Claim Missing Document
Check
Articles

Found 17 Documents
Search

ANALISIS KANDUNGAN DIOKSIN, DAYA SERAP DAN KANDUNGAN KLORIN (Cl2) DALAM PEMBALUT WANITA Fellycia - Gufita; Diar - Herawati; Syarif - Hamdani
JURNAL SAINS DAN TEKNOLOGI FARMASI INDONESIA Vol 3, No 1 (2014)
Publisher : Sekolah Tinggi Farmasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (673.309 KB) | DOI: 10.58327/jstfi.v3i1.30

Abstract

AbstrakDioksin adalah nama untuk kelompok senyawa hidrokarbon heterosiklik yang berasal dari berbagai industri seperti pemutihan pulp dan kertas. Dioksin terdapat dalam pembalut wanita yang menggunakan kertas dan pulp sebagai bahan baku yang telah mengalami proses pemutihan dengan menggunakan klorin. Salah satu senyawa dioksin adalah 2,3,7,8-tetrachloro-dibenzo-dioxin (TCDD), yang dikenal sebagai racun reproduksi, imunotoksin dan karsinogenik. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui kandungan dioksin dalam pembalut wanita, khususnya yang beredar di kota Bandung serta analisis tambahan mengenai daya serap dan kandungan klorin (Cl2). Sampel pembalut wanita diekstraksi menggunakan pelarut metanol untuk menarik dioksin. Ekstrak dioksin diukur konduktivitasnya menggunakan konduktometer. Data konduktivitas dikonversi terhadap kurva standar dioksin. Hasil menunjukkan bahwa seluruh sampel mengandung dioksin dengan kadar tertinggi adalah 6,51 pg/g dan kadar terendah adalah 0,97 pg/g, seluruh pembalut wanita memenuhi persyaratan daya serap, dan tidak ada kandungan klorin (Cl2) di seluruh pembalut wanita. Dari hasil data menunjukan bahwa kadar dioksin dalam pembalut wanita berada di atas batas maksimum kandungan dioksin yang diperbolehkan dalam makanan. Kata kunci: Dioksin, pembalut wanita, konduktometri, TCDD. AbstractDioxin is a name for a family of heterocyclic hydrocarbon that are byproducts of many industrial processes such as the bleaching of paper and pulp. Dioxin contained in sanitary napkins that use the pulp and paper as raw material has been bleached with chlorine. The reference compound is 2,3,7,8-tetrachloro-dibenzo-dioxin (TCDD), known as a reproductive toxin, an immunotoxin, and a carcinogen. The goal of this research was to investigate the sanitary napkins containing dioxin, especially sanitary napkins distributed in Bandung city and additional analysis of the absorptive capacity, chlorine (Cl2) contained. A sample of the sanitary napkins was extracted using methanol solvent. Extract of dioxin was measured its conductivity using conductometer to get conductivity data. Conductivity data are converted to the standard curve of dioxin. The result showed that all of the sanitary napkins containing dioxin with the highest level at 6.51 pg/g and the lowest level at 0.97 pg/g and all of the sanitary napkins absorptive capacity requirements, and there was found no chlorine (Cl2) in all of the sanitary napkins. Data shown that the levels of dioxin in sanitary napkins were above the maximum allowable content of dioxin in food.  Keywords: Dioxin, sanitary napkins, conductometry, and TCDD.
Uji In Siliico Senyawa EDCs (Endocrine Disrupting Chemicals) dan Phloroglucinol Terhadap Reseptor Estrogen Diar Herawati; A.A Hidayat; Amir Musadad
Syntax Literate Jurnal Ilmiah Indonesia
Publisher : Syntax Corporation

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (229.007 KB) | DOI: 10.36418/syntax-literate.v7i6.7623

