Claim Missing Document
Check
Articles

Found 11 Documents
Search
Journal : e-CliniC

Keragaman Kasus Forensik Klinik di RS Bhayangkara Tingkat III Manado dari Sudut Pandang SKDI 2012 Periode Juli 2015-Juni 2016 Lumente, Magdalya A.; Kristanto, Erwin G.; Siwu, James F.
e-CliniC Vol 5, No 1 (2017): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v5i1.14780

Abstract

Abstract: Forensic clinic is a part of medical forensics which includes examination of living victim. The knowledge and skill of a doctor are needed in case of assisting the investigators and public prosecutors in proving of a criminal act. General practitioners are required to mastering all competence levels based on the National Standard Competency of Indonesian Medical Doctors 2012 (SKDI 2012). This study was aimed to obtain all kinds of forensics clinic cases at Bhayangkara Level III Hospital Manado from July 2015 to June 2016. This was a descriprive retrospective study using data obtained from the police inquest papers, visum et repertum, and medical records. The results showed that there were 38% of cases, that fulfilled the Standard Competence of General Practitioner. Conclusion: In this study, the majority of cases were blunt violent cases. It is suggested that Bhayangkara Level III Hospital Manado become a partnership of hospital education for future doctors.Keywords: forensic clinic, doctor competence, SKDI 2012 Abstrak: Forensik klinik adalah bagian dari ilmu kedokteran forensik yang mencakup pemeriksaan pada korban hidup. Ilmu pengetahuan dan keterampilan seorang dokter dibutuhkan dalam membantu tugas penyidik dan penuntut umum dalam pembuktian tindak pidana. Dokter umum diwajibkan menguasai semua tingkat kompetensi yang ada di dalam buku Standar Kompetesi Dokter Indonesia 2012. Penelitian ini merujuk pada RS Bhayangkara Tingkat III Manado dengan tujuan untuk mengetahui keragaman kasus Forensik Klinik di RS Bhayangkara Tingkat III Manado periode Juli 2015-Juni 2016. Jenis penelitian ialah deskriptif retrospektif. Sumber data penelitian didapatkan dari surat permintaan visum, visum et repertum, dan rekam medis. Hasil penelitian mendapatkan 38% kasus yang mencukupi standar kompetensi dokter umum. Simpulan: Majoritas kasus dalam studi ini ialah kekerasan tumpul. Disarankan RS Bhayangkara Tingkat III Manado dipertimbangkan sebagai kepaniteraan rumah sakit pendidikan bagi dokter muda.Kata kunci: forensik klinik, kompetensi dokter, SKDI 2012
PREVALENSI VISUM ET REPERTUM ORANG HIDUP PADA KECELAKAAN LALU LINTAS DI INSTALASI GAWAT DARURAT BLU RSUP PROF. DR. R. D.KANDOU MANADO PERIODE TAHUN 2013 Sondakh, Septyano; Siwu, James F.; Mallo, Johannis F.
e-CliniC Vol 3, No 1 (2015): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.3.1.2015.7824

Abstract

Abstract: In Prof. Dr. R. D. Kandou Hospital, the incidence of clinical forensic cases of living people mainly caused by traffic accidents increases sharply along with the increasing number of visum et repertum (VeR) requests. This study aimed to determine the prevalence VeR of living people with traffic accidents during 2013. Secondary data were obtained from January to December 2013 at the the emergency unit of Prof. Dr. R. D. Kandou Hospital. This was a descriptive and retrospective study. Data contained the characteristics of patients, including: sex, age, and cause of the accident. The result showed that during the year 2013 the prevalence of living people VeR caused by traffic accidents was the highest in April (11.57%), dominated by males (80.55%), the age group of 15 -24 years old (37.79%), with the cause of accident injured driver due traffic accident (60.54%).Keywords: prevalence, living people VeR, traffic accidentAbstrak: Di Badan Layanan Umum (BLU) Rumah sakit Prof. Dr. R. D. Kandou Bagian Instalasi Gawat Darurat (IGD), angka kejadian kasus forensik klinik (Orang hidup) terutama yang disebabkan oleh kecelakaan lalu lintas (KLL) meningkat tajam seiring dengan semakin banyaknya permintaan visum et repertum (VeR). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui angka prevalensi VeR orang hidup yang disebabkan oleh KLL selama tahun 2013 melalui data sekunder di IGD BLU RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou, yang dilihat dari karakteristik jenis kelamin, umur, dan jenis penyebab kecelakaan. Penelitian ini bersifat retrospektif deskriptif. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa selama tahun 2013 mulai bulan Januari sampai Desember angka prevalensi VeR orang hidup yang disebabkan oleh KLL tertinggi pada bulan April (11,57%) yang didominasi oleh laki-laki (80,55%) dengan umur terbanyak pada interval 15-24 tahun (37,79%) dengan jenis penyebab kecelakaan terbanyak ditemukan driver injured in traffic accident (60,54%).Kata kunci: prevalensi, visum et repertum orang hidup, KLL
Identifikasi tinggi badan melalui pengukuran panjang lengan bawah Korah, Tychara; Siwu, James F.; Mallo, Johannis F.
e-CliniC Vol 4, No 1 (2016): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v4i1.12114

