Claim Missing Document
Check
Articles

Found 39 Documents
Search

STUDI ANALISIS PENGGUNAAN ALAT BERAT (CRANE) SEBAGAI ALAT ANGKAT UNTUK INSTALASI EQUIPMENT DEODORIZER DI PROYEK CPO PLANT Priyo Hartono; Trijeti Trijeti
Konstruksia Vol 7, No 1 (2015): Jurnal Konstruksia Vol 7. No. 1 Tahun 2015
Publisher : Universitas Muhammadiyah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (902.427 KB) | DOI: 10.24853/jk.7.1.%p

Abstract

PRODUKTIVITAS ALAT PANCANG TERHADAP ANALISA WAKTU PADA PEKERJAAN BANJIR KANAL TIMUR Erlan Saputra; Trijeti Halim
Konstruksia Vol 2, No 2 (2011): Jurnal Konstruksia Vol. 2 No. 2 Tahun 2011
Publisher : Universitas Muhammadiyah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (685.645 KB) | DOI: 10.24853/jk.2.2.%p

Abstract

TINJAUAN METODE PELAKSANAAN AKIBAT KERUSAKAN RANGKA FACADE CURTAIN WALL SISTEM UNITIZED Revmen Revmen; Trijeti Trijeti
Konstruksia Vol 6, No 2 (2015): Jurnal Konstruksia Vol 6. No. 2 Tahun 2015
Publisher : Universitas Muhammadiyah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1284.801 KB) | DOI: 10.24853/jk.6.2.%p

