Claim Missing Document
Check
Articles

Found 27 Documents
Search

Uji Aktivitas Tabir Surya Ekstrak Kulit Buah Sirsak (Annona muricata L.) yang Diekstraksi Dengan Metode Ultrasonic Assisted Extraction Jihan Fadillah; Kiki Mulkiya Yuliawati; Esti Rachmawati Sadiyah
Bandung Conference Series: Pharmacy Vol. 2 No. 2 (2022): Bandung Conference Series: Pharmacy
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (295.984 KB) | DOI: 10.29313/bcsp.v2i2.4321

Abstract

Abstract. Ultraviolet (UV) rays are one of the spectrum of the sun that adversely affects the skin such as erythema or pigmentation, which in long-term effects may cause photoaging and photocarcinogenesis. These adverse effects can be prevented by using sunscreen that can be made from synthetic or natural materials. The peel of soursop fruit (Annona muricata L.) is a natural material that has been known to contain phenol and flavonoid compounds, both of these compounds are reported to have activities as sunscreen. The extraction method uses Ultrasonic Assisted Extraction (UAE) with aquadest as solvent. Time variations of extraction are 15, 30, 45, and 60 minutes. The sunscreen activity test was carried out on all samples at concentrations of 625, 1.250, 1.875, 2.500, 3.125, 3.750, 4.375, and 5000 ppm. Determination of sunscreen activities involves sun protection factor, erythema transmittance percentages (%Te), and pigmentation transmittance percentages (%Tp) by using UV-Vis spectrophotometer (wavelength range 290-375 nm). The result showed that UAE extract of 15 minutes at the concentration 5.000 ppm has the highest sunscreen activities than the other samples with SPF value 12,78 which belongs to the maximum protection type; %Te 5,08% and %Tp 20,00% which belongs to the extra protection category. Abstrak. Sinar Ultraviolet (UV) merupakan salah satu spektrum dari sinar matahari yang dapat memberikan dampak buruk pada kulit seperti eritema atau pigmentasi, yang mana efek jangka panjang dapat menyebabkan photoaging dan photocarcinogenesis. Dampak buruk ini dapat dicegah dengan penggunaan tabir surya, baik tabir surya dengan bahan aktif sintesis maupun alami. Kulit buah sirsak (Annona muricata L.) merupakan salah satu bahan alam yang telah diketahui mengandung senyawa fenol dan flavonoid, dimana kedua senyawa tersebut telah dilaporkan memiliki aktivitas sebagai tabir surya. Metode ekstraksi dilakukan melalui metode Ultrasonic Assisted Extraction (UAE) dengan menggunakan aquadest sebagai pelarut pada beberapa variasi waktu yaitu 15, 30, 45, dan 60 menit. Pengujian aktivitas tabir surya dilakukan terhadap semua sampel pada konsentrasi 625, 1.250, 1.875, 2.500, 3.125, 3.750, 4.375, dan 5000 ppm yang meliputi penentuan nilai Sun Protection Factor (SPF), nilai persen transmisi eritema (%Te), dan nilai persen transmisi pigmentasi (%Tp) dengan menggunakan spektrofotometer UV-Vis (panjang gelombang 290-375 nm). Hasil pengujian menujukkan bahwa ekstrak UAE 15 menit pada konsentrasi 5000 ppm memiliki aktivitas tabir surya lebih tinggi dibandingkan sampel lain dengan nilai SPF sebesar 12,78 yang termasuk ke dalam tipe proteksi maksimal; serta %Te 5,08% dan %Tp 20,00% yang termasuk ke dalam kategori proteksi ekstra.
Kajian Pustaka Tanaman-tanaman yang Memiliki Potensi sebagai Antiosteoarthritis Sri Nur Azizah; Indra Topik Maulana; Kiki Mulkiya Yuliawati
Bandung Conference Series: Pharmacy Vol. 2 No. 2 (2022): Bandung Conference Series: Pharmacy
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (390.077 KB) | DOI: 10.29313/bcsp.v2i2.4392

