Claim Missing Document
Check
Articles

Found 8 Documents
Search
Journal : TEKNO

PERBANDINGAN PENURUNAN KONSOLIDASI Tangkudung, Hanny
TEKNO Vol 9, No 55 (2011): JURNAL TEKNO-SIPIL
Publisher : TEKNO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pada tulisan ini ditinjau tanah tiga lapisan dengan ketebalan total 14 meter. Tinjauan perhitungan penurunan konsolidasinya dilakukan pada setiap ketebalan 0,5 meter dan jarak drain vertikal yang ditinjau adalah pada 0,60 meter; 3,00 meter; 4,80 meter dan 6,00 meter dengan jari-jari drain yang sama yaitu 3 cm. Jadi n = R / r bervariasi sebagai berikut : 10, 50, 80 dan 100. Dari hasil tinjauan tiga dimensi terlihat setelah diplot ke grafik, ternyata asimtotis ke suatu garis horisontal yang bila dibandingkan dengan yang satu dimensi berbanding 2,2 : 1,0 (2,2 kali lebih besar penurunannya). Dari hasil perhitungan dapat dilihat bahwa jika jarak drain diambil bervariasi untuk waktu t yang besar, hasilnya akan tetap menuju ke suatu harga yang relatif sama yang harga penurunannya Sc adalah 2,2 kali harga penurunan Sc untuk satu dimensi. Berdasarkan hasil tersebut, bisa disimpulkan tinjauan penurunan konsolidasi satu dimensi bisa digunakan untuk tiga dimensi dengan memakai faktor keamanan sebesar 2,2 atau lebih.Kata kunci : konsolidasi satu dimensi, konsolidasi tiga dimensi, faktor keamanan
ANALISIS NERACA AIR SUNGAI RANOWANGKO Dengo, Dzul Firmansah; Sumarauw, Jeffry S. F.; Tangkudung, Hanny
TEKNO Vol 14, No 65 (2016): JURNAL TEKNO
Publisher : TEKNO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sungai Ranowangko merupakan sungai yang menjadi sumber utama dalam memenuhi kebutuhan air di daerah sekitarnya. Potensi air sungai ini banyak digunakan untuk mengairi kawasan irigasi di daerah tersebut. Sementara itu ketersediaan air di sungai Ranowangko cenderung akan mengalami penurunan, sehingga dibutuhkan adanya suatu studi neraca air untuk melihat bagaimana keseimbangan antara ketersediaan air di sungai Ranowangko dan kemungkinan penggunaan serta kebutuhan air di daerah layanannya. Analisis ketersediaan dan kebutuhan air dilakukan pada dua titik tinjauan berdasarkan data-data yang tersedia, yaitu ; peta topografi, data hujan setengah bulanan, data klimatologi, data luas lahan irigasi, dan data debit. Ketersediaan air dihitung pada dua titik tinjauan menggunakan model NRECA sedangkan kalibrasi dilakukan pada data tahun 2013 dengan tingkat keakuratan yang dihitung menggunakan model Coefficition of Determination (R2) sebesar 0,75. Kebutuhan air dihitung dengan membuat sistem pola tanam dimana terdapat 3 musim tanam dalam satu tahun dan dilakukan sistem pengairan secara terus menerus. Hasil analisis neraca air menunjukkan bahwa terjadi kekurangan air di beberapa periode, diantaranya pada periode Juli II, Agustus I, September I, September II, Oktober II, November I, November II, dan Desember I pada titik tinjauan A serta periode September II, Oktober II, November I dan Desember I pada titik tinjauan B. Kata kunci : sungai Ranowangko, NRECA, kebutuhan air irigasi, neraca air
Tinjauan Sistem Drainase Di Daerah Kolam Buaya Kelurahan Matamalagi Kecamatan Sorong Utara Kota Sorong Sahetapy, Justi Edgar; Sumarauw, Jeffry S.F.; Tangkudung, Hanny
TEKNO Vol 17, No 73 (2019): TEKNO
Publisher : TEKNO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Daerah Kolam Buaya Kelurahan Matamalagi Kecamatan Sorong Utara Kota Sorong adalah daerah yang sering mengalami genangan pada saat terjadi hujan. Genangan tersebut mengakibatkan terganggunya aktifitas masyarakat sekitar dan masyarakat pengguna jalan. Hal ini dikarenakan sebagian daerah tersebut belum memiliki saluran dan gorong-gorong. Untuk itu dilakukan pengembangan dan penataan kembali sistem drainase agar menjadi solusi penanganan genangan yang terjadi. Analisis hidrologi dilakukan untuk mendapatkan debit rencana (Qrenc). Perkiraan hujan rencana dilakukan dengan analisa frekuensi terhadap data curah hujan dengan kala ulang 10 tahun menggunakan metode log Pearson III dan perhitungan intensitas hujan menggunakan rumus Mononobe. Debit rencana dihitung menggunakan metode rasional. Untuk menghitung debit kapasitas (Qkaps) dari saluran dan gorong-gorong, dilakukan analisis hidraulika. Dari perbandingan antara debit rencana dan debit kapasitas (Qrenc ≤ Qkaps), diketahui kemampuan dari setiap saluran dan gorong-gorong dalam menampung debit rencana. Berdasarkan hasil analisis di lokasi tersebut perlu dilakukan perbaikan agar saluran mampu menampung debit yang ada, diantaranya dilakukan perubahan dimensi 3 ruas saluran dari 35 ruas saluran eksisting serta penambahan 61 ruas saluran baru dan 20 gorong-gorong baru.
