Claim Missing Document
Check
Articles

Found 34 Documents
Search

Hubungan Peran Ayah Dengan Imunisasi Dasar Lengkap Pada Balita Usia 12-24 Bulan Di Desa Seputih Kecamatan Mayang Widyaningtyas, Dwi Novia; Subiastutik, Eni; Jamhariyah, Jamhariyah
Innovative: Journal Of Social Science Research Vol. 3 No. 5 (2023): Innovative: Journal of Social Science Research
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Data WHO dan UNICEF 2 juta anak kehilangan imunisasi dasar 2020. 17 juta anak tidak pernah mendapatkan imunisas.Cakupan IDL JATIM 2021 55,7%,Jember mencapai 43,3% dari target 93,6%,Mayang tidak UCI dan yang paling rendah capaiannya desa Seputih. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisa hubungan peran ayah dengan imunisasi dasar lengkap pada balita usia 12-24 bulan. Penelitian ini menggunakan desain analitik dengan pendekatan cross sectional.Populasi  138  ayah yang mempunyai balita berusia 12-24 bulan  dan sampel 103.Tehnik pengambilan sampel menggunakan proportionate stratified random sampling.instrumen yang digunakan kuesioner dan buku KIA. Peran aktif  54(52,4%),peran pasif 49(47,6%),Imunisasi dasar lengkap 53(51,5%),tidak lengkap 50(48,5%),uji statistic chi square nilai p-value 0.000 <  α 0,05,artinya ada hubungan peran ayah dengan imunisasi dasar lengkap pada balita usia 12-24 bulan. Peran aktif ayah sangat mempengaruhi kelengkapan imunisasi dasar.Dengan menyebarluaskan informasi tentang pentingnya imunisasi melalui promkes dengan memberikan penyuluhan kepada orang tua,meyebarkan leafleat,dan bekerjasama dengan linsek,toma,toga.
Karakteristik Pengasuhan Ibu Dalam Penerapan Anticipatory Guidance Pada Anak Toddler Di Kabupaten Jember Jamhariyah, Jamhariyah; Gumiarti, Gumiarti; Subiastutik, Eni
Innovative: Journal Of Social Science Research Vol. 4 No. 5 (2024): Innovative: Journal Of Social Science Research
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/innovative.v4i5.14793

Abstract

Abstrak:Pada masa toddler (1-3 tahun) bisa terjadi masalah yang berkaitan dengan fase perkembangan dan tugas perkembangan dan ini akan dihadapi orang tua yaitu : sibling rivalry, temper tantrum, negativistik, toilet training, enuresis (Wong, 2008). Karakteristik anak toddler tersebut, seringkali menjadi keluhan bagi orang tua karena menanggap bahwa anaknya bandel, nakal, manja dan susah diatur sehingga kecenderungan menguji kesabaran orang tua. Kesabaran yang di ekspresikan dalam bentuk mengikuti kemauan anak, membiarkan anak melakukan hal-hal yang disukai anak. Pengasuhan yang diterapakan dipengaruhi pengetahuan dan pengalaman ibu dimasa lalu. Hasil survey, sebanyak 100% ibu belum pernah mengenal istilah toilet training, 60% anak toddler masih menggunakan diapers dan masih mengompol, 40% ibu tidak tahu cara mengatasi anak yang suka mengamuk bila keinginan tidak dipenuhi. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi pola pengasuhan dalam memberikan stimulasi perkembangan sebagai langkah pengembangan media informasi yang khusus berisi informasi tentang kesehatan balita pada setiap fase tumbuh kembangnya. Desain penelitian merupakan jenis penelitian deskriptif dimana untuk memperoleh gambaran pengasuhan ibu pada anak toddler. Subyek ibu yang memiliki anak usia 1-3 tahun, kelurahan Banjarsengon dan kelurahan Antirogo dengan sampel sesuai kriteria sebanyak 50 responden. Pengumpulan data menggunakan kuesioner untuk memperoleh data karakeristik responden, selanjutnya dilakukan FGD untuk memperoleh gambaran pola pengasuhan ibu yang diterapkan pada anak toddler. Gambaran pengasuhan ibu pada anak dalam memberikan stimulasi perkembangan ,ibu menerapkan pengasuhan otoriter dan permissif. Pengetahuan tentang stimulasi perkembangan kurang namun dalam penerapannya sebagian besar sesuai. Pengasuhan yang diterapkan lebih mengacu kepada pengalaman ibu mendapatkan pengasuhan dari orangtuanya. Meskipun terdapat sebagian kecil belum menerapkan, yang dipengaruhi faktor-faktor yg memengaruhi pengasuhan. Pengetahuan ibu anak toddler terhadap stimulasi perkembangan dan penerapan anticipatory guidance masih perlu ditingkatkan.                
PROVISION OF MP - EARLY BREASTFEED WITH THE NUTRITION STATUS OF CHILDREN AGE 7 - 24 MONTHS IN PANDUMAN VILLAGE, JEMBER DISTRICT Qaodriyah, Dwi Maulinda; Subiastutik, Eni; Jamhariyah, Jamhariyah
Jurnal LINK Vol 19 No 2 (2023): NOVEMBER 2023
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Poltekkes Kemenkes Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31983/link.v19i2.10021