Abstract

Abstract. Osteoarthritis is a degenerative health disorder associated with cartilage or joint damage. Osteoarthritis is characterized by inflammation of the joints of the neck, hands, waist, back, especially the knee joints. The causes of osteoarthritis can be influenced by various things including thickening of the bone capsule and loss of cartilage. This study aims to identify and collect data on various plants that have anti-osteoarthritis potential from active ingredients that can be widely developed for osteoarthritis. Literature review conducted in a structured and systematic manner on a number of national and international articles obtained from databases research journal. The results of this study indicate that plants that have potential as anti-osteoarthritis, such as pomegranate peel, jinmu-tang extract, turmeric rhizome, malacca fruit, chervil leaves, and ginger rhizome are characterized by the IC50. The IC50 is a concentration of the sample that can cause inhibition of various activities by 50%. Samples that have potential as antiosteoarthritis have a low IC50 value and are carried out using several methods, namely in vivo and in vitro methods. It can be concluded that plants that have potential as anti-osteoarthritis are able to inhibit the type-II collagenase enzyme, which is by using appropriate methods and active ingredients from plants. Abstrak. Osteoarthritis adalah gangguan kesehatan degeneratif yang berkaitan dengan kerusakan tulang rawan atau sendi. Osteoarthritis ditandai dengan adanya peradangan pada sendi sendi leher, tangan, pinggang, punggung, terutama pada sendi lutut. Penyebab terjadinya osteoarthritis dapat dipengaruhi berbagai macam diantaranya penebalan kapsul tulang dan hilangnya tulang rawan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan mengumpulkan data berbagai tanaman yang memiliki potensi antiosteoarthritis dari bahan aktif yang dapat dikembangkan secara luas untuk penyakit osteoarthritis. Kajian Pustaka yang dilakukan secara terstrutur dan sistematis terhadap sejumlah artikel nasional dan internasional yang didapatkan dari database jurnal penelitian. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa tanaman-tanaman yang memiliki potensi sebagai antiosteoarthritis, seperti kulit buah delima, ekstrak jinmu-tang, rimpang kunyit, buah malaka, daun chervil, dan rimpang jahe yang ditandai dari parameter hasil IC50. IC50 merupakan suatu konsentrasi dari sampel yang dapat menyebabkan penghambatan berbagai aktivitas sebesar 50%. Sampel yang memiliki potensi sebagai antiosteoarthritis memiliki nilai IC50 rendah dan dilakukan dengan beberapa metode yaitu metode in vivo dan metode in vitro. Dapat disimpulkan bahwa tanaman-tanaman yang memiliki potensi sebagai antiosteoarthritis mampu menghambat enzim kolagenase tipe-II, dimana dengan menggunakan metode dan bahan aktif dari tanaman yang sesuai.
Kajian Pustaka Potensi Kulit Nanas (Ananas comosus (L.) Merr) sebagai Bahan Baku Pembuatan Bioetanol Fika Nurul Hafidzoh; Bertha Rusdi; Kiki Mulkiya Yuliawati
Bandung Conference Series: Pharmacy Vol. 2 No. 2 (2022): Bandung Conference Series: Pharmacy
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (642.566 KB) | DOI: 10.29313/bcsp.v2i2.4425

