Claim Missing Document
Check
Articles

Found 17 Documents
Search

MENELISIK DAMPAK PERKEBUNAN KELAPA SAWIT BAGI HUTAN ADAT, HAK ULAYAT, DAN VISI EKOLOGIS MASYARAKAT HUKUM ADAT DI KALIMANTAN BARAT Samho, Bartolomeus; Slamet Purwadi, Yohanes
Veritas et Justitia Vol. 9 No. 2 (2023): Veritas et Justitia
Publisher : Faculty of Law, Parahyangan Catholic University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25123/vej.v9i2.6476

Abstract

According to the result of a research conducted in 2016 entitled "Changes in the Mindset of Dayak Indigenous Peoples in Sanggau Regency towards Customary Forests as a Result of Palm Oil Plantations", this article aims to describe the impact of oil palm plantations on indigenous forests, customary rights, and the ecological vision of Adat communities in West Kalimantan. The research method used is a qualitative method with a phenomenological approach. The findings of this research indicate that economic benefits obtained from oil palm plantations are not proportional with the ecological and social losses resulting from the impacts, both directly and indirectly. It is also found that Adat communities living around oil palm plantations often face the threat of horizontal conflicts due to competition over cultivated land and ecological threats in the form of floods and landslides. The findings within thisis useful to strengthen the understanding of the importance and necessity of developing oil palm plantations with due regard to the local wisdom and constructive ecological vision to maintain the existence of indigenous forests as customary rights. Therefore, land clearing for oil palm plantations must pay attention to local wisdom, preserving nature so that the sustainability of ecosystems and communities is guaranteed.
The Keberdayaan Spiritualitas Perempuan Islam dan Katolik: Studi Deskriptif-Komparatif Mistisisme Rabia al-Adawiyya dan Santa Thérèse dari Lisieux Aprianti, Penti; Purwadi, Yohanes Slamet
Integritas Terbuka: Peace and Interfaith Studies Vol. 3 No. 1 (2024): Integritas Terbuka: Peace and Interfaith Studies
Publisher : Kongregasi Hati Kudus Yesus (RSCJ) Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59029/int.v3i1.24

Abstract

Agama diyakini sebagai kuil untuk eksplorasi spiritualitas manusia yang juga digunakan untuk mendekatkan diri dengan Tuhan dan memuliakan antarsesama. Namun, dalam tradisi yang patriarkal, agama malah digunakan untuk membenarkan peminggiran peran perempuan, yang dalam konteks ini, spiritualitasnya. Bagi Rabia al-Adawiyya dalam tradisi Islam abad ke-8 di Irak dan bagi Santa Thérèse dalam tradisi Katolik abad ke-19 di Prancis, mistisisme dapat menjadi cara untuk mentransformasi spiritualitas yang memberdayakan, bukan meminggirkan. Dengan kajian Integritas Terbuka, tulisan ini akan mengeksplorasi mistisisme Rabia dan Santa Thérèse dalam tradisi agama masing-masing, dan mengulik kontribusi mereka dalam memperjuangkan pentingnya tafsir spiritualitas religius   perempuan dalam perspektif mistisisme. Adapun metode penelitian yang digunakan adalah studi pustaka kualitatif.
BEYOND EPISTEMOLOGICAL RELIGIOUS TRUTH A REFLECTION OF THE OTHER OUTSIDE “TRUE-FALSE” CATEGORY Yohanes Slamet Purwadi
Jurnal Kawistara Vol 2, No 2 (2012)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/kawistara.3968

