Claim Missing Document
Check
Articles

Found 26 Documents
Search

Program Kemitraan Masyarakat Pada Kelompok Siswa Tentang Kesehatan Reproduksi Sehat Dalam Rangka Mencegah Perilaku Seks Bebas Di SMA Muhammadiyah 3 Jember Subiastutik, Eni; Gumiarti, Gumiarti
Journal Of Human And Education (JAHE) Vol. 4 No. 4 (2024): Journal Of Human And Education (JAHE)
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jh.v4i4.1416

Abstract

Pada usia remaja seorang mengalami tumbuh dan berkembang dengan pesat, yangmana pada masa ini rasa ingin tahu berbagai hal sangat tinggi, tidak terkecuali perkembangan seksnya. Hal ini karena terjadi fluktuasi sekresi hormon-hormon, hingga mempengaruhi dorongan seksualnya. Ada pandangan yang keliru di masyarakat, bahwa anak yang sudah mengalami pubertas dan berusia di atas 14 tahun dianggap sudah cukup matang dalam segala hal, serta siap menghadapi dunia orang dewasa. Tujuan dari pengabmas ini, agar remaja lebih mempunyai pemahaman dan mempunyai kepedulian menjaga kesehatan reproduksinya dengan tidak melakukan pergaulan bebas terutama seks pra nikah hingga berdampak pada kehamilan yang tidak diinginkan dan pernikahan dini. Kurangnya pemahan remaja tentang tumbuh kembang yang terjadi pada dirinya, akan berpengaruh pada rasa kepedulian menjaga kesehatan reproduksi yang sehat, dan cenderung melakukan hal - hal diluar kendali terutama seksual .Metode yang digunakan adalah , yang pertama memberikan pelatihan pada guru dan remaja yang masuk team KRR tentang kesehatan reproduksi sehat, tanda dan gejala, dan cara mengantisipasinya. Langkah kedua dengan memberikan pendampingan kegiatan unit KRR membuat rencana kerja dan implemenntasi memberikan penyuluhan , pembagian lifleat kesehatan reproduksi kepada teman sebaya secara periodik dan melakkukan evaluasi kegiatan unit KRR. Langkah ketiga membentuk wadah atau unit yang menampung apresiasi remaja minat pada kesehatan reproduksi. Target dan luaran dari kegiatan pengabmas ini adalah terbentuknya unit KRR sebagai rintisan di SMA Muhammadyah 3 Jember dan booklet sebagai alat membantu penyuluhan kepada guru khususnya bidang kesiswaan dan tim unit KRR. Kegiatan pengabmas ini sangat bermanfaat bagi guru dan siswa, dan dengan bertambahnya pemahaman tentang kesehatan reproduksi, pergaulan bebas pada remaja dapat dicegah, dan komunikasi bisa lebih baik.
Remaja Putri Bebas Anemia Di Daerah Rural Melalui Program “Gang Meri “ Subiastutik, Eni; Gumiarti, Gumiarti
Journal Of Human And Education (JAHE) Vol. 4 No. 6 (2024): Journal of Human And Education (JAHE)
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jh.v4i6.1853

