Claim Missing Document
Check
Articles

Found 33 Documents
Search

UJI AKTIVITAS ANTIBAKTERI EKSTRAK DAUN KELOR (Moringa oleifera L.) TERHADAP BAKTERI Staphylococcus epidermidis Deva Nissyarah Effendi; Kiki Mulkiya Yuliawati; Vinda Maharani Patricia
Bandung Conference Series: Pharmacy Vol. 3 No. 2 (2023): Bandung Conference Series: Pharmacy
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract. Moringa plants (Moringa oleifera L.) have many benefits, one of which is found in the leaves. Moringa leaves (Moringa oleifera L.) contain secondary metabolite compounds in the form of flavonoids, alkaloids, saponins and tannins. In addition, Moringa leaves (Moringa oleifera L.) are thought to inhibit bacteria. This study aims to determine the antibacterial activity of Moringa leaves ethanol extract of Moringa leaves (Moringa oleifera L.). The extract was made by maceration using 96% ethanol as solvent. Antibacterial testing in this study used the wells diffusion method with concentrations of 2%, 4%, 6%, 8% and 10% b/v. The results showed that the inhibition zone of moringa leaf ethanol extract was 4% on Staphylococcus epidermidis bacteria by 8.2 mm . So It can be concluded that ethanolic extract of Moringa leaves had the potential to inhibit Staphylococcus epidermidis. Abstrak. Tanaman kelor (Moringa oleifera L.) memiliki banyak manfaat, salah satunya terdapat pada bagian daunnya. Daun kelor (Moringa oleifera L.) mengandung senyawa metabolit sekunder berupa flavonoid, alkaloid, saponin dan tanin. Selain itu, daun kelor (Moringa oleifera L.) diduga dapat menghambat bakteri. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas antibakteri ekstrak etanol daun kelor (Moringa oleifera L.). Ekstrak dibuat dengan metode maserasi menggunakan pelarut etanol 96%. Pengujian antibakteri pada penelitian ini menggunakan metode difusi sumuran dengan konsentrasi 2%, 4%, 6%, 8%, dan 10% b/v. Hasil penelitian menunjukkan bahwa zona hambat ekstrak etanol daun kelor konsentrasi 4% terhadap bakteri Staphylococcus epidermidis sebesar 8,2 mm. Sehingga dapat disimpulkan bahwa ekstrak etanol daun kelor memiliki potensi untuk menghambat Staphylococcus epidermidis
EDUKASI PENGGUNAAN SUPLEMEN DAN HERBAL PENINGKAT IMUNITAS DI KELURAHAN KARASAK KOTA BANDUNG Fetri lestari; Yani lukmayani; Ratih Aryani; Kiki Mulkiya Yuliawati
Jurnal Pengabdian Masyarakat (Jupemas) Vol 2, No 2 (2021)
Publisher : Universitas Bakti Tunas Husada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36465/jupemas.v2i2.860

Abstract

Peningkatan kasus Covid-19 di Kota Bandung berdampak pada kebutuhan akan peningkatan imunitas tubuh, selain diterapkannya protokol kesehatan dalam mencegah penularan virus. Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) ini bertujuan memberikan edukasi mengenai penggunaan suplemen dan herbal untuk meningkatkan imunitas tubuh, serta cara mengolah herbal di rumah. Program dilakukan di Kelurahan Karasak, Kecamatan Astanaanyar Kota Bandung pada bulan April 2021, berupa ceramah dan penayangan video. Evaluasi peningkatan pemahaman peserta berupa  skor tes akhir, dibandingkan dengan skor tes awal.  Kegiatan PKM ini berhasil meningkatkan pemahaman peserta mengenai suplemen dan herbal peningkat imunitas sebesar 36,2% berdasarkan hasil tes. Untuk mendorong keberdayaan warga dalam budidaya TOGA, diberikan 100 bibit jahe merah sekaligus dalam rangka mendukung pendirian Kampung Jahe di Kelurahan Karasak. Selain itu juga diberikan bibit cabe rawit dan set peralatan untuk penanaman secara hidroponik. Setelah dilaksanakannya PKM ini diharapkan agar warga memahami penggunaan suplemen dan herbal yang tepat sebagai upaya menjaga imunitas dan cara mengolah herbal, serta aktif membudidaya TOGA.
Penelusuran Pustaka Potensi Aktivitas Antioksidan dari Biji Pepaya (Carica Papaya L) CHELIA; Kiki Mulkiya Yuliawati
Bandung Conference Series: Pharmacy Vol. 3 No. 1 (2023): Bandung Conference Series: Pharmacy
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsp.v3i1.6991

