Claim Missing Document
Check
Articles

Found 40 Documents
Search

KONSTRUKSI SOSIAL KONSUMEN ONLINE SHOP DI MEDIA SOSIAL TIKTOK (STUDI FENOMENOLOGI TENTANG KONSTRUKSI SOSIAL KONSUMEN GENERASI Z PADA ONLINE SHOP SMILEGODDESS DI MEDIA SOSIAL TIKTOK) Rossy Ayu Sulistianti; Nugraha Sugiarta
JISIP: Jurnal Ilmu Sosial dan Pendidikan Vol 6, No 1 (2022): JISIP (Jurnal Ilmu Sosial dan Pendidikan)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pendidikan (LPP) Mandala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58258/jisip.v6i1.2861

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana konstruksi sosial generasi Z sebagai konsumen online shop di media sosial TikTok. Penelitian ini menggunakan teori konstruksi sosial dari Peter L. Berger dan Thomas Luckman serta teori konstruksi sosial media massa dari Burhan Bungin sebagai kebaruan. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan studi fenomenologi. Pengumpulan data melalui wawancara, observasi dan studi kepustakaan. Hasil dari penelitian ini yaitu proses konstruksi sosial konsumen generasi Z pada online shop di TikTok ditentukan oleh pemikiran dari pengguna media sosial tersebut. Proses eksternalisasi ditandai keinginan generasi Z untuk dianggap keberadaannya oleh lingkungan sosial melalui konten-konten yang diunggah dan diikuti. Proses objektivasi, generasi Z menilai online shop sebagai pemenuh kebutuhannya dalam upaya menunjukkan eksistensi dirinya di lingkungan sosial. Pada proses internalisasi, generasi Z memilih menggunakan online shop di media sosial untuk memenuhi gaya hidupnya. Biasnya pemahaman konsumen mengenai kebutuhan dan keinginannya juga menjadi faktor tersendiri dalam proses konstruksi sosial generasi Z menjadi konsumtif. Sikap individualis dan materialis pada diri generasi Z dalam gaya hidupnya menjadi pendorong semakin tingginya perilaku konsumtif yang dimiliki.
Sosialisasi Peran Orang Tua Dalam Mendidik Anak Di Era Digital Pada Ibu-Ibu Pkk Di Kampung Lio Cimahi Anggita Lestari; Nugraha Sugiarta; Altalycra Imam Fherin
Jurnal Bhakti Karya dan Inovatif Vol 2 No 01 (2022): Jurnal Bhakti Karya dan Inovatif
Publisher : LPPM Universitas Informatika dan Bisnis Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37278/bhaktikaryadaninovatif.v2i01.478

Abstract

Teknologi zaman ini begitu canggih dan semakin memudahkan kehidupan manusia karena aksesnya yang sangat mudah, sehingga bisa dilakukan kapan pun dan dimana pun. Zaman ini disebut era digital karena semua informasi sangat mudah dan cepat diperoleh serta disebarluaskan menggunakan sebuah sistem yang terhubung dengan internet. Salah satu yang sedang populer di era ini adalah media sosial, tempat untuk melakukan interaksi di dunia maya. Pelaksanaan program pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk melaksanakan pemaparan tentang peran orang tua dalam mendidik anak di era digital kepada ibu-ibu PKK di kecamatan Cimahi Utara supaya meningkatkan pemahaman, pengetahuan, dan pengalaman bagi para orang tua di era digital ini. Target khusus kami yaitu kepada para ibu-ibu PKK setempat yang diharapkan dapat memahami dan mengetahui bagaiamana cara yang tepat menerapkan sebuah pola asuh di era digital seperti saat ini dan tidak ada batasan usia bagi para pengguna media sosial, sehingga bisa diakses oleh siapa pun. Karena kebebasannya tersebut membuat sebagian besar anak dibawah umur menggunakannya tanpa diawasi oleh orang tua. Karena kurangnya pengawasan tersebut, menyebabkan anak-anak bebas memasuki dunia maya dengan sesuka hati, itu lah yang menyebabkan anak-anak mengakses berbagai konten yang tidak sesuai dengan usianya. Dengan kemudahan di era ini juga anak-anak dan remaja terkadang malas untuk membaca dan belajar, karena mereka sudah mengetahui bagaimana cara mencari jawaban di internet. Selain itu, anak-anak jadi kurang memiliki tata karma kepada orang yang lebih tua karena mereka sering meniru sikap dan perilaku orang dewasa yang mereka tonton dari konten media sosial. Dengan melihat fenomena tersebut maka orang tua harus menjadi agen pertama dalam mendidik anak di era digital saat ini. Supaya anak memiliki kendali dan dapat mengetahui tentang kehidupan di era ini. Tidak selalu anak yang harus lebih unggul dibandikan orang tuannya, tetapi orang tua pun harus lebih cerdas di masa kini agar bisa membentuk karakter anak dengan baik.
Sosialisasi Waspada Penyebaran Hoaks di Media Sosial Faisal Reza; Nugraha Sugiarta; Yanuar Ilham; Anggita Lestari
Jurnal Bhakti Karya dan Inovatif Vol 3 No 2 (2023): Jurnal Bhakti Karya dan Inovatif
Publisher : LPPM Universitas Informatika dan Bisnis Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37278/bhaktikaryadaninovatif.v3i2.694

