Claim Missing Document
Check
Articles

Found 17 Documents
Search

Public awareness untuk mengurangi risiko bencana Wiwik Sulistyaningsih
Procedia : Studi Kasus dan Intervensi Psikologi Vol. 3 No. 1 (2015): Procedia : Studi Kasus dan Intervensi Psikologi
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/procedia.v3i1.2179

Abstract

Wilayah Indonesia yang secara geografis terletak diantara tiga lempeng benua yang selalu bergerak, memiliki 127 gunung api, dan dengan kondisi sosial politik yang dinamis, mengandung risiko terjadinya bencana. Dengan demikian pada masyarakat khususnya yang tinggal di kawasan berisiko bencana, sangat diperlukan adanya pemahaman yang cukup tentang kondisi dan risiko bencana yang mungkin terjadi di daerah tempat tinggal mereka. Hal ini dimaksudkan agar mereka memiliki kesiapan yang cukup untuk dapat menghadapi bencana dan kemudian dapat pula secepatnya pulih kembali seandainya terjadi bencana. Sementara bila masyarakat tidak memiliki kemampuan untuk menghadapi bencana, maka yang terjadi adalah timbulnya korban yang terlalu besar dan pemulihan yang memakan waktu panjang untuk masyarakat dapat kembali menjalani hidup yang normal selepas bencana. Beberapa dampak yang timbul akibat bencana diantaranya adalah korban jiwa, hilangnya harta benda, serta rusaknya infrastuktur dan lingkungan. Selain itu situasi chaos selepas terjadinya bencana biasanya juga diwarnai dengan rumor atau isu-isu yang tidak bertanggung jawab yang semakin memperkeruh keadaan untuk pemulihan masyarakat. Lambatnya proses rehabilitasi dan rekons-truksi pasca bencana juga dapat terjadi apabila masyarakat menolak untuk mengikuti dan mendukung program-program yang dicanangkan oleh pemerintah. Bahkan upaya edukasi tentang bencana yang dilakukan oleh pemerintah juga akan berjalan kurang optimal jika masyarakat belum memahami sepenuhnya tentang pengurangan risiko bencana yang sebenarnya sangat mereka butuhkan. Sikap masyarakat yang seperti ini umumnya bersumber dari kurang dimilikinya pemahaman dan pengetahuan tentang risiko bencana serta upaya penanggulangan bencana yang dapat dilakukan. Pentingnya peran pengetahuan dan inovasi ini bertujuan agar budaya keselamatan dan ketahanan masyarakat dalam menghadapi bencana di semua tingkat dapat terwujud. Sebagai contoh, kemajuan pengetahuan di bidang geologi dapat menjelaskan banyak hal terkait dengan sejarah bencana di suatu tempat, sehingga masyarakat mendapatkan pemahaman yang tepat untuk menjelaskan mengapa suatu bencana terjadi. Dengan memberikan kesadaran dan pemahaman (public awareness) tentang risiko bencana tersebut diharapkan masyarakat akan dapat berperan aktif dalam upaya pengurangan risiko bencana.Kata kunci: bencana, public awareness, pengurangan risiko bencana
Kecemasan Anak Korban Bullying : Efektifitas Terapi Menulis Ekspresif Menurunkan Kecemasan Salmiyati Salmiyati; Wiwik Sulistyaningsih; Eka Ervika
Psychopolytan : Jurnal Psikologi Vol 4 No 1 (2020): Agustus
Publisher : LPPM Universitas Abdurrab

