Claim Missing Document
Check
Articles

Found 17 Documents
Search

ANALISIS EMISI GAS RUMAH KACA PADA KORIDOR JALAN ARTERI KAWASAN PERKOTAAN TUANGTIBA KABUPATEN MINAHASA SELATAN Suriandjo, Hendrik S.
RADIAL : Jurnal Peradaban Sains, Rekayasa dan Teknologi Vol. 6 No. 2 (2018): RADIAL: JuRnal PerADaban SaIns RekAyasan dan TeknoLogi
Publisher : Universitas Bina Taruna Gorontalo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37971/radial.v6i2.168

Abstract

ABSTRAK Dampak perubahan iklim telah dirasakan secara global. Semua orang harus menjadi bagian dari solusi untuk menyelamatkan bumi. Salah satu solusi mitigasi dan adaptasi perubahan iklim adalah dengan beralih ke gaya hidup hijau atau yang biasa disebut dengan green lifestyle.Prinsip utama gaya hidup hijau adalah menerapkan perilaku hidup yang rendah karbon guna mengurangi emisi gas rumah kaca (GRK/greenhouse gas). GRK adalah gas yang memerangkap energi dari sinar matahari dalam atmosfer bumi yang menyebabkan efek rumah kaca. GRK dapat berbentuk gas Karbondioksida (CO2), Metana (CH4), Nitrogen Oksida (N2O), dan gas – gas lain yang mengandung fluor (HFC, PFC, dan SF6). GRK yang terlepas ke atmosfer memicu pemanasan global, yang akhirnya mengakibatkan perubahan iklim ekstrem di bumi. Pemanasan global telah menjadi permasalahan yang menjadi sorotan utama umat manusia. Fenomena ini bukan lain diakibatkan oleh perbuatan manusia sendiri dan dampaknya diderita oleh manusia itu juga. Untuk mengatasi pemanasan global diperlukan usaha yang sangat keras karena hampir mustahil untuk diselesaikan saat ini. Pemanasan global memang sulit diatasi, namun kita bisa mengurangi efeknya.Penanggulangan hal ini adalah kesadaran kita terhadap kehidupan bumi di masa depan. Apabila kita telah menanamkan kecintaan terhadap bumi ini maka pemanasan global hanyalah sejarah kelam yang pernah menimpa bumi ini. Dampak negatif dari pemanasan global memang sangat banyak. Baik itu secara langsung atau tidak langsung pada manusia. Secara tidak langsung yaitu dengan merusak lingkungan yang akan mengganggu pemenuhan kebutuhan manusia. Secara langsung yaitu dengan suhu yang terasa semakin panas yang mengganggu kesehatan manusia. Pemanasan global memang tidak bisa dicegah, Tapi hal tersebut masih bisa diperlamban. Mulai dengan pengembangan teknologi yang berwawasan lingkungan dan menjalankan prinsip daur ulang, menggunakan kembali barang yang masih bisa dipakai, dan mengurangi penggunaan SDA yang tidak perlu. Jika masyarakat sadar akan dampak emisi GRK, secara langsung maupun tidak langsung, akan tercipta tekanan publik terhadap penghasil emisi gas rumah kaca, seperti sejumlah perusahaan di Lampung, untuk melakukan tindakan nyata terhadap perubahan iklim. Karena manusia, dalam melakukan pembangunan dan aktivitas ekonomi, selalu bersentuhan dengan berbagai macam makhluk hidup atau lingkungan biologis. Hubungan akan terjalin dengan baik bila manusia dan lingkungan sekitar bisa hidup secara harmonis. Kata Kunci : perubahan iklim, pemanasan global, emisi gas rumah kaca.
KAJIAN SKALA RUANG KOTA D/H DALAM PERSPEKTIF SOUNDSCAPES (STUDI KASUS KAWASAN PUSAT KOTA MANADO) Suriandjo, Hendrik Suryo; Umboh, Karry E.H.; Tampinongkol, Ronald R.; Wulur, Yogini A.; Malonda, Ayesha A.L.
RADIAL : Jurnal Peradaban Sains, Rekayasa dan Teknologi Vol. 9 No. 1 (2021): RADIAL: JuRnal PerADaban SaIns RekAyasan dan TeknoLogi
Publisher : Universitas Bina Taruna Gorontalo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37971/radial.v9i1.221

