Claim Missing Document
Check
Articles

Found 12 Documents
Search
Journal : Interaksi Online

MANAJEMEN KONFLIK ANTARPRIBADI PASANGAN SUAMI ISTRI BEDA AGAMA Agustin, Asteria; Rahardjo, Turnomo; Suprihatini, Taufik
Interaksi Online Vol 2, No 2: April 2013
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (98.875 KB)

Abstract

PENDAHULUAN Fenomena peningkatan antar agama saat ini sedang marak terjadi diIndonesia, baik itu di kalangan masyarakat biasa maupun di kalangan artisibukota. Hal ini mendapat perhatian dari masyarakat karena menyangkut agamayang sangat sensitif. Sebagian masyarakat menentang perkawinan ini namun tidaksedikit pula yang menyetujuinya.Menurut Laswell (1987:51) perkawinan bukanlah hal yang mudahdilakukan pasangan beda agama dengan tetap menganut agamanya masingmasing.Perkawinan beda agama adalah penyatuan dua pola pikir dan cara hidupyang berbeda, dan perbedaan agama dengan pasangan dalam perkawinan banyakmenimbulkan permasalahan.Dalam perkawinan beda agama, adaptasi sangat perlu dilakukan. Karenapada saat pria dan wanita yang berbeda agama menikah, tentunya masing-masingmembawa nilai budaya, sikap, gaya penyesuaian dan keyakinan ke dalamperkawinan tersebut. Apalagi di dalam suatu perkawinan di mana kedua belahpihak yang memiliki agama berbeda rentan akan tingkat sensitifitas konflik yangcukup tinggi. Oleh karena itu pasangan suami istri dituntut untuk dapatmenyesuaikan diri dengan nilai-nilai yang dimiliki oleh pasangannya yangkemungkinan besar dipengaruhi oleh agama yang dianutnya. Ditambah denganritual keagamaan yang dijalankan berbeda dengan ritual keagamaan yangdijalankan oleh pasangannya.Oleh karena itu dibutuhkan manajemen konflik yang tepat dan efektif bagipasangan beda agama guna meminimalisir konflik yang yang terjadi menyangkutperbedaan agama.Sidney Jourard dalam Teori Self Disclosure menawarkan konsepketerbukaan diri. Konsep ini memiliki arti bahwa di dalam hubunganinterpersonal yang ideal menghendaki naggota-anggota yang terlibat untukmengenal diri orang lain sepenuhnya dan membiarkan dirinya terbuka untukdikenal orang lain sepenuhnya (Littlejohn,1999:260). Penelitian ini jugamenggunakan Teori Adaptasi Antarbudaya (theory intercultural adaption) yangmengungkapkan bagaimana individu beradaptasi dalam berkomunikasi denganindividu yang berbeda budayanya. Teori ini berpendapat bahwa proses adaptasiadalah suatu cara untuk memenuhi suatu tujuan. Terakhir, RelationalMaintenances Theories juga digunakan dalam penelitian perkawinan antar agama.Teori ini menjelaskan bagaimana individu melakukan pemeliharaan hubunganyang mengacu pada sekelompok perilaku, tindakan dan yang individu gunakanuntuk mempertahankan tingkat relasi (kedekatan individu) yang diinginkan dandefinisi dari hubungan itu. Oleh karena itu, manajemen konflik ini menarik untukdipelajari bagaimana upaya-upaya dan pengelolaan konflik yang dilakukanpasangan beda agama yang hingga saat ini dapat mempertahankan keutuhanperkawinannya dengan tetap menganut agamanya masing-masing.PEMBAHASANPenelitian ini menguraikan tentang pengalaman pasangan suami istri bedaagama dan bagaimana pengelolaan konflik yang mereka lakukan dengan tetapmenganut agamanya masing-masing untuk mempertahankan keutuhanperkawinan. Berangkat dari asumsi bahwa sebagian pasangan beda agamacenderung mengalami konflik yang mendalam bahkan bisa menyebabkanperceraian. Ini dikarenakan adanya perbedaan yang sangat jelas diantarakeduanya, dimana adanya perbedaan pandangan, perbedaan keyakinan, perbedaannilai-nilai agama hingga hak pengasuhan anak.Oleh karena itu adanya pengelolaan konflik yang tepat dan efektif sangatdibutuhkan bagi pasangan beda agama guna meminimalisir konflik yang terjadimenyangkut