Claim Missing Document
Check
Articles

Found 13 Documents
Search

Analisis Framing Pemberitaan Kelompok Kriminal Bersenjata Di Papua Dikategorikan Sebagai Teroris Hanafi Hanafi; Raseko Putra Prabowo; Nugraha Sugiarta; Faisal Reza
ArtComm Vol 5 No 2 (2022): Artcomm
Publisher : Universitas Informatika dan Bisnis Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37278/artcomm.v5i2.541

Abstract

Pemerintah resmi mengkategorikan KKB di Papua sebagai organisasi teroris pada 29 April 2021. Pemberitaan terkait peristiwa tersebut juga cukup masif diberitakan oleh berbagai portal berita online. Media online terkadang kerap mengikutsertakan cara pandang mereka ke dalam penafsiran realitas sosial. Peristiwa yang sama dapat dikonstruksikan dengan berbeda menggunakan bingkai yang berbeda juga. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana CNNIndonesia.com dan Kompas.com sebagai media online membingkai terkait pemberitaan pelabelan KKB di Papua dikategorikan sebagai teroris oleh pemerintah. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan menggunakan bingkai model Robert N. Entman melalui seleksi isu dan penonjolan aspek Teknik pengumpulan data dilakukan dengan studi dokumentasi jenis dokumen ekstern berupa berita yang disebarkan oleh media online. Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa CNNIndonesia.com dan Kompas.com memiliki perbedaan dalam mendefinisikan masalah hingga rekomendasi penyelesaian yang ditawarkan dalam pemberitaan terkait pelabelan KKB di Papua sebagai teroris oleh Pemerintah. CNNIndonesia.com mendefinisikan peristiwa sebagai isu labelisasi terorisme yang dilekatkan pada KKB di Papua dan melihat KKB merupakan kelompok kriminal yang masif melakukan kekerasan dan pembunuhan. Sementara Kompas.com mendefinisikan isu labelisasi terorisme tersebut dapat menutup langkah pemerintah untuk membangun Papua secara humanis, karena dapat meningkatkan eskalasi kekerasan di Papua secara umum.
Dramaturgi Performance Team Vokal Grup Metal Ensembel Tikoro Anggita Lestari; Faisal Reza; Hilman Mulyadi; Nugraha Sugiarta; Yanuar Ilham
ArtComm Vol 7 No 1 (2024): ArtComm
Publisher : Universitas Informatika dan Bisnis Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37278/artcomm.v7i1.812

Abstract

This research is titled “Dramaturgy of the Vocal Group Metal Ensemble Tikoro.” Dramaturgy is a concept that examines the complex roles of individuals in everyday life, especially when performing on stage, which has both front and back stages. This study aims to understand the reality that occurs on the front and back stages of Ensemble Tikoro vocal group members, as well as to uncover how each member presents themselves. The research method used is qualitative with a dramaturgical concept approach. The research subjects involve all members of the Ensemble Tikoro. Data was collected through in-depth interviews, observations, and documentation. The data validity test used is source triangulation. The results of this study reveal that on the front stage, Ensemble Tikoro members perform with unique characteristics, namely wearing all-black costumes from head to toe. On the back stage, Ensemble Tikoro members interact with family and other activities using Sundanese and Indonesian languages, creating a familiar atmosphere. In self-presentation, Ensemble Tikoro members naturally express themselves through the choice of black costumes that become their identity. Thus, this research reveals the dynamics between the realities on stage and backstage of Ensemble Tikoro members, as well as how they radiate self-presentation through elements such as costumes and language they use.
Makna Kesetaraan Gender Dalam Revitalisasi Seni Penca Sobrah Sebagai Bentuk Perlawanan Terhadap Mitos Ketidakberdayaan Tubuh Perempuan Sunda Nugraha Sugiarta; Anggita Lestari
ArtComm Vol 7 No 1 (2024): ArtComm
Publisher : Universitas Informatika dan Bisnis Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37278/artcomm.v7i1.945

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tentang makna kesetaraan gender dalam revitalisasi seni penca Sobrah sebagai bentuk perlawanan terhadap mitos ketidakberdayaan tubuh perempuan. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan pesilat perempuan mengalami diskriminasi gender. Setelah mendalami seni penca sobrah, pesilat perempuan mampu menghadapi kebimbangan dan memiliki kekuatan dalam mengatasi berbagai berbagai permasalahan, mampu menjaga diri, dan menyadari bahwa perempuan dengan segala atribut kecantikan dan keanggunan yang dimilikinya justru memiliki keberdayaan dan kekuatan. Pada in order to motives, pesilat perempuan ingin melestarikan budaya Sunda melalui revitalisasi seni penca Sobrah yang bertujuan untuk membangun kebanggaan dan penghargaan terhadap identitas perempuan Sunda. Pada because motives pesilat perempuan ingin melakukan perlawanan terhadap ketidaksetaraan gender yang muncul melalui ilusi zona nyaman perempuan sehingga mereka merasa perlu melakukan pembuktian diri terhadap kemampuan yang dimiliki perempuan. Pesilat perempuan memaknai kesetaraan gender dalam revitalisasi seni penca Sobrah sebagai usaha untuk menghadirkan identitas kekuatannya dalam wilayah domestik. Tindakan membuka gelung rambut memperlihatkan sikap yang bersumber pada kemandirian dan ketegasan perempuan Sunda dalam melindungi dirinya maupun keluarganya. Melalui seni penca Sobrah, perempuan Sunda membongkar identitas kekuatannya dalam wilayah domestik. Perempuan Sunda dalam khazanah mitologi Sunda pada akhirnya memiliki kuasa atas dirinya sendiri