Claim Missing Document
Check
Articles

Found 9 Documents
Search

COMPARATIVE STUDY OF RESPONSIBILITY OF CRIMINAL VIOLENCE IN HOUSEHOLD IN CONCEPT POSITIVE LAW AND MINANGKABAU TRADITIONAL LAW Azriadi Azriadi; Mahlil Adriaman
JCH (Jurnal Cendekia Hukum) Vol 7, No 1 (2021): JCH (JURNAL CENDEKIA HUKUM)
Publisher : STIH Putri Maharaja

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33760/jch.v7i1.319

Abstract

Domestic Violence (KDRT) is a form of crime in the domestic sphere; the data on domestic violence is increasingly worrying and tends to be out of control. Based on the Records of Violence against Women (CATAHU) in 2019; there were 431,471 cases of violence against women and it has been escalated up to 693% since 2008 which was only 54,425 cases. The effort to overcome and handle domestic violence is carried out by formulating various kinds of laws and regulations, creating structural and non-structural institutions that handle domestic violence cases, but in reality acts of violence continue to increase. In West Sumatra, Minangkabau customary law is prevailed as a law that is admited by the constitution. In fact domestic violence in Minangkabau society is a common problem. In handling and overcoming domestic violence, positive law and Minangkabau customary law have their own ways. From the data of national statistics agency of indoensia (BPS) in 2019, West Sumatra was not classified as the 10 highest occurrences of domestic violence in Indonesia. Based on this phenomenon, it is very interesting to study and to be compared of the effort to overcome domestic violence based on the concepts of Positive Law and Minangkabau Customary Law. This study uses a normative approach, namely examining library materials or secondary data consisting of primary legal materials and tertiary legal materials. The results of Positive Law research in overcoming domestic violence focus on handling by applying the law with maximum punishment (repressive), by providing education to the community that is directed and well programmed (preventive), even if domestic violence occurs then efforts are made (pre-emptive) so that the impact or the consequences are not significant. While Minangkabau customary law is more of a preventive effort, namely before the occurrence of domestic violence and the application of Minangkabau customary law is carried out in stages based on the proverb Bajanjang Naik Batanggo Turun.
The Legal Power of Electronic Contracts and as Evidence In default during the Covid-19 Pandemic in Indonesia Anggun Lestari Suryamizon; Kartika Dewi Irianto; Mahlil Adriaman
Indonesian Journal of Law and Policy Studies Vol 3, No 1 (2022): Indonesian Journal of Law and Policy Studies
Publisher : Universitas Muhammadiyah Tangerang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31000/ijlp.v3i1.6306

Abstract

An agreement is a legal act that will create a legal relationship between one legal subject and another to fulfill an achievement. In Indonesia, in general, people carry out business activities accompanied by a written agreement or what is commonly referred to as a contract. At this time, Indonesia is being affected by the Covid-19 virus and has become a national disaster. With this national disaster, it has greatly affected the lives of the Indonesian people, especially in the business sector, in which the implementation transaction must be accompanied by a contract where each business transaction will certainly experience a decline and setback which will result in many parties involved in the contract unable to fulfill their achievements. Especially when the current conditions of many parties agree to their agreement by using electronic contracts to anticipate the possibility of the spread of the corona virus. This study aims to (1) find out how the implementation of electronic contracts during the pandemic, and (2) how the validity and strength of electronic contracts. This research is very interesting to study because electronic contracts are new in the world of contract law, and it examines more deeply how the proof will be and its legal strength when there is default in the implementation of the electronic contract. The method used is juridical normative. This study will provide an explanation of the legal strength of electronic contracts, and how the strength of proof is in case of default.
Keabsahan Perjanjian Melalui Aplikasi Tik Tok Cash Ditinjau Dari Hukum Perjanjian Indonesia Muhammad Hafizh Naufal; Nuzul Rahmayani; Mahlil Adriaman
Innovative: Journal Of Social Science Research Vol. 3 No. 2 (2023): Innovative: Journal Of Social Science Research (Special Issue)
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/innovative.v3i2.1941

