Claim Missing Document
Check
Articles

Found 19 Documents
Search

Kerajinan Berbasis Oplosan Limbah I Ketut Sunarya
Dinamika Kerajinan dan Batik: Majalah Ilmiah Vol 37, No 1 (2020): Dinamika Kerajinan dan Batik : Majalah Ilmiah
Publisher : Balai Besar Kerajinan dan Batik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22322/dkb.v37i1.5325

Abstract

Tujuan penelitian yakni diketemukannya komposisi perbandingan limbah styrofoam, serbuk gergaji, pasir halus dan semen sebagai perekat bahan baku seni kerajinan yang mempunyai: 1. kekuatan fisik. 2. Karakter menyerupai batu padas. 3. Dapat dibubut dan juga dicetak. Metode yang digunakan adalah research and development. Pertama hasil penelitian menunjukkan pada uji daya tekan (kekuatan) oplosan limbah dengan teknik tuang memperlihatkan nilai lebih tinggi dan merata dibandingkan dengan bahan baku cetak pres. Kedua hasil uji teknik ukir menunjukkan adonan nomor 9 dan adonan 12 terlalu rapuh untuk diukir. Sedangkan campuran nomor 5, 7, 9, dan 10 adalah campuran keras. Adonan nomor 11 yakni campuran 2 : 1 : 2 : 2 adalah campuran yang paling sempurna. Ketiga uji teknik bubut menunjukkan bahwa campuran nomor 5, 7, 9, 10 dan 11 merupakan campuran yang mendapatkan nilai cukup baik. Keempat oplosan dengan teknik cetak yang sangat dipengaruhi oleh banyaknya bahan perekat (semen), sehingga bahan yang dengan skala banyak semen seperti campuran nomor 5,  7, 9, 10, dan 11 berhasil dalam penggunaan teknik ini. Kendala utama dalam teknik cetak adalah proses pengeringan yang memakan waktu cukup lama.
MAKNA SIMBOLIK DAN NILAI ESTETIKA SENI HIAS DAN TATA LETAK PURA JAGATNATHA DI JEMBRANA BALI: DALAM KONTEKS KEHIDUPAN KERAGAMAN MASYARAKAT HINDU BALI I Ketut Sunarya
Jurnal Dimensi Seni Rupa dan Desain Vol. 9 No. 1 (2012)
Publisher : Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1301.592 KB) | DOI: 10.25105/dim.v9i1.959

Abstract

Abstract The art of decoration of Pura Jagatnatha that was found in Jembrana bali was an aesthetical symbol that made the pura which the meaning was a mount interpreted as source of prosperity. Its display created some questions of philosophical concepts of art decoration, glory, unique, and characteristic, and relation between the setting of pura and the real life of Balinese Hindu people. Pura describes three peaks of the big time of Balinese art of decoration; ancient Bali with the Balinese Character, the big time of Gelgel kingdom with its calsical things, and the currentcharacter with its Western influences. The art of decoration of pura have the aesthetical principles, function, related to personal, social, and physical functions. Style was related to formal arrangement that consisted of intelectual, biomorphical, and aesthetical arrangements. Fantasy style was related to the divinities, folklores, and stories of giants world. The meaning assesment told that Balinese refractional bias of Pura Jagatnatha was beautiful and had the core of symbolic meaning AbstrakSeni hias pura Jagatnatha di Jembrana Bali adalah simbol estetik yang menjadikan pura bermakna gunung sebagai sumber kesuburan. Tampilan yang memunculkan pertanyaan tentang konsep filosofi seni hias, kemegahan, keunikan, dan karakteristik, serta hubungan tata letak pura dengan kehidupan masyarakat Hindu Bali. Pura menggambarkan tiga puncak kejayaan seni hias Bali, yakni masa Bali kuno sampai diketemukan karakter kebalian, masa keemasan kerajaaan Gelgel dengan klasiknya, dan karakter kekinian dengan pengaruh baratnya. Seni hias pura berpegang pada prinsip estetika, yakni : fungsi, menyangkut personal, fungsi sosial dan fungsi fisik. Gaya , menyangkut gaya sususnan formal, yakni susuanan intelektual, biomorfis, dan gaya susunan estetik. Gaya fantasi menyangkut cerita kadewatan, cerita rakyat, dan dalam alam buta . Kajian makna menyebutkan bahwa seni bias Pura Jagatnatha Bali selain indah makna simbolik menjadi inti pura tersebut.
Peran SMK Negeri 1 Rota Bayat dalam pelestarian dan pengembangan kerajinan tenun lurik Klaten Ismadi Ismadi; I Ketut Sunarya; Edin Suhaedin PG; Angga Sukma Permana
Sungging Vol 1, No 2 (2022): Sungging Edisi Juli - Desember
Publisher : Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/sungging.v1i2.55865

