Claim Missing Document
Check
Articles

The Assessment of CSR Regulations Implementation on the Midship Strength and Structural Weight of 77.500 DWT Bulk Carrier Zakki, Ahmad Fauzan
The Indonesian Journal of Naval Architecture Vol 1, No 1 (2013): Indonesian Journal of Naval Architecture
Publisher : Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (299.418 KB)

Abstract

Since April 1st 2006, all of the ships that built must comply with the common structural rules. As the consequences of this condition the scantling of the ship will be increased. This paper will explain about the influence of the CSR rules implementation to the midship strength and structural weight of 77.500 DWT Bulk Carrier. The comparisons of two finite element models will be made to distinguish the effect of scantling modifications to the midship strength and the weight of the ship structures. The results show that the steel weight has been increased 4.74 % higher than the prior ship. The critical condition is the harbor-1 condition with the maximum plate stress induced by SWBM is 96.6 MPa; The Maximum Bar Stress is 84.7 MPa. The conclusion states that the CSR regulations standard not significantly different with the DNV standard for the Midship Strength performance. It could be actually explains that the increment of the plate thickness only for the corrosion allowance.
RANCANG BANGUN MODULAR FLOATING PONTOON FERROCEMENT SEBAGAI ALAT APUNG MULTIGUNA Windyandari, Aulia; Zakki, Ahmad Fauzan
ROTASI Vol 16, No 4 (2014): VOLUME 16, NOMOR 4, OKTOBER 2014
Publisher : Departemen Teknik Mesin, Fakultas Teknik, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (559.286 KB) | DOI: 10.14710/rotasi.16.4.1-8

Abstract

Modular floating pontoon is a floating device commonly used as civil and marine construction. Pontoon is usually made of steel and high-density polyethylene (HDPE). Although the steel and HDPE has its own advantages and disadvantages in terms of economic, strength, and capacity. However the study of alternative raw materials for modular floating pontoon construction as multipurpose floating equipment is needed. Ferrocement which is familiar in the used for building construction material is an alternative material. Since the material is easy to find and it is such a versatile material that can be mass produced and has the mechanical strength that is simillar to steel and other materials. Following that condition the research is focused on the application of ferrocement technology for modular floating floating pontoon. The results show that the principal dimension of modular floating pontoon are length 80 cm, width 80 cm, height 75 cm, with the lightweight draft of pontoons is 30 cm. The material proportions for the modular floating pontoon are sand 48.2%, cement 34.5% and water 17.3%. Modular floating pontoon series consists of four Pontoons Square compiled with interlink (hook) so that the total of the package pontoon has a 160 cm long, 160 cm wide and 75 cm high.
Analisa Dan Perancangan Propeller Tipe B-Series Dengan Material Komposit FRP (Fiber-Reinforced Plastic) Pada Kapal Tradisional Purse Seine Perairan Pantai Wilayah Utara Jawa Tengah Indonesia Agung, Risto Wibowo; Zakki, Ahmad Fauzan; Mulyatno, Imam Pujo
Jurnal Teknik Perkapalan Vol 7, No 2 (2019): April
Publisher : Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Dalam perkembangannya propeller mengalami beberapa modifikasi dengan tujuan untuk mendapatkan efisiensi yang paling baik sebagai alat propulsi kapal. Salah satu diantaranya adalah propeller tipe B-Series. Sebagai pengembangan lebih lanjut, perancangan propeller tipe B-Series berbahan dasar komposit FRP dapat menjadi referensi alat propulsi untuk kapal tradisional purse seine perairan pantai wilayah utara, Jawa Tengah. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisa deformasi, kekuatan, dan performa dari propeller komposit FRP. Finite Element Method (FEM) dan Computational Fluid Dynamics (CFD) digunakan sebagai metode untuk mengetahui distribusi tegangan dan nilai efisiensi propeller yang dihasilkan. Propeller diasumsikan dalam kondisi open water yang dianalisa pada 15 model propeller dengan variasi jumlah daun 3, 4, dan 5 serta expanded Blade Area Ratio (BAR) 0,50, 0,55, 0,60, 0,65 dan 0,70. Hasil yang didapatkan berupa  nilai thrust dan torque dari propeller komposit yang terdeformasi dengan nilai efisiensi terbesar, yaitu propeller B.3.50 dengan nilai thrust sebesar 39738.2 N dan torque sebesar 11520.5 Nm, propeller B.4.50 dengan nilai thrust sebesar 49856.7 N dan torque sebesar 15582.3 Nm serta propeller B.5.50 dengan nilai thrust sebesar 45587 N dan torque sebesar 15057.4 Nm. Dari segi kekuatan, material FRP dapat dijadikan sebagai bahan dasar propeller pada kapal tradisional purse seine perairan wilayah utara Jawa Tengah karena memiliki nilai kekuatan tarik sebesar 148 MPa. Nilai tersebut melebihi nilai tegangan maksimal yang terjadi pada propeller B.5.50, yaitu sebesar 101.5 MPa dengan nilai deformasi maksimal sebesar 16.81 mm.
Analisa Kekuatan Struktur Chain Stopper Pada Spread Mooring Terhadap Kapal Floating Storage And Offloading (FSO) Di Perairan Lepas Pantai Natuna Indonesia Fabya, Daryl; Zakki, Ahmad Fauzan; Yudo, Hartono
Jurnal Teknik Perkapalan Vol 7, No 4 (2019): Oktober
Publisher : Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1146.641 KB)

