Claim Missing Document
Check
Articles

Found 17 Documents
Search

Benarkah Yusuf dan Zulaikha Menikah? Analisa Riwayat Isra’iliyyat dalam Kitab Tafsir Ali Mursyid; Zidna Khaira Amalia
Wawasan: Jurnal Ilmiah Agama dan Sosial Budaya Vol 1, No 1 (2016)
Publisher : the Faculty of Ushuluddin, UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (556.576 KB) | DOI: 10.15575/jw.v1i1.581

Abstract

This article investigates the narration of isrāiliyyāt in the story of the Prophet Jusuf (Joseph) and Zulaikha,  the wife of Al-Aziz who bought the Prophet Jusuf from the hand of the traveler of Egypt. The results of this study are: firstly, the narration related to the name of Al-Aziz as Qiṭfir or Iṭfir and the name of his wife as Zulaikha or Ra’il. This narration according to the Qur’anic interpreters was not based on the Qur’an and Prophetic Sunna. Although this version of narration will not influence  ‘aqīdah of Muslim society, it should be avoided. Secondly, narration related to a temptation of the wife of Al-Aziz to the Prophet Jusuf which also presented by the interpreters of the Qur’an. According to them, the version is untrue because it is impossible that the Prophet Jusuf did a cruel deed such that the version can damage ‘aqīdah of Islamic society. Thirdly, according to the interpreters of the Qur’an, the narrations on the marriage of the Prophet Jusuf to Zulaikha is not based on the Qur’an and the authentic Hadith.
Sisi-Sisi Keindahan Bahasa Al-Qur'an Ali Mursyid
MISYKAT Jurnal Ilmu-ilmu Al-Quran Hadist Syari ah dan Tarbiyah Vol 4, No 2 (2019): Misykat: Jurnal ilmu-ilmu Al-Quran, Hadits, Syariah dan Tarbiyah
Publisher : Pascasarjana Institut Ilmu Al Quran (IIQ) Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33511/misykat.v4n2.23-60

Abstract

Selama ini penelitian dan kajian mengenai bahasa al-Qur‟an, masih mengangkat beberapa tema lama. Seperti tentang apakah ada bahasa selain bahasa Arab dalam al-Qur‟an. Selain itu juga, kajian biasanya seputar kajian Balaghah dan Uslub al-Qur‟an. Artikel ini, merupakan hasil penelitian pendahuluan penulis tentang Keindahan Bahasa al-Qur‟an dari berbagai sisinya. Kajian ini menggunakan pendekatan Studi Bahasa al-Qur‟an, dengan menganalisa unsur-unsur dasar kebahasaan. Yaitu unsur kata, kalimat, kekuatan deskripsi dan visualisasinya, juga tentang bunyi dan nada yang menyertai pengucapan sebuah bahasa. Kajian ini, berusaha mengeksplorasi berbagai sisi keindahan bahasa al-Qur‟an, dari sisi keunikan kata, ketepatan pilihan kata dalam al-Qur‟an dan segala hal terkait. Juga tentang rahasia keindahan susunan kalimatnya, efek deskripsinya yang mengena, visaulisainya yang begitu jelas dan bunyi-bunyi, baik bunyi kata, maupun bunyi akhir ayat-ayat al-Qur‟an yang luar biasa serasi dan indah.
Tafsir Ayat-Ayat Kekerasan Seksual: Analisis Metodologis Terhadap Penafsiran Kongres Ulama Perempuan Indonesia (KUPI) Anisa Muflihah; Ali Mursyid
MISYKAT Jurnal Ilmu-ilmu Al-Quran Hadist Syari ah dan Tarbiyah Vol 6, No 2 (2021): Misykat: Jurnal ilmu-ilmu Al-Quran, Hadits, Syariah dan Tarbiyah
Publisher : Pascasarjana Institut Ilmu Al Quran (IIQ) Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33511/misykat.v6n2.1-40