Abstract

Penelitian ini berfokus pada peran SMK N 1 ROTA Bayat terhadap pelestarian dan pengembangan kerajinan tenun lurik Klaten. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan: 1) Rancangan pembelajaran keahlian kriya kreatif batik dan tekstil di SMK N 1 Rota Bayat; 2) peserta didik yang berkompetensi pada keahlian kriya kreatif batik dan tekstil SMK N 1 ROTA Bayat; dan 3) peran SMKN 1 ROTA Bayat dalam pelestarian dan pengembangan kerajinan tenun lurik Klaten. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan pendekatan interdisiplin yang memfokuskan pada kajian peran pendidikan, yaitu pendekatan teoretis tentang kebudayaan, antropologi, dan pendidikan. Hasil penelitian ini adalah: 1) Rancangan pembelajaran keahlian kriya kreatif batik dan tekstil di SMK N 1 Rota Bayat dengan silabus disusun berorientsi pada pengetahuan dasar keahlian sebagai pedoman dalam pelestarian pengetahuan dan budaya lokal serta sarana dan prasarana yang sudah mendukung; 2) peserta didik kompetensi keahlian kriya kreatif batik dan tekstil sebagian besar berasal dari masyarakat perajin batik dan lurik; dan 3) Secara keseluruhan, kompetensi kriya kreatif batik dan tekstil di SMK N 1 ROTA Bayat Klaten telah bertanggung jawab dalam melestarikan dan mengembangkan kebudayaan, namun khusus pada kerajinan tenun belum cukup banyak memberi peran.
Kriya di Pulau Bali: Ketakson, Kerajinan, dan Kitsch I Ketut Sunarya
PANGGUNG Vol 32 No 1 (2022): Varian Model Proses Kreatif dalam Cipta Karya Seni
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/panggung.v32i1.1728

Abstract

Kriya merupakan akar seni rupa di Indonesia. Di Bali kriya ketakson terwujud karena  fungsi utamanya sebagai simbol Sang Suci, dan menjadi batu loncatan bertemu dengan-Nya. Ia bersifat sakral, dihormati serta dikeramatkan oleh masyarakat. Sejalan konsep ajeg Bali, guna mengantisipasi keberlanjutan kebudayaan Bali, maka keluar keputusan penggolongan sifat budaya (kriya) Bali menjadi 3 (tiga), yakni; wali, bebali, dan balih-balihan. Penggolongan ini mempertegas kembali perbedaan kriya yang berfungsi untuk kebutuhan agama dan kriya untuk memenuhi kebutuhan pariwisata. Artikel ini merupakan kajian yang mempertegas kembali kriya sakral dan profan yang pantas disuguhkan untuk wisatawan. Memperjelas perbedaan dan keberadaan kriya ketakson, kerajinan, serta kitsch di Bali. Mengingat Pulau Bali merupakan pulau yang terbuka yang mempunyai visi Bali Lestari.
EXPLORATION OF TEENAGERS' PERCEPTIONS OF CONTEMPORARY BATIK DESIGN INNOVATION Nabila Alfadwa, Isna; Sunarya, I Ketut; Susanto, Moh. Rusnoto
International Journal of Multidisciplinary Research and Literature Vol. 4 No. 1 (2025): INTERNATIONAL JOURNAL OF MULTIDISCIPLINARY RESEARCH AND LITERATURE
Publisher : Yayasan Education and Social Center

