Claim Missing Document
Check
Articles

Status biologi reproduksi Status Biologi Reproduksi Ikan Semar (Mene maculata) di Teluk Palabuhanratu pada Musim Barat: Status Biologi Reproduksi Ikan Semar (Mene maculata) di Teluk Palabuhanratu pada Musim Barat Gani, M. Jarier Abdillah; Zairion, Zairion; Boer, Mennofatria
Jurnal Pengelolaan Perikanan Tropis (Journal of Tropical Fisheries Management) Vol 8 No 1 (2024): Jurnal Pengelolaan Perikanan Tropis (Journal Of Tropical Fisheries Management)
Publisher : Departement of Aquatic Resources Management, Faculty of Fisheries and Marine Sciences, IPB University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/jppt.v8i1.55674

Abstract

Ikan semar (Mene maculata) merupakan ikan demersal yang memiliki nilai ekologi dan ekonomi penting. Tingginya pemanfaatan kantong semar sebagai ikan konsumsi berpotensi mengganggu pola reproduksi, rekrutmen dan ketersediaan stok sumber daya ikan kantong semar, sehingga informasi mengenai biologi reproduksi sangat minim pada musim barat. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis status biologi reproduksi ikan semar di Teluk Palabuhanratu. Penelitian berlangsung pada bulan September 2021 sampai dengan bulan Februari 2022 (mewakili musim barat), dengan sampel sebanyak 522 individu ikan. Sampel ikan diambil dengan menggunakan metode simple random sampling di Pelabuhan Perikanan Nusantara Palabuhanratu. Data tersebut dianalisis untuk memperoleh nisbah kelamin, pola pertumbuhan alometrik, musim pemijahan, potensi reproduksi, dan ukuran dewasa kelamin. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rasio kelamin adalah 1:0,76 yang didominasi oleh ikan jantan. Ikan semar memiliki pola pertumbuhan alometrik negatif. Puncak musim pemijahan pada periode penelitian terjadi pada bulan September dan Oktober dengan potensi reproduksi berkisar antara 11.988 hingga 21.164 butir telur. Pola pemijahan ikan semar terindikasi sebagai pemijahan total atau pemijahan yang terjadi secara serentak. Hasil analisis dengan metode Spearman-Karber menunjukkan bahwa ukuran pertama ikan semar betina dan jantan (Lm50) matang kelamin masing-masing adalah dengan panjang total (TL) 143 mm dan 150,5 mm, sehingga ikan betina lebih cepat dahulu matang kelamin dibanding ikan jantan.
Multi Connectivity Social-Ecological System of Spiny Lobster Fisheries (Case Study: Gunungkidul Regency, Yogyakarta, Indonesia) Lestari, Putri Agil; Adrianto, Luky; Zairion, Zairion; Zulfikar, Andi
ECSOFiM (Economic and Social of Fisheries and Marine Journal) Vol 11, No 1 (2023): ECSOFiM October 2023
Publisher : Faculty of Fisheries and Marine Science, Brawijaya University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.ecsofim.2023.011.01.11

Abstract

Spiny lobster fisheries production, provides a fairly high economic value compared to other fisheries commodities in Gunungkidul Regency. The high selling value of spiny lobsters is one of the main factors that encourage fishermen to carry out their fishing activities massively, so it can have a negative impact on the environment and spiny lobster stocks in the waters. This study aims to map the interaction and connectivity of the social-ecological system (SES) of lobster fisheries on the coast of Gunungkidul Regency. The analysis method utilized is Social-Ecological Network Analysis (SENA) with R stundio tools and Cytoscape version 3.9.1. Data were obtained from in-depth interviews using questionnaires with key informants based on purposive sampling techniques. The results of the analysis showed that there were 94 elements and 216 relationships in the basic network model of multi SES lobster fisheries. The key variables that most affect the lobster fishing network are fishing season, fishing activity, lobster stock, and fishermen's income. There needs to be synergy between the resources system (RS), resources unit (RU), resources actor (RA), and resources governance (RG) such as monitoring and evaluation from RG to other systems in order to create optimal and sustainable lobster fisheries management.
DETERMINASI STRUKTUR STOK IKAN KEMBUNG LELAKI MENGGUNAKAN METODE PCR-RFLP DI WPP-NRI 711, 572, DAN 573 Meliyana, Dinda Febta; Mashar, Ali; Zairion, Zairion
Jurnal Teknologi Perikanan dan Kelautan Vol 15 No 2 (2024): JUNI 2024
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, IPB University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24319/jtpk.15.161-172

