Claim Missing Document
Check
Articles

Found 35 Documents
Search

Taman Rekreasi Pantai Mangga Tasik di Minahasa “Eksplorasi Bentang Alam di Kawasan Pesisir” Bare, Rilya O. E.; Makarau, Vecky H.; Tarore, Raymond Ch.
Jurnal Arsitektur DASENG Vol. 4 No. 1 (2015): Volume 4 No.1 Mei 2015
Publisher : PS S1 Arsitektur. Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/daseng.v4i1.8122

Abstract

ABSTRAK Pada masa sekarang ini semakin kompleksnya kebutuhan manusia, maka kebutuhan berwisata dan rekreasi pun meningkat. Oleh karena itu menimbulkan semakin banyak di bangunnya area-area wisata yang dapat memberikan hiburan bagi masyarakat. Namun terkadang area wisata tersebut kurang memperhatikan potensi alam akan lingkungan atau lokasi yang terpilih, kelestarian bahkan kurang ramah terhadap alam sehingga hanya aspek estetis saja yang di utamakan. Lokasi wisata pantai Mangga Tasik yang sudah ada ini perlu di desain menjadi Tempat Rekreasi Pantai Mangga Tasik yang lebih menarik dan memanfaatkan segala potensi alam di sekitar lokasi. Dengan tambahan fasilitas seperti tempat parkir, tempat-tempat makanan yang lebih layak dan bersih, tempat souvenir, dll. Dengan mengangkat tema “Eksplorasi Bentang Alam di Kawasan Pesisir” desain Taman Rekreasi Pantai Manggatasik di Minahasa memiliki karakter yang ramah terhadap alam dan memanfaatkan potensi alam sekitar. Dari tema tersebut diperoleh bentukan desain yang mencoba mengangkat sebuah bentukan yang sesuai dengan karakter lingkungan. Dikarenakan sifat taman rekreasi yang non-formal, lebih dinamis dan memberikan kesan santai maka bentuk bulat akan mendominasi. Objek rancangan ini juga sebagai bentuk implementasi dari beberapa faktor-faktor dalam studi kasus.   Kata kunci : Wisata, Rekreasi, Eksplorasi, Bentang Alam, Kawasan, Pesisir
TENDENSI ECLECTICISM DALAM ARSITEKTUR POST-MODERN Paluruan, Raynold H.; Tarore, Raymond Ch.
MEDIA MATRASAIN Vol 8, No 2 (2011)
Publisher : Department of Architecture, Engineering Faculty - Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAKModernisme dalam arsitektur merupakan suatu hal yang dianggap memberikan suatu cara pandang dan pikir yang baru dalam berarsitektur. Segala bentuk pemikiran berfokus kepada hal-hal yang bersifat mutakhir sejalan dengan kemajuan jaman dan teknologi. Dengan penggunaan mesin secara besar-besaran, keindahan dan seni ber-arsitektur masa lalu telah dilupakan, yang kemudian mengacu pada suatu karya yang bersih, polos tanpa ornamen, serta pengkotak-kotakan alias pengklasifikasian bentuk terhadap fungsi. Namun akhirnya segala bentuk kemutakhiran dan kehebatan modernisme, memunculkan beragam kelemahan dan kekurangan. Keinginan untuk menghasilkan suatu karya yang bebas penuh rasa dengan semangat yang plural dan kaya makna, membuat dogma-dogma modernisme akhirnya tumbang dalam badai amukan pemikiran-pemikiran eklektik atau aliansi antara sejarah dengan kemajuan teknologi.Kata kunci: modernisme, sejarah, pemikiran, seni
FLAT MAHASISWA DI MANADO (PENGEMBANGAN PERSONAL SPACE DALAM KONTEKS TEORI TERITORIALITAS) Kansil, Evander G.; Sondakh, Julianus A. R.; Tarore, Raymond Ch.
Jurnal Arsitektur DASENG Vol. 3 No. 1 (2014): Volume 3 No.1 Mei 2014
Publisher : PS S1 Arsitektur. Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/daseng.v3i1.4820