Abstract

Data telah menunjukkan bahwa, kasus kekerasan seksual angkanya terus meningkat, termasuk dalam lembaga pendidikan sekalipun. Sementara itu Permendikbud No. 30 tahun 2021 yang bertujuan untuk mencegah dan menangani kekerasan seksual di Perguruan Tinggi. Pada tahun 2017, diselenggarakan Kongres Ulama Perempuan Indonesia (KUPI), yang di antaranya membahas tentang kekerasaan seksual. Penafsiran ayat-ayat kekerasan seksual dalam perspektif KUPI di antaranya menyatakan dua hal: Pertama, kekerasan seksual baik dilakukan di luar perkawinan maupun di dalam perkawinan, hukumnya haram. Kedua, perkosaan dan perzinahan, meski sama-sama hubungan seksual yang dilarang Islam, namun keduanya berbeda. Perkosaan adalah hirâbah di mana pelaku memaksa korban untuk berhubungan seksual, dalam hal ini pelaku dan korban berbeda. Pelaku melakukan dua tindakan terlarang sekaligus yakni perzinahan dan pemaksaan. Sementara korban tidak melakukan kesalahan karena dipaksa, sehingga korban kekerasan seksual tidak boleh disamakan dengan kasus perzinahan, dan seharusya korban kekerasan seksual diberikan konpensasi. Inilah di antara hasil Kongres Ulama Perempuan Indonesia (KUPI) yang tertulis dalam Dokumen KUPI. Adapun dalam menganalisa digunakan pisau analisa Ilmu Tafsir, yang menganlisa sumber penafsiran, paradigma dan prinsip penafsiran, metode tafsir dan corak penafsiran. Dari hasil analisa tersebut, tentang metodologi penafsiran KUPI terkait ayat-ayat kekerasan seksual adalah: pertama, sumber penafsiran pada KUPI adalah campuran, menafsirkan dengan sumber bi al-ma‟tsûr dan menafsirkan dengan sumber bi alra‟yi. Sumber bi al-ma‟tsûr-nya menafsirkan Al-Qur‟an dengan AlQur‟an dan Al-Qur‟an dengan Sunnah/Hadits. Dalam hal ini KUPI menggunakan munâsabah antar ayat dengan ayat lainnya, antar ayat dengan hadis. Sedangkan sumber bi al-ra‟yi-nya itu dengan merujuk padangan-pandangan para ulama ahli fiqih. Kedua, prinsip-prinsip penafsiran KUPI adalah prinsip kemanusiaan, keadilan, kesetaraan, ketersalingan, kebaikan, kemaslahatan, kebangsaan, dan keadilan gender. Ketiga, metode Penafsiran KUPI menggunakan metode maudhu`i  dengan  pendekatan teori mubadalah. Keempat, corak penafsiran KUPI menggunakan corak fiqih, karena memang pembahsan penafsiran ayat yang dilakukan, kemudian berujung pada penetapan hukum Islam. Selain itu juga karena pandangan ulama-ulama tafsir yang dirujuk juga kebanyakan adalah mufassir dan para ahli fiqih.
Melagukan al-quran dengan langgam jawa: Studi Terhadap Pandangan Ulama Indonesia Siti Latifah Hanum; Ali Mursyid
MISYKAT Jurnal Ilmu-ilmu Al-Quran Hadist Syari ah dan Tarbiyah Vol 6, No 1 (2021): Misykat: Jurnal ilmu-ilmu Al-Quran, Hadits, Syariah dan Tarbiyah
Publisher : Pascasarjana Institut Ilmu Al Quran (IIQ) Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33511/misykat.v6n1.1-38

