Claim Missing Document
Check
Articles

Found 34 Documents
Search

Respons Morfologi Beberapa Genotipe Kedelai (Glycine max (L.) Merril) Hasil Persilangan Varitas Toleran Dan Peka Pada Naungan Nerty Soverda; Yulia Alia
Agrium Vol 15, No 2 (2018)
Publisher : Faculty of Agriculture, Universitas Malikussaleh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/agrium.v15i2.1065

Abstract

Untuk meningkatkan produksi kedelai yang ditanam sebagai tanaman sela, diperlukan perhatian ke arah pengembangan varietas kedelai yang toleran terhadap naungan dan berproduksi tinggi. Untuk pembentukan varietas tersebut diperlukan informasi tentang mekanisme toleransi, karakter-karakter fisiologi dan morfologi sebagai karakter penciri toleransi terhadap naungan. Berdasarkan kenyataan diatas maka perlu dilakukan studi dan perbaikan sumber daya genetik untuk perakitan varietas kedelai toleran terhadap naungan guna mengoptimalkan pemanfaatan lahan tegakan di Indonesia umumnya dan di Provinsi Jambi khususnya. Penelitian ini dilaksanakan dengan menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan satu faktor yaitu genotype   yang terdiri dari: G0: Varietas Dena-1, G1: MDL-01, G2: MDL-02, G3: MDL-03 dan        G4: MDL-04. Penanaman dilakukan dibawah naungan paranet 50%. Variabel yang diamati adalah pertumbuhan, hasil dan karakter morfologi penciri toleransi terhadap naungan. Dari penelitian ini didapat bahwa Genotipe MDL-02 memiliki karakter jumlah cabang primer, jumlah polong per tanaman, jumlah polong berisi per tanaman, tebal daun lebih tinggi dibandingkan dengan Varietas Dena
Sistem Pertanaman Tumpangsari Antara Beberapa Genotip Kedelai (Glycine max (L) Merill) Dengan Jagung Manis (Zea mays Var.Saccharatasturt) Yang Ditanam Secara Multi Rows Nerty Soverda; Yulia Alia
Agrium Vol 13, No 2 (2016)
Publisher : Faculty of Agriculture, Universitas Malikussaleh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/agrium.v13i2.1895

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh interaksi antara genotip – genotip kedelai dengan pola tumpangsari, mendapatkan genotip-genotip kedelai yang beradaptasi baik pada pola tumpangsari antara kedelai dengan jagung. Penelitian ini dilaksanakan di Teaching and Research farm Fakultas Pertanian Universitas Jambi yang dilaksanakan dari bulan Desember 2015 sampai dengan bulan Maret 2016. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK), yang terdiri dari 2 faktor. Faktor pertama adalah genotip yang terdiri 4 genotip kedelai (g) yaitu g1 = 5–196–4–3, g2 = 5–196–9–3, g3 = 5–196–9–11 dan g4 = 5–196–9–12, dan faktor kedua adalah pola tanam (p) yang terdiri 3 pola tanam p1  = 1 Tanaman kedelai : 1 Tanaman jagung, p2  = 2 Tanaman kedelai : 1 tanaman jagung dan p3 = 3 Tanaman kedelai : 1 tanaman jagung. Masing-masing kombinasi perlakuan diulang dua kali sehingga terdapat  24 petak percobaan. Data hasil pengamatan dianalisis secara statistik dengan mengunakan sidik ragam dan kemudian dilanjutkan dengan DMRT ( Duncan Multiple Range Test) pada taraf α = 5%. Hasil penelitian menunjukkan terdapat interaksi antara genotip kedelai dengan pola tanam pada jumlah polong per tanaman dan jumlah polong berisi per tanaman. Perlakuan genotip berpengaruh nyata terhadap tinggi tanaman kedelai, jumlah polong pertanaman, jumlah polong berisi, produksi kedelai (ton/ha), Perlakuan pola tanam berpengaruh nyata terhadap jumlah polong per tanaman, jumlah polong berisi per tanaman, bobot 100 bji, hasil kedelai (ton/ha). Perlakuan terbaik pada pola tanam 2 kedelai: 1 jagung.Kata kunci : Genotip Kedelai, Pola tanam.
Respons Tanaman Kacang Hijau (Vigna radiata L.) Terhadap Pemberian Pupuk Organik Kompos Ampas Tebu Elly Indraswari; Yulia Alia; Nerty Soverda
Agrium Vol 15, No 2 (2018)
Publisher : Faculty of Agriculture, Universitas Malikussaleh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/agrium.v15i2.1074

