Claim Missing Document
Check
Articles

Found 27 Documents
Search

GRAHA PEMUDA DI MANADO (BIOPHILIC DESIGN) Sutrisno, Brawid; Tarore, Raymond Ch.; Takumansang, Esli D.
Jurnal Arsitektur DASENG Vol 4, No 2 (2015): Volume 4 No.2 November 2015
Publisher : PS S1 Arsitektur. Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tumbuh kembang anak muda saat ini sangat berpengaruh pada factor factor lingkungan dan pergaulan mereka. Saat ini juga di Manado semakin banyak anak muda yang memiliki bakat dan potensi baik di bidang seni dan olahraga. Narkoba, free sex, dan kejahatan lainnya adalah beberapa contoh hal yang sering menjebak anak muda. Dalam hal ini Peran orang tua nyatanya tidak lagi bisa membendung hasrat anak muda untuk coba - coba pada hal yang kurang baik terhadap mereka. Faktor pergaulan dan pertemanan yang “tidak sehat” seringkali lebih besar pengaruhnya dari pada peran orang tua. Oleh sebab itu perlu adanya peranan penting dari pemerintah kota Manado  untuk membuat sebuah wadah atau tempat dalam hal ini Graha pemuda  yang bisa memfasiliitasi kegiatan para anak muda untuk mengembangkan bakat mereka dalam bidang seni, olahraga dan pendidikan positif yang bersifat non formal.  Sehingga para anak muda di manado  mendapatkan suatu lingkup pergaulan yang positif yang berguna untuk masa depan mereka.selain itu graha pemuda yang akan di buat menggunakan tema biophilic design dimana tema ini membuat terjadinya keselarasan anta objek arsitektur dan lingkungan alam sekitanya. Penggunaan tema ini juga di harapkan mampu menggugah kesadaran anak muda untuk menjaga alam sekitar mereka dari sekarang . Kata Kunci : Biophilic,Graha,Pemuda
SEKOLAH TINGGI DESAIN KOMUNIKASI VISUAL (HYPERSURFACE ARCHITECTURE) Pedah, Jevie P.; Betteng, Luther; Tarore, Raymond Ch.
Jurnal Arsitektur DASENG Vol 4, No 1 (2015): Volume 4 No.1 Mei 2015
Publisher : PS S1 Arsitektur. Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Teknologi komputer yang makin canggih membuat perkembangan dunia desain komunikasi visual kian marak. Ide-ide kreatif dapat dituangkan tanpa batas dalam merancang berbagai media komunikasi visual, seperti brosur, iklan, poster, website, kemasan, sign, film animasi, corporate identity, dan lain-lain. Sehingga profesi desainer komunikasi visual/desainer grafis menjadi pilihan bagi mereka yang berjiwa dinamis dan kreatif. Penyediaan sebuah fasilitas baru berupa instansi pendidikan yang bergerak di bidang desain grafis merupakan salah satu agenda yang dapat mewadahi dan melengkapi mutu pendidikan di daerah Manado khususnya pada jenjang strata-1/S-1 desain grafis/komunikasi visual. Sebuah wadah baru yang dapat menjadikan sarana edukasi dan penuangan ide-ide kreatif peminatnya, mulai dari penyediaan kurikulum yang menarik dan lengkap hingga pada nilai-nilai arsitektural yang dapat ditampilkan pada desain bangunan. Desain Komunikasi Visual identik kaitannya pada teknologi komputerisasi, baik secara langsung maupun tidak langsung telah membawa banyak perubahan pada kehidupan manusia. Sebagai implikasi logis dari perkembangan teknologi media massa saat ini, komputer membuka alternatif baru perpanjangan tangan arsitektur dimana ekspansi arsitektur ke dunia cyberspace tidak hanya membawa dampak munculnya ‘dunia’ baru yang dapat dijelajahi arsitektur, yang dalam rancangan ini berupa Hypersuface Architecture.. Kata kunci : Sekolah Tinggi, Hypersurface Architecture, Pendidikan Tinggi, Desain Komunikasi Visual, Desain Grafis
NEIGHBORHOOD CULTURAL CENTER DI MANADO “SPACE AS LANGUAGE” Iwawo, Paul; Wuisang, Cynthia E. V.; Tarore, Raymond Ch.
