Claim Missing Document
Check
Articles

Found 12 Documents
Search
Journal : Interaksi Online

PENGARUH KOMUNIKASI PERSUASIF GURU DAN MOTIVASI BELAJAR SISWA TERHADAP PRESTASI SISWA PADA MATA PELAJARAN BAHASA JAWA DAMAYANTI, ASTRID; Suprihatini, Taufik; Pradekso, Tandiyo
Interaksi Online Vol 2, No 2: April 2013
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRACTTITLE : THE INFLUENCE OF PERSUASIVE COMMUNICATIONAND STUDENT MOTIVATION TO STUDY JAVANESETOWARD STUDENT ACHIEVEMENT AT THE SUBJECTNAME : ASTRID DAMAYANTINIM : D2C006013Javanese is one of the significant subject that is learned in every junior highschool. However, the students tend to disparage this subject that bring them not tounderstand how the language works. Javanese is considered as traditional and oldfashioned one that make students not interested and feel lazy to study it.This research has been done to found out the influence of persuasivecommunication by teacher and the students motivation to study Javanese toward theirachievement at the subject. Theory that used in this research is about persuasivecommunication by Effendy (1992: 12). The research itself is explanatory one withquantitative approach. The population taken in this research are students from 9th and10th grade of junior high school (SMP) in Semarang Tengah. The sample is taken bystratified proporsional random sampling while the sample itself is 96 persons.Meanwhile, the data is analyzed by regression test of quantitative analysis that usedcalculation from SPSS program (Statistical Product and Service Solution).The result indicates that persuasive communication by teacher (X1) hasinfluenced towards students achievement at Javanese (Y). It can be evidenced bycalculation with statistical test that obtained error probability (sig) 0,000 (<0,05) andR square value is 0.191. It means that persuasive communication by teacher hasinfluenced students achievement 19,1%. Meanwhile, students motivation to study(X2) has also influenced their achievement at Javanese (Y). It can be evidenced byhypothesis test that obtained error probability (sig) 0,000 (<0,05) and R square valueis 14,1%. Regression test indicated that 19,1% and 14,1 % of the study achievementfactors can be explained by persuasive communication by teacher and studentsmotivation to study, while the others 66,8% by other factors that was not be studiedin the research, like intelligence, maturity, and family factor.Keywords : Persuasive, Motivation, AchievementABSTRAKSIJUDUL : PENGARUH KOMUNIKASI PERSUASIF GURU DAN MOTIVASIBELAJAR SISWA TERHADAP PRESTASI SISWA PADA MATAPELAJARAN BAHASA JAWANAMA : ASTRID DAMAYANTINIM : D2C006013Mata pelajaran bahasa Jawa merupakan salah satu pelajaran yang penting dan ada didalam kurikulum setiap sekolah menengah. Akan tetapi, tak banyak siswa yang bisa menguasaipelajaran ini. Hal tersebut disebabkan karena siswa memiliki kecenderungan sikap meremehkanbahasa Jawa, karena bahasa Jawa dipandang sebagai bahasa tradisional yang kuno, danketinggalan jaman. Sehingga membuat siswa menjadi tidak tertarik dan malas untukmempelajarinya.Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh komunikasi persuasif guru danmotivasi belajar siswa terhadap prestasi siswa pada mata pelajaran bahasa Jawa. Teori yagdigunakan untuk mendukung penelitian ini adalah konsep komunikasi persuasif dari Effendy(Effendy, 1992: 12). Penelitian ini merupakan penelitian bertipe eksplanatori dengan pendekatankuantitatif. Populasi dalam penelitian ini adalah siswa SMP Negeri kelas IX dan X yangbersekolah di wilayah kecamatan Semarang Tengah. Teknik sampling yang digunakan dalampengambilan sampel adalah stratified proporsional random sampling dengan jumlah sampelsebanyak 96 orang. Adapun teknik analisis data yang digunakan adalah analisis kuantitatifdengan uji regresi yang menggunakan perhitungan dengan program SPSS (Statistical Productand Service Solution).Hasil penelitian menunjukan bahwa komunikasi persuasif guru (X1) berpengaruhterhadap prestasi siswa pada mata pelajaran bahasa Jawa (Y). Hal ini dibuktikan berdasarkanperhitungan melalui uji statistik dimana diperoleh probabilitas kesalahan (sig) sebesar 0,000(<0,05) dengan nilai R square sebesar 0.191. Artinya, komunikasi persuasif guru mempengaruhiprestasi siswa sebesar 19,1%. Sedangkan untuk variabel motivasi belajar siswa (X2) ternyatajuga berpengaruh terhadap prestasi siswa pada mata pelajaran bahasa Jawa (Y). Hal iniberdasarkan data uji hipotesis, diperoleh probabilitas kesalahan (sig) sebesar 0,000 (<0,05)dengan nilai R square sebesar 0,141. Artinya, bahwa motivasi belajar siswa mempengaruhiprestasi siswa sebesar 14,1%. Hasil uji regresi menunjukkan bahwa 19,1% dan 14,1 % faktorfaktorprestasi belajar dijelaskan oleh komunikasi persuasif guru dan motivasi belajar siswa,sedangkan sisanya 66,8% dijelaskan oleh faktor- faktor lain yang tidak diteliti dalam penelitianini, seperti kecerdasan siswa, kematangan individu, dan kondisi keluarga.Key Words : Persuasif, Motivasi, PrestasiPENDAHULUANPeran seorang guru yang mengajar di dalam kelas sangat menentukan prestasi akademikpara siswanya. Guru sebagai komunikator dan siswa sebagai komunikan harus mempunyaikesamaan makna agar proses belajar mengajar dapat berjalan dengan maksimal, atau dengan katalain isi pesan yang disampaikan komunikator dapat tersampaikan oleh komunikan. Komunikasiantara guru dan siswa menunjukkan proses dimana orang-orang yang terlibat didalamnya salingmempengaruhi. Suatu komunikasi bisa dikatakan efektif apabila dapat mencapai tujuan atausasaran sesuai dengan maksud si pembicara.Akan tetapi dalam kenyataannya tidak jarang hubungan guru dan siswa di dalam kelaskurang berjalan sebagaimana mestinya, dimana siswa mengalami kesulitan memahami materipelajaran saat berlangsungnya kegiatan belajar mengajar. Mata pelajaran bahasa Jawa bukanlahpelajaran yang baru bagi para siswa, karena pelajaran ini mulai diterima oleh siswa semenjakmereka berada di Sekolah Dasar (SD), artinya hingga lulus SD mereka sudah 6 tahunmempelajari bahasa Jawa. Namun kenyataannya, tak banyak siswa yang bisa menguasaipelajaran ini. Hal tersebut disebabkan karena siswa memiliki kecenderungan sikap meremehkanbahasa Jawa, karena bahasa Jawa dipandang sebagai bahasa tradisional yang kuno, danketinggalan jaman.Persoalan ini tidak jarang membuat siswa merasa kesulitan saat berlangsungnya kegiatanbelajar mengajar. Sehingga membuat siswa menjadi tidak tertarik dan malas untukmempelajarinya. Dapat dilihat selama beberapa tahun terakhir di Semarang, nilai rata-rata bahasaInggris di sejumlah sekolah justru lebih tinggi dari nilai mereka dalam bahasa Jawa. Hal tersebutdapat terlihat pada rendahnya nilai siswa pada mata pelajaran bahasa Jawa di sekolah-sekolah.Nilai rata-rata untuk bahasa Inggris adalah 60,73, sedangkan nilai rata-rata untuk bahasa Jawahanya 51,02. (www.jatenginfo.web.id, 1 Okt 2011: 20.41). Di dalam memperoleh prestasiakademik, siswa memerlukan motivasi di dalam dirinya. Motif-motif penyebab timbulnyamotivasi bagi siswa bisa bermacam-macam. Reward yang diberikan bagi siswa apabila siswamencapai tingkat prestasi tertentu adalah salah satu motif didalam berprestasi.Melihat fenomena yang menunjukan rendahnya nilai dan ketertarikan siswa pada matapelajaran bahasa Jawa, peneliti tertarik untuk melakukan penelitian mengenai pengaruhkomunikasi persuasif guru dan motivasi belajar terhadap prestasi akademik siswa pada matapelajaran bahasa Jawa.PEMBAHASANBeberapa teori yang terkait dengan tujuan penelitian diatas, yaitu:Menurut Effendy, komunikasi persuasif adalah penyampaian pesan yang dilakukan olehkomunikator sedemikian rupa dengan tujuan untuk mengubah sikap, pendapat, atau perilakukomunikan (Effendy, 1992: 12). Komunikasi persuasif juga didefinisikan sebagai perubahansikap akibat paparan informasi dari orang lain. Setiap informasi mempunyai potensi besar dalammempengaruhi sistem sikap dan perilaku seseorang. Sikap dan perilaku seseorang dapat berubahdengan adanya tambahan informasi baru(Werner dan James, 2008: 177) Dalam teoripenggabungan informasi, dikatakan bahwa perubahan sikap seseorang dapat terjadi ketika adatambahan informasi-informasi baru. Sama halnya ketika proses belajar mengajar berlangsung,dimana guru mengkomunikasikan informasi berupa materi pelajaran bahasa Jawa, yangkemudian informasi baru tersebut diterima siswa dan dipercayai oleh siswa, sehingga merubahsikap siswa yang menerima informasi tersebut (Littlejohn, 2009: 111-112). Informasi yangdisampaikan komunikator merupakan informasi yang berupa bujukan (persuasi) dengan tujuanagar komunikan mengubah sikap dan perilakunya sesuai dengan keinginan komunikator.Berdasarkan definisi di atas, jadi komunikasi persuasif guru saat mengajar adalahpenyampaian pesan yang dilakukan oleh guru dengan tujuan mengubah sikap, pendapat, atauperilaku siswa. Dalam hal ini guru, tentu menginginkan agar prestasi belajar siswa berupa nilaimata pelajaran menjadi semakin baik. Dimana prestasi itu sendiri diartikan oleh Djamarahsebagai perubahan sikap, pengetahuan dan ketrampilan siswa sebagai hasil dari interaksi denganpara guru di sekolah (Djamarah, 1994: 23), dan prestasi juga diartikan sebagai hasil yang telahdicapai atau diperoleh siswa berupa nilai mata pelajaran (Nurkencana, 1986 : 62). Maka prestasisiswa merupakan perubahan sikap, pengetahuan, dan keterampilan siswa berupa nilai matapelajaran sebagai hasil dari interaksi dengan para guru di sekolah. Berdasarkan pengertian di atasdapat disimpulkan, komunikasi persuasif guru saat mengajar adalah penyampaian pesan yangdilakukan oleh guru dengan tujuan mengubah prestasi siswa.Untuk membangkitkan semangat dan kegairahan para siswa dalam belajar bahasa Jawa,diperlukan adanya motivasi atau dorongan dengan harapan para siswa tertarik dan memilikisemangat yang tinggi dalam belajar bahasa Jawa. Motivasi belajar adalah keinginan ataudorongan untuk belajar. Didalam kegiatan belajar mengajar motivasi sangat diperlukan karenamotivasi dapat mendorong siswa untuk melakukan aktivitas-aktivitas tertentu yang berhubungandengan kegiatan belajar mengajar. Siswa dengan motivasi belajar rendah mengerjakan tugassekolah akan menjadi malas bahkan tidak dikerjakan sehingga mencapai prestasi yang rendah,begitu juga sebaliknya (Ghozali, 1984: 40).Secara konseptual dan operasional, ketiga variabel pada penelitan ini memiliki definisidan indikator sebagai berikut:1. Komunikasi persuasif guru adalah penyampaian pesan berupa ilmu pengetahuan daripendidik kepada peserta didik dengan cara tertentuIndikator: Pemilihan BahasaGuru menyampaikan materi menggunakan bahasa yang sederhana dan mudahdimengerti PengulanganGuru mengulang materi yang telah disampaikan sebelumnya InteraktifGuru melibatkan siswa untuk aktif di dalam kelas EvaluasiGuru memberikan evaluasi belajar InovasiGuru menggunakan media dalam menyampaikan materi2. Motivasi belajar diartikan sebagai serangkaian usaha yang dilakukan siswa gunamencapai hasil atau tujuan tertentuIndikator: Frekuensi belajarTingkat keseringan siswa belajar bahasa Jawa Durasi belajarLama waktu belajar bahasa Jawa3. Prestasi adalah hasil belajar yang menunjukan ukuran kecakapan yang dicapai dalambentuk nilaiIndikator: Nilai mata pelajaran bahasa Jawa siswa di