Claim Missing Document
Check
Articles

Found 28 Documents
Search

VALUASI EKONOMI EKOWISATA HUTAN MERANTI DENGAN PENDEKATAN TRAVEL COST METHOD (TCM) DI DESA SEBELIMBINGAN KECAMATAN PULAU LAUT UTARA KABUPATEN KOTABARU Ayu Novita Sari; Rina Muhayah Noor Pitri; Khairun Nisa
Jurnal Sylva Scienteae Vol 6, No 1 (2023): Jurnal Sylva Scienteae Vol 6 No 1 Edisi Februari 2023
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jss.v6i1.8194

Abstract

Located in Sebelimbingan Village, North Laut Island District, Kotabaru Regency, Meranti Forest Ecotourism is the subject of this study. The aim of the study was to determine the cost of visiting the forest tourism site and analyze the surplus enjoyed by the site. The methods used in determining the results of the study were Multiple Linear Regression and Individual Travel Cost Method. The study showed that average costs for visitors are Rp 267,760,- per person, which includes round-trip transportation, entrance fees, food/drinks, and animal feed. The total economic value of Kotabaru Regencies Meranti Forest Ecotourism is Rp 807,244,513.92, - per year. With a consumer surplus of 323,415.27 rupiah per visit, the environment and the community both benefit from this large positive impactEkowisata Hutan Meranti terletak di Desa Sebelimbingan, Kecamatan Pulau Laut Utara, Kabupaten Kotabaru. Studi ini bertujuan untuk menganalisis besar biaya yang dibutuhkan untuk mengunjungi Ekowisata Hutan Meranti, serta menganalisis surplus konsumen yang dimiliki oleh Ekowisata Hutan Meranti. Metode yang dipakai dalam menganalisis hasil studi ini yaitu regresi linier berganda serta Individual Travel Cost Method. Berdasarkan hasil penelitian, biaya yang dikeluarkan oleh pengunjung rata-rata senilai Rp 267.760,- per individu yang mencakup biaya transportasi (pulang-pergi), tiket masuk, konsumsi, serta biaya pakan hewan. angka surplus konsumen yang didapatkan senilai Rp 323.415,27,- / individu/ kunjungan, dengan angka ekonomi Ekowisata Hutan Meranti senilai Rp 807.244.513,92,- / tahun. Hal ini berarti Ekowisata Hutan Meranti memberikan dampak positif bagi masyarakat serta lingkungan sekitar, karena Ekowisata Hutan Meranti Kabupaten Kotabaru memiliki angka total ekonomi yang cukup besar
ESTIMASI STOK KARBON PADA TUTUPAN LAHAN HUTAN, PEMUKIMAN DAN LAHAN TERBUKA DI DESA MANDIANGIN BARAT Elda Nastitie Hidayah; Adi Fithria; Rina Muhayah Noor Pitri
Jurnal Sylva Scienteae Vol 6, No 2 (2023): Jurnal Sylva Scienteae Vol 6 No 2 Edisi April 2023
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jss.v6i2.8504