Jurnal Arsitektur DASENG Vol 6, No 1 (2017): Volume 6 No.1 Mei 2017
Publisher : PS S1 Arsitektur. Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kota Manado adalah sebuah kota yang sedang mengalami pertumbuhan dan perkembangan yang cukup pesat. Kota Manado kini berkembang menjadi sebuah kota maju dan semakin berkembang. Hal ini ditandai dengan makin banyaknya investor menanam modalnya di wilayah kota Manado. Dengan demikian tentu saja memacu roda industri di daerah ini, yang ujungnya bermuara kepada pembukuan lapangan pekerjaan baik sektor formal maupun informal. Hal ini tentu saja mengundang banyak kaum urbanis yang berbondong-bondong tiap tahunnya untuk datang ke kota Manado. Jumlah penduduk yang meningkat tiap tahunnya ini tentu saja membutuhkan berbagai fasilitas publik. Sekarang ini di kota Manado telah tersedia beberapa fasilitas umum, antara lain adalah Rumah Sakit, stadion olahraga, pusat perbelanjaan, stasiun kereta api, terminal bus dan institusi pendidikan (TK-SD-SLTP-SLTA-Perguruan Tinggi). Namun belum adanya suatu fasilitas umum yang berkaitan dengan aspek sosio-kultural. Terdapat lima elemen kota yang harus diperhatikan dalam perancangan suatu kota, yaitu : path, edge, node, landmark. Neighborhood Cultural Center merupakan sebuah tempat yang dapat menampung aktivitas warga dalam aspek sosial, kultur-edukatif dan juga bahkan rekreatif. Sebuah community center didalamnya terdiri dari perpustakaan umum, museum, internet café, amphiteater, auditorium dan mungkin beerapa fasilitas public lainnya, yang terangkum dalam suatu kawasan yang dilengkapi oleh penataan ruang luar yang baik. Dengan mengambil tema Space As Language Linguistik pengkajian Arsitektur dalam bahasa komunikasi terdiri dari kata-kata yang memilik arti. Begitu pula dengan dengan karya-karya Arsitektural yang juga merupakan kumpulan dari elemen-elemen pembentuk yang memiliki/memancarkan suatu makna/ arti dapat menjadikan Neighborhood Cultural Center sebagai tempat yang mewadahi kegiatan bertemu, berkomunikasi dan bertukar pikiran, informasi dan pengetahuan serta saling menunjang dengan fungsi yang lain Menjadikan Neighborhood Cultural Center sebagai sarana yang menunjang dalam perkembangan Kota Manado dalam bidang sosial ekonomi dan ilmu pengetahuan. Keyword: Neighborhood Cultural Center, Masyarakat, Space As Language, Manado.
ANALISIS PEMETAAN KAPASITAS ADAPTASI MASYARAKAT KELURAHAN KINILOW SATU DAN KAKASKASEN SATU TERHADAP ANCAMAN BENCANA VULKANIK GUNUNG LOKON Walandouw, Daniel; Tilaar, Sonny; Tarore, Raymond Ch.
