Claim Missing Document
Check
Articles

Pertumbuhan dan laju eksploitasi ikan endemik Rasbora tawarensis (Weber & de Beaufort, 1916) di Danau Laut Tawar, Aceh Tengah [Growth and exploitation rate of endemic fish Rasbora tawarensis (Weber and de Beaufort, 1916) at Laut Tawar Lake in Central Aceh] Iwan Hasri; M. Mukhlis Kamal; Zairion Zairion
Jurnal Iktiologi Indonesia Vol 11 No 1 (2011): Juni 2011
Publisher : Masyarakat Iktiologi Indonesia (Indonesian Ichthyological Society)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32491/jii.v11i1.146

Abstract

Rasbora tawarensis is an endemic fish in Lake Laut Tawar, Central Aceh. The study aims to determine growth, mortality, and exploitation rate of R. tawarensis. The research was conducted in March-May 2010 at five stations representing all zones of Laut Tawar Lake. The fish were caught by experimental gillnets with the mesh size from 3/8, 5/9, 5/8, and 3/4 inches (stations I, II, III and IV) and trap (didisen) (Station V). The analysis which is used the length-weight relationship, condition factor, growth, mortality, and exploitation rate. The result showed that the growth pattern of R. tawarensis for both male and female at station I,II, and V were allometric negative; while at station III and IV were isometric. The highest condition factors of male found at station III and female at station V. The von Bertalanffy growth functions Lt = 130.2 (1 - e('16 (t +04). The total mortality rate of R. tawarensis was 11.038 year-1 with exploitation rate was 0.8. AbstrakRasbora tawarensis merupakan ikan endemik yang ditemukan di Danau Laut Tawar Kabupaten Aceh Tengah. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan pertumbuhan, mortalitas dan laju eksploitasi ikan R. tawarensis. Penelitian dilakukan pada bulan Maret sampai dengan Mei 2010 di lima stasiun yang mewakili seluruh zona di Danau Laut Tawar. Ikan ditangkap menggunakan jaring insang percobaan (stasiun I, II, III, dan IV) dan perangkap (didisen) (stasiun V). Ukuran mata jaring yang digunakan 3/8, 5/9, 5/8 dan 3/4 inci. Analisis yang digunakan yaitu hubungan panjang bobot, faktor kondisi, pendugaan parameter pertumbuhan, mortalitas dan laju eksploitasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pertumbuhan ikan R. tawarensis gabungan jantan dan betina bersifat allometrik negatif di stasiun I, II dan V pola, bersifat isometrik dan di stasiun III dan IV. Faktor kondisi tertinggi ikan jantan pada stasiun III dan betina pada stasiun V. Persamaan pertumbuhan von Bertalanffy gabungan jantan dan betina Lt=130,2 (1 - e(-1,6 (t +0,4). Laju mortalitas total (Z) ikan sebesar 11,038 tahun-1 dengan laju eksploitasi sebesar 0,8.
Hubungan panjang-bobot dan pertumbuhan ikan beronang, Siganus canaliculatus (Park, 1797) di padang lamun Selat Lonthoir, Kepulauan Banda, Maluku [Length-weight relationship and growth of rabbitfish, Siganus canaliculatus (Park, 1797) in the seagrass beds of Lonthoir Strait, Banda Archipelago, Maluku] Munira Munira; Sulistiono Sulistiono; Zairion Zairion
Jurnal Iktiologi Indonesia Vol 10 No 2 (2010): Desember 2010
Publisher : Masyarakat Iktiologi Indonesia (Indonesian Ichthyological Society)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32491/jii.v10i2.167