Abstract

Menurut WHO terdapat 144 juta anak balita stunting, 47 juta gizi kurang dimana 14,3 juta diantaranya sangat kurus dan 38 juta kelebihan berat badan, termasuk Indonesia akibat kurangnya asupan nutrisi. Pemberian MP – ASI tidak tepat waktu dapat mempengaruhi pencernaan dan berdampak pada status gizi. Populasi balita usia 7 – 24 bulan di 7 posyandu sebanyak 61, sampel 53 dan teknik sampling menggunakan Cluster Random Sampling. Instrumennya yaitu kuesioner, electronic baby scale, grafik BB menurut PB. Uji statistik korelasi spearman’s rho didapatkan nilai P – value sebesar (0,831) > α (0,05) maka H0 diterima dan H1 ditolak, yaitu ada hubungan yang tidak signifikan artinya hampir seluruh bayi dengan riwayat MP – ASI dini tidak berdampak negatif pada status gizi, karena diberikan dengan memperhatikan kesiapan menerima makanan padat. Upaya yang dapat dilakukan puskesmas yaitu menggalakkan informasi pemberian MP – ASI dan pemantauan status gizi secara rutin dengan melibatkan bidan, kader, tokoh masyarakat dan keluarga.
Hubungan Paritas Dengan Tingkat Kecemasan Ibu Hamil Trimester III Dalam Menghadapi Persalinan Di Wilayah Kerja Puskesmas Kasiyan Amelia, Ria; Sugijati, Sugijati; Subiastutik, Eni
Innovative: Journal Of Social Science Research Vol. 5 No. 6 (2025): Innovative: Journal Of Social Science Research
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/innovative.v5i6.21290

Abstract

Latar Belakang: Perubahan saat kehamilan menyebabkan rasa ketidaknyamanan sehingganya menyebabkan kecemasan ibu hamil. Kecemasan semakin meningkat saat mendekati persalinan (Halman et al., 2022). Angka kecemasan ibu hamil di Indonesia mencapai 373.000.000. 107.000.000 atau 28,7% kecemasan terjadi pada ibu menjelang proses persalinan (Mandagi et al., 2013). Penelitian bertujuan untuk mengetahui hubungan paritas dengan tingkat kecemasan ibu hamil Tm III dalam menghadapi persalinan di wilayah kerja puskesmas Kasiyan. Metode: Jenis penelitian kuantitatif, desain analitik korelasional, pendekatan Cross Sectional. Populasi penelitian yaitu 68 ibu hamil trimester III, dengan teknik total sampling. Instrumen kuesioner, analisis data uji Spearman Rank. Hasil: Hampir setengah responden ibu nullipara atau 31 ibu hamil (45,6%), sebagian besar ibu dengan cemas ringan (57,4%). Hasil uji Spearman Rank didapatkan nilai probabilitas p= 0,000; α < 0,05, yang berarti terdapat hubungan antara paritas dengan tingkat kecemasan ibu hamil Kesimpulan: Terdapat hubungan antara paritas dengan tingkat kecemasan ibu hamil trimester III di wilayah kerja Puskesmas Kasiyan. Ibu hamil nullipara memiliki kecenderungan dengan tingkat kecemasan lebih berat dalam menghadapi persalinan. Saran: Ibu diharapkan dapat mengelola kecemasan dengan dukungan dari keluarga, pasangan, serta mengikuti kelas persiapan persalinan untuk meningkatkan pengetahuan kesiapan mental, terutama bagi ibu yang baru pertama kali hamil, dan belum memiliki pengalaman sebelumnya.
Perbedaan Pembelajaran Dengan Metode Demonstrasi Terhadap Kemampuan Ibu Dalam Perawatan Bayi Baru Lahir Normal Gumiarti; Eni Subiastutik; Jamhariyah Jamhariyah
Jurnal Kesehatan dr. Soebandi Vol 8 No 2 (2020): Jurnal Kesehatan dr. Soebandi
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Universitas dr. Soebandi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36858/jkds.v8i2.182