perbedaan agama, dan ada beberapa strategi manajemen konflik yangdisesuaikan dengan situasi terjadinya konflik, yaitu : kompetisi (menguasai),penghindaran (menarik diri), kompromi (berunding), kolaborasi (menghadapi)dan akomodasi (melunak).Dalam menyelesaikan konflik yang menyangkut perbedaan agama, sebagianbesar informan mengkomunikasikan dengn cara saling membicarakan atauberkolaborasi dan berunding kepada pasangan guna menyelesaikan konflik,mereka bekerja sama dan mencari pemecahan yang memuaskan. Masing-masingpihak bersedia membuka diri sehingga menghindarkan dari perasaan tertekan danmasalah yang dipendam. Tetapi masih ada pula informan yang menyelesaikandengan cara menarik diri atau penghindaran. Mereka lebih memilih untukmengalah dan tidak ingin membicarakannya karena takut hal ini akanmenyinggung salah satu pihak. Penyelesaian dengan cara seperti ini tidak akanmemuaskan kedua belah pihak, karena pasangan tersebut tidak mendapatkan hasilseperti yang diharapkan.Penelitian ini melibatkan tiga pasang responden yang berbeda agamadengan usia perkawinan di atas sepuluh tahun. Lewat penelitian inimenggambarkan bagaimana pasangan dengan kondisi demikian berinteraksi,karena tidaklah mudah menikah dengan pasangan yang berbeda agamanya.Dengan wawancara mendalam, peneliti mengumpulkan informasi tentangpengalaman dan hambatan yang mereka alami setelah menikah dan pengelolaankonflik yang mereka lakukan guna mempertahankan keutuhan perkawinan.Pembahasan tentang penemuan-penemuan di atas menghasilkan tentangbeberapa hal yang dapat disimpulkan dari penelitian yang telah dilaksanakan :1) Ketiga informan melakukan interaksi dengan beradaptasi dan salingmenyesuaikan perbedaan-perbedaan yang dimiliki pasangannya, sepertiperbedaan pandangan, perbedaan keyakinan dan tentu saja adat sertakebiasaan yang berbeda. Para informan bukan lagi membangun hubunganyang lebih intim tetapi tujuannya guna mempertahankan dan memeliharahubungan untuk meminimalisir konflik yang muncul karena masalahkonflik yang dihadapi pasangan beda agama cenderung lebih tinggi. Parainforman menjadikan perbedaan yang ada sebagai bentuk keragaman danproses pembelajaran, bukan sebagai jurang yang dapat memisahkanhubungan yang telah mereka bina.2) Adanya sikap keterbukaan, empati dan sikap saling mendukung sangatdibutuhkan pasangan suami istri beda agama. Dengan adanya keterbukaanpara informan dapat mengkomunikasikan apa yang ada dalam pikiranmereka karena dua agama yang berbeda pastinya memiliki pandangan dankeyakinan yang berbeda pula. Namun, masih ada informan yang tidak mausaling terbuka kepada pasangannya, mereka kurang mampu untuk bisamengungkapkan diri, terutama yang menyangkut masalah agama. Merekajarang membicarakan masalah ini. Hal ini disebabkan masing-masingpihak takut jika ucapan-ucapan yang mereka katakan dapat menyinggungsalah satu pihak yang akhirnya berbuntut pada konflik. Berbeda dengandua informan lainnya (informan I dan informan III) dimana mereka selalubersedia menyediakan waktu untuk membicarakan hal-hal yang berkaitandengan perbedaan agama secara terbuka. Hal ini dilakukan untukmengetahui apa yang diinginkan dan dibutuhkan oleh masing-masingpihak, dan bagaimana solusi terbaik bagi keduanya. Empati dan sikapmendukung ditunjukkan oleh ketiga informan di mana mereka salingbertoleransi kepada pasangannya. Misalnya dengan memberikankebebasan menjalankan ibadah agamanya dengan jalan berusahamenghormati jika pasangan sedang beribadah, ikut mengantar ke tempatibadah sampai dengan menyesuaikan acara keluarga dengan waktuberibadah. Atau di saat suami atau istri sedang berpuasa, mereka bersediamembangunkan dan ikut menemani sahur. Disini terlihat bahwa ketigainforman memiliki posisi yang