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36341/psi.v4i1.1307

Abstract

Salah salah satu dampak psikologis bullying bagi anak, adalah munculnya kecemasan. Intensitas kecemasan akan terlihat dari reaksi fisik, emosi, kognitif serta perilaku anak. Pada penelitian ini, terapi menulis ekspresif digunakan sebagai intervensi untuk menurunkan kecemasan anak korban bullying. Kecemasan diukur menggunakan modifikasi skala Spence Children’s Anxiety Scale (SCAS) meliputi area kecemasan, separation anxiety, general anxiety, social anxiety, panic/agoraphobia, obsessive compulsive dan fear of physical injury. Responden penelitian, 2 orang laki-laki dan 6 orang perempuan dengan rentang usia 9-12 tahun. Ada 2 kelompok (ekperimen dan kontrol) dengan setiap kelompok terdiri dari 4 orang anak. Uji Mann Whitney, memperlihatkan bahwa tidak terdapat perbedaan kecemasan antara kelompok eksperimen dengan kelompok kontrol (r = 0.72 ; p > 0.05). Selanjutnya pada kelompok eksperimen dilakukan uji wilcoxon, didapat hasil bahwa terapi menulis ekspresif tidak efektif menurunkan kecemasan anak korban bullying (r = -0.13 ; p > 0.05). Beberapa faktor yang menyebabkan kondisi tersebut terjadi diantaranya, responden belum memperoleh insight dari terapi yang dilaksanakan, tidak terpenuhinya karakteristik terapi menulis ekspresif, bullying masih terjadi, rentang pelaksanaan menulis dan individual karakteristik. Akan tetapi, temuan lain yang diperoleh dari penelitian ini adalah terapi menulis ekspresif mampu menjadi media katarsis bagi responden.
PERBEDAAN KESEJAHTERAAN PSIKOLOGIS LANSIA DITINJAU DARI BENTUK DUKUNGAN TEMAN SEBAYA : THE DIFFERENCES IN PSYCHOLOGICAL WELL-BEING OF THE ELDERLY IN TERMS OF SHAPE PEER SUPPORT ABSTRACT Lia Susanti Simanjuntak; Wiwik Sulistyaningsih
Psikologia: Jurnal Pemikiran dan Penelitian Psikologi Vol. 13 No. 2 (2018): Jurnal Pemikiran dan Penelitian Psikologi (Psikologia)
Publisher : Talenta Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (565.484 KB) | DOI: 10.32734/psikologia.v13i2.2268

Abstract

Penelitian ini didasarkan pada teori dukungan sosial dari Sarafino yang mengatakan bahwa dukungan sosial adalah kenyamanan, perhatian, penghargaan atau bantuan yang diperoleh individu dari orang lain yang terdiri dari empat bentuk yaitu emotional support, instrumental support, informational support, dan companionship support. Dukungan sosial dapat diperoleh dari keluarga, pasangan dan teman sebaya. Pada penelitian ini yang diteliti adalah dukungan sosial yang diperoleh dari teman sebaya. Teori kesejahteraan psikologis yang digunakan didasarkan pada teori Kesejahteraan Psikologis yang dikemukakan oleh Ryff .Penelitian ini merupakan penelitian lapangan, data dikumpulkan dengan menggunakan skala kesejahteraan psikologis dan skala dukungan teman sebaya. Subjek penelitian adalah 70 orang lansia di kota Medan yang diambil dengan teknik accidental sampling. Data penelitian diolah dengan menggunakan analisis varians (ANOVA). Hasil menunjukkan bahwa ada perbedaan kesejahteraan psikologis lansia ditinjau dari bentuk dukungan teman sebaya dengan nilai signifikansi (p) lebih kecil dari 0,05.
Intensitas Bermain Game Online dan Empati pada Remaja Dwibowo, Septyanto; Satyaka, Ahmad Raif; Sulistyaningsih, Wiwik
As-Syar'i: Jurnal Bimbingan & Konseling Keluarga Vol 6 No 3 (2024): As-Syar’i: Jurnal Bimbingan & Konseling Keluarga (In Press)
Publisher : Fakultas Syariah IAIN Laa Roiba Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47467/as.v6i3.7378

