Claim Missing Document
Check
Articles

Found 6 Documents
Search

KEDUDUKAN JANDA SEBAGAI AHLI WARIS TERHADAP HARTA ASAL SUAMI DITINJAU DARI KOMPILASI HUKUM ISLAM: Kompilasi Hukum Islam, Kewarisan, Janda, Harta Asal Suami Dara Puspitasari; Roma Thohir
Jurnal Pro Hukum : Jurnal Penelitian Bidang Hukum Universitas Gresik Vol 10 No 2 (2021): Jurnal Pro Hukum : Jurnal Penelitian Bidang Hukum Universitas Gresik
Publisher : Fakultas Hukum Universitas Gresik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Masalah perkawinan tidak hanya menyangkut masalah keluarga saja, akan tetapi juga menyangkut masalah harta kekayaan keluarga yang merupakan dasar materil bagi kelangsungan hidup keluarga. Salah satu hal yang diperhatikan untuk janda jika suami meninggal yaitu kedudukan waris. Di Indonesia, waris terdapat tiga cara yaitu hukum perdata, Hukum Islam dan hukum adat. Didalam penulisan ini, mengkaji kewarisan melalui Hukum Islam. Dengan rumusan kedudukan janda sebagai ahli waris atas harta asal suami ditinjau dari Kompilasi Hukum Islam dan kedudukan Kompilasi Hukum Islam dalam sistem hirarki peraturan perundangan di Indonesia.Metode yang digunakan yaitu normatif, dengan melalui pendekatan perundang-undangan, pendekatan historis dan pendekatan konseptual. Hasil dari penelitian ini adalah Menurut kewarisan Hukum Islam, Janda berhak mendapatkan harta warisan dari suami dan apabila janda tidak meninggalkan anak maka ia berhak mendapatkan 1/8 bagian. Hal ini dapat dilihat dalam Pasal 180 Kompilasi Hukum Islam dan KHI dilihat sebagai hukum tidak tertulis sebagaimana ditunjukkan oleh penggunaan instrumen hukum berupa Inpres yang tidak termasuk dalam rangkaian tata urutan perundangan yang menjadi sumber hukum tertulis dan KHI dapat dikategorikan sebagai hukum tertulis yang menunjukkan bahwa KHI berisi law dan rule yang pada gilirannya terangkat menjadi hukum. Inpres Nomor 1 Tahun 1991 dipandang sebagai salah satu produk political power yang mengalirkan KHI dalam jajaran hukum.
Reassessing Trade Unions’ Role in Achieving Fair Industrial Relations Panji Purnomo Adhi; Naning Indriyawati; Basuki Tri Setiawan; Dara Puspitasari
JUSTISI Vol. 12 No. 2 (2026): JUSTISI
Publisher : Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Sorong

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33506/js.v12i2.5261

Abstract

This study aims to analyze the role of labor unions in achieving industrial relations justice in Indonesia and to identify whether the legal issues that arise stem from weaknesses in the norms or from the effectiveness of implementing the norms of freedom of association. This study uses a normative-conceptual legal method by examining constitutional provisions, labor laws and regulations, ILO conventions, as well as industrial relations theory and theories of justice. Data were obtained through a literature review encompassing primary, secondary, and tertiary legal sources, and were then qualitatively analyzed to assess the effectiveness of trade unions’ role within the national labor law system. The novelty of this research lies in the assertion that the primary issue in achieving industrial relations justice does not stem from a lack of legal norms, but rather from the gap between the normative guarantees of freedom of association and their implementation in industrial relations practice. The results of the study indicate that, normatively, the legal framework regarding freedom of association and the role of labor unions is adequate. Trade unions serve as providers of legal protection, balancers of bargaining power in collective bargaining, and facilitators of tripartite social dialogue. However, the effectiveness of these roles still faces obstacles in the form of limited institutional capacity, organizational fragmentation, increasing flexibility in employment relationships, and suboptimal law enforcement. The conclusion of this study is that efforts to improve industrial relations justice must be directed toward strengthening the effectiveness of the implementation of freedom of association norms through institutional strengthening of labor unions, consistent labor oversight, and the state’s commitment to ensuring substantive protection of the right to organize.
The Precarious State of Letter C: Land Registration Law Dynamics After PP Number 18 Year 2021 Naning indriyawati; Suyanto Suyanto; Dara Puspitasari
JIHAD : Jurnal Ilmu Hukum dan Administrasi Vol. 8 No. 2 (2026): JIHAD : Jurnal Ilmu Hukum dan Administrasi
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pendidikan (LPP) Mandala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58258/jihad.v8i2.10545

