Claim Missing Document
Check
Articles

Found 22 Documents
Search

PENDEKATAN MENGAJAR TEKNIK PASSING DALAM PERMAINAN SEPAKBOLA USIA 12 TAHUN (Studi Eksperimen pada Sekolah Sepak Bola Mandala Ganesa ITB Kusnaedi Kusnaedi; Tommy Apriantono; Samsul Bahri; Didi Sunadi; Doddy Abdul Karim
JSKK (Jurnal Sains Keolahragaan dan Kesehatan) Vol 3 No 2 (2018)
Publisher : Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/jskk.2018.3.2.4

Abstract

Sepakbola merupakan cabang olahraga yang sangat digemari oleh masyarakat Indonesia. Dibuktikan dengan banyaknya SSB yang tumbuh di Kota Bandung khususnya dan Indonesia pada umumnya. Keberadaan ini belum mampu menyumbangkan atlet yang berprestasi di tingkat nasional, apalagi dunia. Berdasarkan pengamatan penulis ternyata masih banyak SSB yang pelatihnya memberikan latihan secara konvensional. Berdasarkan hasil pengamatan, penulis termotivasi untuk meneliti bagaimana cara pemberian materi latihan untuk anak usia usia 12 yang efektif. Penulis meneliti teknik passing yang terdiri dari passing stop danlong passing. Metode yang diberikan yaitu metode keseluruhan dan metode bagian. Penelitian terbatas hanya teknik passing. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode eksperimen. Sampel yang digunakan siswa SSB Mandala Ganesa ITB usia 12 tahun. Latihan dilakukan 3 kali dalam satu minggu. Jumlah sampel penelitian sebanyak 30 orang. Berdasarkan perhitungan nilai Ó® dan SD didapat hasil: kelompok siswa dengan metode bagian (part method) untuk teknik passing stop data awal Ó®= 10, 73, data hasil tes akhir Ó®= 20,67 dan pada teknik long passing data awal Ó®=12,40, data hasil tes akhir Ó®= 25,07. Sedangkan, pada kelompok siswa dengan metode keseluruhan (whole method) untuk teknik passing stop data awal Ó®= 10,80, data hasil tes akhir Ó®= 15,60 dan pada teknik long passing data awal Ó®=12,00, data hasil tes akhir Ó®= 17,20. Dari hasil perhitungan tersebut terdapat perbedaan yang signifikan antara metode bagian (part method) dan metode keseluruhan (whole metho).
ANALISIS GAYA HIDUP MAHASISWA TPB ITB TAHUN AJARAN 2018/2019 Nia Sri Ramania; Sugih Gunawan; Didi Sunadi; Kusnaedi Kusnaedi
JSKK (Jurnal Sains Keolahragaan dan Kesehatan) Vol 4 No 1 (2019)
Publisher : Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/jskk.2019.4.1.3