Abstract

ABSTRAK Upaya menghadirkan hunian representatif bagi mahasiswa merupakan sasaran utama yang hendak dicapai dalam penulisan ilmiah ini. Kebutuhan tersebut menjadi persoalan setiap perguruan tinggi di seluruh indonesia. Dalam merancang suatu bangunan, seorang Arsitek tentunya tidak hanya berdasarkan pada imajinasinya sendiri. Hasil kreasi seorang arsitek membentuk suatu kesatuan yang harmonis dalam berbagai dimensi, terutama dimensi kenyamanan dan keamanan. Ketika merancang, seorang arsitek harus memperhitungkan secara rinci seberapa besar kebutuhan manusia, memperkirakan bagaimana mereka berperlaku, bergerak dalam lingkungannya, kemudian memutuskan bagaimana bangunan tersebut dapat menjadi lingkungan yang sehat  terhadap manusia pemakainya. Sebagian mahasiswa dinilai lebih suka privasi atau ingin menjaga kenyamanannya  dalam belajar sehingga bentuk flat merupakan wadah yang cocok untuk mengakomodir kebutuhan tersebut. Sesuai dengan fungsi dan karakteristiknya, maka wadah ini dinamakan “Flat Mahasiswa Di Manado” kemudian, kajian perancangan terhadap objek dibatasi secara ilmu arsitektural dan penyesuain dengan perilaku manusia. Persyaratan fisik dan psikis serta faktor-faktor lainnya perlu di perhatikan, agar fungsi bangunan menjadi optimal. Hasil yang diperoleh yaitu bangunan Flat, lengkap dengan perabotan interior dan fasilitas umum, memiliki tiga tipe hunian (T-Small, T-medium, T-Large) serta kapasitas daya tampung diasumsikan 5% dari jumlah mahasiswa yang ada ditiap-tiap universitas di Manado. Berikut juga sarana dan prasarana utilitas bangunan. Berdasarkan hasil wawancara dan pengmatan, kebutuhan mahasiswa semakin kompleks, hal itu seiring dengan perkembangan zaman. Mahasiswa bukan hanya membutuhkan tempat tinggal semata tapi juga kebutuhan yang menunjang aktivitas lainnya. Sebab itu itu perlu juga dibangun fasilitas penunjang yang memadai. Dalam hal ini ruang personal yang berkembang dari konteks teritorialitas menjadi titik acuan dalam perancangan objek bangunan. Dengan kata lain perilaku manusia dapat diarahkan kearah yang lebih baik bila nilai – nilai positif dari lingkungan atau bentuk arsitektur dapat membentuk kepribadian serta perilaku yang memiliki nilai positif.   Kata kunci : Merancang, Kebutuhan, Mahasiswa, Perilaku.
ISLAMIC CENTER DI KOTA KOTAMOBAGU. “ARSITEKTUR KONTEMPORER” Nuh, Riansyah; Supardjo, Surijadi; Tarore, Raymond Ch.
MEDIA MATRASAIN Vol 17, No 1 (2020)
Publisher : Department of Architecture, Engineering Faculty - Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Indonesia adalah bangsa yang memiliki kebudayaan yang unik dan beraneka ragam. Dimana tiap-tiap daerah di Indonesia memiliki kebudayaan yang berbeda-beda dan menghasilkan suatu kesenian khas yang membedakan antara daerah satu dengan daerah lainnya. Salah satu kota kesenian yang khas di Indonesia adalah Kota Jayapura. Kota jayapura merupakan kota seni dan budaya yang kental. Tari triton, tari pikon/kecapi mulut dan tari tipa merupakan salah satu kebudayaan dan kesenian peninggalan tradisi Papua. Sering dengan perkembangan jaman kebudayaan Papua mulai terlupakan, banyak generasi muda tadak mengenali tentang kebudayaan-kebudayaan tersebut. Masuknya budaya asing menjadi salah satu faktor yang sangat berpengaruh terhadap