Abstract

Rabbitfish (Siganus canaliculatus) is a dominant catch of beach seine in seagrass beds at Lonthoir Strait, Banda Ar-chipelago.The aims of this research were to investigate the length frequencies, length-weight relationships, and growth of rabbitfish in this area. This research was carried out from July to December 2009 using beach seine in three locations of seagrass area of Lonthoir Strait. Data analyzed using FiSAT program. The results showed that the length of rabbitfish ranged from 44 to 300 mm TL. From the length and weight data of males and females, the following population parameters were estimated: W=0.017L149 (r = 0.88) and W=0.012L156 (r = 0.89), L„ (mm) = 307.13, W„ (g) = 84.74 and 92.40, K = 0.50 and 0.52. The growth models of males and females rabbitfish described by equation: Lt=307.13[e' 0 50(t+0.i72)] and Lt=307.13[e'a52(t+0165)], while growth model base on weight described by equation: Wt=84.74[e' o.5o(t+o.i72)] and Wt=92.40[e'a52(t+0165)]. This study concluded that the population of rabbitfish in this area mostly juveniles and consisted of one cohort. AbstrakIkan beronang (Siganus canaliculatus) termasuk salah satu hasil tangkapan dominan dari nelayan jaring pantai di padang lamun Selat Lonthoir, Kepulauan Banda. Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap distribusi ukuran panjang, hubungan panjang-bobot, dan pertumbuhannya. Pengamatan terhadap hasil tangkapan ikan beronang di tiga lokasi telah dilakukan sejak bulan Juli hingga Desember 2009 dengan menggunakan jaring pantai. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan perangkat lunak FiSAT. Hasil penelitian memperlihatkan kisaran panjang total ikan beronang yang tertangkap adalah 44-300 mm. Model hubungan panjang-bobot yang diperoleh untuk ikan beronang jantan adalah W=0,017L1,49 (r = 0,88) dan betina W=0,012L1,56 (r = 0,89). Panjang teoritis (L„) sebesar 307,13 mm, bobot teoritis jantan (W„) 84,74 g dan betina 92,40 g dengan nilai koefisien pertumbuhan (K) sebesar 0,50 dan 0,52. Pertumbuhan ikan beronang jantan dan betina di Selat Lonthoir dapat diestimasi dengan rumus Lt=307,13[e'0,50(t+0,172)] dan Lt=307,13[e'0,52(t+0,165)]. Model pertumbuhan ikan beronang berdasarkan bobot (W„) dapat diduga dengan rumus Wt=84,74[e'0,50(t+0,172)] untuk jantan dan betina Wt=92,40[e'0,52(t+0,165)]. Penelitian ini juga menunjukkan bahwa sebagian besar ikan beronang yang hidup di padang lamun Selat Lonthoir berukuran juwana dan umumnya dijumpai dalam satu kelompok umur.
DISTRIBUSI SPASIAL IKAN BERONANG (Siganus canaliculatus) DI PADANG LAMUN SELAT LONTHOIR, KEPULAUAN BANDA, MALUKU [Spatial distribution of rabbitfish Siganus canaliculatus in the seagrass beds of Lonthoir Strait, Banda Archipelago, Moluccas] Munira Munira; Sulistiono Sulistiono; Zairion Zairion
Jurnal Iktiologi Indonesia Vol 10 No 1 (2010): Juni 2010
Publisher : Masyarakat Iktiologi Indonesia (Indonesian Ichthyological Society)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32491/jii.v10i1.175

Abstract

This study was carried out from July to December 2009 in three locations of seagrass area at Lonthoir Strait, Banda Archipelago, Moluccas. The aim of study is to analyze seagrass condition and spatial distribution of the rabbitfish Siganus canaliculatus. The result shows that the species density of the seagrass at three stations ranged from 7.48 to 235.50 ind. m-2 with the highest species density is Cymodocea rotundata at station 1 and 2, and Thalassia hemprichii at station 3. The highest abundance of the fish was found at station 1 and the lowest one was at station 2. According the Kruskal-Wallis test, abundance of male and female rabbitfishes were not statistically different at among stations (H = 0.17, P = 0.66 and H = 0.83, P = 0.92). The correspondence analysis shows that there were two groups of habitat of the rabbitfishes in research station. The first group is station 1 and the second one is station 2 and 3.
REPRODUCTIVE BIOLOGY OF LONGTAIL TUNA (Thunnus tonggol) IN THE JAVA SEA Thomas Hidayat; Mennofatria Boer; Mohammad Mukhlis Kamal; Zairion Zairion; Ali Suman
Indonesian Fisheries Research Journal Vol 26, No 2 (2020): (December) 2020
Publisher : Research Center for Fisheries

