Claim Missing Document
Check
Articles

Found 6 Documents
Search
Journal : Bandung Conference Series: Public Relations

Akulturasi Budaya pada Mahasiswa Diaspora Garsha Athara Yusiputra; Tia Muthiah Umar
Bandung Conference Series: Public Relations Vol. 3 No. 2 (2023): Bandung Conference Series: Public Relations
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcspr.v3i2.7704

Abstract

Abstract. Study abroad students have the role of transition and cultural adaptation is very important. Researcher intends to examine more deeply how study abroad students deal with cultural acculturation which includes cultural transitions and adaptations that occur abroad during the process of studying. This research uses qualitative methods with an ethnographic study approach to communication, constructivism paradigm, and data collection. by means of observation, interviews, and documentation. Furthermore, researchers used source triangulation as a technique to test the validity of the data. Then the researcher uses the theory put forward by John W. Berry to strengthen and describe how study abroad students deal with cultural acculturation. The results of this study are: to achieve cultural acculturation, diaspora students must go through the first phase, namely the cultural transition. (1) Cultural transition is a period of transition from an old culture to a new one, a phase influenced by cultural background and habits.1 The next phase is (2) Cultural adaptation, adaptation is a process of adjusting to a new culture. With different cultural backgrounds, each diaspora student has its own effective way of achieving cultural adaptation, the (3) obstacle in these two phases is culture shock. The main obstacle is the ability to speak a foreign language.. (4) Cultural acculturation is a process that occurs when a person meets a foreign culture and gradually the culture is accepted. With study abroad students achieving cultural acculturation, they have two cultures and must have the ability to maintain the culture they have. The conclusion of this study, to achieve cultural acculturation, diaspora students must switch or transition from old habits to new ones. Then adapt to adapt to the new culture. Then facing and resolving existing obstacles so that they are accepted by the new culture. And the latter achieves cultural acculturation by accepting new cultures and being able to maintain the cultural identity that diaspora students have. Abstrak. Mahasiswa diaspora tentu saja memiliki peranan transisi dan adaptasi budaya sangatlah penting. peneliti bermaksud untuk mengkaji lebih dalam akan bagaimana mahasiswa diaspora menghadapi akulturasi budaya yang meliputi transisi dan adaptasi budaya yang terjadi di luar negeri selama proses menempuh pendidikan. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi etnografi komunikasi, paradigma konstruktivisme, serta pengumpulan data dengan cara observasi, wawancara, dan dokumentasi. Selanjutnya peneliti menggunakan triangulasi sumber sebagai teknik uji keabsahan data. Kemudian peneliti menggunakan teori yang dikemukakan oleh John W. Berry untuk memperkuat dan menggambarkan bagaimana mahasiswa diaspora menghadapi akulturasi budaya. Hasil dari penelitian ini yakni: untuk mencapai akulturasi budaya, mahasiswa diaspora harus melewati fase pertama yaitu transisi budaya. (1) Transisi budaya adalah masa peralihan budaya lama ke yang baru, fase dipengaruhi oleh latar belakang dan kebiasaan budaya.. Fase berikutnya adalah (2) Adaptasi budaya, adaptasi merupakan proses penyesuaian dengan budaya yang baru. (3) hambatan dalam kedua fase ini adalah gegar budaya. Hambatan yang paling utama yakni kemampuan untuk berbahasa asing. (4) Akulturasi budaya merupakan proses yang terjadi ketika seseorang bertemu dengan budaya asing dan lambat laun budaya itu diterima. Dengan mahasiswa diaspora mencapai akulturasi budaya, ia memiliki dua kebudayaan dan harus memiliki kemampuan untuk menjaga budaya yang ia punya. Kesimpulan dari penelitian ini, untuk mencapai akulturasi budaya mahasiswa diaspora harus beralih atau bertransisi dari kebiasaan lama ke yang baru. Kemudian melakukan adaptasi untuk menyesuaikan dengan budaya baru. Lalu menghadapi dan meresolusikan hambatan yang ada agar diterima budaya baru. Dan yang terkakhir mencapai akulturasi budaya dengan menerima budaya baru dan dapat menjaga identitas budaya yang mahasiswa diaspora miliki.
Hubungan antara Komunikasi Antarpribadi dengan Motivasi Belajar Siswa SMP Firdaus Muhamad Fachri Afiff; Tia Muthiah Umar
Bandung Conference Series: Public Relations Vol. 3 No. 2 (2023): Bandung Conference Series: Public Relations
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcspr.v3i2.7941