Abstract

Tanaman kacang hijau merupakan jenis tanaman yang termasuk dalam suku polong-polongan (Fabaceae) yang menghasilkan biji yang mengandung banyak karbohidrat dan protein. Di Provinsi Jambi sebagian besar budidaya tanaman kacang hijau dilakukan pada lahan ultisol. Tanah ultisol merupakan jenis tanah miskin kandungan hara makro terutama P, K, Ca, Mg dengan kandungan bahan organik yang rendah. Alternatif yang dapat dilakukan adalah selain menambahkan pupuk anorganik juga dapat dilakukan penambahan bahan organik seperti pupuk kompos ampas tebu. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan satu faktor yaitu dosis pupuk kompos ampas tebu yang terdiri atas 4 taraf perlakuan yaitu tanpa pupuk kompos ampas tebu (p0), 10 ton ha-1 pupuk kompos ampas tebu (p1), 20 ton ha-1 pupuk kompos ampas tebu (p2) dan 30 ton ha-1 pupuk kompos ampas tebu (p3). Setiap perlakuan diulang sebanyak 6 kali dengan demikian terdapat 24 petakan percobaan. Setiap petakan percobaan terdiri dari 4 tanaman sampel. Untuk melihat pengaruh perlakuan terhadap variabel yang diamati lakukan Uji Anova dan Uji Lanjut Duncan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian kompos ampas tebu dengan dosis 10 ton ha-1   adalah merupakan dosis terbaik untuk parameter bobot 100, hasil (ton ha-1) dan nilai indeks panen.
Pengaruh Kompos Limbah Ampas Tebu Terhadap Pertumbuhan dan Hasil Tanaman Cabai Merah (Capsicum annum L.) Elly Indra Swari; Nerty Soverda; Mahesa Givan Pengestu
Jurnal Media Pertanian Vol 7, No 2 (2022): Oktober
Publisher : Universitas Batanghari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33087/jagro.v7i2.146

Abstract

The purpose of this study was to study the effect of bagasse compost on the growth and yield of red chili (Capsicum annum L.), and to obtain a dose of bagasse compost that could provide the best growth and yield of red chili. This research was conducted at the Teaching and Research Farm, Faculty of Agriculture, Jambi University, Mendalo Indah Village, Outer Jambi District, Muaro Jambi Regency, Jambi Province. The study was carried out from April to August 2020. The design used was a Randomized Block Design (RAK) consisting of 5 treatment levels, namely: without bagasse compost (p0), 200 g bagasse compost (p1), 300 g (p2) , 400 g (p4), and 500 (p5). The treatment was repeated 5 times, so there were 25 experimental units. Each experiment contained 5 polybags where each polybag contained one plant and 3 as sample plants. From the results of the study, it was found that giving a dose of 500 g of bagasse compost was the best dose that affected the number of branches, number of fruit per plant, and fruit weight per plant.
Pengaruh Komposisi Media Tanam Yang diberi Eco Enzym Terhadap Pertumbuhan dan Hasil Tanaman Bawang Merah (Allium ascalonicum L.) Nerty Soverda; Elly Indra Swari; Neliyati Neliyati
Jurnal Media Pertanian Vol 8, No 1 (2023): April
Publisher : Universitas Batanghari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33087/jagro.v8i1.189