Abstract

Abstract. Papaya (Carica papaya L.) is a local plant in Indonesia that almost all parts provide benefits. The seeds of papaya are not widely known for their properties, one of which is as an antioxidant. The purpose of this literature search is to determine the potential antioxidant activity of papaya seeds with different methods. The test methods used in this study are DPPH, FRAP, and TEAC. In the DPPH test method using the extraction method, namely maceration, the antioxidant activity of papaya seeds is seen from the IC50 value which ranges from 53.1 bpj - 285.77 µg/ml and in the reflux method the IC50 value is 462.7 ppm. This value shows the smaller the IC50 value, the greater the antioxidant activity. Then in the FRAP test method, the highest value was obtained as 1116.67 ± 7.6376 A (µmolFeSO4/g DW) and the TEAC method was 4.75 ± 0.66 A (mmolTrolox/g DW). The values of FRAP AND TEAC methods showed that the higher the value obtained, the greater the antioxidant activity. Abstrak. Tanaman Pepaya (Carica papaya L.) merupakan tanaman lokal di indonesia yang hampir semua bagiannya memberikan manfaat. Pada bagian biji dibuah pepaya ini belum banyak diketahui khasiatnya, salah satunya sebagai antioksidan. Tujuan dari penelusuran pustaka ini adalah untuk mengetahui potensi aktivitas antioksidan dari biji pepaya dengan metode yang berbeda. Metode pengujian yang digunakan dalam penelitian ini adalah DPPH, FRAP, dan TEAC. Pada metode pengujian dengan DPPH yang menggunakan metode ekstraksi maserasi yaitu diperoleh nilai IC50 berkisar pada rentang 53,1 bpj - 285,77 µg/mL dan pada metode refluks nilai IC50 sebesar 462,7 ppm. Nilai tersebut menunjukkan semakin kecil nilai IC50 maka aktivitas antioksidannya semakin besar. Lalu pada metode FRAP diperoleh nilai tertinggi sebesar 1116.67 ±7.6376 A(µmolFeSO4/gDW) dan metode TEAC nilainya adalah 4.75± 0.66(µmolTrolox/gDW). Nilai dari metode FRAP dan TEAC menunjukkan bahwa semakin tinggi nilai yang diperoleh maka semakin besar aktivitas antioksidannya.
Potensi Kombinasi Ekstrak Spirulina Platensis Dan Ekstrak Biji Kopi Robusta (Coffea canephora Pierre Ex A. Froehner) Sebagai Antijerawat Muhammad Reza Al Fikri; Indra Topik Maulana; Kiki Mulkiya Yuliawati
Bandung Conference Series: Pharmacy Vol. 3 No. 2 (2023): Bandung Conference Series: Pharmacy
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsp.v3i2.9069

Abstract

Abstract. Indonesia Indonesia is a region rich in Spirulina platensis and Coffea canephora, which have the potential as antibacterial agents. This needs to be further developed and utilized for pharmaceutical preparations as its potential grows over time. This research aims to test the antibacterial activity against Propionibacterium acnes using the agar diffusion method. Based on the research results, the antibacterial activity of Spirulina platensis extract at a concentration of 25% exhibited an inhibition zone diameter of 13.04mm, categorized as strong within the range of (10-20mm). For Coffea canephora extract, at a concentration of 10%, it showed an inhibition zone diameter of 10.11mm, classified as strong within the range of (10-20mm). Meanwhile, the combination of Spirulina platensis and Coffea canephora extracts (at a ratio of 1:2) resulted in an inhibition zone diameter of 20.2mm, placing it in the category of very strong within the range of (>20-30mm). Abstrak. Indonesia merupakan wilayah yang kaya akan Spirulina platensis dan Coffea canephora yang berpotensi sebagai antibakteri. Hal ini perlu dikembangkan dan dimanfaatkan potensinya sebagai sediaan farmasi yang seiring waktu meningkat. Penelitian ini bertujuan untuk menguji aktivitas antibakteri terhadap Propionibacterium acnes menggunakan metode difusi agar sumuran. Berdasarkan hasil penilitian didapatkan aktivitas antibakteri Spirulina plantesis ekstrak pada konsentrasi 25% dengan diameter hambat sebesar 13,04mm dapat dikategorikan kuat dengan rentang (10-20mm), pada Coffeaa canephora ekstrak didapatkan pada konsentrasi 10% dengan diameter hambat sebesar 10,11mm dikategorikan kuat denga rentang (10-20mm), sedangkan pada kombinasi ekstrak Spirulina plantesis dan Ccoffea canephora (1:2) sebesar 20,2mm hasil tersebut berada pada kategori sangat kuat dengan rentang (>20-30mm).
Isolasi Senyawa Antioksidan Ekstrak Buah Takokak (Solanum torvum) Tsaniya Fatima Khanza; Kiki Mulkiya Yuliawati; Yani Lukmayani
Bandung Conference Series: Pharmacy Vol. 3 No. 2 (2023): Bandung Conference Series: Pharmacy
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsp.v3i2.9082

