Claim Missing Document
Check
Articles

Found 30 Documents
Search

PERANCANGAN HOTEL RESORT OLELE (PENDEKATAN GREEN ARCHITECTURE) Ibrahim, Usman; Heryati; Surijani Tatura, Lydia
Journal Of Building Architecture Vol. 2 No. 1 (2024): JOURNAL OF BUILDING ARCHITECTURE (APRIL)
Publisher : Program Vokasi Universitas Negeri Gorontalo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56190/jba.v2i1.29

Abstract

Gorontalo merupakan provinsi yang memiliki banyak tempat wisata, salah satunya Taman Laut Olele. Taman Laut Olele merupakan salah satu lokasi wisata bahari di Gorontao untuk para pecinta snorkeling dan diving. Bayaknya peminat untuk berwisata di Kebupaten Kabila Bone, wisata dari nusantara maupun mancanegara berkisar 142.425 wisatawan dari tahun 2015 sampai 2018. Banyaknya pengunjung yang berkunjung membuat sebagian tidak memdapatkan fasilitas penginapan yang memadai. Sehingga Hotel resort Olele dengan pendekatan Green Architecture menjadi suatu solusi dari permasalahan di atas. Tujuan dari penelitian ini untuk merancang Hotel Resort dengan segala fasilitasnya berdasarkan kebutuhan dan memberikan kenyamanan bagi pengunjung melalui pendekatan Green Arsitekture. Metode penelitian yang digunakan ialah metode Kualitatif Deskriftif dengan menentukan jenis data dan teknik pengumpulan data. Jenis data terdiri dari data objek perancangan berupa data primer dan sekunder. Kemudian mengidentifikasi kondisi yang ada pada site, dari hasil identifikasi kemudian dianalisis dan menghasilkan konsep perancangan dengan tema Green Architecture yang lebih ditekankan pada bentuk, ruang dan fungsi Hasil laporan berupa konsep perancangan dan penerapannya pada rancangan sebagai laporan perancangan Hotel Resort di Kawasan wisata Desa Olele. Faktor yang berpengaruh dalam perancangan ini tamu, pengujung Hotel,pengelola, pengawai. Pada perancangan ini di bangun Hotel Resort dengan terdapat di dalamnya seperti lobby, restoran, café, area kolam renang, area kamar hotel,dan area cottage.
Desain Ruang Publik Kawasan Tepian Danau di Desa Huluduotamo Kabupaten Bone Bolango Guna Pengembangan dan Pemanfaatan Potensi Wilayah Lydia S Tatura; Dara Fitriani; Asta Juliarman Hatta
Madaniya Vol. 5 No. 4 (2024)
Publisher : Pusat Studi Bahasa dan Publikasi Ilmiah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53696/27214834.1142

Abstract

Gorontalo merupakan salah satu kota besar di Pulau Sulawesi yang terkenal dengan kekayaan wisata alamnya. Berdasarkan peta pusat Bone Bolango, wilayah ini memiliki potensi alam yang besar, terutama Danau Perintis yang terletak di Bone Bolango. Selain itu, sumber daya manusia (SDM) di Gorontalo unggul dalam sektor pertanian dan perikanan yang melimpah. Oleh karena itu, diperlukan pengembangan infrastruktur dan perancangan kawasan tepian air untuk mendukung aktivitas masyarakat serta meningkatkan perekonomian daerah. Metode pelaksanaannya dilakukan melalui studi pendahuluan, identifikasi potensi, melibatkan partisipasi masyarakat, dan penyusunan konsep desain. Hasil dari pelaksanaan pengabdian masyarakat ini adalah rekomendasi desain yang bisa dijadikan panduan bagi pemerintah daerah setempat dalam mengembangkan kawasan daerah danau Bone Bolango sesuai potensi wilayahnya.
PENERAPAN ARSITEKTUR REGIONALISME TERHADAP REDESAIN PASAR TERPADU DI KECAMATAN DENGILO, KABUPATEN POHUWATO Manggil, Muhammad Syauqi; Mahanggi, Muh Rizal; Tatura, Lydia Surijani
JAMBURA Journal of Architecture Vol 7, No 1 (2025): JJoA : Juni 2025
Publisher : Universitas Negeri Gorontalo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37905/jjoa.v7i1.30827