Abstract

Latar Belakang : Gaya hidup adalah perilaku yang berhubungan dengan aktivitas fisik aktif, pola asupan nutrisi makan sehari-hari, kebiasaan merokok dan cukupnya waktu istirahat. Gaya hidup yang dihubungkan dengan tingkat kebugaran belum ada dalam literatur. Tujuan dari penelitian ini adalah menganalisis aktivitas fisik aktif maupun tidak aktif, pola asupan nutrisi baik maupun kurang, kebiasaan merokok, waktu istirahat, dan tingkat kebugaran serta Odds Ratio yang merupakan ukuran paparan dari gaya hidup. Metode: Subjek dalam penelitian ini adalah mahasiswa TPB ITB semester 1 tahun ajaran 2018/2019 berjumlah 1399 orang terdiri dari 798 kelompok putra dan 601 kelompok putri. Instrument penelitian menggunakan kuesioner gaya hidup yang terdiri dari komponen-komponen gaya hidup. Hasil: Penyakit sebulan terakhir penyakit menular sebesar 32.7% putra dan 38.9% putri dan PTM sebesar 42.23% putra dan 49.25% putri. Waktu tidur rerata 5.76 putra dan 5.88 putri. Kategori gaya hidup putra terdiri dari aktivitas fisik rerata 2150.08 MET menit/minggu putra dan 1906.03 MET menit/minggu putri. Pelaku perokok putra dan putri. Asupan nutrisi total rerata 2.82 kategori 3putra dan 2.74 kategori 3. Tingkat kebugaran rerata 38.91 putra 33.49  putri kategori cukup. Nilai korelasi antara gaya hidup total dengan kebugaran kelompok putra sebesar +0.089 dengan p-value 0.012 dan putri +0.105 dengan p-value 0.010 maka gaya hidup mempunyai hubungan signifikan dengan kebugaran. Nilai odds ratio putra gaya hidup buruk memiliki risiko 0.92 putra dan 0.79 putri kali lebih besar terserang penyakit dibandingkan orang memiliki gaya hidup baik. Simpulan: Tingkat kebugaran masuk dalam kategori lemah, namun nilai signifikan menunjukan semakin baik gaya hidup maka semakin baik pula tingkat kebugaran. Paparan penyakit dilihat dari odds ratio menunjukan bahwa semakin buruk gaya hidup maka semakin besar terserang penyakit dibandingkan orang yang memiliki gaya hidup sehat.
PROFIL KONDISI FISIK PEMAIN FUTSAL KOTA BANDUNG Agung Dwi Juniarsyah; Dikdik Zafar Sidik; Didi Sunadi; Doddy Abdul Karim
JSKK (Jurnal Sains Keolahragaan dan Kesehatan) Vol 4 No 2 (2019)
Publisher : Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/jskk.2019.4.2.5

Abstract

Kemampuan fisik bagi seorang pemain futsal merupakan syarat untuk menampilkan performanya. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi tingkat kondisi fisik pada pemain Futsal Kota Bandung (FKB). Metode penelitian yang digunakan adalah metode deskriptif. Populasi penelitian ini adalah pemain FKB sebanyak 18 orang. Instrumen penelitian ini terdiri dari enam item tes: Modified Sit and Reach, Sit-Up, Shuttle Run, lari 20 meter, Bleep Test dan Vertical Jump. Pada penelitian ini didapat rata-rata usia 22,57±2,40 tahun, berat badan 60,94±4,48 kg, tinggi badan 168,61±3,94 cm, dan indeks massa tubuh 21,44±1,44 %. Rata-rata VO2 max para pemain sebesar 48,74±5,18 ml/kg/min, fleksibilitas 24,94±13 cm, daya tahan otot perut 82,61±14 kali, kecepatan 3,14±0,12 detik, kelincahan 11,76±0,61 detik, dan power tungkai 49,39±4,24 cm.  Berdasarkan hasil analisis data konversi nilai yang diperoleh; a. Tidak ada satupun pemain FKB yang berkategori Baik Sekali dan Baik, b. Kategori Cukup ada 6 pemain (33,33%), c. Kategori Kurang ada 10 pemain (55,56%), d. Kategori Sangat Kurang ada 2 pemain (11,11%).
Efek Sesaat Polusi Udara (PM2.5) Terhadap FVC dan FEV1 pada Individu yang Sehat Samsul Bahri; Imam Safei; Haryo Satriyo Tomo; Didi Sunadi
JSKK (Jurnal Sains Keolahragaan dan Kesehatan) Vol 5 No 1 (2020)
Publisher : Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/jskk.2020.5.1.3