Abstract

Remaja merupakan masa dimana peralihan dari masa anak-anak ke masa dewasa, yang telah meliputi semua perkembangan yang dialami sebagai persiapan memasuki masa dewasa. Perubahan perkembangan tersebut meliputi aspek fisik, psikis dan psikososial. Masa remaja merupakan salah satu periode dari perkembangan manusia. (Sofia & Adiyanti, 2013).Remaja putri ( Rematri ) rentan menderita anemia karena banyak kehilangan darah pada saat menstruasi, pola hidup yang tidak bagus, yaitu dengan sering mengkonsumsi minuman kekinian yang tinggi tanin. SMKN I kami pilih untuk kegiatan pengabmasy karena mayoritas siswinya berasal dari lingkungan rural dengan sosial ekonomi rendah. Dari sosial ekonomi yang rendah berpengaruh pada status gizi keluarga terutama remaja putri yang ada di dalamnya. Informasi dari pihak sekolah, selama era pandemi jarang didatangi dari pihak Puskesmas untuk diberikan tablet tambah darah , dilakukan skrining anemia dan status gizi pada remaja. Hasil wawancara dari 6 orang siswi, mereka mengatakan jarang sekali makan sayuran dan buah disetiap menu makannya, serta hampir setiap hari mengkonsumsi es teh yangmana teh mengandung kadar tanin yang cukup tinggi yang dapat menghambat penyerapan Fe dalam darah. Rematri yang memasuki masa pubertas juga mengalami pertumbuhan pesat, sehingga kebutuhan zat besi juga meningkat serta diet yang kadang keliru di kalangan rematri. Tujuan kegiatan pengabmasy ini adalah memberikan tambahan pengetahuan tentang asupan nutrisi yang baik, mencegah dan mengenali tanda dari anemia sehingga semua remaja akan terbebas dari anemia, tumbuh dan berkembang dengan lebih baik dan sehat. Metode kegiatan dari pengabmasy ini adalah menggali tingkat pemahaman remaja tentang anemia, sharing dan diskusi pengetahuan tentang anemia, pemeriksaan skrining anemia dg pemeriksaan kadar Hb, pemberian tablet Fe, dan pemilihan duta Rematri bebas anemia di lingkungan SMKN I Jember. Kata Kunci: Rematri, Anemia, Tablet TTD
Hubungan Peran Ayah Dengan Imunisasi Dasar Lengkap Pada Balita Usia 12-24 Bulan Di Desa Seputih Kecamatan Mayang Widyaningtyas, Dwi Novia; Subiastutik, Eni; Jamhariyah, Jamhariyah
Innovative: Journal Of Social Science Research Vol. 3 No. 5 (2023): Innovative: Journal of Social Science Research
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Data WHO dan UNICEF 2 juta anak kehilangan imunisasi dasar 2020. 17 juta anak tidak pernah mendapatkan imunisas.Cakupan IDL JATIM 2021 55,7%,Jember mencapai 43,3% dari target 93,6%,Mayang tidak UCI dan yang paling rendah capaiannya desa Seputih. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisa hubungan peran ayah dengan imunisasi dasar lengkap pada balita usia 12-24 bulan. Penelitian ini menggunakan desain analitik dengan pendekatan cross sectional.Populasi  138  ayah yang mempunyai balita berusia 12-24 bulan  dan sampel 103.Tehnik pengambilan sampel menggunakan proportionate stratified random sampling.instrumen yang digunakan kuesioner dan buku KIA. Peran aktif  54(52,4%),peran pasif 49(47,6%),Imunisasi dasar lengkap 53(51,5%),tidak lengkap 50(48,5%),uji statistic chi square nilai p-value 0.000 <  α 0,05,artinya ada hubungan peran ayah dengan imunisasi dasar lengkap pada balita usia 12-24 bulan. Peran aktif ayah sangat mempengaruhi kelengkapan imunisasi dasar.Dengan menyebarluaskan informasi tentang pentingnya imunisasi melalui promkes dengan memberikan penyuluhan kepada orang tua,meyebarkan leafleat,dan bekerjasama dengan linsek,toma,toga.
Karakteristik Pengasuhan Ibu Dalam Penerapan Anticipatory Guidance Pada Anak Toddler Di Kabupaten Jember Jamhariyah, Jamhariyah; Gumiarti, Gumiarti; Subiastutik, Eni
Innovative: Journal Of Social Science Research Vol. 4 No. 5 (2024): Innovative: Journal Of Social Science Research
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/innovative.v4i5.14793

Abstract

Abstrak:Pada masa toddler (1-3 tahun) bisa terjadi masalah yang berkaitan dengan fase perkembangan dan tugas perkembangan dan ini akan dihadapi orang tua yaitu : sibling rivalry, temper tantrum, negativistik, toilet training, enuresis (Wong, 2008). Karakteristik anak toddler tersebut, seringkali menjadi keluhan bagi orang tua karena menanggap bahwa anaknya bandel, nakal, manja dan susah diatur sehingga kecenderungan menguji kesabaran orang tua. Kesabaran yang di ekspresikan dalam bentuk mengikuti kemauan anak, membiarkan anak melakukan hal-hal yang disukai anak. Pengasuhan yang diterapakan dipengaruhi pengetahuan dan pengalaman ibu dimasa lalu. Hasil survey, sebanyak 100% ibu belum pernah mengenal istilah toilet training, 60% anak toddler masih menggunakan diapers dan masih mengompol, 40% ibu tidak tahu cara mengatasi anak yang suka mengamuk bila keinginan tidak dipenuhi. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi pola pengasuhan dalam memberikan stimulasi perkembangan sebagai langkah pengembangan media informasi yang khusus berisi informasi tentang kesehatan balita pada setiap fase tumbuh kembangnya. Desain penelitian merupakan jenis penelitian deskriptif dimana untuk memperoleh gambaran pengasuhan ibu pada anak toddler. Subyek ibu yang memiliki anak usia 1-3 tahun, kelurahan Banjarsengon dan kelurahan Antirogo dengan sampel sesuai kriteria sebanyak 50 responden. Pengumpulan data menggunakan kuesioner untuk memperoleh data karakeristik responden, selanjutnya dilakukan FGD untuk memperoleh gambaran pola pengasuhan ibu yang diterapkan pada anak toddler. Gambaran pengasuhan ibu pada anak dalam memberikan stimulasi perkembangan ,ibu menerapkan pengasuhan otoriter dan permissif. Pengetahuan tentang stimulasi perkembangan kurang namun dalam penerapannya sebagian besar sesuai. Pengasuhan yang diterapkan lebih mengacu kepada pengalaman ibu mendapatkan pengasuhan dari orangtuanya. Meskipun terdapat sebagian kecil belum menerapkan, yang dipengaruhi faktor-faktor yg memengaruhi pengasuhan. Pengetahuan ibu anak toddler terhadap stimulasi perkembangan dan penerapan anticipatory guidance masih perlu ditingkatkan.                
PROVISION OF MP - EARLY BREASTFEED WITH THE NUTRITION STATUS OF CHILDREN AGE 7 - 24 MONTHS IN PANDUMAN VILLAGE, JEMBER DISTRICT Qaodriyah, Dwi Maulinda; Subiastutik, Eni; Jamhariyah, Jamhariyah
Jurnal LINK Vol 19 No 2 (2023): NOVEMBER 2023
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Poltekkes Kemenkes Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31983/link.v19i2.10021

