Claim Missing Document
Check
Articles

Found 27 Documents
Search

PERAN MASYARAKAT DALAM PENANGGULANGAN KEJAHATAN NARKOTIKA DI DESA PASAR JUJUN KECAMATAN KELILING DANAU KABUPATEN KERINCI Haryadi, Haryadi; Zarkasi, A
Jurnal Karya Abdi Masyarakat Vol. 1 No. 1 (2017): Jurnal Karya Abdi Masyarakat
Publisher : LPPM Universitas Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (100.309 KB) | DOI: 10.22437/jkam.v1i1.3722

Abstract

Pengabdian yang dilakukan pada masyarakat ini dilatarbelakangi dengan adanya permasalahan terhadap terutama generasi muda yang berkaitan dengan pemahaman terhadap bahaya narkotika. Di lapangan dan berdasarkan data yang di peroleh menunjukkan bahwa peredaran narkotika tidak hanya terjadi di wilayah perkotaan akan tetapi sudah meluas sampai desa, tentu dalam hal ini sangat mengkhawatirkan dan akan berdampak buruk terhadap pertumbuhan generasi muda. Pengabdian ini dilaksanakan di Kabupaten Kerinci Kecamatan Keliling Danau di Desa pasar Jujun/Desa Jujun. Pelaksanaan Pengabdian pada masyarakat di lakukan dengan penyuluhan dan sosialisasi serta tanya jawab dan juga dengan cara menyebarkan brosur tentang bahaya narkotika bagi generasi muda. Dengan kegiatan itu diharapkan generasi muda dan tokoh masyarakat lebih memahami akan bahaya narkotika dan berperan aktif dalam pencegahan peredaran narkotika. Adapun tujuan dilakukan kegiatan pengabdian ini diharapkan generasi muda dan tokoh masyarakat dapat peran aktif, berpartisaipasi, dan peduli terhadap bahaya narkotika. Untuk menjawab permasalahan, solusi yang ditawarkan adalah dilakukan berupa penyampaian informasi dari narasumber, tanya jawab dan diskusi, berkaitan dengan bahaya narkotika. Dari hasil penyuluhan yang dilakukan hal yang dihasilkan yakni bertambahnya ilmu pengetahuan generasi muda tokoh masyarakat terhadap bahaya narkotika, serta dapat meningkatkan kepatuhan terhadap Undang-Undang Narkotika, serta tumbuhnya sikap kewaspadaan dan berperan aktif dalam memerangi peredaran narkotika pada lingkungan masyarakat sehingga tercipta lingkungan yang bebas dari Narkotika.
Penggantian Calon Legislatif Terpilih Dalam Pemilihan Umum Oleh Partai Politik Sebelum Pelantikan Menurut Perspektif Peraturan Perundang-Undangan Mayasari, Vevryka; Hartati, Hartati; Zarkasi, A.
Disiplin : Majalah Civitas Akademika Sekolah Tinggi Ilmu Hukum sumpah Pemuda Vol. 31 No. 1 (2025)
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Hukum Sumpah Pemuda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46839/disiplin.v31i1.147

Abstract

The party serves as a strategic intermediary between the process of government and the people. Many assert that political parties essentially dictate democracy. Quoted from the Association for elections and democracy (Perludem) explained that in the 2024 legislative general election there were many replacements for elected legislative candidates by the bearer party for unclear reasons. Replacing elected candidates before inauguration is on the rise, likely because it is easier to do so than after inauguration. However, this practice distorts popular sovereignty because it contradicts the open proportional electoral system, which states that the candidate with the most votes must be the one who holds office. From the legislative side, the issues that will be discussed in this study are the legality and procedures for replacing legislative candidates elected by political parties in the general election before the inauguration. According to the findings of the study, the Basic Rules of political parties (AD) and household rules (ART) govern the process of dismissing party members, allowing them to replace elected legislative candidates in presidential elections. There is a gap in the entry of certain interests in the dismissal of members of political parties. First, the party Governing Council at the regional level can propose the dismissal of party members, the regional-level party Governing Council has the right to propose the names of party members to be dismissed. Second, the party's Central Governing Council no longer re-verifies the proposal and immediately issues a direct determination.
Kewenangan Pemerintah Provinsi Dalam Penetapan Nilai Jual Kendaraan Bermotor di Indonesia Gultom, Anggiat Sahat Maruli; Zarkasi, A.; Arfa’i, Arfa’i
Badamai Law Journal Vol 10, No 1 (2025)
Publisher : Program Magister Hukum Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32801/damai.v10i1.21608

