Claim Missing Document
Check
Articles

GEOKIMIA REGIONAL PULAU SUMATERA CONTO ENDAPAN SUNGAI AKTIF FRAKSI -80 MESH Sabtanto Joko Suprapto
Buletin Sumber Daya Geologi Vol. 3 No. 3 (2008): Buletin Sumber Daya Geologi
Publisher : Pusat Sumber Daya Mineral Batubara dan Panas Bumi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1310.816 KB) | DOI: 10.47599/bsdg.v3i3.169

Abstract

Penyelidikan geokimia dengan metode analisis kandungan unsur conto endapan sungai aktif -80 mesh merupakan salah satu fase awal eksplorasi terutama untuk menemukan endapan mineral logam. Cebakan bahan galian logam, baik yang sudah tersingkap maupun masih berada di bawah permukaan dapat terungkap pada data geokimia yang dihasilkan. Selain dapat menentukan keberadaan endapan bahan galian, sebaran unsur contoh endapan sungai dapat dipergunakan untuk menentukan kondisi lingkungan dari suatu wilayah. Sumatera dengan tataan geologi yang komplek dan merupakan jalur metalogenik potensial terbentuknya endapan logam, menghasilkan rona geokimia yang sangat bervariasi dan menarik. Data geokimia regional yang tertuang dalam bentuk peta sebaran unsur menyajikan informasi awal yang penting tentang indikasi mineralisasi untuk ditindak lanjuti dengan penyelidikan lebih rinci.
TINJAUAN TENTANG UNSUR TANAH JARANG Sabtanto Joko Suprapto
Buletin Sumber Daya Geologi Vol. 4 No. 1 (2009): Buletin Sumber Daya Geologi
Publisher : Pusat Sumber Daya Mineral Batubara dan Panas Bumi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1576.03 KB) | DOI: 10.47599/bsdg.v4i1.173

Abstract

Keterdapatan  unsur tanah  jarang  pada  mineral-mineral  seperti  zirkon,   monasit  dan  xenotim,  di Indonesia sangat langka. Zirkon sebagai mineral ikutan dapat dijumpai pada endapan emas dan timah aluvial, sedangkan monasit dan xenotim terdapat sebagai mineral ikutan pada endapan timah aluvial. Keberadaan mineral mengandung unsur tanah jarang sebagai mineral ikutan, dalam proses penambangan dan pengolahan emas atau timah akan terbawa serta, sehingga mineral-mineral tersebut akan menjadi produk sampingan.Penggunaan logam tanah jarang  memicu berkembangnya teknologi material baru. Perkembangan material ini banyak diaplikasikan di dalam industri untuk meningkatkan kualitas produk. Posisi tanah jarang   pada   masa  datang   yang   semakin   strategis   tersebut   perlu  diupayakan   untuk  dapat dikembangkan secara berkelanjutan mengingat Indonesia mempunyai sumber daya yang potensial untuk diusahakan.
KONSERVASI BAHAN GALIAN UPAYA PEMBANGUNAN BERBASIS GEOLOGI Sabtanto Joko Suprapto
Buletin Sumber Daya Geologi Vol. 1 No. 1 (2006): Buletin Sumber Daya Geologi
Publisher : Pusat Sumber Daya Mineral Batubara dan Panas Bumi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (848.818 KB) | DOI: 10.47599/bsdg.v1i1.191

Abstract

Pengembangan Subsektor pertambangan umum melalui pemanfaatan bahan galian merupakan bagian yang tak terpisahkan dari upaya pemenuhan kebutuhan dasar bagi pembangunan dan kehidupan manusia. Bahan galian sebagai sumber daya alarn tak terbarukan terdapat dalam jumlah yang sangat terbatas, perlu dikelola secara baik agar dapat diperoleh manfaat yang optimal.Konservasi bahan galian merupakan upaya untuk mendapatkan manfaat bahan galian secara optimal, berkelanjutan, berwawasan lingkungan serta dengan mencegah terabaikan dan tersia-siakannya potensi bahangal ian. Bahan galian sebagai sumber daya geologi, memerlukan dukungan data geologi yang lengkap dan akurat untuk dasar penetapan dan pengelolaannya.Sumber day a geologi berupa bahan gal ian umumnya berada di bawah permukaan, oleh karena itu potensipernanfaatannya sangat tergantung pada status peruntukan wilayah/kawasan dalam tataruang daerah maupunnasional, Optimalisasi manfaat sumber day a geologi memerlukan aturan perundang-undangan agar potensiyang ada di permukaan maupun bawah permukaan dapat dikelola secara lebih optimal untuk kepentingan pembangunan masyarakat secara berkelanjutan.
Review Of The Small Scale Gold Mining Practices At Cineam, Tasikmalaya Regency, West Java, Indonesia Hutamadi Hutamadi; Bambang Nugroho Widi; Sabtanto Joko Suprapto
Buletin Sumber Daya Geologi Vol. 2 No. 1 (2007): Buletin Sumber Daya Geologi
Publisher : Pusat Sumber Daya Mineral Batubara dan Panas Bumi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (965.098 KB) | DOI: 10.47599/bsdg.v2i1.196

