Claim Missing Document
Check
Articles

Found 9 Documents
Search
Journal : e-CliniC

KARAKTERISTIK PENDERITA KANKER SERVIKS DI BLU RSUP PROF. DR. R. D. KANDOU Lasut, Edwin; Rarung, Max; Suparman, Erna
e-CliniC Vol 3, No 1 (2015): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v3i1.6519

Abstract

Abstract: Cervical cancer is still the most frequent type of cancer among women in Indonesia. For ASEAN region, the incidences of cervical cancer in Singapore are: around 25.0% among the Chinese and 17.8% among the Malayan. In Thailand the incidence is around 23.7 per 100.000 civilians. In Indonesia, it is estimated that there are 40.000 new cases of cervical cancer in every year. This study aimed to obtain the characteristics of mothers with cervical cancer in the Department of Obsterics and Gynaecology in the Prof. Dr. R. D. Kandou General Hospital, Manado from January 1 to December 31,2013.Keywords: cervical cancer, age, pap smear history, parity, age of first maritalAbstrak: Kanker serviks masih menjadi penyakit yang terbanyak pada wanita di Indonesia. Untuk wilayah ASEAN, insidens kanker serviks di Singapura sebesar 25,0 pada ras Cina; 17,8 pada ras Melayu; dan di Thailand sebesar 23,7 per 100.000 penduduk. Di Indonesia diperkirakan ditemukan 40.000 kasus baru kanker serviks setiap tahunnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik ibu dengan kanker serviks di Bagian Obstetri dan Ginekologi BLU RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado periode 1 Januari 2013 sampai dengan 31 desember 2013.Kata kunci: Kanker serviks, usia, paritas, riwayat pap smear, usia kawin pertama kali
Hubungan Anemia pada Ibu Hamil dengan Kejadian Persalinan Prematur di RSUP Prof Dr. R. D. Kandou Manado Larumpaa, Florensia S.; Suparman, Erna; Lengkong, Rudy
e-CliniC Vol 5, No 1 (2017): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v5i1.14700

Abstract

Abstract: Preterm labor is a labor that occurs at 20-<37 weeks of gestational age calculated from the first day of the last menstrual. Until now the mortality and morbidity of preterm labor is still high. This matter is related with the maturity of the organs in the newborn such as lungs, brain and gastrointestinal tract. There are several factors that cause preterm labor inter alia maternal factor. Pregnant women with anemia potentially have preterm labors. World Health Organization (WHO) estimates that 35–37% of pregnant women in developing countries are anemic during pregnancy. In pregnant women it is important to meet iron needs during pregnancy by supplementation of iron and folic acid. The aim of this study was to determine the correlation between anemia in pregnant women and preterm labor. This was an analytical observational study with a cross-sectional design. Samples were mothers delivered in Obstetrics and Gynecology department at Prof. Dr. R. D. Kandou General Hospital Manado from September until November 2015. The results showed correlation between anemia in pregnant women with preterm labor from 168 samples that met the inclusion criteria (p value = 0.000). Conclusion: There was a significant correlation between anemia in pregnant women and preterm labor.Keywords: anemia, preterm labor, pregnant women Abstrak: Persalinan prematur adalah persalinan yang terjadi antara usia kehamilan 20-<37 minggu dihitung dari hari pertama haid terakhir. Sampai saat ini mortalitas dan morbiditas persalinan prematur masih sangat tinggi. Hal ini berkaitan dengan maturitas organ pada bayi baru lahir seperti paru, otak, dan gastrointestinal. Beberapa faktor dapat menyebabkan terjadinya persalinan prematur diantaranya faktor ibu, dimana ibu hamil dengan anemia berpotensi mengalami persalinan prematur. World Health Organization memperkiran bahwa 35-37% ibu hamil di negara berkembang mengalami anemia selama kehamilannya. Pada ibu hamil penting untuk memenuhi kebutuhan zat besi selama kehamilan dengan suplementasi zat besi dan asam folat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara anemia pada ibu hamil dengan kejadian persalinan prematur. Jenis penelitian ialah analitik observasional dengan desain potong lintang. Sampel penelitian yaitu ibu yang bersalin di Bagian Obstetri dan Ginekologi RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado pada bulan September hingga November 2015. Hasil penelitian dari 168 sampel ibu bersalin yang memenuhi kriteria inklusi menunjukkan terdapat hubungan bermakna antara anemia pada ibu hamil dengan kejadian persalinan prematur (p=0,000). Simpulan: Terdapat hubungan bermakna antara anemia pada ibu hamil dengan kejadian persalinan prematur.Kata kunci: anemia, persalinan prematur, ibu hamil
KARAKTERISTIK PENDERITA PREEKLAMSIA DI RSUP PROF. Dr. R. D. KANDOU MANADO Warouw, Patricia C.; Suparman, Erna; Wagey, Freddy W.
e-CliniC Vol 4, No 1 (2016): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v4i1.10986