Abstract

Kebiasaan individu yang berolahraga di area dekat dengan perkotaan sudah menjadi kebutuhan untuk meningkatkan kesehatan masing-masing. Namun disisi lain efek dari polusi udara menjadi permasalahan penting untuk menyeimbangkan antara manfaat dan resiko dalam berolahraga di area yang berpolusi. Dengan demikian tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui efek sesaat polusi udara terhadap FVC dan FEV­1 pada individu yang sehat. Penelitian ini menggunakan eksperimen semu dengan pendekatan One group pretest-posttest design. 8 subjek dipilih dengan kriteria inklusi yang sudah ditentukan. rata-rata usia 19,87 ± 1,24 tahun; tinggi, 166,81 ± 6,31 cm; dan berat, 56,30 ± 3,79 kg; FAT, 12,95 ± 2,76 %; BMI, 20,06 ± 0,95. Hasil penelitian menunjukan bahwa tingginya tingkat polusi udara sejalan dengan penurunan pada FVC dan FEV1. Dengan tidak adanya penegakan peraturan lingkungan yang berarti untuk meredam pertumbuhan industrialisasi dan urbanisasi, kualitas udara akan terus memburuk, membuat para atlet semakin terpapar oleh polusi udara. Dengan demikian, inisiatif kesehatan masyarakat berskala besar, termasuk penelitian epidemiologis yang diperluas, diperlukan untuk melindungi populasi dan kebiasaan individu maupun masyarakat umum dalam berolahraga di luar ruangan khusus nya di stadion atau alun-alun yang dekat dengan perkotaan. Habits of individuals who exercise in areas close to urban areas have become a necessity to improve their health. But on the other hand the effects of air pollution are important issues to balance the benefits and risks in exercising in polluted areas. Thus the purpose of this study was to determine the momentary effects of air pollution on FVC and FEV1 in healthy individuals. This research uses quasi-experimental with One group pretest-posttest design approach. 8 subjects were selected with predetermined inclusion criteria. average age of 19.87 ± 1.24 years; height, 166.81 ± 6.31 cm; and weight, 56.30 ± 3.79 kg; FAT, 12.95 ± 2.76%; BMI, 20.06 ± 0.95. The results showed that the high level of air pollution is in line with the decrease in FVC and FEV1. In the absence of meaningful enforcement of environmental regulations to curb the growth of industrialization and urbanization, air quality will continue to deteriorate, leaving athletes increasingly exposed to air pollution. Thus, large-scale public health initiatives, including expanded epidemiological research, are needed to protect the population and habits of individuals and the general public in exercising outdoors in special stadiums or squares close to urban areas.
Profile Komposisi Tubuh Atlet Junior Bulutangkis Indonesia: Kategori Ganda Putra tommy Apriantono; Indria Herman; Nia Sri Ramania; Didi Sunadi; Bagus bagus Winata
JSKK (Jurnal Sains Keolahragaan dan Kesehatan) Vol 5 No 1 (2020)
Publisher : Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/jskk.2020.5.1.4

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengukur karakteristik fisiologi, secara spesifik pada pengukuran antropometri, untuk mendapatkan gambaran somatotype atlet bulutangkis Indonesia. 12 atlet bulutangkis junior kategori ganda putra berpartisipasi dalam penelitian ini. Pengukuran antropometri dengan menggunakan alat GE Lunar Prodigy DEXA, dan stadiometer portable dengan keakuratan 0.1cm untuk mengukur tinggi badan. Rata-rata berat badan adalah 69.01 ± 7.55 kg , rata-rata tinggi badan adalah 175.3 ± 5.96 cm, rata-rata BMI adalah 22.43 ± 1.98 kg/m-2, rata-rata lemak adalah 13.02 ± 3.80 kg, rata-rata prosentase lemak adalah 19.49 ± 4.37%, rata-rata massa otot adalah 53.09 ± 5.28 kg, rata-rata massa otot adalah 74.40 ± 10.28 %, rata-rata rasio lemak android/genoid adalah 0.76 ± 0.19 %, rata-rata massa otot lengan atas kanan adalah 3.36 ± 0.43 Kg, rata-rata massa otot lengan atas kiri adalah 2.89 ±  0.52 Kg, rata-rata massa otot tungkai bawah kanan adalah 9.87 ± 1.26 Kg, dan rata-rata massa otot tungkai bawah kiri adalah 9.43 ± 1.37 Kg. Penelitian ini menunjukkan bahwa jenis somatotype tubuh atlet bulutangkis junior kategori ganda putra Indonesia adalah mesomorph. Hal ini diperjelas dengan rata-rata BMI atlet bulutangkis junior kategori ganda putra Indonesia yang berada pada rata-rata 22.43±1.98 kg/m-2.
ANALISIS KARAKTERISTIK ANTROPOMETRI DAN KONDISI FISIK ATLET PELAJAR DISEKOLAH PUSAT PENDIDIKAN DAN LATIHAN PELAJAR SE-PULAU JAWA Ilham Hindawan; Tommy Apriantono; Indria Herman; Muhamad Fahmi Hasan; Agung Dwi Juniarsyah; Sri Indah Ihsani; Iwa Ikhwan Hidayat; Bagus Winata; Imam Safei; Didi Sunadi; Kusnaedi Kusnaedi
JSKK (Jurnal Sains Keolahragaan dan Kesehatan) Vol 5 No 1 (2020)
Publisher : Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/jskk.2020.5.1.6