Abstract

Ikan kembung lelaki (Rastrelliger kanagurta) memiliki nilai ekonomis penting bagi nelayan. Tekanan eksploitasi yang tinggi memengaruhi keberadaan stok dan keseimbangan ikan tersebut di alam. Efektivitas pengelolaan perikanan perlu dilakukan, diantaranya melalui kajian struktur stok. Kajian struktur stok dengan analisis genetik dapat menunjukkan status genetik stok dan aliran gen pada setiap stok dalam suatu populasi. Informasi ini dapat digunakan sebagai dasar pengelolaan sumberdaya perikanan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis keragaman dan struktur genetik, serta struktur stok ikan kembung lelaki di WPP-NRI 711, 572, dan 573 menggunakan pendekatan molekuler. Isolasi dan ekstraksi DNA menghasilkan 20 DNA total per-lokasi (enam lokasi), dan diamplifikasi dengan metode PCR. Terdapat 109 dari 120 sampel hasil PCR yang dilanjutkan ke tahap RFLP. Hasil dari proses pemotongan band tunggal oleh enzim restriksi (RFLP) diidentifikasi menggunakan program Popgene32. Enzim yang mampu menunjukkan polimorfisme yaitu AluI dan HaeIII. Stok ikan kembung lelaki di WPP-NRI 711, 572, dan 573 memiliki kedekatan secara genetik, sehingga mengindikasikan sebagai unit stok tunggal. Namun, jarak genetik yang visualisasikan dengan dendrogram menunjukkan stok membentuk dua clade yang terpisah. Dalam pengelolaannya lebih baik menjadi unit manajemen terpisah untuk kepentingan statistik.
Nilai Keanekaragaman Hayati Perikanan dengan Mengadopsi Kriteria OECM : Studi Kasus PAAP Teluk Kolono, Sulawesi Tenggara Siregar, Amelia Fransiska; Adrianto, Luky; Zairion, Zairion
Jurnal Kelautan Tropis Vol 28, No 2 (2025): JURNAL KELAUTAN TROPIS
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jkt.v28i2.26045