menurunnya minat masyarakat budayanya sendiri, terutama generasi muda mudi yang lebih enjoi dengan kesenian-kesenian modern yang telah menjamur sampai lupa akan indentitas mereka sebagai orang Papua. Oleh karena itu, dengan adanya perancangan Pusat Seni dan Budaya Papua di Jayapura ini dapat meningkatkan kembali akan indentitas kebudayaan daerahnya dan memperkenalkan kebudayaan Papua ke manca Negara dengan cara memberikan pelatihan, pengembangan akan kesenian-kesenian Papua kepada masyarakat khususnya masyarakat Orang Asli Papua serta sarana pelestarian kebudayaan daerah dan sarana rekreasi. Output dari pada rancangan tidak hanya dari segi fisik atau keindahan arsitekturnya saja, melainkan nilai-nilai dari arsitektur Papua tersebut yang dimunculkan pada perkembangan arsitektur-arsitektur jaman sekarang tanpa melupakan arsitektur daerahnya. Dengan penerapan tema Re-Interpreting Tradisi ini diharapkan dapat mengangkat kembali nilai-nilai arsitektur Papua yang mulai dilupakan. 
PUSAT SENI DAN BUDAYA PAPUA DI JAYAPURA. “REINTERPRETING TRADISIONAL” Kogoya, Doanus; Makarau, Vicky; Tarore, Raymond Ch.
MEDIA MATRASAIN Vol 17, No 1 (2020)
Publisher : Department of Architecture, Engineering Faculty - Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Indonesia adalah bangsa yang memiliki kebudayaan yang unik dan beraneka ragam. Dimana tiap-tiap daerah di Indonesia memiliki kebudayaan yang berbeda-beda dan menghasilkan suatu kesenian khas yang membedakan antara daerah satu dengan daerah lainnya. Salah satu kota kesenian yang khas di Indonesia adalah Kota Jayapura. Kota jayapura merupakan kota seni dan budaya yang kental. Tari triton, tari pikon/kecapi mulut dan tari tipa merupakan salah satu kebudayaan dan kesenian peninggalan tradisi Papua. Sering dengan perkembangan jaman kebudayaan Papua mulai terlupakan, banyak generasi muda tadak mengenali tentang kebudayaan-kebudayaan tersebut. Masuknya budaya asing menjadi salah satu faktor yang sangat berpengaruh terhadap menurunnya minat masyarakat budayanya sendiri, terutama generasi muda mudi yang lebih enjoi dengan kesenian-kesenian modern yang telah menjamur sampai lupa akan indentitas mereka sebagai orang Papua. Oleh karena itu, dengan adanya perancangan Pusat Seni dan Budaya Papua di Jayapura ini dapat meningkatkan kembali akan indentitas kebudayaan daerahnya dan memperkenalkan kebudayaan Papua ke manca Negara dengan cara memberikan pelatihan, pengembangan akan kesenian-kesenian Papua kepada masyarakat khususnya masyarakat Orang Asli Papua serta sarana pelestarian kebudayaan daerah dan sarana rekreasi. Output dari pada rancangan tidak hanya dari segi fisik atau keindahan arsitekturnya saja, melainkan nilai-nilai dari arsitektur Papua tersebut yang dimunculkan pada perkembangan arsitektur-arsitektur jaman sekarang tanpa melupakan arsitektur daerahnya. Dengan penerapan tema Re-Interpreting Tradisi ini diharapkan dapat mengangkat kembali nilai-nilai arsitektur Papua yang mulai dilupakan.
PENATAAN KAWASAN WISATA BUKIT WAWO Kaparang, Angelita A. P.; Tarore, Raymond Ch.; Tinangon, Alvin J.
MEDIA MATRASAIN Vol. 20 No. 2 (2023): MEDIA MATRASAIN
Publisher : Department of Architecture, Engineering Faculty - Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/matrasain.v20i2.52698

