Claim Missing Document
Check
Articles

Found 28 Documents
Search

PEMANFAATAN TEPUNG DAUN TURI DALAM PAKAN UNTUK KUALITAS WARNA DAN PERTUMBUHAN IKAN RAINBOW KURUMOI (Melanotaenia parva) Nina Meilisza; Etyn Yunita; Siti Murniasih; Rina Hirnawati; Lili Sholichah; Sukarman; Deska Ulul Muta’al
Journal of Fish Nutrition Vol. 1 No. 1 (2021): journal of fish nutrition
Publisher : Journal of Fish Nutrition

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (655.963 KB) | DOI: 10.29303/jfn.v1i1.157

Abstract

Ikan rainbow kurumoi (Melanotaenia parva) merupakan ikan hias asli Indonesia yang memiliki kualitas warna yang menarik. Warna pada ikan hias ini dapat ditingkatkan kualitasnya dengan menambahkan sumber karotenoid alami dalam pakan seperti tepung daun turi. Penelitian ini dilakukan untuk mendapatkan kualitas warna dan pertumbuhan yang baik pada ikan rainbow kurumoi dengan memanfaatkan tepung daun turi dalam pakan. Sebanyak lima ekor ikan ditebar dalam 12 akuarium bervolume 20 liter. Ikan diberi pakan uji berupa dosis tepung daun turi dalam pakan yaitu 0 ppm (tanpa tepung daun turi/kontrol), 100 ppm (70 gram tepung daun turi), 150 ppm (105 gram tepung daun turi), serta 200 ppm (140 gram tepung daun turi) dan diulang sebanyak tiga ulangan. Penelitian dilakukan selama 40 hari dengan memberikan pakan uji sebanyak 6% sehari pukul 08.00, 12.00, dan 16.00. Parameter yang diukur berupa kualitas warna kuning dan jingga pada bagian kulit dan sirip, pertumbuhan bobot, panjang, serta sintasan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dosis 100 ppm (70 gram) tepung daun turi per kg pakan menunjukkan kualitas warna terbaik, sedangkan pertumbuhan bobot dan panjang tidak berbeda antar masing-masing perlakuan.
Tetumbuhan Riparian di Situ Cikaret, Kecamatan Cibinong, Kabupaten Bogor, Jawa Barat Priyanti Priyanti; Norma Sulistianingsih; Etyn Yunita
BIOEDUSCIENCE Vol 3 No 1 (2019): BIOEDUSCIENCE
Publisher : Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (617.377 KB) | DOI: 10.29405/j.bes/3148-563060

Abstract

Background: Tetumbuhan riparian di Situ Cikaret memiliki peran sebagai penahan abrasi tanah disekitarnya, mempertahankan kualitas air didalamnya, dan tempat tinggal makhluk hidup lainnya. Namun saat ini, Situ Cikaret telah mengalami pengalihan fungsi lahan menjadi daerah wisata dan pemukiman penduduk yang akan berdampak pada keanekaragaman tetumbuhan disekelilingnya. Penelitian ini bertujuan untuk menginventarisasi, identifikasi, dan klasifikasi tetumbuhan di kawasan riparian situ Cikaret serta mengetahui manfaatnya. Metode: Penelitian menggunakan metode line transect yang sejajar dengan tepian situ atau riparian sebanyak 5 titik pengamatan dan inventarisasi tetumbuhan menggunakan jelajah. Tetumbuhan yang dijumpai langsung diidentifikasi nama ilmiah dan perawakannya di lokasi pengamatan. Jenis-jenis tumbuhan lalu diklasifikasi berdasarkan sistem APG (Angiosperm Phylogeny Group) dan pemanfaatannya. Hasil: Hasil penelitian diperoleh 45 jenis tumbuh-tumbuhan dikelompokkan ke dalam klad Monocots berjumlah 10 jenis, 10 marga, dan 5 suku sedangkan klad Eudicots terdiri atas 35 jenis, 31 marga, dan 16 suku. Suku dengan anggota terbanyak adalah Euphorbiaceae dan Poaceae berjumlah 5 jenis. Suku-suku lainnya terdiri atas 1 hingga 4 jenis. Persentase tertinggi untuk perawakan tumbuhan ditempati oleh terna sebanyak 50%, sedangkan perawakan tumbuhan lainnya adalah semak sebanyak 7%, perdu sebanyak 9%, dan pohon sebanyak 36%. Kesimpulan: Tetumbuhan memiliki manfaat sebagai tumbuhan peneduh, sumber pangan, penghias lingkungan, pakan ternak, penutup tanah, dan gulma. Anggota Euphorbiaceae dan Poaceae adalah tetumbuhan yang paling banyak hidup di kawasan riparian Situ Cikaret Kecamatan Cibinong Kabupaten Bogor.
Karakteristik Abon Ikan Sapu-Sapu (Pterygoplichthys pardalis) Hasil Iradiasi Sinar Gamma Nadhilah Sabila Ghaisani; Etyn Yunita; Dewi Elfidasari; Bimo Saputro; Irawan Sugoro
Al-Kauniyah: Jurnal Biologi Vol 16, No 1 (2023): AL-KAUNIYAH JURNAL BIOLOGI
Publisher : Department of Biology, Faculty of Science and Technology, Syarif Hidayatullah State Islami