Analisis Perencanaan Lubang Resapan Biopori Untuk Mereduksi Genangan Di Jalan Dahlia Raya II Perumahan Griya Paniki Indah Kota Manado Dengah, Gerry Petera; Supit, Cindy J.; Tangkudung, Hanny
TEKNO Vol 17, No 73 (2019): TEKNO
Publisher : TEKNO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Perumahan Griya Paniki Indah merupakan perumahan yang terletak di Kelurahan Paniki Bawah, Mapanget, Kota Manado, memiliki ruang terbuka hijau yang semakin berkurang. Penggunaan lahan terbangun yang semakin meningkat dan keadaan drainase yang masih kurang baik, menyebabkan genangan air terutama pada musim hujan. Hal ini dikarenakan ketidak mampuan drainase yang ada untuk menampung volume dan debit air yang bertambah. Tujuan penelitian ini adalah untuk merencanakan sistem drainase berwawasan lingkungan berupa lubang resapan biopori yang dapat dijadikan sebagai salah satu alternatif untuk mereduksi genangan air di jalan Dahlia Raya II Perumahan Griya Paniki Indah Kota Manado. Dalam penelitian ini, data-data yang diambil adalah Peta Topografi, Layout Eksisting, Data Hidrologi, Data Klimatologi. Selanjutnya dilakukan analisis debit rencana untuk membandingkannya dengan debit kapasitas. Jika debit kapasitas kurang dari debit rencana, maka direncanakan lubang resapan biopori. Jika lubang resapan biopori tidak mampu menampung debit luapan atau genangan, maka dilakukan perubahan dimensi saluran. Dari 22 saluran yang ada pada lokasi penelitian terdapat 3 saluran yang tidak dapat menampung debit rencana, yaitu : S (28-29), S (29-31), S (9-10). Dimensi LRB yang direncanakan berbentuk silinder yang dibuat secara vertikal ke dalam tanah dengan diameter 10 cm dan kedalaman 100 cm. Sedangkan mulut lubang dapat diperkuat semen selebar 2 – 3 cm dengan tebal 2 cm di sekeliling mulut lubang. Perencanaan lubang resapan biopori digunakan untuk meningkatkan kandungan air tanah dan cadangan air tanah pada musim kemarau. Perubahan dimensi saluran dengan merubah dimensi saluran yaitu lebar saluran B = 0,8 m.