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53067/ijomral.v4i1.283

Abstract

This research aims to explore teenager’s perceptions of contemporary batik design innovation, with a focus on teenagers aged 15-19 years in high schools in the city of Yogyakarta. The method used is qualitative, where data is collected through structured interviews with 20 informants selected purposively. The research results show that teenagers have diverse views regarding contemporary batik, where aesthetic factors, self-identity and the influence of globalization play an important role in their interest. In addition, this research identifies the challenges faced in integrating traditional and modern elements in batik design, as well as the importance of community experience in the batik making process. It is hoped that these findings can provide practical recommendations for craftsmen and communities to attract the younger generation's interest in batik, as well as become the basis for further research on batik and the younger generation. Thus, this research contributes to the understanding of how innovation in batik design can accommodate the needs and tastes of the younger generation, as well as strengthen the sustainability of Indonesia's cultural heritage.
ZAT WARNA ALAM ALTERNATIFWARNA BATIK YANG MENARIK Sunarya, I Ketut
INOTEKS: Jurnal Inovasi Ilmu Pengetahuan,Teknologi, dan Seni Vol 16, No 2 (2012)
Publisher : Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (259.622 KB) | DOI: 10.21831/ino.v16i2.3378

Abstract

The purpose that wants to be reached in this research is finding colorcontraction that being appeared by various types of leafs on tenun sutera, sertananas, and katun with fixation by tawas. This research also wants to know thequality of the natural color with sun shine heat and soap washed.The approach that being used in this research is Research andDevelopment (R&D) with steps: (1) Define (Preface Study) that is about thematerial that going to be worked with. In this research is more on explanationsabout tenun, leafs, and other helper material; (2) Design that is design about thework phases that going to be done by preparing the tools as a fist phase; (3)Development that is working with the material as various types of leafs thatbeing the ready material as natural color with fixation by tawas.The result of the research said that: First from 75 types of leaf that wasbeing worked as the color of sutera, serat nanas, and katun with fixation bytawas founded different variety of colors, they are cream, dark yellow, yellow,light yellow, brown, light brown, green, moss green, and orange. The result ofthe enduring power of natural color in sutera is good, whether by soap washedtest or sun shine heat test. In this test there is no low score and this is proof thatthe enduring power of natural color absorption in sutera is very good. That is aswell as natural color on serat nanas. While there is variation that found in thequality of natural color on katun, they are low quality category is seen in soapwashed test in kates leaf, aponika, lengki, leresede, belimbing manis, remujung,sukun, mangsi-mangsian, mangkokan, makuto dewo, jarak kepyar, kupu-kupuleaf, pace, puring, akasia, leaf bunga terompet, nangka, jambu air, melinjo,adam eva, yodium and suji leaf. It's different from sunshine heat test showspretty good result. Both, the special characteristics that owned by natural coloris the color intensity is very calming to the cornea. Variation colors that close tothe soft color. In the near future development natural color that is pleasant,secure, and interesting will used as batik color alternative.
Kriya di Pulau Bali: Ketakson, Kerajinan, dan Kitsch Sunarya, I Ketut
PANGGUNG Vol 32 No 1 (2022): Varian Model Proses Kreatif dalam Cipta Karya Seni
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/panggung.v32i1.1728

Abstract

Kriya merupakan akar seni rupa di Indonesia. Di Bali kriya ketakson terwujud karena  fungsi utamanya sebagai simbol Sang Suci, dan menjadi batu loncatan bertemu dengan-Nya. Ia bersifat sakral, dihormati serta dikeramatkan oleh masyarakat. Sejalan konsep ajeg Bali, guna mengantisipasi keberlanjutan kebudayaan Bali, maka keluar keputusan penggolongan sifat budaya (kriya) Bali menjadi 3 (tiga), yakni; wali, bebali, dan balih-balihan. Penggolongan ini mempertegas kembali perbedaan kriya yang berfungsi untuk kebutuhan agama dan kriya untuk memenuhi kebutuhan pariwisata. Artikel ini merupakan kajian yang mempertegas kembali kriya sakral dan profan yang pantas disuguhkan untuk wisatawan. Memperjelas perbedaan dan keberadaan kriya ketakson, kerajinan, serta kitsch di Bali. Mengingat Pulau Bali merupakan pulau yang terbuka yang mempunyai visi Bali Lestari.
UMA LENGGE DALAM KREASI BATIK BIMA Sartika, Dewi; Eskak, Edi; Sunarya, I Ketut
Dinamika Kerajinan dan Batik: Majalah Ilmiah Vol. 34 No. 2 (2017): DINAMIKA KERAJINAN DAN BATIK : MAJALAH ILMIAH
Publisher : Balai Besar Standardisasi dan Pelayanan Jasa Industri Kerajinan dan Batik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22322/dkb.v34i2.3365