Abstract

Abstract: Worldwide there are about 76,000 pregnant women die each year due to preeclampsia and other hypertensive disorders in pregnancy. The incidence rate of preeclampsia in the United States, Canada, and Western Europe ranges from 2-5%. In developing countries, the rate ranges from 4-18% of all pregnancies. In Indonesia, the Maternal Mortality Ratio (MMR) of the period of 2008 to 2012 was 359 deaths per 100,000 live births. The occurrence of preeclampsia in Indonesia is about 3-10% of all pregnancies. This study aimed to determine the characteristics of patients with preeclampsia. This was a retrospective descriptive study. Samples were pregnant women with preeclampsia and had complete medical records at Prof. Dr. R. D. Kandou Hospital during the period of January 1, 2014 until December 31, 2014. The results showed that the number of pregnant women with preeclampsia were 201 people. Mild preeclampsia and severe preeclampsia were most prevalent in the age group of 20-35 years (70% and 61.46%) meanwhile superimposed preeclampsia in the age group of >35 years (78.13%). Preeclampsia was mostly among multiparity. Superimposed preeclampsia was found in 32 cases. Most pregnant women with preeclampsia had a BMI ≥ 30.00. Conclusion: Most preeclampsia cases occured in the age group of 20-35 and> 35 years with multiparity, some had hypertension, and mostly were obese. Keywords: mild preeclampsia, severe preeclampsia, superimposed preeclampsia, age, parity, nutritional status (obesity). Abstrak: Diseluruh dunia sekitar 76.000 wanita hamil meninggal setiap tahun akibat preeklamsia dan gangguan hipertensi lainnya pada kehamilan. Insiden preeklamsia di Amerika Serikat, Kanada, dan Eropa Barat berkisar 2-5% sedangkan di negara berkembang berkisar 4-18% dari semua kehamilan. Di Indonesia Maternal Mortality Ratio (MMR) periode 2008 sampai 2012 sebesar 359 kematian per 100.000 kelahiran hidup. Frekuensi kejadian preeklamsia di Indonesia sekitar 3-10% dari semua jumlah kehamilan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik penderita preeklamsia. Jenis penelitian ini deskriptif retrospektif. Sampel penelitian ialah ibu hamil dengan preeklamsia dan mempunyai data rekam medis lengkap di RSUP Prof. Dr. R.D. Kandou periode 1 Januari 2014 sampai 31 Desember 2014. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jumlah ibu hamil dengan preeklamsia 201 orang. PER dan PEB terbanyak ditemukan pada kelompok usia 20-35 tahun (70% dan 61,46%) sedangkan superimposed PE pada kelompok usia >35 tahun (78,13%). Preeklamsi terbanyak pada paritas multigravida. Superimposed PE berjumlah 32 kasus. Ibu hamil dengan preeklamsia terbanyak memiliki IMT ≥30.00. Simpulan: Preeklamsia terjadi pada kelompok usia 20-35 dan >35 tahun dengan paritas multipara, sebagian dengan riwayat hipertensi, dan sebagian besar disertai obesitas.Kata kunci: preeklamsia ringan, preeklamsia berat, superimposed preeklamsia, usia, paritas, status gizi (obesitas).
Profil Persalinan dengan Plasenta Previa di RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado periode 1 Januari 2015 – 31 Desember 2015 Pawa, Alif F.; Mewengkang, Maya; Suparman, Erna
e-CliniC Vol 5, No 1 (2017): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.5.1.2017.14762