Abstract

Abstract. One type of fruit that is widely cultivated in Indonesia is pineapple. Pineapple fruit that is produced produces a high enough waste, and if it is not used it will cause an unpleasant odor due to the process of decay. Pineapple peel is one of the agricultural wastes that can produce bioethanol because it contains carbohydrates such as reducing sugars. The presence of high carbohydrate and sugar content is converted into bioethanol through a fermentation process with the help of microorganisms. The purpose of this study was to determine how the mechanism of making bioethanol from pineapple peels, to find out what factors influence the levels of bioethanol produced from pineapple peel fermentation, and to find out what the optimal conditions are to obtain the highest levels of bioethanol from pineapple peels.This study uses a systematic literature review method with stages, namely library research, screening based on inclusion and exclusion criteria and data extraction from 6 journals. The results of this study indicate that the mechanism for making bioethanol starts from the process of hydrolysis, fermentation, then distillation. The factors that influence the fermentation process are the type and number of microbes used, length of fermentation time, pH, additives, and temperature. Among the six journals, the highest bioethanol content obtained was 38%, using Saccharomyces cerevisiae mobilized in alginate granules with a fermentation time of 4 days, and 14 grams of yeast used. Abstrak. Salah satu jenis buah-buahan yang banyak dibudidayakan di Indonesia yaitu buah nanas. Buah nanas yang diproduksi menghasilkan limbah yang cukup tinggi, dan jika tidak dimanfaatkan maka akan menimbulkan bau yang tidak sedap karena terjadi proses pembusukan. Kulit nanas merupakan salah satu limbah pertanian yang dapat menghasilkan bioetanol karena mengandung karbohidrat seperti gula reduksi. Adanya kandungan karbohidrat dan gula yang cukup tinggi diubah menjadi bioetanol melalui proses fermentasi dengan bantuan mikroorganisme. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui bagaimana mekanisme pembuatan bioetanol daari kulit nanas, untuk mengetahui apa saja faktor yang mempengaruhi kadar bioetanol yang dihasilkan dari fermentasi kulit nanas, serta untuk mengetahui bagaimana kondisi optimal untuk memperoleh bioetanol dengan kadar tertinggi dari kulit nanas. Penelitian ini menggunakan metode kajian pustaka sistematis dengan tahapan yaitu penelusuran pustaka, penyaringan berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi serta ekstraksi data dari 6 jurnal. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa mekanisme pembuatan bioetanol dimulai dari proses hidrolisis, fermentasi, kemudian destilasi.Faktor-faktor yang mempengaruhi proses fermentasi adalah jenis dan jumlah mikroba yang digunakan, lamanya waktu fermentasi, pH, zat tambahan, dan suhu. Diantara keenam jurnal kadar bioetanol tertinggi yang diperoleh yaitu sebesar 38%, menggunakan Saccharomyces cerevisiae termobilisasi dalam butiran alginat dengan waktu fermentasi selama 4 hari, dan khamir yang digunakan sebnayak 14 gram.
Penelusuran Pustaka Potensi Genus Camellia sebagai Antikanker Salma Azizah; Kiki Mulkiya Yuliawati; Indra Topik Maulana
Bandung Conference Series: Pharmacy Vol. 2 No. 2 (2022): Bandung Conference Series: Pharmacy
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (564.768 KB) | DOI: 10.29313/bcsp.v2i2.4473