Abstract

The aim of this paper is to investigate the problematic and dynamic of ‘religious truth’, put into the context of religious freedom in today’s Indonesia. Generally speaking, the dominant discourse of religious truth in Indonesia is heavily determined by epistemological knowledge and understanding. In everyday language, through which this knowledge is produced and distributed, some epistemological categories, such as ‘deviant-believer’, ‘true- false’, and even ‘blasphemy’- are commonly applied. Here, in the problem lies these categorizations might open up possibility for the xation of ‘truth’, which in turn, inclines to subordinate what generically refer to as ‘the other’Seeking    an    alternative,    this    paper    attemptsto develop more favorable and inclusive religious understanding, which indebted to the mode of existential religious understanding including linguistic model of translation. Employing Ricouerian’s hermeneutics, this mode of existential understanding offers valuable critique to the monopoly and orthodoxy of religious truth. Moving further, it promotes the others as an interpretative horizon and a ‘circling way’, through which we enrich our religious understanding, as well as self-understanding.
Metafisika Keterbatasan dan Pluralisme Agama Menurut John Hick Purwadi, Yohanes Slamet
Hanifiya: Jurnal Studi Agama-Agama Vol 6, No 1 (2023): Hanifiya: Jurnal Studi Agama-Agama
Publisher : Program Studi Studi Agama-Agama Pascasarjana UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/hanifiya.v6i1.24854

Abstract

Artikel ini membahas konsep metafisika keterbatasan sebagai basis bagi pluralisme perspektif John Hick. Metode kualitatif jenis study literature digunakan dalam penelitian ini. Data diperoleh dari sumber-sumber primer dan sekunder yang relevan dengan topik penelitian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsep metafisika keterbatasan memainkan peran penting dalam pemikiran John Hick tentang pluralisme agama. Menurut Hick, keberagaman agama dan keyakinan adalah suatu keniscayaan dalam kondisi keterbatasan manusia dalam mencapai kebenaran yang mutlak. Oleh karena itu, konsep keterbatasan ini menjadi dasar bagi pandangan pluralis Hick. Hick berpendapat bahwa setiap agama memiliki akses terbatas dalam memahami kebenaran mutlak, dan pandangan pluralis mengakui bahwa masing-masing agama memiliki kebenaran dan nilai yang berbeda-beda. Namun, pandangan ini juga menunjukkan bahwa kebenaran mutlak dapat dipahami secara lebih utuh melalui dialog dan pengalaman antaragama. Dalam konteks ini, Hick mengembangkan teori relativitas agama dan mengusulkan bahwa keberagaman agama tidak bertentangan dengan kebenaran mutlak. Sebaliknya, keberagaman agama dapat menjadi jalan menuju pengalaman kebenaran yang lebih dalam dan universal. Kesimpulannya, jurnal ini menyajikan pandangan Hick tentang pluralisme agama berdasarkan konsep metafisika keterbatasan. Studi literature yang dilakukan dalam penelitian ini mengungkapkan bahwa keberagaman agama dan keyakinan dapat dipahami dan dihargai secara lebih baik melalui dialog dan pengalaman antaragama, yang merupakan jalan menuju pemahaman yang lebih utuh tentang kebenaran mutlak.
Narasi Kiamat dan Kebuntuan Kapitalisme: Refleksi Kritis atas Kajian Apokaliptik Mark Fisher Ziaul Haq, Mochamad; Sugiharto, Ignasius Bambang; Purwadi, Yohanes Slamet
TEMALI : Jurnal Pembangunan Sosial Vol. 7 No. 2 (2024): Temali: Jurnal Pembangunan Sosial
Publisher : Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/jt.v7i2.37676

Abstract

Penelitian ini mengeksplorasi konsep kiamat dalam kompleksitas dan ambiguitasnya. Di satu pihak, mengikuti perspektif Mark Fisher, kiamat dilihat berkaitan erat dengan kondisi eksternal, khususnya percaturan ideologis antara kapitalisme dan sosialisme. Di pihak lain kiamat juga dilihat dari perspektif internal, yakni dari sistem naratif yang diyakini menjadi sikap mental-spiritual. Peneliti menggunakan pendekatan kualitatif, dengan teknik pengumpulan data studi literatur. Sumber utama yang digunakan adalah teks dari Mark Fisher, yang kemudian ditanggapi berdasarkan perspektif Filsafat Perennial, Psikiatri maupun Neuroscience. Hasil penelitian menunjukan bahwa wacana tentang kiamat memang bisa dilihat sebagai gejala kecemasan dan ketidakpastian yang berkaitan erat dengan krisis kapitalisme, tapi yang lebih mendasar adalah sebagai akibat prevalensi sikap mental-spiritual negatif manusia sendiri. Pada akhirnya kiamat akan lebih baik bila dilihat sebagai peluang transformasi kesadaran kolektif ke arah nilai-nilai yang lebih positif
Immortality: A Study of Human Nature and Consciousness Yohanes Slamet Purwadi
Jaqfi: Jurnal Aqidah dan Filsafat Islam Vol. 10 No. 1 (2025): Jaqfi: Jurnal Aqidah dan Filsafat Islam
Publisher : Jurusan Aqidah dan Filsafat Islam Universitas Negri Sunan Gunung Djati Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/jaqfi.v10i1.45273