Abstract

Abstract: Placenta previa is a complication of pregnancy in which the placenta is located at the bottom of the uterus, partially or completely covering the cervix. This causes painless vaginal bleeding and some leads to bleeding. The bleeding may be intense enough to threaten mother’s life leading to labor immediately, either elective or emergency. This study was aimed to obtain the profile of labor with placenta previa at Prof. Dr. R. D. Kandou Hospital Manado period 1 January 2015-31 December 2015. The results showed that of 27 cases, the most incidents were in the age group more than equal with 35 years (48.1%). The most parity was 2-4 (74.1%). The incidence of placenta previa with SC history was 25.9%. Based on types of the management, the highest was placenta previa that got expectative management (63%). Based on the classification, total placenta previa amounted to 88.9%. Based on gestational age, aterm was 55.6%. All labors with placenta previa used SCTP. The most indication of labor was inpartu (96.3%). The most labor complication was pre eclampsia (11.1%). Most of the babies were born alive (96.3%). Conclusion: Women who had placenta previa symptoms like bleeding without pain had to be immediately checked into hospitals or Obstetrics and Gynecology specialists to get the optimum management as soon as possible.Keywords: placenta previa, laborAbstrak: Plasenta previa adalah komplikasi kehamilan di mana plasenta terletak di bagian bawah rahim, sebagian atau seluruhnya menutupi leher rahim. Hal ini menyebabkan perdarahan vagina tanpa rasa sakit dan beberapa mengarah ke perdarahan. Perdarahan yang mungkin cukup besar untuk mengancam kehidupan ibu janin membuat persalinan segera, baik secara elektif maupun darurat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran persalinan dengan plasenta previa di RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado periode 1 Januari 2015 – 31 Desember 2015. Hasil penelitian mendapatkan dari 27 kasus, didapatkan insiden terbanyak pada kelompok usia lebih dari dan sama dengan 35 tahun sebanyak 48,1 % kasus. Paritas terbanyak ialah paritas 2-4 sebanyak 74,1%. Kejadian plasenta previa dengan riwayat SC sebanyak 25,9%. Berdasarkan jenis tatalaksana, terbanyak pada plasenta previa yang mendapatkan tatalaksana ekspektatif sebanyak 63%. Berdasarkan klasifikasi, plasenta previa totalis sebanyak 88,9%. Berdasarkan usia kehamilan, aterm sebanyak 55,6%. Semua persalinan pada plasenta previa menggunakan cara SCTP. Indikasi persalinan terbanyak ialah inpartu sebanyak 96,3%. Penyulit persalinan terbanyak ialah preeklampsia dengan 11,1%. Luaran bayi terbanyak ialah lahir hidup sebanyak 96,3%. Simpulan: Wanita yang memiliki gejala plasenta previa seperti perdarahan tanpa nyeri harus segera memeriksakan ke rumah sakit atau dokter spesialis Obstetri dan Ginekologi untuk mendapatkan penanganan optimal sesegera mungkin.Kata kunci: plasenta previa, persalinan
GAMBARAN SINDROMA PREMENSTRUASI DENGAN OBESITAS MAHASISWI FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SAM RATULANGI Rahim, Tiara Faradita; Tendean, Hermie M. M.; Suparman, Erna
e-CliniC Vol 4, No 1 (2016): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.4.1.2016.11031