Abstract

Abstrak. Buah takokak (Solanum torvum) diketahui memiliki potensi senyawa untuk dimanfaatkan dalam pengobatan sebagai antimikroba, antiulserogenik, anti-platelet aggregation, anti inflamatori, modifikasi tekanan darah sistolik, aktivitas sitotoksik, dan antioksidan. Dalam penelitian ini dilakukan isolasi senyawa yang memiliki aktivitas antioksidan dari buah takokak. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengisolasi senyawa antioksidan yang terdapat pada buah takokak (Solanum torvum). Simplisia buah takokak (Solanum torvum) diekstraksi menggunakan metode maserasi dengan pelarut etanol 96%, kemudian di fraksinasi menggunakan metode ekstraksi cair-cair, lalu dilakukan pula pemurnian dan uji kemurnian, serta dilakukan pemantauan aktivitas antioksidan menggunakan metode DPPH (1,1-difenil-2-pikrilhidrazil) hingga diperoleh isolat murni. Hasil proses isolasi menggunakan KLT menunjukkan bahwa buah takokak memiliki kandungan senyawa yang berpotensi sebagai antioksidan pada nilai Rf 0,4 dengan menggunakan pengembang kloroform dan metnol (9:1). Kata Kunci: Antioksidan, buah takokak (Solanum torvum), DPPH, radikal bebas Abstract. Takokak fruit (Solanum torvum) is known to have potential compounds to be used in medicine as antimicrobial, antiulcerogenic, anti-platelet aggregation, anti-inflammatory, systolic blood pressure modification, cytotoxic activity, and antioxidant. In this study, the isolation of compounds that have antioxidant activity from takokak fruit was carried out. This study aimed to isolate the antioxidant compounds found in takokak fruit (Solanum torvum) fruit.Simplicia of takokak fruit (Solanum torvum) was extracted using the maceration method with 96% ethanol solvent, then fractionated using the liquid-liquid extraction method, purification, and purity testing were also carried out, and antioxidant activity was monitored using the DPPH (1,1-diphenyl-2-picrylhydrazyl) method until pure isolates were obtained. The results of the isolation using prep TLC showed compounds that have the potential as antioxidants at Rf value of 0.4 using chloroform and methanol (9:1). Keywords: Antioxidant, takokak fruit (Solanum torvum), DPPH, free radicals.
UJI EFEKTIVITAS EKSTRAK ETANOL DAN FRAKSI AIR BUAH LEUNCA (Solanum nigrum L.) SEBAGAI BIOLARVASIDA TERHADAP LARVA NYAMUK PENYEBAB FILARIASIS (Culex sp) Ariel Dhafa Rais; Esti Rachmawati Sadiyah; Kiki Mulkiya Yuliawati
Bandung Conference Series: Pharmacy Vol. 3 No. 2 (2023): Bandung Conference Series: Pharmacy
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsp.v3i2.9123

