Claim Missing Document
Check
Articles

Found 13 Documents
Search

Perbedaan Hasil Pemeriksaan TB GeneXpert dan Mikroskopis BTA di Balai Labkesmas Medan Astika Livana Sani; Diah Prihatiningsih; Didik Prasetya
Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 1 No. 2 (2026): Edisi: Januari-Maret
Publisher : Pustaka Bangsa Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tuberkulosis (TB) masih menjadi masalah kesehatan di Indonesia, termasuk di Kota Medan yang memiliki prevalensi tinggi. Diagnosis yang cepat dan akurat sangat penting. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis perbedaan hasil pemeriksaan Mycobacterium tuberculosis antara metode GeneXpert MTB/RIF dan mikroskopis BTA. Metode yang digunakan adalah observasional analitik dengan desain sampel berpasangan. Sebanyak 30 spesimen sputum dari pasien terduga TB sensitif obat dengan hasil GeneXpert sebelumnya (MTB detected very low dan MTB not detected) diperiksa ulang menggunakan mikroskopis BTA (Ziehl–Neelsen) pada Desember 2025. Analisis dilakukan dengan uji McNemar. Hasil menunjukkan GeneXpert mendeteksi M. tuberculosis pada 5 sampel (16,7%) kategori very low, sedangkan mikroskopis BTA negatif pada seluruh sampel (100%). Uji McNemar menunjukkan nilai p = 0,063 (>0,05). Kesimpulannya, secara statistik tidak terdapat perbedaan bermakna, namun secara klinis GeneXpert lebih sensitif dalam mendeteksi beban bakteri rendah.
Hubungan Indeks Massa Tubuh dengan Kadar Glukosa Darah Sewaktu pada Mahasiswa Teknologi Laboratorium Medis Program Diploma Tiga STIKES Wira Medika Bali Ni Made Dian Anjaswari; Moh. Fairuz Abadi; Didik Prasetya
Jaringan Laboratorium Medis Vol 7 No 2 (2025): November 2025
Publisher : Poltekkes Kemenkes Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31983/jlm.v7i2.13197

Abstract

Body Mass Index (BMI) is a simple parameter used to assess a person's nutritional status, whether they are underweight or overweight. Overweight is often associated with the risk of elevated blood glucose levels (hyperglycemia), which can develop into metabolic syndrome. This condition is increasingly found in adolescents and young adults with unhealthy lifestyles. Therefore, this study was conducted to determine the relationship between BMI and random blood glucose levels (RBG) in regular students of the Diploma III Medical Laboratory Technology program at Wira Medika Bali Health College. This study employed an observational analytical method with a cross-sectional approach. A sample of 30 students was selected through purposive sampling based on inclusion criteria: aged 15–24 years, not taking medications that affect blood sugar levels, and willing to participate. BMI data were obtained through weight and height measurements, then categorized into underweight, normal weight, overweight, obesity I, and obesity II. RBG examinations were performed using capillary blood with the aid of a glucometer. Analysis of the relationship between variables used the Spearman Rank Test. The results showed that the BMI distribution of respondents was 13.3% underweight, 40.0% normal weight, 13.3% overweight, 23.4% obesity I, and 10.0% obesity II. All respondents had random blood glucose levels <200 mg/dL, thus remaining within the normal range. Statistical testing showed a p-value of 0.996 (p>0.05), concluding that there was no significant relationship between BMI and GDS in students. The conclusion of this study is that BMI has not been proven to be directly related to random blood glucose levels. However, weight control remains necessary as a long-term preventive measure against metabolic syndrome and other non-communicable diseases associated with obesity.
GAMBARAN DIAGNOSIS PASIEN PRA-HEMODIALISA DI RSUD WANGAYA TAHUN 2020-2021 Anak Agung Ayu Eka Cahyani; Didik Prasetya; Moh Fairuz Abadi; Diah Prihatiningsih
Jurnal Ilmiah Hospitality Vol 11 No 1: Juni
Publisher : Sekolah Tinggi Pariwisata Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47492/jih.v11i1.1819

Abstract

Penyebab utama morbiditas dan mortalitas pada pasien penyakit ginjal kronik (PGK) adalah penyakit kardiovaskuler. Faktor utama penyebab kejadian kardiovaskuler pada pasien PGK adalah hipertensi. Penyebab tersering kedua pada gagal ginjal kronis adalah diabetes melitus (23%). Penanganan PGK dapat dilakukan dengan metode Hemodialisa atau cuci darah. Hemodialisis adalah proses pembersihan darah dengan mengumpulkan limbah. Pada penderita gagal ginjal kronik, hemodialisis dapat mencegah kematian. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui gambaran diagnosis penyakit pada pasien yang akan melakukan hemodialisis di RSUD Wangaya tahun 2020-2021. Penelitian telah disetujui oleh Komite Etik Penelitian RSUD Wangaya Nomor 029/III.4/KEP/RSW/2022. Penelitian merupakan penelitian deskriptif observasional menggunakan data sekunder. Jumlah sampel pada penelitian ini adalah 116 pasien yang diambil dengan teknik total sampling. Hasil dari dari 116 pasien diketahui diagnosa Diabetes Mellitus (DM) sebanyak 23 pasien (19,8%), Hipertensi sebanyak 19 pasien (16,4%), pielo nefritis kronis (PNC) sebanyak 18 pasien (15,5%), acquired cystic kidney disease (ACKD) sebanyak 17 pasien (14,7%), anemia sebanyak 14 (12,1%), DM+Hipertensi 12 pasien (10,3%), Acute kidney injury (AKI) sebanyak 7 pasien (6,0%), dengan diagnosa DM+PNC 3 pasien (2,6%) dan hyperkalemia 3 (2,6%). Penelitian diharapkan dapat membantu diagnosa lanjutan dari pasien yang telah menjalani hemodialisa