Abstract

The shallot plant (Allium ascalonicum L.) is a horticultural plant, which spreads both in hot (tropical) and temperate (sub-tropical) climates. One of the problems in managing the cultivation is the condition of the land which is dominated by ultisols with low fertility. The purpose of this study was to study the effect of the composition of the planting medium which was given eco enzymes on the growth and yield of shallot (Allium ascalonicum L.) plants. This research was conducted at the Teaching and Research Farm, Faculty of Agriculture, Jambi University, Mendalo Village, Jambi Luar Kota District, Muaro Jambi Regency, Jambi Province. The research design used was a randomized block design (RBD) with planting media treated with and without eco enzymes with the treatment stages, namely M1 = soil without eco enzyme watering, M2 = soil + eco enzyme watering, M3 = soil + manure without watering eco enzymes, M4 = soil + manure + watered with eco enzymes, M5 = soil + manure + roasted husks without eco enzymes watered and M6 = soil + manure + roasted husks + watered with eco enzymes. The observed variables were plant height, number of leaves, number of tubers per hill and tuber weight per hill. The results showed that the use of planting media of goat manure and husk charcoal supplemented with eco enzymes could increase the value of plant height, number of leaves, number of tubers per hill and tuber weight per hill of Brebes shallot varieties. The treatment that gave the best results was goat manure + husk charcoal + eco enzyme.
Adaptasi Empat Genotip Kedelai (Glycine max (L) Merril) pada Pertanaman Tumpangsari dengan Jagung Yulia Alia; Nerty Soverda
Jurnal Penelitian Agrosamudra Vol 3 No 2 (2016): Jurnal Penelitian Agrosamudra
Publisher : Program Studi Agroteknologi Fakultas Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Salah satu upaya untuk peningkatan produksi tanaman pangan khususnya kedelai sebagai tanaman sela adalah dengan perakitan kultivar yang toleran terhadap naungan. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi adaptasi empat genotip kedelai hasil seleksi untuk sifat toleran naungan pada beberapa pola tumpangsari dengan jagung serta untuk mendapatkan genotip-genotip kedelai yang beradaptasi baik pada pola tumpangsari antara kedelai dan jagung. Percobaan lapang dilaksanakan di Teaching and Research Farm Fakultas Pertanian Universitas Jambi dengan jenis tanah ultisol dan ketinggian tempat + 35 meter dpl pada bulan Desember 2015-Maret 2016. Percobaan disusun dalam Rancangan Acak Kelompok Pola Faktorial 2 faktor, faktor pertama adalah genotip, yang terdiri dari g1= ptxpdm-5–196–4–3 (MDL-01), g2= ptxpdm-5–196–9–3 (MDL-02), g3= ptxpdm-5–196–9–11 (MDL-03) dan g4= ptxpdm=5–196–9–12 (MDL-04), faktor kedua adalah pola tumpang sari, yang terdiri p1=1:1, p2=2:1, dan p3=3:1 Masing-masing kombinasi perlakuan diulang dua kali sehingga terdapat 24 petak percobaan. Data hasil pengamatan dianalisis dengan Sidik Ragam kemudian dilanjutkan dengan DMRT pada taraf α = 5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jumlah polong total per tanaman dan jumlah polong berisi per tanaman genotip-genotip kedelai yang diuji bergantung kepada pola tanam. Genotip-genotip kedelai yang diuji berbeda nyata dalam tinggi tanaman dan hasil. Pola tanam berpengaruh nyata terhadap bobot 100 biji dan hasil kedelai. Genotip ptxpdm-5-196-4-3 (MDL-01) beradaptasi baik pada pola 2:1, sedangkan genotip ptxpdm-5-196-9-3 (MDL-02), ptxpdm-5-196-9-11 (MDL-03), dan genotip ptxpdm-5-196-9-12 (MDL-04) beradaptasi baik pada pola 3:1.
Pertumbuhan dan Hasil Tanaman Kedelai Pada Pemberian Beberapa Konsentrasi Eko Enzim Nerty Soverda; Jasminarni Jasminarni; Elly Indra Swari; Pernata Sihombing
Jurnal Media Pertanian Vol 8, No 2 (2023): Oktober
Publisher : Universitas Batanghari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33087/jagro.v8i2.217