Abstract

Abstract: Premenstrual syndrome is a set of symptoms associated with the menstrual cycle. Usually appear one to two weeks before the menstrual period and disappeared after the start of menstruation. One of the premenstrual syndrome’s risk factor is the body mass index. The prevalence of premenstrual syndrome in Virginia was 10,3%. Obese women (body mass index ≥30) had nearly a three fold increased risk for premenstrual syndrome than non-obese women. The purpose of this study was to know the description of premenstrual syndrome with obesity in female students of Medical Faculty Sam Ratulangi University. Method used a descriptive with cross sectional approach in 43 female students in Medical Faculty of Sam Ratulangi University that qualify. Based on the research in 43 female students of Medical Faculty Sam Ratulangi University, showed that the most distribution of respondents age was 20 – 22 years old (72,1%), the most of obesity category is obesity type I with BMI 30 – 34,9 kg/m2 (95,3%), and mostly respondents have a premenstrual syndrome with predominant types of symptom was affective symptom.Keyword: premenstrual syndrome, obesityAbstrak: Sindroma premenstruasi merupakan sekumpulan gejala yang muncul terkait dengan siklus menstruasi. Biasanya muncul satu sampai dua minggu sebelum periode menstruasi dan menghilang setelah mulainya menstruasi. Salah satu faktor risiko sindroma premenstruasi adalah indeks massa tubuh. Prevalensi sindroma premenstruasi di Virginia pada 10,3%. Perempuan obesitas (indeks massa tubuh ≥30) mempunyai risiko mengalami sindroma premenstruasi tiga kali lebih besar dibanding perempuan non obesitas. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui gambaran sindroma premenstruasi dengan obesitas mahasiswi Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi. Metode yang digunakan bersifat deskriptif dengan pendekatan cross sectional pada 43 mahasiswi Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi yang memenuhi syarat. Berdasarkan penelitian yang dilakukan pada 43 mahasiswi Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi, didapatkan distribusi usia responden terbanyak antara 20 – 22 tahun (72,1%), kategori obesitas terbanyak adalah obesitas I dengan IMT berkisar antara 30 – 34,9 kg/m2 (95,3%), dan sebagian besar responden mengalami sindroma premenstruasi (81,4%) dengan gejala yang paling dominan muncul adalah gejala afektif.Kata kunci: sindroma premenstruasi, obesitas
KARAKTERISTIK PERSALINAN LETAK SUNGSANG DI RSUP PROF. DR. R. D. KANDOU MANADO PERIODE 1 JANUARI 2014 – 31 DESEMBER 2014 Silinaung, Matricia Delaros G.; Kaeng, Juneke J.; Suparman, Erna
e-CliniC Vol 4, No 1 (2016): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v4i1.10984

Abstract

Abstract: The cause of breech presentation is unknown, but there are some risk factors besides prematurity such as structural abnormality of the uterus, polyhydramnion, placenta previa, multiparity, uterine myoma, multiple pregnancy, fetal anomalies (anencephaly, hydrocephalus), and previous history of breech presentation. Before the age of 28 weeks, the incidence of breech presentation ranges from 25-30%, and most fetus will turn into a cephalic presentation after 34 weeks of gestation. This study aimed to determine the characteristics of breech delivery.This was a descriptive retrospective study using medical records of Prof. Dr. R. D. Kandou Hospital Manado period 1 January 2014 – 31 December 2014. This study obtained 214 cases of breech delivery out of the total of 3,347 deliveries. Breech delivery was most common in multigravida, at the age of 37-41 weeks The most common type of presentation was incomplete breech presentation and the management of labour was mostly per vaginam (spontaneous Bracht). Birthweights were more common in the range of 2500 - 3999 grams and the newborn babies were not asphyxiated. Complications were rarely found, however, there were 15 cases of infant death. Keywords: breech delivery, breech presentation Abstrak: Penyebab terjadinya presentasi bokong tidak diketahui, tetapi terdapat beberapa faktor risiko selain prematuritas, yaitu abnormalitas struktural uterus, polihidramnion, plasenta previa, multiparitas, mioma uteri, kehamilan multiple, anomali janin (anensefali, hidrosefalus), dan riwayat presentasi bokong sebelumnya.Sebelum umur kehamilan 28 minggu, kejadian presentasi bokong berkisar antara 25-30%, dan sebagian besar akan berubah menjadi presentasi kepala setelah umur kehamilan 34 minggu.Tujuan penelitian ini untuk mengetahui karakteristik dari persalinan letak sungsang. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif retrospektif melalui rekam medik di RSUP Prof. dr. R. D. Kandou Manado periode 1 Januari 2014 – 31 Desember 2014. Dari penelitian ini diperoleh 214 kasus persalinan letak sungsang dari total persalinan 3.347 persalinan. Persalinan letak sungsang paling banyak ditemukan pada multigravida, kelompok usia kehamilan 37 – 41 minggu, jenis presentasi bokong kaki (incomplete breech) dengan penanganan paling banyak ialah persalinan pervaginam (spontaneus Bracht). Berat badan lahir bayi letak sungsang paling sering berkisar 2500 – 3999 gram, umumnya bayi tidak mengalami asfiksia. Walaupun jarang ditemukan komplikasi, mortalitas bayi letak sungsang terdapat sebanyak 15 kasus.Kata kunci: persalinan letak sungsang, presentasi letak sungsang
Hipertiroid dalam Kehamilan Suparman, Erna
e-CliniC Vol 9, No 2 (2021): e-CliniC
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v9i2.34907