Abstract

Artikel ini bertujuan menganalisis kewenangan pemerintah Provinsi dalam penetapan Nilai Jual Kendaraan Bermotor (NJKB) yang merupakan landasan penting dalam perhitungan Pajak Kendaraan Bermotor (PKB) dan Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor (BBNKB), yang menjadi salah satu sumber pendapatan utama bagi pemerintah daerah. Keterlambatan Peraturan Menteri Dalam Negeri yang mengatur Penetapan NJKB tahun berjalan berdampak signifikan terhadap pelaksanaan kewenangan pemerintah Provinsi dalam penetepan NJKB tahun sebelumnya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keterlambatan ini menyebabkan ketidakpastian hukum yang berdampak pada pelaksanaan kewenangan pemerintah Provinsi serta menciptakan ketidakpastian bagi pemilik kendaraan dan pihak dealer dalam pendaftaran dan pembayaran pajak. Kesimpulannya, diperlukan mekanisme yang lebih efisien dalam pengundangan peraturan guna menghindari kekosongan hukum, sehingga menjadi pedoman yang lebih jelas bagi pelaksanaan kewenangan pemerintah Provinsi di masa mendatang.
PENGELOLAAN DAN PEMANFAATAN DANA DESA DALAM PEMBERDAYAAN MASYARAKAT Zarkasi, A
JISIP UNJA (Jurnal Ilmu Sosial Ilmu Politik Universitas Jambi) Volume 2, No. 2, Juli-Desember 2018
Publisher : Jurusan Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Fakultas Hukum Universitas Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (120.32 KB) | DOI: 10.22437/jisipunja.v2i2.7323

Abstract

This research looks at how the development of village funds management in empowering rural communities and in the administration of government and village development. The Village Fund can be used for financing community empowerment programs. Considering Indonesian citizens still live in rural areas. The use of village funds should be applicable in the fields of education, health, physical development and increasing the resilience of villagers, including village innovation programs, which aim to alleviate poverty, renew inter-villages and empower the community's economy. The findings in this study are the implementation of community empowerment in accordance with the use of village funds which are made according to the first priority. The Village Fund is used for the welfare of the community and its management in a transparent and accountable manner.
Fungsi Pengawasan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Terhadap Pelaksanaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) dalam Perspektif Peraturan Perundang-Undangan Gafar, Agustia; Zarkasi, A; Hartati, Hartati
Innovative: Journal Of Social Science Research Vol. 4 No. 3 (2024): Innovative: Journal Of Social Science Research
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/innovative.v4i3.11160

Abstract

Tujuan dari penelitian ini untuk mengkritisi fungsi pengawasan DPRD terhadap pelaksanaan APBD sesuai dengan Peraturan Perundang Undangan. Oleh karena itu penulis membuat permasalahan tesis im pada dua hal, pertama bagaimana pengawasan DPRD terhadap pengelolaan APBD oleh Pemerintah Daerah sesuai dengan Peraturan Perundang-Undangan di Indonesia, yang kedua bagaimana kewenangan DPRD untuk mewujudkan prinsip pengawasan terhadap pengelolaan APBD oleh Pemerintah Daerah ditinjau dari perspektif Peraturan Perundang-Undangan di Indonesia Dan untuk memecahkan permasalahan tersebut, penulis menggunakan metode penelitian yuridis normatif dengan mengumpulkan dan menelaah peraturan perundangan-undangan yang berlaku dan relevan dengan permasalahan yang dibahas, terutama yang berkaitan dengan Pengawasan DPRD Terhadap APBD dan juga dalam penelitian ira dibantu dengan pendekatan perundang-undangan (statute approach) dan pendekatan konseptual (conceptual approach) berdasarkan teori-teori yang dipakai oleh para ahlı Hasil Penelitian yang diperoleh berdasarkan analisis dan pembahasan ditemukan adanya Permasalahan hukum yaitu Pengawasan yang dilaksanakan olch DPRD masih terdapat kendala untuk pelaksanaannya. Untuk menjawab permasalahan tersebut keseluruhan kegiatan yang meliputi perencanaan, penganggaran, pelaksanaan, penatausahaan, pelaporan, pertanggungiawaban, dan pengawasan Keuangan Daerah. Untuk yang kedua dalam pembahasan Prinsip yang bisa dilakukan DPRD ialah pengawasan langusng dan tidak langsung dan Rancangan Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (RAPBD) dapat dilakukan oleh DPRD melalui klarifikasi, uji validitas, uji relevansi, dan uji effectiveness dan kompromi penetapan APBD Berkaitan dengan hasil penelitian tersebut, maka penulis dapat memberikan rekomendasi, yaitu penulis mengharapkan ada realisasi penetapan APBD maka bila perlu melibatkan tim Ahli sehingga anggaran yang diajukan oleh legislatif.
Kemandirian Kekuasaan Kehakiman Dalam Menegakkan Negara Hukum Yang Demokratis Rachmadika, Anisa Dwi; Zarkasi, A; Syamsir, Syamsir
Innovative: Journal Of Social Science Research Vol. 4 No. 3 (2024): Innovative: Journal Of Social Science Research (Special Issue)
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/innovative.v4i3.11592