SPASIAL Vol 6, No 2 (2019)
Publisher : SPASIAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Salah satu gunung berapi yang aktif di provinsi Sulawesi Utara adalah Gunung api Lokon yang terletak di Kota Tomohon dengan tinggi 1.580 meter di atas permukaan laut. Bahaya primer atau bahaya langsung akibat latusan, adalah seperti luncuran awan panas, lontaran piroklastik dan aliran lava. Sedangkan bahaya sekunder atau bahaya tidak langsung adalah lahar hujan yang terjadi setelah erupsi apabila turun hujan lebat di sekitar puncak gunung Lokon. Dampak dari letusan gunung Lokon adalah bahaya primer dan bahaya sekunder. Kondisi ini menggambarkan bahwa bila terjadi erupsi letusan gunung api Lokon, di kelurahan Kinilow Satu dan Kakaskasen Satu berpotensi mengalami kerusakan secara fisik, bahkan mengancam keselamatan jiwa. Kapasitas adaptasi didefinisikan sebagai kemampuan dari suatu sistem untuk mengubah wataknya untuk dapat lebih baik mengatasi tekanan yang sudah ada maupun yang akan terjadi (Adger et al. 2004). Adanya penelitian ini diharapkan dapat menganalisis dan memetakan tingkat kapasitas adaptasi masyarakat di kelurahan Kinilow Satu dan Kakaskasen Satu terhadap bencana vulkanik Gunung Lokon. Dengan demikian penelitian ini berguna dalam memberikan rekomendasi untuk memperbaiki, merencanakan kembali dan mengembangkan kapasitas daerah Kota Tomohon. Penelitian ini menggunakan metode analisis Deskriptif kuantitatif dengan melakukan analisis spasial. Berdasarkan hasil analisis, lingkungan yang teridentifikasi memiliki tingat kapasitas adaptasi yang tinggi di kedua kelurahan berjumlah 5 (lima) lingkungan sedangkan tingat kapasitas adaptasi sedang berjumlah 9 (sembilan) lingkungan, dan tingat kapasitas adaptasi yang rendah berjumlah 7 (tujuh) lingkungan.Kata kunci: Kapasitas Adaptasi, Gunung Lokon
KAJIAN PERUBAHAN PENGGUNAAN LAHAN PADA KAWASAN PINGGIRAN KOTA (PERI-URBAN) DI KECAMATAN KALAWAT KABUPATEN MINAHASA UTARA Luntungan, Rachel D.I.; Rengkung, Michael M.; Tarore, Raymond Ch.
SPASIAL Vol 6, No 2 (2019)
Publisher : SPASIAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kecamatan Kalawat adalah salah satu Kecamatan yang berada di Kabupaten Minahasa Utara dengan luas wilayah sebesar 47.42 km2. Kecamatan Kalawat merupakan kecamatan yang berada di pinggiran kota (peri-urban) yang berbatasan langsung dengan Kota Manado hal ini menyebabkan sebagian dari luas wilayah di Kecamatan Kalawat mengalami perubahan penggunaan lahan yang disebabkan oleh aktivitas kegiatan manusia dan beberapa faktor lainnya. Desa Maumbi, Desa Watutumou, Desa Watutumou II, Desa Watutumou III, Desa Kolongan Tetempangan, Desa Kawangkoan Baru, dan Desa Kalawat yang merupakan kawasan pinggiran kota (peri-urban). Penggunaan lahan dari tahun ke tahun semakin meningkat sehingga pada kawasan pinggiran kota mengalami perubahan penggunaan lahan yang signifikan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bentuk perubahan penggunaan lahan yang terjadi di kawasan pinggiran kota di Kecamatan Kalawat, Untuk menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi perubahan penggunaan lahan di kawasan pinggiran kota di Kecamatan Kalawat. Metode penelitian yang digunakan adalah metode analisis overlay GIS dan metode analisis deskriptif kualitatif untuk menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi perubahan penggunaan lahan. Hasil Penelitian ini yaitu perubahan penggunaan lahan pada kawasan pinggiran kota ini di Kecamatan Kalawat dalam kurun waktu 2009 sampai dengan pada tahun 2019, menunjukkan bahwa perubahan penggunaan lahan yang paling dominan yaitu lahan perkebunan yang berkurang 257.27 ha, dan lahan untuk permukiman & tempat kegiatan bertambah 203.72 ha, sedangkan untuk faktor yang paling mempengaruhi terjadinya perubahan penggunaan lahan yaitu faktor perekonomian dan pertumbuhan jumlah penduduk. Dari hasil penelitian dapat diketahui bahwa perubahan penggunaan lahan yang paling dominan yaitu perubahan lahan perkebunan ke lahan permukiman dengan bertambahnya luas lahan sebesar 203.72 Ha dan faktor-faktor yang paling mempengaruhi terjadinya perubahan penggunaan lahan adalah faktor demografi dan faktor ekonomi.Kata Kunci: Penggunaan Lahan, Perubahan Penggunaan Lahan, Peri-urban
ANALISIS KERENTANAN BAHAYA ERUPSI GUNUNG API KARANGETANG TERHADAP KAWASAN PERMUKIMAN DI PULAU SIAU Dame, Grinaldi Schneider Andre; Poli, Hanny; Tarore, Raymond Ch.