Abstract

Program pengabdian kepada masyarakat ini membahas tentang sosialisasi waspada hoaks dan penanganannya dalam era digital. Fenomena hoaks yang meresahkan dan dampak negatifnya mendorong perlunya pendidikan literasi digital untuk mengatasi penyebaran informasi palsu. Program ini menggabungkan berbagai metode, termasuk workshop literasi digital, seminar, kompetisi literasi digital, dan distribusi materi edukatif, untuk meningkatkan kesadaran dan keterampilan masyarakat dalam mengenali serta menghindari hoaks. Hasil dari program ini mencakup peningkatan kesadaran yang signifikan terkait bahaya hoaks, keterampilan verifikasi informasi yang lebih baik, dan partisipasi aktif dalam kompetisi literasi digital. Melalui interaksi dengan para ahli dalam seminar dan diskusi publik, terbentuk kolaborasi dan jaringan yang kuat dalam mengatasi hoaks. Distribusi materi edukatif seperti pamflet, brosur, dan infografis juga mempermudah akses masyarakat terhadap informasi penting. Program ini menghasilkan transformasi positif dalam pengetahuan dan sikap masyarakat terhadap hoaks. Namun, tantangan dalam mengatasi hoaks tetap berkelanjutan, memerlukan dukungan berkelanjutan dari lembaga pendidikan, media, pemerintah, dan masyarakat. Dengan terus mengembangkan pendekatan yang relevan dengan perkembangan teknologi, masyarakat dapat menghadapi dampak negatif hoaks secara efektif, menciptakan lingkungan yang lebih cerdas, aman, dan beretika dalam menghadapi dunia informasi yang semakin kompleks.
Sosialisasi Waspada Penyebaran Hoaks di Media Sosial Faisal Reza; Nugraha Sugiarta; Yanuar Ilham; Anggita Lestari
Jurnal Bhakti Karya dan Inovatif Vol 4 No 1 (2024): Jurnal Bhakti Karya dan Inovatif
Publisher : LPPM Universitas Informatika dan Bisnis Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37278/bhaktikaryadaninovatif.v4i1.692