Abstract

Bisphenol-A merupakan salah satu dari Endocrine Disrupting Chemicals (EDCs) yang terdapat pada bahan baku plastik salah satunya polycarbonate (PC). BPA lepas dari polimer akibat proses pemanasan pada kemasan, sehingga residu terakumulasi dalam tubuh dan menginvasi sel-sel payudara dengan cara menguasai estrogen receptor (ER) dan menyebabkan kanker payudara. Phloroglucinol berpotensi melawan pertumbuhan sel kanker payudara. Penelitian ini dilakukan perbandingan afinitas ERβ tehadap BPA dan phloroglucinol dengan metode In silico. Makromolekul ERβ diunduh dari Protein Data Bank (PDB) (www.rcsb.org) dengan kode (PDB ID : 3OLS). Struktur 2D BPA dan phloroglucinol digambar menggunakan program ChemBioDraw 2D 15.0 dan dioptimasi menjadi struktur 3D menggunakan program ChemBioDraw 3D 15.0. Senyawa BPA dan phloroglucinol di-docking terhadap ERβ menggunakan program MGL Tools 1.5.6 yang dilengkapi Autodock Tools 4.2.6. Hasil docking menunjukkan nilai energi bebas ikatan (∆G) phloroglucinol terhadap ERβ -4,67 Kkal/mol dan BPA terhadap ERβ-7,70 Kkal/mol. Nilai ∆G terbesar adalah phloroglucinol, sehingga ikatan senyawa dengan reseptor lemah dan mudah terurai oleh tubuh. Pengujian toksisitas antara BPA dan phloroglucinol dilakukan menggunakan program Toxtree 3.1.0. Hasil uji toksisitas menunjukan phloroglucinol kategori Low (Class I) dan BPA kategori High (Class III) yang artinya phloroglucinol aman sebagai alternatif bahan baku plastik.
KARAKTERISASI POLIMER L-3,4-dihydroxyphenylalanine (L-DOPA) PADA SISTEM PENGHANTARAN OBAT SEDIAAN PATCH TRANSDERMAL Wafa Khairunnisa; Diar Herawati; Andrieanto Nurrochman
Bandung Conference Series: Pharmacy Vol. 3 No. 2 (2023): Bandung Conference Series: Pharmacy
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsp.v3i2.8923

Abstract

Abstract. Vitamin B1 is one type of active substance needed by the body but has low Bioaccessibility when used orally. So, to prevent damage to the active vitamin B1 due to gastric acid degradation, vitamin B1 must be made in other dosage forms such as through the transdermal route. The route of administration through transdermal is a preparation that is applied through the skin. One of the dosage forms with a transdermal route is a patch. The main components of transdermal patches, in addition to drugs, are polymers or adhesives. Polymers have an important role in the patch in controlling drug release. L-DOPA or L-3,4-dihydroxyphenylalanine is one type of polymer that can be obtained from shellfish. On shells, byssus threads help stick to the surface and have good adhesion properties. Byssus can be obtained from some sea mussel foot proteins. This test aimed to determine the effect of L-DOPA compounds as a component of transdermal patch adhesives resulting as a good characteristics in the preparations made. Patch preparations made using dissolving methods from studies showed that equivalent amounts of hydrophilic and hydrophobic polymer can increase drug penetration in passing through the membrane. In addition, the test results showed that L-DOPA polymers meet pharmaceutical requirements and have good characteristics as evidenced through organoleptic, pH, thickness uniformity, weight uniformity, folding resistance, moist absorption, and swelling. Abstrak. Vitamin B1 adalah salah satu jenis substansi penting yang dibutuhkan tubuh namun memiliki bioavaibilitas yang rendah apabila digunakan secara oral. Sehingga untuk mencegah terjadinya kerusakan zat aktif vitamin B1 akibat degradasi asam lambung vitamin B1 perlu dibuat dalam bentuk sediaan lain seperti rute transdermal. Rute transdermal merupakan sediaan yang diaplikasikan melalui kulit. Salah satu bentuk sediaan dengan rute transdermal adalah patch. Komponen utama patch transdermal selain obat adapula polimer atau perekat. Polimer memiliki peran penting pada patch dalam mengontrol pelepasan obat. L-DOPA atau L-3,4-dihydroxyphenylalanine merupakan salah satu jenis polimer yang dapat diperoleh dari kerang. Pada kerang terdapat benang byssus yang membantu untuk menempel pada permukaan dan memiliki sifat adhesi yang baik. Byssus dapat diperoleh dari beberapa protein kaki kerang laut. Pengujian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh senyawa L-DOPA sebagai komponen perekat patch transdermal menghasilkan karakteristik yang baik pada sediaan yang dibuat. Sediaan patch dibuat dengan menggunakan metode pelarutan dari penelitian ini menunjukkan bahwa jumlah penggunaan polimer hidrofilik dan hidrofobik yang setara dapat meningkatkan penetrasi obat dalam melewati membran. Selain itu, hasil pengujian karakteristik sediaan patch menunjukkan bahwa polimer L-DOPA memenuhi persyaratan farmasetik dan memiliki karakteristik yang baik dibuktikan melalui uji organoleptik, pH, keseragaman ketebalan, keseragaman bobot, ketahanan lipat, daya serap lembab dan pengembangan.
Analisis Pengetahuan dan Persepsi Mahasiswa Program Studi Profesi Apoteker UNISBA terhadap Fentanil Transdermal dan SNARS Said Muhammad Resfinda Putra; Diar Herawati; Suwendar
Bandung Conference Series: Pharmacy Vol. 3 No. 2 (2023): Bandung Conference Series: Pharmacy
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsp.v3i2.9145

