salvani Renggali SY; Rizka Ayunda
Community Development Journal : Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 7 No. 4 (2026): Vol. 7 No. 4 (2026)
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/cdj.v7i4.57583

Abstract

Bulan November tahun 2025, terjadi bencana alam pada beberapa wilayah di Pulau Sumatera, salah satu wilayah yang terdampak bencana yaitu Aceh Timur di kecamatan Idi Rayeuk yang terkena banjir bandang. Banjir ini menimbulkan kerusakan cukup parah dari infrastruktur, ekonomi, hingga pendidikan. Upaya pemulihan berkala dari pemerintah, relawan, dan masyarakat sekitar seperti distribusi makanan, perbaikan infrastruktur, membersihkan lumpur yang tersisa sudah dilakukan. Namun, pemulihan psikologis pada anak sering luput dari perhatian karena terbatasnya tenaga medis untuk mengatasi trauma healing. Masalah psikologis jika tidak segera diatasi akan menimbulkan gangguan mental jangka panjang seperti depresi, kecemasan, stres, hingga kesulitan bersosialisasi. Pelaksanaan pengabdian kepada masyarakat ini menggunakan metode yang terdiri dari tahapan-tahapan berikut ini: 1) tahapan persiapan dan sosialisasi, meliputi kegiatan survei awal serta koordinasi dengan mitra, 2) tahapan pelaksanaan dan penerapan, yaitu penerapan pendampingan trauma healing melalui permainan tradisional kepada siswa, dan 3) tahapan pendampingan dan evaluasi, difokuskan pada penilaian dampak kegiatan terhadap kondisi psikososial siswa. Pengabdian ini diharapkan dapat memberikan solusi terhadap pemulihan pascabencana, terutama pada kelompok rentan seperti anak-anak dan remaja, karena jika tidak segera diatasi akan berdampak panjang pada aspek psikososial anak. Upaya pemulihan dilakukan melalui media permainan tradisional berbasis budaya lokal. Aktivitas bermain memungkinkan anak mengekspresikan emosi secara nonverbal, mengalihkan fokus dari pengalaman traumatis, dan kemampuan kontrol diri. Selain hiburan, permainan tradisional juga dapat menjadi wadah untuk melestarikan budaya lokal.