Claim Missing Document
Check
Articles

Found 15 Documents
Search

Pengembangan Proyek Pemrograman Medıa Pembelajaran Interaktıf Untuk Tugas Pemecahan Masalah Pelatihan Berpıkır Komputasıonal Mahasiswa Dengan Scratch Erwinsyah Satria; Udin Syaefudin Sa’ud; Cepi Riyana; Wahyu Sopandi; Nur Rahmiani
Jurnal Elementaria Edukasia Vol. 7 No. 1 (2024): Maret
Publisher : Elementary Teacher Education Program, Majalengka University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31949/jee.v7i1.8728

Abstract

Media is needed in learning to attract and make it easier for students to understand the material being taught. Interactive learning media for computational thinking material through Scratch programming as an example of a block-based programming project assignment by applying computational thinking concepts for PGSD student training has not been researched in Indonesia. The research carried out aims to develop an example of a final programming project for interactive media learning computational thinking for PGSD student programming training as a valid and practical problem solving task using the Scratch program as well as the level of competency of the programming project being created. The research carried out is of the research and development type using the ADDIE model. The research participants were 40 students from a private university in West Sumatra. Data was collected using observation, interview, artifact analysis, and questionnaire techniques. The research instrument was a questionnaire with a Likert scale filled in by material, media and research subject experts. Analysis of research data was carried out in a qualitative descriptive manner. From the development research carried out, it was found that the final project example of interactive media programming for computational thinking learning which was developed for PGSD students' computational thinking training as a problem solving task received a very good score with a score of 85.5% from the validation of material experts, media and students, 85. 2% for product practicality, and makes it easier for students to created the program because the difficulty is at intermediate level.
Evaluasi program public speaking dalam implementasi Kurikulum Bahasa Inggris Fegy Lestari; Laksmi Dewi; Rusman Rusman; Cepi Riyana
DWIJA CENDEKIA: Jurnal Riset Pedagogik Vol 8, No 2 (2024): September 2024
Publisher : Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/jdc.v8i2.90683

Abstract

Pembelajar bahasa asing umumnya mengalami kesulitan dalam mengungkapkan pemikirannya menggunakan bahasa Inggris. Tujuan dari penelitian ini untuk mengkarakterisasi elemen konteks, input, proses, dan produk pada kurikulum pembelajaran bahasa Inggris yang mampu meningkatkan kemampuan public speaking. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriprif. Partisipan pada penelitian ini melibatkan pimpinan lembaga fakultas dan prodi, dosen, mahasiswa, dan staf akademik di Univeristas Pasundan Tahun Ajaran 2023-2024 semester ganjil. Data penelitian ini diperoleh melalui observasi dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa evaluasi program public speaking berdasarkan: (1) aspek konteks, poin tujuan pendidikan tinggi dan tujuan kompetensi lulusan sebagai tolak ukur menganalisa evaluasi konteks yang sesuai dengan misi dan tujuan fakultas dan universitas; (2) aspek input terdapat lima indicator dan empat regulasi yang telah sesuai dengan data dari fakultas dan universitas; (3) aspek proses, startegi data yang tersedia sesuai dengan tolak ukur; dan (4) aspek produk, menghasilkan kerangka dan model kerja implementasi kurikulum bahasa Inggris bagi mahasiswa untuk meningkatkan kemampuan public speaking. Kurikulum bahasa Inggris di FKIP UNPAS mampu mewujudkan alumni yang berkompeten untuk bersaing mendapatkan kesempatan kerja sampai tingkat internasional. Evaluation of the public speaking program in the implementation of the English Curriculum Abstract Foreign language learners generally experience difficulties in expressing their thoughts using English. The purpose of this study is to characterize the context, input, process, and product elements of the English language learning curriculum that can improve public speaking skills. This study used a descriptive qualitative method. The participants in this study involved institutional leaders of faculties and study programs, lecturers, students, and academic staff at Pasundan University in the academic year 2023-2024 odd semester. The data were obtained through observation and documentation. The results showed that the evaluation of the public speaking program based on: (1) context aspects, points of higher education goals, and graduate competency objectives as benchmarks analyzing context evaluation in accordance with the mission and objectives of the faculty and university; (2) input aspects, there are five indicators and four regulations that are in accordance with data from faculties and universities; (3) process aspects, available data strategies in accordance with benchmarks; and (4) product aspects, producing a framework and working model for implementing the English curriculum for students to improve public speaking skills. The English curriculum at FKIP UNPAS is able to realize competent alumni to compete for job opportunities at the international level.
Needs analysis on digital learning objects for university students Nadia Hanoum; Ahmad Fajar Fadlillah; Dadang Sukirman; Cepi Riyana
Inovasi Kurikulum Vol 21, No 2 (2024): Inovasi Kurikulum, May 2024
Publisher : Himpunan Pengembang Kurikulum Indonesia (HIPKIN)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jik.v21i2.62688