Abstract

Abstrak: Kajian Skala Ruang Kota d/h Dalam Perspektif Soundscapes (Studi Kasus Kawasan Pusat Kota Manado). Bunyi hanyalah satu komponen dari pengalaman orang-orang di tempat tersebut : ada juga pengalaman visual, suhu, angin, vegetasi, bahan yang berbeda dari permukaan lantai, keamanan fisik dari tempat itu, kegiatan mereka sendiri dan kegiatan orang lain terlihat jelas di tempat ini. Baku kebisingan yang ada di Indonesia ialah baku tentang tingkat kebisingan dalam kawasan dan lingkungan menurut Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor : Kep-48/Menlh/11/1996. Tujuan penelitian ini untuk menemukan nilai kebisingan dan dimensi skala d/h agar kenyamanan bunyi dapat dirasakan dalam ruang kota. Penelitian dilaksanakan di pusat kota Manado tepatnya di kawasan Taman Kesatuan Bangsa, dengan menggunakan mix methods melalui rumus LAeq 10 menit dan Leq Siang, untuk mendapatkan baku kebisingan dalam kawasan. Hasil penelitian menemukan jika nilai d/h semakin kecil maka akan terasa semakin bising suatu kawasan dan untuk mengimbangi kesan bising suatu kawasan agar terasa normal dan nyaman dilakukan dengan cara membuat perbandingan d/h agar sama dengan nilai 4. Kata Kunci : Kebisingan, Kenyamanan, Skala d/h. Abstract: Study of Urban Spatial Scale d/h in Soundscapes Perspective (Case Study of Manado City Center Area). Sound is only one component of the experience of people in the place: there is also the visual experience, temperature, wind, vegetation, different materials of the floor surface, the physical safety of the place, their activities, and the activities of others visible in this place. The existing noise standard in Indonesia is the standard for noise levels in the area and the environment according to the Decree of the State Minister of the Environment Number: Kep-48/Menlh/11/1996. The purpose of this study was to find the noise value and the dimensions of the d/h scale so that the comfort of sound can be felt in urban spaces. The research was carried out in the center of Manado city, precisely in the National Unity Park area, using mixed methods using the LAeq 10 minutes formula and Leq Siang, to get the noise standard in the area. The results of the study found that if the d/h value is smaller, the area will feel noisier, and to compensate for the noisy impression of an area so that it feels normal and comfortable, it is done by making a d/h comparison to be equal to a value of 4. Keywords: Noise, Comfort, d/h Scale
TRANSFORMASI SPASIAL PENGGUNAAN LAHAN KECAMATAN MODAYAG - MODAYAG BARAT KABUPATEN BOLAANG MONGONDOW TIMUR 2013-2019 Suriandjo, Hendrik Suryo; Manaf, Murshal; Malonda, Ayesha A.L.; Umboh, Karry E.H.; Tampinongkol, Ronald R.; Wulur, Yogini A.
RADIAL : Jurnal Peradaban Sains, Rekayasa dan Teknologi Vol. 9 No. 2 (2021): RADIAL: JuRnal PerADaban SaIns RekAyasan dan TeknoLogi
Publisher : Universitas Bina Taruna Gorontalo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37971/radial.v9i2.245