Abstract

Tulisan ini bertujuan untuk menganalisis peran penting kemandirian kekuasaan kehakiman dalam menjaga prinsip negara hukum di masyarakat demokratis. Negara hukum merupakan fondasi yang vital dalam sistem politik yang demokratis, karena menjamin perlindungan hak asasi manusia, keadilan, dan kepastian hukum. Namun, ketika kekuasaan kehakiman tidak mandiri, risiko penyalahgunaan kekuasaan dan pelanggaran hak-hak individu meningkat. Dalam konteks masyarakat demokratis, kemandirian kekuasaan kehakiman menjadi aspek yang sangat penting. Hal ini memastikan bahwa keputusan yang diambil oleh pengadilan didasarkan pada hukum dan bukan dipengaruhi oleh kepentingan politik atau tekanan eksternal. Kemandirian kekuasaan kehakiman juga memungkinkan pengadilan untuk bertindak sebagai pengawas terhadap pemerintah dan lembaga-lembaga publik lainnya, sehingga dapat mencegah penyalahgunaan kekuasaan dan menjamin perlakuan yang adil bagi semua warga negara. Namun, tantangan dalam menjaga kemandirian kekuasaan kehakiman di masyarakat demokratis tidak dapat diabaikan. Beberapa faktor seperti campur tangan politik, tekanan dari kekuatan ekonomi, dan kurangnya sumber daya yang memadai dapat mengancam kemandirian tersebut. Oleh karena itu, perlunya langkah- langkah yang kuat untuk memperkuat kemandirian kekuasaan kehakiman, seperti penegakan etika kehakiman, pemilihan hakim yang transparan, dan sistem pengawasan yang efektif. Dalam kesimpulannya, kemandirian kekuasaan kehakiman merupakan pilar penting dalam menjaga negara hukum di masyarakat demokratis. Dengan menjaga kemandirian tersebut, masyarakat dapat memiliki keyakinan bahwa pengadilan akan menegakkan keadilan, melindungi hak-hak individu, dan memastikan kepastian hukum. Oleh karena itu, peran aktif masyarakat dalam mendukung kemandirian kekuasaan kehakiman sangatlah penting dalam membangun negara hukum yang kuat di masyarakat demokratis.
Penggantian Calon Legislatif Terpilih Dalam Pemilihan Umum Oleh Partai Politik Sebelum Pelantikan Menurut Perspektif Peraturan Perundang-Undangan Mayasari, Vevryka; Hartati, Hartati; Zarkasi, A.
Disiplin : Majalah Civitas Akademika Sekolah Tinggi Ilmu Hukum sumpah Pemuda Vol. 31 No. 1 (2025)
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Hukum sumpah Pemuda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46839/disiplin.v31i1.1156

Abstract

The party serves as a strategic intermediary between the process of government and the people. Many assert that political parties essentially dictate democracy. Quoted from the Association for elections and democracy (Perludem) explained that in the 2024 legislative general election there were many replacements for elected legislative candidates by the bearer party for unclear reasons. Replacing elected candidates before inauguration is on the rise, likely because it is easier to do so than after inauguration. However, this practice distorts popular sovereignty because it contradicts the open proportional electoral system, which states that the candidate with the most votes must be the one who holds office. From the legislative side, the issues that will be discussed in this study are the legality and procedures for replacing legislative candidates elected by political parties in the general election before the inauguration. According to the findings of the study, the Basic Rules of political parties (AD) and household rules (ART) govern the process of dismissing party members, allowing them to replace elected legislative candidates in presidential elections. There is a gap in the entry of certain interests in the dismissal of members of political parties. First, the party Governing Council at the regional level can propose the dismissal of party members, the regional-level party Governing Council has the right to propose the names of party members to be dismissed. Second, the party's Central Governing Council no longer re-verifies the proposal and immediately issues a direct determination.