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/ifrj.26.2.2020.119-130

Abstract

Longtail tuna (Thunnus tonggol) is one of common economically important pelagic fish species in Indonesia. The objective of this study is examining the biology of reproduction, consisting of length of weight relationship, sex ratio, maturity stage, gonado somatic index (GSI), length at first capture, and length at first maturity and spawning pattern. A total of 633 longtail tuna, ranging 29-58 cmFL and consisting of 293 males and 340 females, were collected from the Java Sea between April 2018 and March 2019. The results showed that the longtail tuna growth pattern was isometric. The sex ratio was not significantly different between male and female. The length of first capture longtail tuna of drift gillnet (43.2 cmFL) was bigger than the length at first maturity (42,3 cmFL). This indicates that the most of longtail tuna caught by drift gillnet have already spawned. The peak’s spawning season occurred in May and November, with fecundity ranging from 783,597 - 1,579,160 eggs. Longtail tuna has multiple spawning pattern
DINAMIKA POPULASI LOBSTER PASIR (Panulirus homarus Linnaeus, 1758) DI PERAIRAN PALABUHANRATU, JAWA BARAT Zairion Zairion; Nefi Islamiati; Yusli Wardiatno; Ali Mashar; Rudi Alek Wahyudin; Agus Alim Hakim
Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia Vol 23, No 3 (2017): (September 2017)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, BRSDM KP.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (301.878 KB) | DOI: 10.15578/jppi.23.3.2017.215-226

Abstract

Dinamika populasi merupakan aspek penting sebagai dasar pengelolaan perikanan dan informasi tentang aspek tersebut pada lobster pasir masih minim di perairan Palabuhanratu. Tujuan penelitian ini adalah mengkaji aspek pertumbuhan, pola rekrutmen, mortalitas dan laju eksploitasi lobster pasir (Panulirus homarus) di perairan Palabuhanratu. Penelitian ini dilakukan periode Juni 2015-Mei 2016 dengan metode sensus. Lobster pasir hasil tangkapan jaring insang dasar dengan jumlah total sampel 483 ekor mempunyai panjang karapas antara 28-100 mm. Pola pertumbuhan berdasarkan hasil regresi linear memperlihatkan allometrik negatif. Hasil analisis menggunakan metode ELEFAN I (Electronic Length Frequency Analysis) menunjukan koefisien pertumbuhan lobster pasir jantan (K = 0,29 per tahun), lebih kecil dibandingkan dengan betina (K = 0,40 per tahun). Rekrutmen terindikasi dua puncak dalam setahun: yaitu pada Februari-Mei dan September-Oktober). Laju mortalitaskarena penangkapan (F) mencapai 1,9-2,2 kali laju mortalitas alami (M). Nilai Lc<Lrmemperlihatkan lobster pasir sudah tertangkap sebelum mencapaiukuran rata-rata mengerami telur atau ukuran kematangan reproduktif. Laju eksploitasi lobster pasir mencapai 32-38% di atas laju eksploitasi optimum, sehingga lobster pasir sudah mengalamieksploitasi yang berlebih.Population dynamics is an important aspect as basic of fisheries management and little information of this aspect for spiny lobster fishery in Pelabuhanratu waters. This research aims to evaluate of growth aspects, recruitment pattern, mortality, and exploitation rate of scalloped spiny lobster (Panulirus homarus) in Palabuhanratu waters. This research was conducted in June 2015 until May 2016 using census method. The size of P. homarus captured using bottom gill-net with total sample 483 specimen was between 28-100 mm carapace lengths (CL). Linear regression showed that growth pattern was negative allometric. The growth coefficient of male (K = 0.29 per year) was found smaller than female (K = 0.40 per year) based on ELEFAN I (Electronic Length Frequency Analysis) method. Recruitment seems to be accrued twice peaks a year (February to May and September to October) and the highest was at February to May. Fishing mortality (F) reached 1.9 to 2.2 times of natural mortality (M). The LcÂLr value showed that female has been caught before reached the average size of bearing eggs or reproductive maturity size. The exploitation rate of spiny lobsters reaches 32-38% above optimum level. This study suggests that the spiny lobster fishery in Palabuhanratu in the state of overexploitation.
KOMPOSISI DAN UKURAN RAJUNGAN (Portunus pelagicus) YANG TERTANGKAP PADA BEBERAPA STRATIFIKASI BATIMETRI DI PERAIRAN LAMPUNG TIMUR Zairion Zairion; Mennofatria Boer; Yusli Wardiatno; Achmad Fahrudin
Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia Vol 20, No 4 (2014): (Desember 2014)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, BRSDM KP.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (299.009 KB) | DOI: 10.15578/jppi.20.4.2014.199-206

