Claim Missing Document
Check
Articles

Found 6 Documents
Search
Journal : e-CliniC

Hubungan panjang telapak kaki dengan tinggi badan untuk identifikasi forensik Tomuka, Jinov; Siwu, James; Mallo, Johannis F.
e-CliniC Vol 4, No 1 (2016): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v4i1.12109

Abstract

Abstract: Forensic identification is a method to provide assistance for investigators in personal identification which is very important in court. Forensic anthropology is a branch of physical anthropology that assists medical forensic practice by focusing on individual biological profile asessment and reconstruction by using anthropometry. Body height is a parameter of human growth and health. In forensic anthropology, height is also a main biological profile in identification. Foot length can be used to determine body height since there is a correlation between these two biological profiles. This study aimed to obtain the relationship between foot length and body height. This was a quantitative analytical study. Subjects were students of batch 2012 of Faculty of Medicine, University of Sam Ratulangi Manado, aged >21 years. The results showed that there was a positive correlation (r= 0.539) with a probablity value of 0.000. Conclusion: There was a significant positive correlation between foot length and height. Keywords: forensic identification, forensic anthropology, anthropometry Abstrak: Identifikasi forensik merupakan upaya yang bertujuan membantu penyidik dalam menentukan identitas seseorang yang sangat penting dalam peradilan. Sebagai salah satu cabang antropologi khususnya antropologi ragawi, peran antropologi forensik didasarkan pada kemampuan pemeriksaan antropologis untuk menilai dan merekonstruksi gambaran biologis individu manusia; salah satu cara identifikasi ialah dengan antropometri. Tinggi badan merupakan suatu parameter dari pertumbuhan dan kesehatan manusia. Tinggi badan juga merupakan salah satu ciri utama untuk proses indentifikasi. Bagian tubuh yang dapat menunjang pengukuran tinggi badan yaitu panjang telapak kaki karena tinggi badan dan panjang telapak kaki mempunyai hubungan yang berbanding lurus. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara panjang telapak kaki dan tinggi badan. Jenis penelitian ini kuantitatif analitik. Subyek penelitian ialah mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi Manado angkatan 2012 yang berusia >21 tahun. Penelitian ini dilakukan di Manado pada bulan Oktober-Desember 2015. Hasil penelitian mendapatkan korelasi positif antara kedua variabel dengan nilai koefisien r = 0,539 yang menunjukkan bahwa kedua variabel berhubungan positif. Terdapat hubungan bermakna antar kedua variabel penelitian dengan nilai P = 0,000. Simpulan: Terdapat hubungan positif bermakna antara panjang telapak kaki dan tingggi badan.Kata kunci: identifikasi forensik, antropologi forensik, antropometri
TEMUAN OTOPSI PADA KEMATIAN MENDADAK AKIBAT PENYAKIT JANTUNG DI BLU RSU PROF. DR. R.D. KANDOU MANADO PERIODE 2007-2011 Rorora, Jessyca Destiana; Tomuka, Djemi; Siwu, James
e-CliniC Vol 2, No 3 (2014): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v2i3.6037

