Claim Missing Document
Check
Articles

GEOLOGI, MINERALOGI, DAN GEOKIMIA ENDAPAN BAUKSIT LATERIT DI DESA MUKTI JAYA, KABUPATEN SANGGAU, KALIMANTAN BARAT: GEOLOGY, MINERALOGICAL, AND GEOCHEMICAL LATERITE BAUXITE DEPOSITS IN MUKTI JAYA VILLAGE, SANGGAU DISTRICT, WEST KALIMANTAN Permatasari, Aisha; Sabtanto Joko Suprapto; Priatna; Tatik Handayani; Dedi Sunjaya
Buletin Sumber Daya Geologi Vol 19 No 2 (2024): Buletin Sumber Daya Geologi
Publisher : Pusat Sumber Daya Mineral Batubara dan Panas Bumi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47599/bsdg.v19i2.477

Abstract

The geology of West Kalimantan, especially Sanggau Regency, contains a wide range of acidic to intermediate rocks of Lower Cretaceous age with stable tectonic conditions that meet the requirements for the formation of bauxite on an economical scale. The research area is in Mukti Jaya Village, Sanggau Regency, West Kalimantan Province. This research aims to determine the geology, mineralogical, and geochemical characteristics of bauxite deposits. The research methodology includes geological mapping, test pits, and laboratory analysis using XRF, A total of 390 bauxite samples were analyzed by XRF, 5 bauxite samples were analyzed by XRD, 4 bedrock samples and 2 bauxite samples were analyzed petrographically, and 2 bauxite concretion samples were analyzed mineragraphically. Based on the results of geological mapping, granodirite, quartz diorite and tonalite rocks were found. Bauxite is composed of the minerals quartz, gibbsite, kaolinite, hematite, biotite, boehmite, goethite, diaspor, muscovite, plagioclase, chlorite, and magnetite. From the results of XRF analysis content obtained 16.63% – 52.56% Al2O3; 14.5% – 66.69% TSiO2; 0.47% – 10.2% RSiO2; and 3.56% – 32.92% Fe2O3. The results of the correlation analysis showed a very strong and negatively correlated level of relationship between Al2O3 and TSiO2, as well as a very low level of relationship between Al2O3 and RSiO2. From the results of the regression analysis, it was found that TSiO2 had an effect on Al2O3 and RSiO2 had no effect on Al2O3.
ALTERASI DAN MINERALISASI DI PULAU MERAH, KECAMATAN PESANGGARAN, KABUPATEN BANYUWANGI, PROVINSI JAWA TIMUR Suprapto, Sabtanto Joko; Murdohardono, Dodid; Suparno, Suparno; Abdurahman, Oman; Subekti, Agung Tri
Buletin Sumber Daya Geologi Vol 13 No 2 (2018): Buletin Sumber Daya Geologi
Publisher : Pusat Sumber Daya Mineral Batubara dan Panas Bumi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47599/bsdg.v13i2.70