Abstract

Program pengabdian kepada masyarakat ini membahas tentang sosialisasi waspada hoaks dan penanganannya dalam era digital. Fenomena hoaks yang meresahkan dan dampak negatifnya mendorong perlunya pendidikan literasi digital untuk mengatasi penyebaran informasi palsu. Program ini menggabungkan berbagai metode, termasuk workshop literasi digital, seminar, kompetisi literasi digital, dan distribusi materi edukatif, untuk meningkatkan kesadaran dan keterampilan masyarakat dalam mengenali serta menghindari hoaks. Hasil dari program ini mencakup peningkatan kesadaran yang signifikan terkait bahaya hoaks, keterampilan verifikasi informasi yang lebih baik, dan partisipasi aktif dalam kompetisi literasi digital. Melalui interaksi dengan para ahli dalam seminar dan diskusi publik, terbentuk kolaborasi dan jaringan yang kuat dalam mengatasi hoaks. Distribusi materi edukatif seperti pamflet, brosur, dan infografis juga mempermudah akses masyarakat terhadap informasi penting. Program ini menghasilkan transformasi positif dalam pengetahuan dan sikap masyarakat terhadap hoaks. Namun, tantangan dalam mengatasi hoaks tetap berkelanjutan, memerlukan dukungan berkelanjutan dari lembaga pendidikan, media, pemerintah, dan masyarakat. Dengan terus mengembangkan pendekatan yang relevan dengan perkembangan teknologi, masyarakat dapat menghadapi dampak negatif hoaks secara efektif, menciptakan lingkungan yang lebih cerdas, aman, dan beretika dalam menghadapi dunia informasi yang semakin kompleks.
Pembingkaian Berita Kasus Korupsi Menteri Komunikasi Dan Informasi di Media Online Erissa Yuliani; Faisal Reza; Anggita Lestari; Nisa Lathifah; Nugraha Sugiarta; Shinta Hartini Putri
In Search (Informatic, Science, Entrepreneur, Applied Art, Research, Humanism) Vol 23 No 1 (2024): In Search
Publisher : LPPM UNIBI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37278/insearch.v23i1.890

Abstract

Korupsi sebagai penyakit yang mewabah di sektor pemerintahan menunjukkan adanya kemiskinan karakter dan tidak berpesan moral aparatur di negara ini seperti kasus korupsi menteri komunikasi dan informasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tempo.co dan Mediaindonesia.com dalam membingkai berita pada Pemberitaan Kasus Korupsi Menteri Komunikasi Dan Informasi Di Media Online. Pada penelitian ini, metode yang digunakan adalah penelitian kualitatif dengan pendekatan analisis framing model Robert N. Entman. Pada ada model ini terdapat empat aspek dalam menganalisis sebuah pemberitaan berdasarkan define problem, diagnose causes, make moral judgement, dan treatment recommendation. Hasil penelitian menunjukkan Tempo.co secara umum cenderung memberikan porsi lebih banyak menekankan kepada pembahasan terhadap fakta-fakta bagaimana Johnny G Plate ditetapkan sebagai tersangka, Penyeleksian isu yang dimuat oleh Tempo.co tidak terlihat adanya kecenderungan tertentu. selanjtnya kecenderungan Mediaindonesia.com lebih menekankan kecugiraan bahwa penetapan Johnny G Plate sebagai tersangka kasus korupsi ini ada unsur politik yang sangat kuat.
Workaholics in Urban Society: Diving into the Meaning of Non-Stop Work Putri, Shinta Hartini; Maulida, Anissa Noor; Sugiarta, Nugraha; Reza, Faisal
Budapest International Research and Critics Institute-Journal (BIRCI-Journal) Vol 4, No 4 (2021): Budapest International Research and Critics Institute November
Publisher : Budapest International Research and Critics University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33258/birci.v4i4.7959

Abstract

Workaholic is a condition of addiction and obsession to keep working. This workaholic phenomenon occurs in one of the companies in the field of photography and videography. This research aims to find out the because of motive and in order to motive. This research uses a qualitative method with Alfred Schutz's approach. Data collection techniques were carried out by interview, observation, book references, and the internet. The technique of determining informants using purposive sampling and data validity techniques using source triangulation. The result of this research is that the motive for employees to become workaholics is experience from the past, the need to continue working, and the organizational environment which is one of the factors while the motive for employees to become workaholics is because they have specific goals to be achieved in the future
The Utilization of New Media in Supporting Digital Literacy during the Covid-19 Pandemic: A Phenomenological Study of the Use of "Digilib Praja" Idza, Allisa Akhidatul; Putri, Shinta Hartini; Sugiarta, Nugraha
Indonesian Journal of Librarianship Indonesian Journal of Librarianship Vol. 3 No. 1 (2022)
Publisher : Department Library of Governance Institut of Home Affairs