sekolahTipe penelitian yang digunakan adalah penelitian eksplanatori, yaitu penelitian yangbertujuan untuk menguji hipotesis mengenai hubungan kausal antar variabel yang diteliti, yaitupengaruh komunikasi persuasif guru (X1) dan motivasi belajar siswa (X2) terhadap prestasi siwapada mata pelajaran bahasa Jawa (Y). Populasi dalam penelitian ini adalah siswa SMP Negerikelas IX dan X yang bersekolah di wilayah kecamatan Semarang Tengah, yaitu SMPN 3, SMPN7, SMPN 32, SMPN 36, dan SMPN 38. Teknik sampling yang digunakan dalam pengambilansampel adalah stratified proporsional random sampling suatu sampel yang diambil denganmemilih responden secara proporsional dari populasi sasaran yaitu siswa SMPN kelas IX dan Xdari sekolah-sekolah yang berada di kecamatan Semarang Tengah dengan jumlah sampelsebanyak 96 orang..Digunakan analisis yang bersifat kuantitatif untuk menguji pengaruh dari komunikasipersuasif guru dan motivasi belajar siswa (variabel X) terhadap prestasi siwa pada mata pelajaranbahasa Jawa (variabel Y). Adapun teknik analisis data yang digunakan adalah analisis kuantitatifdengan uji statistik yang menggunakan uji regresi dengan menggunakan perhitungan denganprogram SPSS (Statistical Product and Service Solution).Hasil penelitian menunjukan bahwa uji hipotesis untuk pengaruh variabel komunikasipersuasif guru (X1) terhadap prestasi siswa (Y) menunjukkan bahwa regresi signifikan. Haltersebut ditunjukkan dengan nilai p-value sebesar 0,00. Dengan demikian regresi dikatakansignifikan pada taraf 99% karena 0,000 < 0,01. Maka Ho ditolak dan Ha diterima, yakni variabelkomunikasi persuasif guru memiliki pengaruh signifikan terhadap prestasi siswa. Hasil ujiregresi menunjukkan bahwa nilai R Square yang diperoleh sebesar 0,191, yaitu bahwa kontribusipengaruh variabel komunikasi persuasif guru terhadap variabel prestasi siswa adalah sebesar19,1%.Sedangkan, hasil uji hipotesis untuk pengaruh motivasi belajar siswa (X1) terhadapprestasi siswa (Y) menunjukkan bahwa regresi signifikan. Hal tersebut ditunjukkan dengan nilaip-value sebesar 0,00. Dengan demikian regresi dikatakan signifikan pada taraf 99% karena 0,000< 0,01. Maka Ho ditolak dan Ha diterima, yakni variabel motivasi belajar siswa memilikipengaruh signifikan terhadap prestasi siswa. Hasil uji regresi menunjukkan bahwa nilai R Squareyang diperoleh sebesar 0,141, yaitu bahwa kontribusi pengaruh variabel motivasi belajar siswaterhadap variabel prestasi siswa adalah sebesar 14,1%.Dalam penelitian ini pengaruh komunikasi persuasif guru terhadap prestasi siswadijelaskan dengan menggunakan pendapat dari Effendy, Djamarah, dan Nurkencana, yangmengatakan bahwa komunikasi persuasif guru adalah penyampaian pesan yang dilakukan olehguru dengan tujuan mengubah prestasi siswa. Adapun pengertian prestasi dalam hal inimerupakan perubahan sikap, pengetahuan, dan keterampilan siswa berupa nilai mata pelajaransebagai hasil dari interaksi dengan para guru di sekolah. Pendapat ini menjelaskan bahwapenyampaian pesan berupa informasi baru yang dilakukan oleh guru dapat mempengaruhi sistemsikap dan perilaku siswa yang kemudian ditunjukkan dalam bentuk nilai dan disebut denganprestasi (lihat bab 1 hal. 13 dan 16).Hal itu sesuai dengan teori perubahan sikap Hovland, yang menjelaskan bahwa sikap itudapat terbentuk dan sikap dapat berubah melalui proses komunikasi. Serupa dengan Hovland,dalam teori penggabungan informasi, dikatakan bahwa perubahan sikap seseorang dapat terjadiketika ada tambahan informasi-informasi baru. Hovland, Janis & Kelly juga beranggapan bahwaproses dari perubahan sikap adalah serupa dengan proses belajar. Persuasi dipandang sebagaisebuah cara belajar. Dalam teori belajar (learning theory) perilaku manusia dipandang sebagaisebuah rangkaian stimulus- respon. Keadaaan manusia secara terus menerus diserang olehstimulus atau rangsangan. Kemudian apa yang dilakukan manusia merupakan hasil daripemrosesan stimulus yang ditanggapi manusia sebagai respon. Teori ini dapat memprediksiperilaku sehingga kemudian dapat mengontrolnya sesuai kehendak komunikator. Dengan katalain komunikator dapat mengarahkan perilaku seseorang ke arah yang dikehendakinya (lihat bab1 hal. 15).Dari penjelasan di atas digambarkan bahwa ketika proses belajar mengajar berlangsung,dimana guru mengkomunikasikan informasi berupa materi pelajaran bahasa Jawa, yangkemudian informasi baru tersebut diterima siswa dan dipercayai oleh siswa. Sehingga dapatmerubah sikap siswa yang menerima informasi tersebut. Informasi yang disampaikan gurumerupakan informasi yang berupa bujukan (persuasi) dengan tujuan agar siswa mengubah sikapdan perilakunya sesuai dengan keinginan guru. Dalam hal ini guru, tentu menginginkan agarprestasi belajar siswa berupa nilai mata pelajaran menjadi semakin baik. Dari hasil pengujianmenunjukkan bahwa komunikasi persuasif guru memiliki pengaruh yang signifikan terhadapprestasi siswa.Hipotesis mengenai motivasi belajar siswa juga dapat dibuktikan dengan memperhatikanhasil penelitian yang disajikan. Hasil penelitian menyebutkan hal yang sesuai dengan hipotesis,yaitu motivasi belajar memberikan pengaruh yang signifikan terhadap prestasi siswa. Lingrenmengatakan bahwa motivasi belajar adalah dorongan yang ada pada seseorang yangberhubungan dengan prestasi. Sama halnya dengan yang disampaikan oleh Ghozali, bahwa siswadengan motivasi belajar rendah mengerjakan tugas sekolah akan menjadi malas bahkan tidakdikerjakan sehingga mencapai prestasi yang rendah, begitu juga sebaliknya. Jadi dapatdisimpulkan bahwa dengan adanya motivasi belajar, setiap siswa ingin mendapatkan tujuan akhiryaitu prestasi yang ditandai dengan nilai. Hal ini mendukung hasil pembuktian hipotesis di atas,bahwa motivasi belajar berpengaruh terhadap prestasi siswa.PENUTUPKESIMPULANPenelitian tentang pengaruh komunikasi persuasif guru dan motivasi belajar siswaterhadap prestasi siswa pada mata pelajaran bahasa Jawa, menghasilkan beberapa kesimpulansebagai berikut.1. Terdapat pengaruh komunikasi persuasif guru saat mengajar terhadap prestasi siswa padamata pelajaran bahasa Jawa. Artinya bahwa penyampaian pesan berupa materi pelajaranyang dilakukan oleh guru dapat mempengaruhi sistem sikap dan perilaku siswa yangditunjukkan dalam bentuk nilai. Hal ini dapat dijelaskan karena materi yang disampaikanoleh guru saat mengajar bersifat persuasif dimana didalamnya terdapat pemilihan bahasayang tepat, guru juga melakukan evaluasi, pengulangan, dan inovasi didalam kelas,sehingga dapat mengarahkan siswa untuk bertindak sesuai dengan yang diinginkan guru.2. Terdapat pengaruh motivasi belajar siswa terhadap prestasi siswa pada mata pelajaranbahasa Jawa. Artinya, ketika motivasi belajar siswa yang ditandai dari lamanya waktubelajar dan seringnya siswa mengulang pelajaran tinggi, prestasi siswa pun ikut tinggi.Hal ini dapat dijelaskan karena motivasi merupakan keseluruhan daya penggerak didalamdiri siswa yang menimbulkan kegiatan belajar, yang menjamin kelangsungan darikegiatan belajar dan memberikan arah pada kegiatan belajar, sehingga tujuan yangdikehendaki oleh subyek belajar itu dapat tercapai.SARANPenelitian tentang pengaruh komunikasi persuasif guru dan motivasi belajar siswaterhadap prestasi siswa pada mata pelajaran bahasa Jawa, menghasilkan saran sebagaiberikut :1. Didalam proses belajar mengajar guru sebaiknya dapat lebih memacu motivasi siswadalam mempelajari bahasa JawaDAFTAR PUSTAKACangara, Hafied. 2006. Pengantar Ilmu Komunikasi. Jakarta : PT Raja Grafindo PersadaDe Vito, Joseph. 1997. Komunikasi Antarmanusia. Jakarta : Professional BooksDjamarah, Syaiful Bahri. 1994. Prestasi Belajar Dan Kompetensi Guru. Jakarta: UsahaNasionalEffendy, Onong Uchjana. 2002. Ilmu komunikasi teori dan praktek. Bandung: PT.Remaja rosdakaryaGhozali, Endang. W. 1984. Kesukaran Belajar. Citra Dunia Kedokteran No.35.Surabaya: Fakultas Ilmu Kedokteran Jiwa Universitas AirlanggaHardiyanto dan Esti Sudi Utami. 2001. Kamus Kecik Bahasa Jawa Ngoko-Krama.Semarang: Lembaga Pengembangan Sastra dan BudayaHamzah, Uno. 2008. Model Pembelajaran Menciptakan Proses Belajar Mengajar yangKreatif dan Efektif. Jakarta: Bumi AksaraImaningtyas. 2010. Sistem Koordinasi Manusia. Bogor: PT. Gelora Aksara PratamaKriyantono, Rachmat. 2006. Teknis Praktis Riset Komunikasi. Jakarta : KencanaLittlejohn, Stephen W. 2009. Theories of Human Communication (9th edition). Jakarta:Salemba HumanikaMakmun, Abin Syamsuddin. 2003. Psikologi Pendidikan. PT Rosda Karya Remaja,BandungMarisan, dkk. 2010. Teori Komunikasi Massa. Bogor: PT. Ghalia IndonesiaMuhammad,Arni. 1996. Komunikasi Organisasi, Jakarta : Bumi AksaraMulyana, Deddy. 2002. Ilmu Komunikasi Suatu Pengantar. Bandung : RemajaRosdakarya OffsetMulyasa, H.E. 2009. Implementasi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan: KemandirianGuru dan Kepala Sekolah. Jakarta: Bumi AksaraMunandar. 2003. Mengembangkan Bakat dan Kreativitas Anak Sekolah. Jakarta:GramediaNaim, Ngainun. 2011. Dasar-Dasar Komunikasi Pendidikan. Arr-Ruz Media:YogyakartaNugroho, Adi. 2005. Analisis dan Perancangan Sistem Informasi Dengan MetodologiBerorientasi Objek. Informatika. BandungNurkencana. 2005. Evaluasi Hasil Belajar Mengajar. Surabaya: Usaha NasionalPoerwadarminta, WJS. 1996. Kamus Umum Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai PustakaPurwadi, Dr. 2005. Tata Bahasa Jawa. Yogyakarta: Media AbadiPurwanto, M Ngalim. 1999. Psikologi Pendidikan. Bandung: PT. Remaja RosdakaryaRakhmat, Jalaluddin. 2004. Psikologi Komunikasi. Bandung : PT. Remaja RosdakaryaSabri, M.Alisuf. 1996. Psikologi Pendidikan . Jakarta: Pedoman JayaSaputra, Karsono H. 1992. Pengantar Sekar Macapat. Depok: Fakultas SastraUniversitas IndonesiaSardiman. 2007. Interaksi Dan Motivasi Belajar Mengajar. Jakarta: PT. RemajarosdakaryaSasangka, Sry Satria Tjatur Wisnu. 2004. Unggah-ungguh Bahasa Jawi. Jakarta:Yayasan ParamalinguaSingarimbun, Masri. 1995. Metode Penelitian Survai. Jakarta : LP3ESSoemirat, Soleh, Hidayat Satiri dan Asep Suryana. 2004. Komunikasi Persuasif. Jakarta :Universitas TerbukaSusanto, Astrid. 1993. Komunikasi Dalam Teori dan Praktek, Jilid 2. Bandung: BinaciptaTarigan, Henri. 1993. Strategi Pengajaran dan Pembelajaran Bahasa. Bandung:Angkasa BandungUsman, M Uzer. 2011. Menjadi Guru Profesional. Bandung: PT. Remaja RosdakaryaWalgito, Bimo. 2010. Pengantar Psikologi Umum. Yogyakarta: CV. Andi OffsetWerner dan James Tankard Jr. 2008. Teori Komunikasi: Sejarah, Metode, dan Terapandi dalam Komunikasi Massa. Jakarta: Kencana Prenada Media GroupWidjaja, H.A.W. Drs. 2000. Ilmu Komunikasi Pengantar Studi. Jakarta: PT. Rineka CiptaYusuf. Pawit M. 1990. Komunikasi Pendidikan dan Komunikasi instruksional. Bandung:PT. Remaja rosdakaryaSuara Merdeka, Sabtu, 23 Agustus 2008Suara Merdeka, Senin, 30 Mei 2005www.AnneAhira.com, 26 Maret 2011: 15.38www.jatenginfo.web.id, 1 Okt 2011: 20.41www.kompas.com, 12 Feb 2011: 21.57www.solopos.com, 12 Feb 2011: 21.57Data Pokok Pendidikan Wilayah (DAPODIK) Dinas Pendidikan Kota Semarang Th.2011
Memahami Adaptasi Budaya pada Pelajar Indonesia yang Sedang Belajar di Luar Negeri Mumpuni, Restu Ayu; Rahardjo, Turnomo; Suprihatini, Taufik; Ayun, Primada Qurrota
Interaksi Online Vol 4, No 1: Januari 2016
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (717.526 KB)