Abstract

Pulau Merah berada di Desa Sumberagung, Kecamatan Pesanggaran, Kabupaten Banyuwangi, pada jarak sekitar 200 meter dari garis pantai Desa Sumberagung, memiliki indikasi mineralisasi logam. Penelitian di Pulau Merah bertujuan untuk mendapatkan tipe mineralisasi dan alterasi, serta sebaran tubuh bijih. Metodologi penelitian yang digunakan terdiri dari pengamatan litologi, alterasi, mineralisasi, dan pengambilan conto batuan untuk analisis kandungan mineral dan kimia. Morfologi Pulau Merah berbentuk bukit kecil. Pada tebing bagian timur menghadap laut dangkal yang dapat diseberangi saat laut surut, terdapat singkapan luas batuan teralterasi dan mineralisasi. Pada bagian tenggara sampai bagian tengah terdapat singkapan cebakan tembaga porfiri, di bagian utara terdapat singkapan cebakan emas epitermal tipe high sulphidation. Cebakan tembaga porfiri mempunyai kadar 0,32% s.d. 2,14% Cu, 285 ppb s.d. 1.502 ppb Au, 1,4 ppm s.d. 9,4 ppm Ag dan 2 ppm s.d. 4 ppm Mo. Cebakan emas epitermal high sulphidation mempunyai kadar 189 ppb s.d. 1.843 ppb Au, 1 ppm s.d. 21,4 ppm Ag dan 24 ppm s.d. 123 ppm As. Pulau Merah sesuai dengan Undang-undang Nomor 1 tahun 2014 Tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-pulau Kecil, termasuk ke dalam kriteria Pulau Kecil, oleh karena itu tidak dapat dimanfaatkan untuk kegiatan tambang. Obyek langka Pulau Merah berupa cebakan tembaga dan cebakan emas yang mudah dijangkau dan merupakan bagian dari tujuan wisata maka layak untuk dapat  dijadikan cagar alam geologi.
ZONASI POTENSI MINERALISASI BESI-TEMBAGA-TIMBAL-SENG GUNAKAN DATA GEOKIMIA DAN GEOLOGI BERBASIS SISTEM INFORM GEOGRAFIS DI KABUPATEN SOLOK, PROVINSI SUMATERA BARAT Suprapto, Sabtanto Joko; Syafri, Iidrem; Andriana, Yoga
Buletin Sumber Daya Geologi Vol 9 No 1 (2014): Buletin Sumber Daya Geologi
Publisher : Pusat Sumber Daya Mineral Batubara dan Panas Bumi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47599/bsdg.v9i1.117

Abstract

Kabupaten Solok, Provinsi Sumatra Barat mempunyai potensi sumberdaya minerallogam. Studi ini bertujuan untuk menentukan daerah potensi mineralisasi mineral logam Fe-Cu-Pb-Zn di Kabupaten Solok dengan menggunakan kombinasi model statistik rasio frekuensi dan sistem informasi geografis. Analisis dilakukan terhadap data sebaran litologdan struktur geologi serta data 4 jenis unsur unsur dari 433 sampel geokimia endapan sungai aktif. Hasil kajian menghasilkan sebaran spasial sebelas daerah potensi mineralisaslogam Fe-Cu-Pb-Zn. Penelitian lapangan dilakukan di daerah potensi Pisauilang, Kotanarudan Air Bertumbuk, ditemukan cebakan bijih besi di tiga lokasi dengan Fe sebagai unsupenyusun utama serta Cu, Pb, dan Zn, sebagai unsur ikutan. Kandungan bijih besi berupa Fe 18,15-70,9 %, Cu 0,025-2,34 %, Pb <0,001-0,004%, dan Zn 0,033-0,58%.
TINJAUAN REKLAMASI LAHAN BEKAS TAMBANG DAN ASPEK KONSERVASI BAHAN GALIAN Suprapto, Sabtanto Joko
Buletin Sumber Daya Geologi Vol 3 No 1 (2008): Buletin Sumber Daya Geologi
Publisher : Pusat Sumber Daya Mineral Batubara dan Panas Bumi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47599/bsdg.v3i1.153