Abstract

Soybean is a food crop that has an important role in increasing national food security. To achieve maximum soybean productivity, plants need adequate nutrition, namely through fertilization. The limited availability of fertilizer greatly affects farming activities. Therefore, the use of organic fertilizer is one solution to this problem.This research was carried out at the Teaching and Research Farm, Faculty of Agriculture, Jambi University, UNJA Mendalo Campus, Mendalo Indah Village, Jambi Luar Kota District, Muaro Jambi Regency in approximately 4 months starting from 10 January to 30 April 2023. This research used a Randomized Block Design (RAK) one factor is the provision of Eco Enzyme concentration at 5 levels, namely: p0 = Eco enzyme 0 mL L-1, p1 = Eco enzyme 10 mL L-1, p2 = Eco enzyme 15 mL L-1, p3 = Eco enzyme 20 mL L-1, p4 = Eco enzyme 25 mL L-1.The results of this study showed that administration with several concentrations of Eco Enzyme gave different responses to plant height, number of pods per plant, number of pods containing plants, number of primary branches, weight of 100 seeds and yield per hectare and had no significant effect on the flowering rate of the plants. Giving Eco Enzyme with a concentration of 20 mL L-1 water is the best concentration. 
Peran Mikroorganisme Lokal Rebung Bambu Terhadap Pertumbuhan Dan Kandungan Protein Tanaman Kedelai Soverda, Nerty; Evita, Evita
Jurnal Ilmiah Ilmu Terapan Universitas Jambi Vol. 4 No. 2 (2020): Volume 4, Nomor 2, Desember 2020
Publisher : LPPM Universitas Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (289.754 KB) | DOI: 10.22437/jiituj.v4i2.11610

Abstract

Kedelai (Glycine Max L. Merrill) merupakan tanaman pangan ketiga setelah padi dan jagung di Indonesia. Umumnya, kedelai dimanfaatkan sebagai bahan makanan manusia, pakan ternak maupun bahan baku industri. Namun, terdapat beberapa masalah dalam pengelolaan penanamannya, salah satunya adalah kondisi lahan yang tidak optimal untuk mendukung pertumbuhan kedelai, terutama di Jambi. Hal ini karena lahan di jambi umumnya didominasi oleh tanah ultisol yang tingkat kesuburan yang rendah. Tujuan khusus dari penelitian yang direncanakan adalah mempelajari peran mol rebung bambu terhadap pertumbuhan dan kandungan protein tanaman kedelai. Penelitan akan dilaksanakan dengan menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan satu faktor yaitu pemberian berbagai konsentrasi MOL rebung bambu dengan 6 taraf perlakuan, yaitu : m0 : tanpa perlakuan Mol rebung bambu, m1 50 ml/L air, m2 : 75 ml/L air, m3 : 100 ml/L air, m4 : 125 ml/L air dan m5: 150 ml/L air. Variabel yang diamati tinggi tanaman, jumlah polong berisi per tanaman, bobot biji per tanaman, bobot 100 biji, hasil per plot dan kandungan protein kedelai. Berdasarkan hasil pengamatan maka dapat disimpulkan bahwa Pemberian MOL rebung bambu dapat memberikan pengaruh yang nyata terhadap bobot 100 biji pertanaman tetapi tidak memberikan pengaruh pada variabel lainnya, akan tetapi pemberian MOL memiliki kecendrungan untuk meningkatkan pertumbuhan dan hasil tanaman kedelai. Disamping itu didapat bahwa pemberian MOL rebung bambu dengan konsentrasi 75 ml/L air merupakan konsentrasi terbaik dalam upaya meningkatkan hasil tanaman kedelai.
Pengaruh Clibadium Surinamense dan Rhizobium terhadap Pertumbuhan dan Produksi Kedelai Edamame Soverda, Nerty; Evita, Evita; Megawati, Meli
Jurnal Ilmiah Ilmu Terapan Universitas Jambi Vol. 5 No. 2 (2021): Volume 5, Issue 2, Desember 2021
Publisher : LPPM Universitas Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (437.134 KB) | DOI: 10.22437/jiituj.v5i2.15953