Abstract

Abstract. Cancer is the third most common cause of death in Indonesia after heart disease and stroke. One of the causes of cancer is the presence of excess free radicals in the body. Antioxidants are compounds that can counteract free radicals in the body. Antioxidants are plant activities produced by compounds such as phenols, polyphenols, flavonoids, vitamins C and E, catechins and carotenes. It has been studied phytochemically that the genus Camellia contains compounds such as tannins, alkoloids, terpenoids, flavonoids and other phenolics. Antioxidants have been shown to be beneficial in the prevention of cancer cells. Based on the antioxidant chemical content in plants of the Camellia genus, this literature search was carried out with the aim of knowing, collecting information and analyzing whether the Camellia genus has potential as an anticancer. And any type of cancer cells whose growth can be inhibited by the genus Camellia. There are 5 species of plants from the Camellia genus that have antioxidant and anticancer activities. Based on the literature search, several studies have proven that plants of the Camellia genus have antioxidant and anticancer activities with the identified compounds being phenol derivative compounds and genus Camellia can inhibit breast cancer cells MCF-7, MDA-MB-231, and prostate cancer PC3. Abstrak. Kanker merupakan penyakit penyebab kematian ketiga terbanyak di Indonesia setelah jantung dan stroke. Salah satu penyebab kanker yaitu adanya radikal bebas berlebih yang ada ditubuh. Antioksidan adalah suatu senyawa yang dapat menangkal radikal bebas didalam tubuh. Antioksidan adalah aktivitas tanaman yang dihasilkan oleh suatu senyawa seperti fenol, polifenol, flavonoid, vitamin C dan E, katekin dan karoten. Telah dipelajari secara fitokimia bahwa genus Camellia mempunyai kandungan senyawa seperti tanin, alkoloid, terpenoid, flavonoid dan fenolat lainnya. Antioksidan sudah terbukti bermanfaat dalam pencegahan sel kanker. Berdasarkan kandungan kimia antioksidan dalam tanaman genus Camelliadilakukan penelusuran pustaka ini bertujuan untuk mengetahui, mengumpulkan informasi dan menganalisis apakah genus Camellia memiliki potensi sebagai antikanker. Dan jenis sel kanker apa saja yang pertumbuhannya dapat dihambat oleh genus Camellia. Terdapat 5 spesies tanaman dari genus Camellia yang memiliki aktivitas antioksidan dan antikanker. Berdasarkan penelusuran pustaka bahwa beberapa penelitian membuktikan tanaman dari genus Camellia memiliki aktivitas antioksidan dan antikanker dengan senyawa yang teridentifikasi yaitu senyawa turunan fenol.. dan genus Camellia dapat menghambat sel kanker payudara MCF-7, MDA- MB-231, dan kanker prostat PC3.
Penelusuran Pustaka Potensi Aktivitas Antioksidan dan Serat Pangan Kulit Buah Naga Merah (Hylocereus polyrhizus) serta Pemanfaatannya dalam Pangan Fungsional Anggrilina Fitria; Kiki Mulkiya Yuliawati
Bandung Conference Series: Pharmacy Vol. 2 No. 2 (2022): Bandung Conference Series: Pharmacy
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (648.288 KB) | DOI: 10.29313/bcsp.v2i2.4583

Abstract

Abstract. The popularity of a healthy lifestyle in today's society is one of them is the consumption of functional foods. Red dragon fruit peel can be used as a functional food because it is known to contain high antioxidants and abundant nutrients. The purpose of this study was to examine the activity of antioxidants and compounds that play a role, to examine the dietary fiber contained in the skin of red dragon fruit, and to examine its functional food preparations. This research was conducted by searching the literature by searching for articles through digital databases, namely pubmed, sciencedirect, iopscience, and google scientist. Based on these searches, it is known that red dragon fruit peel has antioxidant activity. By using the parameter IC50 value, the IC50 value of red dragon fruit peel is 2.6949 g/mL. The IC50 value states that the smaller the value, the higher the antioxidant power. Another parameter is %inhibition, obtained %inhibition of red dragon fruit peel is 64.40%. The total antioxidant capacity of red dragon fruit peel is 102.69 mol FE(II)SE/g. The main bioactive compounds are betalains, flavonoids, phenolics, and other isomeric parts. The highest total dietary fiber in red dragon fruit skin is 70.3%. Utilization of red dragon fruit peel in functional food can be processed into fermented milk, beef sausage, ice cream, noodles, and marmalade. Abstrak. Kepopuleran pola hidup sehat di masyarakat masa kini satu diantaranya adalah konsumsi pangan fungsional. Kulit buah naga merah dapat dimanfaatkan menjadi pangan fungsional, karena diketahui mengandung antioksidan yang tinggi dan nutrisi yang melimpah. Tujuan penelitian ini adalah mengkaji aktivitas antioksidan beserta senyawa yang berperan, mengkaji serat pangan yang terdapat dalam kulit buah naga merah, serta mengkaji olahan pangan fungsionalnya. Penelitian ini dilakukan dengan penelusuran pustaka dengan mencari artikel melalui database digital yaitu pubmed, sciencedirect, iopscience, dan google scholar. Berdasarkan penelusuran tersebut diketahui bahwa kulit buah naga merah memiliki aktivitas antioksidan. Menggunakan parameter nilai IC50 didapatkan nilai IC50 kulit buah naga merah paling tinggi sebesar 2,6949 μg/mL. Nilai IC50 menyatakan bahwa semakin kecil nilai maka semakin tinggi kekuatan antioksidannya. Parameter lain yaitu %inhibisi, didapatkan %inhibisi kulit buah naga merah sebesar 64,40%. Total kapasitas antioksidan kulit buah naga merah sebesar 102,69 μmol FE(II)SE/g. Senyawa bioaktif utamanya betalain, flavonoid, fenolik, dan bagian isomer lainnya. Total serat pangan pada kulit buah naga merah paling tinggi adalah sebesar 70,3%. Pemanfaatan kulit buah naga merah pada pangan fungsional dapat diolah menjadi susu fermentasi, sosis sapi, es krim, mi, dan marmalade.
Studi Literatur Aktivitas Antioksidan Senyawa Antosianin dalam Ekstrak Bunga Telang (Clitoria ternatea L.) serta Aktivitas Farmakologinya terhadap Penyakit Diabetes Melitus Selyatul Amaliah; Kiki Mulkiya Yuliawati
Bandung Conference Series: Pharmacy Vol. 2 No. 2 (2022): Bandung Conference Series: Pharmacy
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (451.534 KB) | DOI: 10.29313/bcsp.v2i2.4678