Tinjauan Sistem Drainase Di Kelurahan Maasing Kecamatan Tuminting Kota Manado Sandra, Gusti Ayu; Sumarauw, Jeffry S.F.; Tangkudung, Hanny
TEKNO Vol 18, No 74 (2020): TEKNO
Publisher : TEKNO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kelurahan Maasing, Kecamatan Tuminting, Kota Manado, masih belum luput dari permasalahan sistem drainase. Permasalahan ini diduga disebabkan oleh beberapa faktor utama yakni meningkatnya debit limpasan permukaan dan penurunan kinerja saluran yang kapasitasnya sudah tidak mampu untuk menampung dan mengalirkan debit air dengan baik. Permasalahan genangan dapat berdampak pada terganggunya aktivitas sosial, perekonomian dan berbagai aspek kehidupan di kelurahan tersebut. Berdasarkan kondisi yang ada, perlu dilakukan tinjauan beserta analisis terhadap daya pelayanan sistem drainase yang ada untuk merancang suatu sistem drainase yang efektif sebagai solusi permasalahan berdasarkan bidang keilmuan teknik sipil. Dilakukan analisis hidrologi dengan hasil akhir debit rencana (Qrencana). Untuk analisis hujan rencana, digunakan distribusi normal sebagai tipe sebaran yang memenuhi kriteria berdasarkan hasil analisis parameter statistik data. Debit rencana dihitung dengan persamaan rasional. Analisis hidraulika bertujuan untuk mendapatkan debit kapasitas saluran (Qkapasitas). Dilakukan perhitungan Qkapasitas dengan menggunakan rumus Manning dan hasilnya dibandingkan dengan persyaratan Qkapasitas ≥ Qrencana untuk mengetahui kemampuan daya tampung dari setiap ruas saluran. Hasil analisis penelitian menunjukan bahwa terdapat delapan ruas saluran dari enam puluh delapan ruas saluran eksisting dan empat gorong-gorong dari dua puluh gorong-gorong eksisting yang sudah tidak mampu mengalirkan debit rencana sehingga dilakukan perubahan dimensi agar dapat menampung debit yang ada. Serta dilakukan penambahan dua belas ruas saluran baru untuk beberapa lokasi yang belum memiliki saluran.
KAJIAN PENGEMBANGAN SISTEM PENYEDIAAN AIR BERSIH KOTA BITUNG TANGKUDUNG, HANNY
TEKNO Vol 8, No 54 (2010): TEKNO
Publisher : TEKNO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Air merupakan unsur utama bagi kehidupan manusia di bumi. Dalam kehidupan modern sekarang ini airmerupakan kebutuhan utama untuk hidup (minum, masak dan lain-lain), juga sangat dibutuhkan untuk budidayapertanian, industri, pembangkit listrik dan sebagainya. Kebutuhan air bersih untuk rumah tangga, industri dan lainlainakan terus meningkat dari waktu ke waktu sejalan dengan pembangunan serta jumlah penduduk yang terusbertambah. Kebutuhan air bersih di kota Bitung saat ini dilayani oleh Perusahan Daerah Air Minum (PDAM) yangterbagi atas tiga layanan yaitu untuk kebutuhan domestik, non domestik dan kebutuhan khusus. Penduduk yangterlayani oleh PDAM baru mencapai 65% dengan kondisi layanan yang tidak kontinyu (sering terjadi penjadwalan).Daerah ketinggian umumnya tak mendapat suplai air. Juga banyak air yang terbuang dengan adanya kebocoran.Pulau Lembeh belum terjamah oleh PDAM. Dengan keadaan itu, peneliti akan memperkirakan kebutuhan air bersihkota Bitung, mendapatkan sumber-sumber air yang potensial untuk dimanfaatkan sebagai sumber air baku,memberikan gambaran perimbangan antara ketersediaan dan kebutuhan air sampai tahun 2026 serta mendapatkankerangka sistem penyediaan air bersih sebagai landasan pengembangan sistem penyediaan air bersih kota Bitung.Dalam penelitian ini menggunakan data primer dan data sekunder. Data primer berupa data survey sumbersumberair. Data sekunder berupa data hujan, iklim, jumlah penduduk serta data penyediaan air bersih existing.Kemudian dianalisa kebutuhan air berdasarkan data kondisi existing dan pertumbuhan penduduk. Untuk analisaketersediaan air yang meliputi analisa curah hujan, evapotranspirasi, debit sungai dan debit andalan. Analisa tersebutada yang menggunakan program komputer (software).Dari hasil penelitian menunjukkan bahwa untuk zona-1 kebutuhan air meningkat dari 285,42 l/d menjadi 741,22l/d pada tahun 2026. Ketersediaan air di zona ini mencapai 799,71 l/d. Untuk zona-2 kebutuhan air 15,08 