Claim Missing Document
Check
Articles

Found 25 Documents
Search

PENGARUH ZONE TEMPAT TUMBUH TERHADAP PRODUKSI NIRA NIPAH (Nypa fruticans) PEMURUS ALUH-ALUH KABUPATEN BANJAR Megawati Megawati; Rosidah Rosidah; Lusyiani Lusyiani
Jurnal Sylva Scienteae Vol 5, No 4 (2022): Jurnal Sylva Scienteae Vol 5 No 4 Edisi Agustus 2022
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jss.v5i4.6157

Abstract

The nipah plant is a multipurpose plant, where one of its benefits is as a sap-producing plant that can be used as a source of sweeteners and bioethanol. The purpose of the study is to prove the difference in sap production based on the zone (place) of growing. Determination of the location point according to the place where the nipah grows, Making an example path of three paths that are considered as a test, carrying out treatment before tapping, and during tapping. This study obtained the average results of sap production obtained from three treatments, namely treatment (A) submerged in water 0.592 liters / panicle / tapping period, treatment (B) sometimes submerged 0.463 liters / panicle / tapping period and treatment (C) 0.414 liters / panicle / tapping period. The results of the analysis showed that each treatment had no effect on the sap production from nipahTumbuhan nipah merupakan tumbuhan yang multiguna, dimana salah satu manfaatnya adalah sebagai tumbuhan penghasil nira yang dapat dimanfaatkan sebagai sumber pemanis dan bioetanol. Tujuan dari penelitian untuk membuktikan perbedaan produksi nira berdasarkan zone (tempat) tumbuh. Penentuan titik lokasi sesuai tempat tumbuhnya nipah, Membuat jalur contoh sebanyak tiga jalur yang dianggap sebagai ulangan, melakukan perlakuan sebelum penyadapan, dan saat penyadapan. Penelitian ini mendapatkan hasil rata-rata produksi nira yang diperoleh dari tiga perlakuan yaitu perlakuan (A) terendam air 0,592 liter/malai/periode penyadapan, perlakuan (B) kadang terendam 0,463 liter/malai/periode penyadapan dan perlakuan (C) 0,414 liter/malai/periode penyadapan. Hasil analisis menunjukkan setiap perlakuan tidak berpengaruh terhadap produksi nira  dari nipah
KUALITAS BIOPELET DARI LIMBAH CAMPURAN KAYU ALABAN DENGAN SERAI WANGI Armain Armain; Budi Sutiya; Lusyiani Lusyiani
Jurnal Sylva Scienteae Vol 6, No 1 (2023): Jurnal Sylva Scienteae Vol 6 No 1 Edisi Februari 2023
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jss.v6i1.8193

Abstract

Biopellets made from a mixture of alaban powder and citronella powder are for the utilization of waste, in fact, they can still be used as raw materials for biomass and renewable energy. The objectives to be achieved in this study were to identify the quality of biopellets from alaban wood powder and citronella powder, and to determine the best biopellet from various treatments. The mixture of raw materials uses 5 treatments, namely 1) 100% alaban powder; 2) 75% alaban powder and 25% citronella powder; 3) 50% alaban powder and 50% citronella powder, 4) 25% alaban powder and 75% citronella powder; and 5) 100% citronella powder. The resulting data is then analyzed with variance and compared with SNI. The quality of the biopellet was not affected by the composition of the mixture of alaban powder and citronella powder. Biopellets that meet SNI standards, in the form of water content, bound carbon and calorific value. Other parameters such as density, ash content, and volatile matter still do not meet SNI standards.Biopelet terbuat dari campuran serbuk alaban dan serbuk serai wangi adalah untuk pemanfaatan limbah sebenarnya masih dapat digunakan sebagai bahan baku biomasa dan energi terbarukan. Tujuan yang ingin dicapai pada penelitian ini adalah Mengenalisa kualitas biopelet dari serbuk kayu alaban dan serbuk serai wangi, dan mengetahui biopelet yang terbaik dari berbagai perlakuan. Campuran bahan baku menggunakan 5 perlakuan yaitu 1) serbuk alaban 100%; 2) serbuk alaban 75% dan serbuk serai wangi 25%; 3) serbuk alaban 50% dan serbuk serai wangi 50%, 4) serbuk alaban 25% dan serbuk serai wangi 75%; dan 5) serbuk serai wangi 100%. Data yang dihasilkan selanjutnya dianalisis d engan sidik ragam dan dibandingkan dengan SNI. Kualitas biopelet tidak dipengaruhi oleh komposisi campuran serbuk alaban dan serbuk serai wangi. Biopelet yang memenuhi standar SNI, berupa kadar air, karbon terikat dan nilai kalor. Parameter lainnya berupa kerapatan, kadar abu, dan zat terbang masih belum memenuhi standar SNI.
PRODUKTIVITAS DAN RENDEMEN BARECORE DARI LIMBAH EMPULUR KAYU SENGON (Paraserianthes falcataria) DI PT. HUTAN RINDANG BANUA, DESA SEBAMBAN BARU, KABUPATEN TANAH BUMBU, PROVINSI KALIMANTAN SELATAN Marwatul Mukarramah; Noor Mirad Sari; Lusyiani Lusyiani
Jurnal Sylva Scienteae Vol 6, No 3 (2023): Jurnal Sylva Scienteae Vol 6 No 3 Edisi Juni 2023
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jss.v6i3.9226