Abstract

Abstract: Every sudden death has to be treated as an uncommon death before it can be proved scientifically that there is no evidence supporting the case. Heart disease is the most common cause of sudden death. This research is aimed to know how autopsy findings of sudden death cause by heart disease in BLU RSU Prof Dr. R.D. Kandou Manado period 2007-2011. Research design is descriptive observational using secondary data. Between 2007 to 2011 period, there is a total of 873 cases that come in to forensic department of BLU RSU Prof. Dr. R.D. Kandou. From all those cases, of which there are 62 cases discovery of bodies then proved by autopsy with the result that 10 of them is a sudden death caused by heart disease, with the most caused by coronary artery disease (50%) followed by miocard lesion disease (40%). Further research needs to be done to determine which heart disease the most is found to be the death cause in forensic department of BLU RSU Prof. Dr. R.D. Kandou more clearly. Keywords: autopsy, heart disease, sudden death.   Abstrak: Setiap kematian mendadak harus diperlakukan sebagai kematian yang tidak wajar, sebelum dapat dibuktikan secara ilmiah bahwa tidak ada bukti-bukti yang mendukungnya. Penyakit jantung merupakan penyakit yang paling sering menyebabkan kematian. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana temuan otopsi pada kasus kematian mendadak akibat penyakit jantung di BLU RSU Prof. Dr. R.D. Kandou Manado periode 2007-2011. Desain penelitian ini adalah deskriptif observasional menggunakan data sekunder yang telah ada. Selama periode 2007 sampai dengan 2011, total jumlah kasus forensik yang masuk di bagian ilmu kedokteran Forensik BLU RSU Prof. dr. R.D. Kandou Manado berjumlah total 873 kasus. Dari sejumlah kasus tersebut, diantaranya terdapat 62 kasus penemuan mayat yang kemudian dibuktikan dengan otopsi sehingga didapatkan 10 mayat yang telah terbukti merupakan kasus kematian mendadak akibat penyakit jantung dengan penyebab terbanyak adalah penyakit arteri koroner (50%) diikuti dengan penyakit lesi miokard (40%). Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut agar dapat lebih menggambarkan penyakit jantung penyebab kematian terbanyak di bagian Ilmu Forensik BLU RSU Prof. Dr. R.D. Kandou Manado dengan jelas. Kata kunci: kematian mendadak, penyakit jantung, otopsi.
Hubungan antara usia dengan kejadian kematian mendadak di RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado periode Mei 2015 – April 2016 Supit, Gilbert; Tomuka, Djemi; Siwu, James
e-CliniC Vol 4, No 2 (2016): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v4i2.14350

Abstract

Abstract: Sudden death could occur in any age even among people that look healthy. This study was aimed to determine the relationship between age and the incidence of sudden death. Total samples were 602 cases of sudden deaths consisted of 373 males and 229 females. The age ranges were 0-1 years (17 cases), 1-6 years (7 cases), 6-13 years (10 cases), 13-21 years (33 cases), 21-40 years (110 cases), 40-60 years (221 cases), and >60 years (204 cases). Data analysis showed an abnormal distribution and was continued with the Spearman correlation test (p=0.014). Conclusion: There was a relationship between age and the occurence of sudden deaths. Sudden deaths were most common among males and age range 40-60 years.Keywords: age, sudden death. Abstrak: Kematian mendadak dapat terjadi pada rentang usia yang tidak terduga bahkan pada orang yang tampak sehat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara usia dengan kejadian kematian mendadak di RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado. Sampel diperoleh dengan metode total sampling. Hasil penelitian mendapatkan 602 kasus kematian mendadak dengan 373 laki-laki dan 229 perempuan. Pada rentang usia 0-1 tahun berjumlah 17 kasus, usia 1-6 tahun berjumlah 7 kasus, usia 6-13 tahun berjumlah 10 kasus, usia 13-21 tahun berjumlah 33 kasus, usia 21-40 tahun berjumlah 110 kasus, usia 40-60 tahun 221 kasus, dan usia >60 tahun berjumlah 204 kasus. Analisis data mendapatkan data tidak terdistribusi normal dan dilanjutkan dengan uji korelasi Spearman (p=0,014). Simpulan: Terdapat hubungan bermakna antara usia dan kejadian kematian mendadak. Kematian mendadak tersering ditemukan pada jenis kelamin laki-laki dan kejadian tertinggi berada pada rentang usia 40-60 tahun. Kata kunci: usia, kematian mendadak.
EFEKTIFITAS EKSHUMASI DALAM MEMPERKIRAKAN SAAT MATI DI BAGIAN ILMU FORENSIK DAN MEDIKOLEGAL FK UNSRAT BLU RSUP PROF. DR. R. D. KANDOU Kojo, Nancy; Siwu, James; Mallo, Johannis F.
e-CliniC Vol 3, No 2 (2015): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.3.2.2015.8435