setara dalam hal kebebasan beribadah.Adanya posisi yang setara antara suami dan istri beda agama inidiharapkan akan menciptakan suatu komunikasi yang efektif.3) Hambatan komunikasi yang terjadi pada ketiga informan, bukan faktoryang terlalu mempengaruhi dalam kehidupan perkawinan mereka. Hal inidikarenakan sejak awal informan telah mengetahui resiko yang terjadi jikamenikah beda agama. Hambatan muncul saat akan menikah di mana parainforman ingin tata cara agamanya lah yang dipakai dalam prosesperkawinan dan juga muncul di awal perkawinan dimana para informanmasih saling mempengaruhi untuk masuk agamanya.4) Komitmen-komitmen yang dibuat ketiga informan memberikan kontribusidalam membangun iklim komunikasi yang positif karena dengan adanyakomitmen tersebut mereka dapat meminimalisir konflik yang muncul padaperkawinan mereka. Seperti saat pemutusan agama anak, antara suamimaupun istri tidak ingin berebutan untuk mengasuh anak dalam halpemilihan agama. Pada informan I, anak-anak mengikuti agama suamidikarenakan sejak awal, sang anak bersekolah di sekolahan berbasisKatolik. Sang istri pun tidak mempermasalahkan bahwa kenyatannyakedua anaknya mengikuti agama suami. Sedangkan pada informan IIsepakat jika nantinya sang anak ikut agama istri, dikarenakan suami seringdinas keluar kota yang berarti dirinya akan jarang berada di rumah. Lainlagi dengan informan III, dari awal suami sepakat menyerahkan hak asuhanak kepada istrinya.5) Konflik yang masih sering terjadi dalam rumah tangga informan berasaldari faktor internal yang melibatkan pasangan informan sendiri. Konfliktersebut menyangkut masalah ‘perbedaan agama’ di antara keduanyadimana mereka memiliki keinginan dan harapan yang berbeda diantarasuami istri, yang akhirnya hal itu berujung pada konflik.6) Dalam penyelesaian konflik yang menyangkut perbedaan agama, sebagianbesar informan mengkomunikasikan dengan cara saling membicarakan(berkolaborasi) dan berunding kepada pasangan guna menyelesaikanmasalah, mereka bekerja sama dan mencari pemecahan yang memuaskan.Masing-masing pihak bersedia membuka diri sehingga menghindarkandari perasaan tertekan dan masalah yang dipendam. Tetapi masih adainforman yang menyelesaikan dengan cara penghindaran. Mereka lebihmemilih untuk mengalah dan tidak ingin membicarakannya karena takuthal ini akan menyinggung salah satu pihak. Namun, penyelesaian dengancara seperti ini tidak akan bisa memuaskan kedua belah pihak, karenainforman tidak mendapatkan hasil seperti yang diharapkan.7) Ketiga informan memandang perkawinan mereka sebagai suatu hal yangpositif. Adanya pro dan kontra dari masyarakat bukan sesuatu hal yangperlu dikhawatirkan. Namun informan melarang jika nantinya anak-anakmereka juga melakukan perkawinan beda agama seperti orangtuanya.PENUTUPDalam penelitian ini, pasangan beda agama seharusnya bisa saling terbukakepada pasangannya. Apa yang diinginkan dan dibutuhkan masing-masing pihakbisa saling diungkapkan dengan menggunakan kata-kata yang tidak menyinggungperasaan pasangan. Jika pasangan suami istri beda agama saling memahami danmenerima perbedaan yang mereka miliki, perbedaan tidak akan menjadisandungan bagi keduanya.Dalam mengelola konflik, khususnya konflik yang disebabkan olehperbedaan agama, diusahakan masing-masing pihak tidak saling menghindar,karena suatu saat masalah tersebut dapat muncul kembali dan permasalahannyaakan menjadi semakin besar. Sebaiknya konflik dihadapi dengan terbuka dengansaling mengungkapkan dan mendengarkan keinginan pasangan guna mencapaikesepakatan bersama, sehingga konflik menyangkut agama tidak menjadiancaman bagi kelangsungan rumah tangga mereka, melainkan berguna untuklebih meningkatkan kualitas hubungan suami istri beda agama.
