Claim Missing Document
Check
Articles

Found 14 Documents
Search

PELATIHAN BAHASA REJANG MELALUI PENDOKUMENTASIAN CERITA RAKYAT REJANG LEBONG BAGI REMAJA DI KELURAHAN KARANG ANYAR KABUPATEN REJANG LEBONG Dian Ramadan Lazuardi; M. Syahrun Effendi; Deserli Pajarada Wulan Rahmadan; Reza Mareta Permata Sari
Bakti Nusantara Linggau: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. 3 No. 2 (2023): Bakti Nusantara Linggau
Publisher : LP3MKIL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55526/bnl.v3i2.516

Abstract

Abstrak Bahasa Rejang adalah bahasa daerah yang digunakan masyarakat di wilayah Kabupaten Rejang Lebong yang memiliki ciri khas dan dialek bahasa tersendiri. Permasalahan yang dihadapi mitra adalah kedudukan bahasa Rejang sudah mulai bergeser, remaja kurang peduli dengan penggunaan, dan pelestarian bahasa Rejang. Pemertahaan bahasa Rejang perlu mendapatkan perhatian khusus untuk generasi muda. Masyarakat perlu mendapatkan sosialisasi untuk terus menggunakan bahasa Rejang dalam situasi nonformal. Permasalahan lainnya yaitu generasi muda merasa kesulitan menggunakan bahasa Rejang karena tidak diajarkan sejak dini,bahasa Rejang tidak lagi dimasukkan di dalam muatan kurikulum sekolah. Solusi yang diberikan adalah pelatihan bahasa Rejang melalui pendokumentasian cerita rakyat yang nantinya bisa mewadahi dan membantu remaja dalam membangun dan memahami serta meningkatkan kesadaran penggunaan bahasa Rejang dalam situasi non formal di Kelurahan Karang Anyar Kabupaten Rejang Lebong. Kegiatan yang dilakukan di dalam pelatihan ini berupa kegiatan pembekalan materi mengenai pentingnya pemertahanan bahasa Rejang dan menulis cerita rakyat berbahasa Rejang. Evaluasi akan dilakukan pada akhir kegiatan, bertujuan untuk menilai dan mengukur keberhasilan peserta selama mengikuti pelatihan yang dilaksanakan. Hasil dari kegiatan ini menunjukkan bahwa adanya kesadaran dan usaha peserta untuk melestarikan bahasa Rejang. Terbukti dengan adanya kemauan dan usaha menggunakan bahasa Rejang. Peserta bisa diajak bekerja sama dengan baik di dalam mengubah cerita rakyat berbahasa Rejang.
Analisis Nilai Pendidikan Karakter dalam Permainan Rakyat Sebagai Salah Satu Folklor Sebagian Lisan pada Anak Usia SD di Kelurahan Watas Kecamatan Lubuklinggau Barat 1 Kota Lubuklinggau Hati, Lisa
Linggau Jurnal Language Education and Literature Vol. 2 No. 1 (2022): Lingggau Journal Language Edcation And Literature
Publisher : LP3MKIL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (688.733 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan nilai pendidikan karakter dalam permainan rakyat sebagai salah satu folklor sebagian lisan pada anak usia SD di Kelurahan Watas Kecamatan Lubuklinggau Barat 1 Kota Lubuklinggau. Penelitian ini mengunakan metode deskriptif-kualitatif. Objek/responden dalam penelitian ini adalah anak-anak di Kelurahan Watas dan yang menjadi responden diambil 21 orang anak. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini yaitu mengunakan teknik observasi, wawancara, dan dokumentasi. Hasil penelitian dapat disimpulkan secara keseluruhan analisis nilai pendidikan karakter berjumlah 38 kutipan/pernyataan yang berkaitan dengan aspek nilai pendidikan karakter jujur 6, toleransi 4, kreatif 4, cinta damai 4, cinta tanah air 4, disiplin 4, kerja keras 4, tanggung jawab 4 dan bersahabat/ komunikatif 4.
Development of prose appreciation teaching materials based on experiential learning Dian Ramadan Lazuardi; Syukri Hamzah; Arono Arono
JPPI (Jurnal Penelitian Pendidikan Indonesia) Vol 9, No 4 (2023): JPPI (Jurnal Penelitian Pendidikan Indonesia)
Publisher : Indonesian Institute for Counseling, Education and Theraphy (IICET)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29210/020233333

Abstract

Prose appreciation is a mandatory course taken by prospective primary school teacher education students in the first semester with a load of 2 credits. This research was carried out to develop Prose Appreciation teaching materials based on an experiential learning approach and to determine the validity and practicality of Prose Appreciation teaching materials based on an experiential learning approach. This research uses an R&D (research and development) approach, namely the Dick and Carey model. The data collection techniques used were interviews and questionnaires. Data analysis techniques used were interviews and questionnaires conducted qualitatively and quantitatively. The research results show that the Prose Appreciation teaching lesson based on the Experiential Learning approach is valid and practical for use in lectures. The linguistic validation results show that the Prose Appreciation teaching material is very valid for use with a score of 0.89. The validation results of the presentation and graphics obtained a figure of 0.77 in the valid category. Meanwhile, the content/material expert assessment obtained a figure of 0.87, which is in the valid category. Furthermore, the small group trial showed that the Prose Appreciation teaching material was practical to use and the large group trial showed that the Prose Appreciation teaching material was very practical to use.
Digital Literacy Movement Through Training Making Animated Videos Of Rejang Lebong Folk Stories Dian Ramadan Lazuardi; Nyayu Masnun Arief
Abdimas Paspama Vol. 3 No. 01 (2024): Abdimas Paspama, December 2024
Publisher : Abdimas Paspama

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The Digital Literacy Movement through Training in Making Rejang Lebong Folklore Animation Videos aims to increase digital literacy among teenagers, especially in developing digital content creation skills based on the Rejang Lebong folklore. The problem currently faced by partners is that teenagers are not using gadgets optimally, gadgets are only used as a means of entertainment such as using social media, playing games, etc. One solution to this problem is by implementing a Digital Literacy Movement through Training in Making Rejang Lebong Folklore Animation Videos. This training was carried out by teaching techniques for making animated videos using the Benime application, which is a simple but effective platform for creating narrative-based animations. In this training, participants are introduced to the basic steps for making videos, processing images and sound for animated stories. Participants are given direct tutorials and practical guidance to create animated videos of the Rejang Lebong folklore, with the hope of preserving and introducing the richness of regional culture to a wider audience in a modern way. By converting folklore into an animated format, participants not only learn about creating digital content, but also gain knowledge about how to package local culture in a form that is more modern and attractive to the younger generation. This is expected to reduce the gap between traditional culture and technology, as well as encourage the younger generation to care more about local culture. The next stage of the plan is to form a digital creative community that is open to all training participants, form collaboration with the media to disseminate participants' work, organize a digital cultural festival which will feature animated folk tales from Rejang Lebong and other areas and continue this service by creating animated videos with the theme different.