Abstract

Floating Storage and Offloading (FSO) adalah fasilitas terapung untuk produksi dan penyimpanan sementara minyak dan gas bumi berbentuk kapal yang secara permanen ditambatkan di lokasi operasi. Chain Stopper merupakan peralatan mooring system yang digunakan untuk mengunci dan menahan mooring line tension agar rantai mooring tidak terulur sehingga kapal FSO dapat tertambat dengan stabil. Tugas akhir ini melakukan analisa kekuatan chain stopper terhadap mooring line tension maksimum untuk kondisi intact dan damage. Analisa kekuatan chain stopper menggunakan software berbasis analisa struktur. Hasil penelitian yang dilakukan terhadap chain stopper pada FSO Barakuda, dapat diambil kesimpulan bahwa tegangan maksimum struktur chain stopper saat intact condition adalah sebesar 173,35 MPa dengan pembebanan total sebesar 4,16 x106 N dari gaya tarik mooring line terbesar pada saat intact condition, sedangkan tegangan maksimum struktur chain stopper saat damage condition adalah sebesar 245,46 MPa dengan pembebanan total sebesar 5,89 x106 N dari gaya tarik mooring line terbesar pada saat damage condition. Dengan nilai safety factor untuk intact dan damage condition masing-masing adalah sebesar 2,048 dan 1,446 yang menunjukkan bahwa chain stopper aman untuk beroperasi.
ANALISA PENGARUH VARIASI BENTUK BOTTOM TERHADAP NILAI HEAVE DAN PITCH FPSO BERBENTUK SILINDER DI PERAIRAN LEPAS PANTAI UTARA NATUNA-INDONESIA Ardiana, Mita; Zakki, Ahmad Fauzan; Hadi, Eko Sasmito
Jurnal Teknik Perkapalan Vol 3, No 4 (2015): OKTOBER
Publisher : Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1039.987 KB)