Abstract

Abstract. Antioxidants are compound that have the ability netralize free radicals by donating electrons to free radical compounds. Antioxidant compounds can prevent damage caused by free radicals. Increased oxidateive stress plays an important role in the occurence of various degenerative disease such as diabetes mellitus. Plants that have antioxidant and antidiabetic activity are telang flower (Clitoria ternatea L.) because the telang flower contains anthocyanin compounds. The purpose of this literature study was to determine the potential of the anthicyanin compounds in the telang flower extract (Clitoria ternatea L.) as antioxidants, determine the potential of anthocyanin compound in the telang flower extract (Clitoria ternatea L.) as antidiabetic, and to determine the types of anthocyanins that have antidiabetic activity. The research metode used is to search for literature from articles that have been published in National Journals and International Journals. The result of the study show that the telang flower has a good potential ability to scavenging DPPH free radicals which can be seen from the IC50 value produce in the range of 23.75 ppm – 106,863 ppm in the medium – very strong category. In addition, telang flowers has antidiabetic activity with various mechanisms of lowering blood glucose, including triggering insulin secretion from β-pancreatic cells. Inhibiting the formation of advanced glycation end products (AGEs), and increasing blood glucose absorption. Types of anthocyanin compounds that have antidiabetic activity are cyanidin-3-glucoside dan delfinidin 3-glucoside. Abstrak. Antioksidan adalah senyawa yang memiliki kemampuan untuk menetralkan radikal bebas dengan cara mendonorkan elektronnya pada senyawa radikal bebas. Senyawa antioksidan dapat mencegah kerusakan yang ditimbulkan oleh radikal bebas. Peningkatan stres oksidatif sangat berperan pada terjadinya berbagai penyakit degeneratif seperti diabetes melitus. Tanaman yang memiliki aktivitas antioksidan dan antidiabetes yaitu bunga telang (Clitoria ternatea L.) karena pada bunga telang terkandung senyawa antosianin. Tujuan dari studi literatur ini untuk mengetahui potensi senyawa antosianin yang dihasilkan ekstrak bunga telang (Clitoria ternatea L) sebagai antioksidan, mengetahui potensi senyawa antosianin dalam ekstrak bunga telang (Cltoria ternatea L.) sebagai antidiabetes, serta mengetahui jenis antosianin yang memiliki aktivitas antidiabetes. Metode penelitian yang dilakukan yaitu mencari pustaka dari artikel yang telah dipublikasikan dalam Jurnal Nasional maupun Jurnal Internasional. Hasil studi literatur menunjukkan bunga telang memiliki potensi kemampuan yang baik dalam menangkap radikal bebas DPPH yang dapat diketahui dari nilai IC50 yang dihasilkan berada pada kisaran 23,75 ppm – 106,863 ppm dengan kategori sedang – sangat kuat. Selain itu, bunga telang memiliki aktivitas antidiabetes dengan berbagai mekanisme penurunan gula darah, diantaranya merangsang seksresi insulin dari sel β-pankreas, menghambat pembentukan produk akhir glikasi lanjut (Advanced glycation end product- AGEs), serta meningkatkan penyerapan gula darah. Jenis senyawa antosianin yang memiliki aktivitas antidiabetes adalah Sianidin-3-Glukosida dan Delfinidin 3-Glukosida.
Uji Aktivitas Antioksidan Sari Buah Delima Putih (Punica granatum L.) Menggunakan Metode DPPH yang Diformulasikan Menjadi Permen Jelly Eky Bagus Wahyudi; Livia Syafnir; Kiki Mulkiya Yuliawati
Bandung Conference Series: Pharmacy Vol. 2 No. 2 (2022): Bandung Conference Series: Pharmacy
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (212.377 KB) | DOI: 10.29313/bcsp.v2i2.4692