Abstract

Perairan pesisir Lampung Timur merupakan salah satu daerah yang potensial untuk produksi rajungan (Portunus pelagicus) dari alam di Indonesia, namun produktivitas dan ukuran hasil tangkapan cenderung semakin menurun yang diduga akibat tingginya intensitas eksploitasi. Pada penelitian ini diinvestigasi komposisi kelamin dan ukuran rajungan yang tertangkap dengan jaring insang dasar (set gill-net) pada beberapa stratifikasi batimetri dari Maret 2012−Februari 2013.  Area kajian dibagi menjadi 3 stratifikasi: S1, S2 dan S3 dengan kedalaman air masing-masing kurang dari 5 m, 5−10 m, dan lebih dari 10 m.  Analisis data menggunakan statistik deskriptif. Rajungan jantan dominan tertangkap di seluruh stratifikasi area pengamatan. Ukuran rata-rata lebar karapas (CW) dan bobot tubuh (BW) rajungan [±SD] di strata S1 adalah 108,57 ± 13,39 mm dan 89,22 ± 35,33 g serta berbeda nyata dengan S2 dan S3 (P<0,05). Peningkatan ukuran lebar karapas dari S1 hingga S3 masing-masing 17,59% dan 14,62% serta bobot tubuh masing-masing 66,25% dan 57,24%. Terdapat sekitar 34% rajungan yang berukuran kecil dari Lm50 dan 24% dewasa kurang reproduktif yang tertangkap di S1. Perairan pesisir di S1 juga tampak sebagai daerah tangkapan utama rajungan, sehingga diperlukan strategi pengelolaan dengan mengimplementasikan perlindungan daerah asuhan dan pemanfaatan yang sangat selektif di area ini. The East Lampung coastal waters is one of potential area for the blue swimming crab (Portunus pelagicus) wild catch production in Indonesia. However, catch productivity and sizes of caught crabs tend to be decrease and might be related to high exploitation rate. In present study, we investigated the sex compositions and size distribution of this crab caught by the set gill-net at several bathimetric stratifications from March 2012 to February 2013. The study area was divided into three stratifications, i.e., S1, S2, and S3, which have had water depth less than 5 m, 5−10 m and more than 10 m, respectively.  Data was analysed by descriptive statistics. The high proportion of males found in all stratification areas. Mean carapace width (CW) and body weight (BW) [±SD] of crabs were 108.57 ± 13.39 mm and 89.22 ± 35.33 g in S1and it was significantly different to that of S2 and S3 (P<0.05). An increasing of mean carapace width throughout S1 to S3 was 17.59% and 14.62%, whiles body weight was 66.25% and 57.24%, respectively. There were approximately 34% of immature crabs (less than Lm50) and 24% of less reproductive adults caught within S1. The coastal waters at S1 seem to be main fishing ground and management strategy by implementing a nursery ground protection and most selective fishing is required in this area.
DISTRIBUSI SPASIO-TEMPORAL POPULASI RAJUNGAN (Portunus pelagicus) BETINA MENGERAMI TELUR DI PERAIRAN PESISIR LAMPUNG TIMUR Zairion Zairion; Yusli Wardianto; Achmad Fahrudin; Mennofatria Boer
BAWAL Widya Riset Perikanan Tangkap Vol 6, No 2 (2014): (Agustus 2014)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, BRSDM KP.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (254.481 KB) | DOI: 10.15578/bawal.6.2.2014.95-102