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33701/ijolib.v3i1.2771

Abstract

Abstract Background: The policy of using smartphone in order to support learning process during Covid-19 Pandemic has demanded IPDN’s Library to innovate its digital literacy services through Digilib Praja, a new media that is android based. Purpose: The research purpose is to perceive Praja’s experiences and motives in order to support digital literacy by utilizing Digilib Praja Application in the midst of the Covid-19 Pandemic. Method: The method used in this study is qualitative and used the concept of phenomenology by Alfred Schutz. The research object is new media of Digilib Praja. The data was collected by interviewing, observing, and documenting. Result: The research finding shows that Praja’s experience after utilizing Digilib Praja is they attained various benefits such as they feel easy to find the needed books, they feel easy to gather information, and they are familiar with electronic books. Moreover, the because-motives that are more likely to be Praja’s reasons in utilizing Digilib Praja are because it is easy to find the library collection books and they have a hard time to finish their assignments. Conclusion: This study suggests that there are five because-motives namely factor of the easiness to find library collections, factor of the difficulty to finish college assignments, factor of the difficulty to find references/ source of information, factor of the inadequate facilities in IPDN Regional Campus’ libraries, and factor of the difficulty find books in library shelves. There are three in-order-to motives, which are to support digital literacy, to obtain support for technological developments and to seek entertainment collections. Praja depict Digilib Praja application as a tool, which facilitate them to develop their digital literacy ability Keywords: Digilib Praja; Phenomenology; Digital Literacy; New Media
Interaksi Simbolik Estetika Bentuk Kesundaan Melalui Usik Sanyiru Padanan Sebagai Bentuk Revitalisasi Tradisi Pencak Silat Sugiarta, Nugraha; Lestari, Anggita
JISIP: Jurnal Ilmu Sosial dan Pendidikan Vol 7, No 1 (2023): JISIP (Jurnal Ilmu Sosial dan Pendidikan) (Januari)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pendidikan (LPP) Mandala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58258/jisip.v7i1.4181

Abstract

This research aims to find out about the symbolic interaction of Sundanese aesthetic forms within Usik Sanyiru Padanan, which is an effort to revitalize the tradition of pencak silat. The researcher used a qualitative research method. The results show that Sundanese aesthetic forms within Usik Sanyiru Padanan area based on two important concepts i.e., opat kalima pancer and Sundanese aesthetic forms (triangle, square, and circle). Both concepts are the basis of the three styles in Usik Sanyiru Padanan, and deal with the idea of exist-exist, exist-empty and empty-empty. These concepts are the representation of destiny and humans as decreed by God. By perfecting oneself and using religion as one’s guide, their destiny will be flanked by virtue and wisdom. By interacting with their peers, the martial artists share an idea of the meaning of life: the desire to preserve the tradition of pencak silat art by mastering Usik Sanyiru Padanan and that the mastering of it will lead to the understanding of the Sundanese philosophical values. From this point, we can see that the revitalization of the pencak silat tradition through Usik Sanyiru Padanan essentially includes the preservation of Sundanese philosophical values. These values are rich with religious meaning and spiritual depth which are the guidance for the everyday life of Sundanese communities. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tentang interaksi simbolik estetika bentuk kesundaan melalui Usik Sanyiru Padanan sebagai bentuk revitalisasi tradisi pencak silat. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa simbol estetika bentuk kesundaan di dalam Usik Sanyiru Padanan bersumber dari dua konsep penting, yakni konsep opat kalima pancer dan konsep estetika bentuk kesundaan yang tertuang dalam bentuk segitiga, segi empat, dan lingkaran. Kedua konsep tersebut tertuang pada tiga gaya jurus yang terdapat pada Usik Sanyiru Padanan yang memiliki konsep isi-isi, isi-kosong, dan kosong-kosong yang merupakan pengejawantahan dari takdir dan diri manusia yang berasal dari Tuhan. Dengan menjalani laku diri yang sempurna dan berpedoman pada religiusitas, takdir tersebut akan berjalan beriringan dengan kebajikan dan kebijaksanaan. Melalui interaksi antar sesamanya, para pesilat menemui kesamaan makna mengenai kehidupan. Pertama, munculnya keinginan untuk mempertahankan tradisi pencak silat dengan menguasai Usik Sanyiru Padanan. Kedua, penguasaan terhadap Usik Sanyiru Padanan membuat para pesilat memahami setiap gerakannya mengandung nilai-nilai falsafah kesundaan. Dengan demikian, revitalisasi tradisi pencak silat melalui Usik Sanyiru Padanan pada hakikatnya berbicara mengenai pelestarian nilai-nilai falsafah Sunda yang sarat oleh makna religiusitas dengan kedalaman spiritual sebagai tuntunan hidup masyarakat Sunda di dalam menjalani kehidupannya.
MAKNA OPEN RELATIONSHIP PADA PENGGUNA APLIKASI KENCAN ONLINE (Studi Fenomenologi Makna Open Relationship Pada Generasi Z Pengguna Aplikasi Kencan Online Tinder) Agustian, Syahrul; Reza, Faisal; Sugiarta, Nugraha
JISIP: Jurnal Ilmu Sosial dan Pendidikan Vol 7, No 1 (2023): JISIP (Jurnal Ilmu Sosial dan Pendidikan) (Januari)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pendidikan (LPP) Mandala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58258/jisip.v7i1.4475