Abstract

Change in natural conditions are caused by several things, one of which is the increase in amount of CO2 in atmosphere. The cause of increase in CO2 is due pollution so trees and forests begin to decrease in area. Plants are able to absorb carbon dioxide for the process of photosynthesis to reduce carbon dioxide from atmosphere. The way to reduce this impact is by planting plants and maintaining land use change. Vegetation absorbs CO2 is stored in plant body in the form of biomass in the plant body. Land cover is a field covers the earth's surface, the difference in land cover causes carbon stored will also be different. Purpose of this study was to analyze amount of carbon in forest land cover, settlements and open land in Mandiangin Barat Village and also to calculate the economic value of carbon stocks. Method used in this research is non destructive and destructive (for litter and undergrowth). Plots were made on each land cover measuring 20m x 100m. Results showed that the residential environment in Mandiangin Barat Village was very good because carbon stock (tons/ha) around the settlement was higher than forest land. The result of this research is that the carbon in forest land cover, settlements and open land in West Mandiangin Village amounted to 158,282,539 tons. Carbon in forest is 157,392.434 tons, residential land is 741,879 tons and open land is 148,226 tons. Overall economic value of carbon stocks on forest land, settlements and open land is IDR 11,447,428,478,224Perubahan kondisi alam disebabkan karena beberapa hal salah satunya yaitu karena meningkatnya jumlah CO2di atmosfer. Penyebab peningkatan CO2 disebabkan karena adanya polusi hingga pohon dan hutan yang mulai berkurang luasannya. Tumbuhan mampu menyerap karbondioksida untuk proses fotosintesis sehingga mampu mengurangi karbondioksida dari atmosfer. Cara untuk mengurangi dampak tersebut dengan melakukan penanaman tumbuhan dan mempertahankan perubahan alih fungsi lahan. Vegetasi yang menyerap CO2 disimpan dalam tubuh tanaman dalam bentuk biomassa dalam tubuh tumbuhan. Tutupan lahan merupakan suatu bidang yang menutupi permukaan bumi, perbedaan dari tutupan lahan menyebabkan karbon yang tersimpan juga akan berbeda. Tujuan dari penelitian ini adalah menganalisis besaran karbon di tutupan lahan hutan, pemukiman dan lahan terbuka di Desa Mandiangin Barat dan juga untuk menghitung nilai ekonomi cadangan karbon. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah non destructive dan destructive (untuk serasah dan tumbuhan bawah). Plot dibuat pada setiap tutupan lahan berukuran 20m  100m. Hasil penelitian menunjukan bahwa lingkungan pemukiman di Desa Mandiangin Barat sangat bagus karena karbon stok (ton/ha) yang ada disekitar pemukiman lebih tinggi dari lahan hutan. Hasil dari penelitian ini adalah karbon di tutupan lahan hutan, pemukiman dan lahan terbuka Desa Mandiangin Barat berjumlah 158.282,539 ton. Karbon di hutan sebesar 157.392,434 ton, lahan pemukiman sebesar 741,879 ton dan lahan terbuka sebesar 148,226 ton. Nilai ekonomi cadangan karbon keseluruhan pada lahan hutan, pemukiman dan lahan terbuka yaitu sebesar Rp 11.447.428.478,224
ANALISIS JENIS TANAMAN PEKARANGAN MASYARAKAT DESA PULAU BURUNG DI KAWASAN TAMAN WISATA ALAM Akhmad Asy’ari; Setia Budi Peran; Rina Muhayah Noor Pitri
Jurnal Sylva Scienteae Vol 6, No 3 (2023): Jurnal Sylva Scienteae Vol 6 No 3 Edisi Juni 2023
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jss.v6i3.8591

Abstract

The aims of this research are (1) to analyze the composition and dominance of garden plant species in Pulau Burung Village, a village located in a forest area that functions as a Nature Tourism Park; (2) identification of garden plants to strengthen the family economy of Pulau Burung Village.The method used in this study was the simple random sampling method, which carried out a random lottery based on the serial number of the house, namely the number of families in Pulau Burung Village, there were 103 families, so 25% of families in Pulau Burung Village would be taken. The results of this study indicate that the composition of plants in the yard of Pulau Burung Village consists of 43 species, 30 families and 415 individual plants, for the seedling level as many as 10 species with 167 individuals, sapling level 17 species with 119 individuals, pole level 13 species with 98 individuals and the tree level of 18 species with 147 individuals. The role of its utilization in strengthening the community's economy is quite good because there are people who can manage their yards for their own economic needs and can contribute wellTujuan dari penelitian ini adalah (1) menganalisis komposisi dan dominasi jenis-jenis tanaman pekarangan masyarakat Desa Pulau Burung yang merupakan sebuah desa yang berada di dalam kawasan hutan yang berfungsi sebagai Taman Wisata Alam; (2) identifikasi tanaman perkarangan untuk penguatan ekonomi keluarga Desa Pulau Burung. Metode yang dilakukan pada penelitian ini dengan cara metode simple random sampling, dimana melakukan undian acak berdasarkan nomor urut rumah yaitu jumlah KK di Desa Pulau Burung ada 103 KK jadi akan diambil 25% KK yang ada di Desa Pulau Burung. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa komposisi tanaman yang ada di pekarangan Desa Pulau Burung terdiri dari 43 jenis, 30 famili dan 415  individu tanaman, untuk tingkat semai sebanyak 10 jenis dengan 167 individu, tingkat pancang 17 jenis dengan 119 individu, tingkat tiang 13 jenis dengan 98 individu dan tingkat pohon 18 jenis dengan 147 individu. Peran pemanfaatan nya dalam penguatan ekonomi masyarakat cukup baik karena adanya msayarakat yang bisa mengelola pekarangannya untuk kebutuhan ekonomi sendiri dan bisa berkontribusi dengan baik
Sosialisasi Manfaat Sekat Kanal di Lahan Eks Pengembangan Lahan Gambut di Provinsi Kalimantan Tengah Wiwin Tyas Istikowati; Budi Sutiya; Kissinger Kissinger; Hafizianor Hafizianor; Rina Muhayah; Sunardi Sunardi
Abdimas Mandalika Vol 1, No 2 (2022): Februari
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/am.v1i2.7362

