Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search
Journal : Jurnal Arsitektur ARCADE

STRATEGI KONSERVASI MATA AIR PADA PENYEDIAAN AIR BERSIH BERBASIS MASYARAKAT DI NUSA PENIDA Palguna, Kadek Wahyu; Agusintadewi, Ni Ketut; Yudantini, Ni Made; Widiastuti, Widiastuti
Jurnal Arsitektur ARCADE Vol 7 No 3 (2023): Jurnal Arsitektur ARCADE September 2023
Publisher : Prodi Arsitektur UNIVERSITAS KEBANGSAAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract: One indicator of the success of sustainable development is the provision of clean water, especially spring conservation. One of the spring conservation activities in the provision of community-based clean water is the Pamsimas program. Sekartaji Village and Batumadeg Village in the Nusa Penida Islands have springs that can be used to meet the need for clean water. The purpose of this study is to identify conservation schemes for the use of springs, facilities and infrastructure accommodated in the use of springs, and community-based management of the use of springs for the provision of clean water in Sekartaji Village and Batumadeg Village, Nusa Penida District. The method used is a qualitative method with a descriptive method, namely explaining community activities in conserving springs, referring to relevant theories. The results of the research on the conservation scheme for the use of springs are by implementing Enrichment Planting around the springs. Utilization of this scheme is not all of the total spring discharge. Management of water use is carried out by administrators (KP-SPAMS) from each village under the auspices of BUMDes. The benefit of carrying out this research is to find out the importance of spring conservation for the provision of clean water in sustainable development. Where in these activities require the participation of the community in its use.Keyword: spring conservation, clean water supply, community participationAbstrak: Salah satu indikator keberhasilan pembangunan berkelanjutan adalah penyediaan air bersih, terutama konservasi mata air. Salah satu kegiatan konservasi mata air pada penyediaan air bersih berbasis masyarakat adalah program Pamsimas. Desa Sekartaji dan Desa Batumadeg di Kepulauan Nusa Penida memiliki mata air yang bisa dimanfaatkan untuk pemenuhan kebutuhan akan air bersih. Tujuan penelitian ini adalah mengidentifikasi skema konservasi pemanfaatan mata air, sarana dan prasarana yang diakomodasi dalam pemanfaatan mata air, dan pengelolaan pemanfaatan mata air berbasis masyarakat untuk penyediaan air bersih di Desa Sekartaji dan Desa Batumadeg, Kecamatan Nusa Penida. Metode yang digunakan adalah metode Kualitatif dengan metode Deskriptif yaitu menjelaskan kegiatan masyarakat dalam mengkonservasi mata air, merujuk pada teori-teori yang relevan. Hasil penelitian skema konservasi pemanfaatan mata air yaitu dengan melaksanakan Enrichment Planting di sekitar mata air. Pemanfaatan skema ini tidak seluruh dari total debit mata air. Pengelolaan pemanfaatan air dilakukan oleh pengurus (KP-SPAMS) dari masing-masing desa yang bernaung di bawah BUMDes. Manfaat dalam melaksanakan penelitian ini adalah untuk mengetahui pentingnya konservasi mata air untuk penyediaan air bersih dalam pembangunan berkelanjutan. Dimana dalam kegiatan tersebut membutuhkan peran serta masyarakat dalam pemanfaatannya.Kata Kunci: konservasi mata air, penyediaan air bersih, partisipasi masyarakat
Persepsi Permeabilitas Kota Singaraja Menurut Generasi Milenial Ayuningtyas, Prita; Susanta, Nyoman; Yudantini, Ni Made
Jurnal Arsitektur ARCADE Vol 9 No 3 (2025): Jurnal Arsitektur ARCADE September 2025
Publisher : Prodi Arsitektur UNIVERSITAS KEBANGSAAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31848/arcade.v9i3.4229

Abstract

Abstract: Singaraja City, the capital of Buleleng Regency, plays a strategic role in the historical and spatial development of North Bali. However, the city is currently facing challenges related to accessibility and spatial connectivity, particularly in areas with aging road networks and suboptimal pedestrian infrastructure. These issues reflect a low level of urban permeability, defined as the degree to which urban spaces allow free movement and functional connectivity. This study aims to explore the perceptions of the Millennial Generation toward the level of permeability in Singaraja City, focusing specifically on the Udayana Street corridor, which functions as a hub for education and daily urban mobility. Using a qualitative approach that combines field observation, in-depth interviews, and mental mapping, the study investigates accessibility quality, mobility constraints, and spatial connectivity as experienced by young adults (born 1994–2000). The findings reveal that Millennials are highly aware of the physical conditions of urban spaces, such as the lack of continuous pedestrian paths, poor street lighting, and spatial disconnection across neighborhoods. Although Udayana Street holds a strategic urban function, it is not yet fully supportive of active mobility. This study contributes to the theoretical understanding of urban permeability in medium-sized cities and provides valuable input for urban planners and policymakers to develop inclusive, youth-responsive, and sustainable mobility strategies. Keywords: Urban Permeability, Milennial Generation, Singaraja City Abstrak: Kota Singaraja sebagai ibu kota Kabupaten Buleleng memiliki peran strategis dalam sejarah dan dinamika pembangunan wilayah Bali Utara. Namun, perkembangan kota ini menghadapi tantangan dalam hal aksesibilitas dan keterhubungan ruang, terutama di kawasan dengan jaringan jalan lama dan infrastruktur pejalan kaki yang belum optimal. Permasalahan ini mencerminkan rendahnya tingkat permeabilitas kota, yaitu sejauh mana ruang kota memungkinkan pergerakan bebas dan konektivitas antarfungsi ruang. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji persepsi Generasi Milenial terhadap tingkat permeabilitas Kota Singaraja, khususnya di koridor Jalan Udayana yang menjadi pusat aktivitas pendidikan dan mobilitas harian. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif melalui observasi, wawancara mendalam, dan peta mental, penelitian ini menganalisis kualitas aksesibilitas, hambatan mobilitas, dan keterhubungan antar ruang berdasarkan pengalaman generasi muda usia produktif (lahir 1994–2000). Hasil penelitian menunjukkan bahwa Generasi Milenial memiliki kepekaan terhadap kondisi fisik ruang kota, seperti keterbatasan jalur pejalan kaki, kurangnya penerangan jalan, hingga kesenjangan konektivitas antar kawasan. Kawasan Jalan Udayana dinilai memiliki fungsi strategis, namun belum sepenuhnya ramah terhadap mobilitas aktif. Penelitian ini memberikan kontribusi terhadap pemahaman konsep permeabilitas kota dalam konteks kota sedang, serta menjadi masukan penting bagi perencana kota dan pemangku kebijakan dalam merumuskan kebijakan ruang yang inklusif, responsif terhadap kebutuhan generasi muda, dan mendukung mobilitas berkelanjutan. Kata Kunci: Permeabilitas kota, Generasi Milenial, Kota Singaraja Keywords: Urban Permeability, Milennial Generation, Singaraja City