Abstract

The National Hospital Accreditation Standards (SNARS) consist of 16 chapters, one of which is Patient Care Services (PAP) that focuses on providing services for all patients. Fentanyl is a synthetic opioid used as a general analgesic in pain management, pain control for patients during and after surgery, patients with severe injuries, and those with chronic pain or cancer. Fentanyl transdermal is one of the opioids used for pain management and treatment. The drug delivery process through the transdermal route is done through a discrete and independent dosage form. When applied to the skin, the drug enters the skin at a controlled rate and goes into systemic circulation. This research aimed to analyze the level of knowledge and perception of students in the Professional Pharmacist Education Program (PSPPA) at the University of Islam Bandung about fentanyl transdermal and SNARS. This cross-sectional study involved 40 students from the professional pharmacist education program at UNISBA. The results of the study showed that 77.50% of the respondents (n = 31) had a sufficient level of knowledge, while 82.50% (n = 33) had a sufficient level of perception. Standar Nasional Akreditasi Rumah Sakit (SNARS) terdiri dari 16 bab salah satunya adalah Pelayanan Asuhan Pasien (PAP) yang berfokus pada pemberian pelayanan untuk semua pasien. Fentanil adalah opioid sintesis yang dipergunakan sebagai analgesik umum yang dipakai dalam pengobatan rasa sakit, pengendalian rasa sakit pada pasien yang sedang operasi dan pascaoperasi, pasien yang mengalami cedera berat, serta gangguan nyeri kronis atau kanker. Fentanil transdermal merupakan salah satu dari opioid yang digunakan untuk pengelolaan dan pengobatan rasa nyeri. Proses pengiriman obat pada rute transdermal adalah melalui bentuk sediaan diskrit mandiri yang ketika diaplikasikan pada kulit, obat akan masuk ke dalam kulit dengan laju yang terkontrol ke sirkulasi sistemik. Penelitian ini dilakukan untuk menganalisis tingkat pengetahuan dan persepsi mahasiswa Program Studi Pendidikan Profesi Apoteker (PSPPA) di Univesitas Islam Bandung tentang fentanil transdermal dan SNARS. Penelitian cross-sectional ini dilakukan dengan melibatkan mahasiswa program studi profesi apoteker di UNISBA dengan jumlah 40 orang. Hasil penelitian menunjukan bahwa sebesar 77.50% responden (n = 31) memiliki tingkat pengetahuan yang cukup, sedangkan hasil tingkat persepsi menunjukan bahwa sebesar 82.50% (n = 33) memiliki tingkat persepsi yang cukup juga.­
Analisis Kandungan L-3,4-dihydroxyphenylalanine (L-DOPA) pada Sistem Penghantaran Obat Sediaan Patch Transdermal Aulia Nurul Rahim; Diar Herawati Effendi; Andrieanto N
Bandung Conference Series: Pharmacy Vol. 4 No. 2 (2024): Bandung Conference Series: Pharmacy
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsp.v4i2.14965