Abstract

The enactment of Government Regulation (PP) No. 18 of 2021 has triggered a major transformation in Indonesia’s land registration framework. The primary focus of this study is to evaluate the current legal status of "Letter C" and determine whether it still functions as robust evidence of ownership or merely as proof of physical possession. Under the latest regulations, the role of Letter C has undergone a significant shift, moving from a primary form of evidence to a transitional or temporary document within the national land registration process. This study employs a normative legal research method, examining various regulatory layers, including the Basic Agrarian Law (UUPA) No. 5 of 1960, the Job Creation Law No. 11 of 2020, and specific provisions in PP No. 18 of 2021 regarding mandatory land registration. Furthermore, a conceptual approach is used to compare the administrative weight of Letter C against the absolute legal certainty provided by a formal land certificate. Data was gathered through an analysis of legal documents from the BPN Legal Documentation and Information Network (JDIH), agrarian law journals, and court rulings involving customary land disputes. The analysis reveals that after 2026, Letter C documents will hold a very weak legal position if they are not promptly converted through the Complete Systematic Land Registration (PTSL) program. From a legal standpoint, Letter C is now classified only as a temporary basis of right (alas hak) that requires re-verification by Land Deed Officials (PPAT) and the National Land Agency (BPN). To address this vulnerability, it is recommended that the government provide subsidies for verification costs and conduct extensive public outreach to ensure legal certainty and agrarian justice for the community. 
Perlindungan Hukum Terhadap Anak Dalam Tindak Pidana Kejahatan Seksual Online Moh Fakhri Anshori Adhyaksana; Zakiah Noer; Dara Puspitasari
Indonesian Journal of Multidisciplinary on Social and Technology Vol. 4 No. 2 (2026): Maret - Juni
Publisher : PT Ilmu Data Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69693/ijmst.v4i2.9592

Abstract

This study examines the effectiveness of Law No. 12/2022 on the Crime of Sexual Violence (UU TPKS) and Government Regulation No. 27/2024 in protecting children from cybersexual crimes. Employing normative legal research with statutory and case approaches, the findings indicate a fundamental normative advancement through the criminalization of electronic non-physical sexual harassment under Article 5. However, the empirical reality reveals a minimalist case resolution rate due to the highly abstract nature of the offense elements, an asymmetric digital forensic burden of proof triggering a 70% case file return rate (p-19), and jurisdictional overlaps with the Electronic Information and Transactions Law (UU ITE) due to the absence of a bridging article. Furthermore, law enforcement is impeded by cognitive deficits among officials, inter-institutional fiscal fragmentation, transnational extraterritorial jurisdiction barriers, and a paradigm clash between restorative and retributive justice mechanisms. To realize the principle of the best interests of the child, this study recommends a comprehensive regulatory restructuring. This includes the unification of real-time digital reporting under KPAI, enhancing officials' digital forensic capabilities, material harmonization with the Juvenile Justice System Law (UU SPPA), institutionalizing a five-year special minimum prison sentence for adult offenders, and introducing the strict liability doctrine for digital platform corporations to curb the linear escalation of child exploitation in cyberspace.
Eksistensi Kedudukan Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat dalam Sistem Hukum Nasional Nurroso; Dara Puspitasari; Prihatin Effendi
Al-Zayn: Jurnal Ilmu Sosial, Hukum & Politik Vol 4 No 4 (2026): 2026
Publisher : Yayasan pendidikan dzurriyatul Quran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61104/alz.v4i4.7186