AUDIT IKLIM KOMUNIKASI ORGANISASI DI BADAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN DAERAH ( BAPPEDA ) PEMERINTAH KABUPATEN PEKALONGAN Widiyasari, Woro; Suprihatini, Taufik; Yulianto, Muchammad
Interaksi Online Vol 2, No 1: Januari 2014
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (177.309 KB)

Abstract

ABSTRAKSIJudul : Audit Iklim Komunikasi Organisasi di Badan Perencanaan PembangunanDaerah (BAPPEDA) Pemerintah Kabupaten PekalonganPeneliti : Woro WidiyasariNIM : D2C 009 028Penelitian ini dilatarbelakangi oleh iklim komunikasi organisasi Bappeda PemerintahKabupaten Pekalongan yang diketahui masih sering terjadi hal-hal negatif yang menimbulkansemangat kerja menurun. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui iklimkomunikasi yang terjalin di dalam instansi Bappeda dengan menggunakan Teori yang dipakaiTeori Sistem ; Teori Iklim komunikasi ; Teori Gaya Kepemimpinan ; Aliran Komunikasi .Metode penelitian yang digunakan oleh peneliti adalah audit komunikasi. Sedangkantipe penelitian yang digunakan adalah tipe penelitian deskriptif kualitatif yang bertujuanuntuk menjabarkan situasi dan keadaan komunikasi di Bappeda Pemerintah KabupatenPekalongan. Untuk teknik pengumpulan data di lapangan , peneliti menggunakan teknikwawancara mendalam (indepth interview) kepada enam informan yang terdiri dari karyawanBappeda Pemerintah Kabupaten Pekalongan.Hasil penelitian , maka diketahui iklim komunikasi organisasi yang selama initerjalin di kantor Bappeda Pemerintah Kabupaten Pekalongan tidak berjalan dengan efektif.Dari hasil penelitian di lapangan ditemukan bahwa hubungan antara atasan dengan bawahantidak berjalan dengan baik, hubungan dengan sesama karyawan juga kurang baik, aruskomunikasi yang terjadi selama ini hanya belangsung searah (linier) tanpa adanya feedback,pembagian tugas yang dianggap oleh sebagian besar informan belum merata kepada masingmasingkaryawan.Serta atasan yang jarang memberikan reward kepada bawahan berprestasi.Hal ini mengakibatkan karyawan tidak bersemangat dalam bekerja. Hal tersebut jugamenimbulkan kesenjangan di antara karyawan karena tidak meratanya pembagian tugas yangditimbulkan.Kata Kunci : Audit komunikasi, Kepemimpinan, Iklim Komunikasi, Aliran InformasiABSTRACTAudit of Organizational Communication Climate in Regional Development PlanningDepartment ( BAPPEDA ) Pekalongan Regency Government.This research is motivated by organizational communication climate of BAPPEDAPekalongan Regency Government who has known still commonly has negative things, whichraises working spirit declined. The purpose of this research was to find out thecommunication climate that involve in the BAPPEDA institution using the theory that issystem theory; Theory of Communication Climate; Theory of Leadership Style; and FlowCommunications .The research method used by the researchers is a communication audit. While thetype of research is a descriptive research that aims to describe the situation and the conditionof communication in BAPPEDA Pekalongan Regency Government. For data collectiontechniques in the field, researchers used in depth interview techniques (in depth interview ) tosix informants consisting of employees