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan tentang keabsahan perjanjian melalui aplikasi Tik Tok Cash. Tik Tok Cash hadir ditengah masyarakat sebagai solusi dalam keuangan masyarakat yang dapat meningkatkan keuangan masyarakat dalam waktu yang singkat. dalam penelitian kali ini peneliti menggunakan pasal 1320 KUHPerdata sebagai acuan dalam melihat keabsahan perjanjian. pengumpulan data, dan analisis dilakukan dengan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif -yuridis normatif. Hasil penelitian, keabsahan perjanjian pada aplikasi TikTok cash ditinjau dari KUHPerdata bertentangan dengan beberapa pasal pada KUHPerdata, Apabila mengacu kepada syarat sah perjanjian pada pasal 1320 KUHPerdata, TikTok cash tidak memenuhi jika ditinjau dari syarat sah yang ke 3 yaitu suatu hal tertentu dan syarat sah yang ke 4 yaitu kausa hukum yang halal. Peneliti menemukan bahwa dalam melihat keabsahan hukum perjanjian TikTok cash di Indonesia bisa dikatakan tidak sah karena tidak memenuhi syarat sah perjanjian di Indonesia.
Analisis Yuridis SK Pegawai Negeri Sipil (PNS) Yang Dijadikan Alat Jaminan Dalam Perjanjian Kredit Perbankan Ditinjau Dari Perspektif Hukum Perdata Dilla Afrilia; Wendra Yunaldi; Mahlil Adriaman
Innovative: Journal Of Social Science Research Vol. 3 No. 4 (2023): Innovative: Journal Of Social Science Research
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/innovative.v3i4.3047

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk memahami bagaimana penggolongan SK PNS sebagai jaminan kredit perbankan dalam hukum jaminan serta upaya penyelesaian kredit bermasalah yang timbul dari perjanjian berupa pinjaman dengan jaminan SK PNS. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah yuridis normatif dengan menggunakan sumber data sekunder seperti perjanjian pinjaman, peraturan perundang-undangan, literatur, dan didukung oleh data primer di lapangan. Hasil penelitian : Surat Keputusan Pengangkatan Pegawai Negeri Sipil tidak termasuk kualifikasi sebagai jaminan kredit perbankan menurut hukum jaminan di Indonesia karena tidak memenuhi hakikat jaminan sebagai pelunasan kredit, tidak memenuhi unsur-unsur benda, dan bukan merupakan surat berharga yang dapat dialihkan kepemilikannya, SK PNS tidak termasuk dalam jaminan kebendaan maupun jaminan perorangan, tetapi termasuk sebagai hak istimewa (prevelege). Bahwa pemberian pinjaman dengan jaminan SK PNS didasarkan atas dasar keyakinan oleh bank yang telah memiliki perjanjian terkait kredit dengan instansi yang bersagkutan, serta prinsip kepercayaan dan kehati-hatian terhadap debitor yang mampu melunasi hutangnya. Upaya Penyelesaian terhadap kredit dari perjanjian dengan jaminan SK PNS ialah sah karena telah memenuhi syarat sah suatu perjanjian sesuai yang diatur dalam Pasal 1320 KUH Perdata. Namun, perjanjian tersebut tidak memberikan kepastian hukum dalam pelaksanaan eksekusi aset jaminan karena SK PNS tidak memenuhi salah satu syarat aset jaminan yaitu dapat dinilai dengan uang dan mudah dijual untuk melunasi utang pinjaman.
PERLINDUNGAN HUKUM BAGI KONSUMEN AKIBAT PRICE FIXING AGREEMENT PADA TARIF ANGKUTAN UDARA YANG MENYEBABKAN PERSAINGAN USAHA TIDAK SEHAT Rahmatul Ulya; Nuzul Rahmayani; Mahlil Adriaman
The Juris Vol. 7 No. 2 (2023): JURNAL ILMU HUKUM : THE JURIS
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat STIH Awang Long

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56301/juris.v7i2.923

Abstract

A price fixing agreement is an agreement practice entered into by companies in the same industry to fix prices for goods/services together in the relevant market. Price fixing agreements on air freight rates have a negative impact on business competition, especially for consumers who use air transport services. This study aims to determine the form of price fixing agreement practices on air freight rates and the form of legal protection for consumers against price fixing agreements on air freight rates. This research uses normative legal research methods through literature study. The results of this study indicate that business actors who enter into price fixing agreements to increase the price of airplane tickets beyond the specified tarif limit have violated the provisions of business competition law, which can harm consumers. The legal protection provided to consumers in the form of preventive legal protection and repressive legal protection depends on the jurisdiction and the applicable legal framework.
Peranan Pengadilan Agama Payakumbuh Dalam Pelaksanaan Eksekusi Objek Jaminan Fidusia Pada Pembiayaan Syariah Gusnita Gusnita; Mahlil Adriaman
Locus Journal of Academic Literature Review Vol 5 No 3 (2026): March
Publisher : LOCUS MEDIA PUBLISHING