Abstract

Abstract:  The aims of this community service program is to socialize the canal blocking development program in Dadahup Sub District, Kapuas, Central Kalimantan. The program aims to restore the peat ecosystem to support food estate program. The method used by the community service team was to gather representatives of community member from seven villages in Dadahup sub district to discuss about canal blocking program. The socialization was carried out by the service community team using focus group discussion method with community in Dadahup sub-district. From that activity, the community welcome the plan and to be actively involved in canal blocking development activities in Central Kalimantan.Abstrak Program pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk mensosialisasikan rencana program pembangunan sekat kanal yang dilaksanakan di kecamatan Dadahup, Kabupaten Kapuas, Kalimantan Tengah untuk memulihkan ekosistem gambut untuk mendukung program food estate untuk ketahanan pangan nasional. Metode yang dilakukan oleh tim pengabdi adalah dengan mengumpulkan perwakilan warga masyarakat dari tujuh desa di kecamatan tersebut untuk berdiskusi dengan tim pengabdi terkait rencana yang akan diprogramkan, yaitu pembangunan sekat kanal di wilayah mereka. Sosialisasi dilakukan oleh tim pengabdi dengan metode focus group discussion (FGD) dengan masyarakat di kecamatan Dadahup. Dari diskusi terlihat masyarakat menyambut baik rencana tersebut dan ingin terlibat aktif dalam kegiatan pembangunan sekat kanal di Kalimantan Tengah.
Pemilihan Jenis Tanaman Prioritas dalam Kegiatan Rehabilitasi Kawasan Hidrologis Gambut Kissinger Kissinger; Gusti Muhammad Hatta; Violet Violet; Rina Muhayah Noor Pitri
Abdimas Mandalika Vol 3, No 1 (2023): Agustus
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/am.v3i1.13007

Abstract

Abstract:  The hydrological peatland area must be rehabilitated through various mechanisms, one of which is plant revegetation. The selection of priority plant species is a important factor in determining the success of peatland rehabilitation activities. This activity aims to increase understanding and skills for partners in determining priority plants for revegetation activities. The selected partner was the Pulantani Desa Peatland Caring Community Group in Haur Gading District, Hulu Sungai Utara Regency, South Kalimantan. The method used were through counseling, discussion and practice in the field. Evaluation were conducted on attitudes, understanding of the material and mastery of skills. The results of the service showed that the evaluation value of the participants' attitudes in the service activity is 80% (very good), understanding of the material is 90% (very good) and mastery of skills is 90% (very good). The revegetation land environment around the participants also helped to absorb the relatively high mastery of the material and skills offeredAbstrak: Kerusakan kawasan hidrologis gambut harus direhabilitasi dengan berbagai mekanisme, salah satunya adalah revegetasi tanaman. Pemilihan jenis tanaman prioritas menjadi salah satu faktor penting dalam menentukan keberhasilan kegiatan rehabilitasi gambut. Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman dan keterampilan bagi mitra dalam menentukan tanaman prioritas untuk kegiatan revegetasi. Mitra yang dipilih adalah Kelompok Masyarakat Perduli Gambut (KMPG) Desa Pulantani Kecamatan Haur Gading Kabupaten Hulu Sungai Utara Kalimantan Selatan. Metode yang digunakan adalah melalui kegiatan penyuluhan, urun rembug dan praktik di lapangan. Evaluasi dilakukan terhadap sikap, pemahaman terhadap materi dan penguasaan keterampilan. Hasil kegiatan pengabdian menunjukkan bahwa nilai evaluasi sikap peserta dalam kegiatan pengabdian adalah 80% (sangat baik), pemahaman terhadap materi adalah 90% (sangat baik) dan penguasaan keterampilan adalah 90% (sangat baik). Lingkungan lahan revegetasi yang berada di sekitar peserta juga membantu daya serap yang relatif tinggi terhadap penguasaan materi dan keterampilan yang ditawarkan.
KARAKTERISTIK INDIVIDU TIM KERJA PERLINDUNGAN DAN PENGELOLAAN EKOSISTEM GAMBUT (TK PPEG) DAN PEMETAAN USAHA MASYARAKAT DALAM UPAYA PEMULIHAN EKOSISTEM GAMBUT Muhammad Indera Wijaya; Rina Muhayah Noor Pitri; Syam'ani Syam'ani
Jurnal Sylva Scienteae Vol 6, No 6 (2023): Jurnal Sylva Scienteae Vol 6 No 6 Edisi Desember 2023
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jss.v6i6.11035