Abstract

Abstract. The volunteers from PKBM SMP Firdaus Kota Bandung engage in interpersonal communication to provide guidance to the community in meeting the needs of students. Hence, it is crucial to give consideration to the motivation of volunteers in teaching students through interpersonal communication, which is an important aspect of managing PKBM. The objective of this study is to investigate the correlation between open communication, increased self-confidence, self-concept formation, mutual acceptance and support in interpersonal communication among PKBM volunteers, and student learning motivation in the form of cognitive drive, self-esteem drive, and affiliation needs in SMP Firdaus Kota Bandung. The correlational research method is used to explore the relationship between variable X and variable Y, with the aim of studying the extent to which a factor correlates with variation in other factors. All students of SMP Firdaus Kota Bandung comprise the population for this research, consisting of 65 students. Sampling is done using total sampling technique, and data is collected through questionnaire dissemination, interviews, observations, and literature studies. The findings indicate a robust correlation between interpersonal communication (X) and student learning motivation (Y) in SMP Firdaus Kota Bandung. This is supported by the important role of volunteers in academic activities that use interpersonal communication, where they create openness and self-confidence built by volunteers, encourage and build student self-concepts, and support and accept one another during the process of education and instruction to make students more enthusiastic about learning and achieving academic goals. Abstrak. Pihak relawan dari PKBM SMP Firdaus Kota Bandung melakukan komunikasi antarpribadi agar lebih mudah memberikan petunjuk perihal pembelajaran kepada masyarakat dalam memenuhi kebutuhan siswa. Maka, penting untuk memperhatikan motivasi relawan dalam mengajarkan siswa dengan cara berkomunikasi antarpribadi sebagai salah satu aspek penting dalam pengelolaan PKBM. Penelitan ini dimaksudkan untuk menguji hubungan antara komunikasi yang terbuka, peningkatan kepercayaan diri, pembentukan konsep diri, saling menerima dan mendukung satu sama lain dalam komunikasi antarpribadi di antara relawan PKBM dengan motivasi belajar siswa berupa dorongan kognitif, dorongan harga diri, dan kebutuhan afiliasi di SMP Firdaus Kota Bandung. Metode penelitian korelasional digunakan untuk mengeksplorasi keterkaitan antara variabel X dan variabel Y dengan maksud tujuan mempelajari sejauh mana suatu faktor memiliki korelasi dengan variasi pada faktor lainnya. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa SMP Firdaus Kota Bandung, yang terdiri dari 65 siswa. Pengambilan sampel menggunakan teknik total sampel, dan data dikumpulkan melalui teknik penyebaran kuisioner, wawancara, observasi, dan studi kepustakaan. Hasil penelitian menunjukkan terdapat hubungan yang kuat antarakomunikasi antarpribadi (X) dan motivasi belajar siswa SMP Firdaus Kota Bandung (Y). Hal tersebut dilandasi oleh peran penting relawan dalam aktivtias akademik yang menggunakan komunikasi antarpribadi, di mana mereka menciptakan keterbukaan dan kepercayaan diri yang dibangun oleh relawan, mendorong dan membangun konsep diri siswa, serta saling mendukung dan menerima dalam proses pengajaran dan pembelajaran agar siswa lebih bersemangat dalam belajar dan mencapai tujuan akademik.
Culture Shock Mahasiswa Indonesia dalam Studi di Luar Negeri Adinda Annisa Zahra; Tia Muthiah Umar
Bandung Conference Series: Public Relations Vol. 4 No. 1 (2024): Bandung Conference Series: Public Relations
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcspr.v4i1.11538