Abstract

Masalah utama yang timbul pada wilayah bekas tambang adalah perubahan lingkungan. Perubahan kimiawi terutama berdampak terhadap  air  tanah  dan air permukaan, berlanjut  secara fisik perubahan morfologi  dan  topografi  lahan.  Lebih  jauh  lagi  adalah perubahan iklim  mikro yang  disebabkan perubahan kecepatan  angin, gangguan habitat  biologi berupa flora  dan  fauna, serta penurunan  produktivitas  tanah dengan  akibat menjadi tandus  atau  gundul. Mengacu  kepada perubahan tersebut perlu  dilakukan upaya reklamasi. Selain bertujuan untuk mencegah erosi atau mengurangi kecepatan aliran air limpasan, reklamasi dilakukan  untuk  menjaga  lahan  agar  tidak labil  dan  lebih  produktif. Akhirnya  reklamasi diharapkan menghasilkan  nilai  tambah bagi lingkungan dan  menciptakan  keadaan  yang  jauh lebih  baik dibandingkan dengan keadaan sebelumnya.
POTENSI, PROSPEK DAN PENGUSAHAAN TIMAH PUTIH DI INDONESIA Suprapto, Sabtanto Joko
Buletin Sumber Daya Geologi Vol 3 No 2 (2008): Buletin Sumber Daya Geologi
Publisher : Pusat Sumber Daya Mineral Batubara dan Panas Bumi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47599/bsdg.v3i2.158

Abstract

Timah putih di alam dijumpai dalam bentuk cebakan primer dan sekunder. Cebakan sekunder merupakan sumber daya utama, yaitu berupa cebakan letakan terdapat pada tanah residu dari cebakan primer, dan berupa cebakan aluvial darat maupun lepas pantai. Pengusahaan timah putih telah berlangsungratusan tahun, dengan meninggalkan wilayah bekas tambang yang umumnya sampai saat ini masih diusahakan kembali oleh masyarakat maupun pelaku usaha pertambangan sekala kecil maupun besar.Penambangan di lepas pantai dengan kapasitas jangkauan kedalaman terbatas sekitar 50 meter,masih meninggalkan sumber daya yang terdapat pada kedalaman yang lebih besar. Kebutuhan dunia yang meningkat disertai kecenderungan harga yang terus meningkat sangat tajam menyebabkan cut off grade (COG) semakin turun, sebagai akibatnya sumber daya kadar rendah mempunyai nilai ekonomi untuk diusahakan. Pengusahaan sumber daya timah putih dapat dilakukan dengan peralatan sangat sederhana, atau menggunakan teknologi tinggi, sehingga dapat digunakan untuk lahan pengembangan usahapertambangan rakyat sekala kecil maupun usaha pertambangan sekala besar.Indonesia sebagai negara eksportir timah putih terbesar di dunia, berpeluang untuk menjadi pengendali harga timah di pasar dunia. Pemanfaatan timah putih untuk konsumsi domestik yang lebih besar akan memberikan nilai tambah berganda dan efek berganda terhadap pertumbuhan industri di dalam negeridan penyediaan lapangan kerja.
GEOKIMIA REGIONAL PULAU SUMATERA CONTO ENDAPAN SUNGAI AKTIF FRAKSI -80 MESH Suprapto, Sabtanto Joko
Buletin Sumber Daya Geologi Vol 3 No 3 (2008): Buletin Sumber Daya Geologi
Publisher : Pusat Sumber Daya Mineral Batubara dan Panas Bumi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47599/bsdg.v3i3.169

Abstract

Penyelidikan geokimia dengan metode analisis kandungan unsur conto endapan sungai aktif -80 mesh merupakan salah satu fase awal eksplorasi terutama untuk menemukan endapan mineral logam. Cebakan bahan galian logam, baik yang sudah tersingkap maupun masih berada di bawah permukaan dapat terungkap pada data geokimia yang dihasilkan. Selain dapat menentukan keberadaan endapan bahan galian, sebaran unsur contoh endapan sungai dapat dipergunakan untuk menentukan kondisi lingkungan dari suatu wilayah. Sumatera dengan tataan geologi yang komplek dan merupakan jalur metalogenik potensial terbentuknya endapan logam, menghasilkan rona geokimia yang sangat bervariasi dan menarik. Data geokimia regional yang tertuang dalam bentuk peta sebaran unsur menyajikan informasi awal yang penting tentang indikasi mineralisasi untuk ditindak lanjuti dengan penyelidikan lebih rinci.
TINJAUAN TENTANG UNSUR TANAH JARANG Suprapto, Sabtanto Joko
Buletin Sumber Daya Geologi Vol 4 No 1 (2009): Buletin Sumber Daya Geologi
Publisher : Pusat Sumber Daya Mineral Batubara dan Panas Bumi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47599/bsdg.v4i1.173