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56128/ljoalr.v5i3.856

Abstract

Penelitian ini menganalisis peran Pengadilan Agama Payakumbuh dalam melaksanakan eksekusi jaminan fidusia pada pembiayaan syariah serta mengidentifikasi hambatan teknis yang memengaruhi efektivitasnya. Secara normatif, kewenangan Pengadilan Agama didasarkan pada Pasal 24 ayat (2) UUD 1945, Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1989 beserta perubahannya, Pasal 55 ayat (1) Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2008, serta dipertegas melalui Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 93/PUU-X/2012. Penelitian ini menggunakan metode hukum normatif-empiris melalui studi kepustakaan dan wawancara di Pengadilan Agama Payakumbuh. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara normatif pengadilan memiliki kewenangan untuk melaksanakan eksekusi sesuai dengan hukum acara perdata umum (HIR/RBg). Namun secara empiris, sebagian besar permohonan eksekusi ditarik kembali, yang menunjukkan bahwa fungsi aanmaning juga berperan sebagai mekanisme penyelesaian sengketa non-koersif yang efektif. Adapun hambatan utama adalah tidak ditemukannya objek jaminan (non bevinding), sehingga menimbulkan kesenjangan antara kekuatan hukum normatif jaminan fidusia dan efektivitas pelaksanaannya dalam praktik
PELAKSANAAN PROSES ROYA SERTIPIKAT HAK TANGGUNGAN BERBASIS ELEKTRONIK DI BPR GUGUK MAS MAKMUR KABUPATEN LIMA PULUH KOTA Silvie Agnesia; Mahlil Adriaman
YUSTISI Vol 13 No 1 (2026)
Publisher : Universitas Ibn Khaldun Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32832/yustisi.v13i1.22730

Abstract

Perkembangan teknologi dan informasi mendorong transformasi pelayanan publik, termasuk dalam proses Hak Tanggungan dan Roya. Pelayanan konvensional yang memakan waktu dan biaya besar menjadi tidak efisien. Sebagai solusi, Kementerian ATR/BPN meluncurkan Sistem Hak Tanggungan Elektronik (HT-el) berbasis Peraturan Menteri ATR/BPN Nomor 5 Tahun 2020. Namun, implementasi e-Roya di Bank BPR Guguk Mas Makmur Kabupaten Lima Puluh Kota masih menghadapi kendala teknis, administratif, dan hukum. Penelitian ini mengkaji dua masalah: (1) bagaimana pelaksanaan sertifikat hak tanggungan dalam proses roya berbasis elektronik di bank bpr guguk mas makmur ? (2) apa saja kendala dalam pelaksanaan pendaftaran hak tanggungan dan proses roya elektronik. ? Penelitian ini bersifat deskriptif dengan pendekatan empiris (field research). Data dikumpulkan melalui wawancara dengan staf Bank BPR Guguk Mas Makmur dan studi literatur terhadap sumber hukum primer, sekunder, dan tersier. Analisis data dilakukan untuk memahami implementasi dan kendala e-Roya secara komprehensif. Sertifikat Hak Tanggungan memiliki kedudukan krusial dalam e-Roya sebagai bukti otentik yang diakui secara hukum (UU No. 4/1996, PP No. 24/1997, dan Permen ATR/BPN No. 1/2021). Proses elektronik meningkatkan efisiensi, kepastian hukum, dan transparansi. Namun, kendala utama meliputi: (1) Infrastruktur teknologi yang belum terintegrasi antara bank dan BPN, (2) Ketidaklengkapan dokumen digital, (3) Regulasi yang belum sepenuhnya mengakomodasi praktik digital, (4) Kurangnya pemahaman sumber daya manusia, serta (5) Biaya operasional yang tetap tinggi. Kata Kunci : Roya, Hak tanggungan, administratif.
PELAKSANAAN PROSES ROYA SERTIPIKAT HAK TANGGUNGAN BERBASIS ELEKTRONIK DI BPR GUGUK MAS MAKMUR KABUPATEN LIMA PULUH KOTA Silvie Agnesia; Mahlil Adriaman
YUSTISI Vol 13 No 1 (2026)
Publisher : Universitas Ibn Khaldun Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32832/yustisi.v13i1.22730