Abstract

Kepulauan Natuna memiliki cadangan gas alam terbesar di kawasan Asia Pasifik bahkan di Dunia. Natuna memiliki cadangan gas alam terbesar di kawasan Asia Pasifik Untuk mengeksplor cadangan hidrokarbon yang tersebar dibanyak titik maka FPSO menjadi salah satu alternatif pilihan yang diminati Investor dari segi investasi lebih efisien dari pada FSO karena FPSO bersifat mobile dan dapat melakukan proses produksi, serta reliability dalam pengoperasiannya. Revolusi teknologi dibidang FPSO tidak berhenti sampai disitu, kini FPSO tidak hanya berbentuk kapal tapi juga berbentuk silinder. FPSO silinder pertama di dunia adalah FPSO Sevan Piranema. Ditinjau dari performanya, bentuk bottom FPSO silinder dari Sevan Piranema saat ini memiliki olah gerak yang paling baik. Dalam penelitian ini, dilakukan modifikasi variasi bottom  FPSO silinder. Dan pemodelan variasi bentuk bottom dengan bantuan Ansys Aqwa, yang bertujuan untuk mengetahui beban gelombang pada struktur dan selanjutnya untuk menganalisis karakteristik gerakan dari FPSO silinder. Dengan mempertimbangkan hasil analisis karakteristik gerakan FPSO silinder, dilakukan analisis operabilitas FPSO silinder untuk mengetahui hubungan karakteristik gerakan FPSO silinder dengan kemampuan operasinya di laut, dengan memperhatikan kriteria operasi yang telah ditentukan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa olah gerak terbaik/minimum untuk gerakan heave dan pitch secara keseluruhan berturut-turut didapatkan pada Model 5, Model 1, Model 3, Model 6, Model Sevan, Model 2 dan Model 4.
STUDI PERANCANGAN SISTEM PENGGADINGAN KONSTRUKSI RUANG MUAT KAPAL SUPER CONTAINER 18.000 TEUS (MALACCA-MAX) Harahap, Amhar Wahyudi; Zakki, Ahmad Fauzan; Yudo, Hartono
Jurnal Teknik Perkapalan Vol 3, No 4 (2015): OKTOBER
Publisher : Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1137.347 KB)

Abstract

Malacca-Max adalah sebuah jenis kapal super container yang digagas oleh Marco Scholtens, dengan muatan 18.000 teus yang dirancang melalui selat malaka dengan sarat maksimal 21 m. Dalam membangun suatu konstruksi kapal, sistem penggadingan (framing system) adalah salah satu faktor penting yang perlu dipertimbangkan dalam  membangun  suatu  kapal. Persoalan utama dalam sistem penggadingan ialah membuat suatu konstruksi yang kokoh dan kuat dengan berat konstruksi yang seringan-ringannya. Secara khusus penelitian ini bertujuan merancang sistem penggadingan pada ruang muat kapal super container 18.000 teus (malacca-max), dimana model kontruksi dibuat dalam 2 rules (BKI dan ABS). Sistem scantling pada kedua model mengacu pada konstruksi midship section malacca-max yang sudah ada, Maersk Triple E Class. Hasil dari perancangan sistem penggadingannya, desain konstruksinya tidak jauh berbeda, perbedaannya terletak pada ukuran pelat dan profilnya saja. Untuk mengetahui desain sistem penggadingan pada kedua model cukup memenuhi dalam segi kekuatan struktur, maka kedua model dianalisa menggunakan software berbasis metode element hingga. Hasil analisa didapat nilai tegangan kedua model masih memenuhi, tidak melebihi batas nilai izin. Keunggulan dari model yang sudah dibuat, model BKI mempunyai nilai tegangan lebih kecil, sedangkan model ABS lebih efisien dalam penggunaan pelat dan profil. Kondisi terkritis pada kedua model terletak pada kondisi muatan penuh gelombang hogging trochoidal. 
STUDI ANALISA KONTRUKSI DECK KAPAL ACCOMMODATION WORK BARGE PADA FR 0-12 AKIBAT PENAMBAHAN CRANE BERBASIS FEM Pujikuncoro, Farobi Tetuko; Zakki, Ahmad Fauzan; Yudo, Hartono
Jurnal Teknik Perkapalan Vol 4, No 4 (2016): OKTOBER
Publisher : Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1075.12 KB)