Abstract

Abstract: Forensic identification is the effort aimed to determine a person's identity post mortem. Height is needed in the identification process. There are formulas that that can be used in determining the height by measuring the length of certain bones. This study aimed to determine whether there was a significant relationship between height and length of forearm which is still wrapped by muscles and skin. This was a quantitative analytical study. Respondents were 50 alive individuals consisted of males and females who lived in Manado. The Pearson Correlation test showed a significant relationship between height and length of the forearm with a value of r=0.897. The more the length of the forearm, the more the height. Keywords: height, forearm length Abstrak: Identifikasi forensik merupakan upaya yang dilakukan dengan tujuan membantu penyidik menentukan identitas seseorang untuk kepentingan visum et repertum (VeR). Tinggi badan merupakan salah satu hal yang dibutuhkan dalam proses identifikasi. Terdapat formula/rumus yang dikemukakan beberapa ahli untuk menentukan tinggi badan melalui pengukuran panjang beberapa tulang tertentu. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui ada tidaknya hubungan yang bermakna antara tinggi badan dengan panjang lengan bawah yang masih terbungkus oleh jaringan otot dan kulit dalam keadaan utuh. jenis penelitian ini kuantitatif analitik yang dilakukan terhadap laki-laki dan perempuan yang masih hidup khususnya yang ada di Manado. Jumlah keseluruhan responden sebanyak 50 orang. Hasil uji Pearson correlation memperlihatkan adanya hubungan bermakna antara tinggi badan dan panjang lengan bawah, dengan nilai r = 0,897. Semakin bertambahnya panjang lengan bawah, akan diikuti dengan semakin bertambahnya tinggi badan.Kata kunci: tinggi badan, panjang lengan bawah
Pola Kekerasan Senjata Api di Sulawesi Utara Periode 2012-2017 Djaafara, Fauziyyah N.S.E; Siwu, James F.; Kristanto, Erwin G.
e-CliniC Vol 5, No 2 (2017): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.5.2.2017.18456