Abstract

Latar belakang: Sports science menekankan pentingnya pengukuran kondisi fisik pada setiap cabang olahraga untuk menentukan metode latihan yang tepat, yang dapat digunakan oleh pelatih dalam membina atlet. Penelitian bermaksud untuk mengukur karakteristik fisiologi atlet muda PPLP di beberapa cabang olahraga prioritas Indonesia, seperti: Atletik, Pencak Silat dan Taekwondo. Metode: Dalam penelitian ini, seluruh subjek melakukan pengukuran antropometri dan kondisi fisik. Dimana dalam pengukuran antropometri, meliputi berat badan, tinggi badan, Body mass Index (BMI). Sedangkan pada uji kondisi fisik, pengukuran meliputi lompat vertikal, sprint 30 meter, dan cooper test 2.4 km. Hasil: Penelitian ini berhasil menunjukan secara kuantitatif dan kualitatif, rata-rata antropometri, daya tahan aerobik (VO2max), daya tahan anaerobik (lompat vertikal dan sprint 30 meter) pada atlet dari cabang olahraga Taekwondo, Pencak Silat, dan Atletik. Pada pengukuran antropometri, hanya atlet Pencak Silat (putra dan putri), yang memiliki tinggi badan di bawah rata-rata nilai normal yang ditetapkan WHO. Sementara pada pengukuran daya tahan anaerobik pada variable sprint 30 meter, hanya atlet Atletik putra yang masuk kedalam rentang nilai normal yang telah ditetapkan, sementara atlet pada cabang olahraga lainnya tidak masuk kedalam rentang nilai normal tersebut. Di sisi lain, tidak ada rata-rata hasil lompat vertikal yang dibawah nilai normal, pada ketiga cabang olahraga yang telah dilakukan pengukuran, baik putra dan putri pada setiap cabang. Sementara itu, hasil pengukuran VO2max juga mencatatakan bahwa seluruh atlet (putra dan putri) dari ketiga cabang olahraga yang diukur, memiliki hasil rata-rata VO2max yang normal dan cenderung sangat baik. Hal tersebut dibuktikan dengan tidak adanya hasil rata-rata VO2max yang berada dibawah rentang nilai normal yang telah ditetapkan. Kesimpulan: Temuan ini menunjukkan bahwa penggunaan screening latihan aerobic test (cooper test 2.4), anaerobic test (batrey test) yang meliputi lompat vertikal, sprint 30 meter dan cooper tes 2.4 km dapat digunakan dan efektif sebagai rangkaian metode dalam melakukan proses pencarian bakat dan pembinaan atlet muda di PPLP se-Pulau Jawa Background: Sports science emphasizes the importance of measuring physical conditions in each branch of sport to determine the right training methods, which can be used by coaches in fostering athletes. The research intends to measure the physiological characteristics of PPLP young athletes in several priority sport branches in Indonesia, such as: Athletics, Pencak Silat and Taekwondo. Methods: In this study, all subjects took anthropometric measurements and physical conditions. Where in anthropometric measurements, including body weight, height, Body mass Index (BMI). Whereas in physical condition tests, measurements vertical jumps, sprint 30 meters, and cooper test 2.4 km. Results: This research successfully demonstrated quantitatively and qualitatively, the average value of anthropometry, aerobic endurance (VO2max), anaerobic endurance (vertical jump and sprint 30 meter) in athletes from the Taekwondo, Pencak Silat, and Athletics branches. In anthropometric measurements, only martial arts athletes (male and female), who have a height below the average normal value determined by WHO. While in anaerobic endurance measurement in the 30 meter sprint variable, only male athletes enter the normal range that has been set, while athletes in other sports do not enter the normal range. On the other hand, there are no average vertical jump results below the normal value, in the three sports that have been measured, both male and female in each branch. Meanwhile, the results of VO2max measurements also stated that all athletes (male and female) from the three sports that were measured had normal VO2max results and tended to be very good. This is evidenced by the absence of an average VO2max result which is below the predetermined normal range. Conclusion: These findings indicate that anthropometric profile measurement and the use of aerobic test screening exercises (cooper test 2.4), as well as anaerobic tests (batrey tests) which include vertical jumps and, 30 meter sprints can be used and effectively as a series of methods in the process of finding talent and coaching young athletes in PPLP throughout JavaKata kunci: Aktivitas Fisik, Atlet, Cabang Olahraga, Antropometri, Kondisi Fisik.
Analysis The Level Aggressiveness of Karate Athletes on Kata Number Miftah Fariz; Didi Sunadi; Hendra Nugraha; Giri Prayogo
Halaman Olahraga Nusantara : Jurnal Ilmu Keolahragaan Vol. 6 No. 2 (2023): Halaman Olahraga Nusantara (Jurnal Ilmu Keolahragaan)
Publisher : Universitas PGRI Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Karate is one of the oldest martial arts originating from Japan and has developed rapidly in Indonesia. Karate itself is a martial art that has Chinese martial influences and kempo. A karate martial artist must certainly have a good level of aggressiveness so that later it can be used in a match that requires a high level of success. The purpose of this study was to determine the level of aggressiveness of karate athletes in word numbers. This study was conducted using quantitative descriptive methods using closed questionnaire techniques. The population in this study is PP INKAI Prestasi athletes in Jakarta totaling 30 people. Determination of samples in this study through non-probability sampling techniques (purposive sampling) so that it became 15 people in accordance with the criteria desired by the researcher. The results of this study show that the level of aggressiveness of karate athletes in word numbers is included in the medium category because word numbers are numbers that compete for compactness, regularity of motion and discipline of movement. However, this can be a further input to further increase the aggressiveness of word number karate.  
Physiological Characteristics of Junior Taekwondo Athletes of Student Training Education Centres in Java Tommy Apriantono; Muhamad Fahmi Hasan; Indria Herman; Didi Sunadi; Bagus Winata; Agung Dwi Juniarsyah
JURNAL PENDIDIKAN JASMANI DAN OLAHRAGA Vol 5, No 2 (2020): Improving Physical Education to Promote Healthy Growth
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (862.509 KB) | DOI: 10.17509/jpjo.v5i2.26914