Abstract

Fisheries Access Area Management Area (PAAP) of Kolono Bay as a connector, interaction relationship and ecosystem balance. This study aims to assess fisheries biodiversity using the Other Effective Area-Based of Conservation Measures (OECM) criteria for the Fisheries Access Area Management Area (PAAP) of Kolono Bay. Interview methods, Focus Group Discussion (FGD) were analyzed using Social Ecological Network Analysis (SENA), and biodiversity values. The results showed that the Social-Ecological System (SES) network in the PAAP of Kolono Bay contained a connectivity system of 27 components (nodes) and 46 relationships (edges). Resources Unit (RU) is an important variable in influencing the ecosystem of the resource system. In addition, fisheries biodiversity in this area showed a low value with a total of 17 families and 64 species found. The diversity and uniformity values were in the medium to high category, while dominance was in the low category or none dominated. The utilization status is obtained in 3 categories including: Least Concern (LC), Vulnerable (VU), and Not Evaluated (NT). The utilization status of less concern (LC) is more dominant indicating that the fish community in the area is considered not endangered.   Keberadaan Pengelolaan Area Akses Perikanan (PAAP) Teluk Kolono sebagai konektivitas, hubungan interaksi dan keseimbangan ekosistem. Penelitian ini bertujuan untuk menilai keanekaragaman hayati perikanan dengan mengadopsi kriteria Other Effective Area-Based of Conservation Measures (OECM) terhadap kawasan Pengelolaan Area Akses Perikanan (PAAP) Teluk Kolono. Metode wawancara, Focus Group Discussion (FGD) dIanalisis menggunakan Social Ecological Network Analysis (SENA) , dan nilai biodoversitas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jejaring Sistem Sosial-Ekologi (SES) di PAAP Teluk Kolono terdapat konektivitas sistem sebanyak 27 komponen (node) dan 46 hubungan (edge). Resources Unit (RU) merupakan variabel penting dalam mempengaruhi keberlanjutan jejaring sistem sumberdaya. Selain itu, keanekaragaman hayati perikanan di kawasan ini mengindikasi nilai kelimpahan rendah dengan total 17 famili dan 64 spesies yang ditemukan. Nilai keaenakaragman dan keseragaman dalam kategori sedang sampai tinggi, sedangkan dominansi masuk kategori rendah atau tidak ada yang mendominasi. Status pemanfaatan didapatkan 3 kategori diantaraya : Least Concern (LC), Vulnerable (VU), dan Not Evaluated (NT). Status pemanfaatan least conern (LC) lebih mendominasi mengindikasikan bahwa komunitas ikan di kawasan dianggap tidak teranam kepunahan.
Pemetaan Tata Kelola Interaktif Jasa Provisioning Ekosistem Skala Kecil: Pendekatan Sistem Sosial-Ekologi Di Teluk Jor, Lombok Timur Wahid, Mathori Abdul; Adrianto, Luky; Zairion, Zairion; Adhuri, Dedi Supriadi
Jurnal Kelautan Tropis Vol 28, No 2 (2025): JURNAL KELAUTAN TROPIS
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jkt.v28i2.26947

Abstract

The utilization of coastal and marine resources in Teluk Jor, East Lombok, faces significant pressures that threaten the sustainability of small-scale ecosystem provisioning services, such as mangroves, seagrass beds, and coral reefs. This study aims to map the social-ecological system (SES) network using the Social-Ecological Network Analysis (SENA) approach based on the Russian Doll Framework. Primary data were obtained through field observations and in-depth interviews with 68 respondents, including fishers, community leaders, fisheries extension officers, and relevant institutions. Secondary data were collected from previous literature reviews. The analysis results indicate that the Local Rule (customary regulations) holds the highest degree centrality (10), followed by ResThreat (ecosystem threats) such as mangrove conversion and destructive fishing practices (9), and HumConFac (human-made infrastructures) including floating net cages, salt ponds, and shrimp ponds (8). Regarding betweenness centrality, the Local Rule occupies the most central position (59.67), followed by HumConFac (49.83), ResThreat (32.67), and EcoQual (ecosystem quality) (24.50). These findings demonstrate that customary institutions play a crucial role in connecting governance actors, while economic activities and ecological threats significantly shape SES network dynamics. This study underscores the need for adaptive governance strategies that integrate collaboration among communities, government, and stakeholders to ensure ecosystem sustainability while supporting the well-being of coastal communities. Pemanfaatan sumber daya pesisir dan laut di Teluk Jor, Lombok Timur, menghadapi tekanan signifikan yang mengancam keberlanjutan jasa provisioning ekosistem skala kecil, seperti mangrove, lamun, dan terumbu karang. Penelitian ini bertujuan untuk memetakan jejaring social-ecological system (SES) menggunakan pendekatan social-ecological network analysis (SENA) berbasis Russian Doll Framework. Data primer diperoleh melalui observasi lapangan dan wawancara mendalam dengan 68 responden, mencakup nelayan, tokoh masyarakat, penyuluh perikanan, serta instansi terkait. Data sekunder dikumpulkan dari kajian literatur sebelumnya. Hasil analisis menunjukkan bahwa Local Rule (aturan lokal) memiliki nilai degree centrality tertinggi (10), diikuti oleh ResThreat (ancaman ekosistem) seperti konversi mangrove dan praktik perikanan destruktif (9), serta HumConFac (infrastruktur buatan) seperti KJA, tambak garam, dan tambak udang (8). Pada indikator betweenness centrality, Local Rule menempati posisi sentral (59,67), diikuti HumConFac (49,83), ResThreat (32,67), dan EcoQual (kualitas ekosistem) (24,50). Temuan ini menunjukkan bahwa kelembagaan adat memainkan peran penting dalam menghubungkan aktor-aktor tata kelola, sementara aktivitas ekonomi dan ancaman ekologis berperan besar dalam membentuk dinamika jaringan SES. Penelitian ini menegaskan perlunya strategi tata kelola adaptif yang mengintegrasikan kolaborasi antara masyarakat, pemerintah, dan pemangku kepentingan, guna menjaga keberlanjutan ekosistem sekaligus mendukung kesejahteraan masyarakat pesisir. 
KELIMPAHAN DAN DISTRIBUSI LARVA IKAN DI PERAIRAN PESISIR LAMPUNG TIMUR Sagala, La Ode Syahlan S; Kamal, Mohammad Mukhlis; Zairion, Mr..
JFMR (Journal of Fisheries and Marine Research) Vol. 4 No. 1 (2020): JFMR
Publisher : Faculty of Fisheries and Marine Science, Brawijaya University, Malang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jfmr.2020.004.01.3