Abstract

Abstract: Injuries and deaths resulted from firearm violence are global public health issues. In Indonesia, many firearm violence cases are reported in areas with frequent conflicts. In North Sulawesi, especially in Manado City, reports of firearm violence have not been well documented. This study was aimed to determine the firearm violence pattern in North Sulawesi in the period of 2012-2017. This was andescriptive retrospective study. Data of gunshot wounds in North Sulawesi in the period of January 2012-July 2017 were obtained from visum et repertum of gunshot wound in death cases at the Department of Forensic and Medicolegal Prof. R. D. Kandou Hospital, medical records of patients in the Department of Surgery Prof. R. D. Kandou Hospital, and the Criminal Investigation Department of North Sulawesi Regional Police. There were 14 cases of gunshot wounds. All of the cases were males and dominated by productive age group. The highest number of gunshot cases occurred in Manado. From the visum et repertum and examinations, it was found that all cases had an entrance gunshot wound. Conclusion: In North Sulawesi, gunshot cases were found in males, most were in productive age, and had entrance gunshot wound.Keywords: firearms, gunshot wounds, North Sulawesi Abstrak: Cedera dan kematian akibat kekerasan senjata api menjadi salah satu masalah kesehatan masyarakat secara global. Di Indonesia, kasus kekerasan senjata api banyak dilaporkan di daerah yang sering mengalami konflik. Di Provinsi Sulawesi Utara, khususnya Kota Manado laporan mengenai angka kejadian kekerasan senjata api belum tercatat dengan baik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran pola kekerasan senjata api di Sulawesi Utara pada periode 2012-2017. Jenis penelitian ialah deskriptif retrospektif. Dari hasil pengumpulan data kasus luka tembak di Sulawesi Utara kurun waktu tersebut melalui penelusuran hasil visum et repertum pada kematian akibat luka tembak di Bagian Kedokteran Forensik dan Medikolegal RSUP Prof. Dr. R. D Kandou, rekam medik pasien di Bagian Ilmu Bedah RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou, dan Bagian Reserse Kriminal Umum (Bareskrimum) Kepolisian Daerah Sulawesi Utara tercatat 14 kasus luka tembak yang terjadi di Sulawesi Utara. Secara keseluruhan kasus luka tembak terjadi pada laki-laki dan didominasi oleh kelompok usia produktif. Kasus penembakan terbanyak terjadi di Kota Manado. Dari hasil pemeriksaan dan visum et repertum, didapatkan hasil bahwa seluruh kasus merupakan gambaran luka tembak masuk. Simpulan: Di Sulawesi Utara, kasus luka tembak ditemukan pada jenis kelamin laki-laki, umumnya usia produktif, dengan luka tembak masuk.Kata kunci: senjata api, luka tembak, Sulawesi Utara
Gambaran kasus asfiksia mekanik di Bagian Forensik RSUP Prof. Dr. R.D. Kandou periode tahun 2010 -2015 Robi, Marisna; Siwu, James F.; Kristanto, Erwin G.
e-CliniC Vol 4, No 2 (2016): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.4.2.2016.14348

Abstract

Abstract: Asphyxia is a condition characterized by the disturbance of gas exchange in the respiratory tract resulted in reduced oxygen accompanied by increased carbon dioxide in the blood. Mechanical asphyxia is suffocation that occurs when the airway was obstructed by various circumstances (which are mechanical), as follows: choking, smothering, strangulation by ligature, manual strangulation, and hanging. This study was aimed to obtain the profile of mechanical asphyxia cases at Forensic Department of Prof. Dr. R. D. Kandou Hospital period 2010-2015. This was a descriptive retrospective study. The results of the external examination and autopsy showed that there were 22 cases of death due to mechanical asphyxia. The highest percentage of asphyxia cases was in 2011 as many as 8 cases (36.5%). Most cases were in the age group of 17-25 years old (7 cases; 31.8%). Males (12 cases; 54.5%) were slightly more frequent than females (10 cases; 45.5%). The most cases of mechanical asphyxia were hanging (15 cases; 68.2%). The most common sign of asphyxia was congestion of the organs (19 cases; 86.4%).Keywords: asphyxia, mechanical asphyxia, forensic Abstrak: Asfiksia adalah suatu keadaan yang ditandai dengan terjadinya gangguan pertukaran udara dalam saluran pernapasan yang berakibat menurunnya oksigen dalam darah berkurang disertai dengan meningkatnya karbon dioksida. Asfiksia mekanik adalah mati lemas yang terjadi bila udara pernapasan terhalang memasuki saluran pernapasan oleh berbagai kekerasan (bersifat mekanik), yaitu pembekapan, penyumpalan, jeratan, cekikan dan gantung. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran kasus asfiksia mekanik di Bagian Forensik RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou periode tahun 2010-2015. Jenis penelitian ialah deskriptif retrospektif menggunakan data hasil pemeriksaan luar dan autopsi. Hasil penelitian mendapatkan 22 kasus kematian akibat asfiksia mekanik. Kasus terbanyak pada tahun 2011 yaitu 8 kasus (36,5%). Kelompok usia terbanyak ialah 17-25 tahun dengan 7 kasus (31,8%). Jenis kelamin laki-laki sedikit lebih banyak yaitu 12 kasus (54,5%) dibandingkan perempuan yaitu 10 kasus (45,5%). Kasus asfiksia mekanik tersering ialah gantung dengan jumlah 15 kasus (68,2%). Tanda asfiksia yang sering ditemukan ialah pembendungan organ dalam yaitu 19 kasus (86,4%). Kata kunci: asfiksia, asfiksia mekanik, forensik
Pola Luka pada Korban Meninggal akibat Kekerasan Tumpul yang Diautopsi di RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado Periode Januari-Desember 2014 Enma, Zari; Kristanto, Erwin; Siwu, James F.
e-CliniC Vol 6, No 1 (2018): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.6.1.2018.19582