Abstract

Normal newborn care is an action that must be done immediately by labor assistants and parents who aim to prevent complications as early as possible because newborns tend to be sensitive to changes in the surrounding environment including air, temperature, etc., including exposure to various diseases. Besides the nutritional needs of infants also differ in terms of the amount and frequency of administration. The population projection according to the National Development Planning Agency in 2010-2035, Indonesia's population in 2010 reached 238.52 million, with a birth rate of 5 million, and a death rate of 1.52 people. According to the Indonesian Health Profile (2017), exclusive breastfeeding coverage is 54.0%, while for East Java, exclusive breastfeeding coverage is 48.1% and in the city of Jember 58%, for umbilical cord care that is not given anything at 33.6 %, 63.3% were treated with alcohol or betadine, 0.7% were administered with sowing drugs, and 2.3% were given traditional medicine. The process of starting breastfeeding nationally is done at the age of 0-24 months, the initiation of early breastfeeding in less than one hour is 34.5%, which starts 1-6 hours 35.2%, starts 7-24 hours 3.7%. While for East Java, early breastfeeding initiation which started in less than one hour was 33.3%, 1-6 hours started in 33.5%, started in 7-23 hours was 3.3%, which started in 24-47 hours are 15.3% and those that start more than 48 hours are 14.7%. The purpose of this study was to determine the ability of mother to care for normal newborn babies before and after demonstrations learning methods were given. Analytic observational research design, with one group pre test-post test approach, with a population of mothers who have newborns until the age of 28 days, a total of 20 people with acidental sampling techniques, measuring instruments used questionnaires and checklist.The results showed of the study found that there were significant difference between the results of the first and second ability measurements in the learning group with the demonstration method, with a p-value of 0,000, 95% Cl -7,904 - -2,696. This demonstation learning methods is very effective to improve the ability of mothers to care for their babies, all mothers both who already have a baby are important to prepare the din to prepare the ability to care for a new baby well, so that with the ability to care for it, will increase bounding with the baby.
Connectionn Feeding Patterns with Picky Eater Behavior in Preschool Children Aged 4-5 Years Vira Nabila; Susilawati Susilawati; Eni Subiastutik; Sugijati Sugijati
Minsight: Midwifery Insight and Innovation Journal Vol 1, No 2 (2025): Growth Nutrition and Well-Being in Maternal and Child Health
Publisher : Universitas Nurul Jadid Paiton Probolinggo, East Java, Indonesia, 67291

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33650/minsight.v1i2.12808

Abstract

Picky eating behavior is a common problem in preschool children that can affect nutritional intake and growth. Understanding the relationship between feeding patterns and picky eating behavior is important to help parents develop better feeding strategies. This quantitative study used a correlational analytical design with a cross-sectional approach. The study was conducted among 70 preschool children aged 4–5 years at KB-TK Al-Irsyad AlIslamiyyah, Sumbersari District, Jember Regency. A total of 60 children were selected using proportionate random sampling. Data were collected using the Child Eating Behavior Questionnaire (CEBQ) and a picky eater questionnaire. Statistical analysis was performed using the Chi-Square test. The findings showed that 45 children (75%) exhibited picky eater behavior, while 15 children (25%) did not. The Chi-Square test result showed a p-value of 0.030, indicating a significant relationship between feeding patterns and picky eater behavior. There is a significant relationship between feeding patterns and picky eater behavior in preschool children. Children with good feeding patterns are less likely to exhibit picky eating behavior. Therefore, parents should recognize their children’s eating patterns and provide a variety of foods to prevent picky eating tendencies.
PENGARUH POLA MAKAN DENGAN KEJADIAN ANEMIA PADA REMAJA PUTRI Eni Subiastutik; Farika Novita R
HEALTHY : Jurnal Inovasi Riset Ilmu Kesehatan Vol. 5 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/healthy.v5i3.12269