Abstract

The measurement of physiological characteristics of junior athletes is important to do  as the first step in determining and designing training designs that are appropriate for athletes. The purpose of this study was to measure the physiological characteristics of Indonesian Junior Taekwondo athletes, who were members of student training education centres (PPLP), in West Java, Central Java, and East Java provinces. This qualitative descriptive study conducted the process of collecting data of 8 male Taekwondo athletes and 9 female Taekwondo junior athletes. The results of the data obtained were compared with the data from previous research as a reference in determining the quality standards of Indonesian Taekwondo junior athletes compared with Taekwondo junior athletes from other countries. Related to anthropometric aspects, the results of this study showed that the body weight, height, and BMI of Taekwondo athletes were in the normal category according to WHO standard. Based on the results of anaerobic capacity measurement, Taekwondo athletes got unfavourable results on an average sprint result of 30 meters. However, the results of vertical jumps and VO2max indicated that Indonesian junior Taekwondo athletes were above the normal category determined previously. This research successfully described the physiological characteristics of Indonesian junior Taekwondo athletes in West Java, East Java, and Central Java student training education centres.  The trainers are encouraged to provide a balance concept of aerobic and anaerobic trainings in order to create or foster Taekwondo athletes properly and appropriately.
Perancangan dan Pembuatan Shuttlecock Launcher untuk Memenuhi Kebutuhan Pelatihan Olahraga Bulutangkis Kusnaedi Kusnaedi; Tommy Apriantono; Didi Sunadi
JURNAL PENDIDIKAN JASMANI DAN OLAHRAGA Vol 3, No 2 (2018): Empowering all student to active live and healthy through physical education
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2142.431 KB) | DOI: 10.17509/jpjo.v3i2.13105