BAPPEDA Pekalongan Regency Government .The results of the research, it is known that organizational communication climatehas been declined in the BAPPEDA’s Office Pekalongan Regency Government is notoperating effectively. From the results of the field research, was found that the relationshipbetween supervisors and subordinates are not running well, relations with fellow employeesis also not good, the communication flow that happen during this lasts only one side withoutany feedback, the informant consider that the distribution of duties and functions have notbeen spread evenly to each employees. Along supervisors who rarely gives rewards totalented subordinates. This result caused the employee does not feel like working. It alsoraises the gap among the employees because the distribution of duties did not spread evenly.Keywords: Audit of communication, Leadership, communication climate, flow informationBAB IPENDAHULUAN1.1. Latar BelakangBappeda merupakan suatu Badan di dalam Kabupaten Pekalongan yangsangat menentukan perubahan di kota Pekalongan, Bappeda dengan tugas-tugasnyayang sangat berhubungan dengan perencanaan daerah membutuhkan kerja pegawaiyang maksimal, di dukung dengan tekhnologi dan kerjasama yang baik akanmenjadikan kota Pekalongan semakin maju. Tetapi di sisi lain, karyawan BappedaPemerintah Kabupaten Pekalongan mengeluhkan adanya iklim komunikasi yangtidak efektif .Pemimpin yang kurang bisa berkomunikasi dengan lancar denganbawahannya, dan selalu menyerahkan tugas kepada bawahannya menjadikanmunculnya konflik yang menjadikan karyawan semakin tidak nyaman dengankeadaan di kantor.Poole dalam Pace dan Faules (2001: 148), mengatakan bahwa iklimkomunikasi sangat penting karena mengaitkan konteks organisasi dengan konsepkonsep,perasaan-perasaan dan harapan-harapan anggota organisasi dan membantumenjelaskan perilaku anggota organisasi. Lebih lanjut, iklim komunikasi yang baikdalam suatu organisasi lebih memberikan kebebasan kepada anggota organisasi untukmemperoleh informasi tentang perusahaan, lebih berani mengeksplor kemampuanmereka dalam berkarya, berani menghadapi tantangan dunia pekerjaan, dan lebihmenunjukkan bahwa mereka dipercaya untuk mempertanggung jawabkan hasil-hasildari pekerjaan mereka.Iklim komunikasi yang baik sangat besar pengaruhnya dalam suatu organisasi,salah satunya berpengaruh pada peningkatan produktivitas kerja anggota organisasi,Mengapa, karena iklim mempengaruhi usaha anggota organisasi. Usaha tersebutdikelompokkan Frantz terdiri dari empat unsur, yaitu: “(1) aktivitas yang merupakanpekerjaan tersebut; (2) langkah-langkah pelaksanaan kerja; (3) kualitas hasil; (4) polawaktu kerja” (Pace dan Faules, 2001: 155)Hal ini menarik dikaji , bahwa berdasarkan gambaran di atas maka di dalamsuatu Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (BAPPEDA) Pemerintah KabupatenPekalongan yang bertugas penyusunan dan pelaksanaan kebijakan daerah di bidangperencanaan pembangunan daerah yang meliputi ekonomi, fisik, sosial budaya, sertapengendalian dan evaluasi. Iklim komunikasi sangat penting dibutuhkan gunameningkatkan kinerja pegawai, apabila hal tersebut belum terjadi secara efektif makadiperlukan audit iklim