Abstract

Abstract: Determination of time of death is very important in criminal or civil cases. Exhumation is demolition of grave or autopsy which is conducted for justice by the authorities and stakeholders and the corpse is subsequently examined by a forensic expert. It is expected that there will be some clues to reveal the time and cause of death. This study aimed to determine the effectiveness of exhumation by using the time span ratio of deaths according to the autopsy report and deaths according to the results of the examination after exhumation. This was a retrospective descriptive study with a cross-sectional design using secondary data in the Forensic Medicine and Medicolegal Department, Prof Dr. R. D. Kandou Hospital Manado. There were 13 cases of exhumation from October untul December 2014, with a percentage of 46% effective and ineffective 54%. From the 7 ineffective cases, 3 cases with undetermined time of death because they were preserved. Four cases had the comparison between the letter of request and the results of the examination. The other 6 cases had accuracy of effective. Conclusion: Exhumation cases became ineffective due to the lack of cases found and preservation of the corpses.Keywords: time of death, exhumationAbstrak: Menentukan saat kematian penting dilakukan baik pada kasus kriminal atau sipil. Ekshumasi adalah penggalian mayat atau pembongkaran kubur yang dilakukan demi keadilan oleh yang berwenang dan berkepentingan dimana selanjutnya mayat tersebut diperiksa secara ilmu kedokteran forensik. Dari hasil ekshumasi dapat dilihat temuan pemeriksaan pada mayat yang dapat menentukan atau memperkirakan lama kematian dan penyebab kematian. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan efektif atau tidaknya ekshumasi dilihat dari perbandingan rentang waktu lama kematian menurut permintaan visum dan lama kematian menurut hasil pemeriksaan setelah ekshumasi. Penelitian ini bersifat deskriptif retrospektif dengan pendekatan potong lintang. Data sekunder diperoleh di Bagian Forensik dan Medikolegal FK Unsrat RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado bulan Oktober ? Desember 2014. Kasus ekshumasi yang didapat sejumlah 13 kasus: 46% efektif dan 54% tidak efektif. Dari 7 kasus yang tidak efektif, 3 kasus tidak dapat ditentukan lama kematian menurut hasil pemeriksaan karena telah diawetkan terlebih dahulu dan 4 kasus mempunyai perbandingan hari antara surat permintaan dan hasil pemeriksaan. Enam kasus lainnya mempunyai ketepatan atau efektif. Simpulan: Pada penelitian ini, sebagian kasus ekshumasi tidak efektif karena minimnya kasus yang ditemukan dan sebagian kasus sudah dilakukan pengawetan.Kata kunci: saat kematian, ekshumasi
POLA KEKERASAN PADA KORBAN KEJAHATAN SEKSUAL YANG MENINGGAL DAN DI PERIKSA DI RSUP PROF. DR. R . D. KANDOU MANADO Pongoh, Angelique; Mallo, Johannis; Siwu, James
e-CliniC Vol 1, No 2 (2013): Jurnal e-CliniC
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v1i2.3298

Abstract

Abstracts: Violence act or behavior is a condition in which individual does or attack another or environment. The violence with sexual harassment includes: flirt, rouge whistling, comment connoting sex, porn humor, pinch, poke, pat or touch on certain body parts, certain movements or sexual signals, dating invitation with threats, and sexual solicitation to sexual rape. In the examination of dead victims of sexual crimes it is often found that the violence occured on the victim's body. This research aims to help doctors and medical staff to be able to know the pattern of violence on the dead victims caused by sexual crimes and to perform the Visum Et Repertum on each victim properly, and also to help the investigators to establish the severity of the punishment on the perpetrators of sexual crimes in Manado. The research design is a cross sectional description taking secondary data from medical records at BLU SMF Prof.Dr. R. D Kandou hosptal, Manado. The pattern of violence found in this research shows that in fact the area of body that often happens crimes causing by sexual violence is at the head and neck parts (42.1%) and extremities (38.1%). Keyword: Sexual harassment, victim, violence   Abstrak: Tindakan kekerasan atau perilaku kekerasan adalah suatu keadaan dimana individu melakukan atau menyerang orang lain atau lingkungan. Adapun kekerasan dengan pelecehan seksual, meliputi: main mata, siulan nakal, komentar yang berkonotasi seks, humor porno, cubitan, colekan, tepukan atau sentuhan di bagian tubuh tertentu, gerakan tertentu atau isyarat yang bersifat seksual, ajakan berkencan dengan ancaman, ajakan melakukan hubungan seksual sampai perkosaan. Dalam pemeriksaan korban mati dengan kejahatan seksual sering didapati kekerasan – kekerasan yang terjadi di tubuh korban. Penelitian ini bertujuan untuk membantu para dokter dan tenaga medis agar dapat mengetahui pola kekerasan pada korban mati karena kejahatan seksual dan agar setiap dokter dapat melaksanakan Visum Et Repertum pada setiap korban dengan baik dan benar, serta dapat membantu para penyidik untuk menegakkan berat ringannya hukuman pada pelaku kejahatan seksual di Manado.Desain penelitian ini bersifat deskriptif cross sectional mengambil data sekunder dari rekam medis di SMF BLU RSUD Prof.Dr. R. D Kandou Manado. Pola kekerasan yang didapati pada penelitian ini menunjukan bahwa ternyata daerah pada tubuh yang sering terjadi kekerasan karena kejahatan seksual ialah pada daerah kepala dan leher (42,1%), dan ekstrimitas (38,1%).Kata Kunci: Pelecehan seksual, korban, kekerasan
HASIL VISUM ET REPERTUM KORBAN PERKOSAAN DI RS.BHAYANGKARA MANADO TAHUN 2012 Pemasela, Irianti; Siwu, James; Tomuka, Djemi
e-CliniC Vol 3, No 3 (2015): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.3.3.2015.10154