Abstract

Abstrak: Transformasi Spasial penggunaan lahan di Kecamatan Modayag-Modayag Barat Kabupaten Bolaang Mongondow Timur, mengalami perubahan yang cukup signifikan pada selang 2013 – 2019. Salah satu hal yang memicu terjadinya hal ini adalah posisi Kecamatan Modayag-Modayag Barat yang berbatasan dengan beberapa Kabupaten dan Kota di Provinsi Sulawesi Utara, diantaranya Kabupaten Bolaang Mongondow, Kotamobagu dan Kabupaten Minahasa Selatan, sehingga memiliki daya tarik wilayah tersendiri. Tujuan dari Penelitian ini untuk menganalisis dan mengidentifikasi lahan yang mengalami transformasi dan yang mengalami penambahan luasan terbesar, termasuk mengidentifikasi lahan apa yang terkonversi menjadi permukiman. Data yang digunakan adalah shapefile Tutupan lahan tahun 2013 dan shapefile tutupan lahan tahun 2019. Metode penelitian yang digunakan kuantitatif lewat pendekatan analisis spasial GIS menggunakan ArcGis versi 8.0, dan tools pendukung analisis perubahan lahan. Penelitian ini dapat disimpulkan : 1). Konversi lahan terbesar dan mengalami peningkatan terjadi pada kebun campuran ke hutan sebesar 452 Ha atau 46%, kebun campuran ke perkebunan sebesar 188,45 Ha atau sebesar 19%, dan Kebun Campuran ke Tegalan/ladang sebesar 161,68 Ha atau sebesar 19%, 2). Konversi lahan permukiman mengalami peningkatan dan mengurangi luasan danau 0,01 Ha atau atau 0,002%, Hutan Lahan Kering sebesar 1,13 Ha atau 0,009%, Perkebunan sebesar 45,4 Ha atau 1,40%, dan juga sudah mengkonversi lahan sawah 5,04 Ha atau 1,87%. Kata kunci: Transformasi Spasial; Konversi Lahan; GIS Abstract: Spatial transformation of land use in the Modayag-Modayag Barat District, Bolaang Mongondow Timur Regency, underwent a significant change between 2013 - 2019. One of the things that triggered this was the position of the Modayag-Modayag Barat District which borders several regencies and cities in North Sulawesi Province, including Bolaang Mongondow Regency, Kotamobagu City and South Minahasa Regency, so that they have their own regional appeal. The purpose of this study is to analyze and identify land that is undergoing transformation and which has experienced the largest increase in area, including identifying what lands have been converted into settlements. The data used are the 2013 land cover shapefile and the 2019 land cover shapefile. The research method used is quantitative through a GIS spatial analysis approach using ArcGIS version 8.0, and supporting tools for land change analysis. This research can be concluded: 1). The largest land conversion and an increase occurred in mixed gardens to forest by 452 ha or 46%, mixed gardens to plantations by 188.45 ha or 19%, and mixed gardens to dry fields/fields by 161.68 ha or 19%. 2). Residential land conversion has increased and reduced the lake area by 0.01 Ha or or 0.002%, Dry Land Forest by 1.13 Ha or 0.009%, Plantation by 45.4 Ha or 1.40%, and has also converted rice fields 5, 04 Ha or 1.87%. Keywords: Spatial Transformation; Land Conversion; GIS
ANALISIS EMISI GAS RUMAH KACA PADA KORIDOR JALAN ARTERI KAWASAN PERKOTAAN TUANGTIBA KABUPATEN MINAHASA SELATAN Suriandjo, Hendrik S.
RADIAL : Jurnal Peradaban Sains, Rekayasa dan Teknologi Vol. 6 No. 2 (2018): RADIAL: JuRnal PerADaban SaIns RekAyasan dan TeknoLogi
Publisher : Universitas Bina Taruna Gorontalo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1304.069 KB) | DOI: 10.37971/radial.v6i2.168