komunikasi di Badan Perencanaan Pembangunan DaerahKabupaten Pekalongan sebagai evaluasi dan memperbaiki iklim komunikasi yangtercipta di instansi tersebut guna menjadikan Kabupaten Pekalongan menjadi suatudaerah yang lebih maju.1.2 Tujuan PenulisanTujuan dari penelitian adalah:Untuk mengetahui iklim komunikasi yang terjalin di dalam instansi BappedaPemerintah Kabupaten Pekalonganbaik pada tingkatan iklim komunikasi secarakeseluruhan maupun pada tingkatan kegiatan-kegiatan komunikasi khusus.1.3 KERANGKA TEORITeori yang dipakai Teori sistem; Teori Iklim komunikasi; Teori GayaKepemimpinan; Aliran Komunikasi .1.4 Metode Penelitian1.4.1 Tipe PenelitianPenelitian ini menggunakan tipe penelitian desktiptif kualitatif denganmenggunakan metode audit komunikasi dengan tujuan mendapatkan data darilapangan untuk digunakan sebagai instrumen untuk menjabarkan situasi dan keadaaniklim komunikasi di Bappeda Pemerintah Kabupaten Pekalongan.BAB IITemuan Penelitian Tentang Iklim Komunikasi Organisasi BadanPerencanaan Pembangunan Daerah (BAPPEDA) PemerintahKabupaten PekalonganBab ini mendeskripsikan temuan penelitian dengan audit komunikasi untukmemahami iklim komunikasi organisasi yang terjadi di Bappeda PemerintahKabupaten Pekalongan terkait dengan Kepemimpinan, Iklim Komunikasi , dan ArusKomunikasi. Temuan penelitian berupa hasil indepth interview yang dilakukanterhadap pimpinan dan beberapa karyawan perusahaan . KepemimpinanData yang diperoleh pada saat melakukan indepth interview terhadapkaryawan Bappeda Pemerintah Kabupaten Pekalongan mengenai masalahkepemimpinan yang selama ini dijalankan dari periode 2011 hingga sekarang bagimasing-masing informan memiliki pendapat yang cukup berbeda di antara informansatu dengan yang lain, bagi masing-masing informan masalah komunikasi yangdihadapi selama ini di kantor Bappeda Pemerintah Kabupaten Pekalongan ada yangmengatakan masih dalam tahap yang wajar ada pula yang mengatakan masih terjadikesenjangan di antara masing – masing bagian di kantor Bappeda PemerintahKabupaten Pekalongan. Iklim KomunikasiIklim komunikasi di suatu organisasi sangat penting karena bisa dipastikan bilatidak ada iklim komunikasi yang kondusif , maka akan terjadi adanya kesenjangandan kurangnya semangat dalam bekerja dari masing-masing karyawan dalam suatuorganisasi tersebut. Dari beberapa pertanyaan yang sudah di ajukan ke 6 informantentang iklim komunikasi maka ada beberapa pendapat yang sama dan berbeda satudengan yang lainnya. Pertama mengenai keefektifan iklim komunikasi di kantorBappeda Pemerintah Kabupaten Pekalongan dimana semua informan dari informan 1hingga informan ke 6 mengatakan hal yang sama mengenai keefektifan iklimkomunikasi yang terjadi selama ini di kantor Bappeda Pemerintah KabupatenPekalongan . Arus KomunikasiDalam suatu organisasi, komunikasi merupakan hal yang paling penting., karenatanpa adanya komunikasi, organisasi tidak bisa berjalan dengan baik. Bila dalamorganisasi komunikasinya kurang baik akan berdampak pada efektifitas organisasi.Dengan pendapat masing-masing informan mengenai arus komunikasi di kantorBappeda Pemerintah Kabupaten Pekalongan maka dapat dilihat kurang efektif danharus segera dibenahi.BAB IIIANALISIS