SPASIAL Vol 6, No 2 (2019)
Publisher : SPASIAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Gunung Api Karangetang adalah gunung api yang terletak dibagian utara Sulawesi lebih tepatnya di Kabupaten Kepulauan Siau Tagulandang Biaro. Gunung Api Karangetang salah satu gunung teraktif di Indonesia dengan letusan sebanyak lebih dari 40 kali sejak tahun 1675 serta letusan kecil yang tidak terdata dalam catatan dalam rangka pengembangan kawasan permukiman di daerah potensi ancaman erupsi Gunung Karangetang, maka diperlukan analisis terkait tingkat kerentanan bahaya erupsi Gunung Karangetang terhadap pemukiman di Kabupaten Sitaro. Tujuannya untuk dapat mengetahui tingkat kerentanan serta menyusun atau memberikan rekomendasi-rekomendasi sesuai dengan tingkat kerentanan terhadap erupsi Gunung Api Karangetang terutama pada daerah ancaman erupsi (KRB I, II dan III) agar kerugian bencana yang terjadi di Kabupaten Kepulauan Sitaro akibat dari Letusan Gunung Api Karangetang khususnya di pulau siau dapat diminimalisir. Selain itu, hasil penelitian ini di dapat dengan menggunakan metode analisis deskriptif dan kuantitatif dengan analisis spasial, sesuai analisis tersebut, maka dalam menganalisis tingkat kerentanan menggunakan metode pembobotan nilai terhadap aspek kerentanan fisik, kerentanan sosial, kerentanan ekonomi dan lingkungan yang parameternya berdasarkan PERKA BNPB No 2 Tahun 2012 tentang Pedoman Umum Pengkajian Resiko Bencana. Sehingga di peroleh hasil analisis indeks kerentanan letusan gunung api Karangetang di pulau siau di fokuskan untuk 8 (delapan) desa dengan tingkat kelas kerentanan tinggi dan di lakukan rekomendasi-rekomendasi terkait penanganan yang ditujukan ke pemerintah Kabupaten Kepulauan Siau Tagulandang dan Biaro (Sitaro) lebih tepatnya pemerintah yang ada di pulau Siau terkait pertimbangan perencanaan dan pengembangan mitigasi bencana berdasarkan aspek Kerentanan Fisik, Kerentanan Sosial, Kerentanan Ekonomi dan Kerentanan LingkunganKata Kunci : Gunung Api, Kerentanan Bencana, Pulau Siau.
PERUBAHAN LAHAN PERTANIAN BASAH DI KOTA KOTAMOBAGU Mokodompit, Putri Indah Sari; Kindangen, Jefrey I.; Tarore, Raymond Ch.