Abstract

Information abundance and distribution of fish larvae in coastal waters of East Lampung currently very limited. The research aimed to improve the knowledge of the early life of organisms, in order to manag biodiversity and biological resources in the waters. Research station representing the several water sectors: in-shore, near-shore, and off-shore. The research was a representation of eastern monsoon (June) and transition monsoon (September) in 2017. Fish larvae was harvested using bonggo-net tool while its identification to family level using portable Dino-lite. Based on the result the Abundance of fish larvae in eastern monsoon was higher than transition monsoon. This research found 81 families of fish larvae. There were 10 dominant families, that are Gobiidae, Pegasidae, Mullidae, Pomacentridae, Sillaginiidae, Bleniidae, Bythitidae, Carangidae, Pseudochromidae and Bothidae. The distribution of fish larvae in the lower in-shore was higher than near-shore and off-shore, while east and transitional seasons have not much different larval catches.  Temperature, salinity and pH parameters indicated optimal range state for survival and growth of fish larvae, brightness and turbidity in accordance with water quality standards, currents velocity on eastern monsoon is very fast while transition monsoon is fast to very fast. Phytoplankton and zooplankton showed sufficient natural food availability for the life of fish larvae. Result Canonnical Corespondence Analysis (CCA) analysis to connectivity of abundance and larvae distribution showed that the brightness parameter forming a point projection while other water environment condition parameters form a vector projection in both period of monsoon. The abundance and fish larvae distribution in coastal waters of East Lampung in all three sectors of the waters had proportionality to the parameters of environmental conditions, especially the current parameters and the difference of the monsoon period.
Kepadatan, Distribusi, dan Kondisi Habitat Teripang (Holothuroidea) di Perairan Pesisir Selatan Pulau Laut, Kotabaru Setiawan, Heri; Sulistiono, Sulistiono; Zairion, Zairion
Syntax Literate Jurnal Ilmiah Indonesia
Publisher : Syntax Corporation

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36418/syntax-literate.v10i9.61404