Abstract

ABSTRAK Dampak perubahan iklim telah dirasakan secara global. Semua orang harus menjadi bagian dari solusi untuk menyelamatkan bumi. Salah satu solusi mitigasi dan adaptasi perubahan iklim adalah dengan beralih ke gaya hidup hijau atau yang biasa disebut dengan green lifestyle.Prinsip utama gaya hidup hijau adalah menerapkan perilaku hidup yang rendah karbon guna mengurangi emisi gas rumah kaca (GRK/greenhouse gas). GRK adalah gas yang memerangkap energi dari sinar matahari dalam atmosfer bumi yang menyebabkan efek rumah kaca. GRK dapat berbentuk gas Karbondioksida (CO2), Metana (CH4), Nitrogen Oksida (N2O), dan gas – gas lain yang mengandung fluor (HFC, PFC, dan SF6). GRK yang terlepas ke atmosfer memicu pemanasan global, yang akhirnya mengakibatkan perubahan iklim ekstrem di bumi. Pemanasan global telah menjadi permasalahan yang menjadi sorotan utama umat manusia. Fenomena ini bukan lain diakibatkan oleh perbuatan manusia sendiri dan dampaknya diderita oleh manusia itu juga. Untuk mengatasi pemanasan global diperlukan usaha yang sangat keras karena hampir mustahil untuk diselesaikan saat ini. Pemanasan global memang sulit diatasi, namun kita bisa mengurangi efeknya.Penanggulangan hal ini adalah kesadaran kita terhadap kehidupan bumi di masa depan. Apabila kita telah menanamkan kecintaan terhadap bumi ini maka pemanasan global hanyalah sejarah kelam yang pernah menimpa bumi ini. Dampak negatif dari pemanasan global memang sangat banyak. Baik itu secara langsung atau tidak langsung pada manusia. Secara tidak langsung yaitu dengan merusak lingkungan yang akan mengganggu pemenuhan kebutuhan manusia. Secara langsung yaitu dengan suhu yang terasa semakin panas yang mengganggu kesehatan manusia. Pemanasan global memang tidak bisa dicegah, Tapi hal tersebut masih bisa diperlamban. Mulai dengan pengembangan teknologi yang berwawasan lingkungan dan menjalankan prinsip daur ulang, menggunakan kembali barang yang masih bisa dipakai, dan mengurangi penggunaan SDA yang tidak perlu. Jika masyarakat sadar akan dampak emisi GRK, secara langsung maupun tidak langsung, akan tercipta tekanan publik terhadap penghasil emisi gas rumah kaca, seperti sejumlah perusahaan di Lampung, untuk melakukan tindakan nyata terhadap perubahan iklim. Karena manusia, dalam melakukan pembangunan dan aktivitas ekonomi, selalu bersentuhan dengan berbagai macam makhluk hidup atau lingkungan biologis. Hubungan akan terjalin dengan baik bila manusia dan lingkungan sekitar bisa hidup secara harmonis. Kata Kunci : perubahan iklim, pemanasan global, emisi gas rumah kaca.
KAJIAN SKALA RUANG KOTA D/H DALAM PERSPEKTIF SOUNDSCAPES (STUDI KASUS KAWASAN PUSAT KOTA MANADO) Suriandjo, Hendrik Suryo; Umboh, Karry E.H.; Tampinongkol, Ronald R.; Wulur, Yogini A.; Malonda, Ayesha A.L.
RADIAL : Jurnal Peradaban Sains, Rekayasa dan Teknologi Vol. 9 No. 1 (2021): RADIAL: JuRnal PerADaban SaIns RekAyasan dan TeknoLogi
Publisher : Universitas Bina Taruna Gorontalo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (451.09 KB) | DOI: 10.37971/radial.v9i1.221