Abstract

Productivity and yield are results that compare the achieved, the raw materials with the functioning systems. The study aims to analyze productivity and the yield from the barecore of the sengon wood (Paraserianthes falcataria) pith wastes in PT Hutan Rindang Banua.  Productivity calculations use a stopwatch with a zero stop method. Yield is calculated as a percentage of the ratio of yield and raw materials. The highest productivity on the seventh day was 0.3315 m3/ hour, while the third day lowest was 0.1241 m3/ hour. The average productivity for 7 days is 0.2372 m3/ hour. The highest yield on the third day is 89.9767 %, while the lowest on the second day is 58.0500 %. The average yield for 7 days is 74.5516 %.Produktivitas dan rendemen adalah hasil yang membandingkan antara hasil yang dicapai, bahan baku dengan sistem kerjanya. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis produktivitas dan rendemen dari pembuatan barecore dari limbah empulur kayu sengon (Paraserianthes falcataria) di PT. Hutan Rindang Banua. Perhitungan produktivitas menggunakan stopwatch dengan metode nol stop. Rendemen dihitung sebagai persentase dari perbandingan antara hasil dan bahan baku. Hasil produktivitas yang tertinggi pada hari ketujuh adalah 0.3315 m3/jam, sedangkan yang terendah pada hari ketiga adalah 0.1241 m3/jam. Rata – rata produktivitas selama 7 hari adalah 0.2372 m3/jam. Hasil rendemen yang tertinggi pada hari ketiga adalah 89.9767 %, sedangkan yang terendah pada hari kedua adalah 58.0500 %. Rata – rata rendemen selama 7 hari adalah 74.5516 %.
PENGARUH KOMPOSISI BRIKET CAMPURAN ARANG DARI LIMBAH BATUBARA DAN SERBUK ARANG KAYU ULIN (Eusideroxylon zwageri) TERHADAP KUALITAS DAN LAJU PEMBAKARAN Sumiati Sumiati; Noor Mirad Sari; Lusyiani Lusyiani
Jurnal Sylva Scienteae Vol 6, No 5 (2023): Jurnal Sylva Scienteae Vol 6 No 5 Edisi Oktober 2023
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jss.v6i5.10663