Abstract

Indonesia has peatlands of approximately 15.5 million-18.5 million ha on three major islands, namely the islands of Sumatra, Kalimantan and Papua. Kalimantan is an island with a distribution of 9.75 million ha of peatlands, where Tapin and Hulu Sungai Utara Regencies have scattered peatlands. Related to the peatlands being faced is the absence of individual TK-PPEG characteristics and spatial information that maps the distribution of peatland-based community businesses in supporting peat ecosystem restoration efforts. The aims of the research are: (1) To analyze the individual characteristics of TK-PPEG in peatland-based businesses in efforts to restore peatlands; and (2) Analyze the distribution of community efforts in efforts to restore the peat ecosystem. The research was carried out in four scattered villages, namely in Pabaungan Hulu Village, Sungai Rutas Village. Pawalutan Village and Pulau Damar Village. Location determination and informants were selected by purvosive sampling in which all informants were taken from TK-PPEG (Census) members who had peatland-based businesses and village facilitators (2 people/village). The results of the analysis of the TK-PPEG characteristic assessment were that the level of individual characteristics in Sungai Rutas Village was moderate (18.23), Pabaungan Hulu Village was high (19.4), Pawalutan Village was high (19.06), and Pulau Damar Village was moderate (17.41 ). The distribution of community businesses in efforts to restore peat ecosystems is Sungai Rutas Village (eel farming) with a low success rate, Pabaungan Hulu Village (healthy chicken farming) medium success rate, Pawalutan Village (goat farming) high success rate, and Pulau Damar Village success rate low in papuyu fish farming, celery, tomato and watermelon farming, while the success rate is moderate in chili farmingIndonesia memiliki lahan gambut kurang lebih 15,5 juta-18,5 juta ha yang ada di tiga pulau besar yaitu pulau Sumatera, Kalimantan serta Papua. Kalimantan sebagai pulau dengan sebaran lahan gambut 9,75 juta ha dimana, Kabupaten Tapin dan Hulu Sungai Utara memiliki lahan gambut tersebar. Terkait dengan lahan gambut yang dihadapi adalah belum adanya karakteritik individu TK-PPEG dan informasi spasial yang memetakan persebaran usaha masyarakat berbasis lahan gambut dalam mendukung kegiatan upaya pemulihan ekosistem gambut. Tujuan dari penelitian yaitu: (1) Menganalisis karakteristik individu TK-PPEG pada usaha berbasis lahan gambut dalam upaya pemulihan lahan gambut; dan (2) Menganalisis sebaran usaha masyarakat dalam upaya pemulihan ekosistem gambut. Pelaksanaan penelitian di empat desa yang tersebar yaitu di Desa Pabaungan Hulu, Desa Sungai Rutas. Desa Pawalutan dan Desa Pulau Damar. Penentuan lokasi dan informan dipilih secara purvosive sampling dimana informan diambil seluruh anggota TK-PPEG (Sensus) yang mempunyai usaha berbasis lahan gambut dan fasilitator desa (2 orang/desa). Hasil analisis penilaian karakteristik TK-PPEG yaitu tingkat karakteristik individu di Desa Sungai Rutas sedang (18,23), Desa Pabaungan Hulu tinggi (19,4), Desa Pawalutan tinggi (19,06), dan Desa Pulau Damar sedang (17,41). Sebaran usaha masyarakat dalam upaya pemulihan ekosistem gambut yaitu Desa Sungai Rutas (budidaya ikan belut) dengan tingkat keberhasilan rendah, Desa Pabaungan Hulu (peternakan ayam sehat) tingkat keberhasilan sedang, Desa Pawalutan (peternakan kambing) tingkat keberhasilan tinggi, dan Desa Pulau Damar tingkat keberhasilan rendah pada usaha peternakan ikan papuyu, kebun selidri, tomat dan semangka, sedangkan tingkat keberhasilan sedang pada usaha kebun cabe
MODAL SOSIAL MASYARAKAT DALAM PROGRAM DESA MANDIRI PEDULI GAMBUT DI PROVINSI KALIMANTAN SELATAN Muhammad Syahrul Fahriady; Rina Muhayah Noor Pitri; Muhammad Helmi
Jurnal Sylva Scienteae Vol 7, No 2 (2024): Jurnal Sylva Scientea Vol 7 No 2 Edisi April 2024
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jss.v7i2.8710