Abstract

Abstrak: Kajian Skala Ruang Kota d/h Dalam Perspektif Soundscapes (Studi Kasus Kawasan Pusat Kota Manado). Bunyi hanyalah satu komponen dari pengalaman orang-orang di tempat tersebut : ada juga pengalaman visual, suhu, angin, vegetasi, bahan yang berbeda dari permukaan lantai, keamanan fisik dari tempat itu, kegiatan mereka sendiri dan kegiatan orang lain terlihat jelas di tempat ini. Baku kebisingan yang ada di Indonesia ialah baku tentang tingkat kebisingan dalam kawasan dan lingkungan menurut Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor : Kep-48/Menlh/11/1996. Tujuan penelitian ini untuk menemukan nilai kebisingan dan dimensi skala d/h agar kenyamanan bunyi dapat dirasakan dalam ruang kota. Penelitian dilaksanakan di pusat kota Manado tepatnya di kawasan Taman Kesatuan Bangsa, dengan menggunakan mix methods melalui rumus LAeq 10 menit dan Leq Siang, untuk mendapatkan baku kebisingan dalam kawasan. Hasil penelitian menemukan jika nilai d/h semakin kecil maka akan terasa semakin bising suatu kawasan dan untuk mengimbangi kesan bising suatu kawasan agar terasa normal dan nyaman dilakukan dengan cara membuat perbandingan d/h agar sama dengan nilai 4. Kata Kunci : Kebisingan, Kenyamanan, Skala d/h. Abstract: Study of Urban Spatial Scale d/h in Soundscapes Perspective (Case Study of Manado City Center Area). Sound is only one component of the experience of people in the place: there is also the visual experience, temperature, wind, vegetation, different materials of the floor surface, the physical safety of the place, their activities, and the activities of others visible in this place. The existing noise standard in Indonesia is the standard for noise levels in the area and the environment according to the Decree of the State Minister of the Environment Number: Kep-48/Menlh/11/1996. The purpose of this study was to find the noise value and the dimensions of the d/h scale so that the comfort of sound can be felt in urban spaces. The research was carried out in the center of Manado city, precisely in the National Unity Park area, using mixed methods using the LAeq 10 minutes formula and Leq Siang, to get the noise standard in the area. The results of the study found that if the d/h value is smaller, the area will feel noisier, and to compensate for the noisy impression of an area so that it feels normal and comfortable, it is done by making a d/h comparison to be equal to a value of 4. Keywords: Noise, Comfort, d/h Scale
TRANSFORMASI SPASIAL PENGGUNAAN LAHAN KECAMATAN MODAYAG - MODAYAG BARAT KABUPATEN BOLAANG MONGONDOW TIMUR 2013-2019 Suriandjo, Hendrik Suryo; Manaf, Murshal; Malonda, Ayesha A.L.; Umboh, Karry E.H.; Tampinongkol, Ronald R.; Wulur, Yogini A.
RADIAL : Jurnal Peradaban Sains, Rekayasa dan Teknologi Vol. 9 No. 2 (2021): RADIAL: JuRnal PerADaban SaIns RekAyasan dan TeknoLogi
Publisher : Universitas Bina Taruna Gorontalo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (489.602 KB) | DOI: 10.37971/radial.v9i2.245