Abstract

Using Digital Learning Objects as learning resources is essential in blended learning. However, the availability is still limited, so there is a need to design and develop digital learning objects to help students meet learning objectives. This study identifies and analyzes students’ needs for Digital Learning Objects relevant to the course's characteristics. This study employs the descriptive survey method to provide a quantitative description of students’ preferences for different Digital Learning Objects. The data for this study was collected using a questionnaire distributed to 54 students as the sample. The results revealed that the Digital Learning Objects needed for the Audio Media course consisted of digital module (87 percent), video (79,6 percent), and animation (74,1 percent). As for the learning method, practicum (98 percent) and team-based project (81 percent) were preferable to discussion or presentation. It was also found that the digital module was more compatible with the majority of the materials covered in the course. Thus, developing Digital Learning Objects will include digital modules, instructional videos, and animation, which are expected to support students in a blended learning environment effectively. AbstrakPemanfaatan Objek Pembelajaran Digital sebagai sumber belajar merupakan hal yang penting dalam blended learning, namun ketersediaannya masih terbatas oleh karena itu perlu dirancang dan dikembangkan Objek Pembelajaran Digital yang dapat memudahkan siswa dalam mencapai tujuan pembelajaran. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan menganalisis kebutuhan mahasiswa terhadap Objek Pembelajaran Digital yang relevan dengan karakteristik mata kuliah yang diambilnya. Penelitian ini menggunakan metode survei deskriptif karena perlu memberikan gambaran kuantitatif tentang preferensi mahasiswa terhadap berbagai jenis Objek Pembelajaran Digital. Data penelitian ini dikumpulkan dengan menggunakan kuesioner yang dibagikan kepada 54 mahasiswa sebagai sampel. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Objek Pembelajaran Digital yang dibutuhkan pada mata kuliah Media Audio terdiri dari modul digital (87 persen), video (79,6 persen), dan animasi (74,1 persen). Sedangkan untuk metode pembelajaran, praktikum (98 persen) dan proyek berbasis tim (81 persen) lebih diutamakan dibandingkan diskusi atau presentasi. Ditemukan juga bahwa modul digital lebih kompatibel dengan sebagian besar materi yang dibahas dalam kursus. Oleh karena itu, pengembangan Objek Pembelajaran Digital akan mencakup modul digital, video instruksional, dan animasi, yang diharapkan dapat secara efektif mendukung mahasiswa dalam lingkungan pembelajaran terpadu.Kata Kunci: blended learning; kursus media audio; objek pembelajaran digital
Penerapan Metode Demonstrasi dan Diskusi untuk Meningkatkan Hasil Belajar Menulis Surat Resmi pada Siswa Sekolah Dasar Bayu Hidayat Adrian; Mubiar Agustin; Cepi Riyana
Didaktika: Jurnal Kependidikan Vol. 13 No. 4 Nopember (2024): Didaktika Jurnal Kependidikan
Publisher : South Sulawesi Education Development (SSED)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58230/27454312.1222

Abstract

Menulis surat resmi menjadi salah satu kompetensi yang diharapkan dapat dikuasai oleh siswa. Hasil observasi menunjukkan banyak siswa yang mengalami kesulitan dalam memahami struktur surat resmi dan penggunaan bahasa formal yang tepat masih menjadi tantangan bagi siswa kelas VI di SDN Parakan 01 Bogor. Untuk mengatasi permasalahan ini, diperlukan penerapan metode pembelajaran yang lebih interaktif dan partisipatif. Salah satu kombinasi metode yang potensial untuk meningkatkan keterampilan menulis siswa adalah metode demonstrasi dan diskusi. Penelitian ini menggunakan metode penelitian tindakan kelas (PTK) dengan model Kemmis dan McTaggart yang terdiri dari empat tahapan, yaitu perencanaan, tindakan, observasi, dan refleksi. Pada tahap prasiklus, kemampuan menulis surat resmi siswa di kelas VI SDN Parakan 01 Bogor masih tergolong rendah. Nilai rata-rata kelas hanya mencapai 52, sebanyak 26 orang siswa atau sekitar 86,66% memperoleh nilai di bawah KKM. Pada Siklus I, setelah penerapan metode demonstrasi dan diskusi, terdapat peningkatan dalam kemampuan menulis surat resmi siswa. Nilai rata-rata kelas meningkat menjadi 58. Pada Siklus II, setelah dilakukan perbaikan dalam penerapan metode, kemampuan menulis surat resmi siswa mengalami peningkatan, dimana nilai rata-rata kelas naik menjadi 83. Penelitian ini menunjukkan bahwa penerapan metode demonstrasi dan diskusi secara efektif meningkatkan kemampuan menulis surat resmi siswa di kelas VI SDN Parakan 01 Bogor. Penelitian ini juga menunjukkan bahwa peningkatan kemampuan menulis surat resmi tidak hanya bergantung pada pemahaman struktur dan format surat, tetapi juga pada kemampuan siswa dalam menggunakan bahasa formal yang sesuai.
Development of Cultural Literacy Based Learning Design with Successive Approximation Model Nadia Putri Kharismawati; Cepi Riyana
Jurnal Kependidikan: Jurnal Hasil Penelitian dan Kajian Kepustakaan di Bidang Pendidikan, Pengajaran dan Pembelajaran Vol 11, No 2 (2025): June
Publisher : Universitas Pendidikan Mandalika (UNDIKMA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33394/jk.v11i2.15008

Abstract

This study aims to develop a culture-based learning design by applying the Successive Approximation Model (SAM) as an iterative approach that can create an inclusive and adaptive learning experience according to the cultural context of the learners. The SAM model was chosen for its ability to facilitate the flexible development of teaching materials through continuous cycles of evaluation and revision, ensuring the content's relevance to local cultural values, such as traditional wisdom, arts, and social practices closely tied to students' lives. The research method used was a mixed-methods approach, involving arts and culture teachers in Sumedang Regency as the primary respondents. Data was collected through closed questionnaires, and interviews. This study analyzes quantitative data from questionnaires using descriptive statistics, and qualitative data from interviews, observations, and documentation through the stages of data reduction, presentation, and conclusion drawing. The results showed that the application of the SAM model could enhance students' understanding of both local and other cultures, while also developing their awareness of the importance of cultural diversity. The iterative process in SAM allows for the development of more flexible and responsive teaching materials that meet students' needs, thus creating more meaningful learning experiences. This study contributes to the design of culture-based learning that is more relevant to the social and cultural developments in the global society.