Abstract

Keterdapatan  unsur tanah  jarang  pada  mineral-mineral  seperti  zirkon,   monasit  dan  xenotim,  di Indonesia sangat langka. Zirkon sebagai mineral ikutan dapat dijumpai pada endapan emas dan timah aluvial, sedangkan monasit dan xenotim terdapat sebagai mineral ikutan pada endapan timah aluvial. Keberadaan mineral mengandung unsur tanah jarang sebagai mineral ikutan, dalam proses penambangan dan pengolahan emas atau timah akan terbawa serta, sehingga mineral-mineral tersebut akan menjadi produk sampingan.Penggunaan logam tanah jarang  memicu berkembangnya teknologi material baru. Perkembangan material ini banyak diaplikasikan di dalam industri untuk meningkatkan kualitas produk. Posisi tanah jarang   pada   masa  datang   yang   semakin   strategis   tersebut   perlu  diupayakan   untuk  dapat dikembangkan secara berkelanjutan mengingat Indonesia mempunyai sumber daya yang potensial untuk diusahakan.
KONSERVASI BAHAN GALIAN UPAYA PEMBANGUNAN BERBASIS GEOLOGI Suprapto, Sabtanto Joko
Buletin Sumber Daya Geologi Vol 1 No 1 (2006): Buletin Sumber Daya Geologi
Publisher : Pusat Sumber Daya Mineral Batubara dan Panas Bumi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47599/bsdg.v1i1.191

Abstract

Pengembangan Subsektor pertambangan umum melalui pemanfaatan bahan galian merupakan bagian yang tak terpisahkan dari upaya pemenuhan kebutuhan dasar bagi pembangunan dan kehidupan manusia. Bahan galian sebagai sumber daya alarn tak terbarukan terdapat dalam jumlah yang sangat terbatas, perlu dikelola secara baik agar dapat diperoleh manfaat yang optimal.Konservasi bahan galian merupakan upaya untuk mendapatkan manfaat bahan galian secara optimal, berkelanjutan, berwawasan lingkungan serta dengan mencegah terabaikan dan tersia-siakannya potensi bahangal ian. Bahan galian sebagai sumber daya geologi, memerlukan dukungan data geologi yang lengkap dan akurat untuk dasar penetapan dan pengelolaannya.Sumber day a geologi berupa bahan gal ian umumnya berada di bawah permukaan, oleh karena itu potensipernanfaatannya sangat tergantung pada status peruntukan wilayah/kawasan dalam tataruang daerah maupunnasional, Optimalisasi manfaat sumber day a geologi memerlukan aturan perundang-undangan agar potensiyang ada di permukaan maupun bawah permukaan dapat dikelola secara lebih optimal untuk kepentingan pembangunan masyarakat secara berkelanjutan.
Review Of The Small Scale Gold Mining Practices At Cineam, Tasikmalaya Regency, West Java, Indonesia Hutamadi, Hutamadi; Widi, Bambang Nugroho; Suprapto, Sabtanto Joko
Buletin Sumber Daya Geologi Vol 2 No 1 (2007): Buletin Sumber Daya Geologi
Publisher : Pusat Sumber Daya Mineral Batubara dan Panas Bumi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47599/bsdg.v2i1.196