Abstract

Abstrak: Transformasi Spasial penggunaan lahan di Kecamatan Modayag-Modayag Barat Kabupaten Bolaang Mongondow Timur, mengalami perubahan yang cukup signifikan pada selang 2013 – 2019. Salah satu hal yang memicu terjadinya hal ini adalah posisi Kecamatan Modayag-Modayag Barat yang berbatasan dengan beberapa Kabupaten dan Kota di Provinsi Sulawesi Utara, diantaranya Kabupaten Bolaang Mongondow, Kotamobagu dan Kabupaten Minahasa Selatan, sehingga memiliki daya tarik wilayah tersendiri. Tujuan dari Penelitian ini untuk menganalisis dan mengidentifikasi lahan yang mengalami transformasi dan yang mengalami penambahan luasan terbesar, termasuk mengidentifikasi lahan apa yang terkonversi menjadi permukiman. Data yang digunakan adalah shapefile Tutupan lahan tahun 2013 dan shapefile tutupan lahan tahun 2019. Metode penelitian yang digunakan kuantitatif lewat pendekatan analisis spasial GIS menggunakan ArcGis versi 8.0, dan tools pendukung analisis perubahan lahan. Penelitian ini dapat disimpulkan : 1). Konversi lahan terbesar dan mengalami peningkatan terjadi pada kebun campuran ke hutan sebesar 452 Ha atau 46%, kebun campuran ke perkebunan sebesar 188,45 Ha atau sebesar 19%, dan Kebun Campuran ke Tegalan/ladang sebesar 161,68 Ha atau sebesar 19%, 2). Konversi lahan permukiman mengalami peningkatan dan mengurangi luasan danau 0,01 Ha atau atau 0,002%, Hutan Lahan Kering sebesar 1,13 Ha atau 0,009%, Perkebunan sebesar 45,4 Ha atau 1,40%, dan juga sudah mengkonversi lahan sawah 5,04 Ha atau 1,87%. Kata kunci: Transformasi Spasial; Konversi Lahan; GIS Abstract: Spatial transformation of land use in the Modayag-Modayag Barat District, Bolaang Mongondow Timur Regency, underwent a significant change between 2013 - 2019. One of the things that triggered this was the position of the Modayag-Modayag Barat District which borders several regencies and cities in North Sulawesi Province, including Bolaang Mongondow Regency, Kotamobagu City and South Minahasa Regency, so that they have their own regional appeal. The purpose of this study is to analyze and identify land that is undergoing transformation and which has experienced the largest increase in area, including identifying what lands have been converted into settlements. The data used are the 2013 land cover shapefile and the 2019 land cover shapefile. The research method used is quantitative through a GIS spatial analysis approach using ArcGIS version 8.0, and supporting tools for land change analysis. This research can be concluded: 1). The largest land conversion and an increase occurred in mixed gardens to forest by 452 ha or 46%, mixed gardens to plantations by 188.45 ha or 19%, and mixed gardens to dry fields/fields by 161.68 ha or 19%. 2). Residential land conversion has increased and reduced the lake area by 0.01 Ha or or 0.002%, Dry Land Forest by 1.13 Ha or 0.009%, Plantation by 45.4 Ha or 1.40%, and has also converted rice fields 5, 04 Ha or 1.87%. Keywords: Spatial Transformation; Land Conversion; GIS
PELATIHAN AUTOCAD UNTUK PENINGKATAN KOMPETENSI PEMUDA MEMBUAT GAMBAR KERJA RUMAH TYPE 36 DI KELURAHAN RANOTANA WERU Suriandjo, Hendrik Suryo; Malonda, Ayesha A. L.; Umboh, Karry E. H
Abdi Panca Marga Vol 5 No 2 (2024): Jurnal Abdi Panca Marga Edisi November 2024
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Panca Marga Probolinggo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51747/abdipancamarga.v5i2.2191

Abstract

Community Service Activities are part of the Tri Dharma of Higher Education, and Nusantara University of Manado through the Institute for Research and Community Service (LPPM), in 2024 will carry out Community Service for Beginners (PMP) activities with Engineering Graduate Youth Group Partners located in Ranotana Weru Village, Manado City, called the REZA Engineering Youth Group. This partner was chosen because this community group works in the engineering sector but does not yet have permanent employment due to minimal understanding and mastery of the AutoCAD drawing program and only receiving engineering education at the vocational school, D3 and/or college level. This community service activity aims to ensure that partners know and understand the AutoCAD program and improve their ability to operate AutoCAD at an advanced level to design type 36 houses. This activity is carried out in the form of training for partners using the focus group discussion (FGD) method, participant learning center (PCL) through training and participatory action (PA). The results of the training activities can be identified that: 1) an 80% increase in partner knowledge and skills related to AutoCAD, 2) an increase of 92% of partners can operate AutoCAD commands, and 3) an 80% increase in the ability of partners to understand working drawings. The results of these activities concluded that this activity had succeeded in increasing the competence of youth partners in the field of engineering through AutoCAD training to make working drawings of Type 36 houses. Keywords: dedication, AutoCAD, partners, improvement