Abstract

Abstract: This study was aimed to determine the injury patterns of victims died due to blunt violence and were autopsied at Prof. Dr. R. D. Kandou Hospital Manado from January – December 2014. This was a descriptive and retrospective study using medical record data of Forensic and Medicolegal Department, Medical Faculty of Sam Ratulangi University/Prof. Dr. R. D. Kandou Hospital Manado during the period from January 2014 to December 2014. The results showed that during that period there were 13 deaths due to blunt violence that met the criteria. There were twelve male and and one female victims. Further studies with longer periods of time involving other hospitals around Manado are needed.Keywords: patterns of wound, blunt trauma, dead victim Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pola luka pada korban meninggal akibat kekerasan tumpul yang diautopsi di RSUP Prof. Dr. R.D. Kandou Manado periode Januari – Desember 2014. Jenis penelitian ialah deskriptif dan retrospektif dengan menggunakan data rekam medik Bagian Ilmu Kedokteran Forensik Medikolegal FK Unsrat- RSUP Prof. Dr. R. D Kandou Manado selama periode Januari 2014 sampai dengan Desember 2014. Hasil penelitian menunjukkan bahwa selama periode tersebut terdapat 13 korban yang meninggal akibat kekerasan tumpul yang memenuhi kriteria. Terdapat 12 korban berjenis kelamin laki-laki dan satu korban berjenis kelamin perempuan. Disarankan penelitian lebih lanjut dengan periode pendlitian yang lebih panjang dengan melibatkan rumah sakit lainnya di sekitar Manado.Kata kunci: pola luka, trauma tumpul, korban mati
Penentuan Derajat Luka pada Kekerasan Mekanik di RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado Periode Januari - Juli 2019 Kelwulan, Jessica E.; Siwu, James F.; Mallo, Johannis F.
e-CliniC Vol 8, No 1 (2020): e-CliniC
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v8i1.28604

Abstract

Abstract: Determination of the degree of injury is highly important to identify the type and severity of abuse, in order to decide the level of punishment against the perpetrators. In case of living victim, a doctor may provide information regarding the injury. Type of injury, type of violence that caused the injury, and determination of injury's qualification or degree of injury, will be translated in the form of Visum et Repertum . Visum et Repertum is necessary to uncover clarity, truth and complete proof of material about a crime. It is important for a doctor to be able to determine the qualification of an injury in order to decide the severity of the sentence against the suspect. This study was aimed to determine the degree of injury in mechanical violence at Prof. Dr. R. D. Kandou Hospital Manado from January to July 2019. This was a retrospective and descriptive study using Visum et Repertum data. The results obtained 39 cases of mechanical violence. Majority of cases had sharp violence (24 cases; 61.5%), second degree injuries (29 cases; 74.4%), males (34 cases; 87%), and the age range was 15-24 years old (17 cases; 43.5%). In conclusion, most cases were males, age range of 15-24 years, had sharp violence with second degree injury.Keywords: mechanical violence, degree of injury Abstrak: Penentuan derajat luka sangat penting dilakukan untuk mengetahui jenis penganiayaan yang dilakukan dan berat ringannya ancaman hukuman terhadap pelaku. Visum et Repertum (VeR) sangat diperlukan untuk mencari kejelasan, kebenaran, dan pembuktian materil yang selengkap-lengkapnya tentang suatu tindak pidana. Kemampuan seorang dokter dalam menen-tukan kualifikasi luka sangat penting bagi pihak berwajib untuk menentukan berat ringannya hukuman terhadap tersangka. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui derajat luka pada kekerasan mekanik di RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado periode Januari sampai Juli 2019. Jenis penelitian ialah deskriptif retrospektif dengan menggunakan data hasil VeR. Hasil penelitian mendapatkan sebanyak 39 kasus kekerasan mekanik. Mayoritas kasus ialah akibat kekerasan tajam pada 24 kasus (61,5%), luka derajat dua pada 29 kasus (74,4%), jenis kelamin laki-laki pada 34 kasus (87%), dan rentang usia 15-24 tahun pada 17 kasus (43,5%). Simpulan penelitian ini ialah sebagian besar kasus berjenis kelamin laki-laki, rentang usia 15-24 tahun, dengan kekerasan tajam dan luka derajat dua.Kata kunci: kekerasan mekanik, derajat luka
GAMBARAN KORBAN MENINGGAL DENGAN CEDERA KEPALA PADA KECELAKAAN LALU LINTAS DI BAGIAN FORENSIK BLU RSUP PROF. Dr. R. D. KANDOU MANADO PERIODE TAHUN 2011-2012 Lumandung, Feibyg Theresia; Siwu, James F.; Mallo, Johannis F.
e-CliniC Vol 2, No 1 (2014): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v2i1.3608