Abstract

Playing online games is a common activity among adolescents in Indonesia as a form of entertainment, and it often becomes an influence on the development of empathy, especially in teenagers. This research aims to determine whether there is a difference in empathy among adolescents based on the intensity of online gaming. The game genre studied is MOBA (Multiplayer Online Battle Arena), which is played by 10 people, with each team consisting of 5 players. One match is estimated to last between 10-30 minutes or longer, and the objective is to destroy the opposing team's base. This game requires a high level of teamwork and social interaction among team members. The study uses the Basic Empathy Scale (BES) as a tool to measure empathy, which assesses two components of empathy: affective and cognitive. To measure the intensity of online gaming, the researchers collected data on the average amount of time spent playing online games per week. There were 108 respondents in this study, aged 15-18 years, who played MOBA games and resided in Jabodetabek. Using the ANOVA analysis method, the results showed a significant difference in empathy based on the intensity of online gaming, with a significance value of 0.027 (p-value <0.05). Significant differences in empathy were found between adolescents with moderate and high levels of online gaming intensity (p-value 0.02 <0.05). However, there was no significant difference between the low and moderate groups (p-value 0.547 >0.05), nor between the high and low groups (p-value 0.054 >0.05). Adolescents with high gaming intensity tend to have higher levels of empathy. In the context of MOBA games, which are typically played with friends and require intensive social interaction, it can be concluded that games with high social interaction (in this study, the MOBA genre) are associated with higher empathy. These findings align with other studies that have found that social interaction in games can enhance empathy.
The Relationship of Emotional Intelligence and Self-Efficacy with Academic Procrastination in Student Nisfary, Reny Khaerany; Sulistyaningsih, Wiwik; Minauli, Irna; Hermawati, Triana
Al Hikmah: Journal of Education Vol 4, No 1 (2023): Al Hikmah: Journal of Education
Publisher : Lembaga Pendidikan Hikmatun Najah Blora

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54168/ahje.v4i1.149

Abstract

Academic procrastination carried out in various fields is often the cause of the failure of a teenager/student. Procrastination has many negative impacts, in the form of delays, wasted time, tasks become neglected, even when completed the results are not optimal. This research was conducted to examine the relationship between emotional intelligence and self-efficacy with academic procrastination in junior high school (SMP) students. This study used an explanatory method, with a population of 159 students and  a sample of 25% in the study, namely 40 students at the SMP Muhammadiyah 3 Medan, the data collection method used was a Likert scale to measure the independent variables, namely emotional intelligence and self-efficacy by the dependent variable is academic procrastination. Then, research instruments were tested in the form of validity and reliability tests, while the data analysis techniques used were correlation techniques, simple and multiple linear regression, and partial correlation. The results showed that the average student was in the category of academic procrastination, moderate emotional intelligence and self-efficacy, and in the regression there was a significant and negative effect between emotional intelligence and self-efficacy on academic procrastination, thus partially emotional intelligence and efficacy were significantly can predict academic procrastination, emotional intelligence is higher than self-efficacy in reducing academic procrastination attitudes. simple and multiple linear regression, and partial correlation. The results of this study are expected to contribute to schools or educators in order to reduce students' academic procrastination rates by facilitating teaching and learning that fosters emotional intelligence and increases students' self-confidence to carry out mandated tasks
Intensitas Bermain Game Online dan Empati pada Remaja Septyanto Dwibowo; Ahmad Raif Satyaka; Wiwik Sulistyaningsih
As-Syar i: Jurnal Bimbingan & Konseling Keluarga  Vol. 6 No. 3 (2024): As-Syar’i: Jurnal Bimbingan & Konseling Keluarga
Publisher : Institut Agama Islam Nasional Laa Roiba Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47467/as.v6i3.6009

Abstract

Playing online games is a common activity among adolescents in Indonesia as a form of entertainment, and it often becomes an influence on the development of empathy, especially in teenagers. This research aims to determine whether there is a difference in empathy among adolescents based on the intensity of online gaming. The game genre studied is MOBA (Multiplayer Online Battle Arena), which is played by 10 people, with each team consisting of 5 players. One match is estimated to last between 10-30 minutes or longer, and the objective is to destroy the opposing team's base. This game requires a high level of teamwork and social interaction among team members. The study uses the Basic Empathy Scale (BES) as a tool to measure empathy, which assesses two components of empathy: affective and cognitive. To measure the intensity of online gaming, the researchers collected data on the average amount of time spent playing online games per week. There were 108 respondents in this study, aged 15-18 years, who played MOBA games and resided in Jabodetabek. Using the ANOVA analysis method, the results showed a significant difference in empathy based on the intensity of online gaming, with a significance value of 0.027 (p-value <0.05). Significant differences in empathy were found between adolescents with moderate and high levels of online gaming intensity (p-value 0.02 <0.05). However, there was no significant difference between the low and moderate groups (p-value 0.547 >0.05), nor between the high and low groups (p-value 0.054 >0.05). Adolescents with high gaming intensity tend to have higher levels of empathy. In the context of MOBA games, which are typically played with friends and require intensive social interaction, it can be concluded that games with high social interaction (in this study, the MOBA genre) are associated with higher empathy. These findings align with other studies that have found that social interaction in games can enhance empathy.
DUKUNGAN PSIKOSOSIAL UNTUK PENGUNGSI DI SHELTER KALIDERES JAKARTA BARAT Sulistyaningsih, Wiwik; Trihandayani, Dewi; Faturrohman; Hafizh, Ahmad Syahnurdin
Jurnal Bakti Masyarakat Indonesia Vol. 6 No. 3 (2023): Jurnal Bakti Masyarakat Indonesia
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jbmi.v6i3.27069