Abstract

Beberapa tahun lalu dalam suatu forum, al-Qur‟an dibacakan dengan lagu (nada) atau langgam yang tidak biasa, yaitu langgam Jawa. Tentu saja ini langsung menuai polemik di kalangan para ulama di Indonesia. Ini tentu saja menarik untuk dikaji, sehingga menjadi rumusan masalah untuk diteliti antara lain: (1) siapa saja ulama yang kontra dengan membaca al-Qur‟an dengan langgam Jawa, apa dan bagaimana argumennya? (2) siapa saja ulama yang pro atau setuju dengan membaca al-Qur‟an dengan langgam Jawa, apa dan bagaimana argumennya? (3) bagaimana persamaan dan perbedaan di antara kedua kelompok ulama yang berbeda pandangan ini? Artikel ini dari kajian riset yang bersifat kualitatif dengan sumber data primer berupa pandangan para tokoh ulama yang terlibat dalam pro dan kontra mengenai melagukan al-Qur‟an dengan langgam Jawa. Ditemukan hasil riset berupa; Pertama, para ulama yang kontra dalam hal ini diantaranya: Prof. Dr. KH. Agil Husin Munawwar, M.A, Habib Riziq Syihab, M.A, Ust. H. Tengku Zulkarnain, Muammar ZA, dan Hj. Maria Ulfah, M.A, dengan alasan Al-Qur‟an adalah kitab suci Allah, tidak dapat dipadukan dengan langgam selain langgam yang telah disepakati jumhûr „ulama. Kedua, di anatara ulama al-Qur‟an yang pro terhadap langgam Jawa ini diantaranya: Dr. Ahsin Sakho Muhammad, M.A, Prof. Dr. Quraish Shihab, M.A, Prof. KH. Ali Mustafa Ya‟qub, dan M.A, Prof. Dr. KH. Ma‟ruf Amin, M.A dengan alasan boleh saja melagukan al-Qur‟an dengan langgam lain (Jawa) asalkan tidak keluar dari Tajwid yang benar dan tidak memaksakan langgam tersebut hingga menlanggar tajwid. Selain itu, ada juga ulama yang berpandangan moderat diantaranya Dr. KH. Ahmad Fathoni, Lc, M.A dan Romlah Widayati, dengan alasan melagukan al-Qur‟an dengan langgam apapun boleh, namun ini jangan dibesar-besarkan, dikhawatirkan akan merusak kaidah tajwid. Karena standar membaca al-Qur‟an itu tartil. Ketiga, persamaan kelompak yang setuju dan tidak setuju, sama-sama mengutamakan membaca al-Qur‟an dengan tajwid. Adapun perbedaannya, kelompok yang membolehkan al-Quran langgam Jawa, sebenarnya membolehkan dengan syarat tidak keluar dari aturan tajwid, sementara kelompok yang menolak langgam Jawa, adalah menolak langgam yang dapat menghinakan al-Qur‟an dan jika melanggar tajwid.
SOLUSI PROBLEMATIKA UMAT DALAM PERSPEKTIF AL-QUR’AN Ali Mursyid; Arison Sani
El-Furqania : Jurnal Ushuluddin dan Ilmu-Ilmu Keislaman Vol. 2 No. 01 (2016): Februari 2016
Publisher : STIU Al-Mujtama Pamekasan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (276.777 KB) | DOI: 10.54625/elfurqania.v2i01.1420

Abstract

Tulisan ini adalah hasil peneletian yang diselenggarakan dengan tujuan mencari solusi terbaik bagaimana menyelesaikan problematika umat yang semakin beragam, dengan berlandaskan pada al-Qur’an. Masalah yang diangkat dalam penelitian ini, dibatasi pada tiga masalah berikut: (1) Bagaimana ayat-ayat al-Qur’an memberi solusi pada persoalan kemiskinan umat Islam? (2) Bagaimana al-Qur’an memberi solusi pada persoalan kaum d}u’afa di tengah-tengah masyarakat? (3) Bagaimana al-Qur’an memberi solusi pada konflik sosial yang akhir-akhir ini banyak terjadi? Penelitian ini adalah penelitian kualitatif, dengan jenis data kualitatif, Penelitian ini juga adalah jenis penelitian pustaka yang datanya diperoleh malalui penelusuran kepustakaan. Dalam penggalian dan analisa data, digunakan metode Tafsir Maud}u>’i> (tematik), sementara itu pendekatan yang digunakan adalah pendekatan teologi dan pendekatan sosiologi. Setelah melalui pembahasan, penelitian ini menghasilkan tiga hal; Pertama, tentang solusi al-Qur’an bagi problem kemiskinan, yang dibagi  dalam ranah individual, keluarga masyarakat dan negara. Pada ranah individual, untuk mengatasi problem kemiskinan, al-Qur’an mendorong muslim untuk bekerja keras. Pada ranah keluarga, menghadapi problem kemiskinan, al-Qur’an mewajibkan kepada setiap orang untuk menyantuni pihak yang memang wajib dinafkahi dalam suatu rumpun keluarga, terutama mereka yang kurang mampu. Pada ranah masyarakat, untuk mengatasi problem kemiskinan, al-Qur’an mensyariatkan zakat. Pada ranah pemerintah, al-Qur’an mewajibkan pemerintah untuk menyejah-terakan warganya. Kedua, solusi al-Qur’an bagi kaum d}u’afa>’. Dalam hal ini al-Qur’an menyebut hak-hak kaum d}u’afa, kewajiban kita untuk memperhatikan mereka, imbalan dari Allah jika kita memperhatikan mereka, akibat jika kita menelantarkan mereka, dan juga mengenai cara memberdayakan mereka. Ketiga, solusi al-Qur’an untuk konflik sosial. Dalam menghadapi konflik sosial, al-Qur’an mengajarkan bahwa dalam menangani konflik, diperlukan etika. Al-Qur’an menganjurkan budaya kerja tim guna mengurangi konflik dan memupuk persaudaraan. Al-Qur’an menawarkan musyawarah sebagai mekanisme penyelesaian konflik. Selain itu, perdebatan yang baik juga bisa digunakan. Al-Qur’an juga memberi kesempatan untuk mengambil tindakan tegas jika cara damai tidak menyelesaikan masalah.
TAJWID DI NUSANTARA KAJIAN SEJARAH, TOKOH DAN LITERATUR ali mursyid
El-Furqania : Jurnal Ushuluddin dan Ilmu-Ilmu Keislaman Vol. 5 No. 01 (2019): Februari
Publisher : STIU Al-Mujtama Pamekasan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (644.884 KB) | DOI: 10.54625/elfurqania.v5i01.3366