Abstract

Abstract. Filariasis infects more than 1.3 billion people in 72 countries. The number of clinical cases of filariasis in Indonesia based on cumulative data until 2013 was found to be 12,714 cases. The disease is transmitted by Culex sp mosquitoes as the main vector. One of the plants that can be utilised as a larvicide is black nightsade (Solanum nigrum L.) which contains glycoalkaloids in young fruit that are toxic. The purpose of this study was to determine the larvicidal effectiveness of extracts and water fractions of leunca fruit against Culex sp, Extraction was carried out using a cold method, namely maceration with solvents used 96% ethanol and liquid-liquid extraction (LLE) using a separating funnel. the concentration of extracts of 0,05%, 0.1%, 0.2%, 0,5%, 1%, and 2% of leunca fruit were used in larvacidal test and larva death was observed at larvae at 1 hour, 4 hours, 8 hours, 12 hours and 24 hours observation, respectivelyThe LC50 (Lethal Concentration) results of ethanol extract obtained were 0.0035% and water fraction 0.0983%. It can be concluded that the ethanol extract of leunca fruit showed active toxicity against test animals and the water fraction was not effective. Keywords: Solanum nigrum, Larvicide, Culex sp, Lethal Concentration (LC50) Abstrak. Penyakit filariasis menginfeksi lebih dari 1,3 miliar penduduk di 72 negara. Jumlah kasus klinis filariasis di Indonesia berdasarkan data kumulatif sampai tahun 2013 ditemukan sejumlah 12.714 kasus. Penyakit ini ditularkan nyamuk Culex sp sebagai vektor utamanya. Salah satu tanaman yang dapat dimanfaatkan sebagai larvasida adalah tanaman leunca (Solanum nigrum L.) yang mengandung glikoalkaloid pada buah muda yang besifat racun. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui efektivitas larvasida ekstrak etanol dan fraksi air buah terhadap Culex sp, dilakukan ekstraksi menggunakan cara dingin yaitu maserasi dengan pelarut yang digunakan etanol 96% dan fraksi ekstraksi cair cair (ECC) menggunakan corong pisah. Konsentrasi ekstrak berturut turut 0,05%, 0,1%, 0,2%, 0,5%, 1%, dan 2% buah leunca yang paling efektif untuk membunuh larva Culex sp pada pengamatan 1 jam, 4 jam, 8 jam, 12 jam dan 24 jam. Hasil LC50 (Lethal Concentration) ekstrak etanol dan fraksi air berturut-turut sebesar 0,0035% dan fraksi air 0,0983%. Dapat disimpulkan bahwa ekstrak etanol buah leunca memiliki toksisitas kriteria aktif terhadap hewan uji sedangkan fraksi air tidak efektif. Kata Kunci: Solanum nigrum, Larvasida, Culex sp, Lethal Concentration (LC50)
Pengujian Aktivitas Antibakteri Ekstrak Kulit Buah Naga Merah (Hylocereus Polyrhizus) Terhadap Staphylococcus Aureus Ima Sukmawati; Kiki Mulkiya Yuliawati
Bandung Conference Series: Pharmacy Vol. 4 No. 1 (2024): Bandung Conference Series: Pharmacy
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsp.v4i1.12175

Abstract

Abstract. Red dragon fruit peel has the potential to produce pharmacological activity with its various contents, including phenolic compounds, flavonoids, polyphenols and has benefits, one of which is antibacterial. This research aims to determine the potential antibacterial activity of red dragon fruit peel against Staphylococcus aureus bacteria through the inhibition zone produced and to determine the secondary metabolite compounds contained in red dragon fruit peel. The extraction method was the digestion method with 96% ethanol solvent. And the antibacterial testing method used is the agar well diffusion method. The sample concentrations used were 12.5%, 25% and 50% with the comparison compound Phytochemical screening result showed that of red dragon fruit peel contain of alkaloids, flavonoids and saponins. Abstrak. Kulit buah naga merah mempunyai potensi untuk menghasilkan aktivitas farmakologi dengan berbagai kandungan yang dimilikinya, antara lain senyawa fenolik, flavonoid, polifenol dan mempunyai manfaat salah satunya adalah sebagai antibakteri. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui potensi aktivitas antibakteri kulit buah naga merah terhadap bakteri Staphylococcus aureus melalui zona hambat yang dihasilkan serta mengetahui senyawa metabolit sekunde yang terkandung di dalam kulit buah naga merah. Metode ekstraksi yang digunakan pada penelitian ini adalah metode digesti dengan pelarut etanol 96%. Dan metode pengujian antibakteri yang digunakan adalah metode difusi agar sumuran. Konsentrasi sampel yang digunakan 12,5%,25% dan 50% dengan senyawa pembanding adalah amoksilin dengan konsentrasi 0,2%. Diameter zona hambat yang dihasilkan sebesar 28,3 mm pada konsentrasi 50%. Hasil skrining fitokimia kulit buah naga merah menunjukan adanya senyawa alkaloid, flavonoid dan saponin
Gambaran Peresepan Tanaman Obat Antidiabetes di Rumah Riset Jamu (RRJ) Hortus Medicus Tawangmangu Dita Afriantika; Kiki Mulkiya Yuliawati; Yani Lukmayani
Bandung Conference Series: Pharmacy Vol. 4 No. 2 (2024): Bandung Conference Series: Pharmacy
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsp.v4i2.15021