Abstract

ABSTRAK Kota Tomohon adalah salah satu Kota di Provinsi Sulawesi Utara yang mempunyai potensi wisata yang menarik. Kota Tomohon memiliki berbagai potensi dibidang pariwisata yang tidak kalah bagus dengan daerah lain. Khususnya wisata alam Bukit Wawo. Tujuan penelitian ini untuk mengidentifikasi karakteristik dan menganalisis penataan kawasan wisata bukit wawo. Metode penelitian yang digunakan yaitu analisis kualitatif dan kuantitatif. Metode analisis data kuantitatif adalah metode yang digunakan untuk data yang bersifat numerik sedangkan metode analisis kualitatif adalah metode yang digunakan untuk data yang bersifat non numerik atau teks. Hasil penelitian menggambarkan penataan kawasan wisata di bukit wawo dengan tetap melihat kondisi infrastruktur pariwisata yang ada untuk diperlukan penanganan yang komprehensif dan berkelanjutan terutama pada jaringan jalan, jaringan air bersih, tempat sampah, listrik, telekomunikasi, dan infrastruktur pengelolaan limbah. Kata Kunci: Daya Tarik Wisata, Infrastruktur Pariwisata, Penataan Kawasan Wisata ABSTRACT Tomohon City is one of the cities in North Sulawesi Province which has attractive tourism potential. Tomohon City has various potentials in the tourism sector that are no less good than other areas. Especially the natural tourism of Wawo Hill. The aim of this research is to identify the characteristics and analyze the arrangement of the Wawo Hill tourist area. The research methods used are qualitative and quantitative analysis. The quantitative data analysis method is a method used for data that is numerical in nature, while the qualitative analysis method is a method used for data that is non-numerical or text in nature. The results of the research illustrate the arrangement of the tourist area on Wawo Hill while still looking at the condition of the existing tourism infrastructure which requires comprehensive and sustainable treatment, especially the road network, clean water network, trash cans, electricity, telecommunications and waste management infrastructure. Keywords: Touris Attraction, Tourism Infrastructure, Arrangement of Tourist Areas
PENATAAN KAWASAN WISATA BUKIT WAWO Kaparang, Angelita A. P.; Tarore, Raymond Ch.; Tinangon, Alvin J.
MEDIA MATRASAIN Vol. 20 No. 2 (2023): MEDIA MATRASAIN
Publisher : Department of Architecture, Engineering Faculty - Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/matrasain.v20i2.52698