Abstract

ABSTRACT Adolescence is a developmental stage characterized by increased nutritional requirements, making inadequate dietary intake a potential contributor to various health problems, including anemia. This condition remains prevalent among adolescent girls and continues to be a public health concern in Jember Regency, where its occurrence is relatively high. Within this context, dietary quality is considered a modifiable factor that may influence hemoglobin status and warrants further investigation across different adolescent age groups. This study involved 102 female adolescents selected through proportionate stratified random sampling. Information on dietary habits was obtained using a structured questionnaire, while anemia status was determined through hemoglobin measurements using a digital Hb meter. A comparative cross-sectional approach was employed to examine the relationship between dietary patterns and anemia and to compare anemia conditions between early and late adolescents. The collected data were analyzed using ordinal regression. The findings revealed that 50% of respondents had moderately adequate dietary patterns, while 58% demonstrated normal hemoglobin levels. However, anemia was observed more frequently among early adolescents than among late adolescents. Statistical analysis confirmed a significant association between dietary patterns and the occurrence of anemia (p < 0.05). These results indicate that dietary quality plays a substantial role in shaping anemia status among adolescent girls. Therefore, efforts to improve eating habits should be prioritized within health promotion and prevention programs, particularly for age groups that are more vulnerable to anemia. ABSTRAK Masa remaja merupakan periode yang ditandai dengan peningkatan kebutuhan zat gizi, sehingga ketidakseimbangan asupan makanan dapat berdampak pada berbagai masalah kesehatan, termasuk anemia. Kondisi ini masih banyak ditemukan pada remaja putri dan menjadi perhatian di Kabupaten Jember karena prevalensinya yang relatif tinggi. Dalam konteks tersebut, kualitas pola makan dipandang sebagai salah satu faktor yang berpotensi memengaruhi status hemoglobin dan perlu dikaji lebih lanjut pada kelompok usia yang berbeda. Penelitian ini melibatkan 102 remaja putri yang dipilih melalui proportionate stratified random sampling. Informasi mengenai kebiasaan makan diperoleh menggunakan kuesioner, sedangkan status anemia ditentukan melalui pengukuran kadar hemoglobin menggunakan Hb meter digital. Pendekatan cross-sectional digunakan untuk menggambarkan hubungan antarvariabel sekaligus membandingkan kondisi antara remaja awal dan remaja akhir. Data yang terkumpul dianalisis menggunakan regresi ordinal. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa 50% responden berada pada kategori pola makan cukup dan 58% memiliki kadar hemoglobin dalam rentang normal. Meskipun demikian, kelompok remaja awal memperlihatkan kecenderungan mengalami anemia lebih besar dibandingkan kelompok remaja akhir. Analisis statistik mengonfirmasi adanya hubungan yang bermakna antara pola makan dan kejadian anemia dengan nilai signifikansi p < 0,05. Temuan ini mengindikasikan bahwa upaya peningkatan kualitas konsumsi pangan memiliki peran penting dalam pengendalian anemia pada remaja putri, terutama pada kelompok usia yang menunjukkan tingkat kerentanan lebih tinggi.
Pengaruh Pemberian PMT Lokal terhadap Peningkatan Berat Badan Ibu Hamil KEK di Wilayah Kerja Puskesmas Banyuglugur Lusiana Hendastry; Jamhariyah Jamhariyah; Sugijati Sugijati; Eni Subiastutik
Indo Green Journal Vol. 4 No. 3 (2026): Green 2026
Publisher : Published by Institut Teknologi Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/green.v4i3.628