Abstract

ABSTRACT. The Traditional market in Dengilo Subdistrict is a type D traditional market that operates only once a week and has only 100 traders. However, several issues are faced by this traditional market in Dengilo Subdistrict, such as circulation and parking, service areas like loading and unloading areas, inappropriate layout of stalls, utilities including drainage channels for seafood and meat vendors, limited availability of household necessities, and other fundamental issues. Therefore, there is a need for redesign of the market in Dengilo Subdistrict, different from the existing market, using an integrated system and following applicable standards to accommodate all trading and social activities of the surrounding community. The discussion method used in this design is divided into three stages: data collection using observation, comparison, and literature methods; analysis stage using descriptive methods; and design development stage using creative methods that refer to the results of existing analysis to create a measurable and directed design concept. The embodiment of this research is to obtain a design result of an integrated market with modern facilities and infrastructure to accommodate all trading and social activities of trader, buyers, and the surrounding community. It can serve as a basis for further development for researches with similar design object. Redesigning the integrated market in Dengilo Subdistrict aims to create a design that can improve the quality and function of the existing traditional market in the area. This design aims to provide more integrated, efficient, and representative facilities and spaces for traders and buyers while combining the concept of traditional and modern market in one area with a regionalism architectural approach .   ABSTRAK. Pasar tradisional yang terdapat di Kecamatan Dengilo merupakan pasar tradisional yang dengan tipe D yang hanya beroperasi 1 (satu) kali dalam 1 (satu) pekan dan hanya memiliki 100 pedagang. Akan tetapi ada beberapa permasalahan yang di miliki oleh pasar tradisional Kecamatan Dengilo ini, seperti halnya sirkulasi dan parkir, area service seperti area bongkar muat barang, tata letak los daganganyang tidak sesuai, utilitas yang meliputi saluran pembuangan pada bagian pedagang hasil laut dan daging-dagingan, terbatasnya ketersediaan kebutuhan rumah tangga yang dijual dan permasalahan dasar lainnya. Oleh karena itu, diperlukan adanya redesain pasar di Kecamatan Dengilo yang berbeda dari pasar yang telah ada sebelumnya dengan sistem terpadu dan sesuai dengan standar-standar yang berlaku, sehingga bisa mewadahi seluruh kegiatan jual beli maupun sosial masyarakat sekitar. Metode pembahasan yang digunakan dalam perancangan ini terbagi atas tiga yang meliputi tahap pengumpulan data menggunakan metode observasi, komparasi, dan literatur, tahap analisis menggunakan metode deskriptif dan tahap penyusunan desain menggunakan Metode kreatif yang mengacu pada hasil analisis eksisting untuk menciptakan sebuah konsep desain yang terukur dan terarah.Perwujudan dari penelitian ini untuk mendapatkan hasil perancangan pasar terpadu yang memiliki sarana dan prasana yang modern dan bisa mewadahi seluruh kegiatan jual-beli dan sosial pedagang, pembeli, maupun masyarakat sekitar dan dapat menjadi dasar yang dapat dikembangkan lebih dalam bagi para peneliti yang memiliki objek rancangan sejenis. Redesain Pasar Terpadu Di Kecamatan Dengilo adalah sebuah rancangan untuk meningkatkan kualitas dan fungsi pasar tradisional yang ada di wilayah tersebut dengan tujuan dari rancangan ini adalah untuk memberikan fasilitas dan ruang yang lebih terpadu, efisien, dan representatif bagi pedagang dan pembeli, serta menggabungkan konsep pasar tradisional dengan pasar modern dalam satu area dengan pendekatan arsitektur regionalisme.
Optimalisasi Kualitas Lingkungan Melalui Penataan Pemukiman Nelayan Tanjung Kramat Tatura, Lydia Surijani; Heryati, Heryati; Fitriani, Dara; Hatta, Asta Juliarman
Madaniya Vol. 6 No. 4 (2025)
Publisher : Pusat Studi Bahasa dan Publikasi Ilmiah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53696/27214834.1647

Abstract

Kelurahan Tanjung Kramat sebagian besar berada pada permukiman di sekitar pesisir pantai yang di mana kawasan ini kekurangan tempat untuk membangun yang menyebabkan permukiman menjadi sempit, rumah satu dan lainnya berdekatan dan tidak teratur membuat permukiman ini menjadi kumuh. Di bagian pesisir pantai masalah lingkungan juga hadir karena ketidakpedulian masyarakat yang membuang sampah sembarangan di pesisir pantai yang akan berdampak pada lingkungan dan ekosistem laut. Untuk sebuah permukiman nelayan, Tanjung Kramat belum mempunyai sarana dan prasarana yang menunjang untuk nelayan beraktivitas, seperti belum adanya fasilitas dermaga tambatan perahu, fasilitas pengolahan hasil laut yang kurang, dan tempat pelelangan ikan. Metode kegiatan pengabdian mandiri ini yaitu Mengoptimalisasi Kualitas Lingkungan Melalui Penataan Permukiman Nelayan Tanjung Kramat dengan menggunakan metode pendampingan langsung di lapangan dalam survei langsung. Survei ini bertujuan untuk survei kondisi permukiman nelayan dan kualitas lingkungan di kelurahan Tanjung Kramat. pelaksana kegiatan melibatkan Dosen dan Mahasiswa serta pemerintah kelurahan sebagai mitra dalam pelaksanaan kegiatan ini.
Pemberdayaan Masyarakat Desa Bongo melalui Inovasi Pengelolaan Air Bersih dan Sanitasi Ramah Lingkungan untuk Pencapaian Tujuan SDGs Lydia S. Tatura; Abdi Gunawan Djafar; Niniek Pratiwi
Jurnal Sibermas (Sinergi Pemberdayaan Masyarakat) Vol 13, No 2 (2024): Jurnal Sibermas (Sinergi Bersama Masyarakat)
Publisher : Universitas Negeri Gorontalo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37905/sibermas.v13i2.18521