Abstract

Banyaknya masalah yang disebabkan oleh kegagalan adaptasi budaya serta kurangnyapersiapan terkait bahasa dan budaya setempat sebelum seseorang berangkat ke luar negerimenjadi latar belakang penelitian ini. Pelajar Indonesia adalah salah satu contoh yang akanmenjadi fokus bagaimana pengalaman adaptasi mereka untuk berinteraksi dengan orangorangdi lingkungan yang baru. Tujuan penelitian adalah untuk menggambarkan prosesadaptasi budaya yang dilakukan pelajar Indonesia di hostcountry.Penelitian ini menggunakan metoda deskriptif kualitatif, genre interpretif, sertapendekatan fenomenologi. Anxiety/Uncertainty Management Theory dan CommunicationAccommodation Theory digunakan dalam penelitian ini untuk membantu menjelaskansebagai basis awal. Subjek penelitian adalah tiga orang pelajar Indonesia yang sedang belajardi luar negeri. Pengumpulan data diperoleh melalui hasil wawancara dan studi pustaka.Hasil penelitian menunjukan bahwa saat Pelajar Indonesia datang ke luar negerimereka mengalami culture shock karena perubahan kultural dan kehilangan petunjukpetunjukyang telah mereka ketahui sebelumnya. Besarnya cultural shock tergantung padatingkat perbedaan kultural negara, bahasa, serta kesiapan pelajar. Persiapan sebelumkeberangkatan baik itu bahasa dan pengetahuan tentang budaya negara tujuan akanmembantu memahami surface culture serta menjadi bekal untuk mengatasi culture shock.Selain itu dukungan sosial adalah hal yang penting dalam proses adaptasi. Teman-teman dinegara tujuan akan berperan untuk membantu mengenalkan kebiasaan di lingkungan baru,teman-teman universitas untuk membantu menjalani proses belajar di universitas, serta temanuntuk mengikuti aktivitas sosial dan hiburan. Pelajar Indonesia melakukan beberapa strategiadaptasi seperti mencari sesuatu yang baik atas apa yang terjadi (positive reinterpretation),mengerjakan aktivitas lain untuk melepas beban pikiran (mental disangagement), merelakansesuatu yang diinginkan (behavioral disangagement), serta mencari teman atau dukungansosial (social support). Pelajar Indonesia juga melakukan strategi konvergensi denganmenyesuaikan perilaku komunikasi dengan host country.
Hubungan Kompetensi Komunikasi Tentor Communication Study Club dan Konsep Diri Anggota Communication Study Club Terhadap Prestasi Anggota suprihatini, Taufik; Lailiyah, nuriyatul; Herieningsih, Sri widowati
Interaksi Online Vol 4, No 1: Januari 2016
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (197.67 KB)

Abstract

Communication Study Club adalah komunitas belajar mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Diponegoro. Jumlah anggota CSC semakin meningkat tetapi prestasi anggota semakin menurun. Kompetensi komunikasi tentor dalam mengajar dan konsep diri anggota dalam menghadapi tantangan merupakan salah satu faktor yang berhubungan dengan meningkat atau tidaknya prestasi anggota.Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan kompetensi komunikasi tentor CSC dan konsep diri anggota CSC terhadap prestasi anggota. Teori yang digunakan untuk mendukung penelitian ini adalah konsep keberhasilan komunikasi interpersonal (Suranto,2011:84) dan faktor yang mempengaruhi prestasi belajar (Rola, 2006:33) .Tipe penelitian yang digunakan adalah tipe explanatory dengan pendekatan metode penelitian kuantitatif. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh anggota CSC yang berjumlah 52 orang. Teknik pengambilan sampel pada penelitian ini yaitu dengan menggunakan teknik non probability sampling dengan cara purposive sampling . Peneliti mengambil sampel sebanyak 35 orang . Teknik analisis data yang digunakan adalah dengan mengunakan analisis koefisien korelasi rank Kendall.Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai signifikansi dari variabel kompetensi komunikasi tentor CSC (X1) terhadap prestasi anggota(Y) sebesar 0,723, dimana 0,723>0,01. Di samping itu , nilai signifikansi dari variabel konsep diri anggota CSC (X2) terhadap prestasi anggota (Y) sebesar 0,467, dimana 0,467>0,01. Hal ini menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan antara kompetensi komunikasi tentor CSC dan konsep diri anggota CSC terhadap prestasi anggota. Diharapkan untuk peneliti selanjutnya menggunakan teori dan variabel bebas yang berbeda terhadap prestasi agar penelitian terhadap prestasi semakin beragam. Selain itu, seluruh anggota sebaiknya harus pernah mengikuti kompetisi dan para tentor juga anggotanya dapat bersama-sama memperbaiki hal-hal yang menghambat prestasi sehingga prestasi semakin meningkat.
Memahami Identitas Hibrida pada Komik Indonesia Kontemporer (Analisis Semiotika Komik Garudayana) Ridho, Luthfi Fazar; Santosa, Hedi Pudjo; Suprihatini, Taufik; Lukmantoro, Triyono
Interaksi Online Vol 2, No 2: April 2014
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (275.964 KB)

Abstract

Terbitnya Garudayana sebagai bagian dari komik Indonesia kontemporer yang mengadopsi dua identitas budaya berbeda bangsa, yaitu wayang (lokal) dan manga (Jepang), menjadikan komik ini memiliki identitas hibrida dalam gaya penyajiannya, di mana unsur wayang terdapat pada keterlibatan tokoh-tokoh populer wayang. Sedangkan unsur manga menonjol pada gaya gambar dan elemen visual.Penelitian ini bertujuan untuk mencari keterpengaruhan komik Garudayana dari manga Jepang dan mendeksripsikan komik Garudayana sebagai media alternatif. Peneliti menggunakan paradigma konstruktivis dan tradisi semiotika dan sub-tradisi pictorial semiotics untuk mengkaji konten komik Garudayana dan mendeskripsikan setiap tanda intrinsik yang mengandung identitas hibrida pada Komik Garudayana yang memiliki kemiripan/ keserupaan dengan tanda-tanda yang ada pada manga. Teori yang digunakandalam penelitian ini adalah Teori Komik Scott McCloud (2006: 49), Teori Identitas Hibrida dari Keri Lyall Smith (2008: 4-6), dan Teori Pictorial Semiotics dari Goran Sonesson (1998: 1)Hasil penelitian menunjukkan bahwa Garudayana memiliki elemen identitas hibrida berupa: tema cerita wayang lakon carangan Mahabharata; tokoh-tokoh Pandawa, Ponokawan dan Kurawa; konsep dan penggambaran visual latar tempat yang sesuai dengan kondisi geografis Indonesia; konsep tokoh antagonis berupa monster humanoid (yang menyerupai manusia) dari binatang-binatang khas Nusantara; dan panel komik dekoratif khas Nusantara yang memperkuat kesan lokalitas Indonesia. Elemen tersebut bercampur dengan mangasebagai gaya gambar dan identitas kultural Jepang yang memiliki elemen identitas hibrida berupa kode visual dan kode linguistik. Percampuran dua elemen identitas kultural tersebut disebut hibriditas.Dalam rangkaian proses hibriditas, terdapat elemen intertekstualitas dan penokohan berdasarkan jenis kelamin yang dipengaruhi oleh Mahabharata sebagai pakem secara tidak langsung satu sama lain. Keseluruhan proses tersebut menghasilkan Garudayana sebagai komik yang memiliki identitas hibrida dan dianggap sebagai media alternatif karena memiliki Mode of Address dan sifat-sifat Media alternatif.Keywords : Komik, Wayang, Identitas Hibrida, Garudayana
HUBUNGAN ANTARA INTENSITAS MENONTON PROGRAM MEMASAK DI TELEVISI DAN KOMPETENSI CHEF PRESENTER DALAM PROGRAM MEMASAK TERHADAP MINAT PENONTON UNTUK MEMASAK UTAMI, DITA PURMIA; Suprihatini, Taufik; Herieningsih, Sri Widowati
Interaksi Online Vol 1, No 3: Agustus 2013
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (248.988 KB)