Abstract

Accommodation Work Barge digunakan sebagai tempat akomodasi bagi perkerja offshore dan umumnya memiliki fasilitas bongkar muat sendiri seperti crane, namun dikarenakan kebutuhan yang sangat tinggi sehingga AWB tersebut harus dilakukan penambahan pedestal crane untuk menggantikan crawler crane yang biasa dipakai.Sehingga kapal tersebut memiliki nilai efisiensi yang bertambah. Dalam kaitannya dengan penambahan crane tersebut, maka perlu diadakan analisa pengaruh penambahan pedestal crane terhadap kekuatan deck  yang dibebani oleh crane dengan variasi sudut elevasi dan pembebanan. Hal ini pula yang mendasari penulis melakukan analisa kekuatan terhadap deck yang mengalami pembebanan crane. Untuk membantu penulis dalam menganalisa kekuatan kontruksi akibat penambahan pedestal crane pada AWB, penulis menggunakan alat bantu software yang berbasis metode elemen hingga. Hasil analisa menggunakan software Msc. Patran dan Msc. Nastran menunjukkan hasil tegangan maksimum  sebesar 69,9 Mpa di maindeck pertemuan antara bracket depan dan longitudinal bulkhead. Berdasarkan pengecekan terhadap tegangan izin struktur, hasil analisa menunjukkan bahwa sistem tersebut dinyatakan kuat menahan beban maksimum operasional crane.
STUDI KERUSAKAN LAMBUNG KAPAL KAYU PERIKANAN 30 GT AKIBAT TUBRUKAN DENGAN BALOK KAYU YANG MENGAPUNG Sedayun, Maulayas Shadak; Zakki, Ahmad Fauzan; Iqbal, Muhammad
Jurnal Teknik Perkapalan Vol 3, No 4 (2015): OKTOBER
Publisher : Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1455.002 KB)

Abstract

Tubrukan  kapal memberi dampak yang cukup signifikan terhadap kekuatan struktur kapal yang erat hubungannya dengan keamanan kapal. Sesuai data statistik yang ada pada Lloyed Register (1995), hampir setengah data tenggelamnya kapal diakibatkan tubrukan dan kandasnya kapal. Tubrukan kapal ini menyebabkan terjadinya deformasi hingga robeknya lambung kapal yang mengakibatkan kerugian materi hingga timbulnya korban jiwa serta merusak ekosistem laut akibat tumpahnya muatan kapal. Banyaknya kasus tubrukan yang terjadi sehingga di lakukannya studi kerusakan lambung kapal perikanan 30 GT akibat tubrukan dengan balok kayu yang mengapung dengan analisa numerikmenggunakan dynamicFEM pada satu ruang muat. Dengan 3 variasi sudut tubrukan dan variasi kecepatan kayu 2 knot, 3 knot dan 4 knot pada softwareANSYS LS DYNA agar dapat mengetahui pada posisi dan kecepatan berapa yang menimbulkan kerusakan pada lambung kapal pada saat terjadinya tubrukan. Dari hasil studi, lambung ruang muat kapal hanya mengalami deformasi pada kecepatan kayu2 knot terhadap ruang muat sedangkan dengan kecepatan 4 knot struktur mengalami kehancuran.Posisi tubrukan yang berpotesi menimbulkan kerusakan yang cukupp signifikan dan sangat parah adalah ketika suatu kayu mendapatkan posisi yang tegak lurus terhadap lambung kapal dan permukaan dari kayu sepenuhya mengenai target dari kayu itu sendiri.
Studi Kasus Puntiran Pada Konstruksi Bangunan Baru Kapal Kontainer Sunship Eurocoaster Daichi, Rogit Billy; Zakki, Ahmad Fauzan; Rindo, Good
Jurnal Teknik Perkapalan Vol 5, No 4 (2017): Oktober
Publisher : Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1851.189 KB)