IKLIM KOMUNIKASI ORGANISASI BADANPERENCANAAN PEMBANGUNAN DAERAH (BAPPEDA)PEMERINTAH KABUPATEN PEKALONGANA. KEPEMIMPINANBerdasarkan teori gaya kepemimpinan di atas maka gaya kepemimpinan yangsesuai dengan kepemimpinan yang ada di kantor Bappeda Pemerintah KabupatenPekalongan yaitu gaya kepemimpinan Otoriter. Gaya kepemimpinan Otoriter inisesuai dengan kepemimpinan di kantor Bappeda Pemerintah Kabupaten Pekalongankarena bila disimpulkan dari beberapa komentar dari informan mengatakan, belumbersemangat dalam bekerja dikarenakan kurangnya motivasi dari pimpinan danbelum ada penghargaan yang diberikan kepada karyawan berprestasi.B. IKLIM KOMUNIKASI ORGANISASI BAPPEDA PEMERINTAHKABUPATEN PEKALONGANIklim komunikasi organisasi di setiap fungsi tidak selalu sama dengan fungsilainnya. Hal ini dikarenakan iklim organisasi dipengaruhi oleh bermacam-macamcara anggota organisasi bertingkah laku dan berkomunikasi. Hubungan sehari-harimenggambarkan tentang bagaimana iklim diciptakan dan dipelihara. Iklimkomunikasi yang penuh persaudaraan mendorong para anggota organisasiberkomunikasi secara terbuka , rileks, ramah tamah dengan anggota lain. Sedangkaniklim yang negatif menjadikan anggota tidak berani berkomunikasi secara terbukadengan penuh rasa persaudaraan (Pace & Faules, 2005: 165-166).C. ARUS KOMUNIKASI BAPPEDA PEMERINTAH KABUPATENPEKALONGANUntuk menilai komunikasi itu efektif atau tidak terletak pada kualitas dari proseskomunikasi yang baik pada tingkat individu maupun pada tingkat organisasi .kualitasproses komunikasi salah satunya berkaitan dengan ada tau tidaknya umpan balik(feedback). Kesalahpahaman dapat dikurangi jika proses umpan balik dapat dilakukandengan baik. Apabila kesalahpahaman mampu diminimalisir , kinerja komunikasiatara pimpinan dengan bawahan, dan antara sesama karyawan akan menjadi lebihbaik karena pihak-pihak yang akan berkomunikasi akan tahu apakah pesannya sudahditerima , dipahami dan dilaksanakan atau tidak. Dengan demikian, semua aktivitasyang dilakukan dapat berjalan dengan baik.BAB IVPENUTUPA. KESIMPULAN KepemimpinanTipe kepemimpinan yang terjadi di kantor Bappeda Pemerintah KabupatenPekalongan adalah tipe kepemimpinan Otoriter . Prakteknya Otoriter biladisimpulkan dari beberapa komentar dari informan mengatakan, belumbersemangat dalam bekerja dikarenakan kurangnya motivasi dari pimpinandan belum ada penghargaan yang diberikan kepada karyawan berprestasi.Tipe gaya kepemimpinan Otoriter ini memang seharusnya dirubah agar parabawahannya bersemangat dalam bekerja dan pimpinan memberikan motivasi,penghargaan , serta adil dalam pembagian tugas pokok dan fungsi yangmemang sering menjadi kendala yang selama ini dirasakan oleh bawahan. Iklim KomunikasiIklim komunikasi yang terjalin selama ini di kantor Bappeda PemerintahKabupaten Pekalongan masih negatif . Iklim komunikasi selama ini masihnegatif dikarenakan masih sering terjadi kesenjangan diantara para bawahanyang merasa tidak adil atasan memberikan tugas pokok dan fungsi selama iniyang diberikan dari atasan , dan atasan yang hanya memberikan tugas tanpamemberikan penjelasan bagi bawahan. Hal tersebut menimbulkan iklim dikantor Bappeda Pemerintah Kabupaten Pekalongan menjadi tidak