Abstract

Hubungan Intensitas Menonton Program Memasak di Televisi dan Kompetensi ChefPresenter dalam Program Memasak terhadap Minat Penonton untuk MemasakSkripsiDisusun untuk memenuhi persyaratan menyelesaikanPendidikan Strata 1Jurusan Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu PolitikUniversitas DiponegoroPenyusunNama : DITA PURMIA UTAMINIM : D2C008083JURUSAN ILMU KOMUNIKASIFAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIKUNIVERSITAS DIPONEGORO2013ABSTRAKSIJUDUL : HUBUNGAN ANTARA INTENSITAS MENONTON PROGRAMMEMASAK DI TELEVISI DAN KOMPETENSI CHEF PRESENTERDALAM PROGRAM MEMASAK TERHADAP MINAT PENONTONUNTUK MEMASAKNAMA : DITA PURMIA UTAMINIM : D2C008083Dewasa ini perempuan tidak hanya menjadi ibu rumah tangga, namun juga memilihuntuk berkarier. Di tengah kesibukannya dalam berkarier, sebagian perempuan tidak lagimemperhatikan pekerjaan rumah, khususnya memasak. Munculnya berbagai programmemasak di televisi dengan format yang baru dan dipandu oleh chef presenter yangberkompeten, memiliki daya tarik tersendiri bagi penontonnya. Program memasak tersebutmemiliki penonton yang berbeda karakter, mulai dari penonton yang tidak bisa memasak,hingga penonton yang ahli dalam bidang memasak.Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui hubungan antara intensitas menontonprogram memasak di televisi dan kompetensi chef presenter dalam program memasakterhadap minat penonton untuk memasak. Penelitian ini merupakan penelitian bertipeeksplanatori dengan pendekatan kuantitatif. Teori yang digunakan adalah Teori Belajar Sosial(Bandura, 1977), teori kompetensi (Agung, 2007) dan efek komunikasi massa (Chaffee,1980). Populasi dalam penelitian ini adalah remaja perempuan dan ibu rumah tangga diSemarang yang menyaksikan program memasak di televisi. Teknik sampling yang digunakanadalah teknik sampling kebetulan (accidental sampling) dengan jumlah sampel sebanyak 50orang. Adapun teknik analisis data yang digunakan adalah kuantitatif dengan uji statistikyang menggunakan analisis korelasi Rank Kendall dengan menggunakan perhitungan denganprogram SPSS 17 (Statistical Product and Service Solution).Hasil penelitian menunjukkan bahwa intensitas menonton program memasak ditelevisi (X1) ternyata tidak berhubungan terhadap minat penonton untuk memasak (Y), halini dibuktikan berdasarkan perhitungan melalui uji statistik dimana diperoleh probabilitaskesalahan (sig) sebesar 0,629 (>0,05). Kompetensi chef presenter dalam program memasak(X2) ternyata juga tidak berhubungan terhadap minat penonton untuk memasak (Y). Hal iniberdasarkan data uji hipotesis, diperoleh probabilitas kesalahan (sig) sebesar 0,862 (>0,05).Hasil pengujian terhadap ketiga variabel, yaitu antara variabel intensitas menonton programmemasak di televisi (X1) dan kompetensi chef presenter dalam program memasak (X2)terhadap minat penonton untuk memasak (Y) menggunakan teknik korelasi Kendallmenunjukkan angka probabilitas sebesar 0,000. Oleh karena sig sebesar 0,000 < 0,05 yangberarti bahwa harga variabel tersebut memiliki hubungan yang signifikan. Dengan demikian,maka secara statistik, dapat dinyatakan “terdapat hubungan antara intensitas menontonprogram memasak di televisi (X1) dan kompetensi chef presenter dalam program memasak(X2) terhadap minat penonton untuk memasak (Y)”. Jadi artinya bahwa ketika intensitasmenonton program memasak di televisi tinggi dan kompetensi chef presenter dalam programmemasak baik, maka penonton semakin berminat untuk memasak.Kata Kunci : Intensitas Menonton Program Memasak; Kompetensi Chef Presenter; MinatMemasakABSTRACTJUDUL : CORRELATION BETWEEN INTENSITY OF WATCHING ACOOKING PROGRAM IN TELEVISION AND CHEF PRESENTER’SCOMPETENCY OF COOKING PROGRAM WITH AUDIENCE’SINTEREST FOR COOKINGNAMA : DITA PURMIA UTAMINIM : D2C008083Nowadays, women not only be a housewife, but also choose to make a career. In themidst of their rush in a career, most women no longer regard housework, especially cooking.The emergence of a variety of cooking programs on television with a new format and isguided by a competent chef presenter, has a special attraction for the audience. The cookingprogram has different character of audiens, from the audience who could not cook, until theaudience who are experts in the field of cooking.This research was aimed to know how the correlation between the intensity ofwatching a cooking program on television and chef presenter’s competency of cookingprogram with audience interest for cooking. It is an explanatory type with a quantitativeapproach. The theory used is the teori belajar sosial (Bandura, 1977), the theory ofcompetency (Agung, 2007) and effects of mass communication (Chaffee, 1980) . Thepopulation in this research were young women and housewives in Semarang who watchcooking programs on television. The sampling technique used is sampling kebetulan(accidental sampling) with the number of sample are 50 people. The data analysis techniqueused is quantitative with statistical tests using the Kendall rank correlation analysis usingcalculations with SPSS 17 (Statistical Product and Service Solutions).The results showed that the intensity of watching a cooking program on television(X1) was not related with audience’s interest for cooking (Y), it was proved by thecalculation of which is obtained through a statistical test error probability (sig) of 0.629 (>0,05). Chef presenter’s competency of cooking program (X2) was also not related to theaudience’s interest for cooking (Y). This is based on hypothesis data test, derived errorprobability (sig) of 0.862 (> 0,05). The test results of the three variables, namely the variableintensity of watching a cooking program on television (X1) and the chef presenter’scompetency of cooking program (X2) to the audience's interest for cooking (Y) using Kendallcorrelation techniques showed the probability of 0.000. Therefore sig of 0.000 <0.05, whichmeans that the price of these variables had a significant relationship. Thus, statistically, it canbe stated "there is a correlation between the intensity of watching a cooking program ontelevision (X1) and the chef presenter’s competency of cooking program (X2) to theaudience's interest for cooking (Y)". So that means that when there is high intensity ofwatching a cooking program on television and chef presenter’s competency in cookingprogram, the audience more interested in cooking.Key words : intensity of watching a cooking program, chef presenter’s competency of cookingprogram, interest in cookingPENDAHULUANPerkembangan teknologi komunikasi massa dalam bentuk media massa khususnyamedia televisi telah membuat dunia semakin kecil. Informasi melalui medium televisi daninternet yang mengalir melintasi batas-batas negara tampaknya tidak dapat terbendung olehjarak, ruang, dan waktu (Kuswandi, 2008:33)Melihat fungsi media televisi yang begitu luas, maka secara otomatis akan memberikankesadaran bahwa muatan-muatan pesan media televisi harus dapat mendukung keinginanseluruh masyarakat yang terlibat dalam berbagai sendi kehidupan sosial baik secara politik,ekonomi, dan budaya (Kuswandi, 2008:33). Maka dari itu, televisi harus menampilkanprogram-program yang berkualitas, menarik dan mendidik masyarakat.Untuk mengambil hati sekaligus memuaskan khalayaknya, berbagai stasiun televisiswasta memproduksi tayangan-tayangan yang dirasa akan banyak diminati oleh masyarakat.Berbagai macam program yang bertemakan edukatif, informatif, hingga menghibur punditayangkan. Mulai dari tayangan berita, infotainment, berita kriminal, reality show, kuliner,acara musik bahkan acara yang saat ini banyak diminati yaitu program acara memasak.Banyak acara televisi yang menampilkan program acara masak-memasak dan ratingnyatinggi.Intensitas menonton merupakan tingkat keseringan seseorang menonton setiappenyampaian pesan dan informasi tentang barang ataupun gagasan yang menggunakan mediamassa (Rakmat, 2000:52). Apabila penonton sering menonton program memasak, makainformasi mengenai program dan apa yang disajikan dalam program tersebut akan semakinbanyak diterima.Di zaman globalisasi seperti sekarang ini, tidak semua perempuan menjadi ibu rumahtangga, ada pula yang menjadi wanita karir. Banyak perempuan yang melakukan peransebagai laki-laki, yakni bekerja mencari nafkah. Ketika seorang istri berkarir di luar rumahurusan rumah tangga biasanya tidak tertangani semua, khususnya memasak.Program acara memasak memiliki konsep yang sangat menarik. Diselingi dengan acaratravelling yang menambah daya tarik bagi penontonnya. Selain itu chef presenter yangdipakai dalam program-program memasak tersebut adalah chef yang memang berkompetendan memiliki banyak pengalaman dalam dunia memasak.Dengan konsep acara dan kompetensi chef presenter handal yang dimiliki oleh programmemasak, mampu mencuri perhatian pemirsa program tersebut untuk selalu menyaksikannya.Penonton program acara memasak memiliki berbagai macam karakter penonton yangmenyaksikannya. Mulai penonton yang tidak bisa memasak hingga penonton yang ahlimemasak.Kompetensi komunikasi chef presenter yang baik akan mempengaruhi minat penontonuntuk memasak. Penonton yang kurang berminat memasak akan menjadi berminat untukmemasak dan yang gemar memasak akan semakin meningkatkan kreativitasnya dalammemasak. Tidak hanya memenuhi kebutuhan akan hiburan saja, namun dapat memberikansuatu manfaat dan pembelajaran bagi yang menyaksikan program tersebut.Berdasarkan hal tersebut diatas, muncul suatu pertanyaan, apakah ada hubungan antaraintensitas menonton program memasak di televisi dan kompetensi chef presenter dalamprogram memasak terhadap minat penonton untuk memasak?ISITeori yang digunakan dalam penelitian ini adalah Teori Belajar Sosial (SocialLearning Theory) dari Bandura. Salah satu perilaku prososial ialah memiliki keterampilanyang bermanfaat bagi dirinya dan bagi orang lain. Keterampilan seperti ini biasanyadiperoleh dari saluran-saluran-saluran interpersonal : orang tua, atasan, pelatih, atau guru.Pada dunia modern, sebagian dari tugas mendidik telah dilakukan media massa. MenurutBandura, kita belajar bukan saja dari pengalaman langsung, tetapi dari peniruan ataupeneladanan (modeling). Perilaku merupakan hasil faktor-faktor kognitif dan lingkungan.Artinya, kita mampu memiliki keterampilan tertentu, bila terdapat jalinan positif antarastimuli yang kita amati dan karakteristik diri kita (Rakhmad, 2005:240).Menurut Steven M. Chaffee (dalam Rakmat, 2005:218) dalam melihat efek yangditimbulkan oleh pesan media massa adalah dengan melihat jenis perubahan yang terjadipada diri khalayak komunikasi massa, yaitu :1. Efek KognitifTerjadi apabila komunikasi massa memberikan perubahan pada apa yang diketahui,dipahami, ataupun dipersepsi oleh khalayak. Kognitif berkaitan dengan transmisipengetahuan, keterampilan, dan informasi.2. Efek AfektifTerjadi apabila komunikasi massa memberikan perubahan pada apa yang dirasakan,disenangi, ataupun dibenci oleh khalayak. Perubahan ditunjukkan dengan perubahan perasaanemosi, sikap atau nilai.3. Efek BehavioralMerujuk pada perubahan perilaku nyata yang dapat diamati seperti pola tidakan,kegiatan dan kebiasaan berperilaku (Rakmat, 2005:219).Dari ketiga efek di atas, efek yang paling menonjol adalah efek kognitif dan afektif,dimana seseorang atau khalayak yang melihat program acara memasak di televisimemberikan perubahan pada apa yang diketahui, dipahami, ataupun dipersepsi olehkhalayak. Dengan menonton program memasak di televisi, memberikan perubahan pada apayang dirasakan, disenangi, ataupun dibenci oleh penonton. Perubahan tersebut dapatditunjukkan dengan khalayak yang sebelumnya tidak menyukai masak akan mencoba untukbelajar memasak dan yang sebelumnya menyukai memasak akan semakin meningkatkankegemarannya dalam bidang memasak.Menurut Johnson (dalam Suparno, 2001:27) memandang kompetensi sebagai perbuatan(performance) yang rasional yang secara memuaskan memenuhi tujuan dalam kondisi yangdiinginkan. Dikatakan performance yang rasional, karena orang yang melakukannya harusmempunyai tujuan atau arah dan ia tahu apa dan mengapa ia berbuat demikian.Konsep-konsep dasar komunikasi yang terdapat dalam kegiatan komunikasi dapatdijelaskan dalam proses komunikasi manusia, yaitu (Winarso, 2005:5) ; sumber – penerima,pengiriman sandi – pemahaman sandi, kemampuan, pesan, umpan balik, umpan muka,saluran, gangguan, konteks, bidang pengalaman, akibat, dan etika.Tipe yang digunakan dalam penelitian ini adalah eksplanatori yang menjelaskantentang hubungan intensitas menonton