Abstract

Menurut WHO terdapat 144 juta anak balita stunting, 47 juta gizi kurang dimana 14,3 juta diantaranya sangat kurus dan 38 juta kelebihan berat badan, termasuk Indonesia akibat kurangnya asupan nutrisi. Pemberian MP – ASI tidak tepat waktu dapat mempengaruhi pencernaan dan berdampak pada status gizi. Populasi balita usia 7 – 24 bulan di 7 posyandu sebanyak 61, sampel 53 dan teknik sampling menggunakan Cluster Random Sampling. Instrumennya yaitu kuesioner, electronic baby scale, grafik BB menurut PB. Uji statistik korelasi spearman’s rho didapatkan nilai P – value sebesar (0,831) > α (0,05) maka H0 diterima dan H1 ditolak, yaitu ada hubungan yang tidak signifikan artinya hampir seluruh bayi dengan riwayat MP – ASI dini tidak berdampak negatif pada status gizi, karena diberikan dengan memperhatikan kesiapan menerima makanan padat. Upaya yang dapat dilakukan puskesmas yaitu menggalakkan informasi pemberian MP – ASI dan pemantauan status gizi secara rutin dengan melibatkan bidan, kader, tokoh masyarakat dan keluarga.
Hubungan Paritas Dengan Tingkat Kecemasan Ibu Hamil Trimester III Dalam Menghadapi Persalinan Di Wilayah Kerja Puskesmas Kasiyan Amelia, Ria; Sugijati, Sugijati; Subiastutik, Eni
Innovative: Journal Of Social Science Research Vol. 5 No. 6 (2025): Innovative: Journal Of Social Science Research
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/innovative.v5i6.21290

Abstract

Latar Belakang: Perubahan saat kehamilan menyebabkan rasa ketidaknyamanan sehingganya menyebabkan kecemasan ibu hamil. Kecemasan semakin meningkat saat mendekati persalinan (Halman et al., 2022). Angka kecemasan ibu hamil di Indonesia mencapai 373.000.000. 107.000.000 atau 28,7% kecemasan terjadi pada ibu menjelang proses persalinan (Mandagi et al., 2013). Penelitian bertujuan untuk mengetahui hubungan paritas dengan tingkat kecemasan ibu hamil Tm III dalam menghadapi persalinan di wilayah kerja puskesmas Kasiyan. Metode: Jenis penelitian kuantitatif, desain analitik korelasional, pendekatan Cross Sectional. Populasi penelitian yaitu 68 ibu hamil trimester III, dengan teknik total sampling. Instrumen kuesioner, analisis data uji Spearman Rank. Hasil: Hampir setengah responden ibu nullipara atau 31 ibu hamil (45,6%), sebagian besar ibu dengan cemas ringan (57,4%). Hasil uji Spearman Rank didapatkan nilai probabilitas p= 0,000; α < 0,05, yang berarti terdapat hubungan antara paritas dengan tingkat kecemasan ibu hamil Kesimpulan: Terdapat hubungan antara paritas dengan tingkat kecemasan ibu hamil trimester III di wilayah kerja Puskesmas Kasiyan. Ibu hamil nullipara memiliki kecenderungan dengan tingkat kecemasan lebih berat dalam menghadapi persalinan. Saran: Ibu diharapkan dapat mengelola kecemasan dengan dukungan dari keluarga, pasangan, serta mengikuti kelas persiapan persalinan untuk meningkatkan pengetahuan kesiapan mental, terutama bagi ibu yang baru pertama kali hamil, dan belum memiliki pengalaman sebelumnya.