Abstract

ANALISA METODE FABRIKASI REBAR CAGE SHEAR WALL ANTARA METODE MANUAL DAN REBAR TEMPLATE PADA PROYEK GEDUNG BERTINGKAT Novia Ragil Setiawan; Muhamad Aswanto; Trijeti Trijeti
Prosiding Semnastek PROSIDING SEMNASTEK 2017
Publisher : Universitas Muhammadiyah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Dalam perkembangannya, cukup banyak cara yang dilakukan untuk menjaga kestabilan bangunan tinggi terutama dalam menahan gaya lateral yang berpengaruh sangat besar pada bangunan tinggi. Beberapa sistem yang diperkenalkan untuk menjaga kestabilan bangunan tinggi adalah shear wall. Pada kesempatan ini penulis akan membahas tentang metode fabrikasi rebar cage shear wall antara metode manual dan rebar template. Rebar cage adalah sebuah sangkar tulangan, yang sudah jadi atau selesai dirakit. Tujuannya untuk membandingkan dari kedua metode ini, sebagai dasar pemilihan metode fabrikasi rebar cage shear wall yang paling efektif dan efisien pada lahan fabrikasi yang terbatas. Langkah perhitungan dibagi menjadi dua tahap untuk kedua metode, yaitu perhitungan durasi pelaksanaan dan perhitungan biaya pelakasanaan. Dalam menghitung durasi pelaksanaan, langkah yang digunakan adalah dengan volume item pekerjaan yang ada dibagi dengan produktivitas tenaga. Dari durasi yang timbul, maka biaya dapat dihitung mulai dari material, tenaga kerja, peralatan, dsb. Dari keseluruhan hasil perhitungan, maka selanjutnya adalah memperbandingkan biaya dan waktu kedua metode. Hasil perhitungan biaya menunjukkan bahwa metode fabrikasi manual lebih murah dibanding metode rebar template. Sedangkan untuk perhitungan durasi pelaksanaan metode rebar template lebih cepat dua kali lipat pelaksanaannya dibanding metode manual. 
PERBANDINGAN PENGGUNAAN TOWER CRANE DENGAN MOBIL CRANE DITINJAU DARI EFISIENSI WAKTU DAN BIAYA SEBAGAI ALAT ANGKAT UTAMA PADA PEMBANGUNAN GEDUNG Hari Jamato; Muhamad Aswanto; Trijeti Trijeti
Prosiding Semnastek PROSIDING SEMNASTEK 2015
Publisher : Universitas Muhammadiyah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Keberhasilan suatu proyek dapat diukur dari dua hal, yaitu keuntungan yang didapat serta ketepatan waktu penyelesaian proyek (Soeharto,1997). Keduanya tergantung pada perencanaan yang cermat terhadap metode pelaksanaan, penggunaan alat dan penjadwalan. Pada penelitian kali ini akan membahas efisiensi waktu dan biaya pemakaian alat berat tower crane dan mobil crane. Oleh karena itu diperlukan suatu analisa terhadap pemakain alat berat yang akan digunakan, sehingga dapat dihasilkan alternatif alat berat yang tepat untuk pembangunan suatu proyek.  Langkah perhitungan dibagi menjadi dua tahap, yaitu perhitungan waktu pelaksanaan peralatan dan perhitungan biaya peralatan. Dalam menghitung waktu pelaksanaan langkah yang diambil adalah menghitung dan menentukan beban kerja alat, kapasitas dan produktivitasnya dari perlatan yang digunakan. Sedangkan dalam menentukan biaya pelaksanaan yang diperhitungkan adalah biaya sewa, biaya mobilisasi dan demobilisasi, biaya operasi alat yang meliputi bahan bakar dan operator. Dari perhitungan waktu dan biaya pelaksanaan alat dapat diketahui pemakaian alat berat yang paling efisien dari segi waktu dan biaya.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa waktu yang diperlukan untuk menyelesaikan pekerjaan struktur  oleh Tower crane pada gedung ini adalah 326,53 jam dengan biaya Rp 505.751500,00,sedangkan waktu yang diperlukan untuk menyelesaikan pekerjaan struktur  oleh Mobil crane pada gedung ini adalah 455,56 jam dengan biaya Rp 325.247.500,00. Sehingga dapat disimpulkan bahwa waktutercepat untuk pekerjaan pengecoran dan pengangkat material adalah dengan alat angkat Tower Crane dan biaya termurah adalah Mobile Crane.
Analisis Tingkat Pelayanan Jalan (Studi Kasus Jalan Ciledug Raya, Depan Universitas Budhi Luhur Jakarta Selatan) Harwidyo Eko Prasetyo; Trijeti Trijeti
Prosiding Semnastek PROSIDING SEMNASTEK 2019
Publisher : Universitas Muhammadiyah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Jalan Ciledug Raya melewati 2 kota administrasi yaitu Kota Administrasi Jakarta Selatan dan Kota Tangerang. Sebelum tahun 2017, Jalan Ciledug Raya memiliki 2 lajur yang mengarah ke Pasar Ciledug dan 2 lajur mengarah ke Pasar Kebayoran Lama. Saat ini Jalan Ciledug Raya berkurang kapasitasnya dikarenakan digunakan untuk lajur TransJakarta sehingga mengakibatkan kemacetan. Lokasi penelitian terdapat di ruas jalan depan Universitas Budhi Luhur Jakarta Selatan. Metode penelitian yang digunakan dengan Manual Kapasitas Jalan Indonesia (MKJI)1997. Dengan melakukan survey arus lalu lintas dan jumlah kendaraan yang melintas, maka dapat diketahui kapasitas, derajat kejenuhan dan juga tingkat pelayanan dari ruas jalan tersebut. Dari hasil analisa menunjukkan besarnya hambatan samping, tingginya volume kendaraan bahkan hingga tingginya derajat kejenuhan yang mengisyaratkan bahwa volume kendaraan sudah mendekati kapasitas bahkan melebihi dari kapasitas jalan. Rekomendasi yang disarankan berupa peningkatan kapasitas antara lain pelebaran ruas jalan pada kedua sisi jalan sebesar 2 meter. Dengan penambahan kapasitas tersebut mampu mereduksi tingkat pelayanan jalan dan volume kendaraan hingga 30%.