Abstract

Abstract. As we already know, Culture Shock is something that can be said to be a habit when going through a process of cultural adaptation to a new environment, one of which is abroad. In accordance with the research that I will research, it is entitled "Culture Shock for Indonesian Students in Studying Abroad (Phenomenological Study of Indonesian Students in Perth, Australia)". The aim of this research is to find out what preparations, processes, obstacles and solutions Indonesian students face when adapting so that culture shock can occur. The researcher intends to examine in more depth how Indonesian students deal with Culture Shock. This research uses qualitative research with a phenomenological study approach, constructivism paradigm, and data collection by observation, interviews, and documentation. The results of this research show that each migrant student has their own way of adapting. In the process of cultural adaptation, opening themselves to the surrounding environment, following the existing norms of Perth society. Furthermore, this research uses source triangulation as a technique for testing the validity of the data. This research describes the Culture Shock experienced by Indonesian students abroad, specifically in Perth, Australia. In the process of cultural adaptation, Indonesian students will certainly encounter cultural differences. By going through a process that is appropriate to cultural adaptation, each student will feel comfortable in their new environment. When adapting to culture, every student will definitely experience culture shock and obstacles when facing the cultural adaptation process. Environmental factors can influence the student's adaptation process. Language differences are usually still a major obstacle when students are in the process of adjusting to a new culture. Abstrak. Seperti yang sudah kita ketahui Culture Shock adalah hal yang dapat di katakan sebagai kebiasaan saat sedang melalui proses adaptasi budaya dengan lingkungan baru salah satunya di Luar Negeri. Sesuai dengan penelitian yang akan saya teliti ini berjudul “Culture Shock Mahasiswa Indonesia dalam studi di luar negeri (Studi Fenomenologi pada mahasiswa indonesia di Perth Australia)”. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui persiapan, proses, hambatan dan solusi apa yang di hadapai oleh mahasiswa Indonesia saat ber-adaptasi sehingga dapat terjadinya culture shock. Peneliti bermaksud untuk mengkaji lebih dalam akan bagaimana mahasiswa Indonesia dalam menghadapi Culture Shock. Penelitian ini menggunakan penelitian kuliatatif dengan pendekatan studi fenomenologi, paradigma konstruktivisme, serta pengumpulan data dengan observasi, wawancara, dan dokumentasi. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa setiap mahasiswa pendatang memiliki caranya masing-masing saat melakukan adaptasi Dalam proses adaptasi budaya, membuka diri dengan lingkungan sekitar, mengikuti norma yang ada dengan masyarakat Perth.Selanjutnya penelitian ini menggunakan tringgulasi sumber sebagai Teknik uji keabsahan data. Penelitian ini memaparkan Culture Shock yang dialami oleh mahasiswa Indonesia di luar Negeri tepatnya di Perth Australia. Dalam proses adaptasi budaya, mahasiswa Indonesia tentu akan menemukan perbedaan-perbedaan budaya. Dengan melewati proses yang sesuai dengan adaptasi budaya, nantinya setiap mahasiswa akan merasakan kenyamanan terhadap lingkungan barunya. Saat melakukan adaptasi budaya, setiap mahasiswa pasti memiliki culture shock dan hambatan ketika sedang menghadapi proses adaptasi budaya tersebut. Faktor lingkungan bisa mempengaruhi proses adaptasi pada mahasiswa tersebut. Perbedaan bahasa biasanya masih menjadi kendala utama ketika mahasiswa sedang melakukan proses penyesuian dengan budaya baru.
Komunikasi Terapeutik Verbal Dokter kepada Pasien di Klinik Pratama UPTK UNISBA Alya Mochtar Wenno; Tia Muthiah Umar
Bandung Conference Series: Public Relations Vol. 4 No. 1 (2024): Bandung Conference Series: Public Relations
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcspr.v4i1.12071