program memasak di televisi dan kompetensi chefpresenter dalam program memasak terhadap minat penonton untuk memasak. Populasidalam penelitian ini adalah remaja perempuan dan ibu rumah tangga di kota Semarang yangmeyaksikan program memasak di televisi. Sedangkan jumlah sampel penelitian yang diambiladalah 50 orang remaja perempuan dan ibu rumah tangga yang menyaksikan programmemasak di televisi di kota Semarang. Karena jumlah penonton program memasak di televisitidak diketahui, maka peneliti menggunakan teknik sampling kebetulan (accidentalsampling). Teknik ini memilih siapa saja yang kebetulan dijumpai untuk dijadikan sampeldengan kriteria tertentu.Adapun teknik analisis data yang digunakan adalah dengan menggunakan analisiskoefisien korelasi Rank Kendall dengan menggunakan perhitungan dengan program SPSS(Statistical Product and Service Solution) versi 17.0.Berdasarkan perhitungan, diperoleh koefisien korelasi sebesar -0,064 denganprobabilitas kesalahan (sig) sebesar 0,629. Oleh karena sig sebesar 0,629 > 0,05 yang berartihubungan kedua variabel tersebut tidak signifikan. Maka hipotesis penelitian yangmenyatakan bahwa terdapat hubungan positif antara intensitas menonton program memasakdi televisi dengan minat penonton untuk memasak, tidak diterima. Hal ini bisa dijelaskandengan menggunakan teori perbedaan-perbedaan individu mengenai pengaruh komunikasimassa (the individual differences theory of mass communication effect), dimana menurutteori ini bahwa tiap individu tidak sama perhatiannya, kepentingannya, kepercayaannyamaupun nilai-nilainya, maka dengan sendirinya selektivitas mereka terhadap komunikasimassa juga berbeda (Liliweri, 1991:106).Teori di atas sesuai dengan hasil pencarian dan pengolahan data yang menunjukkanbahwa meskipun intensitas menonton program memasak berbeda-beda (banyak ataupunsedikit), akan tetapi itu juga tidak serta merta merubah minat penonton untuk memasak.Berdasarkan data uji hipotesis di atas, diperoleh koefisien korelasi sebesar -0,025dengan probabilitas kesalahan (sig) sebesar 0,862. Oleh karena sig sebesar 0,862 > 0,05 yangberarti hubungan kedua variabel tersebut tidak signifikan. Maka, hipotesis penelitian yangmenyatakan bahwa terdapat hubungan positif antara kompetensi chef presenter dalamprogram memasak dengan minat penonton untuk memasak, tidak diterima. Hal tersebut dapatdijelaskan dengan pendapat Gordon (dalam Mulyasa, 2004:77) mengenai beberapa ranahyang terkandung dalam dalam konsep kompetensi, yaitu :- Pengetahuan (knowledge), yaitu kesadaran dalam bidang kognitif.- Pemahaman (understanding), yaitu kedalaman kognitif dan afektif yang dimilikioleh individu.- Kemampuan (skill) adalah sesuatu yang dimiliki oleh individu untuk melakukantugas atau pekerjaan yang dibebankan kepadanya.- Sikap (attitude) yaitu reaksi terhadap suatu rangsangan yang datang dari luar(senang atau tidak senang, suka atau tidak suka).- Minat (interest) adalah kecenderungan seseorang untuk melakukan sesuatuperbuatan. Minat yang timbul akan berbeda pada setiap individunya.Kompetensi chef presenter juga akan menghasilkan minat memasak yang berbeda-bedakepada setiap responden (berminat atau tidak berminat). Misalnya kompetensi chef presenteryang tinggi, tidak disertai dengan minat penonton untuk memasak. Kemungkinan inidisebabkan karena tingginya tingkat kesulitan masakan yang dipraktekkan oleh chefpresenter, sehingga penonton tidak berminat untuk memasak.Berdasarkan hasil perhitungan memperlihatkan bahwa koefisien konkordansi (W)sebesar 0,691. Setelah dilakukan transformasi harga W ke dalam rumus chi kuadrat,diperoleh harga chi kuadrat 69,136 dengan probabilitas kesalahan (sig) sebesar 0,000. Olehkarena sig sebesar 0,000 < 0,05 yang berarti bahwa harga variabel tersebut memilikihubungan yang signifikan, hipotesis alternatif (Ha) diterima dan hipotesis nol (Ho) ditolak.Dengan demikian maka secara statistik, hipotesis yang menyatakan “terdapat hubunganantara intensitas menonton program memasak di televisi (X1) dan kompetensi chef presenterdalam program memasak (X2) terhadap minat penonton untuk memasak” diterima.PENUTUPFungsi media massa adalah memberi informasi, mendidik dan menghibur. Melaluibanyaknya program memasak yang muncul di televisi, mampu memenuhi syarat dari ketigafungsi tersebut. Melalui program memasak, khalayak mendapatkan banyak informasi dalambidang memasak, mulai dari nama berbagai masakan (baik dari dalam maupun luar negeri)hingga istilah dalam bidang memasak. Selain itu, program memasak juga mendidikkhalayaknya dengan cara menyajikan proses pengolahan bahan makanan suatu masakan.Dalam beberapa program memasak, chef presenter dalam mempresentasikan masakannyadiawali dengan kegiatan travelling terlebih dahulu, sehingga dapat menghibur pemirsanya.5.1. KesimpulanBerdasarkan penelitian yang telah dilakukan, dapat diambil beberapakesimpulan sebagai berikut:1. Intensitas menonton program memasak di televisi tidak berhubungan dengan minatpenonton untuk memasak. Hal ini dibuktikan berdasarkan perhitungan melalui ujistatistik dimana diperoleh probabilitas kesalahan (sig) sebesar 0,629 dan koefisienkorelasi sebesar -0,064.2. Kompetensi chef presenter dalam program memasak tidak berhubungan dengan minatpenonton untuk memasak . Hal ini dibuktikan berdasarkan perhitungan melalui ujistatistik dimana diperoleh probabilitas kesalahan (sig) sebesar 0,862 dan koefisienkorelasi sebesar -0,025.3. Intensitas menonton program memasak di televisi dan kompetensi chef presenterdalam program memasak berhubungan dengan minat penonton untuk memasak. Halini dibuktikan berdasarkan perhitungan melalui uji statistik dimana diperolehprobabilitas kesalahan (sig) sebesar 0,000.5.2. SaranBerikut merupakan saran yang dapat diajukan berdasarkan penelitian yang telahdilakukan:1. Program memasak memiliki peran yang penting dalam memenuhi kebutuhankhalayak akan informasi dalam bidang memasak serta menjadi sarana khalayakuntuk belajar. Maka dari itu, diharapkan program memasak dapat disajikandengan format yang lebih bervariasi, sehingga penonton akan lebih tertarik untukmenyaksikannnya. Misalnya dengan menghadirkan bintang tamu yang sedangnaik daun.2. Chef presenter dalam program memasak juga harus terus meningkatkankompetensinya dengan menyajikan lebih banyak lagi inovasi masakan yangbahannya mudah untuk didapatkan dan informasi dalam bidang memasak.Misalnya dengan mengkombinasikan masakan Indonesia dengan masakan Italia.DAFTAR PUSTAKAAgung, Lilik. 2007. Human Capital Competencies. Jakarta : PT. Elex Media Komputindo.Arikunto, Suharsimi. 2005. Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta : Bumi AksaraBungin, Burhan. 2008. Konstruksi Sosial Media Massa. Jakarta : Kencana Predana MediaGroup.DeVito, Joseph. 1997. Komunikasi Antar Manusia : Kuliah Dasar (Edisi Kelima).HarperCollin Publishers Inc.Effendi, Onong U. 1997. Ilmu Komunikasi Teori dan Praktek. Bandung : RemajaRosdakarya.Effendy, Onong U. 1986. Dimensi-dimensi Komunikasi. Bandung : Kotak Pos 272.Eriyanto. 2007. Teknik Sampling : Analisis Opini Publik. Yogyakarta : PT.LKiS PelangiAksara.Griffin, Em. 1991. A First Look at Communication Theory. New York : McGraw-HillHurlock, Elizabeth B. 1999. Psikologi Perkembangan. Jakarta : Erlangga.Irwanto. 2002. Psikologi umum. Jakarta : PT. Prenhallindo.Janawi. 2011. Kompetensi Guru : Citra Guru Profesional. Bandung : Alfabeta.Kartono, Kartini. 1996. Pengantar Metodologi Riset Sosial. Bandung : Mandar MajuKuswandi, Wawan. 1996. Komunikasi Massa : Sebuah Analisis Media Televisi. Jakarta : PT.Rineka Cipta.Kuswandi, Wawan. 2008. Komunikasi Massa : Analisis Interaktif Budaya Massa. Jakarta :Rineka Cipta.Liliweri, Alo.1991. Memahami Peran Komunikasi dalam Masyarakat. Bandung: Citra AdityaBaktiLittle john, Stephen W & Karen A. Foss. 2009. Teori Komunikasi (Theories of HumanCommunication) edisi 9. Jakarta : Salemba Humanika.Marchfoedz, Ircham. 2007. Metodologi Penelitian. Jakarta : PT. Tramaya.Mulyasa, E. 2004. Kurikulum Berbasis Kompetensi. Bandung : Remaja RosdakaryaNasution, S. 2009. Metode Research : Penelitian Ilmiah. Jakarta : PT. Bumi Aksara.Noor, Henry Faizal. 2010. Ekonomi Media. Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada.Rakhmat, Jalaluddin. 2000. Psikologi Komunikasi. Bandung : PT. Remaja Rosdakarya.Rakhmat, Jalaluddin. 2005. Psikologi Komunikasi. Bandung : PT. Remaja Rosdakarya.Ruslan, Rosady. 2004. Metode Penelitian Public Relations dan Komunikasi. Jakarta : PT.Raja Grafindo Persada.Samovar, Larry. A, Richard E. Porter, Edwin R. Mc Daniel. 2010. Komunikasi Lintas Budaya(Edisi 7). Jakarta : Salemba Humanika.Singarimbun, Masri. 1995. Metodologi Penelitian Survai. Jakarta : PT.Pustaka LP3ES.Subroto, Darwanto Sastro. 1992. Televisi Sebagai Pendidikan.Yogyakarta: Duta WacanaUniversity Press.Sumanto, Wasty.1984. Psikologi Pendidikan. Jakarta: Bina AksaraSuparno, Suhaenah. 2001. Membangun Kompetensi. JakartaSupranto, J. 2000. Teknik Sampling. Jakarta : PT. Rineksa Cipta.Surakhmah, Winarno. 1982. Pengantar Penelitian Ilmiah. Bandung : Tarsito.Syah, Muhibbin. 2005. Psikologi Belajar. Jakarta: PT. Raja Grafindo PersadaTubbs, Stewart L dan Sylvia Moss. 1996. Human Communication : Konteks-KonteksKomunikasi. Bandung : PT. Remaja Rosdakarya.Wibowo, Fred. 2007. Teknik Produksi Program Televisi. Yogyakarta : Pinus BooksPublisher.Winarni. 2003. Komunikasi Massa : Suatu Pengantar. Malang : UMM Press.Winarso, Heru Puji. 2005. Sosiologi Komunikasi Massa. Jakarta : Presentasi Pustaka.Internet :Dini. (2011). Jangan Ragu Memilih Profesi “Chef”. Dalamhttp://female.kompas.com/read/2011/05/30/15160929/Profesi.Chef.Semakin.Dicari.Diunduh pada 5 Oktober pukul 21.35 WIBFuadi. (2011) Remaja dan Bisnis Kuliner. Dalamhttp://crazystress.blogspot.com/2009/12/remaja-dan-bisnis-kuliner.html. Diunduhpada 7 Februari pukul 20.15 WIBGembur, S. Teguh. (2013). Rennee Sang Chef Profesional. Dalamhttp://peacockbistro.blogspot.com/2013/03/rennee-sang-chef-profesional.html?m=1.Diunduh pada 2 April pukul 17.00 WIBJika Wanita Tak Bisa Memasak. (2010). Dalamhttp://cleoditra.student.fkip.uns.ac.id/2010/07/17/jika-wanita-tak-bisa-memasak/.Diunduh pada 2 April pukul 17.25 WIBUlfah, Nurul. (2009). Susahnya Memasak si Wanita Karir. Dalamhttp://health.detik.com/read/2009/09/11/073444/1201160/764/susahnya-memasaksi-wanita-karir. Diunduh pada 7 Februari pukul 20.03 WIBFauziyyah, Alfi Muhimmatul. (2011). Emansipasi Tanpa Menyalahi Kodrat. Dalamhttp://kampus.okezone.com/read/2011/12/22/367/545767/redirect. Diunduh pada 15Februari pukul 06.30 WIBKurniasari, Triwik. (2009). Barra Pattiradjawane. Dalamhttp://id.wikipedia.org/wiki/Bara_Pattiradjawane. Diunduh pada 27 April pukul17.14 WIB6 Chef Tercantik di Indonesia. (2011). Dalam http://coba-liat.blogspot.com/2012/09/6-cheftercantik-di-indonesia.html. Diunduh pada 27 April pukul 17.14 WIBJaya, Dudi. (2011). Dalam http://dudijaya.blogspot.com/2011/07/profil-biodata-chefjuna.html. Diunduh pada 27 April pukul 17.30 WIBJaya, Dudi. (2011). Dalam http://dudijaya.blogspot.com/2011/06/profil-biodata-chefmarinka.html. Diunduh pada 27 April pukul 17.32 WIBNew Culinary December. (2011). Dalam http://www.indomarketplace.com/topic/497.Diunduh pada 27 April pukul 18.00 WIBProfil Rudy Choirudin. (2012). Dalam http://id.wikipedia.org/wiki/Rudy_Choirudin. Diunduhpada 27 April pukul 18.11 WIBZR, Yeni. (2013). Dalamhttp://contactpersonchefbillydancorrypamela.blogspot.com/2013/02/profile-chefbilly-kalangi.html. Diunduh pada 27 April 18.30 WIBMengenal Chef Muto. (2013). Dalam http://infotegal.com/2013/02/mengenal-chef-muto/.Diunduh pada 27 April 19.15 WIBSkripsi :Arleen, Ariesyani. (2011). Dampak Tayangan Program Acara Masterchef US di ChannelStarworld Terhadap Minat Memasak (Studi Pada Mahasiswa Jurusan HotelManagement Binus University).Skripsi, Bina Nusantara.Sari, Diah Arum. (2005). Hubungan Antara Motivasi Anak dalam Mengikuti Lomba danKebutuhan Anak untuk Mengembangkan Bakat dengan Intensitas MenontonProgram Talent Show di Televisi. Skripsi. Universitas Diponegoro.Al-Hayuantana, Bayu Vita. (2002). Hubungan Intensitas Menonton Tayangan Katakan Cintadi RCTI dan Interaksi dengan Teman Sebaya dengan Perilaku Imitasi dalamMengungkapkan Cinta. Skripsi. Universitas Diponegoro
Hubungan antara Minat Memasak dan Kebiasaan Memasak terhadap Intensitas Menonton Tayangan Junior MasterChef Indonesia Putri, Meta Detiana; Suprihatini, Taufik; Pradekso, Tandiyo; Herieningsih, Sri Widowati
Interaksi Online Vol 2, No 4: Oktober 2014
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (228.24 KB)