SPASIAL Vol 6, No 3 (2019)
Publisher : SPASIAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Di Kota Kotamobagu permasalahan yang terjadi yaitu pertumbuhan penduduk yang bersifat alami maupun migrasi semakin meningkat sehingga berdampak pada kebutuhan akan lahan yang dimanfaatkan untuk permukiman juga akan meningkat. Adanya pertumbuhan penduduk juga akan mempengaruhi peningkatan dalam ketersediaan fasilitas jalan, pendidikan, kesehatan, dan fasilitas pelayanan umum lainnya, tentunya hal itu juga membutuhkan lahan sebagai wadahnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui persebaran dan penggunaan lahan pertanian basah di Kota Kotamobagu dan untuk menganalisis faktor-faktor yang dominan mempengaruhi perubahan penggunaan lahan di Kota Kotamobagu. Metode yang di gunakan dalam penelitian ini adalah metode analisis overlay GIS dan metode analisis deskriptif kualitatif. Hasil penelitian ini yaitu perubahan penggunaan lahan di Kota Kotamobagu dalam kurun waktu dari tahun 2009 sampai dengan pada tahun 2019 menunjukkan bahwa luas keseluruhan Kota Kotamobagu adalah 6802.342 Ha dan hasil analisis mengguna analisis spasial mendapatkan hasil penggunaan lahan pertanian basah pada tahun 2009 sebesar 1856.940 Ha dan penggunaan lahan pertanian basah pada tahun 2019 sebesar 1697.496. Sedangkan untuk faktor yang dominan mempengaruhi perubahan penggunaan lahan pertanian khususnya lahan sawah di kota Kotamobagu adalah keputusan petani untuk melakukan alih fungsi lahan yang di pengaruhi oleh tingkat usia, luas lahan, lama pendidikan dan pengalaman bertani. Hasil penelitian dapat diketahui bahwa perbandingan luas lahan pertanian basah dari tahun 2009 sampai dengan pada tahun 2019 adalah sebesar 159.444 Ha dan faktor-faktor yang paling mempengaruhi terjadinya perubahan penggunaan lahan adalah keputusan petani untuk melakukan alih fungsi lahan yang di pengaruhi oleh tingkat usia, luas lahan, lama pendidikan dan pengalaman bertani.Kata Kunci: Penggunaan Lahan, Perubahan Penggunaan Lahan.
ANALISIS KEMAMPUAN LAHAN DI PULAU SULABESI KABUPATEN KEPULAUAN SULA Duwila, Rifandi; Tarore, Raymond Ch.; Takumansang, Esli D.
SPASIAL Vol 6, No 3 (2019)
Publisher : SPASIAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pulau Sulabesi mengalami pembangunan yang cukup pesat dari tahun ke tahun. Dalam perkembangan ini tidak terlepas dari kebutuhan lahan yang akan terus meningkat, sehingga kawasan lindung bisa terancam alih fungsi menjadi lahan terbangun. penelitian ini bertujuan untuk: menganalisis kelas kemampuan lahan, dan menentukan pemanfaatan lahan sesuai dengan kelas kemampuan lahan di Pulau Sulabesi, untuk mencapai tujuan tersebut di lakukan penelitian dengan cara pengambilan data sekunder kepada instansi pemerintah terkait yaitu Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kabupaten Kepulauan Sula, data yang diambil diantaranya: Peta curah hujan, peta topografi, peta geologi, peta kemiringan lereng, peta bencana alam, peta penggunaan lahan, peta Morfologi. Teknik analisis kemampuan lahan yakni dilakukan dengan memasukkan data dari hasil analisis satuan kemampuan lahan yang kemudian dilakukan dengan teknik overlay. Proses analisis ini juga dilakukan dengan memanfaatkan perangkat lunak SIG (Sistem Informasi Geografis) ArcGis 10.5. Menurut Pedoman PU No 20 tahun 2007 yang telah di tetapkan bobotnya setiap SKL. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kelas kemampuan lahan di Pulau Sulabesi terdiri dari lima kelas yaitu kelas A, B, C, D, dan E. Kelas kemampuan lahan terluas terdapat pada kelas C dengan luasan 40670,2 Ha (74,25%) sedangkan pemanfaatan lahan pada kemampuan lahan terluas terdapat pada hutan rimba dengan luasan 32.717,9 Ha. Hal ini menunjukkan bahwa 74,25% dari luasan Pulau Sulabesi berada pada Kelas c yang artinya adalah kemampuan lahan sedang atau di kategorikan sebagai kawasan pemanfaatan sedang. Kata kunci: Pulau Sulabesi, Kemampuan Lahan, Sistem Informasi Geografis, Pemanfaatan Lahan
ANALISIS SISTEM TRANSPORTASI DI KECAMATAN MELONGUANE KABUPATEN KEPULAUAN TALAUD (STUDI KASUS: KORIDOR JALAN KAMPUNG BARU KECAMATAN MELONGUANE) Kalungan, Trifena Rany; Timboeleng, James A.; Tarore, Raymond Ch.