Abstract

The hypothetical idea of immortality or eternity has stirred human curiosity throughout civilization. There are various postulates built about immortality: they can be philosophical or scientific in nature. The arguments can be philosophical, theistic, or even rational-scientific. However, due to the development of science and technology, the issue of immortality is no longer just a religious discourse.The issue that has emerged is that these days, scientifically, factual death is understood as the “loss of information” along with the disappearance of consciousness.Thus, through science, especially visionary science, the idea has emerged to transform the content of consciousness through digital machines where consciousness, in turn, is reset and then preserved as digital information.Visionary science also encompasses the cosmic dimension of consciousness that enriches the dynamical reflection of immortality.Thus, a new stage in the understanding of immortality like this challenges public awareness and further analysis. In the context of such discourse, the aim of this research is to explore and examine arguments from both philosophical and visionary scientific perspectives that contextualize the discourse of immortality. Counterarguments are also presented, especially from assumptions related to the digitalization of consciousness. The method used in this research is the literature study method. Data collection includes data from philosophical literature and visionary science. The research results on the discourse of immortality, contemplated philosophically and cosmically, reveal that within the nature of humans themselves lie metaphysical signals for immortality, and this is explored by philosophy. Then, through the efforts of visionary science, the optimism of designing digital consciousness reveals a scientific spirit of this century, although it seems to deal with heavy or controversial challenges. However, through all this study, it is increasingly realized that human nature and consciousness can be deep rational basis for the analysis of immortality
Metafisika Keterbatasan dan Pluralisme Agama Menurut John Hick Purwadi, Yohanes Slamet
Hanifiya: Jurnal Studi Agama-Agama Vol. 6 No. 1 (2023): Hanifiya: Jurnal Studi Agama-Agama
Publisher : Program Studi Studi Agama-Agama Pascasarjana UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/hanifiya.v6i1.24854

Abstract

Artikel ini membahas konsep metafisika keterbatasan sebagai basis bagi pluralisme perspektif John Hick. Metode kualitatif jenis study literature digunakan dalam penelitian ini. Data diperoleh dari sumber-sumber primer dan sekunder yang relevan dengan topik penelitian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsep metafisika keterbatasan memainkan peran penting dalam pemikiran John Hick tentang pluralisme agama. Menurut Hick, keberagaman agama dan keyakinan adalah suatu keniscayaan dalam kondisi keterbatasan manusia dalam mencapai kebenaran yang mutlak. Oleh karena itu, konsep keterbatasan ini menjadi dasar bagi pandangan pluralis Hick. Hick berpendapat bahwa setiap agama memiliki akses terbatas dalam memahami kebenaran mutlak, dan pandangan pluralis mengakui bahwa masing-masing agama memiliki kebenaran dan nilai yang berbeda-beda. Namun, pandangan ini juga menunjukkan bahwa kebenaran mutlak dapat dipahami secara lebih utuh melalui dialog dan pengalaman antaragama. Dalam konteks ini, Hick mengembangkan teori relativitas agama dan mengusulkan bahwa keberagaman agama tidak bertentangan dengan kebenaran mutlak. Sebaliknya, keberagaman agama dapat menjadi jalan menuju pengalaman kebenaran yang lebih dalam dan universal. Kesimpulannya, jurnal ini menyajikan pandangan Hick tentang pluralisme agama berdasarkan konsep metafisika keterbatasan. Studi literature yang dilakukan dalam penelitian ini mengungkapkan bahwa keberagaman agama dan keyakinan dapat dipahami dan dihargai secara lebih baik melalui dialog dan pengalaman antaragama, yang merupakan jalan menuju pemahaman yang lebih utuh tentang kebenaran mutlak.