Abstract

Abstract. Preparations with the transdermal route are preparations that are applied through the skin by sticking or applying. The transdermal route was chosen because of the active substances that have low bioavailability when used orally. One of them is vitamin B1 which is needed by the body to increase resistance to bacteria. So it needs to be made in a transdermal dosage form. One of the dosage forms by the transdermal route is the patch. Transdermal patches are preparations that are applied by sticking which have the main components of active substances, polymers or adhesives. Polymers have an important role in patch preparations that can help the drug release process. L-DOPA or L-3,4-dihydroxyphenylalanine is a polymer produced from shellfish. In the shellfish there is a sea scallop leg protein that produces byssus. Byssus can help stick to the surface and is proven to have good adhesion properties. This research is a follow-up research, where previously L-DOPA was successfully combined using HPMC with different concentrations in each formula, which became a preparation that had a poor penetration rate in the highest concentration formula of HPMC. For this reason, this test needs to be carried out with the aim of knowing that L-DOPA produces preparations that meet the aspects of inert, safe and quality. So as to provide therapeutic effectiveness in accordance with the requirements. The test showed that the L-DOPA polymer meets the aspects of safety, quality and produces preparations at an economical price. This was proven through organoleptic, hedonic, pH, thickness and weight uniformity, folding resistance, moisture absorption and drug penetration tests. Abstrak. Sediaan dengan rute transdermal merupakan sediaan yang diaplikasikan melalui kulit dengan cara ditempelkan atau dioleskan. Rute transdermal bisa dipilih salah satunya karena zat aktif yang memiliki bioavaibilitas rendah apabila digunakan secara oral. Vitamin B1 merupakan salah satu zat aktif yang memiliki biovaibilitas rendah untuk dikonsumsi secara oral. Vitamin B1 ini dibutuhkan oleh tubuh untuk meningkatkan ketahanan terhadap bakteri. Dan vitamin B1 ini perlu dibuat dalam bentuk sediaan transdermal. Salah satu dari bentuk sediaan dengan rute transdermal adalah patch. Patch transdermal merupakan sediaan yang diaplikasikan dengan cara ditempelkan yang memiliki komponen utama zat aktif, polimer atau perekat. Polimer memiliki peran penting dalam sediaan patch yang dapat membantu proses pelepasan obat. L-DOPA atau L-3,4-dihydroxyphenylalanine merupakan polimer yang dihasilkan dari kerang. Dalam kerang terdapat protein kaki kerang laut yang menghasilkan byssus. Byssus dapat membantu menempel pada permukaan dan dibuktikan memiliki sifat adhesi yang baik. Penelitian ini merupakan penelitian lanjutan, dimana sebelumnya L-DOPA berhasil dikombinasikan dengan menggunakan HPMC dengan konsentrasi yang berbeda pada setiap formula, yang menjadi sediaan yang memiliki tingkat penetrasi yang kurang baik pada formula konsentrasi tertinggi dari HPMC. Untuk itu, pengujian ini perlu dilakukan bertujuan untuk mengetahui L-DOPA menghasilkan sediaan yang memenuhi aspek yaitu inert, aman dan berkualitas. Sehingga memberikan efektivitas terapetik yang sesuai dengan persyaratan. Pada pengujian menunjukkan bahwa polimer L-DOPA memenuhi aspek aman, berkualitas serta menghasilkan sediaan dengan harga yang ekonomis. Hal ini dibuktikan melalui pengujian organoleptik, hedonik, pH, keseragaman ketebalan serta bobot, ketahanan lipat, daya serap lembab dan penetrasi obat.
Perbandingan karakteristik pektin kulit buah kakao dan kulit buah kopi dalam sediaan cangkang kapsul Effendi, Diar Herawati; Kurniati, Nety; Syihabuddin, Afnan; Shofa, Salma
Health Sciences and Pharmacy Journal Vol. 6 No. 3 (2022)
Publisher : STIKes Surya Global Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32504/hspj.v6i3.509