Abstract

Abstract. Diabetes Mellitus is a metabolic disorder caused by pancreatic beta cells which cannot produce enough insulin or cannot use the insulin produced effectively, resulting in increased blood sugar levels or hyperglycemia. Treatment carried out to treat diabetes mellitus uses traditional herbal medicine. Some of the plants used include bitter (Andrograhphis paniculata), cinnamon (Cinnamomum burmanii), and ginger (Curcuma xanthorriza). This study aims to determine the prescribing pattern and effectiveness of prescribing a combination of simplicia for diabetes mellitus patients at the Hortus Medicus Tawangmangu Jamu Research House (RRJ) in the period January – June 2023. The research method used is the descriptive method with retrospective data collection. From the results of this research, data was obtained that the description of the prescription of medicinal plants to reduce the condition of diabetes mellitus, the main ones are bitter, cinnamon, bay leaves, and ginger. Then other medicinal plants were also added such as Javanese chilies, ginger for complaints of fatigue, gotu kola and black cumin for complaints of tingling, secang and miana for complaints of blurred vision, meniran, turmeric, and ginger for complaints of sore feet and soles, sedge grass, lemongrass, and bittersweet for complaints of body itching, then ginger to overcome weight loss Abstrak. Diabetes Melitus merupakan gangguan metabolik yang diakibatkan oleh sel beta pankreas yang tidak dapat memproduksi cukup insulin atau tidak dapat menggunakan insulin yang diproduksi secara efektif sehingga terjadi peningkatan kadar gula di dalam darah atau hiperglikemia. Pengobatan yang dilakukan untuk mengatasi diabetes mellitus dengan memanfaatkan obat herbal tradisional. Beberapa tanaman yang digunakan antara lain sambiloto (Andrograhphis paniculata), kayu manis (Cinnamomum burmanii), dan temulawak (Curcuma xanthorriza). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran peresepan dan efektivitas pemberian resep kombinasi simplisia untuk pasien diabetes mellitus di Rumah Riset Jamu (RRJ) Hortus Medicus Tawangmangu pada periode Januari – Juni 2023. Metode penelitian yang digunakan yaitu metode deskriptif dengan pengumpulan data secara retrospektif. Dari hasil penelitian ini, diperoleh data bahwa gambaran peresepan tanaman obat untuk mengurangi kondisi diabetes mellitus yang utama adalah sambiloto, kayu manis, daun salam, dan temulawak. Kemudian ditambahkan juga tanaman obat lain seperti cabe jawa, jahe untuk keluhan mudah lelah, pegagan dan jinten hitam untuk keluhan kesemutan, secang dan miana untuk keluhan penglihatan kabur, meniran, kunyit, dan temulawak untuk keluhan luka di kaki dan telapak sakit, rumput teki, sereh, dan sambiloto untuk keluhan badan gatal, kemudian temulawak untuk mengatasi berat badan turun.
Pengujian Potensi Antibakteri Ekstrak Etanol 96% dan Fraksi Daun Pecut Kuda (Stachytarpheta jamaicensis (L.) Vahl) terhadap Bakteri Staphylococcus aureus Siti Khoirunnisa; Esti Rachmawati Sadiyah; Kiki Mulkiya Yuliawati
Bandung Conference Series: Pharmacy Vol. 4 No. 2 (2024): Bandung Conference Series: Pharmacy
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsp.v4i2.15061