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/kauniyah.v16i1.17006

Abstract

 AbstrakIkan sapu-sapu (Pterygoplichthys pardalis) memiliki potensi dijadikan bahan pangan alternatif karena ketersediaannya melimpah di Indonesia. Daging ikan sapu-sapu dapat dijadikan abon yang harus sesuai dengan SNI. Pengolahan abon menggunakan minyak menyebabkan abon mudah mengalami kerusakan sehingga diperlukan metode untuk memperpanjang masa simpan. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui karakteristik abon ikan sapu-sapu hasil radiasi gamma berdasarkan analisis proksimat, jumlah mikroba, kapang, dan organoleptik melalui uji hedonik. Daging ikan sapu-sapu diolah menjadi abon lalu diiradiasi dosis 0, 5, 10, dan 15 kGy kemudian disimpan selama 30 hari pada suhu ruang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa iradiasi sinar gamma mampu memperpanjang masa simpan abon ikan sapu-sapu selama 30 hari. Nilai gizi protein, lemak, dan jumlah mikroba abon ikan sapu-sapu yang diiradiasi sinar gamma memenuhi syarat ketetapan abon ikan sesuai dengan SNI 01–3707 tahun 1995, kecuali untuk nilai kadar air dan kadar abu abon. Iradiasi sinar gamma mampu menekan pertumbuhan mikroba dengan dosis terbaik 15 kGy. Dosis 15 kGy merupakan dosis yang paling diterima pada parameter rasa diuji organoleptik. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui kelayakan abon ikan sapu-sapu dengan syarat mutu abon ikan berdasarkan SNI, menentukan dosis iradiasi dalam pengawetan abon ikan sapu-sapu dan mengetahui minat konsumen terhadap abon ikan sapu-sapu.AbstractArmored catfish (Pterygoplichthys pardalis) has potential to be used as alternative foodstuffs because its abundant in Indonesia. Armored catfish meat can be processed into shredded in accordance with provisions SNI value so it can be consumed. Shredded cooked processed used oil that will causes stale easily, there must be a method that can extend the shelf life of shredded. The purpose of this research was to determine the characteristics of shredded fish from gamma radiation based on proximate analysis, the number of microbes, molds, and organoleptics through hedonic tests. Armored catfish meat is processed into shredded and irradiated in doses 0, 5, 10, and 15 kGy and then stored for 30 days. The parameters measured were water content, ash content, protein, fat, microbial count, mold and organoleptic test. The results showed that gamma ray irradiation was able to extend the shelf life of the shredded fish for 30 days. The nutritional value of protein, fat and the number of microbial armored catfish shredded irradiated by gamma rays meet the requirements of the nutritional of shredded fish in accordance with SNI 01–3707 of 1995, except for ash content and water content. Gamma ray irradiation can reduce microbial growth with the best dose 15 kGy. Dose 15 kGy was a significant dose of the taste parameters in the organoleptic test. This research was conducted to determine the feasibility of shredded fish with SNI requirements, to determine the dose of irradiation in preserving shredded fish and to determine consumer interest in shredded fish.
Aquafeed Biofloatation through Mycelial Hydrophobic Coating Liza Nurohmah; Catur Sriherwanto; Imam Suja’i; Etyn Yunita
Journal of Aquaculture and Fish Health Vol. 12 No. 2 (2023): JAFH Vol. 12 No. 2 June 2023
Publisher : Department of Aquaculture