Abstract

Status as refugees due to social disaster situations, namely conflict and war, means that survivors are forced tolive an abnormal life. Some of them showing psychological isues such as sleep disturbances, reducedconcentration and focus, loss of self-confidence and self-esteem, loss of interest in activities, psychosomaticcomplaints, and even depressive disorders. Meanwhile, from a social perspective, refugees experience physicalchanges, changes in norms and values, changes in culture and social roles, as well as changes in socialstructures and networks. All of this will have an impact on reducing the psychosocial welfare of refugees Toalleviate complaints of psychosocial problems, psychosocial support can be provided to refugees.Thebeneficiaries in this activity were around 120 refugees consisting of around 80 adults, 25 children and 15teenagers. The majority of them come from Afghanistan, and others come from Asian and African countrieswhich are currently in turmoil. The implementation of psychosocial support for refugees at the Kalideresshelter is provided in five forms of activities, namely health checks, providing food, child psychosocial,gardening and recreational sports. After being given this psychosocial support, the refugee residents showed afeeling of greater relief, felt happy because they could enjoy fun activities, and were grateful to have been givenassistance to fulfill their physical and recreational needs. However, longer community assistance are needed,involving greater resources, as well as stronger self-involvement of the refugees themselves so that they aremore empowered and more resilient to face the many challenges and difficulties. life.ABSTRAKStatus sebagai pengungsi akibat situasi bencana sosial yakni konflik dan peperangan membuat penyintasterpaksa harus menjalani kehidupan yang tidak normal. Tidak sedikit penyitas yang mengalami gangguan padaaspek psikologis, seperti seperti mengalami gangguan tidur, berkurangnya konsentrasi dan fokus, hilangnyakepercayaan diri dan harga diri, kehilangan minat untuk beraktivitas, keluhan psikosomatik, hingga gangguandepresi. Sementara dari segi sosial, pengungsi yang berpindah ke negara lain akan mengalami perubahan fisik,perubahan norma dan nilai, perubahan budaya dan peran sosial, serta perubahan struktur dan jaringan sosial.Hal itu semua akan berpengaruh pada menurunnya kesejahteraan psikososial pengungsi. Untuk meringankankeluhan problem psikososial tersebut maka dapat diberikan dukungan psikososial kepada pengungsi. Penerimamanfaat pada kegiatan ini adalah 120 orang pengungsi yang terdiri dari sekitar 80 orang dewasa, 25 oranganak, dan 15 orang remaja. Mayoritas mereka berasal dari Afghanistan, kemudian lainnya berasal darinegara-negara Asia dan Afrika yang sedang bergolak tidak aman. Adapun pelaksanaan dukungan psikososialbagi refugee di shelter Kalideres diberikan dalam lima bentuk kegiatan yakni pemeriksaan kesehatan,pemberian makanan, psikososial anak, gardening, dan rekreasional olah raga. Setelah diberikan dukunganpsikososial tersebut, warga pengungsi menunjukkan perasaan yang lebih lega, merasa gembira karena dapatmenikmati aktivitas yang menyenangkan, serta bersyukur telah diberi bantuan untuk pemenuhan kebutuhanfisik dan rekreasional. Namun demikian agar dukungan psikososial yang diberikan dapat berefek lebih optimalmaka diperlukan upaya pendampingan komunitas yang lebih lama, melibatkan sumber daya yang lebih besar,serta pelibatan diri yang lebih kuat dari diri pengungsi itu sendiri agar mereka lebih berdaya dan lebih resilienuntuk menghadapi banyaknya tantangan dan kesulitan hidup.Kata kunci: dukungan psikososial, pengungsi, resiliensi.