Abstract

Coastal areas and small islands in the middle of the high seas are areas that are very poor in sources of clean water, so that problems arise in fulfilling the need for clean water. Water resources in the area are generally of poor quality, for example the groundwater is brackish or salty. The quality of the water is very poor because it contains very high levels of salt and organic matter. The area of Bongo Village, Batudaa Pantai District, Gorontalo Regency, Gorontalo Province is a coastal area that still needs a supply of clean water. The local community's water needs come from the mountains, and some depend on injection wells to provide clean water, however, the water from these injection wells still tastes salty or contains salt and the provision of these wells is not sufficient for all the houses in Bongo village. To achieve the goals of SDGs (clean water and sanitation) in the environmental sector by ensuring that the community achieves universal access to clean water and sanitation, then to improve environmental quality and health self-sufficiency, students solve existing problems by empowering Bongo Village Communities through Clean Water Management Innovations and Environmentally Friendly Sanitation for Achieving SDGs Goals.
Peranangan Pusat Kreativitas Anak dengan Pendekatan Arsitektur Perilaku di Kota Gorontalo Isrami Putri; Lydia Surijani Tatura; Abdi Gunawan Djafar
Research Review: Jurnal Ilmiah Multidisiplin Vol. 4 No. 2 (2025): Research Review: Jurnal Ilmiah Multidisiplin (Agustus 2025 - Januari 2026)
Publisher : Transbahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54923/researchreview.v4i2.264

Abstract

Creativity is an essential ability for generating new ideas and solving problems, particularly for children aged 4-12 who are in a period of rapid development. In Gorontalo City, many children in this age range face psychological barriers such as a lack of self-confidence and initiative, compounded by limited parental attention to developing their interests and talents. Consequently, their creative potential is often stunted. This research aims to design a children's creativity center to provide a supportive and imagination-stimulating environment. This facility will offer various media for expression, including art, music, and interactive games, to encourage children to explore their potential actively. The design methodology involves site analysis to establish effective zoning and applies the concept of Behavioral Architecture. This approach ensures that each space is tailored to the behavioral patterns and psychological needs of children, optimizing their interaction with the environment. The final output is a functional design for a creativity center, intended to help children develop their potential and grow into more self-confident individuals.
Perancangan Sentra Karawo di Gorontalo dengan Pendekatan Arsitektur Metafora Konkret Rahmawaty B. Lintak; Lydia Surijani Tatura; Niniek Pratiwi
Research Review: Jurnal Ilmiah Multidisiplin Vol. 4 No. 2 (2025): Research Review: Jurnal Ilmiah Multidisiplin (Agustus 2025 - Januari 2026)
Publisher : Transbahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54923/researchreview.v4i2.289

Abstract

As one of Gorontalo’s traditional handicraft products, Karawo is known to have high cultural value, the diverse patterns of Karawo embroidery are not only attractive at the local level but have also been known to foreign countries. Therefore, facilities to accommodate Karawo are needed to preserve, increase the selling value, and provide information to the public to learn about the variety of decorations and the process of making Karawo. The facility is Karawo Center, which is designed as a center for sales, production, and preservation of Karawo with a concrete metaphor architecture approach. The main concept is “The beauty of Karawo as a typical Gorontalo craft,” which will be signed with the shape of the Karawo motif itself. The concrete metaphor architecture design method is applied to the building mass and façade, with the mass order following a grid pattern that adapt to the site’s shape. Designing a Karawo Center begins with collecting primary and secondary data, which is then analyzed to produce a design concept. It is hoped that the design of this place will not only be a center for the production and sale of Karawo fabrics but also increase the craftmen’s productivity through a comfortable and functional space in addition, this design is expected to illustrate the beauty and cultural value of karawo cloth as a product of Gorontalo regional pride.
Pusat Olahraga Rekreasi Menembak di Provinsi Gorontalo dengan Pendekatan Arsitektur Modern Kontemporer Alif Firmansyah D. Kaili; Lydia Surijani Tatura; Syafriyani
Research Review: Jurnal Ilmiah Multidisiplin Vol. 5 No. 1 (2026): Research Review: Jurnal Ilmiah Multidisiplin (Februari 2026 - Juli 2026)
Publisher : Transbahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54923/researchreview.v5i1.320