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/jafh.v12i2.38647

Abstract

Aquafeed biofloatation through tempeh mould fermentation on sinking aquafeeds produces water-floating property, an alternative to the expensive extrusion technique. However, the role of the fungal mycelium in this biofloatation remains unclear.  This study aimed to investigate the role of surface mycelium of the fermented feed in the buoyancy. Commercial sinking feed was fermented using a tempeh starter at ambient temperature (28–33 °C) for 48 h. Freshly fermented feeds were produced, some of which were peeled to remove the surface mycelium, while the others were left intact. After 24-h oven-drying at 50 °C, physical tests were done on the peeled and unpeeled fermented feeds, plus unfermented feed as a negative control. Results showed that the unpeeled fermented feed had the highest floatability (48% at the 60th minute), and continued floating until the 120th minute with 36% floatability. In contrast, the unfermented feed did not float at all, while the peeled fermented feed sank within the first 2 minutes. Only the unpeeled fermented feed showed hydrophobic characteristics (> 90° contact angle and 20.16 s water absorption time). Thus, the hydrophobic surface mycelium might prevent rapid water infiltration into the fermented feed matrix, enabling the intact fermented feed to float longer.
Karakteristik Abon Ikan Sapu-Sapu (Pterygoplichthys pardalis) Hasil Iradiasi Sinar Gamma Nadhilah Sabila Ghaisani; Etyn Yunita; Dewi Elfidasari; Bimo Saputro; Irawan Sugoro
Al-Kauniyah: Jurnal Biologi Vol 16, No 1 (2023): AL-KAUNIYAH JURNAL BIOLOGI
Publisher : Department of Biology, Faculty of Science and Technology, Syarif Hidayatullah State Islami

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/kauniyah.v16i1.17006

Abstract

 AbstrakIkan sapu-sapu (Pterygoplichthys pardalis) memiliki potensi dijadikan bahan pangan alternatif karena ketersediaannya melimpah di Indonesia. Daging ikan sapu-sapu dapat dijadikan abon yang harus sesuai dengan SNI. Pengolahan abon menggunakan minyak menyebabkan abon mudah mengalami kerusakan sehingga diperlukan metode untuk memperpanjang masa simpan. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui karakteristik abon ikan sapu-sapu hasil radiasi gamma berdasarkan analisis proksimat, jumlah mikroba, kapang, dan organoleptik melalui uji hedonik. Daging ikan sapu-sapu diolah menjadi abon lalu diiradiasi dosis 0, 5, 10, dan 15 kGy kemudian disimpan selama 30 hari pada suhu ruang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa iradiasi sinar gamma mampu memperpanjang masa simpan abon ikan sapu-sapu selama 30 hari. Nilai gizi protein, lemak, dan jumlah mikroba abon ikan sapu-sapu yang diiradiasi sinar gamma memenuhi syarat ketetapan abon ikan sesuai dengan SNI 01–3707 tahun 1995, kecuali untuk nilai kadar air dan kadar abu abon. Iradiasi sinar gamma mampu menekan pertumbuhan mikroba dengan dosis terbaik 15 kGy. Dosis 15 kGy merupakan dosis yang paling diterima pada parameter rasa diuji organoleptik. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui kelayakan abon ikan sapu-sapu dengan syarat mutu abon ikan berdasarkan SNI, menentukan dosis iradiasi dalam pengawetan abon ikan sapu-sapu dan mengetahui minat konsumen terhadap abon ikan sapu-sapu.AbstractArmored catfish (Pterygoplichthys pardalis) has potential to be used as alternative foodstuffs because its abundant in Indonesia. Armored catfish meat can be processed into shredded in accordance with provisions SNI value so it can be consumed. Shredded cooked processed used oil that will causes stale easily, there must be a method that can extend the shelf life of shredded. The purpose of this research was to determine the characteristics of shredded fish from gamma radiation based on proximate analysis, the number of microbes, molds, and organoleptics through hedonic tests. Armored catfish meat is processed into shredded and irradiated in doses 0, 5, 10, and 15 kGy and then stored for 30 days. The parameters measured were water content, ash content, protein, fat, microbial count, mold and organoleptic test. The results showed that gamma ray irradiation was able to extend the shelf life of the shredded fish for 30 days. The nutritional value of protein, fat and the number of microbial armored catfish shredded irradiated by gamma rays meet the requirements of the nutritional of shredded fish in accordance with SNI 01–3707 of 1995, except for ash content and water content. Gamma ray irradiation can reduce microbial growth with the best dose 15 kGy. Dose 15 kGy was a significant dose of the taste parameters in the organoleptic test. This research was conducted to determine the feasibility of shredded fish with SNI requirements, to determine the dose of irradiation in preserving shredded fish and to determine consumer interest in shredded fish.
Akumulasi Logam Timbal (Pb) Pada Tanaman Bayam (Amaranthus tricolor L.) Dengan Aplikasi Pupuk Mikoriza Etyn Yunita; Dasumiati Dasumiati; Azizah Mei Widyastuti; Irzal Irda
Al-Kauniyah: Jurnal Biologi Vol 16, No 2 (2023): AL-KAUNIYAH JURNAL BIOLOGI
Publisher : Department of Biology, Faculty of Science and Technology, Syarif Hidayatullah State Islami