Abstract

Pasca amandemen UUD NRI 1945, kedudukan Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) mengalami pergeseran fundamental dari lembaga tertinggi menjadi lembaga tinggi negara. Perubahan ini secara teoritis membatasi kewenangan MPR dalam menerbitkan produk hukum bersifat mengatur (regeling). Namun, Pasal 7 Ayat (1) Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2011 kembali memasukkan TAP MPR ke dalam hierarki peraturan perundang-undangan di bawah UUD NRI 1945 dan di atas Undang-Undang. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji anomali hierarki tersebut serta dampaknya terhadap kepastian hukum di Indonesia. Permasalahan utama yang diangkat adalah terkait kedudukan TAP MPR berdasarkan Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2011 pasca amandemen UUD NRI 1945 di tengah keterbatasan fungsinya secara teoritis, serta kompetensi peradilan mana yang berwenang untuk melakukan uji validitas terhadap TAP MPR bilamana terjadi sebuah pertentangan. Penelitian ini menggunakan jenis Penelitian Hukum Normatif dengan Pendekatan Penelitian menggunakan Pendekatan Sejarah dan Pendekatan Perundang-undangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa eksistensi TAP MPR dalam hierarki saat ini lebih bersifat sebagai upaya ‘pengamanan’ yuridis terhadap produk hukum lama yang masih berlaku berdasarkan TAP MPR No. I/MPR/2003. Namun, hal ini menimbulkan problematika pengujian karena adanya kekosongan kewenangan antara Mahkamah Konstitusi dan Mahkamah Agung. Secara sistemik, pencantuman ini mengaburkan logika pendelegasian kewenangan dan menciptakan ketidakpastian hukum mengenai kemungkinan pembentukan TAP MPR baru di masa depan. Sehingga, perlu penguatan kerangka regulasi guna menambahkan kewenangan pada Mahkamah Konstitusi untuk melaksanakan pengujian terhadap validitas TAP MPR.
Perlindungan Hukum Bagi Jurnalis Digital dalam Menyampaikan Kritik terhadap Pemerintah Berdasarkan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2024 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik Ahmad Fajar Siddiq Affandi; Dara Puspitasari; Dinda Heidiyuan Agustalita
Indonesian Journal of Multidisciplinary on Social and Technology Vol. 4 No. 3 (2026): Juli - Oktober
Publisher : PT Ilmu Data Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69693/ijmst.v4i3.12134

Abstract

Transformasi teknologi informasi telah menggeser praktik jurnalistik ke platform digital, menjadikan jurnalis digital agen krusial dalam diseminasi informasi publik dan pengawasan sosial terhadap pemerintah. Kendati demikian, ekspansi ruang siber ini diiringi eskalasi risiko kriminalisasi terhadap opini kritis. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bentuk perlindungan hukum bagi jurnalis digital dalam menyampaikan kritik terhadap pemerintah serta mengidentifikasi hambatan normatif dan praktis dalam penerapannya berdasarkan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2024 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian hukum normatif dengan Pendekatan Perundang-Undangan (Statute Approach) dan Pendekatan Konseptual (Conceptual Approach). Hasil penelitian menunjukkan bahwa meskipun UU ITE mengintroduksi pembaruan regulasi, antinomi normatif tetap ada akibat keberadaan pasal-pasal elastis (seperti Pasal 27A) yang memicu diskresi interpretatif dan criminalization of expression. Kondisi ini memperjelas celah hukum ganda khususnya bagi jurnalis warga dan pers mahasiswa yang belum terakomodasi secara optimal di bawah UU No. 40 Tahun 1999 tentang Pers. Selain itu, praktik penegakan hukum yang cenderung positivistik-formalistik serta minim sensitivitas terhadap fungsi sosiopolitik pers mengonstruksi chilling effect di ruang siber. Penelitian ini menyimpulkan perlunya rekonseptualisasi sistem perlindungan hukum yang mengintegrasikan skema preventif (kejelasan norma, kepatuhan atas Putusan Mahkamah Konstitusi, dan reformasi paradigma penegak hukum) dengan skema represif. Langkah ini penting guna menyeimbangkan tata kelola ruang digital dengan penjaminan kemerdekaan pers sebagai mekanisme check and balances dalam negara hukum demokratis.