Abstract

Gorontalo Province holds significant potential for the development of sports tourism, particularly in shooting sports. However, the region lacks a representative facility that meets national standards in terms of safety, comfort, and design. This issue underlines the urgency of designing a Shooting Sports Tourism Center that accommodates the needs of both athletes and tourists. The main objectives of this design are to create a safe and comfortable shooting facility that complies with national building standards and to implement a modern contemporary architectural approach that reflects current design trends. This study employs a descriptive qualitative method with a participatory observation approach, involving data collection, presentation, compilation, and analysis as the basis for formulating the planning and design concepts. The resulting design concept integrates functional, aesthetic, and contextual aspects, featuring well-organized zoning for training areas, competition spaces, supporting facilities, and public spaces. This project is expected to serve as a new landmark in Gorontalo and to contribute to the growth of sports tourism in the region.
PENERAPAN ARSITEKTUR MODERN PADA PERANCANGAN PANGKALAN PENDARATAN IKAN DI DESA DUDEPO KECAMATAN BOLAANGO UKI KABUPATEN BOLAANG MONGONDOW SELATAN Hariandi Lepi; Berni Idji; Lydia Surijani Tatura
Journal Of Building Architecture Vol. 3 No. 2 (2025): JOURNAL OF BUILDING ARCHITECTURE (OKTOBER)
Publisher : Program Vokasi Universitas Negeri Gorontalo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56190/jba.v3i2.48

Abstract

ABSTRAK Secara umumnya masyarakat sangat bergantung pada hasil laut, utamanya mereka yang tinggal dikawasan pesisir. Dengan adanya kawasan pusat pelelangan ikan akan dapat meningkatkan perekonomian masyarakat sekitar dengan membuka lapangan pekerjaan sehingga dapat megurangi pengangguran yang ada serta menambah dan meningkatkan perekonomian. Pangkalan pendaratan ikan merupakan tempat kapal penangkap ikan berlabuh untuk mendaratkan hasil tangkapannya atau bersiap untuk kembali melaut (logistik kapal dan pemuatan awak kapal). Pengkalan pendaratan ikan berada di Desa Dudepo, Kecamatan Bolaang Uki, Kabupaten Bolaang Mongondow Selatan. Pendekatan perancangan TPI yang akan digunakan yaitu arsitektur modern. Arsitektur modern adalah sebuah sesi dalam perkembangan arsitektur dimana ruang menjadi objek utama untuk diolah. Jika pada masa sebelumnya arsitektur lebih memikirkan bagaimana cara mengolah fasad, ornamen, dan aspekaspek lain yang sifatnya kualitas fisik, maka pada masa arsitektur modern kualitas non- fisik lah yang lebih dipentingkan Kata Kunci: Pangkalan Pendaratan Ikan, Arsitektur Modern, Mongondow Selatan
Konsep Desain Pusat Kebudayaan Bugis di Gorontalo dengan Pendekatan Arsitektur Analogi Simbolik A. Alifah Nurul Amaliah; Lydia Surijani Tatura; Dara Fitriani
JAUR (JOURNAL OF ARCHITECTURE AND URBANISM RESEARCH) Vol. 10 No. 1 (2026): Oktober (INPRESS)
Publisher : Universitas Medan Area

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31289/jaur.v10i1.16322

Abstract

Gorontalo is one of the areas with the largest population of Bugis people, starting from the habits and customs of the Bugis tribe that are inherent in Gorontalo, to being well received by the surrounding community, the diversity of the Bugis tribe in Gorontalo also has a positive impact on the people of Gorontalo. This is the main factor in designing the Bugis Cultural Center in Gorontalo. As time goes by, the development of contemporary society, culture begins to be forgotten, even the culture itself is not known in depth by people. Especially for teenagers who have forgotten their own culture. Therefore, the problems mentioned above can be resolved by providing a forum that introduces Bugis tribal culture in this modern era, with facilities that provide special arts areas, both educational and commercial, special museum areas for periodic art performances and performing arts, both music and dance. Perancangan Pusat Kebudayaan Bugis ini akan mengusung tema Analogi Simbolik, yang bangunannya akan menganalogikan simbol-simbol khusus dari adat suku Bugis. The design of the Bugis Cultural Center will carry the theme of Symbolic Analogy, where the building will analogize special symbols from the Bugis tribe's customs.