Abstract

Abstract. This study aimed to determine the secondary metabolite content of white pomegranate juice, to test the antioxidant activity of white pomegranate juice (Punica Granatum L) and white pomegranate juice jelly candy. The white pomegranate used comes from Indramayu Regency, Haurgeulis District. White pomegranate is one of the natural ingredients that have the potential as a source of natural antioxidants. White pomegranate juice was analyzed for its secondary metabolite content using phytochemical screening, the results of phytochemical screening identified alkaloids, flavonoids, phenols, tannins, and terpenoids. The antioxidant activity test used the 1,1-diphenyl-2-picrylhydrazyl (DPPH) method. Analysis of antioxidant strength by calculating the IC50 value based on the percent reduction of free radicals by the test sample. Based on the data obtained, the IC50 value of white pomegranate juice was 223.46 ppm, then the IC50 value of jelly candy was F1 1337.62 ppm, F2 835.83 ppm, F3 609.75 ppm. The results showed that as the white pomegranate juice increased, the antioxidant activity of the jelly candy increased. Abstrak. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kandungan metabolit sekunder sari buah delima putih, menguji aktivitas antioksidan sari buah delima putih (Punica Granatum L) dan permen jelly sari buah delima putih. Buah delima putih yang digunakan berasal dari Kabupaten Indramayu, Kecamatan Haurgeulis. Buah delima putih merupakan salah satu bahan alam yang memilki potensi sebagai sumber antioksidan alami. Sari buah delima putih dianalisis kandungan metabolit sekundernya dengan cara skrining fitokimia, hasil skrining fitokimia terindentifikasi senyawa alkaloid, flavanoid, fenol, tanin, dan terpenoid. Pengujian aktivitas antioksidan menggunakan metode 1,1-difenil-2-pikrilhidrazil (DPPH). Analisis kekuatan antioksidan dengan menghitung nilai IC50 yang didasarkan pada persen peredaman radikal bebas oleh sampel uji. Berdasarkan data yang diperoleh nilai IC50 sari buah delima putih sebesar 223.46 ppm, lalu nilai IC50 permen jelly sebesar F1 1337.62 ppm, F2 835.83 ppm F3 609.75 ppm. Hasil penelitian menunjukan bahwa seiring bertambahnya sari buah delima putih maka aktivitas antioksidan pada permen jelly akan meningkat.
Penelusuran Pustaka Potensi Aktivitas Antioksidan dari Suku Malvaceae Menggunakan Metode DPPH Geofanny Mozataufika; Kiki Mulkiya Yuliawati; Livia Syafnir
Bandung Conference Series: Pharmacy Vol. 2 No. 2 (2022): Bandung Conference Series: Pharmacy
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (596.769 KB) | DOI: 10.29313/bcsp.v2i2.4698