SPASIAL Vol 6, No 2 (2019)
Publisher : SPASIAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Indonesia merupakan Negara Berkembang, dalam Menunjang perkembangan di Indonesia, maka diperlukan transportasi yang Memadai. seiring dengan peningkatan jumlah penduduk dan semakin kompleksnya kegiatan penduduk di perkotaan maka kebutuhan sarana transportasi semakin meningkat. Infrastruktur wilayah, termasuk jaringan jalan sangat penting dalam menunjang pembangunan, perkembangan ekonomi wilayah. Khususnya Kabupaten Kepulauan Talaud, yang merupakan Kabupaten termuda dengan infrastruktur wilayah yang masih sangat terbatas. Kabupaten Kepulauan Talaud marupakan bagian integral dari propinsi Sulawesi utara, dengan ibukota Melonguane. Berada diantara Pulau Sulawesi dengan Pulau Mindanao (Republik Philipina), sehingga Kabupaten Kepulauan Talaud bersama dengan Kabupaten Kepulauan Sangihe, di sebut “Daerah Perbatasan“.Dengan demikian Kecamatan Melonguane berkembang sebagai pusat utama perdagangan dan jasa karena fasilitas yang ada lebih lengkap. Di pusat kota sendiri menjadi pusat sentral kegiatan perdagangan karena terdapat beberapa pertokoan dan pasar di dalamnya sehingga mobilitas orang, kendaraan, dan barang begitu tinggi yang menimbulkan bangkitan dan tarikan perjalanan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan metode kualitatif dan kuantitatif berupa data perhitungan yang terdiri dari volume kendaraan, kecepatan kendaraan, kapasitas jalan dan hambatan samping. Tujuan Penelitian ini adalah untuk menganalisis kinerja sistem transportasi di Kecamatan Melonguane. Berdasarkan hasil studi Volume kendaraan tertinggi pada segmen jalan (titik 2) dengan jumlah kendaraan tertinggi yaitu 7.224 smp/jam, sedangkan volume kendaraan terendah pada segmen jalan (titik 1) dengan jumlah kendaraan 5.462 smp/jam. Kinerja Ruas Jalan Kampung Baru pada saat ini, nilai derajat kejenuhan (DS) pada umumnya masih sesuai standar kategori 0.35 (MKJI, 1997) dengan tingkat pelayanan jalan pada kategori A kondisi arus lalu lintasnya bebas antara satu kendaraan dengan kendaraan lainnya, besarnya kecepatan sepenuhnya ditentukan oleh keinginan pengemudi dan sesuai dengan batas kecepatan yang telah ditentukan. Dan kecepatan rata-rata pada umumnya berada di bawah persyaratan kolektor yaitu 20 km/jam, yang dipengaruhi oleh volume lalu lintas, kondisi jalan dan hambatan samping. Kondisi aktivitas lalu lintas pada segmen jalan ini yaitu kendaraan parkir di badan jalan, naik turun penumpang bentor, dan pejalan kaki/penyeberang jalan pada pusat perbelanjaan dan perdagangan dan jasa.Kata kunci: Sistem Transportasi, Lalu Lintas, Kinerja Jalan, Kabupaten Kepulauan Talaud 
HOTEL RESORT DAN KAWASAN OBJEK WISATA GUA TOTOMBATU DI TALAUD - Penerapan Nilai-Nilai Inspiratif Lukisan Karya Oktavio Ocampo pada Desain Tamesala, Nibsan N.; Tarore, Raymond Ch.