Abstract

Indonesia memiliki wilayah perairan yang sangat luas yaitu luas laut kedaulatan 3,1 juta km², dan luas laut ZEE (Zona Ekonomi Eksklusif) 2,7 juta km². Kapal adalah alat transportasi yang digunakan di laut untuk mengangkut barang ke berbagai pulau dan negara. Kemudain muncul kapal kontainer sebagai pengangkut muatan yang terkemas pada peti-peti kemas. Kapal ini mempunyai bukaan palkah yang lebar , maka harus diperhatikan besar tegangan kapal saat kapal berlayar. Puntiran terjadi akibat adanya gaya yang bekerja berlawanan arah terhadap kedua ujungnya . Dalam Pelayarannya kapal mengalamai puntiran . Puntiran pada kapal terjadi akibat peletakan barang yang tidak simetris terhadap bidang centre line , hal ini berpengaruh pada kekuatan kapal , maka dari itu Konstruksi kapal dibuat sedemikian rupa sehingga barang yang ada didalamnya terjamin keamanan dari kerusakan dan lain-lain. Kapal yang diteliti adalah kapal kontainer bangunan baru Sunship Eurocoaster dan belum terdapat rules tentang puntiran pada BKI . Hasil analisa menggunakan program berbasis Metode Elemen Hingga . Dengan menggunakan Rules Germanischer Lloyd didapatkan tegangan maksimum (von misse) sebesar 3,12 x 108 N/m² pada respon I , 2,87 x 108 N/m² pada respon II , 2,48 x 108 N/m² pada respon III dan deformasi sebesar 9,62 x10-2m pada respon I , 2,12 x10-1m pada respon II , 3,11 x10-1m pada respon III.  Dengan menggunakan Rules Nippon Kaiji Kyokai didapatkan Tegangan maksimal (von misse) sebesar 2,99 x 108 N/m² terjadi pada respon I , 2,75 x 108 N/m² pada respon II , 2,37 x 108 N/m² pada respon III dan deformasi sebesar 9,20 x 10-2 m pada respon I , 2,03 x 10-1 m pada respon II , 2,97 x 10-1 m pada respon III .
PERANCANGAN BANGUNAN APUNG DAN KERAMBA DENGAN SISTEM MODULAR PONTON BERBAHAN FEROSEMEN Krismawati, Febriana Dian; Zakki, Ahmad Fauzan; Manik, Parlindungan
Jurnal Teknik Perkapalan Vol 2, No 4 (2014): Oktober
Publisher : Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (311.384 KB)

Abstract

Permasalahan pembudidayaan ikan di indonesia adalah kurangnya fasilitas dan bahan yang digunakan dalam pembuatan keramba, sehingga keramba yang ada tidak memiliki umur yang panjang, serta mengalami kegagalan hasil, karena turunnya kualitas air. Sudah dikembangkan model keramba apung dari plastik, akan tetapi biayanya sangat mahal. Maka dari itu akan dilakukan penelitian perancangan keramba apung dari modular ponton berbahan ferosemen, selain lebih menghemat biaya juga akan dirancang sekaligus bangunan diatasnya sebagai pelengkap fasilitias dan bisa digunakan menjadi objek wisata. Dirancanglah bangunan apung dari modular ponton berukuran 1mx1mx1m dan dikaitkan antar ponton sehingga terbentuk bangunan – bangunan diatasnya, antara lain gudang pakan, tempat jaga dan monitoring, tempat pengolahan dan panen ikan, serta rumah makan. Jadi total ponton yang dibutuhkan ada 372 unit. Dari hasil analisa olah gerak yang dilakukan bangunan apung ini masih memenuhi standar jadi masih stabil dan aman. Variasi pembebanan yang diperhitungkan juga masih bisa ditanggung dari struktur ponton. Akan tetapi pemanfaatan sebagai objek wisata juga pasti akan memberi keuntungan yang besar. Pengalokasian bangunan ini ditempatkan di Rawa Jombor, Klaten, Jawa Tengah, dimana sudah banyak warung makan apung disana, sehingga akses untuk menikmati fasilitas-fasilitas dari bangunan ini bisa menjadi lebih mudah.