Abstract

Abstract. Degenerative disease is a disease that is very often experienced by the elderly. Where this disease can cause death. Plants from the Malvaceae tribe can be used as treatment and prevention of degenerative diseases. This literature search aims to collect and analyze research results related to the antioxidant activity of plant parts of the Malvaceae tribe and identify compounds that contribute to producing antioxidant compounds. There are 8 types of plants belonging to the Malvaceae family scattered in West Java which have the potential to have antioxidant activity for the treatment and prevention of degenerative diseases. The most commonly used plant parts are the leaves. Fruit and fruit skin. By using the maceration extraction method and testing the antioxidant activity using the dpph method. With chemical compounds commonly found in plants of the Malvaceae tribe, namely phenolic compounds, flavonoids, and alkaloids. As for the durian plant, Durio zibenthinus has the highest antioxidant activity of 9.850 g/ml on the skin of the fruit. Abstrak. Penyakit degeneratif merupakan penyakit yang sangat sering dialami oleh usia lanjut. Dimana penyakit ini dapat menyebabkan kematian. Tanaman dari suku Malvaceae mampu dimanfaatkan sebagai pengobatan dan pencegahan penyakit degenerative karena memiliki aktivitas antioksidan. Dilakukan penelusuran pustaka ini bertujuan untuk mengumpulkan dan menganalisis hasil penelitian terkait aktivitas antioksidan dari bagian tanaman pada suku Malvaceae dan mengidentifikasi senyawa yang berkontribusi menghasilkan senyawa antioksidan. Terdapat 8 jenis tanaman suku Malvaceae yang tersebar di jawa barat yang berpotensi memiliki aktivitas antioksidan untuk pengobatan dan pencegahan penyakit degeneratif diantaranya yaitu tanaman durian, okra, rosella, coklat, pungpulutan, waru dan juga tanaman kapuk. Dengan bagian tanaman yang umum digunakan yaitu pada bagian daun. Buah, dan kulit buah. Dengan menggunakan metode ekstraksi maserasi dan pengujian aktivitas antioksidan menggunakan metode dpph. Dengan senyawa kimia yang umum terdapat pada tanaman suku Malvaceae yaitu senyawa fenol, flavonoid, dan alkaloid. Adapun pada tanaman durian (Durio zibenthinus) memiliki aktivitas antioksidan paling tinggi yaitu sebesar 9,850 µg/ml pada bagian kulit buahnya.
Penelusuran Pustaka Potensi Sayuran dari Genus Brassica sebagai Antibakteri Miaranti Tia Azhariani; Kiki Mulkiya Yuliawati; Livia Syafnir
Bandung Conference Series: Pharmacy Vol. 2 No. 2 (2022): Bandung Conference Series: Pharmacy
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (162.943 KB) | DOI: 10.29313/bcsp.v2i2.4817

