Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search
Journal : reflection journal

Reaktualisasi Nilai Ta’dzim al-‘Ilm wa Ahlih dalam Al-Qur’an: Telaah Tematik di Era Disrupsi Digital Misnawi, Misnawi; Zahid, Moh
Reflection Journal Vol. 5 No. 2 (2025): Desember
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pemberdayaan Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36312/19dx0m57

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk memaknai ulang etika pendidikan dengan mereaktualisasikan nilai al-Qur’an dan merumuskan implementasinya dalam konteks digital. Ini merupakan kajian Pustaka (library research) dengan pendekatan tafsir dan melalui analisis isi (content analysis). Data utama diambil dari surah Al-Mujadalah: 11, An-Nahl: 43, Az-Zumar: 9, dan Al-Kahfi: 60–82 serta tafsir ayat dari para mufassir klasik dan kontemporer. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai adab yang sangat substansial namun mengalami degradasi yang signifikan adalah Ta’dzim (penghormatan) terhadap al-Ilm wa ahlih termasuk di ruang virtual, kekaburan makna antara informasi dan ilmu dan penyetaraan antara ulama’ dan serach engine sehingga terjadi desakralisasi otoritas keilmuan. Selain itu, kecenderungan memperoleh pengetahuan secara instan menyebabkan mulai hilangnya nilai kesabaran dalam proses mencari ilmu sehingga menganggap informasi dari internet sebagai pengetahuan final. Oleh karena itu, nilai ta’dzim dalam al-Qur’an yang bisa diwujudkan berupa: 1) tafassuh yaitu kelapangan hati dan intelektual termasuk di ruang digital seperti ikhlas mengikuti setiap arahan guru, menghormati guru dan teman serta menghargai perbedaan pendapat; 2) pengakuan terhadap otoritas keilmuan dengan memposisikan ilmu dari ulama’ di atas informasi mesin pencari (search engine) artinya kebenaran pengetahuan yang diperoleh dari internet harus tetap divalidasi oleh ulama’ atau berdasarkan karyanya; dan 3) Ibrah dari kisah nabi Musa dan nabi Hidr menegaskan bahwa validasi kebenaran tetap dikembalikan kepada ahli ilmu dan kesabaran epistemologis harus diwujudkan dengan selalu belajar dari sumber aslinya walaupun tidak instan. Konsep tersebut dapat diperkuat melalui beberapa cara, yaitu kontekstualisasi suhbah (pendampingan) terutama saat pembelajaran daring dalam pembelajaran campuran (blended learning), digitalisasi sanad keilmuan untuk memastikan tetap ada sambungan sanad walaupun belajar secara online, mewujudkan komunikasi Qur’ani melalui qaulan karima dan qaulan sadida seperti tidak mendebat guru dan berkomentar berdasarkan fakta dan data bukan asumsi; dan mengintegrasikan literasi digital dengan kesadaran spiritual. Dari itu jelas bahwa penelitian ini juga menawarkan model reaktualisasi implementatif yang relevan dengan pendekatan IPO (input, process, output) dalam penanaman nilai. Ia juga menegaskan bahwa transformasi digital dalam pendidikan Islam tetap harus berorientasi pada pemuliaan ilmu dan pembentukan karakter spiritual-moral yang kokoh. Reactualization of The Value of Ta'dzim al-Ilm Wa Ahlih in The Qur’an: a Thematic Study in the Digital Disruption Era This study aims to reinterpret the educational ethics by reactualizing Qur’anic values and formulating their implementation in the digital context. This is a library research by using tafsir approach and content analysis. The primary data sources are surah Al-Mujadalah: 11, An-Nahl: 43, Az-Zumar: 9, and Al-Kahfi: 60–82, including the interpretations from both classical and contemporary mufassir. The results of the study show that the value of adab which is very substantial but degradated significantly is Ta'dzim (respect) for al-Ilm wa ahlih including in virtual space, the blurring of meaning between information and knowledge and the equalization between ulama' and serach engine, so that there is a desacralization of knowledge authority. In addition, the tendency to acquire knowledge instantly causes the loss of the value of patience in the process of seeking knowledge so that information from the internet is considered as the final one. Therefore, the value of ta'dzim which can be remanifested are: 1) tafassuh, namely the openness of heart and mind including in the digital space, such as sincerity in following every teacher's direction, respecting teachers and friends and apriciating the differen opinions; 2) recognition of knowledge authority by positioning the knowledge from ulama' above the information from search engine. It means that the truth of knowledge from internet must be validated by the experts or their works; and 3) Ibrah from the story of the prophet Moses and the prophet Hidr emphasizes also that the validation of the truth is still returned to the scholar, and epistemological patience must be realized by always learning from the original sources although not instantly. The concepts can be strengthened in several ways, namely by contextualizing suhbah (assistence) especially during online class in blended learning, digitizing sanad (chain of knowledge transmission) to ensure that there is a sanad connection even though by online learning, realizing the Qur'anic communication through qaulan karima and qaulan sadida such as not debating teachers and commenting based only on facts and data instead of assumptions; and integrating digital literacy with spiritual awareness. Those all confirm that this research also offers an implementative reactualization model in which is relevant with IPO (input, process, output) approach in internalizing value. It also emphasizes that the digital transformation in Islamic education should be oriented towards the exaltation of knowledge and the strengthening of spiritual-moral character
Relevansi Undang-Undang Pemberantasan Tipikor di Indonesia dengan Penafsiran Ayat-Ayat Tentang Korupsi Qadariyah, Lailatul; Zahid , Moh
Reflection Journal Vol. 5 No. 2 (2025): Desember
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pemberdayaan Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36312/sr3dz037