l/d padatahun 2026, sedangkan ketersediaan air 264,71 l/d. Begitu pula zona-3 dimana kebutuhan air 3,1 l/d ditahun 2026 danketersediaan air 155,5 l/d. Sedangkan untuk zona-4 dan zona-5 terjadi kekurangan air karena kebutuhan air lebihbesar dari ketersediaan air. Untuk zona-6 terjadi kekurangan air kecuali di kelurahan Posokan.Untuk mengatasi kekurangan air tersebut dapat ditempuh beberapa alternatif yaitu melakukan usaha-usaha untukmeningkatkan produksi air, membangun sistem penyediaan air bersih dengan sumber-sumber air yang baru,membangun ABSAH di kelurahan-kelurahan juga menyediakan sarana transportasi berupa kapal tangki danmenyediakan SWRO untuk mengolah air laut menjadi air dengan standar air minum.Kata Kunci : Air Bersih, Analisa Kebutuhan dan Ketersediaan Air
PENGUKURAN KECEPATAN ALIRAN DENGAN MENGGUNAKAN PELAMPUNG DAN CURRENT METER Tangkudung, Hanny
TEKNO Vol 9, No 55 (2011): JURNAL TEKNO-SIPIL
Publisher : TEKNO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Dalam perencanaan bangunan irigasi maupun saluran irigasi, perlu diketahui berapa besar debit aliran. Untuk penentuan debit aliran dibutuhkan perhitungan kecepatan aliran yang tepat. Perhitungan kecepatan aliran dapat dilakukan dengan menggunakan alat pelampung permukaan dan current meter. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan perbandingan pengukuran dengan menggunakan alat pelampung permukaan dan current meter, dan dilakukan melalui pengamatan dan pengumpulan data di lapangan. Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa ketelitian hasil pengukuran pelampung permukaan terhadap current meter adalah sebesar 77 %, dimana pada hasil ini pengaruh keadaan cuaca serta kehilangan air yang terjadi di saluran tidak diteliti.Kata kunci : kecepatan aliran, pelampung permukaan, current meter
Analisis Debit Banjir Dan Tinggi Muka Air Sungai Tikala Di Titik Jembatan Gantung Kelurahan Tikala Ares Kecamatan Tikala Isabella E. G. Palit; Jeffry S. F. Sumarauw; Hanny Tangkudung
TEKNO Vol. 20 No. 82 (2022): TEKNO
Publisher : TEKNO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sungai Tikala merupakan salah satu sungai besar yang ada di Kota Manado, Sulawesi Utara. Sungai Tikala merupakan sungai yang memberi dampak kerusakan terbesar pada banjir 15 Januari 2014. Penyebab utama terjadinya banjir adalah curah hujan yang tinggi dalam kurun waktu yang cukup Panjang sehingga mengakibatkan kerugian bagi masyarakat. Maka diperlukan upaya pengendalian banjir. Salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah dengan mengetahui besarnya debit banjir dan tinggi muka air Sungai Tikala. Analisis debit banjir dan tinggi muka air dilakukan dengan mencari frekuensi hujan dengan menggunakan metode Log Pearson III. Data curah hujan yang digunakan berasal dari dua pos hujan, yaitu pos hujan Sawangan dan pos hujan Rumengkor. Data curah hujan yang digunakan adalah data curah hujan harian maksimum selama 10 tahun, yaitu tahun 2011 s/d 2020. Setelah didapat besaran hujan, pemodelan hujan aliran pada program komputer HEC-HMS menggunakan metode HSS Soil Convertation Services, dan untuk kehilangana air dengan SCS Curve Number (CN). Untuk aliran dasar (baseflow) menggunakan metode recession. Dilakukan kalibrasi parameter HSS SCS sebelum melakukan simulasi debit banjir dengan mengkalibrasi debit puncak. Dalam kalibrasi ini, parameter yang dikalibrasi adalah lag time, curve number, recession constant, baseflow dan ratio to peak. Untuk Batasan setiap parameter disesuaikan dengan nilai standar pada program komputer HEC-HMS. Kemudian dilakukan analisis debit banjir dengan parameter yang terkalibrasi menggunakan program komputer HEC-HMS. Debit puncak hasil simulasi setiap kala ulang dimasukkan dalam program komputer HEC-RAS untuk simulasi elevasi tinggi muka air pada penampang yang telah diukur. Hasil simulasi menunjukkan bahwa semua penampang Sungai Tikala yang ditinjau sudah tidak bisa menampung debit banjir untuk kala ulang 5 tahun, 10 tahun, 25 tahun, 50 tahun dan 100 tahun. Kata Kunci - sungai Tikala, debit banjir, tinggi muka air, HEC-HMS, HEC-RAS