Abstract

Abstrack: Traffic accidents lately occur anywhere and are already familiar. Most accidents are motor accident with head injury, where it can lead to death. This research isto describe the victim died with a head injury in a traffic accident forensics section BLU Prof.Dr.R.D.Kandou Hospital Manado period 2011-2012. In this study, researcher uses retrospective descriptive method. Datawere collected from medical records of all cases of accidents in the years 2011-2012. The conclusion ofthis research, cases of traffic accidents with head injuries are more prevalent than others, most especially in the region of the temporal head injury can effect to death. Researcher suggests that tightened regulations in traffic and further enhanced prevention efforts from the government, police, and medical teams. Keyword : head injury, traffic accident    Abstrak: Kecelakaan lalu lintas akhir-akhir ini terjadi dimana saja dan sudah tidak asing lagi. Kasus kecelakaan terbanyak adalah kecelakaan bermotor dengan cedera kepala, dimana hal ini dapat mengakibatkan kematian. Penelitian ini untuk mengetahui gambaran korban meninggal dengan cedera kepala pada kecelakaan lalu lintas dibagian forensik BLU RSUP Prof.Dr.R.D.Kandou Manado periode tahun 2011-2012. Dalam penelitian ini peniliti, menggunakan metode deskriptif retrospektif. Data penelitian dikumpulkan dari rekam medik seluruh kasus kecelakaan di tahun 2011-2012.Kesimpulan dari penelitian ini, kasus kecelakaan lalu lintas dengan cedera kepala lebih banyak terjadi dari cedera lainnya, khusunya paling banyak cedera kepala di regio temporalis yang dapat mengakibatkan kematian. Peneliti menyarankan agar lebih diperketat lagi peraturan-peraturan dalam berlalu lintas dan lebih ditingkatkan lagi berbagai usaha pencegahan dari pihak pemerintah, kepolisian, dan tim medis. Kata kunci :Cedera kepala, kecelakaan lalu lintas.
Gambaran Kasus Penganiayaan di Wilayah Kerja Polsek Langowan Periode 2021-2022 Tumiwa, Josua S.; Siwu, James F.; Tomuka, Djemi
e-CliniC Vol. 12 No. 2 (2024): e-CliniC
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v12i2.54472