STRUKTUR BANGUNAN RANGKA BETON PADA RUMAH SANGAT SEDERHANA SISTEM SPLIT LEVEL (Studi Kasus : Hunian sederhana di pemukiman padat Pademangan Jakarta Utara) Trijeti Trijeti; Lily Mauliani; Wiwik Sudarwati
Prosiding Semnastek PROSIDING SEMNASTEK 2018
Publisher : Universitas Muhammadiyah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pengertian istilah ’split level’ pada bangunan merujuk pada teknik konstruksi untuk menciptakan ruang dengan mengubah ketinggian lantai antara satu dengan lainnya. Bangunan rumah sederhana split level terdiri dari 3 lantai menggunakan sistem Struktur Rangka Pemikul MomenKhusus(SRPMK)untuk menahan beban gravitasi dan beban gempa. Penelitian ini merencanakan struktur beton bertulang dengan tujuan 1) Menghitung beban gravitasi dan gempa yang bekerja pada bangunan rumah sederhana 2) Menentukan dimensi balok dan kolom yang mampu menahan beban kerja gempa. 3) Menentukan konfigurasi penulangan balok dan kolom dari hasil analisis menggunakan Software SAP Versi 14. Struktur beton bertulang menggunakan peraturan persyaratan beton struktural untuk bangunan gedung (SNI 03-2847-2013) dan tata cara perencanaan ketahanan gempa untuk struktur bangunan gedung dan non gedung (03-1726-2012). Perencanaan struktur beton bertulang pada bangunan rumah split level termasuk penentuan dimensi telah memenuhi persyaratan bangunan di atas.
PERBANDINGAN DINDING PREFAB CEMENT WALL DENGAN BATA KONVENSIONAL PADA BANGUNAN RUMAH Trijeti Trijeti; Sevina Yasti Putri; Andika Setiawan
Prosiding Semnastek PROSIDING SEMNASTEK 2017
Publisher : Universitas Muhammadiyah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Bata merah digunakan sebagai dinding pembatas/pemisah ruangan dalam proses pembangunan rumah. Bata merah dibuat dari tanah liat dengan ukuran 5x11x20cm. Saat ini mulai berkembang penggunaan dinding dengan teknologi terbaru yang dapat membuat proses pembangunan lebih cepat dan berkualitas baik. Rumah prefabrikasi (disingkat prefab) adalah rumah yang konstruksi pembangunannya cepat karena menggunakan modul hasil fabrikasi industri (pabrik). Komponen-komponennya dibuat oleh pabrik (off site) dan dapat langsung diaplikasikan. Dengan membandingkan analisa terhadap biaya dan durasi untuk masing-masing pekerjaan dinding,  maka dapat diketahui bahwa analisa untuk satuan pekerjaan per m2 mengunakan dinding prefab cement wall dengan bata konvensional. Perbandingan untuk mengetahui mana yang lebih ekonomis pada keseluruhan pekerjaan dinding mengunakan prefab cement wall dengan  mengunakan dinding bata (konvensional). Perbandingan juga ditinjau dari segi durasi pekerjaan, mana yang lebih cepat dan efektif pengunaan metode dinding cement wall dengan  mengunakan dinding bata konvensional. Dari hasil penelitian dinding menggunakan prefab cement wall lebih murah 4.72% dibanding bata konvensional untuk luasan rumah 156 m2. Durasi pekerjaan prefab cement wall lebih cepat 6 minggu dibanding bata konvensional.
EVALUASI PEMBANGUNAN RUSUNAWA PASCA KONSTRUKSI DI JAKARTA Trijeti Trijeti; Andika setiawan
Prosiding Semnastek PROSIDING SEMNASTEK 2016
Publisher : Universitas Muhammadiyah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Evaluasi pembangunan Rumah Susun Sederhana Sewa (Rusunawa) pasca konstruksi diJakarta diperlukan untuk mendapatkan gambaran kondisi dan permasalahan yang terjadi, sehinggadapat menjadi acuan untuk membuat perbaikan teknis dan non-teknis dalam pelaksanaanpembangunan. Untuk kelancaran kegiatan pembangunan Rusunawa diperlukan kesiapan tanah secaraclear and clean. Pada pelaksanaan pembangunan Rusunawa di Jakarta, persyaratan teknis danekologis harus diperhatikan, begitu juga persyaratan administratif. Dalam kegiatan evaluasi ini datayang memadai terkait dengan pengendalian waktu dan mutu pekerjaan didapatkan melalui wawancaradengan pemilik bangunan. Kualitas hasil konstruksi terutama yang terkait dengan finishing, instalasiair bersih dan system instalasi air kotor dapat menunjukkan mutu bangunan dan ditinjau langsungkelokasi Rusunawa. Hasil penelitian yang didapat mengenai kesiapan tanah yang digunakan untukpembangunan Rusunawa berupa tanah matang atau siap bangun. Persyaratan pembangunan sudahmemenuhi persyaratan teknisdan ekologis, tetapi pemenuhan Ijin Mendirikan Bangunan (IMB) barudiurus selama proses pembangunan. Pelaksanaan konstruksi terutama berkaitan dengan ketepatanwaktu pelaksanaan masih belum memenuhi, sedangkan kualitas hasil konstruksi dari mutu pekerjaanyang dapat terlihat dari pekerjaan finishing, instalasi air bersih dan system instalasi air kotor masihada beberapa yang kurang. Agar dapat dimanfaatkan secara baik, Rusunawa harus didukung olehketersediaan prasarana, sarana dan utilitas lingkungan secara memadai.Kata kunci: evaluasi, konstruksi, rusunawa
GAP-ACCEPTENCE DAN PERSAMAAN EMPIRIS PREDIKSI KECEPATAN KENDARAAN TERHADAP JARAK PENDEKAT PADA BUNDARAN Haryo Koco Buwono; Andika Setiawan; Trijeti Trijeti
Konstruksia Vol 14, No 1 (2022): Jurnal Konstruksia Vol 14 No. 1 Tahun 2022
Publisher : Universitas Muhammadiyah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24853/jk.14.1.71-78