Abstract

Fenomena generasi Z dalam menjalin hubungan yang saat ini terjadi yaitu hubungan terbuka atau open relationship . Open relationship yang saat ini terjadi merupakan hal yang dianggap tabu bagi beberapa kalangan di Indonesia, tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui makna open relationship pada generasi Z pengguna aplikasi kencan online Tinder. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan desain penelitian fenomenologi untuk menganalisis makna open relationship pada generasi Z pengguna aplikasi kencan online Tinder. Penelitian berupa penelitian kualitatif yang disajikan secara deskriptif. Pengalaman sesudah menjalani hubungan terbukabersama pasangannya memperoleh pengalaman baru. Motif tujuan untuk mempermudah hubungan yang dijalinnya. motif Open Relationship terjadi karena keaadan, pasangan belum siap berkomitmen dengan satu orang, dan keinginan dalam memenuhi kepuasan seksual.  Open Relationship dimaknai sebagai kebebasan dalam hidup yang cenderung bebas dan liberal dan sebagai bentuk eksplorasi diri dalam penelitian selanjutnya diharapkan dapat mengkaji lebih banyak konsep yang berkaitan dengan fenomena baru yang terjadi dengan menggunakan fenomenologi serta dapat melakukan kajian dengan menggunakan metode lain dengan lebih memperdalam sumber ataupun referensi yang digunakan.
Symbol of Communication between Worship Leader and Music Priest in Maintaining Harmonization of Worship Music at GBI Lembang Bandung Sugiarta, Nugraha; Hanafi, Hanafi; Amos, Amos
JISIP: Jurnal Ilmu Sosial dan Pendidikan Vol 8, No 2 (2024): JISIP (Jurnal Ilmu Sosial dan Pendidikan) (Maret)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pendidikan (LPP) Mandala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58258/jisip.v8i2.6729

Abstract

Music has an important role in Christian worship. Harmonious music is solemnity if the Worship leader and musician church can carry out their duties properly. Worship leader and musician communicate using symbols when leading worship. This research aims to determine how the meaning of the communication symbols of church music groups in maintaining the harmonization of worship music. This research uses qualitative method with a symbolic interaction study approach. Data was collected through observation, interviews and documentation. The informant determination technique used is purposive sampling.. The results of the study found 2 parts of the symbol. Namely song map and keytone. The song map symbol is a part of a song element that is used when the music is already running and is given when the musical verse is about to end, with the aim of bridging every movement of the musical verse. Keytone symbols are used to align the chords. The language used verbally and nonverbally. The key tone is used by worship leaders to music priests, and music priests to one another. The music priest has a dominant role according to the symbol of the song map. The keyboardist has a role on the cooling down section, guitarist on interlude, drums on full music and overtones. Worship leaders and music priests must have spiritual criteria as pulpit ministers, because spiritual criteria are the main key to be good to God.