Abstract

Abstract: Hyperthyroidism in pregnancy could be a hyperthyroid condition that occurred before the pregnancy or acquired during the pregnancy. Hyperthyroidism in pregnancy is associated with adverse conditions for the fetus, mother, and also products of conception. The incidence for hyperthyroidism in pregnancy varies, ranging from 2-17 in 1000 births and accounts for 1-3% for all hyperthyroid cases. Clinical symptoms of hyperthyroidism in pregnancy also varies. Hyperthyroidism in pregnancy sometimes is hard to diagnose because it overlaps with normal pregnancy signs and symptoms. Clinical symptoms that might be found are tachycardia, thyromegaly, exophthalmos, and difficulty to gain weight with adequate food intake. Untreated hyperthyroidism could lead to preeclampsia and congestive heart failure for the mother, and miscarriage, placental abruption, and preterm birth. Therefore, maintaining euthyroidism on a patient is very important. Proper management of hyperthyroidism in pregnancy is very important for both mother and the fetus. Untreated hyperthyroidism could lead to pregnancy-related complications, such as premature birth, growth restriction, and even fetal death.Keywords: hyperthyroidism; pregnancy  Abstrak: Hipertiroid dalam kehamilan dapat merupakan kondisi hipertiroid yang telah ada sebelum terjadi kehamilan, atau kondisi yang didapatkan selama masa kehamilan.Hipertiroid dalam kehamilan dikaitkan dengan kondisi yang merugikan janin, ibu, dan hasil kandungan. Insidensi hipertiroid dalam kehamilan bervariasi, yaitu sekitar 2-17 dalam 1000 kelahiran serta merupakan 1%-3% dari jumlah kasus hipertiroid.Gejala klinis hipertiroid dalam kehamilan bervariasi. Pada kondisi hipertiroid dalam kehamilan, mungkin akan terdapat kesulitan dalam diagnosis, mengingat gejala-gejala dan tanda-tanda yang muncul saat terjadi kehamilan normal.2 Gejala klinis yang mungkin ditemukan ialah takikardia, tiromegali, eksoftalmos, dan tidak bertambahnya berat badan dengan asupan makanan yang memadai. Hipertiroid dalam kehamilan yang tidak ditangani dapat memicu preeklampsia dan gagal jantung kongestif pada ibu, serta meningkatkan risiko keguguran, solusio plasenta dan kelahiran prematur. Oleh karena itu mempertahankan eutiroidisme pada pasien sangatlah penting. Penatalaksanaan hipertiroid yang tepat selama kehamilan sangat penting bagi ibu dan janinnya. Hipertiroid yang tidak diobati dapat menyebabkan komplikasi terkait kehamilan seperti kelahiran prematur, hambatan pertumbuhan, dan bahkan kematian janin.Kata kunci: hipertiroid; kehamilan
Lupus Eritematosus Sistemik (LES) pada Kehamilan Suparman, Erna
e-CliniC Vol 9, No 2 (2021): e-CliniC
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v9i2.35375