Abstract

Gold deposit at Cineam area is an epithermal gold deposit of low sulphidation type which lies about 180 km southeast of Bandung at an elevation of 400 meter above the mean sea level. The Cineam deposit is administratively belongs to Cineam Subdistrict , Tasikmalaya Regency, West Java Province, which dominantly occurred within volcanic rocks unit of Jampang Formation. Alterations developed in this area namely propylite, argillic, sericitation, and silisification, occurred in andesitic lava, volcanic breccia, and andesitic to dacitic tuff. The thickness of gold bearing quartz veins are commonly from few cm up to > 20 cm, while for the veins of higher grade of gold content the thickness are about 5 cm or less. The average grade of gold content is around 6 - 10 gr/t Au. Although Cineam gold deposits can not be classified as a big scale deposit, itsmineral genesis has an interesting characteristic to be further studied. The Cineam area representing one of the most prospect areas of gold found in the eastern part of West Java Southern Mountain Range. As the Cineam gold deposit is proportionally suitable for a small scale gold mine, the local government had already gave a mining license to a Family Firm in the form of a Village Unit Cooperation or “KUD” such as KUD Mekarjaya which had also been updated to become a B class of Exploitation License category that permitted for the realization of metallic exploitation. This action was in line with the implementation of Autonomy Policy since the year of 2001.Although KUD Mekarjaya’s mining production is relatively so small but in fact the mining activity is still being maintained to be daily earnings for the local gold miners to rely on. Within the long run of the local gold miners activity at Cineam which has been working since 1968, this condition can give rise to many well skilled and experienced labors in seeking for gold ores, in handling small scale gold mining works, and in obtaining for the bullions. In other side, on thecontrary, there are some negative actions must be kept under control such as the disposal of the waste or tailing directly into the river and the unsafely process of heating the amalgam to obtain the bullion including other improper ways done during the handling of their mining activities. Since the whole mining operation so far generally financed by individual investors it is very likely that small scale gold mining lacks of the capital needed for the mining operation. This condition is what the KUD always facing with so that management and financial matters can be a very serious problem affecting the progress of the KUD Mekarjaya From some presentation given by the CCOP-CASM Meeting in Bandung we can compare the condition of small scale mining in Indonesia. and that from other countries which have conducted good management in mining regulation and policy in relation with licensing, mining workers, tax payment and awareness of environment live in the vicinity of mining areas On account of that event this can be expected to motivate and encourage the policy anddecision makers either locally or centrally throughout Indonesia in giving more attention related to the guidance, monitoring and inspection of the implementation of small scale mining activities which is actually growing in numbers.
GEOKIMIA SEBARAN UNSUR LOGAM PADA ENDAPAN LUMPUR SIDOARJO Sabtanto Joko Suprapto; Rudi Gunradi; Yose Rizal Ramli
Buletin Sumber Daya Geologi Vol. 2 No. 2 (2007): Buletin Sumber Daya Geologi
Publisher : Pusat Sumber Daya Mineral Batubara dan Panas Bumi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1214.278 KB) | DOI: 10.47599/bsdg.v2i2.209

Abstract

Semburan lumpur panas Sidoarjo mulai muncul pada tanggal 29 Mei 2006 di areal persawahan Desa Siring, Kecamatan Porong, Kabupaten Sidoarjo, Provinsi Jawa Timur. Jarak titik semburan sekitar 150 meter arah Barat Daya sumur Banjar Panji I milik PT. Lapindo Brantas yang saat itu sedang dilakukan pemboran vertikal untuk mencapai Formasi Kujung pada kedalaman 10.300 kaki. Fenomena geologi berupa luapan lumpur panas sangat menarik banyak pihak yang mendorong untuk melakukan bermacam kajian. Analisis berbagai parameter untuk mengungkap fenomena yang ada telah memperkaya khasanah kegeologian di Indonesia. Suhu luapan lumpur yang tinggi telah menimbulkan asumsi kemungkinan adanya pengaruh larutan hidrotermal yang ikut terbawa ke luar bercampur bersama luapan lumpur. Sebagai akibatnya maka akan terbawa juga unsur-unsur logam yang umum dijumpai pada larutan hidrotermal terutama yaitu Cu, Pb, Zn, Mn, Fe, Cd, As, Sb, Au, Ag, Hg, dan Se.
TINJAUAN TENTANG CEBAKAN EMAS ALUVIAL DI INDONESIA DAN POTENSI PENGEMBANGAN Sabtanto Joko Suprapto
Buletin Sumber Daya Geologi Vol. 2 No. 2 (2007): Buletin Sumber Daya Geologi
Publisher : Pusat Sumber Daya Mineral Batubara dan Panas Bumi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1134.541 KB) | DOI: 10.47599/bsdg.v2i2.213