Abstract

Many natural resource potentials in Kalimantan can be used for energy sources such as natural gas, oil, and coal. Utilization of the resulting waste as an alternative fuel, for example, briquettes, can help fuel availability and provide input for the community. The study aimed to analyze the characteristics of the composition of charcoal briquettes from coal waste and ironwood charcoal powder (Eusideroxylon zwageri), namely density, moisture content, volatile matter content, ash content, bound carbon, calorific value, and to test ignition properties (ignition time). The study used a completely randomized design (CRD) method with 6 treatments and 3 replications for the composition of the mixture of coal waste and ironwood charcoal powder. The results showed that the highest density in the P1 treatment was 0.8747 gr/cm3 and the lowest in P5 was 0.7662 gr/cm3, the highest water content was in the P1 treatment with a value of 21.4625% and the lowest in P6 was 5.8743%, the highest volatile matter was treatment P1 was worth 44.6467% and the lowest P4 was worth 38.6933%, the highest ash content was treatment P6 worth 12.5133% and the lowest P1 was worth 5.6400%, the highest bound carbon was treatment P5 worth 39.8998% and the lowest was P1 is worth 28.2508%, the highest calorific value is treatment P1 is worth 6371.76 cal/gr and the lowest is P2 is worth 5306.25 cal/g and the highest combustion rate is treatment P1 is worth 0.9074 g/minute and the lowest is P6 is worth 0.2445 g/minute where the treatment on density does not include ASTM, P6 treatment on water content enters ASTM, treatment on flying substances does not enter ASTM, P1 and P2 treatments on ash content enter ASTM, treatment on bound carbon does not include ASTM, and treatment P1 calorific value enters ASTMPotensi sumber daya alam di Kalimantan sangat banyak yang bisa digunakan untuk sumber energi seperti gas bumi, minyak bumi, dan batubara. Pemanfaatan limbah yang dihasilkan sebagai bahan bakar alternatif contohnya briket bisa membantu ketersediaan bahan bakar serta memberikan masukan untuk masyarakat. Tujuan penelitian yaitu menganalisis karakteritis komposisi briket arang dari limbah batu bara dan serbuk arang kayu ulin (Eusideroxylon zwageri) yaitu kerapatan, kadar air, kadar zat terbang, kadar abu, karbon terikat, nilai kalor, serta menguji sifat penyalaan (lama penyalaan). Penelitian menggunakan metode Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 6 perlakuan dan 3 ulangan terhadap komposisis campuran limbah batubara dan serbuk arang kayu ulin. Hasil penelitian yaitu kerapatan tertinggi pada perlakuan P1 bernilai 0,8747 gr/cm3 dan terendah P5 bernilai 0,7662 gr/cm3, kadar air tertinggi yaitu perlakuan P1 bernilai 21,4625% dan terendah P6 bernilai 5,8743 %, zat terbang tertinggi yaitu perlakuan P1 bernilai 44,6467% dan terendah P4 bernilai 38,6933%, kadar abu tertinggi yaitu perlakuan P6 bernilai 12,5133% dan terendah P1 bernilai 5,6400%, karbon terikat tertinggi yaitu perlakuan P5 bernilai 39,8998% dan terendah P1 bernilai 28,2508%, nilai kalor tertinggi yaitu perlakuan P1 bernilai 6371,76 kal/gr dan terendah P2 bernilai 5306,25 kal/ gr serta laju pembakaran tertinggi yaitu perlakuan P1 bernilai 0,9074 g/menit dan terendah P6 bernilai 0,2445 g/menit dimana perlakuan pada kerapatan tidak termasuk ASTM, perlakuan P6 kadar air masuk ASTM, perlakuan pada zat terbang tidak masuk ASTM, perlakuan P1 dan P2 pada kadar abu masuk ASTM, perlakuan pada karbon terikat tidak termasuk ASTM, dan perlakuan P1 nilai kalor masuk ASTM
PEMANFAATAN LIMBAH SERBUK KAYU KARET (Havea brasiliensis) DAN SERABUT TANDAN KOSONG KELAPA SAWIT (Elais guineensis) SEBAGAI KOMPOSISI BAHAN PEMBUATAN PAPAN PARTIKEL Muhammad Rifa’i; Adi Rahmadi; Lusyiani Lusyiani
Jurnal Sylva Scienteae Vol 7, No 2 (2024): Jurnal Sylva Scientea Vol 7 No 2 Edisi April 2024
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jss.v7i2.9126

Abstract

Salah satu jenis produk panel kayu atau komposit yang dibuat dari partikel kayu atau bahan yang mengandung lignoselulosa dan diikat menggunakan perekat maupun campuran pengikat lainnya yang nantinya dikempa panas merupakan papan partikel. Papan partikel sebagai salah satu alternatif yang dapat dipilih dalam rangka diversifikasi bahan berlignoselulosa seperti serbuk kayu, sabut kelapa dan lain-lain. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh variasi lapisan papan dari campuran dari campuran serbuk kayu karet dan sabut tandan kosong kelapa sawit meliputi sifat fisik dan mekanik papan partikel dengan menggunakan standar SNI 03-2105-2006. Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap cara pengambilan sampel 3 perlakuan dengan 3 kali ulangan sehingga jumlah uji seluruhnya adalah 9 sampel uji. Hasil dari penelitian ini yaitu sifat fisika yang dimiliki berupa nilai uji kadar air perlakuan A yaitu 17,92 %, pada perlakuan B nilai uji yang didapat 15,30 %, dan nilai pada perlakuan C 16,71%, nilai uji kerapatan perlakuan A didapat 0,44 gr/cm3, perlakuan B dengan nilai 0,66 gt/cm3 dan perlakuan C dengan nilai 0,62 gr/cm3, serta nilai uji pengembangan tebal pada perlakuan A adalah 38,71 % pada perlakuan B 37,63 % dan pada perlakuan C nilai yang didapat 26,93 % sehingga hal ini mengakibatkan penambahan volume tinggi pada papan, sedangkan sifat mekanik perlakuan C dengan nilai MoR 63,06933 kg/cm2 dan MoE 2011,078 kg/cm2, rata-rata memiliki nilai lebih baik dibanding papan partikel dengan perlakuan A dengan nilai MoR 27,82267 kg/cm2 dan  MoE 1060,957 kg/cm2 dan perlakuan B dengan nilai MoR 53,34467 kg/cm2 dan MoE 1635,001 kg/cm2.