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/kauniyah.v16i2.35282

Abstract

 AbstrakPencemaran tanah oleh logam timbal (Pb) merupakan salah satu bentuk pencemaran yang sangat berbahaya bagi mahluk hidup. Salah satu tanaman bioakumulator penyerap logam berat di lingkungan adalah tanaman bayam (Amaranthus tricolor L.). Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis pengaruh aplikasi pupuk mikoriza terhadap akumulasi Pb pada akar, batang, dan daun serta pertumbuhan tanaman bayam. Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) dengan perlakuan dosis pupuk mikoriza, yaitu 0 g, 5 g, 10 g, dan 15 g per polybag. Jumlah Pb yang diaplikasikan ke media tanam adalah 5 ppm per polybag. Akumulasi Pb tertinggi terdapat pada tanaman bayam dengan perlakuan 5 g pupuk mikoriza. Rata-rata akumulasi Pb di akar, batang, dan daun pada perlakuan ini berturut-turut adalah 103,57 ppm; 36,67 ppm; dan 8,60 ppm. Pertumbuhan tanaman bayam pada perlakuan 5 g pupuk mikoriza lebih baik dari perlakuan lainnya, yaitu memiliki rata-rata tinggi tanaman dan jumlah daun tertinggi pada minggu ke-4 (9,7–12,5 cm dan 6,9–8,6 helai). Aplikasi pupuk mikoriza dapat meningkatkan akumulasi Pb pada akar, batang, dan daun serta meningkatkan pertumbuhan tanaman bayam pada dosis 5 g per polybag.AbstractSoil pollution by lead (Pb) is a form of pollution that is very dangerous for living creatures. One of the bioaccumulator plants that absorb heavy metals in the environment is spinach (Amaranthus tricolor L.). The aim of this research was to analyze the effect of mycorrhizal fertilizer application on Pb accumulation in roots, stems and leaves as well as spinach plant growth. This research used a completely randomized design (CRD) with treatment doses of mycorrhizal fertilizer, namely 0 g, 5 g, 10 g, and 15 g per polybag. The amount of Pb applied to the planting media is 5 ppm per polybag. The highest Pb accumulation was found in spinach plants treated with 5 g of mycorrhizal fertilizer. The average accumulation of Pb in roots, stems and leaves in this treatment was 103.57 ppm; 36.67 ppm; and 8.60 ppm. The growth of spinach plants in the 5 g mycorrhizal fertilizer treatment was better than the other treatments, namely having the highest average plant height and number of leaves in the 4th week (9.7-12.5 cm and 6.9-8.6 pieces). Application of mycorrhizal fertilizer can increase Pb accumulation in roots, stems and leaves and increase the growth of spinach plants at a dose of 5 g per polybag. 
Tetumbuhan Riparian di Situ Cikaret, Kecamatan Cibinong, Kabupaten Bogor, Jawa Barat Priyanti Priyanti; Norma Sulistianingsih; Etyn Yunita
BIOEDUSCIENCE Vol 3 No 1 (2019): BIOEDUSCIENCE
Publisher : Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29405/j.bes/3148-563060