Jurnal Arsitektur DASENG Vol 1, No 2 (2012): Edisi Khusus TA. Buku II EKSPERIMENTAL. Volume 1 No.2 November 2012
Publisher : PS S1 Arsitektur. Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

HOTEL RESORT DAN KAWASAN OBJEK WISATA GUA TOTOMBATU (GUA TENGKORAK) DI TALAUD (PENERAPAN NILAI – NILAI INSPIRATIF LUKISAN KARYA OKTAVIO OCAMPO PADA DESAIN) 1. Nibsan Nopri Tamesala[1]2. Raymond Ch. Tarore[2]   ABSTRAK Hotel Resort merupakan fasilitas yang sangat penting untuk memfasilitasi kegiatan berwisata. Hotel Resort juga merupakan suatu bagian usaha di dunia bisnis perhotelan khususnya di sektor pariwisata. Pada saat ini sektor pariwisata yang ada di Kabupaten Kepulauan Talaud, khususnya lokasi tempat objek wisata , masih sangatlah minim fasilitas penunjang, bahkan banyak tempat objek wisata yang masih kurang diperhatikan. Masalahnya mungkin peran serta pemerintah, ataupun masyarakat yang senantiasa haruslah lebih ditingkatkan. Dalam keadaan seperti inilah maka fasilitas Hotel Resort serta pengembangan Kawasan Objek Wisata Gua Totombatu (Gua Tengkorak) di Talaud, dengan mengusung tema “Penerapan Nilai – Nilai Inspiratif Lukisan Karya Oktavio Okampo” Pada desain sangat diperlukan, untuk mewadahi kebutuhan akan kegiatan berwisata. Tema ini menunjukan bagaimana suatu kesan dari penataan ruang luar, dan penciptaan bentuk rancangan bangunan yang sangat unik yang memiliki makna suatu pensan yang realistis, untuk bisa mempertahankan sesuatu yang menjadi karakteristik dari tempat tersebut, dan juga bisa memberikan nuansa yang berbeda dari rancangan Hotel Resort pada umumnya. Maka dari tema rancangan, yang merupakan penerapan nilai – nilai inspiratif lukisan dalam gaya metamorf, dapat memberikan gambaran akan bentukan yang berkaitan langsung dengan unsur alam, pada kawasan objek wisata tersebut. Kesan berwisata yang menyenangkan, dengan keberadaan objek yang menarik, walaupun keberadaan objek tersebut memiliki kesan mistik, tetapi keunikan objek itulah yang membuat para wisatawan lebih penasaran akan kbeberadaan ojek Tengkorak tersebut. Lokasi yang berkesan seram, tetapi nyaman, dan menyenangkan. Maka dengan hadirnya objek fasilitas tersebut, diharapkan dapat memberikan suatu jawaban kearah yang lebih baik atas segala permasalahan yang terjadi dalam pengembangan sektor dunia pariwisata di Kabupaten kepulauan Talaud, yang masih kurang di perhatikan, dan juga bisa memberikan kontribusi yang lebih baik pula bagi pemerintah, maupun bagi masyarakat yang ada di Kabupaten Kepulauan Talaud. Kata Kunci : Hotel Resort, Kawasan, inspitatif, Lukisan, Gua tengkorak. [1] Mahasiswa PS 1 Arsitektur UNSRAT [2] Staf Dosen Pengajar Arsitektur UNSRAT