Abstract

IKM Batik di Bima, Nusa Tenggara Barat mulai berkembang, tetapi belum memiliki motif khas daerah. Oleh karena itu perlu diciptakan motif batik yang memiliki ciri khas daerah Bima. Tujuan penelitian penciptaan seni ini adalah untuk menghasilkan kreasi baru motif batik yang sumber inspirasinya diambil dari seni budaya daerah setempat, sehingga dapat menghasilkan motif batik berciri khas daerah Bima. Metode yang digunakan yaitu pengamatan mendalam, pengumpulan data, pengkajian sumber inspirasi, pembuatan desain motif, dan perwujudan menjadi kain batik. Hasilnya berupa satu desain motif yaitu Batik Uma Lengge (BUL), namun dibuat menjadi tujuh kain batik dengan warna dasar yang berbeda-beda. Adapun tujuh kain batik tersebut adalah: (1) BUL Me’e/hitam (2) BUL Bura/putih, (3) BUL Jao/hijau, (4) BUL Kala/merah, (5) BUL Monca/kuning, (6) BUL Owa/ungu, dan (7) BUL Biru/biru. Uji peminatan konsumen dilakukan terhadap jenis warna yang disukai. Adapun warna yang paling banyak dipilih adalah hitam 27%, merah 19%, ungu 15%, biru 12%, hijau 11%, kuning 9%, dan putih 7%. Hasil uji ini dapat dijadikan acuan dalam memberi warna pada batik, berdasarkan kecenderungan selera konsumen.     
Kerajinan Berbasis Oplosan Limbah Sunarya, I Ketut
Dinamika Kerajinan dan Batik: Majalah Ilmiah Vol. 37 No. 1 (2020): Dinamika Kerajinan dan Batik : Majalah Ilmiah
Publisher : Balai Besar Standardisasi dan Pelayanan Jasa Industri Kerajinan dan Batik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22322/dkb.v37i1.5325

Abstract

Tujuan penelitian yakni diketemukannya komposisi perbandingan limbah styrofoam, serbuk gergaji, pasir halus dan semen sebagai perekat bahan baku seni kerajinan yang mempunyai: 1. kekuatan fisik. 2. Karakter menyerupai batu padas. 3. Dapat dibubut dan juga dicetak. Metode yang digunakan adalah research and development. Pertama hasil penelitian menunjukkan pada uji daya tekan (kekuatan) oplosan limbah dengan teknik tuang memperlihatkan nilai lebih tinggi dan merata dibandingkan dengan bahan baku cetak pres. Kedua hasil uji teknik ukir menunjukkan adonan nomor 9 dan adonan 12 terlalu rapuh untuk diukir. Sedangkan campuran nomor 5, 7, 9, dan 10 adalah campuran keras. Adonan nomor 11 yakni campuran 2 : 1 : 2 : 2 adalah campuran yang paling sempurna. Ketiga uji teknik bubut menunjukkan bahwa campuran nomor 5, 7, 9, 10 dan 11 merupakan campuran yang mendapatkan nilai cukup baik. Keempat oplosan dengan teknik cetak yang sangat dipengaruhi oleh banyaknya bahan perekat (semen), sehingga bahan yang dengan skala banyak semen seperti campuran nomor 5,  7, 9, 10, dan 11 berhasil dalam penggunaan teknik ini. Kendala utama dalam teknik cetak adalah proses pengeringan yang memakan waktu cukup lama.