Abstract

Abstract. Staphylococcus aureus is a bacterium that causes infections characterized by tissue damage. Infections that occur range from mild infections to serious infections and even cause death. Horse whip leaves (Stachytarpheta jamaicensis (L.) Vahl) are known to have potential as antibacterials that are often used empirically. The study aims to test the antibacterial activity of extracts and fractions of horse whip leaves (Stachytarpheta jamaicensis (L.) Vahl) against Staphylococcus aureus bacteria, determine its KHM value, and to analyze the content of compounds in extracts and fractions. The method of determining specific and nonspecific parameters, extraction by maceration method using 96% ethanol solvent, fractionation by Liquid-Liquid Extract method using solvents with increasing polarity, phytochemical screening, and testing antibacterial activity using agar diffusion method with wells. The ethanol extract of horse whip leaves has stronger antibacterial activity than the fraction based on the inhibition diameter obtained at concentrations of 30%, 35%, and 40%. The KHM value of ethanol extract is 15%. It can be concluded that the ethanol extract has stronger antibacterial activity with a KHM value of 15%, presumably related to the content of flavonoids, tannins, saponins, and steroid compounds that are antibacterial in the extract. Abstrak. Staphylococcus aureus adalah bakteri penyebab infeksi yang ditandai dengan adanya kerusakan jaringan. Infeksi yang terjadi mulai dari infeksi ringan sampai infeksi yang serius bahkan hingga menyebabkan kematian. Daun pecut kuda (Stachytarpheta jamaicensis (L.) Vahl) diketahui memiliki potensi sebagai antibakteri yang seringkali dimanfaatkan secara empiris. Penelitian bertujuan untuk menguji aktivitas antibakteri dari ekstrak dan fraksi daun pecut kuda (Stachytarpheta jamaicensis (L.) Vahl) terhadap bakteri Staphylococcus aureus, menentukan nilai KHM-nya, dan untuk menganalisis kandungan senyawa dalam ekstrak dan fraksi. Metode penetapan parameter spesifik dan nonspesik, ekstraksi dengan metode maserasi menggunakan pelarut etanol 96%, fraksinasi dengan metode Ekstrak Cair-Cair menggunakan pelarut dengan kepolaran yang semakin meningkat, penapisan fitokimia, dan pengujian aktivitas antibakteri menggunakan metode difusi agar dengan cara sumuran. Ekstrak etanol daun pecut kuda memiliki aktivitas antibakteri lebih kuat dari fraksi berdasarkan diameter hambat yang diperoleh pada konsentrasi 30%, 35%, dan 40%. Nilai KHM ekstrak etanol yaitu 15%. Dapat disimpulkan bahwa ekstrak etanol memiliki aktivitas antibakteri lebih kuat dengan nilai KHM sebesar 15%, diduga berkaitan dengan kandungan senyawa flavonoid, tanin, saponin, dan steroid yang bersifat sebagai antibakteri di dalam ekstrak.
Uji Sitotoksik Kulit Buah Naga Merah (Selenicereus monacanthus (Lem.) D.R.Hunt) dengan Metode Brine Shrimp Lethality Test (BSLT). Gishela Bellania; Kiki Mulkiya Yuliawati; Vinda Maharani Patricia
Bandung Conference Series: Pharmacy Vol. 4 No. 2 (2024): Bandung Conference Series: Pharmacy
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsp.v4i2.15221

Abstract

Abstract. Red dragon fruit peel is now widely sold as a health medicine consumed by consumers. Therefore, it is necessary to carry out tests to determine the effectiveness and safety of the product. This research aims to determine the ethanol extract produced from the maceration and digestion methods at concentrations (62.5 ppm, 125 ppm, 250 ppm, 500 ppm, 1000 ppm) for 24 hours. The method used was the Brine Shrimp Lethality Test (BSLT) which is measured in the death of Artemia fransiscana. The results of the research showed that the LC50 value of red dragon fruit peel maceration extract and digestion were 75.25 μg/ml and 96.09 μg/ml. respectively and the LC50 value for digestion was 96.09 μg/ml. With an LC50 value of more than 30 ppm, the ethanol extract of red dragon fruit peel produced by maceration or digestion methods is toxic. Abstrak. Kulit buah naga merah kini banyak dijual sebagai obat kesehatan yang dikonsumsi oleh para konsumen. Oleh karena itu, perlu dilakukan pengujian untuk mengetahui efektivitas dan keamanan produk. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui ekstrak etanol yang dihasilkan dari metode maserasi dan digesti pada konsentrasi (62,5 ppm, 125 ppm, 250 ppm, 500 ppm, 1000 ppm) selama 24 jam. Metode yang dilakukan adalah Brine Shrimp Lethality Test (BSLT) yang diukur terhadap kematian Artemia fransiscana. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai LC50 ekstrak kulit buah naga merah ekstrak maserasi dan digesti berturut-turut sebesar 75,25 μg/ml dan 96,09 μg/ml. Dengan nilai LC50 lebih dari 30 ppm, maka ekstrak etanol kulit buah naga merah yang dihasilkan dengan metode maserasi ataupun digesti bersifat toksik.