Abstract

Abstract. Communication carried out by doctors to patients is not just ordinary communication, but a form of therapeutic communication. therapeutic communication is an interpersonal interaction between doctors to patients in order to build good communication between doctors and patients. This study aims to identify the verbal communication of doctors to patients which is the basis of the therapeutic communication style of doctors to patients at the UPTK Unisba Pratama Clinic. Then the purpose of this study is also to understand the doctor's therapeutic communication style verbally used in interacting with patients, and to evaluate the patient's response to the doctor's therapeutic communication style verbally implemented by doctors at the UPTK Unisba Primary Clinic. This study uses a qualitative method using a communication ethnography approach as its research framework. The research participants consisted of key informants, namely Dr. Ani Rohaeni and Dr. Bella Yuliviasari. The results of the study found that verbal therapeutic communication conducted by doctors to patients can be delivered well when doctors implement their verbal communication warmly and empathetically so that patients will feel comfortable, safe, and fully trust the doctor. Abstrak. Komunikasi yang dilakukan oleh dokter kepada pasien tidak hanya sekadar komunikasi biasa, tetapi bentuk dari komunikasi terapeutik. komunikasi terapeutik adalah interaksi interpersonal antara dokter kepada pasien guna membangun komunikasi yang baik antara dokter dan pasien. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi komunikasi verbal dokter kepada pasien yang menjadi dasar dari gaya komunikasi terapeutik dokter kepada pasien di Klinik Pratama UPTK Unisba. Kemudian tujuan dari penelitian ini juga guna memahami gaya komunikasi terapeutik dokter secara verbal yang digunakan dalam berinteraksi dengan pasien, serta untuk mengevaluasi respon pasien terhadap gaya komunikasi terapeutik dokter secara verbal yang diimplementasikan oleh dokter di Klinik Pratama UPTK Unisba. Penelitian ini memakai metode kualitatif dengan menggunakan pendekatan etnografi komunikasi sebagai kerangka kerja penelitiannya. Partisipan penelitian terdiri dari informan kunci, yaitu dr. Ani Rohaeni dan dr. Bella Yuliviasari. Hasil penelitian menemukan bahwa komunikasi terapeutik secara verbal yang dilakukan oleh dokter kepada pasien dapat tersampai dengan baik saat dokter mengimplementasikan komunikasi verbalnya secara hangat dan penuh empati dengan begitu pasien akan merasa nyaman, aman, dan percaya sepenuhnya terhadap dokter.
Proses Komunikasi dalam Atraksi Kaulinan Barudak Lembur di Desa Wisata Saung Ciburial Rahma Julia Rabbani Zulbana; Tia Muthiah Umar
Bandung Conference Series: Public Relations Vol. 4 No. 2 (2024): Bandung Conference Series: Public Relations
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcspr.v4i2.13351