Abstract

Intensitas menonton adalah tingkat keseringan seseorang menonton setiap penyampaian pesan atau informasi tentang barang ataupun gagasan yang menggunakan media massa. Adanya terpaan-terpaan pesan atau informasi yang mengenai diri khalayak akan membuat mereka cenderung memberikan respon terhadap program yang disajikan dalam media massa. Memasak adalah menghantarkan panas ke dalam makanan atau proses pemanasan bahan makanan. Dengan demikian proses memasak hanya terjadi selama panas atau terapan pada suatu bahan makanan sedang berlangsung. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara minat memasak dan kebiasaan memasak terhadap intensitas menonton tayangan junior masterchef Indonesia. Teori penggunaan dan kepuasan (uses and gratification) digunakan untuk menguatkan penelitian ini. Minat memasak diukur dengan indikator keinginan. Kebiasaan memasak diukur dengan indikator frekuensi. Sedangkan intensitas menonton tayangan junior masterchef Indonesia diukur dengan indikator frekuensi, durasi, dan perhatian. Penelitian ini merupakan penelitian eksplanatori dengan pendekatan kuantitatif. Populasi dalam penelitian ini adalah anak-anak usia 8-13 tahun. Teknik pengambilan sampel yang dilakukan adalah non random accidental sampling yang berjumlah 50 orang. Adapun teknik analisis data yang digunakan adalah dengan menggunakan analisis koefisien korelasi rank Kendall menggunakan perhitungan program SPSS.Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara minat memasak dengan intensitas menonton tayangan junior masterchef Indonesia. Hal ini dibuktikan berdasarkan perhitungan melalui uji statistik dimana diperoleh probabilitas kesalahan (sig) sebesar 0,01 dengan koefisien korelasi sebesar 0,533. Oleh karena sig sebesar 0,00 < 0,01; maka kesimpulan yang dapat diambil adalah bahwa menerima Hipotesis alternatif (Ha) dan menolak Hipotesis nol (Ho). sedangkan untuk kebiasaan memasak dengan intensitas menonton tayangan junior masterchef Indonesia terdapat hubungan karena uji hipotesis menunjukkan bahwa diperoleh probabilitas kesalahan (sig) sebesar 0,241. Oleh karena sig sebesar 0,045 < 0,05; maka kesimpulan yang dapat diambil adalah bahwa menerima Hipotesis alternatif (Ha) dan menolak Hipotesis nol (Ho). Key words : Minat Memasak, Kebiasaan Memasak, Intensitas Menonton Tayangan Junior MasterChef Indonesia
Memahami Pengalaman Negosiasi Identitas Komunitas Punk Muslim di Dalam Masyarakat Dominan Mardiansyah, Muhammad Reza; Rahardjo, Turnomo; Suprihatini, Taufik
Interaksi Online Vol 2, No 2: April 2013
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (168.126 KB)