Abstract

Upaya dalam mengembalikan kondisi ekonomi gambut perlu dilakukan dengan berbagai kegiatan. Suatu upaya yang dilakukan dan dilegalisasi oleh Kepala Desa dalam pengorganisasian masyarakat merupakan Tim Kerja Perlindungan dan Pengelolaan Ekosistem Gambut (TK-PPEG). atau Lurah setempat agar lahan gambut dapat dimanfaatkan dan dikelola dengan baik. Tujuan dari penelitian ini yaitu menganalisis modal sosial TK-PPEG dalam upaya pemulihan ekosistem gambut. Penentuan lokasi dilakukan secara purposive sampling  dan penentuan sampel responden dilakukan dengan metode sampling jenuh atau sensus terhadap semua anggota TK-PPEG yang mempunyai usaha berbasis lahan gambut serta fasilitator dengan analisis data pendekatan kuantitatif dan dukungan kualitatif. Hasil dari penelitian merupakan Modal Sosial TK-PPEG yang berada di Desa pulau damar, Desa pewalutan,sungai rutas dan pebaungan hulu yang dapat diidentifikasi dari masyarakat adalah kepercayaan, jaringan, norma sosial, tindakan proaktif dan kepedulian masyarakat pada kategori sedang dan tinggi. Modal sosial masyarakat termasuk ke dalam kategori mudah untuk dikembangkan dilihat dari aspek modal sosial masyarakat.
STRATEGI PENGEMBANGAN EKOWISATA SWARGALOKA KECAMATAN HAUR GADING KABUPATEN HULU SUNGAI UTARA Reza Ayatullah Firdaus; Rina Muhayah Noor Pitri; Muhammad Helmi
Jurnal Sylva Scienteae Vol 7, No 4 (2024): Jurnal Sylva Scienteae Vol 7 No 4 Edisi Agustus 2024
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jss.v7i4.9269

Abstract

The village of Pulantani, along with the surrounding villages, has the potential for ecotourism that can boost the local economy. The issue faced by Swargaloka Ecotourism is the lack of visitors, despite its significant potential. The research aims to: 1) Identify the internal and external factors of Swargaloka Ecotourism in the Haur Gading District of North Hulu Sungai Regency; 2) Analyze priority strategies. The method used is purposive sampling, involving 15 respondents from Swargaloka Ecotourism, including managers, visitors, and the local community. The data will be analyzed using SWOT and AHP methods, conducted for three months. The findings of this research reveal six priority rankings as follows: 1) Preserving the natural environment of the Swargaloka Ecotourism area by enhancing security and patrols (0.363); 2) Collaborating between the government and the local community to improve or develop facilities and infrastructure (0.169); 3) Enhancing the production of Purun crafts and culinary offerings (0.154); 4) Intensifying promotion through print media and social media with digital marketing (0.146); 5) Creating tour packages (0.108); 6) Collaborating with Travel Agencies (0.060).Desa Pulantani bersama dengan desa-desa di sekitarnya memiliki potensi ekowisata yang dapat mengangkat perekonomian masyarakat. Permasalahan yang dialami dalam Ekowisata Swargaloka adalah kurangnya pengunjung, padahal ekowisata swargaloka mempunyai potensi yang sangat besar. Tujuan penelitian yaitu: 1) Mengidentifikasi faktor internal dan eksternal ekowisata Swargaloka Kecamatan Haur Gading Kabupaten Hulu Sungai Utara; 2) Menganalisis strategi prioritas. Metode yang digunakan yaitu purposive sampling terhadap 15 responden dari Ekowisata Swargaloka, pengelola, pengunjung, dan masyarakat yang akan dianalisis menggunakan SWOT dan AHP dan dilakukan selama 3 bulan. Hasil yang diperoleh dari penelitian ini yaitu terdapat 6 urutan prioritas sebagai berikut, Menjaga kealamian lingkungan alam pada kawasan Ekowisata Swargaloka dengan cara meningkatkan keamanan dan patrol (0,363), Pemerintah dan masyarakat sekitar melakukan kerjasama untuk meningkatkan atau membangun sarana dan prasarana (0,169), Meningkatkan produksi kerajinan purun dan kuliner (0,154), Mempergiat promosi melalui media cetak dan media sosial dengan digital maketing (0,146), Membuat paket tour wisata (0,108), Melakukan kerjasama dengan Biro Perjalanan Wisata (BPW) (0,060).