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis relevansi antara penafsiran ulama terhadap ayat-ayat Al-Qur’an yang berkaitan dengan korupsi dan konstruksi normatif Undang-Undang Tindak Pidana Korupsi (UU Tipikor) di Indonesia. Korupsi dipahami tidak hanya sebagai pelanggaran hukum positif, tetapi juga sebagai pelanggaran etika dan moral yang memiliki implikasi sosial, ekonomi, dan spiritual. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif berbasis studi kepustakaan (library research) dengan metode tafsir maudhu’i (tematik). Data primer meliputi ayat-ayat Al-Qur’an yang berkaitan dengan praktik koruptif, penafsiran Ibn Katsir dan Hamka dalam Tafsir Al-Azhar, serta regulasi hukum positif terkait pemberantasan korupsi, khususnya UU Tipikor dan ketentuan Tipikor dalam KUHP Tahun 2023. Analisis dilakukan melalui perbandingan tematik dan normatif untuk menilai kesesuaian konseptual dan fungsional antara norma etika Islam dan norma hukum positif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat irisan normatif yang kuat antara larangan Al-Qur’an terhadap perbuatan memakan harta secara batil, pengkhianatan amanah, dan suap dengan substansi delik korupsi dalam UU Tipikor. Tafsir ulama memberikan landasan moral dan etis yang memperkuat legitimasi hukum positif, sementara hukum negara berfungsi sebagai mekanisme penegakan eksternal. Integrasi keduanya berpotensi memperkuat efektivitas pemberantasan korupsi melalui pembentukan kesadaran etis, penegakan hukum yang berkeadilan, dan penguatan integritas sosial. Relevance of Indonesia’s Anti-Corruption Law to the Interpretation of Qur’anic Verses on Corruption This study examines the relevance between Qur’anic interpretations of corruption-related verses and the normative framework of Indonesia’s Anti-Corruption Law (Undang-Undang Tindak Pidana Korupsi). Corruption is conceptualized not merely as a violation of positive law, but also as an ethical and moral transgression with profound social, economic, and spiritual consequences. Employing a qualitative library-based research design, this study adopts a thematic (maudhu’i) tafsir approach to analyze selected Qur’anic verses commonly associated with corrupt practices. The primary sources include interpretations by Ibn Kathir and Buya Hamka (Tafsir Al-Azhar), alongside statutory regulations governing corruption, particularly the Anti-Corruption Law and corruption-related provisions in the 2023 Indonesian Criminal Code. The analysis applies thematic and normative comparison to assess conceptual and functional alignment between Islamic ethical norms and positive legal norms. The findings reveal a strong normative convergence between Qur’anic prohibitions against unlawful appropriation of property, abuse of trust, and bribery, and the substantive elements of corruption offenses under Indonesian law. While Islamic teachings primarily function as internal moral and ethical controls, positive law operates through external enforcement mechanisms. Their integration contributes to enhanced legal legitimacy, ethical awareness, and social accountability. This study argues that aligning moral-religious values with legal enforcement can strengthen anti-corruption efforts by fostering integrity, reinforcing justice, and promoting collective responsibility within society.