Abstract

Teripang merupakan salah satu komoditas perikanan bernilai ekonomis tinggi. Seiring dengan meningkatnya permintaan teripang, adanya indikasi upaya penangkapan berlebih yang tidak seimbang dengan ketersediaan sumberdaya teripang dapat mengancam keberadaan populasinya. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kepadatan dan distribusi jenis teripang berdasarkan kondisi habitat serta keterkaitannya dengan parameter lingkungan perairan. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan November - Desember 2024 di perairan pesisir Selatan Pulau Laut, Kotabaru. Pengumpulan data teripang menggunakan metode purposive random sampling dengan teknik belt transect pada keempat stasiun yang mewakili habitat teripang. Pengambilan data teripang, kerapatan lamun, tutupan karang dan parameter lingkungan perairan dilakukan secara in-situ. Keterkaitan jenis teripang dengan parameter lingkungannya dianalisis dengan menggunakan metode Principal Component Analysis (PCA). Teripang yang ditemukan di lokasi penelitian terdiri dari 6 jenis (Holothuria scabra, H. atra, H. leucospilota, Stichopus horrens, S. ocellatus, dan Actinopyga miliaris), dengan kisaran kepadatan sebesar 0,12 ind/m² hingga 0,19 ind/m². Hasil pengukuran parameter lingkungan perairan pada lokasi penelitian diperoleh suhu 27,7-30,30C, salinitas 28,2-33,0‰, pH 7,3-8,5, DO 4,31-5,34 mg/l, dan kedalaman 0,1-2,2 m. Pola distribusi teripang cenderung mengelompok dengan nilai Id sebesar 3,20-14,03. Keberadaan teripang menunjukan nilai keanekaragaman sedang (H’ = 0,9-1,4), keseragaman tinggi (E = 0,8) dan dominansi tergolong stabil (C = 0,3-0,4). Secara keseluruhan, kualitas perairan masih sesuai untuk mendukung pertumbuhan teripang. Sebagian besar jenis teripang ditemukan dominan pada habitat pasir berlumpur yang berasosiasi dengan lamun. Tiga jenis teripang berasosiasi tinggi dengan lamun Thalassia hemprichii sehingga semakin tinggi kerapatan lamun akan diikuti oleh tingginya kepadatan teripang.
Shoreline Changes for 20 Years (2001-2021) and 2041 Predictions and Adaptation of Coastal Communities Amalia, Febrianti; Zairion, Zairion; Atmadipoera, Agus Saleh
JST (Jurnal Sains dan Teknologi) Vol. 12 No. 1 (2023): April
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jstundiksha.v12i1.53107

Abstract

Perubahan garis pantai di pesisir Semarang terus meningkat sehingga menyebabkan abrasi dan akresi serta banjir rob setiap tahunnya. Selama dua dekade terakhir terjadi kerusakan pantai yang mengakibatkan ekosistem utama di wilayah pesisir Semarang kehilangan perannya dalam menjaga kestabilan garis pantai. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perubahan garis pantai selama tahun 2001-2021 dan memprediksi perubahan garis pantai dalam 20 tahun mendatang serta alternatif adaptasi masyarakat pesisirnya di Semarang. Metode analisis yang digunakan adalah DSAS 5.0 dengan pendekatan statistik End Point Rate untuk perubahan garis pantai, sedangkan untuk tahun 2041 menggunakan analisis Linier Regretion Rate. Wawancara dan observasi langsung dilakukan untuk mengetahui adaptasi masyarakat pesisir dengan target responden adalah masyarakat yang terkena perubahan garis pantai. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam kurun waktu 2001-2021 Kota Semarang telah mengalami abrasi sekitar 10,31 m/tahun dan akresi sebesar 20,95 m/tahun. Prediksi pada tahun 2041 abrasi dan akresi sedikit menurun, masing-masing sekitar 10,15 m/tahun dan 19,69 m/tahun. Usulan strategi adaptasi yang digunakan untuk perubahan di masa mendatang yaitu Protektif dan Akomodatif. Kombinasi kedua strategi tersebut dapat menghasilkan kinerja yang sinergis, menghemat biaya dan meningkatkan kesiapsiagaan.  
Morphometrics and Growth Patterns of Squids in the North and South Coasts of Java, Indonesia Ervinia, Ayu; Simanjuntak, Charles P H; Sulistiono, Sulistiono; Wulandari, Dwi Yuni; Zairion, Zairion
Jurnal Ilmiah Perikanan dan Kelautan Vol. 16 No. 2 (2024): JURNAL ILMIAH PERIKANAN DAN KELAUTAN
Publisher : Faculty of Fisheries and Marine Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/jipk.v16i2.54719