Abstract

Latar Belakang Sejak dulu, fenomena Punk di Indonesia selalu dihadapkan dengan masalah bahwa anak-anak Punk tidak lebih dari sekadar sampah masyarakat. Gaya hidup mereka yang cenderung menyimpang seringkali dikaitkan dengan perilaku anarkis, brutal, bikin onar, mabuk-mabukan, narkoba, sex bebas dan bertindak sesuai keinginannya sendiri mengakibatkan pandangan masyarakat akan anak Punk adalah berandal yang tidak mempunyai masa depan yang jelas. Ditambah lagi dengan tindakan kriminal yang belakangan ini mulai banyak dilakukan anak Punk mulai dari penjambretan dan pencurian.Pandangan buruk terhadap komunitas Punk sudah sangat melekat dalam masyarakat, tetapi ternyata tidak semua komunitas Punk seperti yang digambarkan di atas. Di daerah Pulogadung Jakarta Timur terdapat sebuah komunitas Punk yang menggunakan agama Islam sebagi ideologi yang mereka anut yaitu komunitas Punk Muslim.Komunitas Punk Muslim adalah komunitas Punk yang berdiri sejak tahun 2007 lalu. Kata Muslim yang digunakan dalam nama komunitas Punk Muslim bukan tanpa alasan, sejak berdirinya komunitas Punk Muslim, komunitas ini berkomitmen akan membawa Islam sebagai jalur dalam segala kegiataannya.Punk Muslim hampir sama dengan komunitas Punk lainnya, mereka tetap membawa counter culture yang sama, yaitu mendobrak kebiasaan lama dan anti mainstream. Yang membedakan Punk Muslim dengan komunitas Punk lainnya hanya pada ideologinya, jika komunitas Punk lainnya lebih cenderung menggunakan ideology bebas dan anarkis, Punk Muslim menggunakan ideology islam yang lebih terarah dan teratur. Dalam penampilannya komunitas Punk Muslim juga tidak berbeda dengan komunitas Punk lainnya, mereka tetap bercelana jeans kumal, berkaos hitam lusuh dan sepatu boot malah sebagian anggota Punk Muslim masih ada yang menggunakan tattoo.Komunitas Punk Muslim didirikan karena ingin merubah stigma negatif yang menempel pada komunitas Punk pada umumnya. Ketika banyak yang menilai komunitas Punk itu hanya sampah masyarakat, komunitas Punk mencoba untuk merangkul mereka. Komunitas Punk Muslim mencoba menjelaskan kepada teman-teman Punk bahwa menjadi anak Punk itu tidak harus dengan tindakan anarkis, kriminal dan kebebasan yang tanpa aturan. Komunitas PunkMuslim tidak mencoba untuk melawan komunitas Punk lainnya, komunitas Punk Muslim hanya melawan sebuah konsep atau sistem kebebasan yang terlampau ekstrim yang menyebabkan anak-anak Punk terlihat negatif dalam masyarakat..Dalam kegiatan sehari-harinya anggota Punk Muslim selalu menggelar pengajian rutin di markas mereka untuk menambah ilmu mereka tentang agama, mereka juga tidak lupa menjalan shalat 5 waktu bahkan pada saat bulan ramadhan mereka menjalankan ibadah puasa, mengadakan shalat tarawih bareng dan juga pesantren untuk anak-anak Punk dan jalanan. Komunitas Punk Muslim ini juga menyalurkan aspirasi mereka lewat sebuah band Punk Muslim yang sudah terbentuk terlebih dahulu, sampai saat ini mereka sudah mengeluarkan dua album Punk yang memadukan aliran musik Punk dengan syair-syair religi.Komunitas Punk Muslim memang berbeda dengan komunitas Punk lainnya, mereka tidak lagi menggunakan ideologi bebas seperti komunitas – komunitas Punk lainnya, mereka menggunakan ideologi Muslim yang lebih terkonsep dan terarah. Namun, dengan masih menggunakan nama komunitas Punk mereka masih tetap saja menjadi komunitas yang termarjinalkan dalam masyarakat. Identitas mereka sebagai anak Punk lebih banyak membawa kerugian dari pada membawa keuntungan bagi mereka yang menyandangnya. Hal ini terjadi karena adanya persepsi yang salah pada masyarakat dalam memandang komunitas Punk.Munculnya stigma negatif tentang komunitas Punk juga berpengaruh pada identitas komunitas Punk Muslim. Tidak dipungkiri bahwa banyaknya perilaku anak Punk yang menyimpang seperti mabuk-mabukan, melakukan kekerasan dan tindak kejahatan membawa perubahan terhadap identitas komunitas Punk Muslim. Negoisasi identitas pun dilakukan oleh komunitas Punk Muslim ketika mereka harus berinteraksi dengan masyarakat dominan, dengan tetap mempertimbangkan budaya Punk itu sendiri dan budaya masyarakat dominan.Menurut Cupach dan Imahori, faktor dominan yang mempengaruhi identitas individu adalah budaya (cultural) dan identitas rasional (rational identities). Budaya memberikan pikiran, ide, cara pandang, sementara identitas rasional memberikan pola interaksi dan pola sosial yang membentuk bagaimana individu hendak memproyeksikan karakter dirinya berdasarkan pengalamannya dalam menjalani hubungan dengan orang lain atau dominant culture (Gudykunts, 2002: 191-192)Dalam konteks komunikasi antarbudaya, setiap melakukan komunikasi dengan orang dari budaya yang berbeda, pasti akan melakukan negosiasi identitas budaya masing-masing dalam diri individu tersebut. Orang–orang akan bernegosiasi dengan diri mereka sendiri tentang identitas budaya yang melekat pada mereka dan identitas budaya lain. Identitas didefinisikan sebagai konstruksi refleksi diri yang tampak, dibangun, dan dikomunikasikan dalam konteks interaksi budaya tertentu. Sedangkan negosiasi berarti interaksi transaksional dimana individu-individu yang berada dalam situasi antarbudaya akan memproses konsep diri orang lain dan diri mereka sendiri. Teori negosiasi identitas dipaparkan oleh Ting-Toomey memiliki asumsi, bahwa dalam teori ini menekankan konsepsi refleksi diri yang bekerja pada saat komunikasi antarbudaya berlangsung (Gudykunts, 2005:217).Agar diterima dan mendapatkan kenyamanan di lingkungan, maka komunitas Punk Muslim harus bisa menegosiasikan identitas Punk yang mereka punya kepada masyarakat dominan secara efektif. Mereka harus menegosiasikan bahwa Identitas Punk yang di punyai Punk Muslim bukan lagi seperti komunitas Punk pada umumnya yang sudah mempunyai citra buruk di dalam masyrakat. Identitas komunitas Punk Muslim tersebut akan terbentuk melalui negosiasi ketika mereka menyatakan, memodifikasi dan menentang identifikasi –identifikasi komunitas Punk pada umunya melalui sikap, perbuatan dan tindakan mereka kepada masyarakat dominan. Mereka seharusnya tidak lagi menentang budaya masyarakat dominan, tetapi seharusnya memahami, menghormati dan menghargai budaya masyarakat dominan karena Inti dari keberhasilan negoisasi adalah kedua belah pihak merasa sama-sama di pahami, dihormati, dan dihargai.II. Perumusan MasalahMelalui penelitian ini, peneliti ingin mengetahui bagaimana komunitas Punk Muslim menegosiasikan identitas mereka dalam masyarakat dominan yang masih menganggap komunitas Punk itu negatif ?.III. Tujuan Penelitian1. Memahami pengalaman negosiasi identitas yang dilakukan oleh komunitas Punk Muslim di dalam masyarakat dominan2. Mengetahui apakah masyarakat dominan masih menganggap komunitas Punk Muslim itu negatif setelah dilakukannya negosiasi identitas.IV. Signifikasi PenelitianSignifikasi TeoritisPenelitian ini secara teoritis diharapkan mampu memberikan kontribusi dalam mengkaji teori negosiasi identitas. Negosiasi identitas dalam penelitian ini akan mengkaji tentang pengalaman negosiasi identitas yang dilakukan komunitas Punk Muslim di dalam masyarakat dominan dalam konteks komunikasi budaya.Signifikasi PraktisSecara praktis, penelitian ini diharapkan dapat menjelaskan tentang bagaimana komunitas Punk Muslim menegosiasikan identitas mereka di dalam masyarakat dominan.Signifikasi SosialDalam tataran sosial, penelitian ini diharapkan mampu memberikan gambaran pengalaman negosiasi identitas komunitas Punk Muslim di dalam masyarakat dominan sehingga diharapkan mampu menjadi pedoman untuk pembaca dan mayarakat luas khususnya kelompok minoritas yang akan menegosiasikan identitasnya dengan baik dengan kelompok budaya dominan.V. Kerangka Teoritik Co-Culture TheoryCo-culture merupakan pemikiran teoritik yang menjelaskan kesetaraan budaya (Rahardjo.2005:46). Komunikasi co-culture merujuk pada interaksi diantara para anggota kelompok underrepresented dengan kelompok dominan. Fokus dari teori co-culture adalah memberikan sebuah kerangka dimana para anggota co-culture menegosiasikan usaha-usaha untuk menyampaikan suara diam mereka dalam struktur dominan. Teori Negosiasi IdentitasDidasarkan pada cross-cultural-face-negotiation-theory nya, Toomey berargumentasi bahwa negosiasi identitas adalah prasyarat untuk komunikasi antarbudaya yang sukses. Ia menekankan bahwa “negosiasi identitas yang efektif adalah proses antar dua interaksi dalam suatu peristiwa komunikasi dan ini penting sebagai basis kompetensi komunikasi antarbudaya (Gudykunts, 2002 : 192).Pada intinya Teori negosiasi identitas ini menjelaskan bahwa negosiasi identitas terjadi secara efektif apabila kedua belah pihak merasa dipahami, dihormati dan diterima nilainya sehingga timbul rasa pengertian diantara kedua pihak yang menegosiasikan identitasnya.VI. Metode PenelitianMetode pengkajian yang digunakan adalah pendekatan kualitatif yang bertujuan untuk menjelaskan fenomena dengan sedalam-dalamnya mengenai negosiasi identitas komunitas Punk Muslim di dalam budaya dominan. Pendekatan yang dipakai dalam penelitian ini adalah fenomenologi yang fokus pada pemikiran pengalaman pribadi subjek yang dalam ini adalah komunitas Punk Muslim.Lokasi Penelitian berada di Jakarta, dengan subjek penelitiannya adalah anggota komunitas Punk Muslim yang yang sudah menjadi anggota minimal satu tahun karena dianggap sudah memiliki pengalaman yang banyak dan diharapkan mereka dapat memberikan informasi tentang pengalaman mereka menegosiasikan identitas mereka di dalam masyarakat dominan.Dalam penelitian ini pengumpulan data dilakukan dengan cara melakukan wawancara mendalam (indepth interview) dimana anggota narasumber (komunitas Punk Muslim) diminta menceritakan pengalaman komunikasinya dalam menegosiasikan identitasnya dalam masyarakat budaya dominan. Wawancara ini akan menggunakan interview guide (panduan wawancara) yang dapat menjadi alat bantu subjek penelitian (komunitas Punk Muslim) dalam menjawab pertanyaan dan menggunakan alat bantu seperti alat tulis dan perekam suara.VII. Kesimpulan Munculnya Punk di Indonesia selalu dihadapkan dengan stereotip masyarakat dominan yang masih memandang komunitas Punk sebagai kelompok yang identik dengan keonaran, ketidakmapanan dengan hidup di jalanan, dan sering mabuk-mabukan sehinggaupaya merazia mereka dilakukan dimana-mana dengan alasan mengganggu ketertiban umum. Stereotip yang berkembang mengenai komunitas Punk pada umumnya memengaruhi komunitas Punk Muslim dalam membangun identitasnya yang ingin merubah pandangan masyarakat terhadap komunitas Punk menjadi postif. Anggota masyarakat yang melabelkan stereotip kepada komunitas Punk Muslim dipengaruhi oleh minimnya komunikasi yang terjalin antara masyarakat dan komunitas Punk Muslim akibat adanya stereotip tersebut. Berdasarkan hasil penelitian, komunitas Punk Muslim menggunakan perspektif agama Islam sebagai ideologi mereka. Ideologi merupakan cara berpikir seseorang atau kelompok yang membentuk sekumpulan konsep bersistem berupa pemahaman maupun teori dengan tujuan tertentu. Komunitas Punk Muslim menggunakan ideologi agama Islam yang tidak hanya mengarah kepada duniawi, tetapi kepada akhirat juga. Ideologi tersebut juga digunakan oleh komunitas Punk Muslim sebagai identitas mereka yang berbeda dengan komunitas Punk pada umumnya yang banyak menggunakan ideologi D.I.Y (Do It Your Self) yang berarti mereka dapat mengerjakan segala sesuatunya sendiri tanpa bantuan orang lain. Ideologi ini muncul karena sifat mereka yang anti sosial, tidak mempercayai siapapun diluar komunitas Punk, bahkan kecenderungan ideologi ini selalu berkaitan dengan perlawanan terhadap kekuasaan atau politik, anti sosial, minoritas, anti hukum, dan segala hal yang cenderung negatif. Identitas komunitas Punk Muslim tidak mereka tunjukkan melalaui atribut-atribut khusus yang mereka gunakan. Komunitas Punk Muslim cenderung bersikap layaknya masyarakat biasa dengan cara berperilaku sopan, berpakaian bersih dan wangi walaupun masih tetap menggunakan pakaian serba hitam seperti komunitas Punk pada umumnya, dan menutupi atribut-atribut Punk yang menyeramkan seperti tatto, anting, tindikan dan rambut mowhawk. Cara tersebutlah yang mereka tunjukkan sebagai identitas mereka sebagai seorang anggota komunitas Punk Muslim. Komunitas Punk Muslim yang berupaya untuk mengubah pandangan masyarakat terhadap komunitas Punk menjadi positif, menegosiasikan identitasnya didalam masyarakat dominan dengan melakukan strategi komunikasi akomodasi. Mereka mencoba menjalin hubungan positif dengan masyarakat tetapi tetap mempertahankan identitas mereka. Hal tersebut terbukti dari keaktifan komunitas Punk Muslim melakukankegiatan-kegiatan sosial seperti Tabliq, sunatan masal, membagi santunan kepada anak yatim dan para janda di lingkungan sekitar markas, namun mereka tetap mempertahankan identitasnya sebagai komunitas Punk dengan hidup dijalanan dan tetap memainkan musik beraliran Punk walaupun liriknya bernuansa Islam. Komunitas Punk Muslim melakukan strategi tersebut agar masyarakat sekitar bisa menerima komunitas Punk Muslim sebagai komunitas yang mempunyai citra positif. Hasil dari negosiasi identitas yang dilakukan komunitas Punk Muslim didalam masyarakat dominan adalah feeling of being understood (perasaan dipahami), komunitas Punk Muslim dan anggota masyarakat dominan sekitar markas yang terus melakukan interaksi untuk terus memahami perbedaan budaya dan latar belakang budaya satu sama lain. Selanjutnya adalah Feeling of being respected (perasaan dihormati) komunitas Punk Muslim mencoba menghormati masyarakat sekitar dengan meminta izin kepada ketua RW dan RT setempat sebagai perwakilan dari masyarakat setempat bila ingin mengadakan suatu acara. Wargapun menghormatinya dengan memberikan izin dan ikut berpartisipasi dalam acara tersebut. Terakhir adalah feeling being affirmative value (perasaan diterima nilai perbedaannya) yakni menguatkan secara positif dan menerima perbedaan. Komunitas Punk Muslim yang memiliki kemampuan di bidang musik diminta masyarakat untuk mengisi acara pada kegiatan-kegiatan yang diselenggarakan oleh masyarakat sekitar. Begitu juga dengan komunitas Punk Muslim, pada setiap kegiatan kemasyarakatan di lingkungan sekitar seperti kerja bakti, tahun baru Islam dan rapat RT, komunitas Punk Muslim selalu menghadiri acara tersebut karena masyarakat sekitar sudah dapat menerima komunitas Punk Muslim sebagai waga sekitar. Berdasarkan hasil negosiasi identitas komunitas Punk Muslim didalam masyarakat dominan. Masyarakat sudah tidak lagi menganggap komunitas Punk Muslim itu sebagai komunitas yang memiliki citra negatif tetapi sudah sebagai komunitas yang mempunyai citra positif di mata masyarakat. Hal itu di tunjukkan dengan kedatangan masyarakat atau partisipasi masyarakat pada saat komunitas Punk Muslim mengadakan acara atau dengan melihat antusias warga yang mengundang komunitas Punk Muslim dalam acara mereka.Gambar 4.1Bagan Pengalaman Negosiasi Identitas Komunitas Punk Muslim Didalam Masyarakat DominanKomunitas Punk Muslim (Subculture) Masyarakat dominan (Dominant Culture) Stereotip Terhadap Komunitas Punk Strategi Akomodasi (Kegiatan sosial dan kegiatan positif) Negosiasi Identitas Hasil Negosiasi Identitas : feeling of being understood (perasaan dipahami) feeling of being respected (perasaan dihormati) feeling being affirmative value (perasaan diterima nilai perbedaannya) Ideologi Agama Islam Keinginan Merubah Pandangan Negatif Terhadap komunitas Punk Bersikap layaknya masyarakat biasaDAFTAR PUSTAKABarnard, Malcolm. 2011. Fashion sebagai Komunikasi : Cara Mengkomunikasikan Identitas Sosial, Seksual, Kelas, dan Gender. Yogyakarta : Jalasutra.Fiske, John. 2011 diterjemahkan oleh Yosial Iriantana, MS. Dan Idi Subandy Ibrahim. Cultural and Communication Stuides. Sebuah Pengantar Paling Komprehensif. Yogyakarta: Jalasutra.Gudykunst.William B. 2002. Handbook of International and Interculutal Communication Second Edition. Thousand Oaks, California: SAGE publication.Gudykunst, William. 2005. Theorizing About Intercultural Communication. California : Thousand Oaks : SAGE Publication, Inc.Hebdige, Dick. 1979. Subculture the Meaning of Style. London & Newyork : Routledge Taylor and Francis Group.Littlejohn, Stephen W. & Karen A. Foss.2009. Teori Komunikasi Edisi 9. Jakarta: Salemba HumanikaLittlejohn, Stephen W & Karen A. Foss. 2009b. Encyclopedia of Communication Theories. California : Thousand Oaks : SAGE Publication, Inc.Martin, Judith & Thomas K. Nakayama. 2007. Intercultural Communication In Context (4th ed). NewYork : McGraw-HillMoleong, Lexy J. 2006. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung : PT. Rosdakarya.Moustakas, Clark. 1994. Phenomenological Research Methods. California : SAGE Publication.Neuman, William Lawrence. 1997. Social Research Methods : Qualitative and Quantitative Approaches. Needhom Heights : A Valcom Company.Pearson, Judy C.,Paul E. Nelson, Scott Listworth. Lynn Harter. (2011). Human Communication (4th ed.). New York: McGraw-HillRahardjo, Turnomo. 2005. Menghargai Perbedaan Kultural. Yogyakarta : Pustaka Pelajar.Sulistiyani, Hapsari. 2006. Modul Pelatihan Metode Penelitian Kualitatif. Semarang : Fisip Undip.INTERNEThttp://antarabogor.com/index.php/detail/1983/anak-Punk-resahkan-warga-depokhttp://www.facebook.com/pages/PUNK-Muslim-original page/163233493698838?fref=tshttp://punkmuslim.multiply.com/?&show_interstitial=1&u=http://allamandakathriya.blogspot.com/2012/04/komunitas-punk.html.
PENGALAMAN INTERAKTIF PENGGUNAAN KARAKTER ‘QUIET’ DALAM PERMAINAN METAL GEAR SOLID V: THE PHANTOM PAIN MUTIA ADI CAHYANI, REZA; Suprihatini, Taufik
Interaksi Online Vol 6, No 2: April 2018
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (88.508 KB)