Abstract

Perkembangan teknologi dan informasi mendorong transformasi pelayanan publik, termasuk dalam proses Hak Tanggungan dan Roya. Pelayanan konvensional yang memakan waktu dan biaya besar menjadi tidak efisien. Sebagai solusi, Kementerian ATR/BPN meluncurkan Sistem Hak Tanggungan Elektronik (HT-el) berbasis Peraturan Menteri ATR/BPN Nomor 5 Tahun 2020. Namun, implementasi e-Roya di Bank BPR Guguk Mas Makmur Kabupaten Lima Puluh Kota masih menghadapi kendala teknis, administratif, dan hukum. Penelitian ini mengkaji dua masalah: (1) bagaimana pelaksanaan sertifikat hak tanggungan dalam proses roya berbasis elektronik di bank bpr guguk mas makmur ? (2) apa saja kendala dalam pelaksanaan pendaftaran hak tanggungan dan proses roya elektronik. ? Penelitian ini bersifat deskriptif dengan pendekatan empiris (field research). Data dikumpulkan melalui wawancara dengan staf Bank BPR Guguk Mas Makmur dan studi literatur terhadap sumber hukum primer, sekunder, dan tersier. Analisis data dilakukan untuk memahami implementasi dan kendala e-Roya secara komprehensif. Sertifikat Hak Tanggungan memiliki kedudukan krusial dalam e-Roya sebagai bukti otentik yang diakui secara hukum (UU No. 4/1996, PP No. 24/1997, dan Permen ATR/BPN No. 1/2021). Proses elektronik meningkatkan efisiensi, kepastian hukum, dan transparansi. Namun, kendala utama meliputi: (1) Infrastruktur teknologi yang belum terintegrasi antara bank dan BPN, (2) Ketidaklengkapan dokumen digital, (3) Regulasi yang belum sepenuhnya mengakomodasi praktik digital, (4) Kurangnya pemahaman sumber daya manusia, serta (5) Biaya operasional yang tetap tinggi. Kata Kunci : Roya, Hak tanggungan, administratif.
Tinjauan Hukum Pemutusan Hubungan Kerja Akibat Pelanggaran Berat Dalam Perspektif Undang-Undang Ketenagakerjaan: Studi Putusan Nomor 19/Pdt.Sus-PHI/2025/PN.Jmb Hernalinda; Mahlil Adriaman
Al-Zayn: Jurnal Ilmu Sosial, Hukum & Politik Vol 4 No 2 (2026): 2026
Publisher : Yayasan pendidikan dzurriyatul Quran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61104/alz.v4i2.4818

Abstract

Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) dengan alasan pelanggaran berat merupakan instrumen bagi pengusaha untuk mengakhiri hubungan kerja secara sepihak terhadap pekerja yang melakukan kesalahan fatal. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan menganalisis dasar hukum PHK akibat pelanggaran berat dalam Putusan Nomor 19/Pdt.Sus-PHI/2025/PN.JMB serta” kesesuaiannya “dengan peraturan perundang-undangan” ketenagakerjaan yang berlaku pasca Putusan Mahkamah Konstitusi No. 012/PUU-I/2003 dan pemberlakuan PP Nomor 35 Tahun 2021. Metode penelitian yang digunakan adalah yuridis normatif dengan pendekatan studi putusan. Hasil penelitian menyimpulkan bahwa penerapan Pasal 52 ayat (2) PP No. 35 Tahun 2021 dalam memutus hubungan kerja tanpa proses pembuktian pidana merupakan bentuk pengabaian terhadap Putusan MK No. 012/PUU-I/2003 dan mencederai keadilan substansial bagi pekerja. Meskipun PHK dilakukan tanpa pemberitahuan terlebih dahulu, Majelis Hakim menilai tindakan tersebut sah karena telah diatur dalam Perjanjiani Kerja Bersama (PKB) perusahaan sesuai ketentuan Pasal 52 ayat (2) PP Nomor 35 Tahun 2021. Namun, pengadilan tetap memberikan perlindungan hukum terhadap hak-hak pekerja yang telah menjadi hak pekerja sebelum PHK terjadi. Penelitian ini menyimpulkan bahwa, walaupun regulasi memberikan kewenangan PHK sepihak untuk pelanggaran mendesak, pemenuhan hak-hak normatif tetap wajib dilaksanakan demi menjamin keadilan bagi pekerja.