Abstract

Cebakan emas aluvial diIndonesiaterdapat terutama pada pulau-pulau besar seperti Sumatera, Kalimantan,Sulawesidan Papua. Sebaran emas aluvial berada pada permukaan atau dekat permukaan, dengan spesifik emas berupa warna dan kilap yang sangat menarik, sehingga keberadaan emas aluvial mudah dikenali, dan umumnya mudah ditemukan dan diusahakan oleh masyarakat setempat.Cebakan emas aluvial dicirikan oleh kondisi endapan sedimen bersifat lepas dengan kandungan logam emas berupa butiran,  dapat ditambang dan diolah dengan cara pemisahan emas secara fisik, menggunakan peralatan sederhana. Optimalisasi pemanfaatan potensi emas aluvial dapat dilakukan dengan menyesuaikan kelayakan sekala usaha yang tepat sesuai dengan dimensi cebakan. Cebakan dengan dimensi relatif kecil tidak bisa menggunakan peralatan berat tetapi dapat dikembangkan untuk pertambangan sekala kecil atau pertambangan rakyat menggunakan peralatan sederhana.Pengembangan potensi cebakan emas aluvial dengan melibatkan pertambangan rakyat harus juga mempertimbangkan aspek perlindungan lingkungan, dengan menghindari terjadinya degradasi lingkungan
TINJAUAN BAHAN GALIAN TERTINGGAL PADA WILAYAH BEKAS TAMBANG DI INDONESIA Sabtanto Joko Suprapto
Buletin Sumber Daya Geologi Vol. 2 No. 3 (2007): Buletin Sumber Daya Geologi
Publisher : Pusat Sumber Daya Mineral Batubara dan Panas Bumi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (13565.428 KB) | DOI: 10.47599/bsdg.v2i3.214

Abstract

            Sejarah pertambangan di Indonesia telah dimulai sejak lebih dari seribu tahun lalu, diawali dengan kedatangan emigran dari Cina yang menambang emas di beberapa wilayah, dilanjutkan pada jaman Hindu, pendudukan Belanda, dan Jepang. Kegiatan pertambangan selain oleh pelaku usaha pertambangan menggunakan peralatan berteknologi tinggi, banyak juga pertambangan rakyat menggunakan peralatan sederhana dengan kapasitas yang sangat terbatas. Kurun waktu panjang kegiatan pertambangan di banyak wilayah telah meninggalkan bekas tambang yang pengakhirannya disebabkan oleh berbagai latar belakang atau alasan.Berakhirnya kegiatan pertambangan tidak selalu disebabkan oleh habisnya sumber daya atau cadangan bahan galian yang diusahakan, namun terdapat faktor yang mempengaruhinya seperti  keterbatasan teknologi, aspek sosial, dan permodalan. Hal tersebut dapat menyebabkan kegiatan penambangan terhenti sehingga memungkinkan adanya bahan galian tertinggal pada wilayah bekas tambang yang masih memiliki peluang untuk dimanfaatkan.
TINJAUAN TAILING SEBAGAI SUMBER DAYA Sabtanto Joko Suprapto
Buletin Sumber Daya Geologi Vol. 2 No. 3 (2007): Buletin Sumber Daya Geologi
Publisher : Pusat Sumber Daya Mineral Batubara dan Panas Bumi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (8699.731 KB) | DOI: 10.47599/bsdg.v2i3.219