Abstract

Distribusi spasio-temporal populasi rajungan betina yang mengerami telur (BEF) telah dikaji di perairan pesisir Lampung Timur. Penelitian dilakukan pada tiga stratifikasi kedalaman perairan: <5 m (strata S1), antara 5-10 m (strata S2), dan >10 m (strata S3) serta empat sub-area (A1-A4) di setiap stratum dari bulan Maret 2012-Februari 2013. Kelimpahan populasi rajungan BEF diindikasikan dengan proporsi rajungan BEF/betina tidak mengerami telur (NBF) dan BEF/total individu. Perbedaan proporsi dianalisis dengan uji ANOVA satu arah. Hasil penelitian menunjukan bahwa proporsi rajungan BEF bervariasi secara spasial, ditemukan mulai dari strata S1 dan meningkat ke strata S3. Daerah pemijahan dan pembiakan yang dominan terdapat pada kedalaman air >5 m dan di sub-area A2 dan A3. Secara agregat, BEF ditemukan sepanjang tahun dengan dua puncak kelimpahan (Mei dan September-Oktober) sebagai puncakmusimpemijahan dan pembiakan. Proporsi rajungan BEF secara spasio temporal tumpang tindih dengan daerah penangkapan rajungan pada hampir semua musim. Diperlukan strategi pengelolaan pemanfataan yang sesuai untukmenunjang keberhasilan reproduksi, diantaranya penangkapan menggunakan alat yang dapat mempertahankan BEF dalam keadaan hidup selama terperangkap, kemudian melepaskannya atau memeliharanya di area tertentu sampai menetaskan telurnya sehingga dapat meningkatkan produksi larva dan pada akhirnya dapat mempertahankan populasi dan stok.Spatial-temporal distribution of berried females (BEFs) Portunus pelagicus was studied in East Lampung coastal waters. An investigation was conducted at three water depth stratifications, i.e., less than 5 m (stratum S1), between 5-10 m (stratum S2) and more than 10 m (stratum S3), as well as four sub-areas (A1 A4) in each of stratifications from March 2012 to February 2013. The abundance of BEF population was indicated by their proportion to non-berried females (NBFs) and to the total individual crabs, while the differences among the results were tested by one-way ANOVA test. The results showed that the proportions of BEFs varied spatially, increased from stratum S1 to S3. Spawning and breeding seemed to dominantly occur at water depth more than 5 m and A2 and A3 sub-areas. BEFs were found throughout the year with two peaks of its occurrence, i.e. in May and in September to October, and those months were considered as peak of spawning and breeding seasons. The spatial and temporal occurrence of BEFs overlapped with crab fishing grounds in most fishing seasons. An appropriate fisheries management strategy is required for their reproduction success. Capturing crab by using eco-friendly fishing gear that render caught BEFs alive and releasing them or keeping them in certain area for hatching their eggs would enhance larvae production to maintain population and stock.
PENGELOLAAN PERIKANAN RAJUNGAN (Portunus pelagicus) BERDASARKAN ANALISIS SPASIAL DAN TEMPORAL BIOEKONOMI DI PERAIRAN PESISIR TIMUR LAMPUNG Aprillia Kartika Ekawati; Luky Adrianto; Zairion Zairion
Jurnal Kebijakan Perikanan Indonesia Vol 11, No 1 (2019): (Mei) 2019
Publisher : Pusat Riset Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (520.52 KB) | DOI: 10.15578/jkpi.11.1.2019.65-74

Abstract

Pesisir timur Lampung merupakan salah satu daerah penghasil rajungan di Indonesia. Jumlah hasil tangkapan yang rendah menghasilkan keuntungan yang rendah pada setiap upaya penangkapan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis nilai aktivitas perikanan rajungan dalam bentuk trip optimal dan keuntungan untuk pengelolaan perikanan rajungan di pesisir timur Lampung. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan metode purposive sampling. Karakteristik aktivitas penangkapan rajungan didapatkan jumlah kapal (40-250 unit) dan jumlah hari melaut (16-27 trip/bulan) pada setiap lokasi. Nilai produksi pada musim puncak di pendaratan rajungan Way Seputih dan Sungai Burung lebih tinggi dibandingkan 3 lokasi lainnya. Jumlah alokasi spasial tertinggi pada musim puncak di S1 adalah di Sungai Burung dengan jumlah 1974 trip/musim dan di strata 2 tertinggi di Kuala Penet dengan jumlah 2763 trip/musim. Musim sedang di S1 dan S2 tertinggi di Way Seputih 3540 trip/musim, dan Labuhan Maringgai 2883 trip/musim. Musim paceklik S1 dan S2 Sungai Burung 10088 trip/musim dan Kuala Penet 4708 trip/musim. Penetapan alokasi upaya penangkapan (trip/musim) dapat dijadikan acuan pembatasan upaya penangkapan rajungan pada setiap stratifikasi di 5 lokasi pendaratan rajungan.The eastern coast of Lampung is one of the blue swimming crabs (Portunus pelagicus) wild catch producing areas in Indonesia. Low catch weight causes a small profit to be gained on each fishing effort. Spatial allocation in fisheries seen from the location or distance and costs of activities. The purpose of this study was to analyze the value of BSC fishing activities in the form of optimal trips and benefits for the management of BSC fisheries on the east coast of Lampung. Data collection is done using purposive sampling method. Characteristics of BSC fishing activities obtained the number of ships (40-250 units) and number of days of fishing (16-27 trip/month) at each location. The production value in the peak season at the Way Seputih and Sungai Burung landings had a higher number compared to the catch per-trip in 3 other locations. The highest spatial allocation value in the peak season at S1 in the Sungai Burung with 1974 trips/season and the highest 2 in Kuala Penet with 2763 trips/season. The highest season in S1 and S2 is highest in Way Seputih 3540 trips/season, and Labuhan Maringgai is 2883 trips/season. Famine season in S1 and S2 is highest in Sungai Burung as many 10088 trips/season and Kuala Penet 4708 trips/season. Determination of alocation for fishing effort (trip/season) can be used as a reference for limiting the effort to catch of BSC in each stratification in 5 crab landing sites.
KERAGAMAN SUMBERDAYA IKAN NON TARGET PERIKANAN RAJUNGAN DI PESISIR LAMPUNG TIMUR Zairion Zairion; Iya Purnama; Yusli Wardiatno
Jurnal Biologi Tropis Vol. 19 No. 1 (2019): Januari - Juni
Publisher : Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (154.348 KB) | DOI: 10.29303/jbt.v19i1.942