kondusifdan masih jauh dari kesan nyaman dalam bekerja. Arus KomunikasiArus komunikasi yang terjadi yaitu ke bawah, komunikasi mengalir daritingkatan yang lebih tinggi ke tingkatan yang lebih rendah , pimpinanberperan penting dalam segala aktivitas komunikasi yang terjadi. Hal tersebutdipengaruhi oleh budaya birokrasi pemerintah yang cenderung searah hanyadari pimpinan ke bawahan dan hal itu juga berlaku di kantor BappedaPemerintah Kabupaten Pekalongan , yaitu terbukti dari semua kebijakanditetapkan langsung oleh pucuk pimpinan tanpa melibatkan pendapat daribawahan.B. SARANDi sini akan diberikan rekomendasi-rekomendasi sebagai bagian darikelanjutan penelitian. Kelanjutan ini dimaksudkan sebagai langkah berikutnya untukmengubah iklim komunikasi organisasi yang kurang efektif di kantor BappedaPemerintah Kabupaten Pekalongan, adapun rekomendasi berupa :1. Untuk meningkatkan iklim komunikasi organisasi di Badan PerencanaanPembangunan Daerah (BAPPEDA) Pemerintah Kabupaten Pekalonganmenjadi lebih baik, maka pemimpin lebih komunikatif dan melakukanpendekatan terhadap para bawahan, agar para bawahan dapat menyampaikaninspirasi , ataupun memberikan masukan kepada atasan dengan lebih terbukauntuk mencapai apa yang selama ini menjadi tujuan bersama.2. Bawahan juga harus berani memberikan pendapat terhadap pemimpin agartidak terjadi kesenjangan antar bawahan yang menimbulkan ketidaknyamanandalam bekerja, berkomunikasi dengan pimpinan dan melakukan pendekatandengan atasan dapat memberikan masukan yang baik untuk pimpinan dansesama bawahan.3. Pimpinan sebaiknya memberikan penghargaan kepada bawahan berprestasiagar meningkatkan semangat bekerja bawahan.DAFTAR PUSTAKABungin, Burhan. 2001. Metode Penelitian Kualitatif. Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada.Denzin, Norman K. Yvonnas S Lincoln. (2000). Handbook of QualitativeResearch, ed.3.Sage PublicationHardjana, Andre. (2000). Audit Komunikasi. Jakarta: GrasindoKuswarno, Engkus. 2009. Metode Penelitian Komunikasi Fenomenologi :Konsepsi, Pedoman, dan Contoh Penelitian. : Widya Padjajaran.Lattimore, Dan . Otis Baskin, Suzette T. Heiman, Elizabeth L. Toth, PublicRelation Profesi dan Praktik, hal. 119-120Littlejohn, W. Stephen.(1998). Theories of Human Communications (6th ed.).Belmont, California: Wadsworth Publishing Company.Masmuh , Abdullah. (2008). Komunikasi Organisasi dalam Prespektif Teoridan Praktek.Malang:UMM PressMuhammad Arni . (2009). Komunikasi Organisasi. Jakarta:Bumi AksaraMoleong, Lexy J. 2008. Metode Penelitian Kualitatif. Bandung: PT. RemajaRosdakarya.Mulyana, Deddy. 2004. Metodologi Penelitian Kualitatif : Paradigma BaruIlmu Komunikasi dan Ilmu Sosial Lainnya. Bandung: PT. RemajaRosdakarya.Neuman, W Lawrence. (1997), Social research menthods : Qualitative andquantitative approaches, ed.3. Boston: Allyn and BaconPace. R. Wayne & Don F. Faules.2005. (Editor :Deddy Mulyana, M.A PH.D).Komunikasi Organisasi Strategi Meningkatkan Kinerja Perusahaan. Bandung:RosdakaryaSuranto. 2005. Komunikasi Perkantoran: Prinsip Komunikasi UntukMeningkatkan Kinerja Perkantoran. Yogyakarta:Media WacanaNon Buku:http://www.Suara Merdeka.com/ Pelanggaran PNS)(http://bappeda.pekalongankota.go.id.)