Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

PEMANFAATAN MINYAK ATSIRI Litsea elliptica Blume PADA SEDIAAN SABUN CUCI TANGAN DI KELURAHAN DUREN SAWIT JAKARTA TIMUR PRA PANCA BAYU CHANDRA; IKA AGUSTINA; TRIA PRAYOGA
Jurnal Pengabdian IKIFA Vol. 3 No. 2 (2024): Jurnal Pengabdian IKIFA
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan IKIFA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Litsea is a plant that belongs to the Lauraceae family with 45 genera and more than 2,000 species. A total of 38 types of Litsea are known to grow in the Kalimantan region, including Litsea elliptica. Litsea elliptica is reported to have a dominant distribution in East Kalimantan. The aim of the Community Service (PkM) activities in Duren Sawit Subdistrict is to educate the public about the use of Litsea elliptica Blume Essential Oil in hand washing soap preparations. The PkM activity was attended by 45 residents from various areas in Duren Sawit Village. The results of the PkM activities showed an increase in respondents' knowledge about the use of Litsea elliptica Blume Essential Oil in hand washing soap preparations.
Penetapan Kadar Vitamin C Pada Cabai Merah Keriting Giling (Capsicum annum L.) Yang Dijual Di Pasar Koja Jakarta Utara Dengan Metode Spektrofotometri UV-Vis Ika Agustina; Pricillya Maria Loimalitna; Ananda Fitria; Ivan Santoso; Senny Listy Kartika Falestin; PRA CHANDRA
Jurnal Ilmu Farmasi Terapan dan Kesehatan Vol. 4 No. 1 (2026): Jurnal Ilmu Farmasi Terapan dan Kesehatan Vol. 4 No. 1 2026
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan IKIFA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Seiring dengan meningkatnya gaya hidup masyarakat yang serba instan, hampir setiap orang mengkonsumsi bahan ataupun bumbu masakan yang sudah siap saji. Salah satunya yaitu cabai olahan berupa cabai merah giling kasar dan cabai merah giling halus. Cabai giling merupakan bentuk cabai olahan yang banyak dijual di pasar menggunakan mesin giling dengan penambahan bahan-bahan lain seperti garam dan air. Kandungan senyawa pada cabai merah seperti karoten (provitamin A), vitamin C dan capsaicin yang membuat rasa pedas pada cabai. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kadar vitamin C pada cabai merah keriting giling (Capsicum annum L.) yang diukur menggunakan spektrofotometri UV-Vis. Sampel cabai merah keriting giling dilakukan uji organoleptik kemudian dilakukan proses filtrasi. Hasil filtrat sampel dipipet sebanyak 10 ml untuk dilakukan pengenceran kemudian diukur menggunakan spektrofotometri UV-Vis pada panjang gelombang 260 nm untuk mengetahui kadar vitamin C nya. Hasil uji organoleptik dari lima sampel tersebut berbentuk kasar dan halus, berwarna merah orange, dan memiliki aroma dan rasa yang pedas. Hasil penelitian menunjukan bahwa rata-rata kadar vitamin C yang tertinggi adalah pada sampel 3 sebesar 13,277 mg/L selanjutnya diikuti pada sampel 5 sebesar 12,905 mg/L, sampel 2 sebesar 12,106 mg/L, sampel 4 sebesar 10,849 mg/L, dan sampel 1 sebesar 10,829 mg/L.
Pendampingan komersialisasi tanaman obat di Asman Toga Berseri RW.008 Kelurahan Klender, Jakarta Timur Ika Agustina; Indri Astuti Handayani; Farida Tuahuns
SELAPARANG: Jurnal Pengabdian Masyarakat Berkemajuan Vol 10, No 2 (2026): April
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jpmb.v10i2.38208

Abstract

AbstrakKelompok Asuhan Mandiri (Asman) Toga Berseri RW.008 di Kelurahan Klender, Jakarta Timur, memiliki potensi besar dalam pemanfaatan tanaman obat keluarga dalam bentuk produk minuman botanikal. Namun, produk tersebut terkendala dengan masa simpan singkat (2-7 hari) dan kemasan yang sederhana. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan meningkatkan nilai ekonomi dan daya saing produk melalui diversifikasi sediaan menjadi produk kering yang tahan lama dan kemasan yang lebih menarik. Metode pelaksanaan menggunakan pendekatan Participatory Action Research (PAR) yang melibatkan 16 anggota mitra, meliputi materi penyuluhan Cara Produksi Pangan Olahan yang Baik (CPPOB), alih teknologi pengeringan menggunakan mesin food dehydrator, pelatihan pengemasan serta pendampingan komersialisasi. Evaluasi pengetahuan dilakukan menggunakan uji pre-test dan post-test yang dianalisis dengan uji Wilcoxon Signed Rank Test. Hasil analisis statistik menunjukkan nilai signifikansi 0,874 (p>0,05), yang mengindikasikan tidak terdapat perbedaan signifikan pada peningkatan pengetahuan kognitif secara umum, namun terdapat peningkatan pemahaman spesifik pada aspek konsep teknologi pengeringan dan standar kemasan hingga mencapai 100%. Secara praktik, mitra berhasil melakukan diversifikasi produk dengan mengubah minuman botanical dari bentuk cair menjadi bentuk kering. Penerapan teknologi ini meminimalisir risiko kerugian akibat kerusakan produk dan memperluas potensi jangkauan pemasaran. Kata kunci: diversifikasi produk; food dehydrator; masa simpan; tanaman obat keluarga. Abstract The Asman Toga Berseri group in RW.008, Klender Village, East Jakarta, has significant potential for the utilization of medicinal plants as botanical beverages. However, these products are limited by a short shelf life (2–7 days) and simple packaging. This community service activity aims to increase the economic value and competitiveness of the products through diversification into durable dry products and more attractive packaging. The implementation method employed a Participatory Action Research (PAR) approach involving 16 partners, which included counseling on Good Manufacturing Practices for Processed Food (CPPOB), technology transfer using a food dehydrator, packaging training, and commercialization assistance. Knowledge evaluation was conducted using pre-test and post-test, analyzed using the Wilcoxon Signed Rank Test. Statistical analysis results showed a significance value of 0.874 (p>0.05), indicating no significant difference in general cognitive knowledge improvement; however, there was a specific increase in understanding regarding drying technology concepts and packaging standards, reaching 100%. In practice, the partners successfully diversified their products by converting botanical drinks from liquid to dry forms. The application of this technology minimizes the risk of financial loss due to product spoilage and expands the potential marketing reach. Keywords: product diversification; food dehydrator; shelf life; family medicinal plants.