Abstract

Abstrak : Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengidentifikasi keragaman dan komposisi ikan non-target perikanan rajungan dengan alat tangkap jaring insang dasar. Sampel dikumpulkan dari bulan Juni hingga Oktober 2017 di Labuhan Maringgai dan Kuala Penet, Pesisir LampungTimur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa21 species ikan non-target yang diidentifikasi di Labuhan Maringgai dan Kuala Penet sertamemiliki kesamaan spesies. Di Labuhan Maringgai, 15 spesies (11,40%) ikan non-target tergolongretained speciesyang dimanfaatkan untuk konsumsi atau dijual dan enam spesies (0,89%) termasuk discarded speciesataudibuang. Sementara di Kuala Penet, 14 spesies (8,76%) tergolongretained dan tujuh spesies (1,28%) discarded species. Hasil penelitian ini membantu untuk mengklarifikasi keragaman ikan non-target yang ditemukan dari perikanan jaring insang dasar di Pesisir Lampung Timur. Kata kunci : jaring insang dasar, ikan, perikanan rajungan, species yang dimanfaatkan, spesies yang dibuang Abstract : The study was conducted with the aim to identifying non-target fish diversity and composition from blue swimming crab set gill-net fishery. Samples were collected from June to October 2017 at Labuhan Maringgai and Kuala Penet, Coastalarea of East Lampung. The results showed that 21 non-target fish species obtainedfromLabuhan Maringgai and Kuala Penet areas and it was similar in terms ofspecies diversity.In Labuhan Maringgai area, 15 species (11.40%) of non-target fish were retained either as fisher own consumption or marketing and six species (0.89%) were discarded. While in Kuala Penet area, 14 species (8.76%) were retained and seven species (1.28%) were discarded. The result of this study helps to clarify diversity of non-target fish found from bottom set gill-net fishery in coastalarea of East Lampung.Keywords : swimming crab fishery, bottom set gill-net, discarded species, fish, retained species
Reproductive Biology of Ribbonfish (Trichiurus lepturus Linnaeus, 1758) in the Palabuhanratu Bay, Sukabumi, West Java: Biologi Reproduksi Ikan Layur (Trichiurus lepturus Linnaeus, 1758) di Teluk Palabuhanratu, Sukabumi, Jawa Barat Zenty Islamiati; Zairion Zairion; Mennofatria Boer
Tropical Fisheries Management Journal Vol 2 No 2 (2018): Jurnal Pengelolaan Perikanan Tropis
Publisher : Departement of Aquatic Resources Management, Faculty of Fisheries and Marine Sciences, IPB University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (5116.463 KB) | DOI: 10.29244/jppt.v2i2.26317

Abstract

Ikan layur merupakan salah satu ikan ekonomis penting dan telah menjadi komoditas ekspor. Permintaan yang terus meningkat menyebabkan peningkatan upaya penangkapan yang dapat mengancam ketersediaan sumberdaya ikan layur. Penelitian ini bertujuan menganalisis aspek biologi reproduksi ikan layur di Teluk Palabuhanratu. Penelitian dilaksanakan pada bulan Mei hingga September 2017. Pengambilan ikan contoh menggunakan metode penarikan contoh acak sederhana. Ukuran ikan layur yang diteliti sebanyak 639 ekor dengan nisbah kelamin antara jantan dan betina sebesar 1:2,20 atau didominasi ikan betina. Potensi reproduksi ikan layur betina tergolong tinggi dengan rata-rata 13 018 butir telur. Musim pemijahan ikan layur diduga terjadi selama periode pengamatan dan puncak pemijahan terindikasi terjadi pada bulan Juni dengan tipe pemijahan partial spawner. Ikan layur jantan mencapai ukuran pertama kali matang gonad (Lm) lebih awal dibandingkan dengan ikan layur betina, yaitu pada ukuran 641,37 mm untuk jantan dan 755,28 mm untuk betina.