Abstract

Latar Belakang : Kekurangan Energi Kronis (KEK) pada ibu hamil merupakan masalah gizi yang dapat meningkatkan risiko komplikasi kehamilan dan berdampak pada kesehatan ibu serta janin. Salah satu upaya penanganan yang dilakukan adalah pemberian Makanan Tambahan (PMT) berbasis pangan lokal. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian PMT lokal terhadap peningkatan berat badan ibu hamil KEK di wilayah kerja Puskesmas Banyuglugur Kabupaten Situbondo tahun 2025. Penelitian menggunakan metode kuantitatif dengan desain quasi experimental bentuk One Group Pretest-Posttest Design. Sampel penelitian berjumlah 30 ibu hamil KEK yang dipilih menggunakan total sampling. Intervensi berupa pemberian PMT lokal dilakukan selama 120 hari. Analisis data menggunakan uji Paired Sample t-test. Hasil penelitian menunjukkan rata-rata berat badan ibu hamil sebelum intervensi sebesar 41,5 kg meningkat menjadi 47,2 kg setelah intervensi. Hasil uji statistik menunjukkan nilai p-value = 0,000 (p<0,05), sehingga terdapat pengaruh signifikan pemberian PMT lokal terhadap peningkatan berat badan ibu hamil KEK. PMT lokal dapat menjadi intervensi gizi yang efektif dalam meningkatkan status gizi ibu hamil KEK.
Pengaruh Pemberian PMT Lokal terhadap Peningkatan Berat Badan Ibu Hamil KEK di Wilayah Kerja Puskesmas Banyuglugur Lusiana Hendastry; Jamhariyah Jamhariyah; Sugijati Sugijati; Eni Subiastutik
Indo Green Journal Vol. 4 No. 3 (2026): Green 2026
Publisher : Published by Institut Teknologi Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/green.v4i3.628

Abstract

Latar Belakang : Kekurangan Energi Kronis (KEK) pada ibu hamil merupakan masalah gizi yang dapat meningkatkan risiko komplikasi kehamilan dan berdampak pada kesehatan ibu serta janin. Salah satu upaya penanganan yang dilakukan adalah pemberian Makanan Tambahan (PMT) berbasis pangan lokal. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian PMT lokal terhadap peningkatan berat badan ibu hamil KEK di wilayah kerja Puskesmas Banyuglugur Kabupaten Situbondo tahun 2025. Penelitian menggunakan metode kuantitatif dengan desain quasi experimental bentuk One Group Pretest-Posttest Design. Sampel penelitian berjumlah 30 ibu hamil KEK yang dipilih menggunakan total sampling. Intervensi berupa pemberian PMT lokal dilakukan selama 120 hari. Analisis data menggunakan uji Paired Sample t-test. Hasil penelitian menunjukkan rata-rata berat badan ibu hamil sebelum intervensi sebesar 41,5 kg meningkat menjadi 47,2 kg setelah intervensi. Hasil uji statistik menunjukkan nilai p-value = 0,000 (p<0,05), sehingga terdapat pengaruh signifikan pemberian PMT lokal terhadap peningkatan berat badan ibu hamil KEK. PMT lokal dapat menjadi intervensi gizi yang efektif dalam meningkatkan status gizi ibu hamil KEK.
Family Empowerment to Improve Dietary Adherence Among Pregnant Women with Gestational Diabetes in the Sumbersari Community Health Center Service Area, Jember Eni Subiastutik; Yurissetiowati Yurissetiowati
International Journal of Applied Research and Innovation Vol. 1 No. 2 (2026): April: Resocia: International Journal of Applied Research and Innovation
Publisher : CV SCRIPTA INTELEKTUAL MANDIRI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.65310/0t246g18

Abstract

Gestational diabetes mellitus (GDM) is a growing global maternal health concern that increases the risk of adverse outcomes for both mothers and infants. In Indonesia, the prevalence of GDM continues to rise due to changes in lifestyle, dietary habits, and metabolic risk factors among pregnant women. Dietary management remains the cornerstone of GDM treatment; however, maintaining adherence to dietary recommendations is often challenging because pregnant women must consistently modify long-established eating behaviors. Family involvement is increasingly recognized as an important factor that may enhance adherence to therapeutic diets during pregnancy. This study aimed to analyze the relationship between family empowerment and dietary adherence among pregnant women with GDM in the Sumbersari Community Health Center service area, Jember. A quantitative study with an observational analytic and cross-sectional design was conducted involving 45 third-trimester pregnant women diagnosed with GDM. All eligible participants were included using a saturated sampling technique. Data were collected through validated questionnaires measuring family empowerment and dietary adherence and were analyzed using the Chi-square test. The results revealed a significant relationship between family empowerment and dietary adherence (p = 0.000; p < 0.05). Pregnant women who received greater family empowerment demonstrated higher levels of dietary adherence. Strengthening family-centered interventions may improve dietary compliance and support better glycemic control among women with GDM.