Abstract

Gold deposit at Cineam area is an epithermal gold deposit of low sulphidation type which lies about 180 km southeast of Bandung at an elevation of 400 meter above the mean sea level. The Cineam deposit is administratively belongs to Cineam Subdistrict , Tasikmalaya Regency, West Java Province, which dominantly occurred within volcanic rocks unit of Jampang Formation. Alterations developed in this area namely propylite, argillic, sericitation, and silisification, occurred in andesitic lava, volcanic breccia, and andesitic to dacitic tuff. The thickness of gold bearing quartz veins are commonly from few cm up to > 20 cm, while for the veins of higher grade of gold content the thickness are about 5 cm or less. The average grade of gold content is around 6 - 10 gr/t Au. Although Cineam gold deposits can not be classified as a big scale deposit, itsmineral genesis has an interesting characteristic to be further studied. The Cineam area representing one of the most prospect areas of gold found in the eastern part of West Java Southern Mountain Range. As the Cineam gold deposit is proportionally suitable for a small scale gold mine, the local government had already gave a mining license to a Family Firm in the form of a Village Unit Cooperation or “KUD” such as KUD Mekarjaya which had also been updated to become a B class of Exploitation License category that permitted for the realization of metallic exploitation. This action was in line with the implementation of Autonomy Policy since the year of 2001.Although KUD Mekarjaya’s mining production is relatively so small but in fact the mining activity is still being maintained to be daily earnings for the local gold miners to rely on. Within the long run of the local gold miners activity at Cineam which has been working since 1968, this condition can give rise to many well skilled and experienced labors in seeking for gold ores, in handling small scale gold mining works, and in obtaining for the bullions. In other side, on thecontrary, there are some negative actions must be kept under control such as the disposal of the waste or tailing directly into the river and the unsafely process of heating the amalgam to obtain the bullion including other improper ways done during the handling of their mining activities. Since the whole mining operation so far generally financed by individual investors it is very likely that small scale gold mining lacks of the capital needed for the mining operation. This condition is what the KUD always facing with so that management and financial matters can be a very serious problem affecting the progress of the KUD Mekarjaya From some presentation given by the CCOP-CASM Meeting in Bandung we can compare the condition of small scale mining in Indonesia. and that from other countries which have conducted good management in mining regulation and policy in relation with licensing, mining workers, tax payment and awareness of environment live in the vicinity of mining areas On account of that event this can be expected to motivate and encourage the policy anddecision makers either locally or centrally throughout Indonesia in giving more attention related to the guidance, monitoring and inspection of the implementation of small scale mining activities which is actually growing in numbers.
GEOKIMIA SEBARAN UNSUR LOGAM PADA ENDAPAN LUMPUR SIDOARJO Suprapto, Sabtanto Joko; Gunradi, Rudi; Ramli, Yose Rizal
Buletin Sumber Daya Geologi Vol 2 No 2 (2007): Buletin Sumber Daya Geologi
Publisher : Pusat Sumber Daya Mineral Batubara dan Panas Bumi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47599/bsdg.v2i2.209

Abstract

Semburan lumpur panas Sidoarjo mulai muncul pada tanggal 29 Mei 2006 di areal persawahan Desa Siring, Kecamatan Porong, Kabupaten Sidoarjo, Provinsi Jawa Timur. Jarak titik semburan sekitar 150 meter arah Barat Daya sumur Banjar Panji I milik PT. Lapindo Brantas yang saat itu sedang dilakukan pemboran vertikal untuk mencapai Formasi Kujung pada kedalaman 10.300 kaki. Fenomena geologi berupa luapan lumpur panas sangat menarik banyak pihak yang mendorong untuk melakukan bermacam kajian. Analisis berbagai parameter untuk mengungkap fenomena yang ada telah memperkaya khasanah kegeologian di Indonesia. Suhu luapan lumpur yang tinggi telah menimbulkan asumsi kemungkinan adanya pengaruh larutan hidrotermal yang ikut terbawa ke luar bercampur bersama luapan lumpur. Sebagai akibatnya maka akan terbawa juga unsur-unsur logam yang umum dijumpai pada larutan hidrotermal terutama yaitu Cu, Pb, Zn, Mn, Fe, Cd, As, Sb, Au, Ag, Hg, dan Se.