Abstract

Metal Gear Solid V: The Phantom Pain is the game that has been known even before its launch date by their unique character ‘Quiet’, a sniper that will accompany players as a buddy along the mission. ‘Quiet’ has become a popular character between both men and women player. From the total 657 member, around 184 women’s player as a part of discussion group on Kaskus site using ‘Quiet’ as their buddy By using a qualitative approach, with constructivism paradigm, and analyzed through phenomenological method, this study aims to understand player experience by using ‘Quiet’ character in the Metal Gear Solid V: The Phantom Pain game and the effect caused by using the character upon themselves. Flow theory is a main theory to apprehend this research. 6 informants were taken as a part of the study that consist of 3 men and 3 women that has played using ‘Quiet’ as their buddy with 100% bond meter. The result of the study found that the immersive process require a sense of human sensory and graphical display of the game. The control itself is a main part to enhance the ability of immersive experience to be felt especially for fan service features that allow players to take control over camera is one of the reason men players using Quiet as their buddy whilst women players tend to utilize Quiet for gameplay matter. Proteus effect shows to certain player where the de individuation occurs where the game character characteristic induced to on how they behave in reality. Personal experience and the ability to mod the game are triggering the proteus effect into the players.
Interpretasi Pembaca Terhadap Materi Pornografi dalam Komik Hentai Virgin Na Kankei Putri, Swasti Kirana; Lukmantoro, Triyono; Gono, Joyo NS; Suprihatini, Taufik
Interaksi Online Vol 3, No 4: Oktober 2015
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (49.353 KB)

Abstract

Komik merupakan salah satu media yang dapat dinikmati dan diakses dengan mudah oleh semua kalangan. Mayoritas komik yang beredar di Indonesia adalah komik yang berasal dari Jepang. Salah satu genre komik Jepang yang beredar di Indonesia adalah komik Hentai. Komik Hentai dianggap sebagai salah satu media yang memuat materi pornografi di Indonesia karena menampilkan gambar tubuh telanjang manusia dan hubungan seks secara vulgar dan erotis. Komik Hentai menampilkan hal yang tidak etis dan tidak sesuai dengan kebudayaan masyarakat Indonesia serta berbahaya dan berdampak buruk bagi pembacanya. Salah satu komik Hentai yang beredar di Indonesia adalah Virgin Na Kankei.Tujuan penelitian ini adalah mengetahui bagaimana interpretasi pembaca terhadap materi pornografi dalam komik Hentai Virgin Na Kankei, serta eksploitasi dan komodifikasi tubuh perempuan yang ditampilkan dalam komik tersebut. Teori yang digunakan adalah teori komik (Scott McCloud, 1993), teori analisis resepsi (Ien Ang, 1990) dan teori politik-ekonomi media (Dennis McQuail, 1987). Tipe penelitian ini adalah deskriptif kualitatif dengan pendekatan interpretatif. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan melakukan indepth interview kepada empat orang informan yang pernah membaca komik Virgin Na Kankei.Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terjadi perbedaan pemaknaan mengenai eksploitasi perempuan dalam komik Virgin Na Kankei, dua informan berpendapat terjadi eksploitasi sedangkan dua informan lainnya berpendapat tidak terjadi eksploitasi tubuh perempuan dalam komik tersebut. Dalam hal komodifikasi tubuh perempuan dalam komik Virgin Na Kankei, tiga orang informan berpendapat bahwa terjadi komodifikasi tubuh perempuan sedangkan satu orang informan lainnya berpendapat sebaliknya. Perbedaan pemaknaan dari para informan juga terjadi terkait dengan materi pornografi yang ditampilkan dalam komik Virgin Na Kankei. Informan perempuan berpendapat bahwa percakapan yang ditampilkan dalam komik tersebut merupakan materi pornografi, sedangkan informan laki-laki berpendapat sebaliknya. Dari segi penggambaran tokoh yang ditampilkan dalam komik Virgin Na Kankei, tiga informan berpendapat bahwa hal tersebut bukan materi pornografi, sedangkan satu orang lainnya memandang hal tersebut sebagai materi pornografi. Seluruh informan berpendapat bahwa cerita dalam komik Virgin Na Kankei bukan merupakan materi pornografi. Seluruh informan juga sepakat bahwa penggambaran adegan seksual dalam komik tersebut merupakan materi pornografi.
Memahami Communication Gap Antarbudaya Anggota Etnis Jawa Muslim Pondok Pesantren Kauman dengan Warga Etniss Tionghoa Non Muslim di Desa Karangturi, Kecamatan Lasem, Kabupaten Rembang Amalia, Rizky; Suprihatini, Taufik
Interaksi Online Vol 6, No 1: Januari 2018
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (180.727 KB)

Abstract

Terdapat pondok pesantren di area pecinan yang bernama Pondok Pesantren Kauman di Desa Karangturi, Kecamatan Lasem, Kabupaten Rembang. Anggotanya etnis Jawa Muslim. Sedangkan, warga sekitar merupakan warga etnis Tionghoa non Muslim. Terjadi communication gap antara etnis Jawa Muslim sebagai pendatang dan etnis Tionghoa non Muslim sebagai penduduk asli. Penelitian ini bertujuan memahami communication gap yang terjadi antara anggota etnis Jawa Muslim Pondok Pesantren Kauman dengan warga etnis Tionghoa non Muslim Desa Karangturi, Kecamatan Lasem, Kabupaten Rembang. Menggunakan pendekatan kualitatif, dengan paradigma interpretif, dan dianalisa melalui metode fenomenologi. Penelitian ini menggunakan Communication Accomodation Theory. Hasil penelitian ini menemukan bahwa proses komunikasi antarbudaya yang terjadi menimbulkan gap antara anggota Pondok Pesantren Kauman dan warga etnis Tionghoa di Desa Karangturi. Gap itu muncul ketika warga etnis Tionghoa sebagai penduduk asli menganggap tradisi, budaya, dan agama yang dianut sebagai hal yang dipercaya sudah ada sejak dulu serta berlangsung secara turun temurun. Sedangkan anggota Pondok Pesantren Kauman yang merupakan pendatang di Desa Karangturi tersebut tidak bisa berakomodasi dengan baik terhadap tradisi dan budaya yang dimiliki penduduk asli. Sehingga anggota etnis Jawa Muslim memilih berinteraksi dengan kelompoknya sendiri, dan tetap menggunakan atribut keagamaan yang dipercayai seperti peci, sarung maupun kerudung. Prasangka yang muncul membuat kedua etnis tetap menunjukkan identitas yang kuat dari masing-masing budaya mereka. Upaya yang dilakukan Pondok Pesantren Kauman untuk mengurangi munculnya gap sebagai pendatang dengan penduduk asli melalui akomodasi. Akomodasi dilakukan oleh anggota Pondok Pesantren Kauman dalam bentuk pemasangan lampion dan pembuatan tulisan Cina di berbagai sudut Pondok Pesantren Kauman. Selain itu juga dibangun pos kamling yang menyerupai klenteng dan ditambah oleh Pondok Pesantren Kauman dengan tulisan Arab dan Cina di kanan dan kiri pintu masuknya.