Abstract

Abstract: Visum et repertum is a description made by a doctor at the request of official investigator about the results of medical examination on human, whether alive or dead, or which suspected as part of human's body, based on medical sciences and under the oath for the sake of judiciary. The increasing of rape cases are related to the socio-cultural aspect. The culture is increasingly open, the way woman's dress also more tempting than before, and sometimes with variety of expensive jewelry, the habit to traveling alone are dominant factors that affect the high frequency of rape cases. This study aimed to find out the results of visum et repertum on rape victims in 2012 at Bhayangkara Manado Hospital. The study design used is descriptive using secondary data from rape victims at Bhayangkara Manado Hospital. The results of this study from 100 samples is 28 people was pregnant and 72 people was not pregnant, obtained from distribution of visum are 60 people does not take the visum results, obtained from distribution by age mostly from age 15 are 16 people, obtained from distribution based on resort is Polresta Manado, obtained from distribution based on signs of violence that proved the existence of copulation are only 1 people. This study proves that the results of Visum et Repertum can be found in existence of sexual violence to victims.Keywords: visum et repertum , rape victimsAbstrak: Visum et repertum adalah keterangan yang di buat oleh dokter atas permintaan penyidik yang wenang mengenai hasil pemeriksaan medik terhadap manusia, baik hidup atau mati ataupun bagian atau diduga bagian dari tubuh manusia, berdasarkan keilmuannya dan di bawah sumpah, untuk kepentingan peradilan. Meningkatnya kasus perkosaan yang terkait pula dengan aspek sosial budaya. Budaya semakin terbuka, pergaulan yang semakin bebas, cara berpakaian perempuan yang semakin merangsang, dan kadang-kadang dengan berbagai perhiasan mahal, kebiasaan bepergian jauh sendiri, adalah faktor-faktor dominan yang juga mempengaruhi tingginya frekuensi kasus perkosaan. Tujuan penelitian untuk mengetahui hasil visum et repertum korban perkosaan tahun 2012 di RS. Bhayangkara Manado. Desain penelitian yang digunakan adalah deskriptif dengan menggunakan data sekunder korban perkosaan di RS. Bhayangkara Manado. Hasil penelitian yang di dapat dari 100 sampel yang didapatkan 28 orang yang hamil dan 72 orang tidak hamil, dari distribusi visum didapatkan ada 60 orang yang tidak mengambil hasil visum, dari distribusi umur didapatkan yang terbanyak pada umur 15 tahun yaitu 16 orang, dari distribusi resor terbanyak polresta manado, dari distribusi tanda kekerasan yang terbukti adanya persetubuhan 1 orang. Penelitian ini membuktikan bahwa hasil visum et repertum bisa ditemukan adanya kekerasan seksual yang di alami korban.Kata kunci: visum et repertum, korban perkosaan