Abstract

ABSTRAK Kota Tomohon adalah salah satu Kota di Provinsi Sulawesi Utara yang mempunyai potensi wisata yang menarik. Kota Tomohon memiliki berbagai potensi dibidang pariwisata yang tidak kalah bagus dengan daerah lain. Khususnya wisata alam Bukit Wawo. Tujuan penelitian ini untuk mengidentifikasi karakteristik dan menganalisis penataan kawasan wisata bukit wawo. Metode penelitian yang digunakan yaitu analisis kualitatif dan kuantitatif. Metode analisis data kuantitatif adalah metode yang digunakan untuk data yang bersifat numerik sedangkan metode analisis kualitatif adalah metode yang digunakan untuk data yang bersifat non numerik atau teks. Hasil penelitian menggambarkan penataan kawasan wisata di bukit wawo dengan tetap melihat kondisi infrastruktur pariwisata yang ada untuk diperlukan penanganan yang komprehensif dan berkelanjutan terutama pada jaringan jalan, jaringan air bersih, tempat sampah, listrik, telekomunikasi, dan infrastruktur pengelolaan limbah. Kata Kunci: Daya Tarik Wisata, Infrastruktur Pariwisata, Penataan Kawasan Wisata ABSTRACT Tomohon City is one of the cities in North Sulawesi Province which has attractive tourism potential. Tomohon City has various potentials in the tourism sector that are no less good than other areas. Especially the natural tourism of Wawo Hill. The aim of this research is to identify the characteristics and analyze the arrangement of the Wawo Hill tourist area. The research methods used are qualitative and quantitative analysis. The quantitative data analysis method is a method used for data that is numerical in nature, while the qualitative analysis method is a method used for data that is non-numerical or text in nature. The results of the research illustrate the arrangement of the tourist area on Wawo Hill while still looking at the condition of the existing tourism infrastructure which requires comprehensive and sustainable treatment, especially the road network, clean water network, trash cans, electricity, telecommunications and waste management infrastructure. Keywords: Touris Attraction, Tourism Infrastructure, Arrangement of Tourist Areas
FASILITAS BUDIDAYA BUNGA POTONG DAN PASAR BUNGA DI TOMOHON “ARSITEKTUR LANSEKAP” Karisoh, Christin; Moniaga, Ingerid L.; Tarore, Raymond Ch.
Jurnal Arsitektur DASENG Vol. 5 No. 1 (2016): Volume 5 No.1 Mei 2016
Publisher : PS S1 Arsitektur. Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/daseng.v5i1.13033

Abstract

Kota Tomohon merupakan salah satu kota yang terletak di Provinsi Sulawesi Utara yang sangat kaya akan kehidupan sosial-budaya serta sumber daya alam yang memiliki potensi yang baik dalam bidang pertanian. Saat ini mas yarakat kota Tomohon telah membudidayakan bunga potong . Namun saat ini, bunga potong yang di jual, sebagian tidak berasal dari Kota Tomohon melainkan dari beberapa daerah lain di Indonesia seperti pulau jawa yang di pesan dan di kirim ke Tomohon. Hal ini disebabkan karena keterbatasan memperoleh bibit bunga potong dan belum tersedianya wadah yang representatif dan memadai dalam memelihara bunga potong. Oleh karena itu, perancangan Fasilitas Budidaya Bunga Potong dan Pasar Bunga di Kota Tomohon ini diharapkan dapat memenuhi kebutuhan bagi petani bunga potong dalam pembudidayan bunga potong, bagi penjual bunga potong dan bagi wisatawan dalam berkreasi serta menikmati alam yang ada disekitar objek Fasilitas Budidaya Bunga Potong dan Pasar Bunga di Tomohon. Arsitektur Lansekap merupakan tema yang diangkat dalam perancangan Fasilitas Budidaya Bunga Potong dan Pasar Bunga tersebut. Pemahaman Arsitektur Lansekap yaitu ilmu dan seni perencanaan dan perancangan serta pengaturan dari pada lahan, penyusunan elemen-elemen alam dan buatan melalui aplikasi ilmu pengetahuan dan budaya, dengan memperhatikan keseimbangan kebutuhan pelayanan dan pemeliharaan sumber daya, hingga pada akhirnya dapat tersajikan suatu lingkungan yang estetis dan fungsional. Fungsi dari Arsitektur Lansekap lebih kepada perencanaan ruang luar, dimana lansekap ini akan menjadi penghubung antara manusia dengan alam. Melalui perencanaan Fasilitas Budidaya Bunga Potong dan Pasar Bunga di  Tomohon ini diharapkan bisa menjadi fasilitas budidaya bunga potong, tempat jual beli bunga dan menjadi fasilitas pariwisata di Kota Tomohon Kata kunci : Budidaya Bunga Potong, Pasar Bunga, Fasilitas, Arsitektur Lansekap.
LEMBAGA PEMASYARAKATAN KELAS II A DI TONDANO, KAB. MINAHASA. Arsitektur Perilaku Janalgi, Lardnejho; Egam, Pingkan P.; Tarore, Raymond Ch.
Jurnal Arsitektur DASENG Vol. 6 No. 2 (2017): DASENG Volume 6, Nomor 2, November 2017
Publisher : PS S1 Arsitektur. Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/daseng.v6i2.17622