Abstract

Cocoa peels and coffee peels as food industry have low economic value but have great potential because of the high levels of pectin in them. This research used microwave assistant extraction (MAE) method from kako peel and coffee peel waste and has assessed their potential as a source of raw material for capsule shells. This research included observing the optimization of pectin extraction techniques, standardizing pectin, and observing the quality of the resulting capsule shells. The pectin used comes from cocoa peel and coffee peel waste in West Java. The test results showed that the quality of the pectin obtained from cocoa shells and coffee husks complied with IPPA (International Pectin Produce Association) standards so that these pectins could be used for industrial purposes. While the capsule shells obtained have met the organoleptic standards and the disintegration time of the capsule shells according to the Indonesian Pharmacopoeia. Some of the parameters that meet these standards were the size of the capsule shell, both the uniformity of the size of the capsule cap, the uniformity of the size of the capsule body and the minimum disintegration time. Meanwhile, the weight uniformity standards have not met the requirements. The coffee peel capsule shells also meet the Indonesian Pharmacopoeia standards in terms of uniformity of capsule cap size, uniformity of capsule body size, minimum disintegration time, and uniformity of weight. In addition, capsule shells made from cocoa peel and coffee peel meet the requirements for the characteristics of good capsule shell materials where the results of the elongation strength and tensile strength tests meet the quality requirements. So it can be seen that the pectin from cocoa and coffee peels waste have good character to be developed as a source of pectin for pharmaceutical raw materials with the addition of other excipients, such as CMC-Na and carrageenan
Perancangan dan Evaluasi Sifat Kimia Fisika Amilopektin Talas Beneng Termodifikasi Agung Setiawan; Diar Herawati; Budi Prabowo Soewondo
Jurnal Riset Farmasi Volume 4, No. 2, Desember 2024, Jurnal Riset Farmasi (JRF)
Publisher : UPT Publikasi Ilmiah Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/jrf.v4i2.5195

Abstract

Abstract. The study objective in this paper is to design and evaluate the physico-chemical properties of modified amylopectin of beneng taro (Xanthosoma undipes K. Koch) used as an alternative raw material for capsule shells. The starch used was modified by the acid hydrolysis method, and amylopectin isolation was carried out using heating. The results of the characterization of modified starch that meets the requirements of SNI 3451: 2011 include organoleptic, water content test, and ash content test. The results showed that amylopectin of beneng taro starch can be used as an alternative raw material for capsule shells. Amylopectin of beneng taro is able to form starch granules and expand well to produce a gel solution that can bind other materials well to produce capsule shells with various characteristics. The capsule shell produced in this study has the fastest crushing time of about 3 minutes 45 seconds and the slowest of about 10 minutes 42 seconds. Then, the specifications of the capsule shell have met the standards, including the length, weight, and diameter of the capsule shell. Abstrak. Tujuan penelitian pada paper ini yaitu untuk merancang dan mengevaluasi sifat fisika kimia amilopektin talas beneng (Xanthosoma undipes K. Koch) termodifikasi digunakan sebagai bahan baku alternatif cangkang kapsul. Pati yang digunakan, dimodifikasi dengan metode hidrolisis asam, isolasi amilopektin dilakukan menggunakan cara pemanasan. Hasil karakterisasi pati termodifikasi yang memenuhi syarat dari SNI 3451:2011 meliputi organoleptis, uji kadar air dan uji kadar abu. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa amilopektin pati talas beneng dapat digunakan sebagai bahan baku alternatif cangkang kapsul dengan kombinasi karagenan sebagai pembentuk gel dan gliserin sebagai plasticizer. Amilopektin talas beneng mampu membentuk granula pati dan mengembang dengan baik sehingga menghasilkan larutan gel yang dapat mengikat bahan lain dengan baik sehingga menghasilkan cangkang kapsul dengan berbagai karakteristik. Cangkang kapsul yang dihasilkan pada penelitian ini memiliki waktu hancur paling cepat sekitar 3 menit 45 detik dan paling lambat sekitar 10 menit 42 detik. Kemudian spesifikasi cangkang kapsul telah memenuhi standar meliputi panjang, berat, dan diameter cangkang kapsul.