Abstract

Tailing dari pengolahan bahan tambang, dapat mengandung bahan-bahan atau mineral-mineral yang berpotensi untuk diusahakan secara ekonomis. Selain mempunyai konotasi sebagai limbah, tailing masih mempunyai prospek untuk kembali diusahakan. Hal ini akibat komoditas tertentu yang terkandung saat proses pengolahan dilakukan belum mempunyai nilai ekonomi, atau harga komoditas tertentu mengalami peningkatan, sehingga yang masih terkandung dalam tailing menjadi bemilai ekonomi. Nilai ekonomi tailing dipengaruhi juga oleh faktor-faktor sekala usaha, perkembangan teknologi, aturan perundangan dan faktor perizinan. Pengelolaan tailing untuk pengembangan usaha pertambangan dapat mempunyai kontribusi signifikan pada pengembangan ekonomi di daerah. Oleh karena itu inventarisasi, evaluasi dan pengembangan sumber daya tailing mempunyai artipenting yang sarna dengan upaya pemanfatan cebakan-cebakan in-situ.
POTENSI DEPOSIT WOLFRAM DI INDONESIA: STUDI KASUS TOBOALI - BANGKA SELATAN Imelda Eva Roturena Hutabarat; Sabtanto Suprapto; Priatna Priatna; Maryono Maryono; Rudiyansah Rudiyansah
Jurnal Teknologi Mineral dan Batubara Vol 19 No 2 (2023): Jurnal Teknologi Mineral dan Batubara Edisi Mei 2023
Publisher : Balai Besar Pengujian Mineral dan Batubara tekMIRA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30556/jtmb.Vol19.No2.2023.1478

Abstract

Bangka island is one of the islands in the Southeast Asian Tin Belt that makes Indonesia the largest tin (Sn) producer in the world. The carrier of wolframite is a by product mineral of the mineral tin (cassiterite). This study aims to study the presence and type of wolfram-as by product in the tin deposits on Bangka island. The research area was conducted on the eastern edge of Klabat Granite in Kepoh Village, Toboali District, South Bangka, at coordinates of 106o 31' 58" BT, 2o 56' 56 " LS. The result shows the presence of wolfram with grade of wolfram in veins reaching 8287 ppm. Wolfram was identified as an associated mineral in the tin mineralization system in Toboali along with rare earth metals (LTJ), molybdenum (Mo) and platinum (Pt). The results of analytical studies (UV, XRF, ICP OES, mineragraphy) on Toboali area minerals show the presence of wolfram in ores, concentrates, slag, and floor crusts. The identified wolfram minerals are wolframite (Fe.Mn)WO4 and scheelite (CaWO4) which are characterized through differences in properties such as color, fluorosence, magnetic, specific gravity and hardness values. The results obtained showed the presence of wolfram in Toboali area with wolfram content of 742 ppm in ore and also in the tin process, specifically in slag II of 1.02%. In addition, wolfram is indicated on the furnace floor and on the anode slime. Indonesia as one of the countries that owns wolfram minerals needs to continue the wolfram extraction process so that Indonesia receive the added value from its minerals.
SEBARAN UNSUR DAN ASOSIASI UNSUR Fe LATERIT BESI DAERAH BLOK X, PT SILO, PULAU SEBUKU, KALIMANTAN SELATAN: ELEMENTAL DISTRIBUTION ANALYSIS AND ELEMENTAL ASSOCIATION OF Fe LATERITC IRON, BLOCK X AREA, PT SILO, SEBUKU ISLAND, SOUTH KALIMANTAN Andri B Situmorang; Suprapto, Sabtanto Joko; W, A. Djumarma; Widhiyatna, Denni; Mutia, Sarah; Cahyadi, Andhi
Buletin Sumber Daya Geologi Vol 19 No 1 (2024): Buletin Sumber Daya Geologi
Publisher : Pusat Sumber Daya Mineral Batubara dan Panas Bumi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47599/bsdg.v19i1.475

Abstract

The study area is located in Blok X, PT SILO, Sebuku Island, South Kalimantan. The geology of the study area is dominated by serpentinized ultramafic rocks, which have a high potential for the formation of lateritic iron minerals. The aim of the investigation of the area was to determine the vertical and horizontal distribution of the element contents and the association of the iron elements. Drilling, sample analyses using XRF, petrography and statistical analyses of correlation matrices and dendrograms were carried out. Fe, Ni, P, Co, Si, Mg, Cr, Al, Mn, Ca, Na, K and Ti were analyzed in 5.150 samples using the XRF method. The high iron content is found in the red limonite zone with 40-55% and in the yellow limonite zone with 40-52%. The lithology of the area with high iron content is ophiolitic ultramafic rock. In the vertical distribution profile, the high iron content is also found in the red limonite - yellow limonite zone. Based on the dendrogram analysis and the correlation matrix, the correlation of the Fe elements in the study area shows that the Fe elements are strongly correlated with the Co, Cr and Mn elements and generally with the Ni elements. Elemental iron is strongly negatively correlated with the elements Si and Mg.