Abstract

Lembaga Pemasyarakatan adalah tempat untuk melakukan pembinaan terhadap narapidana dan anak didik pemasyarakatan di Indonesia. Sebelum dikenal istilah lapas di Indonesia, tempat tersebut disebut dengan istilah penjara. Fungsi dari Lembaga Pemasyarakatan saat ini tidak lagi sekedar tempat menghukum narapidana tapi lebih dari itu Lembaga Pemasyarakatan merupakan tempat untuk membina dan membimbing Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP). Di Kabupaten Minahasa sudah terdapat Lembaga Pemasyarakatan Kelas II B. Namun melihat perkembangan yang terjadi beberapa tahun terakhir ini, angka kriminalitas terus mengalami kenaikan. Lembaga Pemasyarakatan Kelas II B Tondano saat ini sudah mengalami overkapsitas dan sudah tidak sanggup lagi menampung jumlah narapidana yang terus meningkat. Oleh karena itu diperlukan pembangunan Lembaga Pemasyarakatan Kelas II A di Tondano. Perancangan Lembaga Pemasyarakatan ini menggunakan tema Arsitektur Perilaku. Konsep arsitektur perilaku ini bertujuan untuk mengahadirkan lapas yang dapat mewadahi dan memfasilitasi program pembinaan sehingga fungsi pembinaan dapat tercapai melalui desain dengan mengedepankan aspek privacy, personal space, teritorialitas, dan crowding and density. Dengan demikian dapat menunjang keberhasilan dari fungsi objek rancangan ini untuk membina, mendidik dan membimbing narapidana (memanusiakan manusia).  Kata kunci : Lembaga Pemasyarakatan, Kriminalitas, Arsitektur perilaku
PASAR SENI TRADISIONAL DI TANA TORAJA. Etno Modern dalam Arsitektur Sura, Andi K.; Tarore, Raymond Ch.; Prijadi, Rachmat
Jurnal Arsitektur DASENG Vol. 7 No. 1 (2018): DASENG Volume 7, Noomor 1, Mei 2018
Publisher : PS S1 Arsitektur. Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/daseng.v7i1.20671

Abstract

Tana Toraja merupakan salah satu Kabupaten di Provinsi Sulawesi Selatan yang menjadi salah satu daerah tujuan Wisata. Budaya yang dimiliki Tana Toraja merupakan aset penting dalam pengembangan pariwisata, dimana pariwisata sebagai pelestari kebudayaan, dapat berperan aktif melestarikan dan memperkenalkan kebudayaan. Pembangunan industri pariwisata, khususnya berkaitan dengan perkembangan infrastruktur dan kehadiran wisatawan menimbulkan perubahan beberapa bidang di daerah bersangkutan. Pariwisata dapat menjadi sumber utama pendapatan masyarakat maupun pemerintah daerah, atau penggerak kegiatan dan menarik pengembang sektor lain.Perancangan Pasar Seni Tradisional di Tana Toraja ini menggunakan pendekatan tema perancangan “Konsep ‘Etno-Modern dalam Arsitektur”. Konsep utama perancangan ini adalah mentransformasikan kebudayaan mengikuti masa kini sehingga bentuk fisik bangunan selain modern juga memiliki kesan etnis. Dengan itu pesan kebudayaan dapat lebih dipahami dan menyatu sebab disampaikan dengan budaya masyarakat Toraja sekaligus menyimbolkan keterbukaan masyarakat Toraja kepada setiap para wisatawan dari segala penjuru daerah yang datang berkunjung ke Toraja Kata kunci      : Etno-Modern, Transformasi, Pasar Seni, Budaya Toraja