Abstract

Abstrak: Indonesia atau kadang juga disebut Nusantara, mayoritas penduduknya beragama Islam, yang tentu saja berarti membaca dan mempelajari al-Qur’an. Artinya al-Qur’an dan membaca serta memahami al-Qur’an menjadi sangat penting dan menjadi keseharian umat Islam. Di seluruh pelosok negeri, al-Qur’an dipelajari. Hampir seluruh umat Islam belajar al-Qur’an, minimal membacanya. Dan untuk membacanya, wajib hukumya belajar tajwid. Sayang sekali kajian Tajwid di Nusantara masih sangat sedikit, untuk tidak mengatakannya tidak ada sama sekali. Karena itu Tim Penulis, dalam kesempatan ini, tertarik meneliti dan mengkaji tentang Tajwid di Nusantara.Penelitian dan kajian ini adalah penelitian pustaka (library research), dengan tiga pokok kajian, yakni: Pertama, sejarah masuk dan berkembangnya Islam di Nunastara. Kedua, tokoh-tokohnya. Ketiga, literatur-literatur yang biasa digunakan sebagai bahan pembelajaran tajwid. Dari hasil penelitian ini, disimpulkan: Pertama bahwa sejarah tajwid di Nusantara, masuk dan perkembangannya, sejalan dengan masuk dan perkembangan sejarah al-Qur’an di Nusnatara. Sejarah al-Qur’an di Nusantara sejalan dengan sejarah masuk dan perkembangan Islam di Nusantara. Kedua, ada beberapa tokoh ulama al-Qur’an yang menyebarkan al-Qur’an dan ilmu Tajwid di Nusantara, nama-namanya ada dalam hasil penelitian ini. Ketiga, ada beberapa literatur utama yang digunakan dalam pembelajaran ilmu Tajwid di Nusantara, baik itu literatur karya ulama Timur Tengah, juga karya ulama Nusantara sendiri. Kata Kunci: Tajwid, sejarah, tokoh dan literatur
Analisis Biaya Satuan Pendidikan dengan Metode Activity Based Costing Mursyid, Ali; Hidayat, Ara
Andragogi: Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran Vol. 5 No. 1 (2025): Pendidikan dan Pembelajaran
Publisher : Universitas KH. Abdul Chalim Pacet Mojokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31538/adrg.v5i1.1294

Abstract

This research aims to analyze the determination of educational unit costs at MTs Muslimin Bojong Picung by applying the Activity Based Costing (ABC) method. This research is important to evaluate the correspondence between applied and actual costs and find potential cost allocation improvements. This type of research is descriptive with a quantitative approach, using data obtained through interviews, documentation and observation. The data analysis method used is quantitative descriptive analysis to explain the unit costs of education. The research results show that the unit costs produced using the ABC system are higher than the education costs set by the madrasah. This finding indicates the existence of undercosting, namely a situation where the actual costs are lower than the estimates produced by the ABC method. Contributing factors include costs that are not detailed or well identified as well as costs that are not charged to students by the madrasah. This research provides insight into inaccurate cost estimates and recommendations for improvements in education cost management.
TAFSIR AYAT-AYAT MUSIBAH AHSIN SAKHO MUHAMMAD Maemunah, Maya; Mursyid, Ali
Moderation | Journal of Islamic Studies Review Vol. 2 No. 1 (2022)
Publisher : Asosiasi Dosen PTKIS Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63195/moderation.v2i1.34