Abstract

Kedelai edamame dapat dibudidayakan pada dataran tinggi maupun rendah, dan dapat tumbuh di semua jenis tanah yang mempunyai drainase dan aerasi yang baik. Edamame sangat cocok untuk dikembangkan di Indonesia karna kondisi alam dari Indonesia itu sendiri. Tujuan penelitian ini nadalah untuk mengetahui interaksi pemberian kompos putihan (Clibadium surinamense) dan rhizobium dengan berbagai dosis terhadap tanaman kedelai edamame dan untuk mengetahui dosis terbaik pemberian kompos putihan dan rhizobium pada tumbuhan kedelai edamame (Glycine max L. Merill). Percobaan ini menggunakan rancangan acak kelompok (RAK) pola faktorial dua faktor yakni faktor pertama kompos putihan (k) yang terdiri dari 4 taraf perlakuan: k0 : Tanpa kompos putihan k1 : 5 ton/ha kompos putihan, k2 : 10 ton/ha kompos putihan k3 : 15 ton/ha kompos putihan. Faktor kedua adalah rhizoium (r) yang terdiri dari 4 taraf perlakuan: r0 : Tanpa rhizobium, r1 : 5 g rhizobium r2 : 10 g rhizobium r3 : 15 g rhizobium. Setiap perlakuan diulang sebanyak 3 kali sehingga didapat 48 petak percobaan. Dari hasil penelitian didapatkan bahwa terdapat interaksi pemberian kompos putihan dan rhizobium terhadap parameter jumlah bintil akar, jumlah polong per tanaman, jumlah polong berisi per tanaman, serta berat polong panen segar per tanaman. Pemberian rhizobium secara tunggal menunjukkan pengaruh yang berbeda nyata terhadap parameter tinggi tanaman. Pemberian kompos putihan dan rhizobium dengan dosis 15 ton/ha kompos putihan + 10 g rhizobium memberikan pengaruh terbaik terhadap hasil kedelai edamame.
Pengaruh Aplikasi Trichokompos Pelepah Kelapa Sawit terhadap Pertumbuhan Tanaman Timun (Cucumis sativus L.) Soverda, Nerty; Indraswari, Elly; Neliyati, Neliyati
Jurnal Ilmiah Ilmu Terapan Universitas Jambi Vol. 6 No. 1 (2022): Volume 6, Nomor 1, Juni 2022
Publisher : LPPM Universitas Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (109.122 KB) | DOI: 10.22437/jiituj.v6i1.19332

Abstract

Timun (Cucumis sativus L.) adalah salah satu jenis sayuran yang masuk dalam famili labu-labuan (Cucurbitaceae) yang sudah popular di dunia. Dalam budidaya tanaman timun terdapat beberapa masalah dalam pengelolaan penanamannya, salah satunya adalah kondisi lahan yang tidak optimal untuk mendukung pertumbuhan timun , terutama di Jambi. Hal ini karena lahan di Jambi umumnya didominasi oleh tanah ultisol yang tingkat kesuburan yang rendah. Pupuk organik merupakan salah satu alternatif untuk meningkatkan kesuburan tanah. Penggunaan pupuk organik dapat menekan penggunaan pupuk anorganik. Pupuk organik memiliki sifat kimia, biologi dan fisika tanah yang baik. Penelitian dilaksanakan di Kebun Percobaan Fakultas Pertanian Universitas Jambi, Mendalo Indah Kecamatan Jambi Luar Kota, Kabupaten Muaro Jambi. Penelitian ini akan dilaksanakan pada bulan Mei 2021 sampai bulan November 2021. Penelitian ini mengguanakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) yakni penambahan pupuk Trichokompos pelepah sawit, yang terdiri dari 6 taraf perlakuan: t0 = 0 ton/ha (kontrol) tanpa perlakuan (0 g/ tanaman), t1 = 15 ton/ha trichokompos pelepah sawit (320 g/tanaman), t2 = 30 ton/ha trichokompos pelepah sawit (480 g/tanaman), t3 = 45 ton/ha trichokompos pelepah sawit (640 g/tanaman), t4 = 60 ton/ha trichokompos pelepah sawit (800 g/tanaman), t5 = 75 ton/ha trichokompos pelepah sawit (960 g/tanaman). Terdapat 6 perlakuan, setiap perlakuan di ulang sebanyak 4 kali, sehingga di dapat 24 satuan percobaan. Setiap satuan percobaan terdiri dari 6 tanaman, sehingga pada penelitian ini akan di tanam 144 tanaman. Untuk melihat pengaruh perlakuan terhadap variabel yang diamati dilakukan uji anova dan uji lanjut Duncan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan pupuk trichokompos pelepah kelapa sawit belum mampu memberikan pengaruh terhadap tinggi tanaman, jumlah daun, panjang buah, diameter buah dan bobot pertanaman tanaman mentimun. Penambahan pupuk trichokompos pelepah kelapa sawit 60 ton/ha mampu memberikan hasil bobot buah pertanaman terbaik yaitu 204,791 kg.