Abstract

Di Indonesia bundaran yang modern memiliki beberapa karakteristik yang jelas seperti diameter pulau tengah yang kecil, kendaraan yang masuk ke kendaraan yang bersirkulasi, penyimpangan kendaraan yang masuk, dan pulau yang terbelah antara pintu masuk dan keluar. Kemacetan muncul jelang memasuki bundaran karena kendaraan membutuhkan waktu untuk memutuskan apakah akan memasuki bundaran atau menunggu di ujung tepinya. Philbrick mengusulkan metode regresi linier, yang terutama digunakan di Inggris sedangkan metode regresi eksponensial (Brilon dan Stuwe, 1993) didasarkan pada banyak data survei di antara laju aliran masuk jenuh dan laju aliran yang bertentangan, geometri, dan lain-lain. Teori gap-acceptence, beberapa parameter harus ditentukan termasuk distribusi headway kendaraan yang bersirkulasi, celah kritis, dan celah berikut meskipun variabel tersebut bervariasi terhadap geometri dan kondisi lalu lintas bundaran yang berbeda. Kendaraan setiap memasuki bundaran dengan menggunakan celah aliran sirkulasi dan kapasitasnya dapat diterima terutama dalam menentukan laju aliran sirkulasi dan distribusi headway. Model empiris terhadap teoritis dalam kaitannya dengan model kapasitas bundaran merupakan review yang sederhana. Model sebagian memiliki dasar teori dan empiris dalam perilaku lalu lintas yang hampir sama. Namun, istilah model empiris memiliki kecenderungan berdasarkan analisis statistik data lapangan tanpa dasar langsung dalam teori lalu lintas. Area penelitian berdasarkan permasalahan bundaran dilakukan pada simpang Hotel Harris Summarecon Bekasi, dengan tipe bundaran satu lajur, dengan peluang konflik yang besar. Hasil yang didapatkan dari penelitian ini menyatakan bahwa persamaan polinomial orde 2 dapat dijadikan model empiris dan prediksi kecepatan kendaraan terhadap jarak pendekat di bundaran.