Abstract

Highlight Research The mitre squid (Uroteuthis chinensis), the Indian squid (Uroteuthis duvaucelii), and the purpleback flying squid (Sthenoteuthis oualaniensis) were identified. Morphometric differences among three squid species were analyzed. Microanatomy observations on the shapes of the sucker rings were important for species identification. Hypoallometric and isometric growth patterns were observed. Abstract Squids play vital ecological and economic functions as keystone species in marine food webs and integral components of global capture fisheries. However, a comprehensive understanding of their diversity and life history characteristics in Indonesian waters is still poorly understood. This study aimed to identify squids that inhabited Java's northern and southern coasts and examine their growth pattern through morphometric analysis. Six hundred eighteen squid samples were collected fishers caught from May to September 2022 in Blanakan and Palabuhanratu Bay, representing two areas of interest. The body size and the shape of sucker rings of squids were observed using morphometric method. Kruskall-Wallis test, Principal Component Analysis, and Spearman's correlation were performed to investigate morphometric variation and relationships. The length-weight relationships were estimated for each species.. This study reported three species of squid on the north and south coasts of Java, namely the mitre squid (Uroteuthis chinensis), the Indian squid (Uroteuthis duvaucelii), and the purpleback flying squid (Sthenoteuthis oualaniensis). There were significant differences observed in ten morphometric variables among the three species of squid (p < 0.05), with fin width, fin length, and sucker ring teeth identified as the key distinguishing feature for the squids. Spearman's correlation indicated stronger associations between mantle and fin variables (ρ = 0.666-0.967, p < 0.05) than those between mantle and head variables (ρ = 0.380-0.864, p < 0.05).Mantle length-weight relationships revealed a hypoallometric growth pattern for U. chinensis and U. duvaucelii, while S. oualaniensis exhibited an isometric growth pattern. The finding of this study provides valuable insights concerning the growth of squids that reflect variation in ontogenic development, trophic ecology, and environmental conditions in Indonesian waters.
ANALISIS KAWASAN BUDIDAYA RUMPUT LAUT (Kappaphycus alvarezii) BERDASARKAN INDIKATOR KESESUAIAN DAN DAYA DUKUNG DI PESISIR KOTA BAUBAU Widigdo, Bambang; Zairion; Al Mualam, Al Mualam
Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis Vol. 14 No. 1 (2022): Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis
Publisher : Department of Marine Science and Technology, Faculty of Fisheries and Marine Science, IPB University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/jitkt.v14i1.37659

Abstract

Kappaphycus alvarezii merupakan salah satu spesies rumput laut yang mayoritas dikembangkan di kawasan pesisir dan memiliki nilai ekonomis yang cukup tinggi. Upaya dalam mengembangkan kawasan budidaya rumput laut membutuhkan pendekatan yang memperhatikan indikator kesesuaian dan daya dukung untuk menjamin keberlanjutan produksi rumput laut jenis tersebut di masa depan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kawasan budidaya rumput laut jenis K. alvarezii berdasarkan analisis kesesuaian dan daya dukung perairan dengan pendekatan konsentrasi nitrat (NO3-). Penelitian ini dilakukan di Pesisir Kota Baubau, Provinsi Sulawesi Tenggara pada bulan Februari–Maret 2020. Data parameter fisik dan kimia perairan dikumpulkan secara langsung di lokasi penelitian, sementara satuan konsentrasi nitrat yang mampu diserap rumput laut diperoleh dari data sekunder yang tersedia. Data parameter lingkungan diolah dengan metode weight sum overlay pada aplikasi image processing dan dilanjutkan dengan analisis daya dukung berdasarkan konsentrasi nitrat. Hasil analisis kesesuaian perairan diperoleh mencapai 3240,6 ha. Kategori sangat sesuai seluas 920,58 ha dan kategori sesuai 2320 ha. Daya dukung berdasarkan konsentrasi nitrat yang dapat ditampung oleh perairan adalah 0,497 kg-N/hari dengan total jumlah rumput laut yang dapat dibudidayakan dalam satu tahun adalah 7317,90 ton. Berdasarkan angka tersebut maka dapat disimpulkan bahwa sebagian besar Pesisir Kota Baubau potensial untuk dijadikan sebagai kawasan pengembangan budidaya rumput laut dengan jumlah produksi yang tinggi.