Abstract

Abstract. Kaulinan Barudak Lembur is an important part of the traditions and culture of the Sundanese people in West Java, Indonesia. However, modernization and globalization have caused social, economic and cultural changes that require some aspects of Kaulinan Barudak Lembur to be forgotten. Moving from traditional cultural activities to modern activities, people today prefer sophisticated modern entertainment. The aim of this research is to discover the educational value and local wisdom of Kaulinan Barudak Lembur in the Saung Ciburial Tourism Village, Sukalaksana Village. Data was obtained through documentation, observation and in-depth interviews using the constructivism paradigm, qualitative methods and ethnographic communication approaches.. The study's findings indicate that the Kaulinan Barudak overtime attraction is a wealth of knowledge about the area and education. The value of teamwork, camaraderie, and sportsmanship is emphasized in the kaulinan barudak lembur attraction, a traditional game for kids in villages. Children learn virtues like respecting their friends, cooperating with others, and working as a team through these games. This game also serves to remind kids of their ancestry by highlighting the value of maintaining regional customs and culture. The game's use of natural materials also serves as a message about how important it is to preserve the environment and make responsible use of natural resources. All things considered, children's future character is shaped by the moral principles, social ethics, and cultural pride this game imparts. Abstrak. Kaulinan Barudak Lembur merupakan bagian penting dari tradisi dan budaya masyarakat Sunda di Jawa Barat, Indonesia. Namun, modernisasi dan globalisasi telah menyebabkan perubahan sosial, ekonomi, dan budaya yang mengharuskan beberapa aspek Kaulinan Barudak Lembur dilupakan. Beralih dari aktivitas budaya tradisional ke aktivitas modern, masyarakat saat ini lebih memilih hiburan modern yang canggih. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menemukan proses komunikasi yang memberikan nilai edukasi dan kearifan lokal dari Kaulinan Barudak Lembur di Desa Wisata Saung Ciburial, Desa Sukalaksana. Data diperoleh melalui dokumentasi, observasi, dan wawancara mendalam menggunakan paradigma konstruktivisme, metode kualitatif, dan pendekatan etnografi komunikasi.. Atraksi kaulinan barudak lembur, atau permainan tradisional anak- anak di pedesaan, menyampaikan banyak pesan edukasi dan kearifan lokal. Anak- anak belajar tentang kerja tim, saling membantu, dan menghormati teman-teman melalui permainan ini. Selain itu, permainan ini mengingatkan anak-anak pada warisan leluhur mereka, menekankan pentingnya mempertahankan tradisi dan budaya lokal. Penggunaan bahan alami dalam permainan juga menyampaikan pesan tentang pentingnya memanfaatkan sumber daya alam dengan bijak dan menjaga lingkungan. Secara keseluruhan, nilai-nilai etika, etika sosial, dan kebanggaan budaya yang ditanamkan dalam permainan ini membentuk karakter anak-anak untuk masa depan.
Proses Komunikasi Barista & Pelanggan di Cafe More Wyata Guna Muhammad Arsy Pratama; Tia Muthiah Umar
Bandung Conference Series: Public Relations Vol. 4 No. 2 (2024): Bandung Conference Series: Public Relations
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcspr.v4i2.15728

Abstract

Abstrak: Komunikasi merupakan suatu proses dimana seorang atau individu, yang bertujuan untuk dapat terhubung dengan lingkungan sekitar dan orang lain dan dalam komunikasi juga terdapat suatu proses menyortir dan juga memilih dan mengirim simbol-simbol, Tetapi terkadang dalam komunikasi terdapat beberapa hambatan yang didasari oleh faktor kesalahpahaman antara komunikator dengan komunikan yang disebabkan oleh beberapa faktor salah satunya adalah keterbatasan fisik yang dimiliki oleh seseorang yaitu seseorang yang memiliki keterbatasan dalam melihat atau mengidap tunanetra. Komunikasi interpersonal digambarkan sebagai suatu komunikasi antara dua individu yang mana individu-individu tersebut secara fisik saling berinteraksi, saling memberikan umpan balik satu sama lain. komunikasi interpersonal merupakan komunikasi yang membentuk hubungan dengan orang lain. Berlo, mengemukakan bahwa komunikasi sebagai suatu hal yang penuh keberhasilan jika penerima pesan memiliki makna terhadap pesan tersebut bahwa makna yang diterima sama dengan apa yang dimaksud. Pada penelitian ini menggunakan paradigma konstruktif, menggunakan metode penelitian kualitatif dan jenis pendekatan studi kasus. pada hasil penelitian ini proses komunikasi verbal dan non verbal barista penyandang tunanetra dengan pelanggan memiliki cara yang unik berbeda dengan individu lainnya. Tetapi barista penyandang tunanetra ini harus menggunakan Indera dan alat penunjang lainnya dalam membantu dalam komunikasi dengan pelanggan café more wyata guna. Kata Kunci : Proses Komunikasi, Komunikasi Interpersonal, Tunanetra.