Abstract

Abstract. The genus Brassica is one of the largest genera of flowering plants, which has more than 3000 species distributed worldwide. In addition, in this genus Brassica there are many types of vegetables that are beneficial to human life. This literature search aims to determine the potential of vegetables from the genus Brassica such as cabbage, broccoli and radishes as antibacterial, to know the extraction method, to know their secondary metabolites and the mechanism of action of secondary metabolites produced by the genus Brassica as antibacterial. The methodology used is a library search on the website. The results of the literature search showed that the Brassica genus of cabbage, broccoli and radish had antibacterial potential against Staphylococcus aureus, Staphylococcus epidermidis, Bacillus subtilis, Staphylococcus mutans, Escherichia coli, Pseudomonas aeruginosa, Klebsiella pneumonia. Shigella sonei, Salmonella paratyphi, Salmonella thypi dan Proteus vulgaris. With maceration and Soxhlet extraction methods and suspected antibacterial compounds derived from the genus Brassica, namely glucosinolates which act as typical compounds from the genus Brassica and other compounds flavonoids, polyphenols, tannins, saponins and alkaloids. With the mechanism of the compound inhibits the synthesis of bacterial cell walls. Abstrak. Genus Brassica merupakan salah satu genus tanaman berbunga terbesar, yang memiliki lebih dari 3000 spesies yang terdistribusi di seluruh dunia. Selain itu dalam genus Brassica ini terdapat banyak jenis sayuran yang bermanfaat bagi kehidupan manusia. Penelusuran pustaka ini bertujuan untuk mengetahui potensi sayuran dari genus Brassica jenis kubis, brokoli dan lobak sebagai antibakteri, mengetahui metode ekstraksi nya, mengetahui senyawa metabolit sekunder nya dan mekanisme kerja senyawa metabolit sekunder yang dihasilkan genus Brassica sebagai antibakteri. Dengan metodelogi yang digunakan yaitu penelusuran pustaka pada website. Hasil penelusuran pustaka yang diperoleh menunjukkan bahwa genus Brassica jenis kubis, brokoli dan lobak memiliki potensi antibakteri terhadap Staphylococcus aureus, Staphylococcus epidermidis, Bacillus subtilis, Staphylococcus mutans, Escherichia coli, Pseudomonas aeruginosa, Klebsiella pneumonia. Shigella sonei, Salmonella paratyphi, Salmonella thypi dan Proteus vulgaris. Dengan metode ekstraksi maserasi dan Soxhlet dan diduga antibakteri berasal dari senyawa khas genus Brassica yaitu glukosinolat yang berperan sebagai senyawa khas dari genus Brassica dan senyawa lain flavonoid, polifenol, tanin, saponin dan alkaloid. Dengan mekanisme senyawa menghambat sintesis dinding sel bakteri.
Penetapan Kadar Flavonoid Ekstrak Etanol Daun Sirih Merah (Piper Ornatum N.E.Br.) Giffar Abdiljabbar Najmudin; Yani Lukmayani; Kiki Mulkiya Yuliawati
Bandung Conference Series: Pharmacy Vol. 3 No. 2 (2023): Bandung Conference Series: Pharmacy
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsp.v3i2.8614

Abstract

Abstract. The red betel plant (Piper ornatum N.E.Br.) has been used empirically and has been shown to have various pharmacological activities. The red betel plant contains various chemical compounds, one of which is flavonoids. The purpose of this study was to determine the levels of red betel leaf flavonoid compounds expressed in QE (Quercetin equivalent). The extraction method used maceration with 96% ethanol as a solvent and the determination of flavonoid content of the ethanol extract of red betel leaves was carried out spectrophotometrically with AlCl3 reagent. The results of determining the levels of flavonoids showed levels of 4.07 mgQE/gram extract with flavonol type flavonoids. Abstrak. Tanaman sirih merah (Piper ornatum N.E.Br.) telah digunakan secara empiris dan terbukti memiliki berbagai macam aktivitas farmakologi. Tanaman sirih merah mengandung berbagai senyawa kimia, salah satunya flavonoid. Tujuan pada penelitian ini untuk menetapkan kadar senyawa flavonoid daun sirih merah yang dinyatakan dalam QE (Quercetin equivalent). Metode ekstraksi menggunakan maserasi dengan etanol 96% sebagai pelarut dan penetapan kadar flavonoid ekstrak etanol daun sirih merah dilakukan secara spektrofotometri dengan pereaksi AlCl3. Hasil penetapan kadar flavonoid menunjukkan kadar sebesar 4,07 mgQE/gram ekstrak dengan flavonoid jenis flavonol.