Abstract

Background: Tetumbuhan riparian di Situ Cikaret memiliki peran sebagai penahan abrasi tanah disekitarnya, mempertahankan kualitas air didalamnya, dan tempat tinggal makhluk hidup lainnya. Namun saat ini, Situ Cikaret telah mengalami pengalihan fungsi lahan menjadi daerah wisata dan pemukiman penduduk yang akan berdampak pada keanekaragaman tetumbuhan disekelilingnya. Penelitian ini bertujuan untuk menginventarisasi, identifikasi, dan klasifikasi tetumbuhan di kawasan riparian situ Cikaret serta mengetahui manfaatnya. Metode: Penelitian menggunakan metode line transect yang sejajar dengan tepian situ atau riparian sebanyak 5 titik pengamatan dan inventarisasi tetumbuhan menggunakan jelajah. Tetumbuhan yang dijumpai langsung diidentifikasi nama ilmiah dan perawakannya di lokasi pengamatan. Jenis-jenis tumbuhan lalu diklasifikasi berdasarkan sistem APG (Angiosperm Phylogeny Group) dan pemanfaatannya. Hasil: Hasil penelitian diperoleh 45 jenis tumbuh-tumbuhan dikelompokkan ke dalam klad Monocots berjumlah 10 jenis, 10 marga, dan 5 suku sedangkan klad Eudicots terdiri atas 35 jenis, 31 marga, dan 16 suku. Suku dengan anggota terbanyak adalah Euphorbiaceae dan Poaceae berjumlah 5 jenis. Suku-suku lainnya terdiri atas 1 hingga 4 jenis. Persentase tertinggi untuk perawakan tumbuhan ditempati oleh terna sebanyak 50%, sedangkan perawakan tumbuhan lainnya adalah semak sebanyak 7%, perdu sebanyak 9%, dan pohon sebanyak 36%. Kesimpulan: Tetumbuhan memiliki manfaat sebagai tumbuhan peneduh, sumber pangan, penghias lingkungan, pakan ternak, penutup tanah, dan gulma. Anggota Euphorbiaceae dan Poaceae adalah tetumbuhan yang paling banyak hidup di kawasan riparian Situ Cikaret Kecamatan Cibinong Kabupaten Bogor.
Tetumbuhan Riparian di Situ Cikaret, Kecamatan Cibinong, Kabupaten Bogor, Jawa Barat Priyanti Priyanti; Norma Sulistianingsih; Etyn Yunita
BIOEDUSCIENCE Vol 3 No 1 (2019): BIOEDUSCIENCE
Publisher : Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29405/j.bes/3148-563060

Abstract

Background: Tetumbuhan riparian di Situ Cikaret memiliki peran sebagai penahan abrasi tanah disekitarnya, mempertahankan kualitas air didalamnya, dan tempat tinggal makhluk hidup lainnya. Namun saat ini, Situ Cikaret telah mengalami pengalihan fungsi lahan menjadi daerah wisata dan pemukiman penduduk yang akan berdampak pada keanekaragaman tetumbuhan disekelilingnya. Penelitian ini bertujuan untuk menginventarisasi, identifikasi, dan klasifikasi tetumbuhan di kawasan riparian situ Cikaret serta mengetahui manfaatnya. Metode: Penelitian menggunakan metode line transect yang sejajar dengan tepian situ atau riparian sebanyak 5 titik pengamatan dan inventarisasi tetumbuhan menggunakan jelajah. Tetumbuhan yang dijumpai langsung diidentifikasi nama ilmiah dan perawakannya di lokasi pengamatan. Jenis-jenis tumbuhan lalu diklasifikasi berdasarkan sistem APG (Angiosperm Phylogeny Group) dan pemanfaatannya. Hasil: Hasil penelitian diperoleh 45 jenis tumbuh-tumbuhan dikelompokkan ke dalam klad Monocots berjumlah 10 jenis, 10 marga, dan 5 suku sedangkan klad Eudicots terdiri atas 35 jenis, 31 marga, dan 16 suku. Suku dengan anggota terbanyak adalah Euphorbiaceae dan Poaceae berjumlah 5 jenis. Suku-suku lainnya terdiri atas 1 hingga 4 jenis. Persentase tertinggi untuk perawakan tumbuhan ditempati oleh terna sebanyak 50%, sedangkan perawakan tumbuhan lainnya adalah semak sebanyak 7%, perdu sebanyak 9%, dan pohon sebanyak 36%. Kesimpulan: Tetumbuhan memiliki manfaat sebagai tumbuhan peneduh, sumber pangan, penghias lingkungan, pakan ternak, penutup tanah, dan gulma. Anggota Euphorbiaceae dan Poaceae adalah tetumbuhan yang paling banyak hidup di kawasan riparian Situ Cikaret Kecamatan Cibinong Kabupaten Bogor.