Abstract

This research was conducted to design and build a shuttlecock launcher using local materials and components. The shuttlecock launcher was constructed by taking advantage of the various scientific skills of human resources at Institut Teknologi Bandung. The research focused on the design and construction of shuttlecock launcher as a training aid for badminton trainers. The advantages of this device are: 1. able to shoot shuttlecock with high accuracy; 2. able to shoot shuttlecock at the maximum speed of 150 km/h; 3. having total mass of the structure of less than 20 kg; 4. low production cost; 5. having feeding speed of one shuttlecock per two seconds.This device was constructed in the research group (KK) of  Sport Sciences Laboratory of the School of Farmacy and Machinery and Aeronautics Faculty Laboratory at ITB while the experiment was conducted in Badminton Arena, GSG ITB. The research started from September to November 2011. The subjects of this research were the materials and other components related to the design and construction of the device in accordance to physical and mechanical work system. From this research, it can be concluded that of this shuttlecock launcher results  high feeding and lunching speed that meets the criteria needed. AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk merancang dan membuat shuttlecock launcher dengan bahan-bahan (material) dan komponen lokal. Shuttlecock launcher dibuat dengan memberdayakan kemampuan SDM dari berbagai disiplin ilmu yang ada di Institut Teknologi Bandung. Ruang lingkup penelitian ini terfokus pada perancangan dan pembuatan shuttlecock launcher untuk memenuhi kebutuhan alat bantu palatihan bulutangkis.  Keunggulan dari alat ini adalah; (1). Dapat menembakkan shuttlecock dengan keandalan yang baik, (2). Dapat menembakkan shuttlecock dengan kecepatan maksimum 150 km/h, (3). Memiliki massa struktur total dibawah 20 kg, (4). Memiliki biaya produksi yang murah, dan (5). Memiliki feeding satu shuttlecock per dua detik.  Proses pembuatan alat ini dilakukan di Laboratorium KK Ilmu Keolahragaan Sekolah Farmasi dan Laboratorium Fakultas Teknik Mesin dan Dirgantara ITB.  Sedangkan untuk uji coba dilakukan di Lapang Bulutangkis GSG ITB. Penelitian ini dilakukan mulai bulan September – Nopember 2011. Subyek penelitian ini adalah material dan komponen lainnya yang berkaitan dengan perancangan dan pembuatan alat ini.  Instrumen penelitian  shuttlecock launcher ini mengacu pada sistem kerja secara fisika dan mekanik. Penelitian ini menyimpulkan bahwa shuttlecock louncher ini dapat menghasilkan feeding speed yang tinggi  dan kecepatan pelontaran yang memenuhi kriteria kebutuhan.
Pengaruh Self-Talk Dalam Olahraga : A Systematic Review Nikijuluw, Albert Lauren's; Sunadi, Didi; Syafriani, Rini; Hidayat, Yusuf; Kusnaedi, Kusnaedi
TEGAR: Journal of Teaching Physical Education in Elementary School Vol 8, No 1 (2024): Teacher's Competencies and Meaningful Learning in Physical Education
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/tegar.v8i1.79848

Abstract

Self-talk berperan penting dalam meningkatkan motivasi dan rasa percaya diri atlet, membantu mereka mengatasi rasa cemas, serta mendorong peningkatan kemampuan. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji efektivitas penggunaan self-talk dalam olahraga, mengingat kurangnya motivasi dan rasa percaya diri pada atlet. Metode yang digunakan adalah Systematic Literature Review (SLR) dengan pencarian literatur melalui database PubMed, dibatasi pada kriteria tertentu dan jurnal internasional yang terindeks. Hasil penelitian menunjukkan bahwa self-talk dapat meningkatkan kepercayaan diri dan kesehatan mental. Selain itu, self-talk membantu atlet mengendalikan pikiran dan perasaan, baik sebelum maupun saat pertandingan atau aktivitas olahraga lainnya.