Abstract

Abstract: Systemic lupus erythematosus (SLE) is a multi-organ autoimmune disease that can affect women of childbearing age. Pregnancy causes alterations of the immune and neuroendocrine systems. Moreover, SLE in pregnancy is associated with prematurity and preeclampsia. Confirmation of the SLE diagnosis based on anamnesis, physical examination, and laboratory results is essential to differ the similar symptoms of normal pregnancy from pregnancy with SLE, such as preeclampsia, to lupus nephritis due to differences in treatment. The management of SLE in pregnancy has begun to be well understood; therefore, immunosuppressive drugs can be administered according to the indications and fetal safety. It is essential to educate women with SLE to not get pregnant before the 6-months remission period and explain the relative contraindications to pregnancy.Keywords: systemic lupus erythematosus; pregnancy; immunosuppressive  Abstrak: Lupus eritematosus sistemik (LES) merupakan suatu penyakit autoimun multi-organ yang dapat menyerang wanita usia reproduktif. Kehamilan menyebabkan perubahan pada sistem imun dan neuroendokrin. LES pada wanita hamil dihubungkan dengan kejadian kelahiran prematuritas dan preeklamsia. Penentuan diagnosis berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang penting untuk membedakan gejala-gejala yang mirip pada kehamilan normal dengan kehamilan yang disertai LES seperti preeklamsia dengan lupus nefritis karena tatalaksana yang diberikan berbeda. Tatalaksana LES pada kehamilan telah mulai dipahami sehingga pemberian obat-obatan imunosupresif dapat diberikan sesuai dengan indikasi dan keamanan pada janin. Penting untuk mengedukasi wanita dengan LES untuk tidak hamil sebelum melewati masa remisi enam bulan dan menjelaskan kontraindikasi relatif pada kehamilan.Kata kunci: lupus eritematous sistemik; kehamilan; imunosupresif
Gambaran Pengetahuan dan Sikap Wanita Kaum Ibu GMIM Sion Tumaluntung tentang Kanker Serviks Wongkaren, Brenda; Wagey, Frank M. M.; Suparman, Erna
e-CliniC Vol. 13 No. 2 (2025): e-CliniC
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v13i2.61018

Abstract

Abstract: Based on data from WHO, cervical cancer is ranked second among all types of cancer that occur among Indonesian women. Lack of knowledge and the right attitude in dealing with this matter is the basis for an increase in cases of cervical cancer.  This study aimed to obtain an overview of the knowledge and attitude of women from the GMIM Sion Tumaluntung Congregation regarding cervical cancer. This was a quantitative and descriptive study with a cross-sectional design. Sample were obtained by using a random sampling technique of 100 samples who met the criteria. The results showed that 91 respondents (91%) had good level of knowledge about cervical cancer, and nine respondents (9%) had poor level of knowledge. Meanwhile, related to attitudes in this study, 86 respondents (86%) had positive attitude towards preventing cervical cancer, and 14 people (14%) had less positive attitude. In conclusion, the majority of women in the GMIM Sion Tumaluntung Congregation have good knowledge and attitude about cervical cancer. This level of knowledge and good attitude cannot be separated from the influence of several factors such as age, experience, education, work, and sources of information. Keywords: cervical cancer; knowledge; attitude    Abstrak: WHO menyatakan bahwa kanker serviks menduduki ranking kedua diantara semua jenis kanker yang terjadi pada perempuan Indonesia. Kurangnya pengetahuan dan sikap yang tepat dalam menghadapi hal ini menjadi dasar terjandinya peningkatan kasus kanker serviks. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh gambaran pengetahuan dan sikap wanita kaum ibu jemaat GMIM Sion Tumaluntung tentang kanker serviks. Jenis penelitian ini ialah deskriptif kuantitatif dengan desain potong lintang dan menggunakan teknik pengambilan sampel random sampling sebanyak 100 orang yang memenuhi kriteria di Jemaat GMIM Sion Tumaluntung. Hasil penelitian mendapatkan sebanyak 91 responden (91%) dengan tingkat pengetahuan tentang kanker serviks yang baik, dan sembilan orang (9%) lainya memiliki tingkat pengetahuan yang kurang baik. Untuk pengukuran sikap diperoleh respoden sebanyak 86 orang (86%) yang memiliki sikap positif terhadapt pencegahan kanker serviks, dan 14 orang (14%) lainya memiliki sikap yang tidak positif. Simpulan penelitian ini ialah sebagian besar wanita di Jemaat GMIM Sion Tumaluntung memiliki pengetahuan dan sikap yang baik tentang kanker serviks. Tingkat pengetahuan dan sikap yang baik ini tidak lepas dari pengaruh beberapa faktor seperti, usia, pengalaman, pendidikan, perkerjaan, dan sumber informasi. Kata kunci: kanker serviks; pengetahuan; sikap