Abstract

Abstract: Illness and death can occur not only as a result of abnormalities or disease, but also through accidents or criminal acts. One form of crimes that is often encountered is persecution. Langowan is one of the areas in North Sulawesi where acts of abuse are often found. This study aimed to describe cases of persecution in the working area of Polsek Langowan in years 2021-2022. This was a descriptive and retrospective study with a cross-sectional design using reports of cases of persecution in the working area of Polsek Langowan in years 2021-2022. The results obtained a total of 55 cases of persecution occurred in 2021-2022, and the highest percentages of cases were in July 2021 and January 2022, each of six cases (10.91%). Gender was dominated by men, namely 52 cases (94.55%). The largest age range is 17-25 years which was late adolescence with a total of 24 cases (43.64%). The most common form of maltreatment was moderate maltreatment in 50 cases (90.91%). The most common type of violence was blunt violence with a total of 34 cases (58,62%). Most of the injuries occurred on the head with a total of 38 cases (50%). In conclusion, the most persecution occurred in July 2021 and January 2022, dominated by male victims, aged 17-25 years, moderate form of persecution, blunt violence, and the location of injury on the head. Keywords: persecution; blunt trauma; victim   Abstrak: Kesakitan dan kematian bisa terjadi bukan hanya akibat adanya kelainan atau penyakit, tetapi juga melalui kecelakaan maupun tindakan kejahatan. Salah satu bentuk kejahatan yang sering ditemui yaitu penganiayaan. Langowan merupakan salah satu daerah di Sulawesi Utara yang sering didapatkan adanya tindak penganiayaan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran kasus penganiayaan di Wilayah Kerja Polsek Langowan Periode 2021-2022. Jenis penelitian ialah potong lintang dengan mengumpulkan data sekunder yaitu laporan kasus penganiayaan di wilayah kerja Polsek Langowan Periode 2021-2022. Hasil penelitian mendapatkan sebanyak 55 kasus penganiayaan di wilayah kerja Polsek Langowan periode 2021-2022, dengan kasus penganiayaan terbanyak terjadi pada bulan Juli 2021 dan Januari 2022 dengan total masing-masing enam kasus (10,91%). Jenis kelamin didominasi oleh laki-laki yaitu sebanyak 52 kasus (94,55%). Rentang usia terbanyak yaitu 17-25 tahun yang merupakan masa remaja akhir dengan total 24 kasus (43,64%). Bentuk penganiayaan terbanyak yaitu penganiayaan sedang sebanyak 50 kasus (90,91%). Jenis kekerasan terbanyak yaitu kekerasan tumpul dengan total 34 kasus (58,62%). Lokasi perlukaan terbanyak terjadi di bagian kepala dengan total 38 kasus (50%). Simpulan penelitian ini ialah penganiayaan paling banyak terjadi di bulan Juli 2021 dan Januari 2022, didominasi oleh korban laki-laki, usia 17-25 tahun, bentuk penganiayaan sedang, jenis kekerasan tumpul, dan lokasi perlukaan di bagian kepala. Kata kunci: penganiayaan; trauma tumpul; korban
Gambaran Hasil Autopsi di RS Bhayangkara Tingkat III Manado Periode Januari 2020 - Desember 2022 Setiawan, Dwipania P.; Siwu, James F.; Kristanto, Erwin G.
e-CliniC Vol. 12 No. 3 (2024): e-CliniC
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v12i3.53427

Abstract

Abstract: The rise in cases of natural or unnatural deaths in Manado has led to suspicions about the cause of death; therefore, the police will ask for help from forensic doctors to carry out autopsies. This study aimed to obtain the autopsy description, especially at Rumah Sakit Bhayangkara Tingkat III Manado for the period of January 2020 - December 2022. This was a retrospective and descriptive study using data from the visum et repertum results. The results showed that there were 97 autopsy cases; 21 of which were excluded. The most frequent cases were in 2021 and 2022, namely 28 cases (36.84%). Most cases were male (89.47%). The largest age group was early adulthood (26-35 years) (28.95%). The most common cause of death was unnatural death (92.1%), with sharp violent death cases (92.1%). For natural deaths, cardiovascular disease and lung disease were the highest (each of 50%). In conclusion, autopsies are often performed on men in early adulthood (26-35 years), with unnatural deaths in cases of sharp violence, while the most common natural deaths are cardiovascular and lung diseases. Keywords: autopsy; cause of death; sharp violence; cardiovascular disease; lung disease    Abstrak: Maraknya kasus kematian wajar atau tidak wajar di Manado menyebabkan munculnya kecurigaan tentang sebab kematian sehingga dari pihak kepolisian akan meminta bantuan ahli dokter forensik untuk dilakukan autopsi. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan gambaran autopsi terutama di Rumah Sakit Bhayangkara Tingkat III Manado periode Januari 2020 – Desember 2022. Jenis penelitian ialah deskriptif retrospektif menggunakan data hasil visum et repertum. Hasil penelitian mendapatkan 97 kasus yang di autopsi; 21 di antaranya dieksklusi. Kasus terbanyak pada tahun 2021 dan 2022 yaitu 28 kasus (36,84%). Sebagian besar kasus berjenis kelamin laki-laki (89,47%). Kelompok usia terbanyak yaitu dewasa awal (26-35 tahun) (28,95%). Penyebab kematian  terbanyak ialah kematian tidak wajar (92,1%), dengan kasus kematian kekerasan tajam (92,1%). Untuk kematian wajar didapatkan penyakit kardiovaskuler dan penyakit paru yang terbanyak (masing-masing 50%). Simpulan penelitian ini ialah autopsi yang sering dilakukan pada jenis kelamin laki-laki, usia dewasa awal (26-35 tahun), dengan kematian tidak wajar kasus kekerasan tajam, sedangkan pada kematian wajar penyebabnya ialah penyakit kardiovaskuler dan penyakit paru yang terbanyak. Kata kunci: autopsi; sebab kematian; kekerasan tajam; penyakit kardiovaskuler; penyakit paru