Abstract

The study of the interpretation of the verses related to disaster in this article is important for the reasons; First, the theme of disaster is always relevant, disaster always exists throughout human life. Second, Indonesia is a disaster-prone country. Third, these two years, there is still a prolonged Covid-19 outbreak. Fourth, born from the work of an Indonesian expert in the Qur'an, namely Dr. KH. Ahsin Sakho Muhammad, entitled "Tafsir Happiness" discusses the interpretation of the verses of calamity. The study is in the form of: (1) How is Ahsin Sakho Muhammad's interpretation of the verses of the Qur'an related to calamities and how to deal with them? (2) What are the sources of interpretation, interpretation methods, interpretation styles, and reference literatures in Ahsin Sakho Muhammad's Tafsir Happiness? (3) What is the relevance of Ahsin Sakho Muhammad's interpretation in the current era? From the discussion, it is described as follows: First, the interpretation of Ahsin Sakho Muhammad in Tafsir Happiness is a thematic interpretation which includes terms related to calamities, forms of disaster and calamity, factors that cause disasters and calamities and how to respond to disasters and calamities. . From the discussion, it was found that there were 11 terms related to disaster, namely; Mushibah, adh-Dhurr, ash-Sharr, al-'Adzab, as-Sayyi'ah, ar-Rijz, Naughty, Bala', alBa'sa, al-Wabal, and Fitnah. And there are 14 forms and calamities mentioned in the Qur'an. More specifically, there are 7 factors that caused the disaster. Meanwhile, to respond to it requires an attitude of patience, surrender and prayer (repentance). Second, the interpretation methodology in Tafsir Happiness is as follows; The source of the interpretation used is the interpretation of bi al-ma'tsur with the reference to his interpretation of the interpretation of at-Tabari, the interpretation of Ibn Kathir. alWasith, Mu'jam Mufahras li Alfazh Al-Qur'an, Mufradat fi Gharib Al-Qur'an and several others. The method used in Tafsir Happiness is the thematic method while the explanation is ijmali. For the pattern in the interpretation of happiness, namely the ijtima'iy style. Third, the interpretation of the verses of Ahsin Sakho Muhammad's disaster is very relevant considering that Indonesia is being hit by Covid-19, and it is very necessary to have patience, calm and self-examination (repentance).
LITERATUR ‘ULUM AL-QUR’AN ULAMA INDONESIA DAN TIMUR TENGAH: STUDI PERBANDINGAN KARYA AHSIN SAKHO MUHAMMAD DAN MANNA’ ALQATHTHAN Nur Hazfira, Annisa; Mursyid, Ali
Moderation | Journal of Islamic Studies Review Vol. 2 No. 2 (2022)
Publisher : Asosiasi Dosen PTKIS Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63195/moderation.v2i2.65

Abstract

The discussion of the 'ulum Al-Qur'an is very broad, complicated, with Arabic literature that is difficult to understand. The existence of the book "Embracing Ulumul Qur'an" by Ahsin Sakho Muhammad which is unique, is interesting to study. This article examines Ahsin's work, by comparing it with the literature of 'ulum Al-Qur'an by Manna' al-Qaththan, which is widely used as a reference in Al-Qur'an and Tafsir Study Programs, in several universities, both at home and abroad. The main focus discusses: (1) the similarities and differences of the 'ulum Al-Qur'an in the book Membumikan al-Quran by Ahsin Sakho Muhammad and in the book Mabahits fi 'ulum AlQur'an, by Manna' al-Qaththan, 2) How is the explanation and discussion of Qira'ah and Rasm in general in these two works? This type of library research seeks to analyze descriptively-comparatively. The result, concludes the following: First, examines the material related to the 'Ulum Al-Qur'an. Second, on the material of science Qira'ah and Rasm. The similarity of the works of these two figures is in describing in general the definitions of the three materials discussed, as well as in citing examples usually taking from a number of verses of the Qur'an which are then given explanations and similarities in the reference sources. Meanwhile, the difference between the two is the scope of the discussion and the topics discussed from each theme. Ahsin Sakho always provides relevance to Muslims in Indonesia, while Manna' Al-Qaththan only focuses on the core of the topics discussed.
BEBEBERAPA KAJIAN TENTANG HUSEIN MUHAMMAD TERKAIT PENAFSIRAN AL-QUR’AN Mursyid, Ali
Moderation | Journal of Islamic Studies Review Vol. 3 No. 2 (2023)
Publisher : Asosiasi Dosen PTKIS Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63195/moderation.v3i2.91

Abstract

K.H. Husein Muhammad or known as Buya Husein, as is known, is a religious figure (Kiai) with a traditional Islamic education background, who persistently discusses and fights for gender equality discourse. Buya Hussein's thoughts and steps in defending these women attracted a lot of attention from the Adameiks, to discuss it and research it. In this article, several studies and studies conducted by academics are presented, to discuss and study the thoughts of Buya Husein. Specifically related to studies and studies associated with the interpretation of the Qur'an Buya Hussein. Actually, there have been many studies and studies on Buya Hussein, but what is conveyed in this article, only a few. This is intended as a first step to collect and map various studies and research on the thought of Hussein Muhammad.