Claim Missing Document
Check
Articles

Found 12 Documents
Search

Pengembangan Kompetensi Guru Bimbingan Konseling Berbasis Konseling Eklektik Salau, Triati Lestari; Loban, Maria Natalia; Taneo, Joris; Malelak, Erly Oviane; Labre, Benediktus; Malaykari, Febri S. W.
Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat Nusantara Vol. 6 No. 1 (2025): Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat Nusantara Edisi Januari - Maret
Publisher : Lembaga Dongan Dosen

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55338/jpkmn.v6i1.4768

Abstract

Dalam layanan konseling di sekolah, masih terdapat hambatan guru bimbingan dan konseling dalam mengupayakan pengembangan konseling yang kolaboratif. Tentu ini berkaitan dengan masalah kompetensi guru BK dalam mengimlementasikan layanan konseling eklektik. Hal ini juga dapat dilihat dari kurangnya berbagai keterampilan konseling yang tidak dapat dijangkau untuk dipelajari dan dikembangkan. Oleh karena itu, perlu mendapatkan upaya pengembangan yang bersifat pelatihan. PkM ini dilaksanakan dengan metode Participatory Action Research (PAR). Tujuannya untuk mengubah paradigma praktik konseling lama dan konvensional dengan menerapkan paradigma baru dalam konseling, yakni konseling eklektik. Kegiatan yang dilakukan, terdiri dari 1) Need Assessment; 2) Pelatihan berbagai Teknik Konseling Eklektik (Teknik Games, Cybercounseling, dan bibliocunseing); 3) Evaluasi. Sasaran dari kegiatan ini adalah Guru Bimbingan dan Konseling yang terhimpun dalam organisasi Musyawarah Guru Bimbingan dan Konseling (MGBK) di Kabupaten Alor dan dilaksanakan selama 3 hari. Ada dua instrumen yang digunakan, yakni instrumen Pemahaman dan Penguasaan Konsep dan Praktek yang digunakan untuk mengetahui nilai pre test melalui kegiatan need assessment dan post test kemampuan guru BK setelah diberikan pelatihan, kemudian instrumen Penilaian Proses Pelatihan. Hasilnya, rata-rata nilai pre test antara 70-50 %, sedangkan post test mengalami peningkatan rata-rata 22,33-31% atau berkisar dari 91%-94,33%. Rata-rata nilai proses pelatihan berkisar 92,6%, artinya peserta mampu menguasai tahapan Teknik, keterampilan, dan ketepatan dalam simulasi. Secara keseluruhan, kegiatan PkM ini efektif mengembangkan kompetensi Guru BK dalam penerapan konseling eklektik.
KESEJAHTERAAN PSIKOLOGIS MAHASISWA YANG TELAH MENIKAH Dubu, Marlin; Malelak, Erly Oviane; Noach, Yuvine Marlene Cicilia
JKKP (Jurnal Kesejahteraan Keluarga dan Pendidikan) Vol. 8 No. 01 (2021): JKKP (Jurnal Kesejahteraan Keluarga dan Pendidikan)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Negeri Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21009/JKKP.081.06

Abstract

Abstrak Kesejahteraan psikologis merupakan evaluasi seseorang tentang kehidupannya terkait penerimaan dirinya dalam sisi kehidupan yang positif maupun negatif sehingga mendapatkan kepuasan dan kebahagiaan. Mahasiswa yang sudah menikah kemudian berkuliah diperhadapkan dengan peran ganda baik sebagai suami/istri yang perlu menafkahi dan mengurus rumah tangga maupun sebagai mahasiswa dengan berbagai tuntutan akademik yang perlu diselesaikan. Hal ini menjadi tantangan baik dari pribadi mahasiswa sendiri maupun lingkungan eksternal. Penelitian ini bertujuan mengetahui kesejahteraan psikologis mahasiswa yang sudah menikah kemudian berkuliah. Metode penelitian yang digunakan ialah kualitatif. Subjek penelitian ditetapkan menggunakan purposive sampling, jumlah subjek 3 orang mahasiswa dengan kriteria berstatus menikah (menikah kemudian berkuliah), memiliki usia pernikahan di atas 5 tahun, rentang usia 20-50 tahun, dan merupakan mahasiswa jurusan Pastoral Konseling IAKN Kupang. Teknik pengumpulan data yang digunakan observasi dan wawancara. Instrumen penelitian yaitu pedoman wawancara dan observasi. Teknik analisis meliputi data reduction, data display dan conclusion drawing/verification. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mahasiswa yang sudah menikah kemudian berkuliah di Jurusan Pastoral Konseling IAKN Kupang memiliki kesejahteraan psikologis yang baik dilihat dari aspek penerimaan diri, hubungan yang positif dengan sesama, otonomi, penguasaan lingkungan, tujuan hidup dan pertumbuhan pribadi. Kata kunci: kesejahteraan psikologis, kuliah, mahasiswa, menikah The Psychological Well-Being of Married Students Abstract Psychological well-being is an evaluation of a person about his life related to his acceptance of himself in the positive and negative sides of life so as to get satisfaction and happiness. Married students are then faced with a dual role, both as husband / wife who need to support and take care of the household as well as students with various academic demands that need to be resolved. This is a challenge both from the student's own person and the external environment. The purpose of this study was to determine the psychological well-being of students who were married and then went to university. The research method used is qualitative. The research subjects were determined using purposive sampling, the number of subjects was 3 students with the criteria of being married (married then studying), having a marriage age above 5 years, age range 20-50 years, and were students majoring in Pastoral Counseling IAKN Kupang. Data collection techniques used observation and interviews. The research instruments were interview and observation guidelines. Analysis techniques include data reduction, display data and conclusion drawing / verification. The results showed that married students who then studied at the Pastoral Counseling Department of IAKN Kupang had good psychological well-being in terms of self-acceptance, positive relationships with others, autonomy, environmental control, life goals and personal growth. Keywords: married, psychological well-being, students, studying